All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Menurutmu?

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan kalau kamu mengabariku sedang apa kamu disana?
Pastinya, aku akan tersenyum lebar mengetahui kamu masih mengingatku.

Menurutmu..
Apakah yang aku rasa ketika kamu marah kepadaku?
Terbersit sedikit riang, karena marah itu menandakan kedekatan hati kita
Meski aku juga kelimpungan untuk meredam amarahmu.

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan jika kamu tidak membalas pesanku?
Aku menanti dengan sabar, tentunya sambil berkali-kali memandang layar telepon, berharap ada balasan darimu.

Menurutmu..
Apa yang ada di benakku saat kamu mengeluh sakit?
Sesungguhnya, aku sangat ingin berlari kesana dan ada di sampingmu, mungkin itu bisa meredakan sakitmu.

Menurutmu..
Apa yang kupikirkan ketika mendengarmu sedang menangis?
Aku hanya ingin berada di sisimu, membenamkan tangismu dalam pelukku dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Menurutmu..
Apakah aku mencintaimu?

Kalau aku boleh memberi jawab
Iya, aku mencintaimu.

* * *

Apik Iki! (Dari Gado Gado Rujak)

Iseng blogwalking, ketemu blog gadogadorujak.blogspot.com

Isine apik.. Jadi saya coba copas ke blog sini ya..

Versi Cowok

Kami Pria tau, kalian para wanita sungguh sebenarnya menghargai usaha yang kami lakukan, dan yang kalian harus tau, kami selalu bersungguh-sungguh untuk orang yang kami sayangi.! hanya saja kami butuh kalian tersenyum ketika kami merasa lelah, hampir putus asa, dan sungguh kami akan kembali mengerjakan itu untuk kalian. semua! hanya karena kalian..

dan ya! kami pun tau. bahwa ketika kalian hanya diam dan memperlihatkan bahwa kalian bosan, kalian ingin kami tetap sabar. tapi kami tidak mau terlihat tidak bisa mengerti kalian dengan mengajukan pertanyaan “jadi maunya gimana.?”. kami akan diam sesaat, dan berpikir apa yang bisa membuat senyum kalian kembali lagi.? karena senyum kalian yang menghidupkan hidup kami, sungguh.! semua hanya karena kalian..

Kami sebenarnya pun tau. bahwa kalian senang jika kami menulis kata-kata romantis seperti di film2 Korea yang kalian tonton. kalian berangan-angan bahwa hal yang terjadi di film itu terjadi dalam kehidupan kalian? (*ya kan?). tapi justru karena kalian sering mengangan-angankan hal itu, kami tidak melakukan itu untuk kalian, kami berpikir keras, memutar otak menyiapkan kejutan yang bahkan tidak terpikir di angan2 kalian, untuk melihat kalian tersenyum, sungguh.! semua hanya karena kalian..

Kami pun tau, kalian menerima kami di samping kalian bukan semata2 kami tampan. ketika kalian mengidolakan seseorang yang tampan maka kami akan memasang tampang tidak peduli, dan mencoba mengalihkan pembicaraan, bukan kami tidak peduli, sebenarnya kami cukup muak dengan cara kalian menyanjung lelaki yang bahkan mengenal kalian saja tidak, tapi kami harus menjadi pemimpin yang baik untuk kalian. dan menjadikan kami bersikap lebih bijaksana di depan kalian. Sungguh.! semua itu hanya karena kalian..

Kami cukup mengerti bahwa kalian menghargai setiap usaha yang kami lakukan untuk membantu kalian mengerjakan tugas kalian, ketika kalian mengatakan dalam kesulitan, sungguh kami akan berusaha sebisa kami untuk membantu kalian. dan ketika kami datang kerumah kalian dengan makanan, tanpa tugas yang kalian butuhkan, artinya kami tidak mendapatkan apa yang kalian cari dan yang ada dipikiran kami saat itu hanyalah bahwa usaha terakhir yang dapat kami lakukan hanya menemani kalian.! hingga tugas itu selesai, meyakinkan bahwa kalian tidak lupa untuk mengisi perut kalian, kami sungguh khawatir pada kesehatan kalian. Sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami pun tau kalian menilai kami minus ketika tau kami merokok, dan ketika itu juga kami berusaha menghilangkan kebiasaan kami. ketika kami tidak berhasil, maka kami akan berusaha menguranginya. menghilangkan kebiasaan itu sedikit demi sedikit. namun ketika tidak berhasil juga maka kami tidak akan merokok di depan kalian. namun, ketika kalian trus menekan kami, maka dengan sangat terpaksa kami akan berbohong pada kalian, walaupun kami tau hal itu salah, namun itu kami lakukan hanya untuk membuat kalian nyaman di samping kami. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami tau, kalian kesal ketika kami mengacuhkan kalian hanya untuk bermain game bersama teman2 kami. tapi ketika itu, ketika ada sedikit waktu, kami mencari handphone kami dan menanyakan kabar kalian, karena kami ingin mengetahui kabar kalian. dan taukah kalian.? sebelum kami bermain game itu, kami membicarakan pasangan kami masing-masing, membanggakan bahwa kami memiliki pasangan terbaik di dunia! atau membicarakan masalah-masalah yang timbul pada hubungan kami, dan masing masing akan memberikan sarannya untuk menyelesaikan masalah kita, itu kami lakukan hanya karena kami ingin mendengarkan pendapat orang yang dekat dengan kami mengenai keputusan yang akan kami buat. kadang memang kami mematikan handphone kami, namun ketika kami mengetahui kalian menelpon atau membaca sms dari kalian, maka kami akan meletakkan game itu dan berlari ke pojok kamar menelepon kalian. tidakpeduli teman2 kami bersorak sorak menggoda kami, sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Kami pun sadar, kami bukan bayi yang harus kalian ingatkan untuk sembahyang, atau makan. kadang kami akan bersikap tak peduli. namun ketika kami membaca sms kalian atau mendengarkan suara kalian ketika mengingatkan kami untuk makan, maka pada saat itu kami pasti tersenyum dan berterima kasih (walaupun tidak kami ucapkan), dan ketika kami membalas dengan kata-kata “iya, kamu juga ya..”, maka kami benar2 tulus mengatakannya.. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Ketika kami acuh pada kalian, maka pada saat yang sama kami sedang menyiapkan kejutan untuk kalian. dan ketika kami memberikan barang milik kami pada kalian waktu mengantarkan kalian hingga pintu dan pamit pada orang tua kalian, maka kalian harus tau bahwa barang itu adalah barang yang berharga untuk kami. (walaupun barang itu terlihat biasa untuk kalian) tolong tersenyumlah untuk kami, karena senyum itu yang menghidupkan hidup kami.! sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Dan ketika kalian bersedih, lalu kami melakukan hal-hal konyol, melontarkan lelucon-lelucon yang mungkin tidak lucu. maka kami sungguh tidak bermaksud memperkeruh suasana, kami ingin melihat kalian kembali tersenyum. hanya itu. dan ketika kalian melihat kami dengan pandangan tidak suka, maka ketika itu kami sungguh merasa bersalah. jalan terakhir yang akan kami lakukan adalah meminta maaf. berharap itu dapat sedikit mengurangi beban kalian. sungguh, semua itu hanya karena kalian..

Sejujurnya kami tidak menyukai pujaan hati kami menangis. sungguh itu membuat kami bingung setengah mati.! maka tolong jangan salahkan kami, ketika kami meminta kalian berhenti menangis. namun kami pasti akan mendengarkan apa yang kalian ucapkan dalam tangis kalian, dan percayalah, kami akan tetap disamping kalian walaupun kalian menangis hingga tertidur di depan kami. maka, kami akan membawa kalian masuk kerumah dan pamit pulang pada ayah ibu kalian. dan tunggulah, maka kami akan menelepon kalian keesokan harinya untuk menanyakan kabar kalian. atau datang ke rumah membawakan coklat untuk melihat senyum kalian lagi. sungguh, itu hanya karena kalian..

Bagi kami, kalian tetap yang tercantik! ketika kalian bertanya mengenai berat badan kalian yang naik.? atau baju kalian yang mulai tidak cukup.? maka dalam hati kami tertawa. namun yang keluar dari mulut kami hanya senyuman. kami akan berkata tidak, bukan untuk membohongi kalian, tapi karena di mata kami kalian tetap paling indah!! karena kami sebenarnya tidak mencari malaikat yang tanpa cela, atau bidadari yang paling cantik sedunia, kami mempunyai peri kecil yang selalu ada di samping kami. ya! itu adalah kalian.. mengertilah, sungguh, itu hanya karena kalian..

Ketika kalian berkata baik2 saja, maka kami akan tersenyum dan berkata, “ok, kalo ada apa2 bilang ya”. karena kami tidak ingin memaksa kalian mengatakan sesuatu yang tidak ingin kalian katakan pada kami, dan tanpa kalian minta kami akan bertanya pada sahabat kalian apakah kalian benar2 baik2 saja.? jika sahabat kalian tidak mau menceritakannya maka kami tidak akan mencari tau lagi. karena kami berharap kalian cukup mempercayai kami untuk menceritakan semuanya.. bukan karena kami memaksa kalian, sungguh, itu semua hanya karena kalian..

Dan ketika kalian membutuhkan kami, yakinlah bahwa kami akan selalu ada untuk kalian. ketika kalian mengatakan “tidak usah” pun, kami akan selalu ada di samping kalian. karena kalian adalah orang yang kami sayangi, percayalah..!! sungguh, semua ini hanya karena kalian..

Jika kami sudah memilih kalian, maka yakinlah, kalian adalah peri kecil kami, setidaknya itu yang kami pikirkan saat itu..

Ketika kalian (mungkin tanpa kalian sadari) menyakiti hati kami dan meninggalkan kami, kami mungkin akan marah. tapi itu hanya sesaat, dan yang kalian harus tahu, ketika kami benar2 telah memilih kalian untuk menemani kami, maka walaupun hubungan itu berakhir, separuh ruangan hati kami sudah kalian tulis menjadi ruangan kalian, maka ketika kami mempunyai kekasih yang lain, maka mereka hanya akan mengisi ruang di sisi yang lain, datang, dan pergi pada sisi itu. ruangan kalian akan tetap kosong untuk kalian, ketika kalian kembali untuk kami..

Tapi tolong, jangan khianati kami dengan lelaki yang lain.! karena itu akan sangat menyakitkan untuk kami.! Dan maaf, kami mungkin akan meninggalkan kalian selamanya..

terima kasih untuk mengerti kami..

Lalu, ada juga yang Versi Cewek

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian para lelaki bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic, maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami, gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon, tapi kami tahu, kalian berusaha..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan peramal seperti Dedi Corbuzier yang dapat menebak isi pikiran kami atau apa yang kami inginkan saat kami hanya terdiam dan memasang wajah bosan, tapi saat itu kami hanya ingin tau, sesabar apakah kalian menghadapi kami jika kami sedang sangat menyebalkan seperti itu, kami tidak minta kalian mampu menebak keinginan kami, setidaknya bersabarlah pada kami dengan terus bertanya “jadi sekarang maunya gimana.?”

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah penyair sekaliber Kahlil Gibran atau yang mampu menceritakan kisah romantis seperti Shakespear, maka itu kami pun tidak meminta kalian mengirimi kami puisi cinta berisi kalimat angan-angan nan indah setiap hari atau setiap minggu, tapi setidaknya mengertilah bahwa setelah menonton film Korea yang amat romantis itu, kami sangat berandai-andai kekasih kami dapat melakukan yang sama, meskipun isi puisi tersebut tidak sebagus kahlil Gibran, kami akan sangat senang –sungguh- jika kalian mengirimkannya dengan tulus dan niat. (bahkan meskipun ujungnya terdapat “hehe, aneh ya.?”, kami akan benar-benar melayang)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah setampan Leonardo Dicaprio, tapi tolong mengertilah itu sama sekali bukan masalah bagi kami, saat kami memuja-muja pemuda seperti itu, itulah pujian dan pujaan, tapi hati kami sungguhnya telah terikat oleh kalian. Mungkin saat itu kami hanya ingin tau apa pendapat kalian jika kami jatuh cinta pada orang lain, semacam mengukur tingkat kecemburuan kalian..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah semenakjubkan John Nash atau sebrillian Isaac Newton, namun kami sebenarnya sangat menghargai bantuan kecil dari kalian meskipun hanya membantu mencarikan artikel dari internet, kami ingin menunjukkan pada kalian bahwa kalian lebih kami percayakan daripada Newton atau Galileo..

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah segagah Achilles pada film Troy, maka itu kami tidak pernah minta kalian mengikuti program peng-six-pack-an tubuh atau kontes L-men. Namun dengan kalian berhenti dan tidak pernah merokok, kami sangat akan memilih kalian dari Achilles manapun. Menyuruh kalian berhenti merokok adalah untuk meyakinkan diri kami bahwa kalian lebih gagah dari Achilles (karena tentu kalian akan kalah beradu pedang dengan Achilles bukan.?)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan Pangeran dengan kuda putih yang akan melawan naga demi kami, karena kami pun bukan putri tidurnya, dan maka dari itu kami tidak pernah minta kalian melawan preman pasar yang pernah menggoda kami, tapi setidaknya, mengertilah tanpa kami harus minta, saat hujan lebat datang dan dirumah sedang mati lampu dan ayah ibu belum datang, kami hanya dapat mengandalkan kalian, maka itu temani kami walau hanya dengan sms dan telepon, karena menurut kami, berbincang dengan kalian adalah melegakan, maka itu jangan tradeoff (tukar) keadaan seperti itu dengan Game PS 2010 terbaru kalian itu (sangat mengesalkan.!)

Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah bayi yang harus diingatkan hal ini dan itu setiap waktunya, tapi mengertilah bahwa kami sangat merisaukan anda, kenapa kami mengingatkan kalian makan atau sembahyang, itu karena tepat saat itu, kami baru saja hendak makan atau sembahyang, maka itu saat kalian bertanya kembali atau mengingatkan kembali, kami akan jawab “iya, bentar lagi nih”..

Kami, para wanita tau kalian bukanlah Romi Rafael yang pandai menyulap saputangan menjadi bunga, maka itu kami tidak pernah meminta hal semacam itu, namun mengertilah bahwa melihat bunga rose di pinggiran jalan itu menggoda hati kami, bahkan meski kami tidak suka bunga, pemberian kalian akan menjadi hal yang kami sukai, karena kami sebenarnya hanya sangat ingin menyimpan kalian saat itu, setelah malam kalian antar kami pulang, namun kami tahu kita harus berpisah saat itu..

Kami, para wanita tau kalian bukanlah Mr. Bean yang dapat membuat kami tertawa terbahak saat sedang bosan, maka itu jangan coba-coba menjadi juru selamat untuk mencoba membuat kami tertawa saat itu, karena kami tau kalian tidak mampu sekocak Mr. Bean dan malah hanya akan memperkeruh suasana, yang kami inginkan saat itu hanyalah memastikan kalian ada disamping kami saat masa-masa sulit meski hanya dengan senyuman menenangkan..

Kami, para wanita juga tau kalian bukanlah pemuda seperti Edward Cullen yang akan segera datang dengan Volvo saat kami diganggu oleh preman jalanan, namun setidaknya, pastikan kami aman bersama kalian saat itu dengan tidak membawa kami pulang terlalu larut dan mengantarkan kami sampai depan pintu rumah dan bertemu ayah ibu, (jangan hanya sampai depan gang, hey.!)
Kami, para wanita tau kalian tidak akan bisa seperti ibu kami yang dapat menghentikan tangisan kami, namun tolong mengerti, saat kami menangis dihadapanmu, kami bukan sedang ingin dihentikan tangisannya, justru kami sangat ingin kalian dihadapan kami menampung berapa banyak air mata yang kami punya, atau sekedar melihat apa reaksi kalian melihat kami yang –menurut kami- akan terlihat jelek saat menangis..

Kami, para wanita tau sebenarnya, bahwa kalian tidak akan punya jawaban yang benar atas pertanyaan, “aku gendut ya.?”, kami sungguh tau, tapi saat itu kami hanya ingin tau, apa pendapat kalian tentang kami yang pagi tadi baru bercermin dan sedang merasa tidak secantik Kristen Stewart..

Kami tau, kalian adalah makhluk bodoh yang tidak peka dan terlalu lugu untuk percaya pada setiap hal yang kami katakan, tapi mengertilah bahwa saat kalian bertanya “baik-baik aja.?” dan kami jawab “iya, aku baik-baik aja” itu adalah bahasa kami untuk menyatakan keadaan kami yang sedang tidak baik namun kami masih menganggap kalian adalah malaikat penyelamat yang mampu mengatasi ketidak-baik-baikan kami saat itu tanpa kami beritau, (tentu mestinya kalian sadari jika kami memang benar sedang baik-baik saja kami akan menambahkan perkataan seperti “iya aku baik-baik aja, malah tadi aku di kampus ketemu dengan dosen yang itu lho….*bla.bla.bla”)

Iya, kami sepertinya tau apa yang kalian pikirkan tentang kami yang begitu merepotkan. Tapi begitulah kami, akan selalu merepotkan kalian. Hal ini bukan sesuatu yang kami banggakan, namun inilah bahasa kami untuk mempercayakan hati kami pada kalian, jika kalian bukanlah pemuda yang kami percayakan dan kami butuhkan, tentu saja yang kami repotkan dan persulitkan bukan kalian. Kami makhluk yang amat perasa dan gampang merasa “tidak enak”. Kami enggan merepotkan “orang lain”..

Jika kami merepotkan dan menyusahkan, berarti kami menganggap anda bukanlah orang lain..

Kami tidak senang bermain-main. Maka tolong jaga hati yang kami percayakan ini. Kami mungkin mudah berbesar hati atau “geer”, tapi sekali kami menaruh hati kami pada satu pemuda, butuh waktu yang lebih lama dari menemukan lampu bohlam untuk menghilangkannya (bukan melupakan)..

Kami akan sulit menerima hati baru setelah itu, karena kami harus membiasakan diri lagi. Padahal kami sudah terbiasa dengan anda, terbiasa melakukan semuanya dengan anda. Maka tolong, mengertilah. Karena kami, wanita sungguh sangat tau sebenarnya kalian, pemuda, dapat mengatasi semua tingkah kami yang merepotkan ini..

* * *

Ya begitulah.. Bahwa cowok dan cewek itu sebenar-benarnya beda. Dan justru itu perlu dipersatukan.. 🙂

*Dalam hal copas konten blog, ariesadhar selalu menyertakan link ke sumber asli. Blogger yang baik harus begitu ^_^

Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Masa Lalu

“Sssttt, Egi sekarang pacaran sama Alena lho.”

Dan sesi gosip dimulai. Di kantor yang mayoritas isinya cewek, selalu ada ruang dan waktu untuk bergosip.

“Tahu dari mana lu?” selidik Dina.

Tia, yang mencetuskan kalimat pertama tadi, segera menyambung, “Kemarin gue kan ke mejanya Egi. Pas dia lagi whatsapp sama Alena.”

“Kalau whatsapp, sama gue juga tuh.”

“Yahhh, sama lu nggak pakai emo-emo love-love gitu kan? Pokoknya gue yakin bener deh, Egi sama Alena. Sayang bener ya, padahal si Alena itu kan nakal. Serigala berbulu domba!”

“Kok bisa?” tanya Dina. Mukanya mendekat, diikuti oleh teman-teman lain yang berada di Pantry itu.

Maka Tia mulai bercerita, panjang dan lebar hingga panjang kali lebar. Segala sesuatu yang ia ketahui tentang masa lalu Alena. Sesuatu yang mudah untuk diceritakan karena Alena adalah orang yang pernah merebut kekasih Tia, jauh di masa lalu. Bahwa semestalah yang mempertemukan keduanya kembali di satu kantor. Sebuah kehendak yang kadang menjadi sebuah retorika. Bukan karena sudah jelas jawabannya, tapi karena memang tidak perlu dijawab.

“Kasihan ya temen gue,”bisik Dina. Ya, sejak sama-sama masuk ke kantor ini dalam 1 batch penerimaan, Dina dan Egi menjadi teman yang sangat akrab. Terlebih ketika rekan-rekan di batch mereka satu per satu resign dan hinggap di perusahaan lain. Dan percaya atau tidak, memang tinggal Dina dan Egi yang tersisa dari 20 orang yang pernah masuk sebagai Trainee, 3 tahun silam.

* * *

“Ciee, yang punya pacar nggak bilang-bilang,” goda Dina sambil menepuk bahu Egi yang sedang asyik dengan kotak dan angka di layar laptop.

“Apaan?”

“Halah, pura-pura bodoh ah. Katanya lu udah punya pacar baru bro?”

“Siapa bilang?”

“Ya tahu aja.”

“Lu percaya?”

Dina diam saja sambil berjalan ke kubikelnya, tapi sejenak kemudian ia mengangguk perlahan.

“Hahahahaha.. Din.. Din.. Yang ngawur dipercaya,” ujar Egi sambil tetap asyik menatap laptopnya. Tak lama, handphone-nya bergetar dan sebuah whatsapp muncul. Alena Puspita.

Dina melirik Egi yang beralih asyik ke handphone, lalu berkata, “Tuh kan, pacaran.”

Egi tersenyum simpul saja. Tidak bertindak lain.

* * *

Kedai kopi di sudut foodcourt ini selalu jadi tempat curhat Dina dan Egi setidaknya seminggu sekali sepulang kantor. Suasana yang hectic di kantor nyatanya bisa diredakan dengan minum segelas kopi atau teh. Dan kini, di hari Jumat, keduanya asyik dengan gelas dan handphone-nya masing-masing.

“Susah ya punya bos kayak sekarang ini,” ujar Egi.

“Kurang ajar bener lu, Gi.”

“Iya dong. Ya gimana ceritanya gue minta review kerjaan gue bener apa kagak, yang dikoreksi cuma typo-typo-nya doang. Padahal yang lebih penting kan action plan yang gue kasih. Kagak dikomen sama sekali.”

“Udah, sabar aja,” kata Dina, “Trus ngomong-ngomong gimana Alena?”

Egi sedikit tersedak mendengar Dina menyebut nama Alena.

“Kenapa emang?”

“Udah bro, kita temenan juga udah lama. Jujur aja, lu pacaran sama Alena kan?”

“Hmm, kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Lagian kenapa bisa nama itu lu sebut sih. Perasaan dia kerjanya dimana, gue dimana, ketemu di kantor juga kagak.”

“Ya gue ngerti kalau Alena kerjanya di lantai 8, kita lantai 3. Ngerti banget gue mah. Tapi, gimana ya, gosip-gosip yang beredar sudah bilang begitu.”

“Buset, uda ada gosipnya juga?”

“Makanya sekali-sekali main ke pantry! Haha.. Kerja melulu sih.”

“Iya dong, pegawai teladan.”

Dina menunduk sedikit, perkataan Tia masih terngiang di benaknya dan sebagai teman yang baik, ia hendak menyelamatkan sahabatnya ini.

“Ehm, mungkin lu belum mau ngomong, Gi. Tapi andaikan iya nih, lu sama Alena Puspita itu. Gue dengar banyak hal yang nggak baik soal dia.”

“Maksud lu?”

“Ya, dari riwayat ngerebut pacar orang, terus suka pulang malam, dan yang sejenis-sejenis itu lah.”

“Hahahaha…”

“Ketawa lu, Gi?” tanya Dina dengan muka bengong.

“Dina.. Dina.. Lu tahu kan kalau gue manusia?”

“Kalau lu setan, gue nggak bakalan ngopi sama lu, dodol!”

“Nah itu dia,” ujar Egi sambil mengaduk kopi di hadapannya, “Gue, lu, bahkan Alena itu juga manusia.”

“Lalu?”

“Dan setiap manusia punya masa lalu, Din. Plus, nggak semua masa lalu itu baik. Lu tahu kalau di masa lalu gue ini perokok berat?” tanya Egi. Konsep yang satu ini ia lontarkan karena Egi tahu kalau Dina amat sangat tidak suka dengan pria perokok.

“Tahu, kan lu pernah cerita.”

“Terus, kenapa lu nggak memperlakukan gue kayak lu sebel banget sama si Herman? Jarak dua meter dari dia aja lu udah kabur?”

“Ya, kalau itu, kan lu tahu gue nggak suka cowok yang merokok.”

“Thats! Gue, dulu, dulu nih ya, lebih ganas dari Herman ngerokoknya, kenapa lu ama gue sahabatan?”

“Kan lu nggak ngerokok bro!”

“Ya itu dia. Gue punya masa lalu yang sebenarnya lu nggak suka kan? Terus kita akrab begini, artinya lu menerima masa lalu gue yang nggak oke itu.”

“Hubungannya dengan Alena?”

Ya, kalau lah, gue bener deket sama Alena. Gue kenal dia juga udah lima tahunan kali, Din. Udah cukup lama. Gue tahu beberapa masa lalunya dia juga. Jadi, kalau emang gue mau dan bisa dekat sama dia, pasti karena gue udah mengesampingkan masa lalu itu.”

Dina terdiam mendengarkan perkataan Egi.

“Lagian gue juga dulu kan bajingan. Ngedeketin cewek orang, ngajak ngedate cewek orang, sampai jadi pemberi harapan palsu juga pernah. Gue sih mikir aja, kalau gue mikir masa lalu orang yang mau gue deketin, itu bisa saja dilakukan orang terhadap masa lalu gue kan?”

“Iya juga sih.”

“Gue pernah baca status temen gue di FB. Bilang gini nih.. ‘Setiap orang punya masa lalu.. Kalo ingin pasangan dengan masa lalu yg 100% bersih, silahkan cari anak baru lahir dan awasi sampai gede baru jadiin pasangan..’,” kata Egi sambil melihat handphone-nya.

sumber: armstrongismlibrary.blogspot.com

“Ehm, iya ya. Tumben lu pinter, Gi?”

“Dari dulu gue pinter kali.”

“Jadi, lu beneran sama Alena?”

“Hahahaha, benar atau tidak. Belum saatnya gue bilang sesuatu soal hubungan pribadi gue, Din. Lu tahu kan sakitnya gue yang putus kemarin ini.”

“Hmmm, baiklah. Gue tunggu kabar bahagia dari lu deh.”

“Sip.”

Handphone Egi bergetar, sebuah pesan whatsapp dari Alena.

“Udah makan sayang?”

Bahwa setiap orang memiliki masa lalu

–o–

Sebuah Perjalanan Yang Amat Panjang

Perjalanan itu tentang dua tempat dan sebuah jarak yang memisahkan

1997.

Saya berumur 10 tahun lewat setengah ketika sebuah informasi dari orang tua segera menaikkan energi eksitasi saya sampai puncak. Ya, sebuah perjalanan panjang yang jamak disebut mudik akan saya lakoni, tentunya bersama keluarga. Mudik yang tidak sembarangan karena menyangkut jarak ribuan kilometer antara Bukittinggi dan Jogjakarta. Hal ini menjadi sebuah kejadian besar terutama jika mengingat milestones keluarga ini.

1986, kedua orang tua saya menikah.
1987, saya lahir.
1988, adik saya lahir.
1989, perjalanan mudik ke Jogja yang pertama.
1990, adik saya lahir.
1995, ompung (nenek dari Mamak) meninggal.
1995, adik saya lahir.

Apakah yang terlihat dari milestones itu? Ya, sejak Bapak dan Mamak menikah, sesuatu yang berjudul “mudik ke Jogja” itu baru terlakoni satu, ya satu kali saja. Itu ketika saya berumur 2 tahun. Bahkan saya hanya ingat secuil cerita dari perjalanan yang tampaknya seru itu. Sungguh seru karena saya melihat diri saya ada di Candi Borobudur, saya mendapat cerita bahwa saya masuk Pekan Raya Jakarta, dan yang paling penting saya diberi tahu bahwa saya pernah naik pesawat.

Sejak tahun itu, keluarga kami bertambah besar, dan tidak pernah pulang lagi ke Jogja. Jadi jelas, kedua adik saya yang lahir sesudah 1989, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke kampung halaman Bapak saya.

Durasi waktu tidak mudik yang teramat panjang, ditambah heroisme bertajuk “berlibur ke rumah nenek”, plus rasa ingin tahu terhadap tempat bernama Jogja menjadi sedemikian lengkap dengan agenda utama. Sesuai umur saya yang sudah 10 tahun, saya akan segera melakoni hal yang menjadi wajib untuk orang Jawa: sunat.

Segala hal dipersiapkan oleh orang tua saya. Ini mudik massal, melibatkan enam orang. Dua orang tua akan membawa 4 anak yang notabene masih kecil-kecil. Saya yang paling tua saja masih berumur 10 tahun. Adik saya yang paling kecil bahkan baru lewat ulang tahun yang ke-2. Saya sudah merasa ini tidak akan mudah.

Dan bukanlah jatah anak usia 10 tahun untuk mempertanyakan rute dan bekal perjalanan. Semua sudah menjadi tanggungan orang tua saya. Semua baju dan segala kelengkapan lainnya juga. Dan kebetulan, kami adalah anak-anak yang sangat penurut sehingga bahkan tidak terpikir sedikitpun untuk (misalnya) membawa mainan kami dalam perjalanan yang akan sangat panjang ini. Dua buah tas besar-besar berisi pakaian dan kelengkapan lainnya, ditambah dengan sebuah keranjang hijau yang penuh dengan makanan, plus beberapa kardus oleh-oleh sudah siap pada malam sebelum kami berangkat.

Pagi hari tiba!

Anak-anak tidak berpikir panjang soal perjalanan. Ya, meski saya sudah mengenal Geografi dari 1 tahun sebelumnya, saya tidak benar-benar paham bahwa perjalanan yang akan kami tempuh ini jauhnya minta ampun. Yang saya tahu, kami akan berlibur di sebuah kota bernama Jogja. Titik.

Senyum masih merekah di bibir kami, anak-anak kecil yang belum tahu banyak. Keluarga saya mencarter sebuah angkutan kota ternama di kota Bukittinggi bernama Mersi. Ini tentu bukan Mersi yang berasal dari Mercedes Benz. Ini hanyalah angkutan kota yang dimiliki oleh koperasi bernama Merapi-Singgalang. Nama yang diambil dari dua buah gunung yang mengitari kota mungil tempat kelahiran saya itu. Merapi dan Singgalang itulah yang kemudian disingkat menjadi Mersi.

Ketika Mersi carteran sampai di pool bis Gumarang Jaya di daerah Jambu Air, saya dan adik-adik turun dengan riang. Sebuah bis besar warna kombinasi hitam, merah, dan putih sudah berdiri gagah di parkiran tempat yang cukup luas itu. Akan tetapi, karena belum waktunya berangkat, maka saya dan keluarga hanya duduk-duduk di tempat yang sudah disediakan. Tentunya bersama penumpang lainnya. Dan tentu saja, tidak ada penumpang lain yang komponen rombongannya seperti keluarga kami.

Mamak dengan sigap sudah menyiapkan perkakas anti mabuk. Salonpas sudah menempel di pusar kami masing-masing sedari rumah tadi. Dan kini sebungkus obat anti mabuk paling ternama se-Indonesia sudah siap masuk ke mulut bocah-bocah dengan naluri liburan membuncah ini.

Ketika setengah tablet obat berisi Dimenhidrinat itu masuk ke perut kami, tepat ketika panggilan untuk masuk bis muncul. Bis dengan formasi duduk 2-3, dengan sebuah jendela geser. Ah! Waktu itu saya tidak pernah berpikir soal kelas bis. Di kemudian hari baru saya kenali bahwa bis itu adalah kelas terbawah dalam stratifikasi bis lintas Sumatera.

Tentu saja demikian, terbawah. Nanti saya ceritakan penyebab utamanya.

Ini bukan pertama kalinya saya naik bis karena sebelumnya beberapa kali naik ANS atau NPM untuk rute Bukittinggi-Padang. Akan tetapi seluruh perjalanan itu dilakukan dalam rombongan. Artinya, baru kali ini saya menaiki bus dalam konteksnya sebagai angkutan umum, bukan sewaan rombongan.

Perjalanan di Sumatera, manapun, akan banyak diwarnai oleh jalan menanjak-menurun-berkelok. Saya berani bilang begitu setelah menikmati enak dan lurusnya Pantura, belasan tahun kemudian. Eksitasi untuk sampai tujuan masih tinggi ketika bis lepas landas dari pool.

Dan perlahan, itu sirna.

Belum tiga jam ketika muka-muka riang kami berubah menjadi kantuk yang berat. Saya bahkan terlelap ketika bis dengan lugas melibas setiap tikungan ketika menyisir Danau Singkarak. Mamak mulai mengeluarkan satu per satu perbekalan guna menambal lapar yang mulai terasa dalam perjalanan ini.

Tidak ada lagi senyum ketika sesekali kami terbangun. Ini belum seberapa jauh dan bocah-bocah kecil yang tadinya bersemangat tinggi sudah menjadi bocah yang sebenarnya, lelah dan mengantuk.

Saya duduk di sisi kiri bis, bagian depan, persis di dekat pintu masuk. Maka saya punya dua sudut pandang. Depan dan samping kiri. Kepala lelah saya mulai bersandar ke dinding bis dan kemudian asyik terpaku pada deretan benda yang dilewati. Mulai dari pohon, rumah, restoran, pasar, dan lainnya. Mulai dari tempat yang penuh manusia hingga tempat yang bahkan tidak ada manusia yang tampak sama sekali.

Saya mulai menikmati perjalanan ini.

“Tuh, Bang. Masih berapa kilo?” tunjuk Bapak ke sebuah benda kuning yang tampak di sebelah kiri jalan. Sebuah benda berwujud tiang kecil dengan tiga sisi yang bertuliskan huruf dan angka. Satu tiang kecil itu lewat saja ketika Bapak selesai menunjuk.

“Apa toh Pak?”

“Nanti lihat lagi.”

Saya setia menanti, dan syukurlah tidak lama. Benda yang sama kembali terlihat. Saya mulai mengenali benda itu. Benar ada tiga sisi disana. Dari sudut pandang saya melihat, saya bisa membaca sebuah rangkaian tiga huruf di bagian atas dan deretan angka persis di bawahnya. Profil serupa saya dapati ketika bis besar ini persis melewati benda itu. Dan bentuk serupa saya intip sekilas ketika bis sudah melewati benda itu.

Benda itu berlalu lagi, dan saya menanti lagi.

Ah! Saya mulai mendapati polanya. Angka yang tampak dari sisi bis ini melaju berkurang 1 setiap kali melewati benda kuning itu. Pastilah itu penunjuk arah. Dan 3 huruf di atasnya baru saya pahami ketika mencocokkan gapura yang saya lihat dengan tiga huruf di benda itu.

Ya, saya berhasil menyimpulkan bahwa Sawah Lunto masih berjarak 20 kilometer lagi, setelah mengamati lebih dari sebelas benda kuning itu.

Angka inilah yang memperkenalkan saya pada jarak. Bahwa dalam setiap putaran roda bis ini, ada sebuah jarak yang dibunuh dan sebuah perjalanan akan segera sampai tujuan. Ya, jarak hanya akan mati jika ia dilalui. Tidak ada gunanya diam dalam sebuah perjalanan, kecuali untuk merenunginya.

Bis itu akhirnya berhenti di sebuah restoran. Seluruh penumpang turun, demikian pula keluarga kami. Saya menoleh sedikit ke belakang dan menemukan ada orang yang berdiri, lalu membereskan papan tempatnya duduk, meletakkannya di pinggiran kursi, lalu berjalan ke arah luar.

Saya mulai paham kelas kendaraan ini. Dua buah kursi yang ada di bagian gang menjadi landasan untuk sebuah papan, dan ada orang duduk disana. Ternyata ini yang namanya bangku tembak. Dan tidak hanya satu orang yang berlaku demikian. Well, saya yang duduk manis di kursi saja sudah cukup lelah, bagaimana dengan mereka?

Inilah konsekuensi naik bis ekonomi.

Restoran ini ternyata juga menjadi tempat istirahat banyak bis lainnya. Tidak hanya arah Padang-Jakarta, tapi juga sebaliknya. Maka saya melihat ratusan orang dengan aktivitasnya masing-masing.

Seorang ibu yang bergegas muntah persis di sebelah bis, segera sesudah ia menginjakkan kaki ke tanah. Seorang anak yang menangis–tampak baru selesai muntah juga. Banyak ornag yang berdiri sambil merokok. Orang-orang yang sibuk ber-wudhu. Orang-orang yang setengah berlari menuju toilet. Semuanya melengkapi kehadiran manusia-manusia yang tampak sangat nyaman setelah membasuh muka, yang tampak puas sesudah menyantap sepiring nasi berikut lauknya, yang tampak sumringah karena sudah semakin dekat dengan tujuan.

Manusia-manusia itu adalah bagian dari perjalanan, bagian dari penakluk jarak. Makhluk hidup yang hendak berpindah, melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuannya. Dan semuanya menyikapi situasi dengan berbeda.

Saya mengamati itu dengan otak saya yang masih kecil. Saya adalah pengamat murni sedari kecil. Saya adalah anak kecil yang hafal 11 nama pemain Inter Milan hanya dengan sekali menyaksikan pertandingan Inter vs Bologna di tahun 1995. Saya mengamati dan menyimpan itu di dalam otak saya. Itulah sebabnya saya orang yang sangat jarang bertanya.

Keluarga kami lantas memasuki restoran. Mamak sudah membawa nasi yang cukup untuk 1-2 kali makan keluarga. Yang kami butuhkan hanya lauk dan sayur. Dan orang tua saya mengajari tips hemat makan di restoran Padang, utamanya dalam perjalanan.

Ya, Mamak mengambil piring kecil berisi cancang (daging yang diolah dengan bumbu khas dan tentunya santan) dan membagi rata ke seluruh anggota keluarga. Ya, sepiring itu saja. Kami bahkan tidak diperkenankan menyentuh dua potong ayam goreng yang terkapar manis menggoda di sebelah piring cancang itu.

Tidak ada pula memesan minuman sejenis es teh, apalagi es campur. Yang diminum hanya air putih yang merupakan paket dari sepaket nasi dan lauk yang disediakan.

Konsep restoran Padang di jalur bis memang sama dengan kebanyakan. Ketika pelanggan masuk, meja kosong. Sejurus kemudian, dengan atraksi membawa banyak piring dalam 1 kali perjalanan, pelayan akan meletakkan berbagai macam lauk pauk di atas meja. Pelayan lain akan datang membawa nasi, dan pelayanan lainnya lagi meletakkan segelas air putih dan semangkok kecil air pencuci tangan.

Nah, masalahnya, di kebanyakan tempat, perhitungannya agak rumit. Ya, misalkan seorang pelanggan mengambil 1 dari 2 potong ayam yang ada, berikut cancang, maka ia harus membayar 2 potong ayam dan 1 piring cancang. Kenapa? Karena yang dihitung buat jumlahnya, tapi piringnya. Ketika ada piring yang berkurang isinya, itulah yang dibayar.

Sebuah fakta akhir 1990-an yang saya pahami sendiri dalam perjalanan lain berikutnya.

Setelah kira-kira 1 jam bergelut dalam cuaca panas terik, akhirnya para penumpang kembali diminta masuk ke bis via panggilan yang dilakukan dengan microphone. Itulah sebabnya nomor bis harus menjadi acuan penumpang untuk setiap perjalanan jauh yang butuh istirahat makan, karena personil restoran hanya akan menyebut merk bis dan nomor lambungnya. Sebuah masalah ketika ada 10 bis dengan merk yang warna yang sama ada di tempat yang sama pula.

Tebak lanjutan perjalanan ini?

Tentu saja! Tidur panjang!

Saya sesekali terbangun dan melihat deretan pohon lewat, lalu tidur lagi. Berulang-ulang demikian hingga kemudian saya melihat langit mulai gelap. Dalam situasi yang mulai temaram saya mengintip ke arah luar dan mencari-cari papan nama yang mungkin ada.

Dan saya temukan itu. Ini sudah di JAMBI.

Perjalanan malam, apalagi dalam posisi saya duduk sungguh merupakan sebuah nuansa baru. Saya menyaksikan dengan jelas lampu-lampu besar dari arah berlawanan. Yah, ini jalan lintas propinsi, sesuatu yang di pelajaran Geografi saya kenal sebagai Jalan Lintas Sumatera. Saya tidak sedang ada di peta, saya sedang melaluinya. Itu yang ada di benak saya, tidak ada yang lain.

Perhentian kedua dilakukan di Jambi. Hari sudah malam dan penumpang sudah semakin lusuh bentuknya. Terang saja, keringat dan lelah menjadi perpaduan yang cocok di bis ini. Orang-orang yang pagi tadi cantik dan tampan sekarang bentuknya serupa, lusuh. Tentu saja termasuk saya.

Meski di Jambi, tapi tetap saja yang disambangi adalah restoran dengan menu Padang. Ini juga fakta lain yang baru saya ketahui. Ya, di sepanjang Jalan Lintas Sumatera ada banyak restoran yang sama, dan rerata bis akan mampir di restoran jenis ini. Semuanya telah menyediakan fasilitas toilet dan mushala. Meski memang terkadang tidak manusiawi.

Tidak manusiawi?

Seperti yang saya dapati di Jambi, entah kota mana ini. Saya harus buang air kecil di tempat beratapkan langit di sebuah tempat yang tidak berair. Hanya sebuah semen berlubang dan, ehm, lubang itu langsung menuju sungai yang memang terdengar mengalir deras dari tempat saya buang air kecil. Tapi siapa yang peduli tempat kalau memang sudah kebelet? Bahkan di rimbunnya dedaunan-pun hal ini bisa dilakukan.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sudah malam pula, saatnya anak kecil untuk tidur. Tapi sebelum saya masuk ke alam mimpi penuh goncangan itu, saya diberi tahu untuk menutup gorden jendela. Saya melakoninya tanpa tahu alasan yang pasti.

Tidur saya tentu tidak cukup pulas. Anak kecil yang biasanya lelap di ranjang harus tidur sambil duduk, dan sungguh saya tidak terbiasa dengan ini. Maka saya pun kadang terbangun. Dan dalam satu sesi terbangun, saya melihat kondektur meminta seorang penumpang untuk merapikan gorden hingga menutup sempurna.

“Lahat-Lubuk Linggau.”

Itu yang terdengar oleh saya, masih tanpa mengerti maknanya.

Dan saya melanjutkan lelap hingga subuh, saya mengintip ke jendela dan menyaksikan bahwa saya sudah berada di Palembang.

“Untung lancar tadi ya,” ujar kondektur kepada supir yang membawa bis ini melaju.

Dan saya juga belum mengerti makna dari gorden menutup, Lahat-Lubuk Linggau, dan lancar. Ini bak misteri yang meminta dipecahkan.

Ketika matahari akhirnya meninggi kembali, bis ini akhirnya berhenti. Dan tahu-tahu ini sudah di Lampung. Waw! Kami sudah hampir sampai di ujung Sumatera. Pantat saya sudah cukup lelah untuk terus-terusan duduk sedari kemarin pagi. Tapi saya tidak bisa melakukan apapun selain, ya, tetap duduk.

Terang membantu saya melihat pagar khas orang Lampung. Hampir setiap rumah di pinggir jalan itu memakai gapura dengan “kepala” yang sama. Dengan tulisan “bertapis” di sebelah kiri. Awalnya saya mengira kata kedua yang ada di sebelah kanan akan sama. Tapi menjadi tidak ketika sudah memasuki daerah Lampung Tengah. Gapuranya sama, tulisan “bertapis” juga sama, tapi gapura kanan memuat kata yang berbeda. Saya mencoba mencernanya sebagai sebuah slogan kabupaten.

Siang hari yang terik, bis berhenti di sebuah tempat yang tampak seperti bukan restoran. Ya, ini mungkin pool bis area Lampung karena ada banyak teknisi disini. Kami pun hanya makan di tempat yang lebih mirip kantin alih-alih restoran. Bis besar yang kami tumpangi mendapat perawatan di tempat ini, dan durasinya lumayan lama. Ditunjang cuaca Lampung yang panas bukan main (ingat, kami dari Bukittinggi yang dingin bukan main), lengkaplah sudah rasa malas yang membuncah.

Bahkan dalam waktu 24 jam, sesuatu yang membuncah dari dalam diri sudah bisa berbeda.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan saya mulai merasakan hawa penyeberangan. Kenapa? Karena di sepanjang jalan, saya menemukan berbagai tulisan “persewaan kapal”. Dan lebih menggelitik lagi ketika nama-nama persewaan kapal itu malah semacam membentuk trivia suku Batak. Ya, di sini adalah persewaan “Pasaribu”, tidak jauh ada persewaan “Situmorang”, dan berbagai marga Batak lainnya.

Saya, yang setengah Batak, tersenyum simpul melihat itu. Mamak saya, yang asli Batak, malah ketawa melihat deretan papan nama marga di sepanjang jalanan itu.

Persis ketika matahari ada di atas kepala, sampailah bis di sebuah tempat yang bernama Bakauheni. Syukur tersirat dalam hati ketika sampai di tempat ini. Sebuah perjalanan yang terhitung sangat lancar karena bisa sampai di Bakauheni tepat tengah hari. Dua puluh tujuh jam dari keberangkatan di Bukittinggi. Waw, lama sekali!

Ehm, dan nyatanya sebuah perjalanan tidaklah semudah yang barusan dilalui. Kita tidak pernah tahu hal yang ada di depan mata. Dan itu yang saya dapatkan, persis ketika memasuki kapal. Sebuah langkah menuju pulau seberang.

Ya, pada mudik edisi pertama, saya memang pernah naik kapal. Bahkan kapal yang jauh lebih besar dari sekadar kapal penyeberangan Selat Sunda. Tahun 1989 itu perjalanannya melalui pelabuhan Teluk Bayur nan kesohor dengan lagu galaunya. Menyusuri pantai barat Sumatera dan berlabuh di Tanjung Priok. Masalahnya, saya sama sekali tidak sadar soal pengalaman itu. Siapa pula yang hendak merekam memori sedemikian baik di usia 2 tahun?

Panas terik sekali di Bakauheni hari itu. Tentu saja, ini pertengahan tahun, saat memang sedang panas-panasnya. Pedagang dengan berbagai macam bawaan silih berganti naik ke bis yang saya naiki. Sebagai orang yang duduknya paling depan sendiri, tentu mengamati hal itu dengan sangat jelas.

Bis bergerak sangat perlahan, dan secara perlahan pula saya mulai merasakan perih di mata. Ah! Ini pasti kelakuan dan perbuatan dari asap knalpot setiap kendaraan yang ada di antrian. Bis-bis besar, dan sebagian lagi mobil pribadi berkumpul di satu tempat, semuanya dalam posisi menyala dan otomatis mengeluarkan gas buangnya masing-masing. Saya mulai ‘menangis’ dengan kondisi ini. Suatu tangisan yang terjadi bukan karena perasaan, tapi sebenar-benarnya faktor fisik.

Penderitaan dan tangisan itu akhirnya berakhir ketika seluruh penumpang bis diminta turun untuk naik ke kapal berwarna putih yang dengan gagahnya mengambang di lautan. Mata mulai berhenti mengeluarkan air dan yang terasa kemudian adalah hembusan kencang angin pelabuhan.

Saya dan keluarga sampai di sebuah tempat penuh kursi. Ya, itulah tempat penumpang bis akan duduk di kapal sepanjang perjalanan ke Pulau Jawa. Sebuah kursi putih segera saya duduki dan belum ada perasaan apapun. Tentu saja, heroisme ‘berlibur ke rumah nenek’ masih terpatri jelas di dalam otak.

Ada sekitar 10 menit saya duduk diam mengamati suasana, sambil sesekali menikmati sisa-sisa makanan yang dibawa oleh orang tua saya dalam keranjang hijau andalan. Tentulah tinggal sisa karena sudah lebih dari 24 jam kami meninggalkan rumah untuk sebuah perjalanan yang nyata-nyata sangat panjang ini. Saya tetap duduk hingga kemudian suara sirene terdengar. Hmm, agaknya kapal ini hendak berangkat.

Dan dimulailah sebuah derita perjalanan.

Sesungguhnya saya tangguh di darat. Sudah terbukti dalam perjalanan dari rumah ke Bakauheni, saya tidak muntah sama sekali. Ya, saya tidak mabuk dalam perjalanan darat. Goyangan jalanan bisa ditutupi oleh hijaunya sawah atau rindang pepohonan yang tampak di sisi kanan-kiri jalan. Dan celakanya, saya tidak setangguh itu di lautan.

Lantai kapal yang saya duduki mulai bergoyang. Sebuah mekanisme yang sangat bisa dijelaskan secara fisika mengingat benda yang saya naiki mengambang di perairan. Ini tentu saja sama dengan kapal-kapalan kertas yang saya ambangkan di atas Tambuo. Juga sama dengan bungkus kacang koro yang saya ambangkan di bandar (selokan gede dalam terminologi Minang) dan saya ikuti perjalanannya sambil pulang sekolah. Ya, sama persis. Hanya kali ini saya ada di benda yang mengambang itu.

Anggap saja ini pelajaran hidup. Ada masanya kita melakoni suatu peristiwa yang sering kita lihat sebagai hal yang sepele. Dan nyatanya itu tidaklah cukup sepele.

Dan goyangan itu perlahan sampai ke otak saya. Lebih lanjut lagi, otak saya tidak merespon dengan baik. Maka, terjadilah. Kepala saya mulai pusing, perut bergolak, dan isi di dalamnya nyaris saja keluar. Saya menahan diri dengan duduk diam dan menyandarkan kepala ke kursi yang ada di depan. Sementara dua adik saya yang lain dengan lincahnya beredar di sekitar ruangan kapal. Sesekali bahkan ke luar ruangan.

Ya, saya tidak terbiasa dengan suasana ini.

Lagipula tidak ada pengalih perhatian yang benar-benar asyik. Kalau di darat, saya bisa melihat kiri kanan dengan warna yang berbeda. Kalau memang sudah mentok banget, saya akan menghitung mundur benda kuning yang memuat angka kilometer terhadap tujuan terdekat. Kalau di laut?

Yang saya lihat ya cuma air, warna biru. Tidak ada yang lain. Walaupun demikian, saya tetap mencoba untuk melangkahkan kaki dan berdiri di pinggir kapal. Angin laut bertiup kencang sekali, tapi saya coba melawan guna mencari pengalih fokus. Satu hal yang disyukuri adalah karena ini musim kemarau. Maka laut biru yang terhampar luas ini sedang tenang-tenang saja. Ya, betul-betul tenang. Sekali kesempatan saya mengintip ke bagian bawah kapal dan yang saya lihat hanyalah hempasan air di lambung kapal.

Tidak ada benda kuning yang bisa saya hitung di lautan ini. Jadi saya hanya mengamati arah depan dan berharap akan tampak daratan dengan segera. Persislah kalau manusia dapat masalah, inginnya segera ada solusi di depan mata. Meski nyata-nyata tidak selalu akan begitu.

Akan tetapi, penantian selalu akan membuahkan hasil. Kapal ini pasti akan sampai. Dan ketika sudah hampir 1 jam saya melongo memandang laut lepas akhirnya tampak daratan. Secuil. Kecil sekali.

“Itu Bang, Merak,” kata Bapak.

Sebuah pernyataan yang cukup melegakan hati. Ya, setidaknya derita sepanjang perjalanan ini akan segera berakhir di tempat yang secuil itu tadi.

Mendadak waktu menjadi terasa amat sangat lama sekali.

Saya terus-terusan melihat daratan itu dan tetap saja kecil. Penambahan ukurannya tidak signifikan. Bahkan kapal malah berjalan ke arah yang tampaknya lain, semacam menjauhi daratan tersebut. Saya sudah semakin pusing dan akhirnya memilih untuk kembali duduk. Berharap perjalanan penuh goyangan ini segera berakhir. Kalau tidak, target saya untuk tidak muntah sepanjang perjalanan ‘berlibur ke rumah nenek’ ini tidak akan tercapai.

Duduk sambil menyanggakan kepala di kursi putih yang ada di depan. Itu saja yang saya lakukan. Kepala ini rasanya sudah sangat berat. Well, sebuah kondisi yang mungkin sangat biasa untuk bocah berusia 10 tahun dengan riwayat imunitas rendah. Ya, saya termasuk anak lemah. Saya bahkan satu-satunya anak di keluarga ini yang pernah menderita step. Suatu kondisi panas tinggi yang sampai membuat bola mata yang berwarna hitam tidak kelihatan lagi. Suatu keadaan antara hidup dan mati. Dan syukurlah, saya masih bisa hidup. Mengingat kejadian sekitar 9 tahun silam itu sesungguhnya memberi makna lebih untuk hidup. Saya masih bisa bertahan meski dengan fisik yang lemah. Bukankah bertahan itu jauh lebih penting? Lemah masih bisa diperkuat bukan?

Keramaian mulai tampak ketika penumpang-penumpang mulai mengemasi barang bawaan masing-masing dan bersiap turun ke dek terbawah, tempat kendaraan terparkir. Ramai sekali. Dan sesungguhnya hal itu membuat kepala pusing ini jadi bertambah pusing. Tapi, ya sudahlah. Perjalanan kan harus dilanjutkan.

Saya ikutan turun. Anak usia 10 tahun harus taat dan patuh pada orang tua. Maka, saya meniti tangga satu per satu untuk kemudian sampai di tempat yang luas sekali, di dek terbawah. Banyak kendaraan besar terparkir di tempat ini. Satu hal yang langsung terbayangkan adalah kalau sampai kapal ini tenggelam, maka bis dan truk ini adalah yang pertama sampai ke dasar laut. Ngeri.

Sambil berjalan di antara bis-bis dan truk-truk, saya mendengar deru perlahan. Hmm, seluruh kendaraan ini sedang dalam posisi menyala. Saya sempat terpikir sesuatu, tapi segera lewat begitu saya menoleh ke sebuah jendela kecil di dinding kapal.

Biru, bergoyang. Itu air laut. Dan saya sangat dekat dengan air laut.

Yak, persis di bawah saya adalah air laut. Segera, bayang-bayang tenggelam kembali mengemuka dalam benak saya. Entahlah, saya selalu berpikir negatif terlebih dahulu alih-alih berpikir tentang kesenangan.

Dalam ketakutan yang mendadak muncul, kedua bola mata yang sempat jadi kasus 9 tahun lalu ini kembali terasa perih. Nafas saya juga mulai terasa sesak. Tubuh kecil saya masih sangat dekat dengan knalpot dan asapnya begitu perkasa keluar menyergap orang-orang yang ada di dek ini.

Mungkin tidak ada yang peduli, atau mungkin sudah sangat terbiasa. Tapi nyaris tidak ada orang yang mempermasalahkan keadaan ini selain tiga anak kecil di bis bagian depan. Saya dan adik-adik mengeluh mata pedih pada orang tua kami. Adik saya mungkin masih terlalu kecil. Ehm, ternyata tidak, dia tidur. Pantas saja.

Derita ini belum berakhir juga ternyata. Saya menahan nafas yang sudah sangat jelas berbau asap knalpot. Mata perih. Bis ini bis kelas ekonomi pula. Kalaulah jendela saya tutup, jendela yang lain masih memberikan ruang untuk asap knalpot masih ke dalam bis. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang murah. Jangan pernah abaikan itu.

Ada rasa yang jauh lebih penuh dengan eksitasi daripada sebuah tas baru ketika kenaikan kelas. Rasa yang baru saja saya pahami. Apa itu? Melihat pintu besar kapal di ujung sana terbuka. Cahaya yang perlahan tampak di depan mata itu menandakan harapan yang sangat besar untuk segera lepas dari derita goyang-goyang di kapal plus mata perih ditambah asap yang memenuhi hidup. Ah!

Pak supir menginjak pedal gas dan kopling secara perlahan. Bis ini melaju secara perlahan pula. Sementara kemuakan saya tidak bisa dijadikan perlahan. Saya sudah sangat ingin keluar dari tempat ini. Saya muak, tapi saya diam.

Ya, itulah saya. Dalam kondisi di tempat umum, saya akan tampak sangat penurut. Sejak kecil saya dibiasakan demikian. Saya tidak seperti seorang anak kecil yang menangis meraung-raung karena kebelet pipis di bis yang tidak ada toiletnya. Kalau saya, ya saya tahan. Kalau itu sudah amat sangat parah dan benar-benar tak tertahankan, baru saya bilang. Nyatanya, saya dengan polosnya bertahan sepanjang perjalanan dari Bukittinggi ke Bakauheni.

Roda bis berputar terus, dan pintu terang di depan itu semakin dekat. Air mata semakin deras mengucur, hidung sudah semakin susah bernafas dengan benar. Sebuah harapan sederhana tampak di depan mata. Saya hanya ingin keluar dari kapal ini. Itu saja kok.

Syukurlah, permohonan sederhana itu segera terkabul. Perlahan terang melingkupi dan jelas ini sudah sampai. Ini di Merak, dan itu pertanda, saya sudah berada di Pulau Jawa. Pikiran kecil saya berkata, “Rumah simbah sudah dekat!”

Benar?

Tentu tidak.

Ternyata derita di kapal itu sesungguhnya baru awal. Yah, itu hanya secuil dari derita lain yang muncul kemudian. Dalam perjalanan kami di tanah Jawa. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Perjalanan Keputusan

“Bruummmm…”

Raungan sepeda motor begitu membahana begitu memasuki ruang sempit di kos-kosan Ray. Bahwasanya Tuhan tidak lagi menciptakan tanah adalah sebuah kendala tersendiri buat anak kos. Kenapa? Ya, pemilik kos-kosan dengan asoy geboy membuat kos-kosan dengan fasilitas tempat parkir yang minim abis. Dan karena faktor biaya, tetap saja ada anak kos yang akan menyewa tempat meski parkirnya minimalis begitu.

Ray turun dari sepeda motornya dengan gontai lantas memarkir kendaraan miliknya itu mepet-mepet. Ya memang harus mepet karena ada 10 sepeda motor lain yang ada di kos ini. Semua perlu tempat.

Bahwa tempat parkir kos ini adalah anomali di hati Ray. Ketika disini ada muatan tapi minim tempat, maka di hati lelaki menjelang dewasa itu berlaku sebaliknya. Ada tempat yang luas, tapi tidak ada muatan.

Mirip dengan parkiran kos yang sudah menempatkan bahwa di sudut dekat pintu itu adalah kapling punya Ray, maka di hatinya juga sudah ada pemilik kapling itu.

Ada tempat, ada pemilik kapling, tapi tempat itu kosong, tidak bertuan.

Ray menyeret langkahnya menuju kamarnya, empat meter dari tempatnya parkir sepeda motor. Serenteng kunci dikeluarkan dari saku, masuk ke lubang kunci, pintu segera terbuka.

Tas yang disandangnya segera terlempar ke sudut kamar, sementara pemilik tas itu dengan pasrah terjun ke kasur yang terhampar di lantai. Seragam masih melekat di badan. Tangan Ray segera menuju ke saku celana, mengambil handphone dan melihat isi tampilan layar dalam posisi tidur terlentang.

Inilah keseharian Ray sepulang kerja, terkapar manis bersama linimasa. Ya, linimasa yang spesifik, merujuk pada sebuah nama yang ada di Twitter, di Facebook, dan di Blogspot. Linimasa yang punya 3 ID berbeda tapi dimiliki oleh satu orang. Persona yang sama dengan pemilik kapling luas di hati Ray.

“Hehmmm.. Kapan kelarnya niy?” gumam Ray.

Agaknya ia sudah ada dalam posisi lelah. Stalking nyata-nyata melelahkan. Selain tentunya jiwa tersiksa. Stalking kadang menjadi kebodohan, apalagi ketika dengan santainya Ray membuka ‘view conversation’ pada twit yang nongol di timeline si pemilik kapling hati itu.

Sebut saja itu kebodohan yang (kadang-kadang) indah.

Ray terpejam sejenak. Tangannya mengepal dan nafasnya ditarik dalam-dalam. Seluruh oksigen yang sejatinya sudah minimalis masuk ke dalam paru-paru.

“Ini harus diselesaikan,” bisiknya.

Ray lalu membuka aplikasi kalender di handphone-nya, menatap tanggal-tanggal yang tertera disana. Ia lantas mengetik dua kata pada kotak yang menunjuk tanggal 30 April.

Perjalanan Keputusan

Jemarinya masih ada di handphone itu, menuju aplikasi burung biru. Kali ini Ray mengetik sebuah kalimat singkat.

“Mohon bantuannya pada semesta.”

Lalu Ray terlelap, dengan handphone di tangan, dengan seragam di sekujur tubuh, dengan ID Card perusahaan masih menggantung di leher. Sebuah lelap yang lelah.

* * *

sumber: ecosalon.com

“Magelang? Ada?”

Ray beringsut dari kursi yang sudah membawanya ratusan kilometer dari tempatnya berasal. Selimut yang semalaman menempel di tubuhnya segera lepas. Sudah saatnya ia turun, untuk memenuhi segala bentuk pencarian keinginan semesta dalam perjalanan keputusan.

Kaki kiri Ray menapak manis di depan Armada Town Square alias Artos. Masih pagi hari, dan kota ini dingin sekali. Ray melempar pandang ke sekeliling. Selintas, merk-merk yang ada di depan Artos ini mengingatkannya dengan hiruk pikuknya ibukota. Ah, sampai juga mereka di kota kecil ini.

Tangan Ray menyambar handphone di saku jaketnya. Powerbank dan kabel masih menjadi satu dengan handphone itu. Sungguh mudahnya teknologi sehingga nge-charge handphone-pun bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Dan teknologi menjadi semakin mudah ketika kemudian Ray membuka GPS. Diketiknya nama sebuah hotel dan segera peta Magelang plus petunjuk arah ada di kotak kecil bernama handphone itu. Semuanya tampak begitu sederhana. Sesuatu yang dahulu dibayangkan saja tidak bisa. Begitulah dunia.

Jarak hotel yang dimaksud nyatanya tidak terlalu jauh. Ray lantas berjalan mengikuti petunjuk yang ada di GPS-nya. Pagi ini menjadi tidak lagi dingin karena seluruh sel di tubuh Ray bergerak mengikuti arah GPS itu. Tidak jauh benar memang, karena 15 menit kemudian ia sampai di hotel yang namanya persis sama dengan yang tertera di GPS.

Tidur di dalam bis sungguh tidak lelap meski Ray sudah mengambil bis yang paling oke, Super Executive. Maka, begitu kamar hotel itu dibuka, tubuhnya segera terkapar manja.

Tangannya mengetik sebuah pesan singkat, sesaat sebelum ia tertidur.

Dua jam kemudian, Ray terbangun sejenak. Ia segera melihat ke handphone-nya dan tidak ada SMS masuk. Ray melanjutkan tidurnya.

Empat jam berikutnya, Ray akhirnya benar-benar terjaga. Sudah siang di Magelang dan lapar mulai terasa. Ketika ia terduduk di ranjang hotel, tangannya kembali menggapai handphone-nya. Tidak ada SMS masuk.

“Satu poin dari semesta,” ujar Ray sambil melihat ke kotak kecil sejuta fungsi itu. Ya, sebuah pesan singkat yang tidak berbalas.

* * *

“Patas AC ngendi Pak?” tanya Ray pada seorang bapak yang berdiri dengan memegang setumpuk kertas kecil warna biru.

“Disini, Mas.”

“Sudah lewat?”

“Nanti lewat lagi.”

Ray pun melakukan transaksi pembelian tiket bis Patas AC dengan bapak yang berdiri di depan warung itu. Transaksi kilat khusus yang bahkan semenit pun tidak sampai. Ray lantas berlalu dan menunggu, sambil sesekali melihat transaksi yang sama terjadi di depan matanya.

“Semarang?”

Orang-orang yang sedang asyik duduk dan berdiri segera bersiap. Rokok dimatikan, minuman dihabiskan, tas-tas segera disandang, pun handphone segera dimasukkan ke kantong.

Ray mengikuti orang-orang yang menaiki bis Ramayana yang muncul dari arah kanan. Ia mengambil posisi idealnya, kebetulan masih ada. Yup, nomor 4 dari depan, di sisi tempat supir berada. Entahlah, posisi itu adalah kesukaannya ketika naik bis. Kecuali busway tentunya.

Perjalanan keputusan itu berlanjut, dan baru ada satu poin dari semesta. Ray mencatat itu dengan baik, sambil berharap ada pertanda lain yang memungkinkannya untuk segera memutuskan.

Lelap menjadi teman Ray sepanjang perjalanan melewati Secang, Ambarawa, Ungaran, dan seterusnya. Ia mulai terjaga ketika deretan kaleng biskuit ukuran raksasa tampak di sepanjang jalanan.

“Mau sampai,” bisiknya.

Pandangan Ray menuju ke langit, mendung menggantung manja disana. Dalam hati ia berdoa semoga hujan tidak akan cepat-cepat turun.

“Banyumanik!” teriak kondektur bis Patas AC itu.

Ray dan beberapa orang lain bergegas turun. Dan ketika kakinya menapak di tempat yang bernama Semarang itu, ia mulai keder. Bukan keder karena ia baru pertama kali menginjakkan kaki ke kota dan tempat ini. Tapi keder pada tanda yang hendak semesta tunjukkan padanya.

“Udah jauh-jauh juga. Lanjut!” katanya dengan lembut sambil berjalan ke arah utara.

Kembali GPS menjadi andalan. Ia lagi-lagi mengetik nama sebuah hotel dan kali ini tampaknya GPS kurang berjodoh dengannya. Tempat itu tidak cukup dekat, plus mendung yang kali ini menggantung tapi tidak sambil manja.

Ray memutuskan untuk berjalan kaki, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Langkahnya terus menyapu jalanan yang baru pertama kali diinjak seumur hidupnya itu. Melewati Museum Rekor Indonesia, Jamu Jago, Carrefour, dan kemudian KFC.

Ketika sampai persis di depan ADA, air mulai menetes perlahan dari langit.

“Ups…,” gerutu Ray sambil mempercepat jalannya. Ia bisa saja berlari, tapi akan menjadi pemandangan yang aneh di jalanan itu.

Air yang menetes itu mulai bertambah, sementara pengendara sepeda motor satu persatu berhenti untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Sementara Ray masih saja terus berjalan.

Hingga kemudian, air di langit itu benar-benar tumpah. Ray menuju tempat berteduh terdekat, sebuah gapura. Ah! Tapi atapnya kecil sekali.

Ray melihat sekeliling dan melihat sebuah pos ojek, dan seorang tukang ojek melambaikan tangan padanya.

“Teduhan kene wae, Mas,” teriak tukang ojek itu.

Bahwa keras dan mirisnya ibukota mampu membuat Ray lupa bahwa kebaikan itu sejatinya masih ada, meski tidak di ibukota.

Tanpa buang waktu, Ray berlari ke pos ojek. Persis di saat yang sama, seorang tukang ojek dengan ponco masuk ke pos ojek itu. Maka, seketika sebuah ide terlintas di benak Ray, meminta untuk dieksekusi.

“Mas, ke hotel yang disana itu ya,” ujar Ray.

“Di belakang?”

“Di hotelnya, Mas.”

Ray langsung menelusup masuk ke dalam lindungan ponco. Sepeda motor itu melaju dan air yang tumpah dari langit masih pada eksistensinya. Sepeda motor itu melaju pelan, entah kemana. Sungguhpun Ray tidak tahu tempat itu, dan tidak tahu sejauh mana lagi hotel yang ia maksud.

Nyatanya memang dekat, tak sampai 5 menit sepeda motor ojek itu berhenti di sebuah tempat yang teduh. Tidak ada air menetes dari langit, tertahan oleh atap.

Ray membayar lebih untuk jasa ojek ini. Setidaknya jasa ojek masih JAUH lebih manusiawi daripada ojek yang pernah ia rasakan di kawasan industri, yang mematok harga gila untuk jarak yang teramat pendek.

Dengan tubuh basah, Ray masuk ke hotel. Secara muka dan aroma, ia jelas tidak tampak seperti orang yang mampu menginap di hotel. Tapi terlepas dari itu sesungguhnya ia mampu.

Sebuah kamar dengan harga yang cukup mahal ia ambil. Ray ingin menikmati perjalanan keputusannya dengan nyaman. Kalaulah pertanda semesta itu masih dalam tanda tanya, setidaknya ia masih bisa menikmati hidup. Kalaulah pertanda semesta itu lantas buruk, setidaknya ia masih bisa menghibur diri.

Lelah berjalan cukup jauh, tubuh Ray kembali terkapar manis di ranjang yang jauh lebih empuk. Tentu tidak lupa mengetik sebuah pesan singkat.

Dua jam berlalu.

Ray bangkit, menyalakan TV dan AC yang sedari tadi belum menjalankan fungsinya. Sesudahnya, tangannya kembali ke handphone yang ternyata…. tidak ada pesan singkat apapun.

Tidak berbalas.

Ray beranjak ke WC. Menikmati setiap fasilitas di hotel itu penting karena sejatinya itu semua dibayar. Ray akan selalu mengeksplorasi semuanya jika itu adalah hotel yang dibayar sendiri. Kalau hotel yang dibayari kantor, tentu tidak terlalu jadi beban di pikiran.

Ray kembali, dan masih berharap ada sesuatu di handphone-nya.

Tangannya membuka lock tombol.

1 Unread Message

Ray hampir bersorak sebelum kemudian ia sadar kalau kamarnya terletak di dekat sisi ramai hotel ini. Sebuah pesan balasan yang diharapkan tadi diterima juga!

Dengan harapan yang lebih tinggi, Ray mengirimkan pesan lagi, ke tujuan yang sama.

Harapannya tinggi dan terus membumbung naik seiring terkirimnya pesan singkat itu. Ray duduk tidak jauh-jauh dari handphone yang sedang diisi power-nya itu sambil menonton televisi.

Lima belas menit, tidak ada pertanda dari handphone itu.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Dua jam.

Dan hari sudah jam 9 malam. Harapan yang tadinya tinggi itu perlahan menurun, jatuh, dan lantas terkubur.

Ray terlentang di kasur yang empuk sambil berkata, “dua poin dari semesta.”

* * *

Pagi hari di hotel yang dibayar sendiri tentunya bernama breakfast semaksimal mungkin. Ray segera turun, menuju tempat breakfast di pinggir kolam renang dan meminta segala yang mungkin dipesan. Ada dua hal, ia benar-benar lapar atau itu hanyalah kamuflase atas dua pertanda dari semesta yang muncul dua hari sebelumnya.

Sesudah mengisi perut, Ray lantas menuju kamar kembali lalu bergegas mandi. Tidak cukup lama, ia kemudian sudah siap menempuh perjalanan yang mungkin akan menjadi pertanda kemenangan semesta atas perjalanannya.

Ray keluar hotel dan berjalan ke arah selatan. Sebuah pemandangan unik ada di depan markas tentara di seberang jalan. Bukan markas tentaranya, tapi beberapa pohon dan banyak hewan–entah burung entah angsa–yang berumah dan berkeliaran di atas sana.

Ini indah.

Langkah Ray terus melaju di pinggiran jalanan yang penuh kendaraan melaju kencang itu. Kaki-kakinya terus menuju sebuah tempat yang dianggapnya peraduan terakhir dalam perjalanan keputusan ini. Jika kali ini semesta juga berkata TIDAK, maka sampailah Ray pada penantian kesimpulan.

Semakin dekat dengan rumah yang ia tuju, hatinya semakin deg-degan. Langkahnya menjadi pelan dan gontai. Tapi sepelan-pelannya langkah itu akhirnya sampai juga pada tujuan. Mendadak jarak menjadi sedemikian dekat.

Ray berdiri di depan sebuah rumah. Hanya berdiri.

Pandangannya terlempar ke sekeliling dan memastikan bahwa rumah ini sama persis dengan sebuah alamat yang pernah masuk sebagai pesan singkat di handphone-nya. Ia tak perlu mengeceknya karena sudah hafal benar alamat rumah itu pada kali pertama membacanya.

Bahwa cinta kadang membuat logika berantakan.

Ray masih berdiri, langkahnya berhenti. Niatan untuk masuk dan mengetuk pintu tercekat hanya 2 meter dari depan pintu. Dua meter yang ternyata jauh lebih sulit daripada ratusan kilometer yang dilaluinya sebelum sampai ke tempat ini.

Hingga kemudian keberanian itu secuil muncul. Langkahnya menembus dua meter yang sulit itu hingga kemudian tangannya mengayun ringan.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Ketukan halus, tanda lemas. Satu kali percobaan tanpa jawaban.

“Satu lagi, berarti tidak,” bisik Ray sambil kemudian mengayun tangannya untuk percobaan kedua.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Satu menit.

Lima menit.

Tujuh menit.

Dan sunyi masih ada disana.

Ray mundur teratur dan membalikkan tubuhnya. Ia menengadah ke langit dan bergumam, “Sudah tiga dalam tiga hari. Oke semesta menang.”

Semesta menang, keputusan itu akhirnya dibuat.

* * *

“Mangkang habis!”

Kaki kiri Ray menginjak terminal Mangkang. Sebuah tempat yang menjadi jalannya untuk pulang, kembali ke rutinitasnya, dengan sebuah keputusan.

Ray menatap lurus menerawang di jalur bis tempatnya menanti. Seketika bak ada pemutaran film layar lebar disana.

Terlintas tahun-tahun yang berlalu bersama si pemilik kapling hati itu. Mulai dari pertama kali bertemu, berkenalan, dan akhirnya Ray jatuh cinta.

Semuanya terjadi dengan sederhana meski tidak berdampak sama sederhananya. Jatuh cinta itu adalah kecelakaan yang indah, yang mungkin akan jadi buruk jika terjadi pada saat atau objek yang tidak tepat.

Ya, ini memang tidak tepat.

Ray sadar soal ketidaktepatan itu dan kemudian memilih menyimpan rasa itu hingga bertahun lamanya, hingga membatu dalam hatinya.

Sebuah rasa yang kemudian tidak bisa dibunuh karena ia tidak pernah dilahirkan. Tidak lahir, tapi sudah hidup dan menghuni ruang besar di hati Ray.

Segala momen kebersamaan itu berseliweran bersama bis-bis yang silih berganti lewat. Satu per satu.

“Bejeu!”

Sebuah bis warna hitam yang dinanti akhirnya tiba. Ray bergegas berdiri dan film yang diputar tadi seketika selesai. Ray masuk via pintu tengah dan menuju kursi yang kali ini bukan favoritnya.

Ia duduk, mengatur kursi, dan lantas memejamkan mata.

“Aku memang tidak boleh mencintai kamu. Dan semesta sudah memberi pertanda itu. Sekarang, aku tidak lagi orang yang mencintaimu. Aku hendak menjadi orang yang PERNAH mencintaimu.”

Sebuah lafal dalam hati Ray. Sebuah lafal yang menjadi kesimpulan dari perjalanan keputusan. Tak lupa Ray memberi catatan khusus dalam kesimpulannya.

Tapi tempat di hati ini tetap milikmu.”

Polbek – Prolog

Jogja panas walaupun sudah sore-sore sendu. Sebuah kipas angin dari jaman batu masih setia bertiup ke satu arah. Yah, benda itulah satu-satunya penyejuk di kamar kosku yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat, tapi mendadak kecil karena seluruh kenangan hampir 8 tahun disimpan di ruangan yang sama. Kipas itu aku beli di pekan pertama aku menjadi penghuni Jogja, itu sudah hampir 8 tahun yang lalu. Waktu itu aku baru masuk SMA, sekarang sudah lulus kuliah. What a long time.

Sebuah kemeja hitam lengan panjang terhampar manis di depanku. Sebuah setrikaan model jadul juga sudah mengambil posisi siap sedia. Kipas, kemeja, setrika, dan aku. Oh, kelupaan. Ada juga sebuah monitor yang merangkap layar televisi dengan bantuan TV Tuner. Sungguh sebuah sore hari yang kelam bagi anak kos.

Aku melihat jam, dan sudah mendekati angka 6. Aku lantas mulai mengintimkan hubungan kemeja hitam dengan setrikaanku. Dalam suasana yang hangat mereka bercumbu. *ini apaan sih?*

Dalam waktu yang tidak lama lagi, aku yang adalah seorang PENGANGGURAN, akan berangkat ke Bandung dalam rangka wawancara kerja. Minggu lalu aku ditelepon sebuah perusahaan yang lumayan wahid, kurang dari 24 jam sesudah aku memasukkan aplikasi via seorang kakak kelas. Ya, namanya juga usaha cuy!

“Peluklah diriku dan jangan kau lepas….”

Sebuah lagu dari Alexa yang berjudul “Jangan Kau Lepas” tiba-tiba terdengar. Itu sudah pasti dari handphone baruku yang sebenarnya berwujud lebih mirip remote AC karena kecil dan warnanya putih. Untung nggak ada AC di kamar ini, jadi nggak akan ada kejadian tertukar antara HP dengan remote AC.

Kucari-cari HP yang kubeli karena merupakan HP Slide yang paling murah itu. Tubuhnya tertindih bantal di atas kasurku. *ini apa pula sih?*

Sebuah nomor, 021, meneleponku sore-sore begini. Ada apa gerangan?

“Selamat sore.”

“Iya, Mbak. Selamat sore.”

“Maaf menelepon sore-sore.”

“Sudah saya maafkan, Mbak.”

“……”

Oh, oke. Yang sebenarnya bukan begitu. Lagian mana berani saya bilang begitu? *yang bener aja*

“Mau memberitahukan, setelah kami diskusikan dengan user hasil wawancara kemarin, maka kamu diterima. Sekarang bisa kita jadwalkan untuk medical check up?”

Berasa dunia ini berputar. Yah, 3 minggu yang lalu aku interview di sebuah perusahaan dan sepulang dari sana, aku tergolek lemah seharian gegara nggak ada telepon konfirmasi dari perusahaan itu. Ya sudah, aku bermaksud pasrah dan tawakal pada kegagalan yang kesekian itu. Ketika aku sudah lupa, sudah tidak berharap, eh dia nongol lagi. Lebih oke lagi ketika harapan itu kembali persis ketika aku sedang menyetrika baju guna interview besok di Bandung.

Ini kerjaannya semesta pastinya.

Telepon sore itu adalah pembuka semua jalan yang lantas ada di depan. Aku menerima tawaran itu dan bergabung dengan perusahaan farmasi yang terkemuka, di sebuah kota bernama Palembang.

* * *

Aku punya cukup banyak aset ketika jadi anak kos. Sebuah sepeda motor yang umurnya baru 1,5 tahun tersedia. Sebuah desktop lengkap juga ada. Tapi aku juga punya adik yang butuh desktop itu, dan adik lainnya yang butuh sepeda motor itu.

Maka, kutinggalkan semuanya di Jogja.

Dan aku memulai semuanya di Palembang, nyaris tanpa apa-apa. Aku menjadi pelanggan rutin warnet di dekat kos-kosan. Aku juga pelanggan setia angkot hijau Ampera-Lemabang. Aku tentunya juga menjadi nebengers sejati. Ya, nyaris nggak modal pokoknya. Aku menjalani hari-hari yang sulit tanpa segala fasilitas yang bisa memudahkan itu, dan syukurlah kalau aku akhirnya masih bisa SURVIVE.

Sampai suatu hari tiba: gajian plus bonus tahunan.

Sejumlah uang yang cukup besar bagiku, kini siap memberiku kelengkapan hidup. Sebuah nominal yang sudah kurencanakan peruntukannya, sebuah angka yang akan mengubah hidupku.

Maka aku memulai perjalanan dengan membeli sebuah TAS.

Macam Macam Settingan HP Kaum Jomblo

Pernah nggak sih ngelihat handphone seseorang bergetar sepanjang hari? Pernah melihat handphone yang bersuara (juga) sepanjang hari? Atau ada yang sepanjang waktu asyik dengan handphone-nya? Nah, jangan salah, diantara manusia-manusia yang sedang asyik dengan benda mini itu, sejatinya banyak juga yang jomblo.

Dannn… hal itu bisa juga diketahui dari setting yang dibuat di HP-nya.

Loud Pake Banget

Settingan ini berlaku untuk jomblo yang saking lamanya tidak melakukan pendekatan atau didekati sama orang lain. Saking lamanya, kadang-kadang lupa kalau punya HP. Nah, dalam rangka agar tidak lupa kalau punya HP, maka dibuatlah setting yang Loud maksimal. Model begini juga ditujukan agar orang sekitar tahu kalau dia menggunakan HP-nya, selain sebagai ganjalan pintu atau untuk melempar anjing galak.

Settingan ini ternyata juga berguna agar tampak heroik di depan khalayak. Semisal nih, untuk sebuah SMS, dibuat ringtone lagu “Jatuh Cinta” full utuh. Jadi, meskipun itu cuma SMS dari operator atau sekadar nawarin kartu kredit, tetap berasa ada yang nelpon *soalnya ringtone-nya lamaaaaa dan gedeeeeee*

Getar Kagak, Bunyi Apalagi

Ini berlaku untuk jomblo-jomblo yang baru putus, atau yang jadi korban PHP, atau yang mulai pasrah pada kejombloannya. Kalau yang baru putus tentunya karena biasanya itu HP nggak pernah berhenti bergetar, eh tahu-tahu sepi. Guna menghilangkan kesan itu, maka mode getar-nya juga di off sekalian. Sunyi banget mengandalkan backlight jadinya. Mode ini sangat irit sama batere. Tapi jadi nggak irit karena meskipun sudah diset tanpa getar dan bunyi, pasti itu tangan dikit-dikit langsung pegang HP dan sekadar mengecek apakah ada BBM atau Whatsapp atau SMS atau–yang paling diharap–panggilan telepon dari mantan pacar/mantan PHP/mantan gebetan.

HP Off Dengan Sendirinya

Ini karena benar-benar jomblo, nggak ada gebetan, nggak ada yang didekatin, nggak ada yang di-sepik, nggak perlu HP-lah pokoknya. Jadi itu HP akan mati ketika batere-nya habis. Maklum, nggak pernah diapa-apain, jadi nggak rajin juga yang nge-charge. Nanti giliran ada yang nyari, mau ngajak arisan misalnya, baru deh sadar kalau “lu kok ga bisa dihubungin?”. Sesudahnya, ya bakal sama lagi.

Homescreen Foto

Rerata jomblo ngenes akan menggunakan teknik pemujaan jenis ini. Jomblo biasa tidak sampai ke level ini sih, karena memang spesial untuk jomblo ngenes. Jomblo ngenes adalah kolektor foto yang handal dari FB dan Twitter dan kemudian memilih salah satu foto dan lantas dijadikan homescreen. Ini juga berlaku untuk jomblo yang kangen/masih sayang sama mantannya. Jadi deh itu foto mantan dijadikan homescreen. Hmmm, jadi bisa dengan mudah melihat masa lalu yang ‘kelam’ itu.

Akses Cepat Untuk BBM/Whastapp

Kan ada nih, kalau di Android memindahkan beberapa menu ke homescreen. Jadi deh, aplikasi BBM dan Whatsapp itu ditaruh di depan, jadi kalau pengen lihat kapan terakhir kali gebetan/mantan buka BB atau WA, bisa segera menuju aplikasi itu. Dannn, biasanya lagi gebetan/mantan ada di list paling atas. Dan paling ngenes adalah rerata pesan BBM atau Whatsapp itu dikirim, diterima, dibaca, dan TIDAK dibalas.

Yah, demikian macam-macam settingan HP kaum jomblo. Tulisan ini hanya hiburan semata *kalau dianggap menghibur*

Cemungudhh Kk…

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂