Luntang-lantung gaje di hari raya begini bikin galau. Galau bikin terkenang masa silam. Terkenang masa silam bikin males. Males bikin luntang-lantung gaje begini. Dan seterusnya sampai selesai. Nah, sambil terkenang masa silam, ada baiknya saya berbagi disini, utamanya kepada pemuda harapan bangsa yang sedang menempuh masa studi.
Bukan berbagi duit pastinya. Selain karena saya memang tidak lebaran, juga karena saya tidak punya duit untuk dibagi. Saya hanya punya cinta.
Sehat itu adalah anugerah terindah yang kita miliki sebagai manusia. Bahkan kalau sakit gigi saja, pasti lebih memilih untuk sakit hati kan? Ya, karena sakit itu nggak enak. Maka lebih baik sehat.
*tarik ingus*
Dalam rangka sehat itu, ada yang namanya tenaga kesehatan. Kemarin saya sempat ketemu rombongan tamu dari KAJ, menyebut diri tenaga medis. Kayaknya sih dokter, karena akrab dengan Dokter Budi. Saya sebagai apoteker diberi tugas untuk…
memotret.
*sigh*
Entah gimana ceritanya, saya terus jadi ingat kelakuan-kelakuan aneh orang-orang yang paham kesehatan itu, yang sejujurnya nggak layak untuk ditiru sama sekali. Tapi itu nyata, dilakukan dengan SADAR oleh mereka (ya saya juga sih).
Ini dia.
1. Makan Telat
“Ibu, kalau makan jangan telat ya. Nanti sakit,” kata seorang bidan.
Jam menunjuk 11, mendekati 12 siang.
“Sarapan yuk! Laper berat,” kata bidan yang sama.
Ini pengakuan dari seorang bidan di sebuah rumah sakit ternama di Jogja. Mereka dengan tekun dan telaten meminta pasiennya untuk makan tepat waktu. Lha mereka sendiri?
Nggak sempat. Pelayanan kepada pasien itu adalah kewajiban, karena selain kami-kami ini memang digaji untuk pasien, tapi juga ada tanggung jawab moral yang harus dilakoni mengingat ini urusannya sama nyawa manusia. Mungkin bidan muda sudah kenyang makan hati karena digarap sama bidan senior. #eh
Nyawa sendiri nggak dipikirin tuh?
2. Merokok
“Salah satu hal yang merusak kulit, adalah kebiaaan merokok,” ujar seorang dokter di seminar tentang kecantikan di sebuah hotel di Jogja.
Beberapa jam kemudian, saya melihat dia merokok dengan enaknya.
Yaelah.
Ini fakta beneran, dan nggak 1-2 saya melihat dokter merokok. Ya sekarang dokter mana sih yang di masa perkuliahannya yang lama itu nggak dibekali fakta bahwa rokok itu merusak kesehatan?
Lha kok malah ngudud dewe?
*tanya kenapa*
3. Begadang
Bahkan Bang Rhoma saja sudah memperingatkan kita untuk tidak begadang kalau tidak ada perlunya. Masalahnya yang diurus ini adalah nyawa pasien, jadinya begadang jadi andalan.
Coba tanya koas atau juga profesi lainnya yang PKL rumah sakit. Berapa jam mereka tidur dalam sehari? Berapa malam yang dihabiskan untuk begadang?
Tanyain gih.
Pasti mereka akan menjawab dengan segala riwayat perlemburan, termasuk nggak bisa tidur bla..bla..bla..
Coba, siapa yang menyuruh pasien untuk istirahat?
4. Ngasal Minum Obat
Ini sudah pasti apoteker! Ngasal ini ada banyak. Misalnya, ada apoteker yang membeli sendiri obat di apotek, atau malah mengambil sendiri untuk dikonsumsi sendiri.
Ngelesnya sih, “kan gue ngerti!”
Kalau saya lain lagi, dan please banget, jangan ditiru. Jadi saya kemarin itu sakit gigi, dan sakit nggak kuatnya saya minum golongan steroid yang pahit itu loh. Saya mau menghajar si bengkak di gigi itu dari ujungnya.
Minumlah saya sebuah obat mungil. Sambil minum saya baru melirik ke kemasan.
Lah, sudah ED! Lewat seminggu.
Dengan pertimbangan gigi yang masih sakit dan sedikit pengetahuan tentang stabilita obat, siang-nya, itu obat saya minum lagi.
Dan ya saya nggak apa-apa itu. Tapi beneran deh, ini jangan ditiru sama sekali. Ini memang kelakuan busuk saya sebagai tenaga kesehatan.
5. Ngelawan
Coba tanya pada dokter, pasien jenis apa yang paling rese? Saya pernah nanya, dan dia bilang bahwa jenis pasien paling rese adalah sesama dokter. Hahaha.
Nggak cuma dokter, perawat, bidan, apoteker, dan yang ngerti-ngerti kesehatan itu, kalau kejatahan jadi pasien pasti ngelawan.
Ada teman apoteker yang merasa hatinya bermasalah, dan menolak diresepkan Paracetamol. Ada juga teman apoteker yang hipoglikemia, tapi minta pulang karena merasa nggak apa-apa. Ada yang sakit hati, kemudian minta gantung diri tidak kuat menanggung beban hidup ditinggal nikah sama mantan.
*abaikan yang terakhir*
Begitulah, orang kalau sudah tahu, responnya justru amat sangat berbeda.
Yah, begitulah 5 kelakuan tenaga kesehatan yang sama sekali nggak layak untuk ditiru. Ada yang mau menambahkan?
Sudah lama ya nggak nge-blog soal lima-lima ini. Gara-gara lihat Twitter-nya Alumni USD, jadi malah mengenang masa silam, apalagi untuk sebuah pertanyaan, “apa yang akan kamu lakukan jika boleh mengulang masa kuliah?”
Saya sih sebenarnya punya masa kuliah yang sangat indah. Jelek-jelek begini, saya kurang laku pas kuliah lho.
*sik-sik, itu termasuk indah ya?*
Ya, dalam rangka mencari makan gratis, saya termasuk mahasiswa yang mendapat banyak kesempatan melakoni hal-hal yang jarang dilakoni mahasiswa pada umumnya. Saya pernah ikut wawancara akreditasi fakultas, langsung dari BAN, dan diberi pertanyaan, “kenapa kamu suka Inter Milan?”. Karena itu fakultas saya kemudian dapat akreditasi A. Kalau gila, boleh percaya kalimat terakhir tadi.
Dalam berbagai posisi di organisasi kemahasiswaan, saya juga pernah ikut rapat ini dan itu di fakultas dan universitas. Tentunya beberapa puluh ribu uang workshop dan rapat-rapat itu sangat berguna untuk mahasiswa kere macam saya. Belum lagi kesempatan untuk mengetahui data-data yang kebanyakan mahasiswa lain tidak tahu.
Masih mendapat kesempatan mewakili kampus 2 kali dalam semester terakhir kuliah saya untuk lomba paduan suara juga adalah bonus besar. Belum lagi beasiswa sejak semester 4, berawal dari 200 ribu sampai gratis total.
Apa lagi sih yang akan saya lakukan kalau mau diulang? Tetap ada. Ini dia.
1. Tetap Kuliah Farmasi
Oke, saya memang bisa dibilang salah jurusan. Tapi saya nggak pernah menyesal menyandang gelar ini 🙂 Punya ilmu di bidang kesehatan itu harganya sangat mahal. Jadi, kalau memang boleh mengulang masa-masa kuliah yang indah itu, saya akan tetap kuliah di Farmasi.
Alasan yang utama adalah karena di Farmasi banyak ceweknya. Ya, walaupun cewek yang banyak itu belum tentu bermakna bakal mau sama saya. Tapi kalau punya teman cewek, kan setidaknya kita nggak perlu mencatat. Sebelum ujian tinggal merapat ke fotokopian terdekat. Tidak perlu khawatir pula kekurangan bahan, karena teman-teman cewek pasti punya list yang lengkap. Kalau praktikum, cukup modal cuci alat gelas, dan laporan bisa selesai dengan baik dan benar.
Nggak kebayang aja kalau saya kuliah teknik, dengan ketergantungan pada teman cewek sebesar tersebut di atas.
2. Mewakili Kampus Ikut Lomba Bidang Farmasi
Ketika temu alumni, yang akan dikenal adalah “siapa gubernur BEM dulu” dan “siapa yang juara ini dan itu dulu”. Orang nggak akan kenal siapa yang diwawancarai BAN dengan baju Inter Milan.
Dulu waktu SMA, saya pernah mewakili sekolah dalam lomba tulis menulis, dan syukurlah masuk koran dan disebut juara 1, padahal juara 3. Kalau lagi begitu, rasanya bangga nian. Dan rasa bangga itu yang nggak sempat saya rasakan waktu kuliah. Secara yah, IP cuma jongkok, mau mewakili fakultas di lomba bidang apa?
Sastra Farmasi?
3. Jadi Pengawas Ujian
Nah ini. Sebagai anak guru, saya itu sangat pengen banget sekali menjadi pengawas ujian. Asli pengen banget, terutama kalau lagi lihat Bapak saya mengawasi ujian. Tapi apa daya, hal yang bisa saya gapai itu hanya jadi pengawas pengisian KRS online, itu juga pas saya sudah lulus -___-”
Iya, dulu itu selalu saja nggak bisa kalau ada lowongan pengawas ujian dibuka. Mulai dari ujian yang juga banyak, karena SKS-nya banyak, sampai karena memang jadwalnya bertumpuk padat dengan persyaratan ujian.
Dan nomor 3 ini adalah penyesalan terbesar saya, yang harus dilakoni kalau saya boleh mengulang masa-masa kuliah.
4. Jadi Asdos Praktikum Mikro Senin Pagi
Senin pagi semester 6 itu saya ada kuliah. Soal kuliahnya apa saya lupa. Tapi yang jelas saya kuliah bareng Robert, yang juga partner jaga di Senin siang. Ehm, kalau nggak salah Metodologi Penelitian, soalnya kalau sampai sekelas Robert, ya berarti kuliah campur, bukan kuliah minat.
Sejak awal, saya sudah menggebet jadwal jaga di Senin pagi itu. Apa daya, kuliah Metopen adalah syarat untuk anak-anak yang hendak lulus cepat, jadi ya gimana. Jadwal jaga yang itu terpaksa dilewatkan. Lagipula, sesudah cocok-cocokin jadwal, ya pada akhirnya saya hanya bisa jaga Senin siang itu.
Pulang tinggal tepar.
Ada apa di Senin pagi? 🙂 🙂
5. Jadi Anak Kos
Saya mulai jadi anak kos itu Januari 2006. Enam bulan sesudah Mbah Kakung wafat. Dan beberapa hari sesudah nilai Biologi Molekuler saya E. Saya bisa pastikan, kalau saya ngekos waktu itu, maka nilai E itu nggak akan ada. Yakin habis. Nanti kalau buka tentang Alfa keluar, pasti bisa baca apa hubungan bukan anak kos dengan nilai E itu.
Nilai E itu adalah noda besar. Ya walaupun jumlah nilai saya yang C lebih besar daripada A, tapi punya satu E itu kan bikin saya harus ngulang. Ngulangnya ya nggak bener juga. Hari Kamis jadi asdos Farmasi Fisika, hari Sabtu kuliah bareng Biologi Molekuler.
Sesudah berkenalan dengan Pulvis, Pulveres, dan Capsulae, maka setiap Rabu selalu ada bentuk sediaan obat lain yang saya temui. Dan semuanya masih mengacu pada buku formula jaman sepakbola belum mengenal offside.
Berturut-turut sesudah trio maut tadi, saya menemui Pilulae-Granulae dan Suppositoria. Pilulae ini gampangannya adalah pil. Walaupun ini tentu beda dengan pil yang kita kenal sekarang. Kalau dibilang pil koplo, itu sebenarnya beda dengan bentuk pil yang saya bikin. Kemarin sempat lihat cara pembuatan pilus, dan… ya mirip cara membuat Pilulae.
Jadi adonan bahan obat dibuat sedemikian rupa sehingga panjang-panjang, lalu tinggal dipotong dan dibulatkan. Asli udah kayak main lilin-lilinan jaman kecil dulu. Bedanya yang dipegang adalah campuran daun Digitalis, obat jantung jaman dulu. Adapun Granulae hampir sama dengan Pilulae, tapi bentuknya saja yang jauh lebih kecil.
Sedangkan suppositoria adalah jenis sediaan yang penggunaannya dimasukkan ke lubang anus. Bentuknya seperti peluru, dengan ukuran kira-kira sepanjang dua buku jari kelingking. Ah, anak farmasi kok bikin ukuran kayak wartawan menyampaikan berita banjir.
“Pemirsa, banjir sudah setinggi kepala orang dewasa yang lagi push up..”
“Pemirsa yang budiman, air sudah menggenang setinggi pinggang orang dewasa. Kebetulan dia lagi boker..”
Dan sejenisnya.
Di praktikum pembuatan suppositoria ini, kekompakan sudah mulai terbentuk diantara anggota kelompok praktikum F. Dan karena saya ada di meja 1, maka jadilah kelompok ini dinamakan F1. Ini adalah kelompok praktikum paling keren, kalau ada mata kuliah ‘Teknik Praktikum Yang Berantakan’.
Sediaan suppositoria yang dibuat ini menggunakan basis Oleum Cacao, alias minyak kakao, yang tentu saja aromanya menggugah selera. Coklat men! Ya, menggugah untuk menit pertama, dan memuakkan untuk menit berikutnya mengingat obat ini digunakan dengan cara dimasukkan ke dubur.
Sumber: siskhana.blogspot.com
Dari bahan-bahan penyusun suppositoria ini ada sebuah pewarna yang sangat keren, namanya Karmin. Ini pasti saudaranya Karmin Elektra dan Paimin. Kenapa keren? Karena cukup dengan sedikiiiittttt saja menuang serbuk ini, warna merah sudah bisa diperoleh. Dan di formularium juga ditulis penggunaannya yang sedikit. Sepertinya sih agar suppositoria yang didapat tidak coklat-coklat amat, alasan estetika.
Oya, di meja F1, selain saya, Tintus dan Andrew, ada Budiaji, Finza, Maria, dan Ita. Sejauh mata memandang, nggak ada yang agak benar dikit, selain Andrew. Bahkan mejanya BA–begitu Budiaji biasa disapa–dan Finza nggak kalah berserakan dibandingkan meja saya dan Tintus. Syukurlah, ada temannya untuk bagian kerapian dapat C.
Jam demi jam berlalu, campuran suppositoria tadi sudah dibekukan dalam cetakan dan sudah siap untuk diambil. Fiuh, akhirnya bisa juga saya praktikum agak bener. Setidaknya waktu diskusi, saya bisa membawa dua bentuk sediaan sesuai tugas yang diberikan di panduan praktikum. Dan bentuknya, setelah saya bandingkan dengan punya Andrew, nggak bubrah-bubrah amat.
Saatnya diskusi!
Diskusi dihelat bersama kakak kelas yang sudah tua, yang menjadi asisten praktikum. Kalau di kuliahan lain dikenal adanya asisten dosen, kalau di tempat saya kuliah adanya asisten praktikum doang sih. Apapun namanya, yang pasti mereka sudah tua.
Waktu diskusi ini, setiap mahasiswa harus mengeluarkan bentuk sediaan yang dihasilkan untuk kemudian dibahas bersama dan dituliskan di laporan untuk dikumpulkan pekan depannya. Begitu saja terus, sampai ujian praktikum alias responsi.
Ita, Maria, Andrew, Tintus, dan saya melewati bagian ini dengan cukup baik, yah ada masalah sedikit karena suppositoria punya saya agak retak-retak. Mungkin kurang benar waktu proses sebelum mendinginkan dan mengeraskan.
Tibalah giliran BA mengeluarkan suppositorianya.
……
….
“Hahahahahaha.”
Dan satu F1 ngakak melihat suppositoria buatan BA. Soalnya warnanya merah banget, persis lipstik!
Setelah praktikum suppositoria, kelompok F1 harus bertemu dengan Unguenta-Cremoris, serta Solutio-Mixtura.
Namanya aneh-aneh ya? Tapi itu semua familiar banget kok dengan kita. Unguenta itu nama tenarnya adalah salep, sedangkan Cremoris itu nama populernya adalah krim. Kalau sering pakai obat oles luar, ya pastinya dari kedua jenis ini.
Solutio dan Mixtura, apalagi itu? Keduanya adalah bentuk sediaan obat bertipe larutan. Katanya sih, kalau solutio diberikan kepada sediaan yang hanya mengandung 1 bahan terlarut, kalau banyak namanya mixtura.
Nah, di praktikum Solutio-Mixtura ini, anak F1 diberikan dua resep yakni obat batuk hitam dan larutan penyegar. Ditunjang oleh skill praktikum yang mulai terasah, maka praktikum bisa dimulai dengan riang gembira.
Saya dan Tintus kemudian asyik bercumbu dengan timbangan, yang masih saja belum ganti jadi timbangan digital. Kali ini rada seru karena yang ditimbang adalah bahan berbentuk cairan. Yeah, menimbang cairan dengan menggunakan timbangan logo pengadilan.
Di sebelah kanan, saya melihat Andrew dengan cekatan dan lugas mencampur-campur segala bahan tanpa sedikitpun menyentuh timbangan logo pengadilan itu.
Kok bisa ya?
“Udah kelar lo?” tanya Tintus.
“Udah dong.”
“Kok bisa? Gue aja baru nimbang.”
“Ngapain juga ditimbang?”
Saya dan Tintus lantas keheranan. Terus kalau nggak ditimbang, diapain dong?
Andrew kemudian membuka lemari kaca di bawah meja kerja dan mengambil sebuah benda yang belum pernah saya sentuh selama kami praktikum: gelas ukur.
“Disitu suruh timbang berapa?”
“100 mililiter,” jawab saya sambil ngecek ke formula standar.
“Tinggal tuang disini kan? Ada garisnya 100 mL,” terang Andrew sambil menunjuk ke garis yang ada di badan gelas ukur.
Sumber: nurindasarii.blogspot.com
Iya juga ya? Di panduan dan di formula kan cuma disuruh timbang sekian, dan nggak dibilang nimbangnya pakai apaan. Dan mungkin ini efek praktikum-praktikum sebelumnya yang menggunakan bahan dasar padat, yang memang harus menggunakan timbangan neraca.
Kadang orang kalau terlalu biasa, jadi nggak kepikiran out of the box yah?
Segera sesudah dapat ilmu dari Andrew soal ‘menimbang’ dengan menggunakan gelas ukur, pekerjaan saya dan Tintus menjadi lebih cepat. Ya karena memang bagian yang paling makan waktu sebenarnya adalah menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Eh, salah. Menyeimbangkan timbangan kiri dan kanan.
Obat batuk hitam jadi dengan aroma Succus Liquiritiae yang manis-manis gimana gitu. Sekarang saatnya membuat mixtura, berupa larutan penyegar. Mas penunggu lab alias laboran sudah menyediakan botol soda bekas, sekaligus penutup dan talinya, karena sediaan ini akan mengeluarkan CO2 sehingga kalau nggak ditutup dan ditali, maka tutupnya akan terbang dan lepas bebas ke angkasa.
Campur, campur dan campur. Akhirnya sampai juga pada tahap menutup botol dan mengikatnya. Beres deh. Sediaan berwarna putih bening kayak soda itu sudah bisa dibawa ke diskusi.
Yah, kelihatannya enak. Padahal siapa yang tahu tanggal kadaluarsa bahan-bahan yang ada di lab itu? Bahkan air yang digunakan untuk bahan utama, meskipun namanya aquades, tapi diambil juga dari jerigen. Cuma kok nggak kepikiran aja sampai disitu. Yang terlintas cuma kelihatannya enak, dan boleh dong sekali-sekali nyicip hasil kerja sendiri. Kalau kemarin-kemarin, yang dibuat Pilulae obat jantung sama Suppositoria. Males banget kalau mau nyobain.
Anak-anak F1 segera memposisikan botol menghadap ke taman di depan lab. Menurut teori, isi botol ini akan banyak CO2, jadi begitu tali pengikat dilepas, tutup botol akan terbang dengan tekanan tertentu.
“Plup. Plup. Plup.”
Benar saja, tutup botol berterbangan dengan radius beberapa meter dari tempat kami berdiri. Andrew, Maria, dan Ita segera membuang isi botol tersebut ke wastafel.
Saya malah mendekatkan mulut botol itu ke mulut sendiri.
Cicip.
“Enak juga.”
Rasanya memang mirip larutan penyegar serbuk yang sekarang ramai dijual, dan iklannya mulai saling merendahkan satu sama lain. Karena juga sudah siang dan haus, maka satu botol mixtura itu habis juga. Lumayan ngirit nggak usah beli es teh.
Sementara itu di wastafel lab…
BA berdiri dengan mulut botol masih menutup, dan menghadapkannya ke dalam wastafel. Jadi jarak tutup botol dengan dinding wastafel bahkan kurang dari 30 cm.
Kalau tadi tutup botol saya bisa terbang 5 meter. Berarti yang ini kalau dilepas….
“Plup.”
“Budi!”
Suara tutup botol lepas, diiringi gemercik air di lantai, diakhiri suara marah Bu Agatha.
“Kamu bersihkan sekarang!” lanjut Bu Agatha, masih marah.
Ya iyalah, Bud. Kalau di luar tadi tutup botol bisa terbang 5 meter. Gimana di wastafel? Kalau di luar tadi saja, air di botol masih nyiprat dikit meskipun posisi botol sudah 45 derajat miring mengadap ke atas, gimana kalau botol 45 derajat menghadap ke bawah?
Air di dalam botol soda itu akhirnya ya nyiprat kemana-mana. Lab yang sudah dibersihkan oleh masing-masing praktikan menjelang berakhirnya praktikum kini basah karena mixtura punya BA.
“Iya Bu.”
Saya dan Tintus ngakak habis sambil meninggalkan lab untuk makan siang, karena jam 1 ada praktikum lagi, Kimia Dasar. Bukannya senang karena teman menderita loh, tapi yang dilakukan BA itu benar-benar lucu, apalagi kalau lihat tampangnya yang mirip tampang pengantin bom unyu, sesaat sebelum menarik detonator, eh… menarik tali penutup, sampai kemudian terdengar suara, “plup.”
Satu jam kemudian, kelompok F sudah berkumpul kembali di lab bersiap praktikum Kimia Dasar. Dan ada yang aneh dengan BA.
“Bud, jas lo kok kotor?” tanya Tintus.
“Iya tadi ngepel.”
“Lo ngepel pakai jas lab?”
“Iya.”
“Hahahahahaha.”
Bukannya belajar buat pre-test–tes sebelum memulai praktikum–seantero kelompok F malah ngakak nggak berhenti-berhenti mengetahui kalau BA baru saja mengepel lab Farmasetika dengan jas labnya yang putih bersih itu.
* * *
Malam Hari
Badan saya mendadak panas, pusing melanda, dan pada akhirnya tidak bisa tidur sepanjang malam. Awal mula mimpi Halle Berry, terus kemudian Halle Berry-nya menjelma menjadi Berry Prima. Gimana saya bisa tidur kalau gitu?
Baiklah. Mencicipi sediaan buatan sendiri cukup kali ini saja.
Jalan nasib akhirnya membawa saya sebagai mahasiswa baru di fakultas farmasi, dengan sebuah bekal sepele: tukang obat. Udah, ngertinya itu doang. Sebuah bekal yang luar biasa suram untuk mengarungi belantara perkuliahan yang berat. Iya, kuliah saya sudah berat, ini kuliah farmasi pula.
Dan tidak ada waktu untuk bulan madu menjadi mahasiswa. Sesudah ospek, paralel dengan menempuh mata kuliah dasar, kami sudah harus melakoni kegiatan yang adalah trademark mahasiswa farmasi. Sebut saja kegiatan itu sebagai bunga, eh… praktikum.
Semua hal yang sifatnya pertama itu memang selalu seru. Waktu kita baru pertama kali bisa jalan, orang tua akan sorak-sorak kegirangan. Waktu kita pertama kali jatuh cinta, berjuta rasanya. Waktu kita pertama kali putus cinta, rasanya ingin mati saja. Waktu kita pertama kali berhasil menahan diri untuk tidak pipis di celana, orang tua malah tambah girang soalnya pengeluaran pampers sudah bisa dialihkan untuk nomat berdua saja.
Termasuk pertama kali praktikum ini. Nggak heran kalau jas-jas yang warnanya putih bersih mengalahkan iklan pemutih pakaian, plus bau toko yang menyeruak kemana-mana, adalah kondisi wajar di hari Rabu pagi, di depan lab Farmasetika.
Dan bahkan saya belum tahu apa itu arti dari Farmasetika.
Satu hal yang pasti, kami para peserta praktikum, atau yang kerap disebut praktikan, sudah diminta membawa panduan praktikum yang dapat difotokopi sendiri di tempat-tempat fotokopi terdekat, yang kalau tidak difotokopi segera, maka harganya akan naik besok Senin. Hampir sama dengan apartemen sih.
Jadi intinya, saya akan melakoni sebuah praktikum bernama Farmasetika Dasar, dengan jas putih yang masih bau toko dan tentu saja warnanya akan sangat kontras dengan warna kulit saya. Dan judul praktikum saya hari pertama itu adalah Pulvis, Pulveres, dan Capsulae.
Saya masuk dengan pengetahuan yang teramat sangat minim soal dunia kefarmasian. Jadi, ketika dengan benda-benda di depan mata ini, jadinya ya bingung.
Sejauh mata memandang, ada timbangan yang sejak jaman batu digunakan sebagai lambang pengadilan. Iya, masih yang kiri kanan gitu. Seandainya lambang pengadilan sudah digantikan oleh timbangan jarum atau digital, mungkin timbangan di lab ini akan diganti. Lalu ada juga mortir dan stamper. Mortir ini tentu saja bukan alat perang, tapi ya kalau jatuh ke lantai pasti akan bikin masalah karena bentuknya yang seperti mangkok namun jauh lebih tebal. Adapun stamper adalah jodohnya, berupa bentuk batang dengan ujung membulat. Pasangan romantis ini digunakan untuk mencampur bahan obat. Mirip alat buat ngulek sambel, tapi yang ini warnanya putih.
Sumber: protinal.com
Di bagian bawah meja praktikum itu, ada sederet alat gelas. Ada gelas ukur, berupa gelas bermulut kecil tapi tinggi langsing dengan garis-garis ukuran di sepanjang bodinya yang seksi. Ada beker gelas yang semacam gelas biasa saja. Keduanya tersedia dalam berbaai ukuran.
Sumber: nurindasarii.blogspot.com
Tugas dalam praktikum hari ini adalah membuat sediaan yang bernama Pulvis, Pulveres, dan Capsulae itu. Jadi kisahnya, di kali pertama saya menyentuh bahan obat ini, saya langsung disuruh membuat obat. Tapi tentu saja, hasil praktikum ini nggak akan dikonsumsi, kecuali oleh orang-orang yang berniat bunuh diri.
Ibarat membuat masakan yang enak, buat obat juga perlu resep campurannya. Dan untuk tiga macam obat itu, saya harus mengacu pada sebuah buku kuno yang bernama Formularium Medicamentorum Nederlandicum. Melihat bentuk buku yang ada di perpus lab itu, sepertinya buku itu sudah melalui masa-masa di bawah penjajahan Belanda dan Jepang. Mungkin juga menjadi saksi masuknya Sekutu yang boncengan. Plus ikut serta dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama.
Buku itu, bersama beberapa buku resep lainnya, adalah kumpulan penyembuh dari masa silam, ketika orang-orang belum mengenal tablet, sirup, apalagi sediaan injeksi. Dan benar juga sih bahwa anak-anak farmasi baru harus diperkenalkan pada sejarah dengan memegang buku-buku dari jaman Mbah saya masih main layangan itu.
Oke. Resep siap. Panduan siap. Hati yang nggak siap.
Saya sederet dengan Tintus dan Andrew. Kalau Tintus, dari muka udah kelihatan kalau bakal senasib sama saya, sama-sama nggak bisa. Beda sama Andrew yang lulusan SMF, dan pasti nggak akan kesulitan meracik obat macam begini. Jadilah, ketika saya keringat dingin, si Andrew malah tampak biasa saja.
Itu perbedaan mendasar lulusan sekolah umum dan sekolah kejuruan. Skill-nya beda banget..nget..nget…
Sediaan pertama yang saya garap dari tiga serangkai topik hari ini adalah Pulveres. Kalau kening pada berkerut mendengar nama ini, yakinlah ini bukan saudaranya petinggi Israel yang namanya Simon Peres. Juga bukan salah satu teknik mengeringkan cucian selain Memeres. Pulveres ini lebih dikenal sebagai puyer. Pernah dapat obat yang dibungkus kertas, dan isinya setengah mati pahitnya? Itulah pulveres.
Sumber: intranet.tdmu.edu.te.ua
Sediaan kedua yang menjadi garapan adalah Pulvis. Ini juga nggak ada kaitannya sama polis asuransi. Dan tentu saja bukan sejenis sama gulai pakis. Paling gampang menyebut pulvis ini kalau sudah menyebut bedak. Iya, bedak yang ditaburkan pada ketek karena baunya menggoda iman, itu adalah pulvis.
Sediaan terakhir yang menjadi pelengkap penderita saya adalah Capsulae. Ini pasti lebih familiar, karena nama Indonesia-nya sering diperdengarkan. Iya, kapsul. Sediaan obat yang sebenarnya berupa serbuk, tapi dibungkus oleh dua cangkang kapsul yang biasanya berwarna warni dan dibuat dari gelatin.
Benang merah dari tiga derita hari ini adalah mencampur serbuk. Ya kali gampang cuma tinggal kayak ngaduk tepung terigu sama gula kan?
Saya lempar mortir kalau sampai ada yang bilang gitu.
Masalah pertama sudah jelas, menimbang bahan. Seperti saya bilang tadi, timbangannya adalah lambang pengadilan, jadi benar-benar butuh keseimbangan. Misalkan kita hendak menimbang 100 gram laktosa, kan nggak mungkin kita naruh laktosa langsung di atas timbangan? Jadi kita taruh dulu wadah untuk meletakkan laktosa di sisi kanan. Nah, itu timbangan otomatis serong ke kanan dong? Maka saya harus menambahkan butir-butir besi yang beratnya sama dengan si wadah agar timbangan itu seimbang.
Sesudah seimbang, baru deh saya meletakkan anak timbang 100 gram di sisi kiri, lalu kemudian mengisi wadah dengan laktosa sampai timbangan itu seimbang kembali, kiri dan kanan.
Ngomongnya gampang banget. Giliran lagi nimbang, adanya gemes tingkat kotamadya. Bagaimana nggak gemes ketika kita dikejar waktu, sementara timbangan itu masih saja menggalau dengan tidak mau seimbang? Itu kalau yang ditimbang satu macam serbuk, berhubung ini 3 bentuk sediaan, maka setidaknya ada 9 jenis serbuk yang harus ditimbang, tentunya dengan bobot yang berbeda-beda pula.
Yah, di era modern, menuang butir besi itu sudah digantikan dengan tulisan ‘TARE’ di timbangan digital. Saya segera berdoa agar logo pengadilan segera diganti dengan timbangan digital, siapa tahu menimbang jadi lebih cepat.
Serbuk-serbuk tadi lantas dicampur sesuai resepnya masing-masing, di dalam mortir yang ukurannya sesuai. Dan dasar pemula, saya salah memperkirakan ukuran mortir yang digunakan. Ini sama saja dengan mau makan bakso pakai mangkok soto kudus alias muatannya lebih gede dari wadahnya.
Ya sudah, tumpah-tumpahlah serbuk putih yang berisi campuran entah apa itu di atas meja praktikum. Meja saya sudah jauh lebih kotor daripada dapur restoran pinggir jalan. Apalagi kalau kemudian melihat ke mejanya Andrew di sebelah yang mulus tanpa serbuk sedikitpun di atas mejanya.
Tiga jam berlalu, dan pada akhirnya saya gagal menuntaskan Capsulae sesuai jumlah yang diinginkan. Pulveresnya sih jadi dengan lipatan kertas yang antah berantah. Hanya Pulvis yang agak beres karena toh tinggal mencampur sebagian besar serbuk bernama Talkum dengan Asam Salisilat, lalu masukin ke wadahnya. Si Capsulae? Saking groginya, tangan saya mengeluarkan keringat yang kemudian menempel manja di cangkang kapsul. Jadinya proses mengisi serbuk ke dalam cangkang kapsul menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan, bahkan lebih sulit dari move on.
Sudah dapat dipastikan bahwa praktikum perdana saya ini gagal total. Yang harus dilakukan sesudah praktikum ini adalah pergi ke jalan raya sambil garuk-garuk aspal tanda penyesalan yang mendalam. Tentunya harus dihentikan sebelum dinas perhubungan menangkap saya karena dianggap merusak fasilitas umum.
Nggak apa-apa, namanya juga pertama.
Satu-satunya hal yang menarik dari praktikum pertama ini adalah mulai cairnya hubungan dengan rekan-rekan satu kelompok praktikum. Maklum, habis lepas dari SMA masing-masing, masih pura-pura jaim, padahal hingga bertahun-tahun ke depan orang-orang inilah yang akan menyertai perjalanan pendidikan menjadi apoteker.
“Kalau gini terus, lama-lama gue resign juga nih!”
Siapapun yang pernah kerja di perusahaan pasti pernah mendengar kalimat macam ini. Saking seringnya didengar, soalnya ternyata yang mengucapkan kalimat adalah orang yang sama, selama 35 tahun, dan sebenarnya ya dia nggak resign-resign. Memang pada umumnya orang yang kebanyakan berkoar inilah yang nggak resign-resign nantinya.
Begitulah kelakuan karyawan. Sudah susah-susah apply, kemudian ujungnya resign juga.
Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Ber-apply-apply dahulu Lalu resign kemudian
Eh tapi resign ya nggak semudah itu juga. Kayak saya ini, walaupun disenggol sama beberapa PMA, tapi ya masih teguh kukuh berlapis baja untuk bertahan pada panji-panji yang sama (waktu itu). Ada banyak pemikiran yang kemudian menyebabkan munculnya pernyataan di awal tulisan ini. Berikut lima diantaranya.
1. Nggak Dapat Company yang Cocok Tempatnya
Kayak saya nih, waktu di Palembang, pabrik yang bergerak di bidang itu ya cuma satu itu. Kalau udah kebetulan menetap disana, sudah KPR rumah, sudah ini dan itu, mau pindah kemana lagi dong? Namanya pekerjaan dengan ilmu spesifik apalagi. Jadilah kadang ada orang sarjananya Apoteker, kerjanya di Bank. Sarjananya Enjinir, kerjanya di Bank. Kalaupun jadi pindah, ya harus mempertimbangkan aneka faktor termasuk KPR rumah lagi, cari rumah lagi, hingga cari istri lagi.
Dan ada teman juga yang sudah nyariiiiisss banget pindah, dan baru ngeh kalau kantor pusatnya ada di tengah kota Jakarta. Mengingat macet sudah begitu menggila, maka yang nyaris tadi berubah menjadi nggak jadi. Pada dasarnya tempat memang sangat krusial.
2. Merasa Akan Sama Saja di Company Berikutnya
Kadang sudah interview, sudah ditanya-tanya, sudah akan oke. Tapi kok perasaan bilang lain ya. Ini yang disebut intuisi. Ada nih teman sudah interview dan pengen pindah karena di tempat lama isinya lembur melulu. Begitu interview, ketahuan kalau bakalan lembur juga.
Jadi ya sudah. Nggak resign deh. Tetap saja lembur di tempat yang lama dengan segala kepastian indahnya jadi karyawan tetap.
3. Apply-an Nggak Ada yang Tembus
Ini nasib. Sudah berencana pengen resign, lalu masukin apply-an kemana-mana, dan pada akhirnya.. nggak ada yang manggil.
Daripada jadi pengangguran, ya sudah deh, resign-nya kapan-kapan aja.
4. Dapat Pacar di Company Sekarang
Satu hal yang bisa mempertahankan keadaan adalah ketika tiba-tiba dapat pacar di lokasi yang nggak enak sekarang. Bermula dari pengen resign, akhirnya lupa kalau pernah pengen resign. Ya kurang enak apa kalau sekantor sama pacar? Bisa berkasih-kasihan dengan indah dibawah naungan owner. Misalnya, memadu kasih bisa dilakukan di dalam gudang, di atas pallet pada level ke-7.
Resign-nya ntar aja kalau salah satu diantaranya nikah. Atau kalau memang tidak ada peraturan company yang melarang nikah sesama, ya terusin aja. Kapan lagi bisa sekantor sama laki atau bini, sementara jutaan orang lain LDR?
5. Sukses Dirayu Petinggi
“Kamu yakin? Saya bisa naikkan gaji kamu loh.”
Awalnya begitu. Maka kemudian keyakinan tinggi berlapis emas ketika maju ke bos bilang resign, kandas seketika. Apalagi kalau kemudian gajinya sebelas dua belas juga. Yah akhirnya bilang ke calon Company baru. Nggak jadi ya. Huiks. Tapi kalau yang begini nggak akan berlaku buat yang resign jadi PNS. Company juga bingung mau nawarin apa. Nggak akan tega juga nawarin gaji 1,7 juta, dari aslinya 8 juta. Simpel to?
Jrenggggggg…. poin-poin untuk resign itu tergantung kekerasan hati yang mau resign. Kalau memang sudah mentok, ya sudahlah. Apalagi kalau sudah disingkirkan sama teman selevel. Memberi ruang karier pada orang lain itu kadang-kadang tergolong berbuat baik kok.
Alhamdulilah yah. Seburuk-buruknya tampang saya ini, kok ya masih saja ada yang ngefans. Cihui. Mungkin orang-(orang) yang nge-fans itu sedang terbutakan mata hatinya oleh cinta. Tsahhh. Bukan sotoy lho ini, tapi mendapat input dari orang-orang yang bisa dipercaya. Saya pas dikasih tahu juga kaget. Kok bisa-bisanya?
Tapi menjadi masalah buat saya ketika kemudian perfeksionisnya Capricorn Melankolis nongol. Mintanya yang sempurna. Padahal muka sendiri sudah jelas jauh dari standar, apalagi sempurna, gimana cara mau minta yang sempurna. *lempar kaca*
Ketika menggalau berjomblo ria, sudah nyaris setahun ini, hal yang kemudian jadi soal adalah: apakah saya terlalu memilih? Dipadukan dengan berbagai pengalaman orang lain, berikut lima hal yang disia-siakan oleh manusia akibat terlalu memilih pasangan.
1. Status Aman
Orang-orang yang terlalu memilih itu ya bakalan jadi jomblo. Mereka lupa bahwa jomblo itu adalah status yang tidak aman. Iya dong. Jomblo adalah status yang mempermudah orang untuk menjodoh-jodohkan. Which is, saya amat sangat tidak suka dijodoh-jodohkan. Jomblo juga bisa dengan mudah menjadi bahan cerita orang, bahkan ketika hanya sekadar pergi makan berdua dengan lawan jenis. Para jomblo–apalagi kantoran–juga cenderung akan jadi korban rayuan dan pendekatan dari orang-orang lain yang mengetahui bahwa mereka jomblo. Status taken sejatinya adalah perisai (emangnya kapten Amerika?) untuk pendekatan tahap awal dari orang-orang nakal. Hiyuh.
2. Kesempatan Belajar
Orang terlalu memilih karena ada yang tidak sesuai. Kalau saya misalnya, punya 2 patokan utama. Usia dan Agama. Itu nggak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebab saya pernah jadi bajingan yang melewatkan seorang gadis hanya karena ternyata dia beda agama sama saya. -___-“
Atau juga karena ketidaksesuaian sikap. Ada kan cewek nggak suka kalau cowoknya terlalu polos. Ada cowok nggak suka kalau ceweknya terlalu mudah dekat lelaki.
Padahal kalau mau ditelaah nih, bukankah itu kesempatan belajar yang besar? Seorang posesif begitu bertemu seorang yang berpikiran bebas, akan ada pembelajaran yang besar disana. Sama halnya dengan seorang yang tepat waktu, ketemu yang suka moloran. Saya belajar banget dari ketidaksesuaian karakter kedua orang tua saya. Satu Jawa, satu Batak. How come? Tapi nyatanya, perbedaan itu bisa menjadi kesempatan belajar yang baik untuk membentuk rumah tangga yang sa-ma-ra.
3. Kemungkinan Belaian
Jomblo-jomblo itu kalau di FB apa Twitter aja nggaya ngeluh kesepian. Giliran ada yang deketin, eh dicuekin. Giliran ada yang nyuekin, eh digalauin. Susah jadi jomblo yah.
Kalau tidak terlalu memilih, maka jomblo-jomblo itu tidak akan kekurangan belaian. Yah minimal belaian si Brown LINE (ala LDR).
4. Jodoh yang Dilewatkan
Ada kalanya orang terlalu memilih, saking kelewatnya, ternyata itu jodoh yang dilewatkan. Biasanya ini karena faktor prinsip. Misal suku dan agama. Dalam menjaring kandidat jodoh penghapus jomblo, apalagi usia 25 ke atas, maka suku dan agama menjadi faktor yang sangat penting. Soalnya, pikirannya udah ke kapan kawin, gimana bisa kawin, dll. Nggak ada tuh, “mari kita jalani dulu.”
Nah, begitu ketemu, beda suku misalnya. Langsung dilewatkan. Padahal, bisa jadi dialah sebenarnya jodoh kita. Emak saya dulu, juga dapat resistensi ketika menikah dengan orang Jawa. Kalau mau langsung memilih saklek kriteria, ya nggak jadi sama Bapak saya dong. Padahal nyatanya jadi.
Hayo, siapa yang sudah merasa melewatkan jodohnya cuma gara-gara suku dan agama? Hehehehe.
5. Kesempatan Bahagia Lebih Muda
Ada yang bilang, ketika sudah berdua, dan kemudian memutuskan untuk saling menerima, maka itu adalah jalan bahagia. Ada juga yang bilang ketika sudah berdua(an), dan kemudian memutuskan untuk saling berpelukan, maka disitu ada kemungkinan kejadian yang berlanjut pada organogenesis *halah*
Tapi ya gitu, apakah yakin kalau kita menunggu, akan dapat yang lebih baik? Atau malah akan dapat yang seadanya? Apakah yakin bahwa yang kita lewatkan sekarang itu tidak baik? Padahal, kalau dipilih sekarang, siapa tahu kesempatan bahagia lebih muda itu bisa diperoleh. Nggak urus lagi menggalau di FB dan Twitter kan?
Fiuh. Ini nggak lucu. Masuk kategorinya supaya sama dengan yang lain saja. Semoga jadi refleksi bersama. Amin.
Punya blog yang banyak isinya itu lumayan berguna ternyata. Minimal setiap hari ada 80-an pengunjung yang tiba di blog ini dengan status kesasar. Iya, kesasar karena ternyata banyak dari mereka yang tiba kesini dengan search engine terms yang sebenarnya kontennya nggak ada di blog ini.
Tapi ya banyak juga kok yang nyasarnya benar. Perihal bis Cikarang-Jogja, lalu juga soal shuttle bus Cikarang-Blok M, hingga soal-soal audit, itu rata-rata masuknya benar.
Nah, kalau yang benar itu sih kurang seru. Kalau yang nyasar ini yang suka mengundang tawa kalau saya lagi lihat dashboard. Berikut search engine terms terpilih 🙂
“cara menyimpan masalah tetapi raut muka tak kepikiran”
Aslinya saya juga bingung ini nyasar ke posting mana dan apa pula tujuan mengetik deretan kalimat ini di Google. Tapi mari kita berpikir positif saja, siapa tahu yang mengetik SET ini memang lagi punya masalah, tapi nggak pengen kelihatan sama orang lain. Kali ya.
Ngenes Abis -> “Jatuh cinta diam-diam dengan teman sendiri”
Ini pasti nyasar di aneka cerpen saya yang umumnya memang tentang cinta diam-diam. Tapi ya ngapain juga yang beginian diketik di Google? Saking desperado-nya apa yak? Terus jadinya kan malah baca cerpen saya yang tak kalah mengumbar kegalauan dong? Kasihan.
Lha buset, baru juga gebetan sudah diharap mau kembali? Emang lo sudah pernah ngapain aja sama gebetan? Kalau pernah pacaran, diharap kembali kan tergolong masuk akal. Eleuh. Susah amat hidup yak. Kalau yang di bawah itu rada ngenes, dia bawa-bawa suku. Yah, menggebet cewek Batak memang punya tren tersendiri. Saya sih tahu, tapi nggak pernah, berhubung dilarang oleh emak saya (asli Batak) gegara sinamot itu mahal. Heuheuheu.
MESUM ABIS!!!
Bahkan untuk cara membawa pacar ke hotel secara diam-diam saja terus nanya ke Google? Saya heran dengan isi otak yang ngetik deh. Sudah jelas hendak berbuat mesum, masih saja nanya ke Google. Untuk saja blog ini tidak berisi tips berciuman yang baik, kalau nggak pasti kemana-mana tuh. Hahaha. Lha kalau cuma mau bawa pacar diam-diam ke hotel, ya tinggal masuk aja. Emang siapa yang bakal nanya juga? Itu mesti yang ngetik SET masih anak ababil. 😀
Ya begitulah, sedikit saja. Beberapa SET yang unik memang saya bahas disini, termasuk yang dulu “ingin keterima farmasi usd”. Setiap hari selalu ada SET yang absurd, 4 teratas adalah yang terpilih dalam SET 30 hari terakhir. Hehehe.
Jangan semua ditanyakan ke Google ya. Masih banyak jawaban lain di dunia ini. 🙂
Kemaren dapat whatsapp dari teman di Surabaya, katanya ada universitas disana yang mengadakan les! Yasalam, kuliah farmasi saja sudah ngenes, apalagi ada lesnya. Kapan mau pacaran kalau gitu ceritanya mah? Belum lagi, kalau lulus, apa bisa langsung struggle saat ‘dihajar’ oleh keadaan?
Mboh.
Tapi, sebagai salah seorang yang b(er)untung bisa lulus cepat 1 semester, saya hendak memaparkan 5 jenis kenikmatan yang lepas ketika kita memutuskan untuk lulus kuliah lebih cepat.
1. Nikmat Nongkrong di Kampus
Kalau status kita masih mahasiswa, nongkrong di kampus itu amat sangat diperkenankan. Lihatlah, mahasiswi-mahasiswi berkeliaran, dan mereka adalah adik-adik kelas yang muda-muda. Bukankah itu pemandangan yang bikin awet muda belia melanda?
Sekarang bayangkan ketika kita sudah lulus, lalu kemudian nekat datang ke kampus untuk nongkrong. Saya pernah, dan pertanyaan pertama, “sudah diterima dimana?”
Saya sebagai pengangguran waktu itu kemudian mendadak gundah gulana, lalu melipat muka dan menurunkan sandaran hati, serta membuka penutup jelaga, plus mengencangkan sabut kelapa. Maluw brow!
Jadi, selagi bisa nongkrong, kenapa nikmat itu harus ditinggalkan?
2. Nikmatnya Bangun Siang
Hari Senin, bangun jam 9. Hari Selasa, bangun jam 10. Hari Rabu, bangun jam 11. Itu kalau nggak mahasiswa, ya pengangguran. Lah, siapa yang mau dapat embel-embel pengangguran? Bukanlah lebih nikmat berlabel mahasiswa, lantas kemudian bisa bangun siang?
Orang yang sudah lulus memang bisa bangun siang, tapi itu juga kalau mereka sakit (potong cuti), cuti (ijin sakit), pura-pura sakit (karyawan nakal), atau paling masuk akal: shift 2.
3. Nikmat Nggak Dimintain Duit
“Eh, sudah kerja dimana? Gajinya gede dong? Makan-makan ya.”
-____-
Paling semprul nih yang beginian, untung masa saya yang begitu sudah lewat. Tapi iya demikian, kalau sudah kerja, pasti dimintain makan-makan, duit dan semacamnya. Waktu saya kuliah, mana ada cerita adek-adek saya minta duit. Begitu sudah kerja?
“Bang….”
“Yoh…”
*elus elus dompet*
4. Nikmatnya Minta Duit
Sejalan dengan nikmat nomor 3. Maka status karyawan akan membatasi kita untuk minta duit ke orang tua. Udah kerja kok minta duit? Malu sama perusahaan! Pasti orang susah ya? -____-
Meninggalkan kesempatan untuk tetap nikmat minta duit, sebelum kemudian menjadi orang yang dimintain duit, itu adalah sebuah pilihan. Nah, nah, nah, sila diputuskan.
5. Nikmat Jadi Senior
“Hey, semester berapa kamu?”
“Dua, Bang.”
“Sini pacaran sama Abang.”
Itu kalau di kampus. Kalau di kantor?
“Hey, anak baru ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu angkat kesini.”
*dokumen setinggi 2 meter*
Kalau masih belum puas menjadi senior, orang yang dihormati, dikenali, dan lainnya, silakan memegang nikmat ini. Karena begitu lulus, apalagi jadi karyawan, maka kita akan serta merta jadi cupu kembali seperti semula. Jadi objek penderita lagi. Jadi kroco lagi, dan sejenisnya.
Yeah, dipastikan bahwa 5 hal diatas adalah nikmat yang nyata, namun tentu saja sesat. Jadi, mau ditiru atau tidak, silakan. Saya sendiri, lulus 3,5 tahun (plus 1 tahun apoteker), dan sejauh ini nggak menyesal kok meninggalkan 5 nikmat di atas. Tentunya karena selama 3,5 tahun saya benar-benar memanfaatkan nikmat yang ada tersebut.
Posting sotoy juga ini yak. Jelas-jelas masih lektor cupu, bisa-bisanya nulis judul sangar begitu. Yah, tapi okelah, kalau mau melihat dan membaca soal bagaimana menjadi lektor yang baik boleh dicek disini, disini, dan disini.
Dulu, iya duluuuuuu banget, saya mengawali karier membaca sabda Tuhan ini pada hari ketika saya menerima komuni pertama. Maklum, kan anak guru dan anak ketua rayon (tentunya anggota dewan paroki juga), jadi punya privilege untuk bisa tampil. Hahahaha. Muka saya tentu masih amat sangat cupu dan unyu walaupun sekarang juga sih.
Itu tahun berapa ya? Sekitar 1996 atau 1997, pastinya saya lupa. Sudah belasan tahun silam. Bahkan anak yang tahun itu belum lahir saja sudah bisa memperkosa *barusan baca berita perkosaan oleh anak 12 tahun, absurd*
Waktu kecil, saya itu amat sangat anti kritik. Pas pertama kali disodorin bacaan, maka saya baca secepat kilat, pokoknya kelar. Saya anggap semakin cepat semakin baik.
Salah. Saya ngambek.
Lalu ketika mulai paham bahwa ini sabda Tuhan yang harus dibaca dengan tempo tertentu (saya kalau ngomong biasa memang dasarnya cepat), saya kemudian dilatih untuk membaca oleh orang tua. Pas jatah kata “mereka”, saya baca dengan “mEreka”, saya diketawain orang tua.
Salah. Saya ngambek lagi.
Sebuah proses kampret dalam pendewasaan diri saya yak. Begitulah. Memang sungguh semprul sekali.
Pada perjalanannya, saya punya idola anaknya Pak Edi, kalau nggak salah namanya Mas Uus. Kalau ngelektor santai banget. Paling senang kalau lihat dia baca bacaan pertama Jumat Agung, dari Yesaya, yang panjangnya ora kiro-kiro itu, tapi kontennya menarik.
Dari situ saya mulai mengerti ‘cara membaca yang baik’.
Pindah ke SMA, waktu dimana saya nyaris murtad dan menjelma menjadi Kristen NaPas, ya mana ada cerita jadi lektor?
Saya baru jadi lektor lagi di Cana Community, kapel Santo Robertus Bellarminus Mrican. Yang ironisnya, saya tinggalkan karena satu kritik.
Kritik sih, cuma buat saya disampaikan dengan tidak proper oleh seorang suster. Saya lagi baca, kurang mengalir, terus dibilang, “gini nih kalau nggak biasa nyanyi.”
Dan saya sikapi dengan daftar PSM, lalu berkarier disana. Bye bye lektor. Hahahahaha.
Itu tahun 2005, dan saya baru ngelektor lagi tahun 2013. DELAPAN tahun kemudian. Syukurlah, skill itu nggak hilang-hilang banget.
Sebenarnya, apa sih makna menjadi lektor? Buat saya ada beberapa hal.
1. Membaca sabda adalah hal yang berbeda dengan membaca biasa. Saya coba praktek dengan membaca buku Rectoverso (pinjem), dengan cara lektor, rasanya jelas beda. Persislah dengan teman saya yang muslim yang mendaraskan surat-surat yang tertera di kitab sucinya. Itu inspiring sekali loh. Terutama si Irfan, kalau lagi malam-malam di mushala office lantai 2.
Menurut teori, memang ada pesan yang disampaikan ketika kita membaca. Tapi kalau saya sih mencoba berpikir sederhana saja. Sesudah doa pembukaan kan dibilang, “marilah kita MENDENGARKAN sabda Tuhan”, itu yang buat saya–walau megang teks–nggak pernah baca teks. Nah, bagaimana supaya yang mendengar itu bisa menerima isinya, itu yang sulit. Caranya? Ya bacalah sebaik-baiknya. Itu saja. Kita kan nggak tahu umat yang lagi dengerin lektor itu sedang ngelamun jorok apa kagak (itu mah saya kali…)
Poinnya adalah membaca sabda, punya nilai, yang sebisa mungkin tersampaikan kepada pembaca.
Sedikit membenarkan si suster yang menghina dina saya dulu, bahwa menyanyi itu membantu dalam membaca. Setiap bacaan mempunyai lagu, dan tidak selalu harus dibaca ala puisi. Yeah, dulu pas Bahasa Indonesia paling tobat saya kalau disuruh baca puisi. Terimo ora. Tenan.
Inilah yang kemudian membantu upaya penyampaian maksud bacaan kepada umat. 🙂
2. Lebih dekat dengan sabda Tuhan adalah sisi baik lektor. Saya ini yah, ampun-ampun, walaupun punya kitab suci, mana pernah saya baca? Coba tanya saya 1 kalimat yang saya hafal di alkitab, mana ada?
Tapi, saya bisa ingat loh, bacaan-bacaan yang pernah saya baca di mimbar, dan sekaligus kata-kata penekanannya. Misal, “….karena engkau, mentaati sabda-Ku..”, atau “….dan mereka semua disembuhkan…”
Nggak usah muluk-muluk ke orang, urusan ke diri sendiri si lektor aja dulu. Pengaruhnya signifikan, terutama bagi orang yang jarang baca alkitab kayak saya. Hahaha.
3. Menikmati diri didengarkan, buat saya adalah perspektif lain. Dulu, buat saya, secepat mungkin selesai, lebih baik. Hehe. Tapi perlahan saya sadar, umat nggak akan melempar saya dengan sepatunya kalau saya terlalu lama di mimbar. Lha wong romo yang kotbahnya 1 jam sendiri juga nggak dilempar kan? *ekstrim mode on*
Umat datang (salah satunya) untuk mendengarkan sabda, jadi menikmati saat-saat di mimbar adalah penting.
Datanglah ke mimbar, lalu bersiap sejenak. Lihat ke depan, jangan ke belakang, apalagi ke atas *iki ngopo sih?* Kalau melihat ke depan, toleh dikit kiri kanan siapa tahu ada yang cantik.
*lektor sesat*
Untuk hal ini, saya angkat topi untuk Felic, anak Cana dulu. Ini anak paling menikmati soal tengak tengok ini. Naik mimbar, tengak tengok dulu. Pede abis pokoknya. Tapi jadinya keren.
Coba nikmati begini:
Naik ke mimbar, letakkan buku, pastikan bacaan terbuka dengan baik. Lalu lihat ke depan, sedikit kiri, sedikit kanan. Kalau nemu yang cantik, tetapkan sasaran. Kalau ada pacar, bolehlah jadi titik pusat. Lalu ambil nafas, tahan sampai besok.
*ngawur kan*
Ucapkan kalimat dengan perlahan, sehingga tidak akan merasa kehabisan napas. Karena di altar tidak ada tabung oksigen. Pelan-pelan saja, dan jangan terus gemetar. Ini posting sotoy, jadi jangan percaya kalau yang nulis nggak gemetaran. Percayalah, bahwa saya pun kadang masih gemetaran.
Cari kalimat-kalimat yang perlu ditekankan. Itu akan menjadi penekanan berbeda waktu membaca. Plus, begitu mau kelar, temponya diperlambat. Ini teori saya dapat waktu di Cana, lupa dari siapa, tapi ini yang bikin membaca jadi asyik. Tempo diperlambat, kata per kata kalau perlu ditekankan. Kebanyakan sih, poin utama bacaan itu memang ada disana. Nggak tahu kalau ada perubahan dari 2005 ke 2013 ya.
Nah, sesudah kelar. Tarik napas lagi, tahan lagi sampai besok, lalu bilang, “demikianlah sabda Tuhan.”
4. Tapi sebenarnya, bagian terbaik dari menjadi lektor adalah ketika mendapat berkat di sakristi ketika tugas sudah berakhir. Itu rasanya berbeda dibandingkan jadi umat biasa. Maklum, bertahun-tahun jadi umat biasa. Luar biasa sih, maksudnya, biasa di luar. *halah*
Ya begitulah. Seperti saya bilang tadi, kalau mau yang baik dan benar sila baca tautan yang sudah saya buat. Tapi kalau mau jadi yang sesat, boleh ikuti cara saya. Dijamin ngawur. Hehehehe.