Drama Angkot

Bahwa cinta itu bisa menjadi kausa untuk banyak hal, itu pasti sudah diketahui dan dirasakan oleh semua orang. Dan bahwa cinta itu berdampak ke banyak hal, itu juga pengetahuan umum. Hanya saja, si cinta ini bisa menimbulkan berbagai peristiwa yang kadang bikin geli, terutama bagi orang yang ada di luar lingkaran peristiwa.

Suatu hari di bulan November 2008.

Saya gamang di kos-kosan. Bos DP (kayaknya) sedang lembur.Robert–seperti biasa–pergi ke rumah Mbak-nya di Bekesong. DK, pasti pergi kalau weekend. Tinggal saya dan Cipi yang dengan setia tiada akhir berada di kos-kosan. Dan ditunjang oleh baru adanya berkat alias duit tambahan dari Pakde, maka saya lantas gatal hendak BELANJA! Apa tujuannya? Semata-mata SEPATU FUTSAL, berhubung sepatu yang saya beli di Jogja mendadak tampak alay diantara sepatu futsal yang berkeliaran di pabrik tempat saya PKL.

Maka, di Sabtu siang yang fana itu, saya berangkat sendiri. Tempat terdekat dan paling logis untuk ini adalah Mall Cijantung. Kala itu ada beberapa tempat yang bisa jadi peraduan sih. Terdekat banget ya Giant Cimanggis, tapi nyatanya memang lebih mudah menemukan pembalut atau shampoo alih-alih sepatu futsal yang harganya cocok sama kantong. Lalu berikutnya, Cimanggis Mall. Pertanyaan mendasar, ini mall apa bukan sih? Dan selanjutnya adalah Mall Cijantung. Lumayan kalau ini, jadilah.

Saya bukan orang yang hobi belanja. Jadi kalau belanja itu paling maksimal datang ke 3 tempat, tanya-tanya sedikit, lalu langsung beli. Sesederhana itu saja hidup saya memang. Begitu kemudian dapat yang agak mahal, ya itu namanya NASIB. Maka saya di Cijantung nggak lama-lama. Cuma beli sepatu berwarna putih (yang kemudian awet sampai saya berkarier di Palembang) dan makan Hoka Hoka Bento. Percayalah, ketika itu, Paket Hemat Hoka Hoka Bento adalah kerinduan universal, karena di Jogja nggak ada cabang Hokben. Betapa ndeso-nya saya.

Nah, perjalanan ini lantas mulai unik ketika saya menunggu angkot biru yang akan membawa saya kembali ke Mabeskosmar yang kisahnya banyak dikupas di blog-nya Bos DP (klik link di atas). Sambil menenteng sepatu baru yang murah meriah muntah itu, saya berdiri diam di dekat tiang listrik. Sebuah angkot agak penuh datang, saya masuk langsung ke pojokan karena tahu kalau lokasi saya lumayan jauh ke selatan.

Dari seberang muncul pemandangan menarik. Dua cowok, satu cewek. Yang menarik apa dong? Yah, dua cowok itu mengapit si cewek dan menyeberang jalan dengan gandengan. Usianya saya taksir lebih tua dari saya kala itu (kala ini juga dong ya?). Lihat? Satu cewek menggandeng dua cowok. Buat saya itu menarik. Dan, kok ya ndilalah, masuk ke angkot yang sama persis dengan saya dan lantas duduk PERSIS di depan saya.

Perjalanan dimulai, dan apa yang terjadi kemudian membuat saya terpaksa menyimpulkan banyak hal.

Si cowok 1 berbaju putih, matanya sembab, sesekali menangis dan menggenggam erat tangan si cewek plus menciuminya. Ehm, sejujurnya si cewek ini ya nggak cakep-cakep amat lho. Mukanya lempeng saya atas segala yang diperbuat terhadap tangan kirinya. Lalu si cowok 2 itu gondrong dan tampak tenang sekali.

Sambil menangis, cowok 1 beberapa kali bilang, “maafin aku, maafin aku…”

HELOOOWWWWW, INI DI ANGKOT BRO!

Hemmm, itu sorakan dari dalam hati saja sih. Mana berani saya utarakan. Dan disinilah saya mulai paham betapa TIDAK PEDULI-nya orang-orang di ibukota dan pinggirannya.

“Udah aku maafin,” ujar si cewek, tetap lempeng.

“Maafin aku, maafin aku…”

Cowok 1 tadi tetep menangis. Lha saya bingung, sakjane ini maunya apa? *brb nanya* *lalu ditabok*

Saya jadi menyimpulkan kalau si cowok ini bersalah, minta maaf, pengen balikan, dan nggak bisa. Karena si cewek menambahkan kata “nggak bisa” setelah bilang “udah aku maafin”. Lha ini berkali-kali cuy, di depan mata kepala sendiri pula. Eaaa bener dah.

Separuh jalan, dengan mata sembab dan agak tenang, si cowok 1 bilang ke cowok 2, “jaga dia baik-baik ya.”

GUBRAK TINGKAT INTERNASIONAL!

Jadi ada apa ini?

Sumpah saya bingung. Terpaksa menyimpulkan lagi. Agaknya ini pacar barunya si cewek. Tapi kok ya bisa-bisanya mereka pergi BERTIGA? Ke Mall Cijantung pula (eh, ini pertanyaan perlu nggak ya?).

Drama ini belum usai, karena sesuai ketiga sejoli ini turun di sekitar depan Giant, masih ada percakapan di antara mereka. Saya mengamati singkat sambil mengelus dada lega. MIMPI APA SAYA SEMALAM? Bisa-bisanya niatan beli sepatu harus disertai drama angkot macam ini.

Fiuhhh…

*sekadar cerita*
*efek nggak bisa tidur*
*efek kangen kamu*
*salah fokus*
*udah ah*

🙂

4 thoughts on “Drama Angkot

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s