Category Archives: Berniat Lucu

Belajar menulis lucu :|

Heavy 13

Baiklah, rupanya harus menunggu tengah malam supaya bisa menulis posting ini. Ya nggak apa-apa, toh barusan saya menang 4-3, pakai Bayern Muenchen versus Manchester City. Nggak apa-apa kan? *mulai salah fokus*

Kalau sebelumnya saya punya posting berjudul 30 menit yang luar biasa, maka sekarang saya kurang bisa mendeskripsikan 30 menit yang tadi sore menjelang malam saya alami.

Begini ceritanya *gelar kloso*

Sejak di Cikarang saya memang agak LDR-an sama gereja. Jarak kos-kosan ke gereja adalah kira-kira 13 kilometer. Tentunya ada banyak umat lain disini yang menempuh jarak lebih jauh. Masalahnya, didikan saya itu tidak mengenal jarak jauh.

Di Bukittinggi, dari rumah ke gereja, 13 kilometer itu adalah berangkat dari rumah, sampai ke gereja, lalu pulang lagi ngambil Puji Syukur lalu balik lagi ke gereja. Kemudian di Jogja, 13 kilometer itu memang sekitar jarak kos-kosan ke Kota Baru. Tapi jalan Paingan-Kota Baru nggak mengenal kontainer kan? Di Palembang lain lagi. Kalau mau mengukur jarak waktu saya di kos-kosan Cece Meytin ke Kapel Seminari, maka 13 kilometer itu bisa satu bulan misa, lengkap dengan Jumat Pertama, pembukaan Bulan Maria, plus penutupannya.

Makanya, saya pernah bilang ke tante saya yang suster bahwa perjalanan ke gereja disini seperti perjalanan ke Golgota. Bedanya, ini Golgota masa kini. Komentarnya sih singkat, “bisa jadi.”

Nah, bermula dari tukar hari tugas antara saya dengan Dian (padahal di PSM saya ngertinya Ria -___-), akhirnya saya dapat tugas lektor Novena Roh Kudus hari kedelapan, 17 Mei 2013. Sebenarnya kan enak kalau Jumat, besoknya libur, jadi bisa leyeh-leyeh.

Cuma siapa sangka kalau si tanggal 17 itu menjadi saat pertama kalinya saya naik sepeda motor sambil berdoa?

Siang sempat hujan sih, tapi pulang kantor sudah oke. Kemudian saya coba kutak kutik si Young yang rusak, dan gagal. Kemudian saya mandi dan persiapan berangkat. Begitu buka pintu kos, sudah lihat hawa nggak enak dari awan yang menggantung seram di sebelah kiri. Hawa-hawa hujan gede.

Saya berangkat tanpa mengenakan mantel, tapi kemudian segera pakai mantel di depan Wisma Mattel. Nggak nyangka, ternyata airnya sudah kemana-mana. Jalan masuk Jababeka 2 sudah banjir, demikian pula di depan kantor. Yang bikin ngenes, arah jatuhnya hujan itu diagonal 45 derajat, dan kok ya sejalur dengan arah perjalanan saya. Jadilah ini muka semacam refleksi akupuntur pakai air hujan yang tajam-tajam. Mana kaca helm nggak mungkin ditutup, soalnya gelap.

Begitu keluar pintu 10 dan hendak menuju Kalimalang, saya berbelok ke kanan seperti biasa, dan tidak memperhatikan bahwa ada lubang besar di depan saya. Si BG melaju melindas lubang itu dan ternyata dalamnya tak taksir ada 20-30 cm, karena kemudian rodanya si BG yang depan sempat meloncat. Saya sudah berpikir hendak jatuh saja ini, tapi ternyata pegangan tangan kanan saya–sambil tetap ngegas–masih bisa menahan keseimbangan sehingga tidak jatuh.

*Puji Tuhan*

Ini bukan hujan biasa yang jelas, dan setahu saya jalan Cikarang-Cibarusah itu kalau hujan yang nggenang. Satu hal yang perlu disyukuri adalah itu jalan habis dipoles. Jadi nggak perlu terlalu khawatir sama lubangnya yang besar-besar itu.

Begitu masuk Jembatan Tegalgede, genangannya sudah se-footstep si BG. Syukur pula bahwa saya pernah diberi pengalaman banjir di Palembang dulu. Jadi tahu gimana caranya melajukan sepeda motor dengan baik dan benar agar tidak mati mesin. Khusus bagian Tegalgede ini lewat.

Lalu berlanjut ke daerah dekat POM Bensin tempat saya dan si BG jatuh untuk pertama kalinya. *tuh kan mirip jalan salib ke Golgota*

Sudah ngeri aja karena bolongan di jalan itu rata ketutup air. Saya berbekal ngikutin jalurnya depan saja, dan untungnya lolos sampai ke depan Carrefour. Dan kebetulan sih, banjir juga, juga se-footstep si BG. Tangan saya nggak lepas dari gas, di gigi 1, plus kaki saya nggak lepas dari rem belakang, plus tangan yang ngegas tadi juga jaga-jaga di rem. Ini kan gigi 1, takutnya lompat, nabrak yang depan. Kan berabe.

Lalu saya tahu masih ada titik lagi yang banjirnya pasti tinggi. Itu di jalan naik jembatan yang menyeberangi Tol Cikampek. Sudah menutupi mesin kalau itu, disinilah saya mulai berdoa sambil naik sepeda motor.

“Tolong Tuhan.. Tolong Tuhan..”

Lebay yak? Mungkin. Tapi ini naluriah.

Jembatan lolos. Dan saya tidak punya pengalaman cukup soal hujan intensitas besar di jalan sesudah itu. Pikir saya, harusnya sih udah beres.

EH SIAPA BILANG?

Ternyata di pertigaan dari Gemalapik airnya sudah mulai tinggi lagi. Saya ambil kanan dan tinggi airnya sama dengan yang di tanjakan mau lewat jembatan. Udah ngeri aja kalau si BG mati di tengah jalan, soalnya di belakang mobil besar-besar. *jangan dibayangkan*

Sesudahnya, genangan semata kaki jadi biasa aja buat saya. Tinggal libas sana sini. Nggak banyak lagi masalah, termasuk di perempatan EJIP yang sebenarnya kan cekungan itu. Saya mulai tenang, ayem. Lagipula ini kan sudah masuk daerah perumahan yang terkenal. Yang dikelola oleh developer ternama. Harusnya kan nggak banjir. Apalagi begitu lewat kali, ya nggak meluap.

EH SIAPA BILANG?

Sesudah bundaran Elysium saya mendapati genangan yang LEBIH tinggi daripada yang ada di pertigaan dari Gemalapik. Bahkan mobil-mobilpun melewati jalan ini dengan galau. Karena rata-rata city car. Kalau tidak salah, dalam posisi saya mengendarai si BG, airnya sudah hampir ke lutut saya. Ketinggiannya persis waktu saya kebanjiran di Sekip. Dan jangan lupakan arus dari citycar yang berjalan bersisian dengan saya.

Ngenes.

Untunglah, akhirnya sekolah yang saya sebut gereja itu segera terlihat dan tidak ada genangan lain sesudah itu. Fiuhh. Saya keluar kos 6 kurang 10, dan sempat buka sepatu, ganti sandal, pakai jas hujan, dll, sampai ke gereja 18.20, jadi ya 30 menit. Tiga puluh menit naik motor yang mendebarkan, ehm, cenderung mengerikan.

Tapi, ada banyak orang yang bersama saya di jalanan? Kok mereka bisa ya?Dan ini saya sekali-sekali, dalam rangka mau ke gereja. Kalau mereka yang statusnya mau pulang ke rumah bagaimana yak? Kok bisa?

I don’t know.

Kebetulan yang absurd mungkin ya. HP pas rusak, yang mana daripada seluruh kontak lektor ada di HP itu. Mau menghubungi siapa, misal untuk menggantikan, ya bingung. Makanya kemudian saya putuskan bablas saja. Syukurlah sampai.

Pada akhirnya tugasnya berjalan lancar, meski saya salah menyebut “dia” dengan “ia”. Yah, maklum, habis kehujanan *mohon excuse*

Ada banyak pelajaran yang saya petik selama 30 menit tadi.

1. Mengendarai sepeda motor melibas banjir itu butuh fisik yang kuat. Tangan kiri saya bahkan masih pegal sampai saya mengetik posting ini. Menahan beban kiri-kanan dan menjaga keseimbangan itu sulit ternyata. Belum lagi perut saya yang mendadak juga ‘capek’ karena tahanan tangan larinya ke otot perut. Sungguhpun kalau nggak keburu, melibas jalanan kayak tadi AMAT SANGAT TIDAK DISARANKAN. Saya hanya beruntung saja bisa selamat sampai Β tujuan.

2. Masalah itu selalu ada, bahkan menjelang akhir perjalanan. Lha saya itu begitu di bundaran Beverli sudah amat sangat yakin nggak akan ada genangan lagi. Lah kok malah dapat yang paling besar. -____- Pada akhirnya ternyata masalah itu akan hilang kalau kita beneran sudah sampai di tujuan. So, waspadalah.

3. Sepanjang jalan, sambil minta tolong sama Tuhan, saya berasa dibisikin, “Kalo lo sampai, lo menang!” Entah dibisikin sama siapa sih, tapi rasanya jadi bikin teguh kukuh melaju meski saya masih amat mungkin berhenti dan balik kanan pulang kos lalu tidur.

4. Apapun halangannya, kalau itu untuk Tuhan, percayalah, PASTI LEWAT. Itu pelajaran saya benar-benar hari ini. Meski jelas untuk tugas-tugas berikutnya kalau bisa ya jangan begini lagi jalannya, tapi bahwa saya berangkat untuk membaca sabda Tuhan di gereja, dengan jalan yang sebenarnya nggak masuk akal untuk dilibas si BG, dengan posisi sudah nyaris jatuh di dekat Kalimalang, dan saya sampai. Mukjizat? Entahlah. Saya bukan siapa-siapa kok, tapi saya meyakini bahwa saya masih bisa mengetik posting ini saja sudah merupakan berkat melimpah.

5. Sesudah heavy rain selama 13 kilometer tadi, saya melakoni perjalanan pulang dengan gerimis rintik-rintik. Sesudah dikasih yang berat, saya dikasih jalanan lancar, tanpa banyak genangan lagi (cepet ternyata surutnya), dan tanpa banyak truk besar. Begitulah, sesudah cobaan pasti ada berkat melimpah. Amin.

6. Bahwa saya bisa merutuk pemerintah atau siapapun yang bertanggung jawab pada drainase semenjana di kawasan industri ini. Tapi sepanjang jalan saya lebih sibuk minta tolong sama Tuhan daripada memikirkan mengutuk siapa. Ternyata lebih enak rasanya. Hehehe.

Begitulah perjalanan saya menempuh heavy rain 13 kilometer hari ini. Sejatinya ini bukan apa-apa bagi kebanyakan orang, tapi buat saya, ini adalah pengalaman berharga. Berharga banget. Kalau bisa sih nggak usah diulang. πŸ˜€

Selamat pagi dan selamat tidur πŸ™‚

5 Perjalanan Serba Pertama

Sudah cukup lama saya nggak nulis bab lain dari blog ini selain ‘hanya mau menulis’. Sekarang pengen meneruskan serial 5 perjalanan sesudah paling absurd dan jadi teman yang baik.

Kali ini saya mau menuliskan 5 perjalanan ketika saya cupu sangat jadi orang. Kecupuan itu tentu saja terjadi karena itu pertama kali saya melakukan perjalanan tersebut.

MarKiMul, mari kita mulai!

1. Batavia Air (medio 2004)

Saya pulang kampung naik ALS sesudah saya lulus SMA. Cuma, di perjalanan saya mengalami traveler diarrhea yang menyebabkan hidup saya semengenaskan jomblo ngenes sepanjang perjalanan Lampung-Bukittinggi. Walhasil sampai rumah saya jatuh kurus, yang mana daripada sebelumnya saya sudah kurus kering.

Nah, begitu kembali ke Jogja, emak saya nggak tega saya kena traveler diarrhea lagi, jadi dibeliin deh tiket pesawat ke Jogja. Dan itu adalah almarhum Batavia Air. Waktu itu berangkatnya masih dari Tabing. Dan itu adalah penerbangan koneksi.

Usia saya 17 tahun dan belum pernah naik pesawat setelah tahun 1989. Mana ngerti saya suasana bandara kayak apa? Dan lagi, saya sama sekali nggak pegang HP kala itu. Lengkap sudah.

Dengan ngenes saya sudah harus merelakan seat pinggir jendela saya kepada seorang kancut yang tega bilang kalau bangku saya yang di gang, padahal jelas-jelas A. Saya yang pengen melihat awan kan langsung garuk-garuk rok pramugari.

Bagian ngenesnya adalah waktu transit, bahwa saat itu saya asli ngenes tanpa alat komunikasi apapun di bandara itu. Waktu itu bandara Soekarno-Hatta belum digital. Ganti jadwalnya masih yang model kayak mesin ketik itu.

Ada sekitar 2 jam saya nunggu dengan gamang di ruang tunggu terminal 1, lupa A-B-C. Dan syukurlah pada akhirnya sampai juga ke Jogja dengan selamat.

2. Merpati (2008)

Bagian dari project 9 hari saya yang tahu-tahu mewarnai hidup saya dengan segera dan memusnahkan kemungkinan saya dapat penghargaan kelulusan apoteker, tapi tidak pernah saya sesali karena nilai pengalamannya LUAR BIASA.

Jadi waktu itu saya naik pesawat bareng Pak Lanto dan Pak siapa gitu saya lupa dari Jogja, transit Jakarta, lanjut Medan. Nah, sesudah dari Medan mau ke Gunungsitoli ini yang bikin deg-degan.

Ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat kecil, isi 28 penumpang kalau nggak salah. Begitu lihat bahwa tangga naiknya itu dilipat jadi pintu, udah berasa kecilnya ini pesawat. Belum lagi lihat sepasang baling-baling di sayapnya yang tidak kalah mungil, semungil hatiku *uopoooo*

Mengingat saya cupu, jadi saya ikut saja Pak Lanto pilih di gang. Untungnya itu pilihan benar karena ternyata cukup ngenes juga di jendela. Semacam menakutkan gitu.

Tapi seru sih.

3. Taksi di Bandung (2008)

Ini sontoloyo-nya supir taksi di Bandung. Ncen asli sompret. *lah malah misuh-misuh*

Jadi kisahnya, dalam rangka liburan semester dan memberikan support penuh kepada dedek bungsu yang hendak meniup puluik pupuik dan menabuh tampelong talempong, saya dan dua adek langsung menuju Bandung Lautan Asmara.

Rencananya, mau menginap di rumah saudara yang memang ada di Bandung. Kontak kita waktu itu hanya si Petra, sepupu saya yang sepantaran sama si Cici, sekarang sudah jadi lawyer, sementara saya masih jadi officer *separuh curhat*

Terakhir kali ketemu Petra adalah tahun 1997, waktu itu dia masih SD. Dan di dalam perkembangan wanita tentu saja ada perbedaan besar.

Begitu taksi yang diorder sampai ke kompleks yang dituju, mulai deh itu supir kampret belagak nggak ngerti jalan. Berhubung saya juga nggak ngerti jalan, apalagi dua adek saya pun demikian, ya ikut manut patuh begitu supir bilang kagak ngarti. Jadilah taksi dibawa muter-muter nggak karuan.

Pada saat ini juga, Cici menelepon Petra, suruh keluar rumah. Permintaan absurd juga, lha emang kalau Petra keluar rumah kita ngerti bentuknya Petra di tahun 2008 kayak apa?

Ujungnya sih ketemu, dengan cost membengkak dan seringai jahanam ala David Luiz dari supir taksi. Yeah!

4. Solo (2005)

Ada 3 kali saya ke Solo. Eh, 4. Yang terakhir sendirian.

Nah ini yang pertama. Detailnya ada di sisi lain blog ini. Jadi kisahnya si Coco itu pengen naik sepur. Ndeso tenan nggak pernah naik sepur ya. Karena kita, teman-temannya, baik hati dan rajin menabung, maka kita temanilah dia ber-15 semata mau naik Pramex.

Kisahnya panjang banget, jadi monggo dihaturi mampir kesini ya.

5. Ngangin-Ngangin (2007)

Dari namanya saja sudah absurd, tapi itulah desa terpilih untuk melakoni skripsi. Pertama kali saya kesana adalah bonceng Pipin, dan dikasih tahu bahwa tempatnya lumayan nyelempit.

Dimulai dari melewati Kali Progo. Mengingat Ngangin-Ngangin ada di Kulonprogo, alias baratnya Progo. Terus sesudah lewat Progo dan sekian tikungan, masuklah kita ke kanan, dengan sawah membentang.

Sampai di ujung jalan ketika jalan aspal habis, dimulailah petualangan baru dengan jalan berbatu.

Demikianlah pada akhirnya saya sampai di sebuah desa, yang anehnya, jalannya mulus. *jangan-jangan ada akses lainnya ini?*

Pertama kali itu pula langsung ngider dusun, langsung ikut PKK sambil bernyanyi, “hidup gotong royong sehat sandang dan pangan…”

Ehm, begitulah, 5 perjalanan serba pertama saya yang penuh kecupuan dan kebingungan. Maaf kalau nggak lucu, kan cuma berniat ngelucu. πŸ˜€ πŸ˜€

Jenis-Jenis Cinta Diam-Diam

Seperti sudah sering diutarakan dalam blog ini, bahwa cinta diam-diam adalah bentuk kriminalisasi terhadap diri sendiri. Sebuah perbuatan yang jauh lebih kejam daripada kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan sangat jauh lebih lebih kejam daripada krimbatisasi rambut keriting.

Nah, sekilas marilah membahas jenis-jenis cinta diam-diam yang ada di dunia nan fana serta fanas (panas -red) ini.

Cinta Sama Sahabat

Pada sebagian kasus, terlalu lama bersama hingga terlalu akrab bisa menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan. Ya memang tidak secepat boneka horta menumbuhkan benihnya, tapi cinta jenis ini termasuk mendalam. Kita tentu mengetahui bagaimana Riani memendam perasaan pada Zafran (dalam novel 5 cm), plus Genta memendam hal yang sama pada Riani. Ini kan jenis cinta sam sahabat sendiri. Mau ditembak, takutnya ditolak, dan terus persahabatannya bubar deh. Ketakutan kehilangan ini yang menyebabkan bara cinta yang terpendam diguyur perlahan pakai air, tapi sesekali pakai alkohol juga. Berusaha dipadamkan, tapi kadang tetap dipelihara. Ya, pada akhirnya sih, tetap tidak dinyatakan.

Cinta Sama Saudara

Oke, bukan maksud SARA loh ini. Tapi ini berkaca dari pengalaman saya yang separuh Batak (tolong dinyanyikan ala NOAH ya). Seorang Simamora itu tidak boleh flirting dengan sesama Simamora, bahkan juga dengan beberapa suku lainnya. Kenapa? Karena kesamaan marga itu berarti kita bersaudara. Dan sekarang coba bayangkan seorang lelaki Simamora yang tampan bertemu seorang gadis Simamora yang cantik jelita, dan sebelum saling menyatakan cinta, mereka mengetahui kalau mereka 1 marga alias bersaudara. Daripada dinyatakan dan kemudian malah bikin heboh urusan peradatan, jadi alangkah lebih baik kalau perasaan itu dipendam dan nanti kalau pas mudik ke Toba, perasaan itu ditenggelamkan di Danau Toba saja.

Cinta Sama Pacar Teman

Nah, jenis ini adalah bentuk perasaan paling sontoloyo. Okelah kita tahu kalau kata novel Perahu Kertas, hati itu DIPILIH, bukan MEMILIH. Dan kalau kebetulan hati itu pas nyangkut pada seseorang yang sedang menjadi pacarnya teman, masih mau menyebut dipilih dan memilih? Mumet pasti. Pada umumnya, hal ini akan berdampak dua. Pertama, seorang yang cinta sama pacar teman akan diam-diam saja sehingga kemudian direkrut tanpa interview sama sekte Cinta Diam-Diam. Kedua, seorang yang cinta sama pacar teman akan segera memepet, menggesek, menelikung, menyabet, menyaut, dan kemudian membawa lari pacar teman. Hilang teman, dapat pacar. Ya, ketika karma eksis, hal yang sama akan terjadi. Bukankah kalau begini lebih baik jadi pecinta diam-diam saja? Hehehe.

Cinta Sama Pacar Orang Lain

Agak beda tipis (tololnya) dengan jenis sebelumnya. Kalau yang di atas kecenderungannya nggak enak sama teman, kalau yang nggak kenal begini bakal lebih enteng. Kalau ditelikung dan kemudian dapat, kan nggak akan kehilangan teman juga. Hanya saja, sifat gentle yang diletakkan disini. Cowok kalau tahu si cewek punya pacar, dan masih dideketin juga, itu ngawur namanya (pengalaman -red). Jadi, ketika sifat gentle itu ada, maka dengan demikian eksislah kaum pecinta diam-diam di dunia yang menggila ini.

Cinta Sejenis

Ini mungkin hanya terjadi di negara dengan tingkat keberterimaan pasangan sejenis yang rendah. Hal simpel deh, seseorang penyuka sesama yang eksis di negeri Indonesia Raya Merdeka-Merdeka ini cenderung akan main bawah tanah karena perkara citra dengan luaran. Termasuk ketika memendam rasa dengan sesama jenis. Lagipula, kalau diumbarpun, jatuhnya bakal nggak lazim di masyarakat. Plus, iya kalau yang disuka sama-sama suka? Kalau yang disuka malah ngibrit gimana? Kemungkinan yang sangat besar dalam kelaziman sesuatu yang disebut norma (ini bukan norma peserta bukan dunia lain ya).

Ya, kira-kira demikian jenis-jenis cinta diam-diam. Meski berasal dari genre yang berbeda-beda, tapi sebenarnya mereka satu jua, sama-sama PECUNDANG yang nggak bisa membela hati mereka sendiri.

Ehm, mereka? Oke, salah. Kami mungkin lebih tepat. Atau kita?

πŸ™‚

Hal-Hal yang Dilakukan Pelaku Cinta Diam-Diam

Fiuhhh, capek seharian training, jadi pengen menulis sesuatu. Pengennya nulis sesuatu yang cetar membal-membal (opo jal?). Gimana kalau ini saja ya, mengidentifikasi kelakuan para pelaku tindakan kriminal tingkat dewa pada diri sendiri, yakni cinta diam-diam.

Yeah, ini pasti jamak terjadi, dan pasti dialami oleh sebagian cowok atau cewek di dunia yang fana ini. Nah, berikut beberapa hal yang dilakukan pelaku cinta diam-diam.

Berselancar di linimasa, terutama di bagian foto

Sila berterima kasih kepada pencipta Friendster dan kemudian Facebook. Sebuah terobosan duniawi masa kini yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan potensi diri berupa narsis. Ya, sejak ada FS maka kita mengenal memajang foto di depan umum, tepatnya di halaman profil.

Para pelaku cinta diam-diam umumnya adalah orang yang dekat dengan sang target, jadi umumnya sudah berteman satu sama lain di linimasa. Efeknya? Kalau di FS dulu kan nggak seenaknya bisa intip foto orang. Demikian juga dengan pengaturan privasi di FB masa kini. Kalau sudah friend, maka bebaslah berselancar.

Maka satu hal yang dirindukan dari FS adalah kemampuan memberikan informasi, siapa yang melakukan aksi kepo pada sebuah akun. Hal ini ternyata disyukuri para pelaku cinta diam-diam karena bisa seenaknya memantengi halaman profil si gebetan tanpa khawatir ketahuan. Juga dengan seenaknya bisa membuka-buka segala macam foto, mulai pose menyamping, dari atas, pose melet, sampai pose BB BM (hasil tag toko handphone abal-abal). Dan tidak jarang juga orang yang sampai mengunduh foto-foto gebetannya dan menyimpannya dalam sebuah folder khusus.

Kasihan ya? *pukpuk*

Menyimpan SMS dari zaman batu, dan sesekali membacanya kembali

SMS yang rada-rada manis dari gebetan, meskipun itu sudah dikirimkan dari satu abad yang lalu, akan tetap disimpan. Bahkan ketika gonta ganti HP, SMS itu tetap ditransfer. Jadi jangan heran kalau di handphone android terbaru, masih ada SMS tertanggal 2004. Padahal ya isinya sih nggak manis-manis banget. Cuma bilang, “Makasih ya udah denger curhatku.”

Dan sepotong kalimat itu adalah bersifat abadi sepanjang masa bagi penganut cinta diam-diam. pelaku kriminal jenis ini akan membaca pesan singkat yang sudah tidak kontekstual tersebut ketika lagi ingat gebetannya yang dicintai secara diam-diam.

Sengaja datang ke kampus cuma buat ngelihat gebetan

Penganut cinta diam-diam akan menghafal jadwal kuliah gebetannya dan kemudian menyempatkan diri datang ke kampus, serta berada di posisi yang tepat untuk bisa sekadar melihat si gebetan.

Jadi kalau misalnya dia kuliah jam 3 sore, tapi si gebetan kuliah jam 7 pagi. Maka dari subuh, penganut cinta diam-diam sudah sampai di kampus kemudian pura-pura nongkrong dan pura-pura belajar yang tekun demi masa depan bangsa sambil matanya celingak-celinguk ke arah arus mahasiswa datang.

Lalu?

Pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan melihat dari kejauhan, si gebetan mendekat, lalu menjauh kembali karena mau ke kelas buat kuliah. Nah, segitu saja cukup kok. Kan namanya juga cinta diam-diam.

*pukpuk lagi*

Sengaja lewat depan kos-kosan gebetan

Ketika seorang pelaku cinta diam-diam kosnya dari kampus belok kanan 1000 langkah, dia bisa saja belok kiri dulu menuju kos-kosan gebetan. Momen ini umumnya terjadi ketika si pelaku tahu kalau gebetan kira-kira ada di kos-kosan atau tidak.

Tapi momen yang paling mendasar adalah ketika malam hari. Kenapa? Karena malam hari adalah jam apel anak kos-kosan. Pelaku cinta diam-diam akan mondar-mandir di depan kos-kosan gebetan sambil melihat orang yang bertamu ke kos-kosan gebetan tersebut. Kalau kebetulan yang ada disana adalah teman kosnya gebetan dengan pacarnya, maka pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan kembali ke kos-kosannya dan berteriak mengucap syukur.

Kalau kemudian yang ditemukan adalah gebetan sedang bersama lain jenis dalam posisi yang rada mesra, maka pelaku cinta diam-diam akan mencari racun tikus dan bergegas menuju pinggir jurang terdekat.

Melihat sepanjang waktu

Ada kalanya cinta diam-diam terbentuk karena 1 kelas atau 1 komunitas. Nah, ketika cinta itu muncul dan kebetulan ada aktivitas bersama, maka penganut ajaran cinta diam-diam akan memanfaatkan waktu ‘bersama’ itu sebaik-baiknya.

Sebaik mungkin, meskipun sebenarnya komunitasnya adalah senam jantung sehat dengan 1000 peserta. Seorang penganut cinta diam-diam memiliki kemampuan lebih untuk mencari celah-celah agar tetap bisa memandangi wajah gebetannya.

Lalu?

Ya sudah, gitu doang sih. Ketika kegiatan ‘bersama’ itu berakhir. Maka penganut cinta diam-diam akan kembali ke layar monitor, menatap galau pada foto-foto gebetan yang sudah sejak lama dia cintai secara diam-diam.

Berdoa tanpa berusaha

Kata pepatah Latin, Ora Et Labora, berdoa dan bekerja. Perkaranya, penganut ajaran cinta diam-diam memiliki kencenderungan untuk rajin berdoa tanpa kemudian meningkatkan usahanya lebih tinggi daripada level berharap.

Penganut cinta diam-diam akan membawa gebetan dalam doa-doa dan harapannya tapi kemudian tertunduk malu ketika berada di hadapan gebetan yang sejatinya sudah meraja di dalam hati.

Persoalannya sih cuma 1, tidak ada keberanian untuk berusaha. Terkadang penganut cinta diam-diam lebih berani untuk melakukan tindakan ekstrim semacam lompat dari pinggir bak mandi atau berenang di kolam ikan hias daripada menyatakan perasaan yang dipendam sambil diam-diam itu.

Cemburu lalu menerawang pasrah

Hal ini terjadi ketika gebetan dipastikan dan sudah dikonfirmasi telah memiliki pasangan. Ada rasa cemburu, meskipun itu sebenarnya cemburu yang patut dipertanyakan. Emang siapa dia sampai lo cemburu coy?

Nah karena kemudian disadarkan oleh pernyataan itu, maka penganut aliran cinta diam-diam akan segera mengerti kondisi. Dan tindakan yang berikutnya adalah membuka mata dan menatap hampa, semacam menerawang nasib yang buruk, untuk kemudian pasrah terhadap kenyataan hidup yang terkadang pahit itu.

Yah, sekian sedikit ulasan mengenai hal-hal yang dilakukan oleh pelaku cinta diam-diam. Semoga bisa menambah khasanah bercinta secara diam-diam.

 

Macam-Macam HTS

Semakin labil anak muda masa kini, semakin banyak istilah bermunculan. Salah satunya adalah HTS. Ini tentu saja bukan Heka Teki Silang atau Henyakit Tenular Seksual *garing* tapi Hubungan Tanpa Status. Seorang teman pernah menyebutnya sebagai intimate friend. Ya, teman yang lebih intim.

Parameternya?

Tentu intensitas komunikasi. Logisnya, dua orang berlawanan jenis akan berkomunikasi sepanjang hari jika dia (1) punya hubungan keluarga, (2) PDKT pada level hampir diterima, (3) lagi janjian di mall dan nggak ketemu-ketemu, saking gede-nya mall tempat janjian, dan (4) berteman.

Ehm, berteman.

Jadi mari kita bahas jenis-jenis HTS ini.

Mantan yang masih saling cinta

Ada kalanya dua insan saling mencintai tapi terpaksa meluputkan komitmen yang sudah ada karena faktor eksternal. Misalnya perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan. Hal ini pedih banget. Ya, namanya juga masih cinta, masih perhatian, masih curhat kalau sakit, masih nanya sudah makan apa belum. Ehm, nanya siapa tuh? Pacar bukan, mantan iya.

Satu berharap, satu belum dulu

Nah, misal si cewek yang habis putus karena perbedaan tadi. Begitu lepas jadi jomblo, datanglah seorang cowok mendekati, menawarkan kedekatan, keintiman, ciee.. ciee…, dan lainnya. Hasilnya? Ya, komunikasi tiap hari lancar. SMS, telepon, BBM, Whatsapp lanjut terus. Tapi si cowok pasti menemukan tembok besar ketika mau nembak. Kenapa? Ya, si cewek jelas menerima rekan curhat, teman, tapi belum berkehendak lebih. Si cowok menunggu waktu yang tepat, dan terbentuklah HTS.

Sama-sama malas berkomitmen

Hal yang parah dari status ‘pacaran’ adalah komitmen. Ada pergaulan yang harus dibatasi, baik di linimasa maupun di dunia nyata, semata-mata menghormati komitmen. Buat saya sih ini bisa didiskusikan. Tapi ada saja kalanya dua orang saling suka, tapi tidak hendak terkendala komitmen, cemburu, dan lainnya. Hingga kemudian memilih dekat, tapi tidak dalam naungan komitmen.

Sudah punya pacar

Well, bagaimanapun ada yang begini. Kadang nih, cewek butuh teman cowok untuk curhat tentang masalah cowok. Kenapa? Karena perkara perspektif. Nah, namanya juga COWOK mennn.. dekat sama cewek (apalagi kalo lagi LDR) pasti ada harapan untuk mengisi ruang yang kosong disana. Ini nggak selingkuh kok, karena nggak ada komitmen diantara mereka berdua. Kan cuma teman. Teman tapi kok ngingetin makan, teman macam apa itu?

Temen Kos

Di era kos campur merajalela, ada aja yang namanya hubungan dekat karena teman kos. Ya, secara, kadang perlu pinjem gunting kuku, nebeng nonton, tukar-tukaran DVD terbaru, sampai nonton bareng di bioskop. Kadang nih, ya sedekat itu saja, jadian kagak. Padahal tinggal serumah. Eleuhh..

Teman Sejenis

Namanya cinta kadang nggak mandang jenis kelamin. Dan di era yang masih sok menabukan ‘perbedaan dari kelogisan’ tentunya persoalan ‘sejenis’ ini belum hendak dikomitmenkan. Apalagi dipublish ke social media (meskipun Facebook sudah memfasilitasinya). Jadinya? Ya, seperti saya melihat dua pria belai2an di TransJogja. *no comment*

Yah, sekian saja. Semoga tidak membantu. Sekian dan selamat sampai tujuan.

Tipe-Tipe Perubahan Status Teman

Hari gini, umur udah mau 26, nggak punya pacar pulak. Let’s say ini ngenes. OKE!!!! *asemmm*

Nah, ternyata hal semacam ini banyak terjadi. Ya, pacaran luamaaaaaaa dan berujung bukan ke pernikahan tapi perpisahan. Ya, nikah sama putus itu beda lho. Termasuk ketika ditambahi imbuhan per-an. Dan biasanya, yang macam ini, nggak semudah itu sosialisasi kayak anak-anak labil masa kini. Modelnya? Begini kira-kira.

Perubahan Aktivitas

Biasanya jam 8 malam masuk kamar lalu asyik teleponan atau biasanya malam minggu keluar dengan pacar, eh sekarang jam 8 malam malah nyangkruk di depan tivi atau pas malam minggu juga ada di depan tivi. Lalu ketika ditanya, kok nggak keluar, dijawab sekenanya, “nggak aja”. Lalu juga biasanya asyik sama handphone, sekarang asyik dengan kalkulator. Lalu headset yang biasanya terkapar di dekat tempat tidur kini disimpan di kamar tetangga. Asli, ini tanda-tanda teman punya status baru: JOMBLO.

Misteri ini akan bertahan 2-3 minggu sebelum kemudian dibuka perlahan ke teman-teman.

Perubahan Raut Muka

Biasanya mukanya cerah ceria macam kos-kosan di Paingan *jalan kanigoro*, eh sekarang raut mukanya banyak diam merengut berlipat bak perut penuh lemak. Ya, semacam ini sudah pertanda yang sederhana. Sebagaimananyapun seseorang menyimpan masalah pasti ada pengaruh dengan penampakan di muka umum.

Perkecualian untuk yang mukanya sudah rata-rata bawah *kayak saya*

Status di FB Menghilang

Ada opsi untuk menyembunyikan status relationship di FB. Nah, kadang ada yang sudah membuat dengan MANTAP “engaged with ANU” di FB dan tentunya dikomen panjang lebar sama teman-teman FB. Begitu ada status baru bernama jomblo, itu status baru disembunyikan dulu. Sesudah beberapa lama disembunyikan baru deh status itu diganti ke single. Dalam posisi tersembunyi, mau diganti apapun yang tetap tidak mengundang komentar dari khalayak ramai.

Pengecualian untuk yang pengen jadi artis sejenak untuk menjawab pertanyaan seperti ini “Ciyus?” atau “KENAPA?? *tanda tanya banyak*” atau “Ah, paling ntar balik lagi”.

Mulai Sering Buka Social Media

Sesudah perubahan status ini, maka tahap berikutnya adalah MOVE ON! Untuk itu diperlukan sarana untuk move yaitu target berikutnya. Nah, salah satu cara modern masa kini adalah dengan buka-buka FB, lalu main add yang profpic-nya cakep-cakep, dan tiba-tiba temannya bertambah banyak. Untuk yang emang online rajin kayak saya tentu nggak masuk kategori ini. HAHAHAHAHAHA… *ngeles*

Yah begitulah…

*tulisan ini juga semata-mata gojek kere.. jangan dianggap serius.. hehehehe..

 

Guna “Teman” Dalam LDR

LDR alias PJJ alias hubungan jarak jauh merupakan salah satu romansa percintaan yang asoy geboy. Yah, asik-asik gimana gitu. Dalam hal kangen-kangenan bakal asyik karena kangennya ditumpuk, lalu dicurahkan pada beberapa hari bersama. Nah, masalahnya, manusia itu hidup 24 jam. Dan dalam sebuah hubungan, ada aja dinamika dalam 24 jam hidup itu. Salah satu yang jamak ada adalah “teman”. Hmmm, dalam terkadang “teman” dari si pacar itu berasal dari jenis kelamin yang sama dengan si pacar. Berikut beberapa kegunaan “teman” dalam hubungan LDR.

Handphone Bebas Air Mata

Kadang kan cewek itu ada dapat masalah yang berat. Dan curhat ke pacar adalah solusi umum. Tapi namanya PJJ, curhatnya paling ya via telepon genggam entah BBM, whatsapp, SMS, telepon, atau Call Me. Kadang sambil curhat itu sambil nangis. Tahu sendiri namanya air mata itu berasal dari kelenjar yang ada di dalam tubuh, selain air juga terkandung bahan lain yang bisa mengotori handphone.

Solusinya? Datanglah “teman” menawarkan bahu dan pelukannya untuk si cewek curhat, plus tangan untuk menghapus air mata itu. Asikkkk.. Dan si cowok? Paling mentok hanya bisa bilang “Sabar ya, sayang…”

*pletakkkk*

Antar Jemput Gratis

Ini juga. Secara si cowok ada jauh banget disana, sementara si cewek tentu kadang butuh orang untuk menemani, misalnya servis laptop atau jenis yang lain yang butuh advice dan bantuan dari golongan cowok. Si cowok paling mentok hanya bisa googling dan kasih beberapa masukan.

Sementara si teman? Dengan senang hati menawarkan diri untuk mengantarkan, menunggui, dan mengantar pulang kembali si cewek ke tempat kediaman.

Si Cowok? Paling cuma bisa nanya “Laptopnya udah beres kan?”

Ada Di Kala Sakit

Kali aja ada cewek yang menderita vertigo macam saya, kalau sudah parah, jangan harap bisa nyetir kendaraan sendiri untuk berobat. Tentunya butuh orang yang bisa menemani, mengantarkan dan menunggui, serta merawat si cewek kala sakit. Cowok yang jauh disana hanya akan bisa bertanya, “masih sakit?” atau “udah minum obat?”

Sementara si “teman”? Dengan senang hati akan menawarkan diri, “mau dibawain apa besok?” atau “kalau periksa, ntar aku temenin deh”. Hmmm, jauh lebih dekat dan intim kan?

Pada akhirnya, si cowok hanya bisa bertanya, “udah jadi periksa? sama siapa?” Dan itu akan menjadi sebuah pertanyaan yang (mungkin) sulit untuk dijawab.

Pemberi Faktor Keamanan

Misal si cewek digodain preman kampung atau preman pasar, apalah daya yang bisa dilakukan oleh si cowok yang nun jauh di sana? Bahkan Edward Cullen saja kudu naik Volvo untuk bisa menyelamatkan Bella Swan dari preman. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang jaraknya dekat.

Dan datanglah “teman” dengan pengawalan sepanjang waktu sehingga kemudian memberi rasa aman.

Si cowok? Paling mentok nyuruh si cewek untuk hati-hati, atau separah-parahnya minta si cewek untuk nabok si preman. Dalam hal ini tidak ada daya yang bisa diperbuat si cowok, dan percayalah itu salah satu penderitaan terbesar cowok, ketika tidak bisa ada di samping orang terkasihnya saat sulit.

Solusi Yang Paling Dekat

Namanya juga LDR, ada aja kan masalahnya. Kadang itu bikin bete. Nah, biasanya biar nggak bete, perlu katarsis, cerita ke orang lain.

Untuk itu datanglah “teman” yang dengan senang hati bertanya, “kamu ada masalah dengan cowokmu?” Dan akan disambut dengan sukacita dengan berbagai cerita yang didengarkan dengan saksama oleh “teman”.

Dan mungkin pada ujungnya memberi solusi, “udah, putus ajalah”. :p

Nah, hubungan itu komitmen. Jarak adalah pembunuh yang mampu menggugurkan komitmen yang telah dibangun bersama. Apalagi jika kemudian jarak itu diberi tambahan “teman”. Jadi, apapun yang terjadi, jalinlah hubungan pertemanan dengan baik, pun jalinan kasih. Percayalah, diantara sekian “teman” ada yang dengan setia menanti celah kosong di hati cewek-cewek yang LDR.

Fiuhhh.. Untung saya nggak tergolong “teman”… Hahahaha…

*Tulisan ini hanya gojek kere semata, silahkan diambil yang baik-baik saja. Dan bagi yang LDR, percayalah ini hanyalah langkah awal untuk semua persatuan yang tidak terpisahkan, kecuali oleh maut πŸ™‚

Drama Angkot

Bahwa cinta itu bisa menjadi kausa untuk banyak hal, itu pasti sudah diketahui dan dirasakan oleh semua orang. Dan bahwa cinta itu berdampak ke banyak hal, itu juga pengetahuan umum. Hanya saja, si cinta ini bisa menimbulkan berbagai peristiwa yang kadang bikin geli, terutama bagi orang yang ada di luar lingkaran peristiwa.

Suatu hari di bulan November 2008.

Saya gamang di kos-kosan. Bos DP (kayaknya) sedang lembur.Robert–seperti biasa–pergi ke rumah Mbak-nya di Bekesong. DK, pasti pergi kalau weekend. Tinggal saya dan Cipi yang dengan setia tiada akhir berada di kos-kosan. Dan ditunjang oleh baru adanya berkat alias duit tambahan dari Pakde, maka saya lantas gatal hendak BELANJA! Apa tujuannya? Semata-mata SEPATU FUTSAL, berhubung sepatu yang saya beli di Jogja mendadak tampak alay diantara sepatu futsal yang berkeliaran di pabrik tempat saya PKL.

Maka, di Sabtu siang yang fana itu, saya berangkat sendiri. Tempat terdekat dan paling logis untuk ini adalah Mall Cijantung. Kala itu ada beberapa tempat yang bisa jadi peraduan sih. Terdekat banget ya Giant Cimanggis, tapi nyatanya memang lebih mudah menemukan pembalut atau shampoo alih-alih sepatu futsal yang harganya cocok sama kantong. Lalu berikutnya, Cimanggis Mall. Pertanyaan mendasar, ini mall apa bukan sih? Dan selanjutnya adalah Mall Cijantung. Lumayan kalau ini, jadilah.

Saya bukan orang yang hobi belanja. Jadi kalau belanja itu paling maksimal datang ke 3 tempat, tanya-tanya sedikit, lalu langsung beli. Sesederhana itu saja hidup saya memang. Begitu kemudian dapat yang agak mahal, ya itu namanya NASIB. Maka saya di Cijantung nggak lama-lama. Cuma beli sepatu berwarna putih (yang kemudian awet sampai saya berkarier di Palembang) dan makan Hoka Hoka Bento. Percayalah, ketika itu, Paket Hemat Hoka Hoka Bento adalah kerinduan universal, karena di Jogja nggak ada cabang Hokben. Betapa ndeso-nya saya.

Nah, perjalanan ini lantas mulai unik ketika saya menunggu angkot biru yang akan membawa saya kembali ke Mabeskosmar yang kisahnya banyak dikupas di blog-nya Bos DP (klik link di atas). Sambil menenteng sepatu baru yang murah meriah muntah itu, saya berdiri diam di dekat tiang listrik. Sebuah angkot agak penuh datang, saya masuk langsung ke pojokan karena tahu kalau lokasi saya lumayan jauh ke selatan.

Dari seberang muncul pemandangan menarik. Dua cowok, satu cewek. Yang menarik apa dong? Yah, dua cowok itu mengapit si cewek dan menyeberang jalan dengan gandengan. Usianya saya taksir lebih tua dari saya kala itu (kala ini juga dong ya?). Lihat? Satu cewek menggandeng dua cowok. Buat saya itu menarik. Dan, kok ya ndilalah, masuk ke angkot yang sama persis dengan saya dan lantas duduk PERSIS di depan saya.

Perjalanan dimulai, dan apa yang terjadi kemudian membuat saya terpaksa menyimpulkan banyak hal.

Si cowok 1 berbaju putih, matanya sembab, sesekali menangis dan menggenggam erat tangan si cewek plus menciuminya. Ehm, sejujurnya si cewek ini ya nggak cakep-cakep amat lho. Mukanya lempeng saya atas segala yang diperbuat terhadap tangan kirinya. Lalu si cowok 2 itu gondrong dan tampak tenang sekali.

Sambil menangis, cowok 1 beberapa kali bilang, “maafin aku, maafin aku…”

HELOOOWWWWW, INI DI ANGKOT BRO!

Hemmm, itu sorakan dari dalam hati saja sih. Mana berani saya utarakan. Dan disinilah saya mulai paham betapa TIDAK PEDULI-nya orang-orang di ibukota dan pinggirannya.

“Udah aku maafin,” ujar si cewek, tetap lempeng.

“Maafin aku, maafin aku…”

Cowok 1 tadi tetep menangis. Lha saya bingung, sakjane ini maunya apa? *brb nanya* *lalu ditabok*

Saya jadi menyimpulkan kalau si cowok ini bersalah, minta maaf, pengen balikan, dan nggak bisa. Karena si cewek menambahkan kata “nggak bisa” setelah bilang “udah aku maafin”. Lha ini berkali-kali cuy, di depan mata kepala sendiri pula. Eaaa bener dah.

Separuh jalan, dengan mata sembab dan agak tenang, si cowok 1 bilang ke cowok 2, “jaga dia baik-baik ya.”

GUBRAK TINGKAT INTERNASIONAL!

Jadi ada apa ini?

Sumpah saya bingung. Terpaksa menyimpulkan lagi. Agaknya ini pacar barunya si cewek. Tapi kok ya bisa-bisanya mereka pergi BERTIGA? Ke Mall Cijantung pula (eh, ini pertanyaan perlu nggak ya?).

Drama ini belum usai, karena sesuai ketiga sejoli ini turun di sekitar depan Giant, masih ada percakapan di antara mereka. Saya mengamati singkat sambil mengelus dada lega. MIMPI APA SAYA SEMALAM? Bisa-bisanya niatan beli sepatu harus disertai drama angkot macam ini.

Fiuhhh…

*sekadar cerita*
*efek nggak bisa tidur*
*efek kangen kamu*
*salah fokus*
*udah ah*

πŸ™‚

5 Show Yang Harus Dilupakan

Okelah, masih dengan pertanyaan, siapa saya sampai harus MELUPAKAN sebuah show. Ehm, ya begini-begini saya ini pernah-lah tampil di depan umum, mulai dari depan papan pengumuman sampai depan WC umum. Jadi adalah beberapa koleksi penampilan yang BENAR-BENAR HARUS DILUPAKAN. Lha, dilupakan kok malah ditulis disini.

Sebut saja itu anomali. Hehehehe..

So, ini dia..

1. Senandung Masa Puber (antara 2000 hingga 2001)

Sudah jelas lagi puber, sudah jelas tone suara menurun, masih pede jaya memilih lagu tinggi pas sesi menyanyi di kelas. Mau tahu lagunya? Yakin mau tahu? Bener?

“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siaaaaapaaaa…”

Dan di bagian terakhir yang meninggi itulah, saya slip sakpole ngisin-ngisini. Malu, malu, malu. Hahaha..

2. Anak Yang Hilang (juga sekitar 2000 hingga 2001)

Ide lomba dramatisasi kisah anak yang hilang versi kitab suci bagi saya merupakan ide yang terkutuk. Lebih terkutuk lagi ketika kemudian rayon St. Matheus yang notabene mengambil nama santo pelindung ketua rayon yang sejatinya adalah Bapak saya sendiri, kemudian memilih SAYA sebagai lakon utama: SI ANAK YANG HILANG!

Dan memang dasar saya nggak bisa akting, penampilan di aula yayasan prayoga itu kemudian menjadi derita sepanjang hayat. Mana nggak menang pulak. Sesudah turun panggung, rasanya saya mau hilang dari peredaran dunia saja.

3. Tentara Ora Cetho (tahun 1996)

Ini ceritanya class meeting, lalu bikin drama-dramaan gitu. Nah, kelas VA waktu itu juga ikut bikin drama perang. Dan syukur alhamdulilah saya didaulat main, SEBAGAI FIGURAN.

Dan yang paling mengenaskan dari penampilan ini adalah… saya sendiri nggak nemu inti ceritanya apa, kenapa saya ada, kenapa saya lewat, dan kenapa tanpa ditembak tiba-tiba tangan saya terbalur obat merah tanda habis kena tembak.

Sebuah misteri sampai sekarang, beneran!

4. Romo Ono Maling (sepertinya sih 2008)

Tampil total dengan make up di event sebuah kelompok agama di kampus, saya takjub melihat ekspresi masyarakat yang nonton dengan penampilan don dap dap yang dibawakan. Lha, sebagai kelompok paduan suara yang punya fans, kita nggak biasa mendapati orang melongo diam tanpa tepuk tangan ketika tampil *songong session dimulai kembali*

Makin parah ketika kemudian disuruh tampil lagi, dan dibawakanlah lagu ROMO ONO MALING.

Masih suram suasananya. Lha saya bingung, ini pada pernah nonton paduan suara belum je? Akhirnya lagu ROMO ONO MALING ini diakhiri dengan akting Budi sebagai maling yang lari dan dikejar sama yang lain. Nah, sesi berlari ke belakang ini benar-benar dimanfaatkan sebenar-benarnya untuk lari. Lari malu. Huhuhuhu…

5. Victorious (Oktober 2009)

Jauh-jauh diongkosi ke Jakarta untuk nyanyi, dikasih baju bagus, diinepin di hotel Shantika. Untuk apa? Untuk nyanyi. Ini kemajuan besar karena selama ini paling mentok saya nginap di rumah retret. Jadi begitu nemu hotel yang pintunya pakai kartu, berasa ajaib gitu.

Sebenarnya sudah gamang karena tampil tanpa dirigen. Tapi karena personel dikit jadilah. Tampil di sebuah teater baru milik kantor. Membawakan lagu karangan manager Finance dalam rangka ultah ke-40 kantor yang baru 5-6 bulan saya masuki.

Sebenarnya sudah oke. “Thanks to God, today we celebrate… bla..bla…”

Tetap oke sampai kemudian ketika sebuah interlude menjelang refren penutup tiba-tiba berubah menjadi ending. Ini ibarat ngejar kereta lalu tiba-tiba keretanya cling ilang, bukan lari. Musiknya benar-benar stop pas interlude dan dinamika lagu jadi buyar. Mood buyar pula. Dan ya sudah. BUBAR JALAN.

Maka lagu berikutnya “Cup Mailang” kemudian menjadi pelengkap performa yang sempat membuat saya trauma menyanyi di depan umum itu. MALUNYA ITU LHO!

Yah, sudahlah.. Namanya juga harus dilupakan.. Hehehehe…

5 Perjalanan “Jadi Teman Yang Baik”

Kan sudah saya bilang, jiwa pertemanan saya itu tinggi *songong mode on* jadi ya sedikit-sedikit ada lah melakoni beberapa perjalanan untuk menunjukkan bahwa saya adalah teman yang baik *apa sih*. Nah berikut ini, saya pilih 5 perjalanan ketika saya “menjadi teman yang baik”. Hahahaha..

1. Wonosari (akhir 2007 atau 2008, saya lupa)

Jadi ceritanya, teman saya BBC punya pacar (sekarang istri) namanya CSA. Si CSA pulang ke rumah dengan bis dan hendak balik membawa motor dan nggak boleh bawa motor sendiri dari Wonosari. Jadilah Bapaknya CSA bilang supaya BBC yang mengambil motor itu.

Dan muncullah request ke saya, anterin ke Wonosari.

Hmmm, jadi deh Bang Revo saya yang kinyis-kinyis dibawa melaju ke Wonosari di sebuah tempat berinisial K. Hahaha..

Akhirnya?

Ya karena requestnya adalah mengambil motor, jadi deh, saya di belakang mengikuti pasangan pacaran ini dari belakang. Hmmm, semacam bikin pengen.. Hahahaha..

2. Pengantar Ke Bandara (sepertinya sih 2011)

Pak DJ, seperti biasa, 2 pekan sekali mengunjungi istri ke Jakarta. Waktu itu masih pasutri LDR. Nah, pada suatu pagi, saya bangun tidur lalu ke WC. Pulang-pulang dari WC (apa coba…), saya mendapati 2 missed call dari Pak DJ. Lha aneh, dia kan flight jam 6, kenapa jam segitu malah telepon?

Lalu saya telepon balik.

Dan ternyata, Pak DJ telat bangun! Hangus deh itu tiket. Jadilah saya mengantar Pak DJ ke bandara karena supir pribadinya (Koko Aliem) harus masuk di hari Sabtu.

Lumayan, ditraktir makan sama Pak DJ yang selalu baik hati kalau urusan traktir. Hehehe..

3. Kondangan Boris (1 Januari 2012)

Ini sampai dimarahin emak, sampai bikin Pak Uda Wilson tidak berulang tahun bersama keluarga pula. Tapi demi pertemanan, apa sih yang nggak? Hehe..

Jadi ceritanya, entah bagaimana pilihannya, si Boris nikah tanggal 1 Januari, padahal seminggu sebelumnya saya bertualang di belantara Sumatera. Hasrat ingin bertemu banyak teman akhirnya membuat saya mengambil opsi apik.

First flight dari Padang dan sampai Jogja jam 11, masih dapat resepsinya. Dan pakai Garuda agar ketepatan waktunya terjamin.

Dampaknya?

Jam 3 pagi, di dinginnya dini hari, saya berangkat dengan ortu dan Pak Uda dari Bukittinggi. Tapi seru juga sih. Seumur-umur baru itu bermalam tahun baru di jalan Bukittinggi-Padang. Di Jogja-nya ketemu banyak teman lama pula.

Joss!

4. Apartemen Merah (suatu hari di awal 2009)

Transaksi jual beli motor BE Robert sudah dilakukan di Lampung. Tinggal serah terima fisik yang belum. Nah, untuk keperluan ini, Robert perlu bantuan diantarkan menuju ke pembeli, seorang maba asli Lampung.

Jadi deh saya lagi yang kena.

Bang Revo yang tentunyaΒ  mulai tumbuh dewasa ikut mengantar si BE Robert ini. Janjiannya di depan Apartemen Merah, Jogja. Semacam transaksi apa pula ini, sampai pakai janjian di suatu tempat terbuka pula.

Akhirnya?

Motor penuh kenangan (yang pernah saya putuskan tali gasnya itu) beralih tangan. Robert lantas jadi tuna motor. Minjam motor kemana-mana.

5. Jus Jambu Untuk Boni (suatu waktu di 2009)

Nasib seorang BCP adalah langsung opname pada kesempatan pertama. #eaaaa

Sebagai sesama sebatang kara di perantauan bumi Sriwijaya, saya dan Ando plus Agung ikut sibuk dengan opname-nya BCP. Salah satu yang utama adalah mengurus surat pertanggungan pembayaran dari kantor, dan tentu saja memberikan kebutuhannya.

Mulai dari membawakan pakaian hingga minuman-makanan.

Dan karena diagnosanya DBD, maka opsinya adalah membelikan jus jambu. Mudah?

Ternyata nggak!

Berkeliling ke beberapa mini market (waktu itu di Palembang belum ada -mart) nggak ada. Nyari di JM Kenten pun tak ada (which is itu adalah pertama dan sekali-kalinya saya masuk JM Kenten). Akhirnya putar sana, putar sini, jam besuk lewat.

Untunglah, kita membawa kartu keluarga penunggu. Jadi meskipun sudah nyaris jam 9, masih bisa masuk. Ya maaf kata, anak DSP itu sibuk cuy, jadi baru bisa pulang jam 7-an. *nggaya mode on lagi*

Tentu banyak kisah lainnya, tapi ini yang saya pilih sebagai 5 perjalanan ketika saya mencoba menjadi teman yang baik πŸ™‚