All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Banjir Dan Saya

Bahwa menurut saya pemberitaan banjir sekarang sudah sangat lebay sekali, mari kita abaikan dulu. Iya, lebay. Kenapa? Berita ini seolah-olah bikin yang menderita itu cuma ibukota, padahal yang banjir di tempat lain juga banyak. Apakah kita melihat breaking news untuk banjir di Bandung (yang dekat aja deh) misalnya? Nggak. Jadi, ya begitulah.

Saya dan banjir. Banjir dan saya. Emang kenapa?

Pertama-tama, saya besar di sebuah kota dataran tinggi. Jadi, hampir bisa dipastikan nggak banjir. Karena sejauh ini, air masih turun ke bawah. Sampai sekarang sih begitu.

Lalu ke Jogja, sekolah. Seperti obrolan dengan adik kelas kemarin, kalau Jogja ya banjir-banjir nggenang dikit, lalu udah. Ntar juga surut. Meski Jogja kalau hujan itu nggak kira-kira wujudnya, tapi nggak banjir-banjir amat. Sejauh ini saya baru sekali mati mesin (dengan Alfa) di daerah genangan dekat Mino. Itu semata-mata karena saya yang nekat.

Nah, banjir yang sebenarnya baru saya kenal di Palembang. Kota dengan drainase yang menurut saya nggak oke. Pertama kali saya lewat Jalan Mayor Ruslan dan melihat warna air di selokan dan udah tahu kalau bakalan banjir. Dan benar saja, daerah Mayor Ruslan, via IBA sampai depan SMK itu kalau hujan gede dikit aja. Nggenangnya, wew…

Ada suatu masa ketika saya hendak bergerak dari tempat karier, dan melakukan interview. Saat berangkat interview dan pas sedang banjir besar (ini di Jakarta) saya langsung ilfil. Meski saya lantas melewatkan dengan baik semua interview dan DITERIMA, tapi saya nggak jadi ambil itu kesempatan. Kadang menyesal, tapi giliran udah banjir begini, bersyukur juga sih.

Yang paling seru ya waktu di mess dulu. Hujan besar kadang bikin mess kebanjiran. Dan syukurlah, kamar saya termasuk yang AMAN dari cengkraman banjir. Hehehe..

Kadang ingin bergerak ke tempat lain yang bebas banjir. Tapi di era betonisasi masa kini, dan di era industrialisasi (dimana uang itu adanya ya di Jakarta dan kawasan lain di sekitarnya), saya mau kemana?

*mendadak galau*

Ya sudah, begitu saja..

Bus Cikarang Jogja

Tadi iseng-iseng ngetik keyword bus cikarang jogja, nggak nyangka ternyata blog saya dapat halaman 1 Google.. Hahahaha..

Nah, biar kumplit, dan nggak nyesel masih blog ini, saya share sedikit pengalaman saya tentang naik bus dari Cikarang ke Jogja.

Sejak bergabung jadi warga Cikarang, Mei 2011 silam, saya sudah beberapa kali naik bus. Dan menurut saya, jadwal bus dari dan ke Cikarang ini emang paling oke untuk orang yang hendak PJKA alias Pergi Jumat Kembali Ahad. Kenapa?

Rerata bus dari Jakarta itu berangkat jam 3-an, itu masih jam kerja. Estimasi sampai di tol Cikarang adalah jam 4-5 sore. Dan memang jam segitulah bus-bus jurusan Jogja dan sekitarnya mematok waktu keberangkatan. Jam segitu sudah cocok banget, sudah jam pulang kerja.

Ketika kembali, kalau lancar bus yang berangkat sore dari Jombor akan sampai di Cikarang jam 4-5 pagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur sebelum kemudian berangkat kerja. Asli, tidak perlu izin, apalagi cuti.

*salah satu nilai plus kerja di Cikarang*

Ada beberapa tempat untuk mencari bus dari Cikarang ini. Saya biasanya ambil di daerah sekitar pintu tol Cikarang Barat. Ada banyak agen di sini, berserakan lah pokoknya. Mau yang jenis apa aja ada.

Daripada nggak jelas, saya coba cerita yang pernah saya lalui saja ya.

Salah satu yang sering saya gunakan adalah Rosalia Indah. Untuk kelas Exe, kalau nggak salah sekitar jam setengah 5 berangkatnya. Cocok juga buat jam kerja saya. Lokasinya di daerah Tegalgede, dekat dengan tulisan ‘Welcome Kota Jababeka’. Masalah harga, ya, terjangkau lah.. Daripada pesawat. Hahaha..

Lalu saya juga sering pakai Kramat Djati. Ini juga yang jamnya asyik. Terjadwal adalah jam 5 sore berangkat. Jadi, saya bahkan masih bisa pulang molor dari kantor, atau malah bisa mampir ke Carrefour dulu juga. Posisinya di arah putar balik hendak keluar tol Cikarang Barat, di sisi kiri jalan (ya iyalah…), dekat jualan gorengan. Ini juga yang harganya paling oke (menurut saya). Terakhir naik Oktober 2012, saya masih dapat 115.000 sudah include tempat duduk yang ‘lumayan’ jembar, selimut, dan makan malam di Restoran Kramat Djati.

Saya juga pernah beberapa kali pakai Ramayana. Kalau ini saya ambil di loket yang berlokasi di SPBU dekat pintu tol Cikarang Barat. Harganya bersaing dengan Rosalia Indah kalau yang ini.

Di loket yang sama juga ada berbagai jenis bus lainnya. Saya juga pernah pakai Muncul. Ehm, ya dari sisi eksterior, bus yang saya naiki itu agak bikin dahi berkerut, tapi interior dan pelayanan, lumayan kok. Harga juga cukup oke.

Dan ada juga nama besar lain di seberang loket ini (dan jejeran dengan loket Kramat Djati), yakni Lorena. Ini kemarin semacam terpaksa naik karena kebanyakan sudah nggak jualan. Hehehe.. Tapi tentu saja, dengan harga 180 ribu, fasilitas oke punya. Cuma, ya memang menuju Jogja-nya macet, jadi sampai Jogja jam 12 siang (dari Cikarang jam 9 malam teng pas nyos).

Kalau mau yang banyak pilihan, begitu masuk daerah bawah jembatan layang, segera mlipir kiri, nanti dekat Alfamart akan ketemu sebuah tempat yang isinya agen bus semua. Menjelang long weekend pasti tempat ini ramai minta ampun.

Saran sih, kalau mau nyaman, carilah tiket setidaknya seminggu sebelum, jangan dadakan. Ya, meskipun kalau dadakan juga hampir pasti dapat, tapi terkadang jatuhnya kurang nyaman di perjalanan. Oh iya, selama ini saya belum pernah naik yang Ekonomi, karena menurut saya, pengalaman dulu (waktu kecil) naik Ekonomi sudah cukup untuk membuat saya memaksa diri untuk mencari duit lebih supaya bisa naik kelas minimal VIP. *edisi tobat naik ekonomi*

Oke, begitu dulu. 🙂

Aspal vs Beton: Mana yang Lebih Bagus?

Sejak kapan saya ngeh soal jalanan? Hmmm, sebenarnya sejak di Palembang, terutama waktu mau main ke kos Pandawa. Ada jalan aspal hancur dekat Akbid. Jadi kira-kira saya baru ngeh soal per-aspal-an itu di usia 22-an. *pekok*

Makin kesini, makin ngeh. Apalagi sejak lihat Cikarang yang punya dua jenis jalan, beton dan aspal. Beberapa bagian jalan di Cikarang ini memang pakai beton. Sekilas, lebih tahan terhadap mobil yang gede-nya gila-gilaan di sini. Tapi, untuk jalan naik motor–menurut saya–cengkramannya nggak cukup oke.

Terakhir, saya jatuh, ya di jalan beton sih.. *alibi*

Oke, mari sedikit membahas aspal versus beton lewat artikel yang saya ambil di SUMBER INI.

Beton dibuat dengan menggunakan agregat massa, bisa batu kerikil atau pasir yang dicampur dengan semen dan air. Semen ini berfungsi sebagai pengikat. Nah, campuran ini sebenarnya kaku dan padat, tapi rentan retak dan patah kalau permukaan bawahnya tidak mulus sempurna. Jadi balik ke struktur dasar.

Aspal-pun juga agregat, tapi dia berasal dari turunan minyak mentah. Jadi kalau pengaspalan ini–katanya–menggunakan aspal panas yang dituang ke agregat, lalu ditekan dengan mesin giling.. hehe.. Ya, itulah.. Hot Mix mungkin. Dalam hal ini aspal mampu diaplikasikan pada permukaan yang tidak mulus sempurna.

Aspal juga cenderung lebih mudah diperbaiki sehingga kalau ada renovasi tidak lama dan tidak mengganggu benar. Dulu pernah di depan Akbid itu dipasang beton, sekarang juga saya lihat di daerah Lippo, bahwa jalan beton itu harus dibongkar pada panjang kaki lebar tertentu, baru deh diisi dengan beton baru. Lah kalau aspal? Tinggal remukkan di bagian yang retan, timpa dengan yang baru, tekan dengan mesin giling (tsahhh…)

Cuma nih, aspal itu cenderung nggak tahan air. Makanya, ketika digenangi air macam sekarang, bolong-bolonglah itu jalanan. Apalagi kalau kontur tanahnya labil kayak di depan Akbid, jadi tiap kali diaspal mulus, tiap kali itu juga turun. Kalau beton kan nggak. Ini kalau strukturnya bagus loh. Kalau nggak, ya retak juga bakalan. Hehehe..

Jadi, yang mana?

Nggak peduli. Yang penting saya bayar pajak dan pengen jalan mulus.. Nggak kayak sekarang.. huhuhuhu…

Hati-Hati Kalau Ngece

Sejujurnya aku sedang mengalami sebuah penyakit yang dalam ilmu kefarmasian perdolanan dikenal sebagai tengeng. Ya, itu sebuah penyakit ketika sesuatu–iya sesuatu banget–terjadi pada bagian tulang belakang sehingga kita tidak bisa menoleh dengan normal. Agak-agak sakit gimana gitu kalau noleh.

Nah, sehubungan dengan penyakit tengeng ini, mendadak aku ingat sebuah azab yang kulanggar beberapa hari yang lalu di grup Whatsapp. Ada sebuah azab yang ternama di kalangan dolaners bahwa jangan sekali-kali menghina alias ngece seorang tokoh di Dolanz-Dolanz.

Ya, jangan sekali-kali ngece Yama!

Pengen tahu riwayat dari azab ini? Mari kita simak.

* * *

Seperti biasa, anak Dolaners pasti menghabiskan diri dengan nongkrong di perpustakaan dan mempelajari buku-buku tebal serupa Farmakope Eropa guna menunjang ilmu selama kegiatan perkuliahan.

Ehm, percaya?

Nggak? Syukurlah. Apa yang aku wartakan tadi bukanlah sebuah kebenaran yang reguler. Hal itu hanya terjadi ketika misalnya, besok laporan dikumpul atau nanti siang ujian. Biasalah, namanya juga anak muda.

Yang benar adalah anak Dolaners akan menghabiskan diri dengan nongkrong di hall belakang, mengamati pemandangan sekitar yang indah nan permai seperti di kebun bunga. Tentunya sambil menyaksikan anak-anak Psikologi yang lewat serta mengabaikan anak-anak Teknik yang juga ikutan lewat. Rerata Dolaners adalah lulusan sekolah homogen, sehingga urusan ‘melihat lelaki sepanjang hari’ itu kebanyakan sudah paham, dan cenderung bosan.

Iki Yama ngendi?” tanyaku sambil duduk nglekar di tangga. Aku sendiri berasal dari kelas C, bersama Toni dan Roman, alias tidak sekelas dengan Dolaners lain yang rerata adalah kelas B.

Jarene nyusul,” jawab Chiko, seadanya.

Oiya, Dolaners yang dari tipe gadis entah sedang kemana, jadi yang berkumpul di tempat ini hanya Dolaners batangan. Dan, yang namanya lelaki berkumpul, obrolan pasti nggak jauh-jauh dari cewek dan segala hal saru lainnya. Kalaupun ada yang lain, tentu saja, sepakbola.

Dari kejauhan kuliah sosok separuh gondrong, nanggung nggak jelas, semacam perpaduan antara Rangga di Ada Apa Dengan Cinta serta Gie dalam film Gie. Cuma ini versi KW3-nya.

Kae Yama dudu?”

Iyo ketoke.”

Sosok gondrong itu mendekat, dan betul sekali bahwa yang datang memang bukan Rangga AADC. Pantas saja nggak ada cewek yang mengerubungi dari tadi. Kalau lalat sama tawon, ada.

“Heh, kok tumben rupamu dadi elek ngono?” tanya Bona, begitu Yama duduk di tangga belakang bersama yang lainnya.

“Lha, biasane?” timpal Chiko dengan tanya lainnya.

Elek banget.”

Spontan ngakak abis! Dan semakin ngakak ketika kemudian tampak fakta bahwa si Yama ini sedang tengeng. Bona yang tampaknya melihat fakta unik ini kemudian mencoba menggoda dengan memanggil Yama yang sedang melihat ke depan.

“Yam?”

Yang dipanggil memiringkan punggungnya, dan menoleh sedikit, serta mengandalkan mata untuk melihat Bona. Tentu hasilnya tidak sempurna.

“Lagi tengeng po kowe?” tanya Chiko.

Ketoke,” jawab Yama, santai.

Dan pada akhirnya tengeng ini menjadi bahan obrolan selanjutnya. Sampai kemudian jadwal kuliah, jadwal fotokopi, dan jadwal pacaran (khusus yang punya) membuat rombongan ini harus berpisah.

* * *

Beberapa hari kemudian adalah hari Sabtu. Ini harinya Squadra untuk bermain sepakbola. Dan beberapa Dolaners ikut di permainan berebut sebiji bola ini. Aku datang agak telat tentunya karena Alfa yang hanya bisa melaju di kecepatan maksimal 40 km/jam. Mana sebanding Alfa ini dengan Ninja Hijau atau Shogun Merah?

Begitu aku masuk ke area lapangan, bukan kegiatan pemanasan yang kutemui, tapi kegiatan evakuasi. Jiah, ada apa pula ini?

Ngopo e?” tanyaku pada Chiko yang lagi sibuk menangani seseorang yang sedang kesakitan dengkulnya. Eh, ini Bona ternyata.

Mlengse.”

Maka kegiatan pemanasan itu menjadi heroik untuk menangani dengkul striker dengan skill mumpuni ini. Permainan baru dimulai ketika Bona masuk ke mobil Kijang merah yang disetiri oleh Bapaknya. Mari berdoa supaya Bona tidak dimarahi Bapaknya karena ngeyel masih main bola. Mari berdoa pula agar Bona tidak dimarahi pacarnya, juga karena masih ngeyel main bola. Amin? Amin!

“Efek ngece Yama, ketoke,” kata Toni sambil terengah-engah dan minum air yang dituang dari galon.

“Bisa jadi.”

Sesuk ojo ngece Yama meneh.”

Demikian kesimpulan hari ini, sebuah peristiwa yang memperlihatkan perkara azab dari seorang Yama.

* * *

“HPmu kok elek men?” tanya Yama padaku ketika melihat HP Nokia 2100-ku yang semakin antah berantah bentuknya.

Sebuah pertanyaan wajar karena beberapa bagian dari HP ini sudah rompal. Belum lagi HP ini masih satu warna dan masih monophonic pula. Cuma satu keunggulan HP-ku, setidaknya selalu ada pulsa.

“Yo, ngko ndelok ae,” ujarku menanggapi pujiannya pada alat komunikasiku satu-satunya ini.

“Lha, wis HP elek, motor sisan.”

Nah, kalau perkara si Alfa ini jangan dipertanyakan lagi. Dari sisi apapun dia memang sudah pantas untuk dihina dina. Kecepatan maksimal 40 km/jam, asap mengebul bak fogging demam berdarah, hobi diservis, dan segala kegilaan lainnya mulai dari susah hidup sampai susah mati. Nggak ada pembelaan kalau ini.

Kadang aku mengelus dada (sendiri) pada nasibku. Apalagi ketika kemudian Yama menyebut hinaan ketiganya dalam sehari.

Iki nonton TV opo ngrungokne (mendengarkan) TV?”

Yeah, di kos-kosanku memang ada sebuah TV Anaco, adiknya Anaconda. Dan karena murahan memang layarnya menghitam dan hanya bisa ditonton oleh orang berhati mulia dengan amal perbuatan yang sudah banyak. Cuma, ya, sudah jelas kos-kosannya begini, titisan gagal Rangga AADC ini ya tetap aja nebeng tidur siang di kamar kosku.

Dasar tidak bersyukur dan karena memang baru saja punya pacar, Yama mengeluarkan hinaan terakhir ketika pamit.

Sik yo Zonk, mbojo sik, duwe soale.”

Kampret! Empat hinaan mutlak dilemparkan kepadaku oleh orang yang sama, dalam waktu yang sama.

* * *

Nah, ada satu hal yang kemudian menjadi kepercayaan di kalangan Dolaners. Bahwa kalau kita diece sama Yama, maka segala sesuatu akan baik adanya. Sebuah kesimpulan yang diambil dari kenyataan yang aku peroleh.

Nggak lama sesudah Yama menghina dina TV-ku, si Anaco, kabar gembira diterima. Aplikasi beasiswaku diterima, sehingga kemudian aku bisa me-refund uang semester yang sudah terbayarkan. Sebuah nominal yang lumayan untuk kemudian membeli sebuah monitor baru, berikut TV Tunernya.

Yeah!

Dan biar asyik sedikit, aku mengajak Yama sebagai tukang angkut dalam proses membeli monitor di pameran komputer ini. Rasain!

Lalu, rejeki lain mendadak nemplok sehingga ada bugdet lebih untuk membeli HP baru. Maka akupun segera memiliki sebuah HP baru, Motorola L6, yang pasti sudah bisa menyimpan musik, bisa foto, dan tidak satu warna lagi. Hore bener.

Yama mendapati HP baruku ketika sedang makan di Warung Padang yang handal (harganya).

“Wuih, HP baru kowe?”

“Pastinya!” kataku dengan senyum kemenangan sambil memasukkan HP baru ke kantong khusus, takut lecet gitu.

Rentetan kabar baik belum usai ketika menjelang skripsi, aku dikabari bos di rumah berita baik lainnya. Proposalku untuk membeli sepeda motor terkabul dengan indah. Lewat sebuah proses yang agak absurd, aku akhirnya memiliki sebuah sepeda motor Honda Revo, yang kemudian melemparkan Alfa ke peraduannya yang baru. Semoga majikan barunya bisa menerima Alfa dengan lapang dada, baik kebaikan dan keburukannya. Yah, walaupun kebanyakan buruk sih.

Empat hinaan itu akhirnya berakhir ketika beberapa bulan sesudah punya Revo, aku akhirnya punya pacar (lagi).

Sesudah poin keempat ini, aku menghitung kembali proses ngece yang dilakukan Yama, dan kejadian yang terjadi sesudahnya. Maka aku mengambil kesimpulan bahwa kalau kita diece sama Yama, maka berkah sudah menanti.

* * *

Percakapan di grup Whatsapp, bertahun-tahun kemudian.

Yama: Mesti kowe jomblo, zonk
Toni: zonk, kowe diece Yama
Zonk: syukurlah, matur nuwun lho
Yama: yowiz, di list wae opo meneh sik arep tak ece

Demikianlah yang terjadi. Sejauh ini, aku tidak mempercaya kebenarannya, tapi geleng-geleng melihat buktinya.

🙂

 

Nomor Urut Partai Politik: Dari Masa Ke Masa

Jaman saya ikut pergerakan dulu, ada istilah terkenal ‘Jas Merah’ alias Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Ya walaupun saya nggak cukup lama di bidang pergerakan ini karena terbenam dengan laporan praktikum dan paduan suara, tapi hawa politik masihlah ada nyantol sedikit di kepala. Hehehe..

Nah berhubung ini lagi rame Pemilu 2014 yang undian nomor urutnya sudah dilakukan kemarin. Mari kita sedikit refresh perihal nomor urut ini. Dimulai dari jaman saya ngeh politik yakni Pemilu 1999. Kalau sebelumnya, masih perlu dikasih tahu? Itu mah retorika.

Nomor 1 Partai Persatuan Pembagunan (PPP), nomor 2 Golongan Karya (ingat! dulu ini disebut Golongan, bukan Partai), dan nomor 3 Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Oke, Pemilu 1999, asli kayak pasar. Karena kran reformasi baru dibuka, jadilah partai yang ikut sampai 48.. Edyannn.. List-nya ini (dikutip dari sini)

01. Partai Indonesia Baru
02. Partai Kristen Nasional Indonesia
03. PNI – Supeni
04. Partai Aliansi Demokrat Indonesia
05. Partai Kebangkitan Muslim Indonesia
06. Partai Ummat Islam
07. Partai Kebangkitan Ummat
08. Partai Masyumi Baru
09. Partai Persatuan Pembangunan
10. Partai Syarikat Islam Indonesia
11. PDI Perjuangan
12. Partai Abul Yatama
13. Partai Kebangsaan Merdeka
14. Partai Demokrasi Kasih Bangsa
15. Partai Amanat Nasional
16. Partai Rakyat Demokrat
17. Partai Syarikat Islam Indonesia – 1905
18. Partai Katolik Demokrat
19. Partai Pilihan Rakyat
20. Partai Rakyat Indonesia
21. Partai Politik Islam Indonesia Masyumi
22. Partai Bulan Bintang
23. Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia
24. Partai Keadilan
25. Partai Nahdlatul Ummat
26. PNI – Front Marhaenis
27. Partai Ikatan Penerus Kemerdekaan Indonesia
28. Partai Republik
29. Partai Islam Demokrat
30. PNI Massa Marhaen
31. Partai Musyawarah Rakyat Banyak
32. Partai Demokrasi Indonesia
33. Partai Golkar
34. Partai Persatuan
35. Partai Kebangkitan Bangsa
36. Partai Uni Demokrasi Indonesia
37. Partai Buruh Nasional
38. Partai MKGR
39. Partai Daulat Rakyat
40. Partai Cinta Damai
41. Partai Keadilan dan Persatuan
42. Partai Solidaritas Pekerja
43. Partai Nasional Bangsa Indonesia
44. Partai Bhineka Tunggal Ika Indonesia
45. Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia
46. Partai Nasional Demokrat
47. Partai Ummat Muslimin Indonesia
48. Partai Pekerja Indonesia

Pemilu ini yang ujung-ujungnya menghasilkan Gus Dur sebagai Presiden dan lantas terjadi dinamika politik segala macam sehingga Megawati naik dari posisi Wakil Presiden menjadi Presiden. Dan, kalau nggak salah Hamzah Haz yang naik jadi wakil kemudian.

Pemilu ini dilanjutkan di tahun 2004, dengan bintang baru: Demokrat. Ada 24 partai yang ikut serta–berkurang setengah (dikutip dari sini).

1. PNI Marhaenisme
2. Partai Buruh Sosial Demokrat
3. Partai Bulan Bintang
4. Partai Merdeka
5. Partai Persatuan Pembangunan
6. Partai Demokrasi Kebangsaan
7. Partai Indonesia Baru
8. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan
9. Partai Demokrat
10. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
11. Partai Penegak Demokrasi Indonesia
12. Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
13. Partai Amanat Nasional
14. Partai Karya Peduli Bangsa
15. Partai Kebangkitan Bangsa
16. Partai Keadilan Sejahtera
17. Partai Bintang Reformasi
18. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
19. Partai Damai Sejahtera
20. Partai Golkar
21. Partai Patriot Pancasila
22. Partai Sarikat Indonesia
23. Partai Persatuan Daerah
24. Partai Pelopor

Laluuuu, pemilu ini yang memenangkan (kalau nggak salah) Golkar, tapi kemudian menjadikan SBY-JK sebagai pasangan presiden-wapres. Oh iya, di Pemilu ini saya untuk pertama kali (dan sejauh ini, juga terakhir kali) ikut pemilu. Hahaha..

Berikutnya, keduanya pecah kongsi di Pemilu 2009 yang diikuti oleh 31 partai (sumber disini).

1. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
2. Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB)
3. Partai Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (P3I)
4. Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN)
5. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
6. Partai Barisan Nasional (Barnas)
7. Partai Keadian dan Persatuan Indonesia (PKPI)
8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
9. Partai Amanat Nasional (PAN)
10. Partai Indonesia Baru (PIB)
11. Partai Kedaulatan
12. Partai Persatuan
13. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
14. Partai Pemuda Indonesia (PPI)
15. Partai Nasional Indonesia Marhaenis (PNI Marhaenis)
16. Partai Demokrasi Pembaruan (PDP)
17. Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan)
18. Partai Matahari Bangsa (PMB)
19. Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI)
20. Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK)
21. Partai Republik Nusantara (RebublikaN)
22. Partai Pelopor
23. Partai Golongan Karya (Golkar)
24. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
25. Partai Damai Sejahtera (PDS)
26. Partai Nasional Banteng Kerakyatan Indonesia (PNBK)
27. Partai Bulan Bintang (PBB)
28. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
29. Partai Bintang Reformasi (PBR)
30. Partai Patriot
31. Partai Demokrat
32. Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI)
33. Partai Indonesia Sejahtera
34. Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)

Di partai ini pemenangnya, sejujurnya saya LUPA.. hahaha.. Tapi ujung-ujungnya SBY jadi presiden lagi.

Terbaru, ada 10 partai yang lolos verifikasi dan menjadi peserta SAH pemilu 2014. Benar-benar pemangkasan, 9 lama dan 1 baru, jadi 10. Ini dia (dikutip dari sini).

1. Partai Nasdem
2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
5. Partai Golkar
6. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
7. Partai Demokrat
8. Partai Amanat Nasional (PAN)
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)

Well, entahlah, akan menghasilkan kualitas legislatif macam apa lagi pemilu dengan 10 partai ini. Satu harapan saya sebagai anak bangsa ya sepele, supaya bangsa ini menjadi lebih baik. AMIN! 😀

New: ariesadhar.com

Menjelang usia baru (18 Januari 2013), saya membuat perubahan revolusioner pada blog ini.. Hahahahahaha…

Berbekal jumlah tagihan bulan depan yang lumayan, maka dengan sepenuh hati saya ‘membeli’ domain langsung via WordPress.

Tujuannya?

1. Karena saya sudah kadung cinta sama blog ini
2. Siapa tahu blog ini bisa ‘menghasilkan uang’ buat saya
3. Supaya nama ‘ariesadhar’ nggak diambil siapa-siapa, jaga-jaga kalau nanti saya jadi terkenal *lalu dikampleng*

Ya, apapun itu, per hari ini, blog ini bisa diakses via alamat:

ariesadhar.com

Kalaupun diketik alamat lama, ariesadhar.wordpress.com, ya bakal lari ke alamat baru itu kok. Tenang saja 😀

Semoga selalu ada hal baru yang bisa saya tulis di blog ini. AMIN!

Aku, Di Depan Pintu

“Yang ini bagus, Say.”

Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan berhenti di hadapanku. Mata mereka masing-masing tertuju ke arahku. Kumaknai adanya sebuah rasa penasaran dalam tatapan mereka kepadaku. Sejurus kemudian, mereka berdua saling berpandangan. Sedetik berikutnya, tangan si laki-laki sudah mendekat ke arahku.

Tangan kokoh itu akhirnya sampai juga di tubuhku. Dibelainya sejenak, kemudian direngkuhnya tubuhku yang mungil ini dan dibawanya mendekat ke arah kedua bola matanya.

Kurasakan tatapan matanya memandangi setiap centimeter tubuhku dengan saksama. Ada rasa enggan di dalam diriku. Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Masalahnya, aku tidak bisa berontak, protes, atau apapun. Tugasku memang hanya diam.

“Boleh juga. Coba cari yang lain dulu ya, Say.”

Perlahan, tangan kokoh itu membawaku kembali k posisiku semula. Rasa syukur muncul dalam benakku. Ya, walaupun sejatinya aku boleh dimiliki oleh siapapun, tapi selalu ada rasa hendak memilih seseorang yang berhak memilikiku.

Sepasang kekasih itu akhirnya berlalu dari hadapanku, mungkin hendak mencari yang lebih sesuai dengan keinginan mereka.

Lalu lalang manusia menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Berposisi tepat di depan pintu masuk adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Dan tentu saja, siapapun yang hendak masuk ke tempat ini, pasti akan melewatiku. Syukur-syukur ada yang menengok sebentar dan tampak tertarik padaku.

Sebuah keseharian yang perlahan membuatku terbiasa. Sebuah pengalaman yang pada akhirnya mampu membuatku memahami, sosok yang menurutku pantas untuk memilikiku.

Tapi sekali lagi, aku tidak berada pada posisi memilih, karena aku hanya bisa dipilih.

Tiba-tiba, seorang gadis muda–sendirian–mendekat ke arahku. Badannya yang mungil lantas membungkuk sehingga posisiku dan wajahnya cukup dekat. Tangannya kemudian terjulur membelai tubuhku.

Dan aku merasakan sebuah kehangatan yang lain.

Diam-diam kuintip tatapannya kepadaku. Ehm, kurasakan sesuatu yang lain dari pandangan yang muncul dari dua bola mata yang sedikit berkantong mata itu. Tangannya membolak-balik tubuhku dengan ringan.

Lima menit ia terdiam sambil memegang tubuhku, dan aku merasa nyaman. Bolehkah aku meminta untuk dimiliki orang gadis ini?

Sejenak tubuhku berpindah ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang handphone flip yang barusan dirogoh dari sakunya. Aku hanya dapat mengamati jemarinya beraksi di keypad. Dan karena takdir pula, aku tidak berhak bertanya tentang kegiatan yang ia lakukan.

Tiga menit ia asyik dengan handphone flip itu dan kemudian menutup kembali handphone putih itu. Kulihat senyum manis tersungging di bibirnya, bertambah indah karena sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir itu.

Pertanda apakah ini?

Tubuhku kembali berpindah ke tangan kanannya. Kurasakan sedikit pertanda baik untuk perpindahan ini. Perlahan gadis manis ini melangkah menjauh dari tempatnya berdiri semula. Langkah itu semakin menjauh dan kutengarai mendekat ke sebuah tempat penentuan nasib.

Kassa.

Yeay! Aku bersorak dalam hati. Bahwa kembali kutegaskan bahwa posisiku bukanlah untuk memilih, tapi aku selalu ada keinginan untuk memilih seseorang yang hendak memilikiku. Aku hendak dipilih oleh orang yang kuinginkan.

Dan kini, sepertinya, aku hendak mendapatkan keinginanku.

Aku berpindah dari tangan gadis manis itu ke tangan kasir yang sebenarnya tidak kalah manisnya. Dalam waktu yang teramat singkat, aku sudah berada dalam tempat khusus yang siap membuatku mudah dibawa. Pada saat yang sama, gadis manis itu menyerahkan sejumlah uang. Dan sejurus kemudian, aku kembali ke tangannya.

Tangan kanan gadis manis itu menyambutku dari tangan kasir. Pada tangan yang sama, ia juga memegang handphone flip yang tadi kulihat. Sejenak kubaca teks yang ada di layar yang cukup lebar.

“Barusan membeli Perahu Kertas, walaupun udah pernah baca tapi minjem.”

Dua langkah sesudah meninggalkan kasir, aku dipindahkan ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menyelesaikan pesan singkat yang isinya sudah kubaca itu.

Sebuah proses transaksi selesai, dan aku telah menjadi milik gadis manis ini. Nanti aku akan tahu namanya dan tentu saja kehidupannya. Dari tatapan dan senyumnya, aku membayangkan akan menikmati sebuah petualangan tentang mimpi dan hati, persis dengan yang tertulis pada diriku.

Inilah kisahku, sebuah novel Perahu Kertas.

Sai Anju Ma Au

Yeah, mungkin Mamak bakal shock kalau tahu saya membahas lagu ini. Hahahaha.. Ini asli lagu Batak, dan sejujurnya entah sudah berapa ribu kali saya dengar sejak jaman saya lahir. Tentu saja, hampir setiap hari Mamak akan memutar lagu-lagu Batak dari berbagai edisi sebagai teman menyapu dan mengepel (bungkus es kalo saya *alibi*).

Tapi, entah ya, gara-gara kuota kebanyakan dan rerata cuma dapat EDGE, akhirnya saya milih untuk download apapun, termasuk lagu Batak. Dan sebagai lagu yang sudah masuk kuping dari jaman antah berantah akhirnya tergoda juga untuk menyanyikannya, dan ternyata asyik juga.

*walaupun sampai sekarang baru bisa hafal lirik pada refren*

*batak yang ironis* –> (-.-“)?

Ya, dari sisi apapun, hampir pasti nggak ada yang mengira kalau saya ada hawa Bataknya. Tapi saya ini separuh Batak lho, galur murni pula *pembelaan diri*. Cuma karena lahir di Bukittinggi dan matang (ciedehhh..) di Jogja, makanya jadinya begini. Tentu saya harus menghormati darah Batak yang mengalir dalam diri saya, plus suku Batak yang saya punya dengan sah dan meyakinkan. Bagaimanapun Bapak saya keluar modal lho, dalam upaya mangadati saya dengan sebuah marga. Jadi, mari kita BERNYANYI! Hahahaha..

Lirik dan terjemahannya saya kutip dari SINI.

Sai Anju Ma Au

Aha do Alana (Apakah sebabnya/Karena apakah)
dia do bossirna hasian (Apakah masalahnya)
umbahen sai muruk ho tu ahu (hingga kau selalu marah kepadaku)
molo tung adong nasalah nahubaen (jikalau memang ada salah yang kulakukan)
denggan pasingot hasian (beritahukanlah dengan baik sayangku)

molo hurimangi (bila kurenungkan)
pambahenammi natua au (perbuatanmu kepada ku)
nga tung maniak ate atekki (hatiku ini sudah hancur)
sipata botcir soada nama i (kadang kala tak ada sebab)
dibahen ho mangarsak au (kau marah kepadaku)

molo adong na salah manang na hurang pambaenakki (seandainya aku ada salah dalam perbuatan)
sai anju ma au (beritahu lah aku dengan mesra)
sai anju ma au ito hasian (beritahu lah aku dengan mesra sayangku)
sai anju ma au (beritahu lah aku dengan mesra)
sai anju ma au ito nalagu (beritahu lah aku dengan mesra sayangku).

Lagu ini katanya buatan Tigor Gipsy Marpaung, yang kalau diketik di search engine bukan profilnya yang keluar, tapi karya-karyanya. Dan ini salah satu lagu Batak yang ‘dalemmmmm’.

Ya, begitu saja sih. Hahahaha..

Tahap Berikutnya

Spirit judul ini adalah hendak meniru judul bukunya Ariel dkk yang “Kisah Lainnya”. Tapi kayaknya nggak masuk ya? Ya, sudah suka-suka saya lah.. hahaha..

Kemarin, saya memasuki tahap baru dalam hidup ini. Pengurangan usia dari jatah yang diberikan Tuhan pada saya–yang entah berapa. Sebuah tahap yang seharusnya membuat saya menjadi terus dan terus membaik. Sebuah tahap yang dinamakan oleh banyak orang sebagai ULANG TAHUN.

Ada banyak pilihan untuk merayakan ulang tahun. Dan entah kenapa Tuhan memilih memberikan saya hadiah berupa sebuah tantangan bernama audit dari lembaga regulasi. Awal mula mungkin saya bergumam kesal terhadap pilihan hadiah ini, sampai kemudian dalam perjalanan pulang dari kantor kemarin, saya menyadari makna hadiah ini.

Terima kasih kepada Pakbos di tempat yang lama, yang memberi saya kesempatan ikut turun ke gudang menemani auditor, hanya beberapa bulan sebelum saya cabut dari tempat lama. Itu sungguh sebuah pengalaman yang keren, yang lantas saya ekstrapolasikan menjadi beberapa kesimpulan, yang kebetulan kebanyakan benarnya.

Bahwa saya tampaknya mengambil porsi terlalu dalam hingga kemudian seorang auditor bertanya, “kamu ini bagian apa sih?”

Maaf soal itu.

Tapi, entah kenapa, mungkin karena memang faktor ulang tahun, saya seperti ‘di atas angin’ kemarin. Kesimpulan ‘memiliki sistem yang mampu telusur’ adalah jawaban dari sebuah tantangan seorang lead auditor, dan berhasil saya buktikan. Nggak rugi saya pegang sistem ini sejak awal mula berdarah-darahnya, sampai ikutan proyek migrasi sangkuriang sampai jam 11 malam dua hari berturut-turut. Yeah!

Jadi apa hadiahnya? Bukan itu semua.

Hadiah terbesar dari Tuhan adalah sebuah keberanian. Ia memberikan sebuah keberanian kepada saya untuk menyampaikan sesuatu yang menurut saya penting. Sebuah masukan yang sebelah sisi hati saya bilang itu nekat, tapi sebelah yang lain bilang itu harus diungkapkan. Sebuah pernyataan yang bisa jadi mempengaruhi nasib saya ke depan. I dont know. Hati ini pasti paham arah dan tujuan keinginannya.

Sebuah keberanian yang tidak bisa saya pahami sampai sekarang, tapi akhirnya saya maknai sebagai hadiah dari Tuhan. Dan syukurlah, keberanian itu diberikan pada saat yang (menurut saya) tepat.

Semoga memang demikian.

Happy Birthday to me. Doakan saya terus berjuang menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

🙂

Sesudah Hujan

Dua orang sedang berantem di atas kereta api yang sedang melaju kencang. Di kejauhan seorang wanita tampak membidikkan senapan sambil berbincang dengan seseorang yang lain via headset. Wanita itu tampak ragu, tapi seseorang di tempat lain dengan tegas berkata, “shoot!”.

Wanita itupun menembak dan satu dari dua orang yang ada di atas kereta api itu terjatuh, jauh ke bawah. Terhanyut di sebuah air terjun.

Oke, FINE! Aku kurang paham maksud hati kru bis Pantura ini untuk memutar Skyfall persis jam 12 malam. Ya secara biologis jam segitu adalah waktu tidur, dan bayangkan saja di tengah tidur-tidur ayam–namanya juga tidur di bis–aku masih harus mendengar jedar jedor suara tembak-tembakan James Bond dengan musuhnya.

Mungin dia baru beli bajakannya.

Dan entah berhubungan atau tidak, perlahan kaca tebal di sebelah kiriku mendadak basah. Kulihat lebih dekat dan teliti, ya memang semakin basah. Maka sejurus kemudian aku paham bahwa ini adalah hujan. Ehm, hujan di perjalanan Indramayu ke Alas Roban ini tampaknya menjadi lebih menarik daripada Skyfall. Hujan yang dilihat dari sebuah perspektif yang berjalan, sekaligus hujan yang tidak bisa dirasakan. Inilah sebenar-benarnya melihat hujan. Dan bagiku, melihat hujan akan secara otomatis membangkitkan memori tentang dia.

Dia yang seharusnya sudah aku lupakan.

Glodakkk…

Kepalaku sedikit terantuk ke kursi empuk di depanku. Mataku bangkit dari terpejam. Ah, aku terbangun rupanya, mungkin ada lubang di jalan. Lagipula, persis di bawahku adalah roda kanan belakang bis ini, jadi sangat wajar kalau aku bangun duluan kalau roda itu masuk ke dalam lubang.

Bis gelap, layar yang tadi memutar Skyfall sudah tidak lagi menyala. Kutarik handphone yang sedang di-charge dengan powerbank di dalam tasku, jam 04.01.

Hujan berhasil mengantarkanku pada sebuah suasana tidur yang lumayan nyenyak–untuk konteks sebuah perjalanan darat.

Kulepas handphone hitam itu dari powerbank. Kadang aku berpikir, sebegitu tergantungnya aku dengan benda-benda ini. Aku sendiri tidak pernah bisa lagi membayangkan ketika ayahku, puluhan tahun silam menempuh perjalanan darat selama seminggu penuh dari Sumatera ke Jawa. Dan aku tahu benar, dia tidak membawa powerbank, tapi dia bisa sampai dengan selamat dan–ya–tetap bisa hidup. Aku? Tanpa handphone dan powerbank ini, hidupku mendadak gundah. Sebuah ketergantungan yang buruk pada ciptaan sesama manusia.

Selesai rangkaian powerbank itu masuk rapi ke sarangnya, kepalaku kembali mencoba menikmati perjalanan dan pemandangan yang ada di sekitarku. Suasana pagi buta, bagiku adalah sebuah suasana yang khas. Dulu, ketika isu keamanan belum mengemuka, aku sering keluar dari kos pada pagi-pagi buta, sekadar berkeliling kota. Melihat tukang becak tidur di emperan Jalan Mangkubumi, melihat sepeda-sepeda onthel yang dikayuh manusia paruh baya di Ring Road Utara, hingga mengamati orang seusia nenekku masih dengan setia menggendong keranjang rotan ke pasar.

Suasana pagi buta ini pula yang mengingatkanku pada suatu hari, ketika aku terjaga, bergerak, dan mendapati kenyataan bahwa aku sudah seharusnya melupakan dia.

Lagi-lagi dia.

Kaca di sebelah kiriku secara perlahan memberikan terang. Yah, matahari telah terbit, dan pada saat yang sama hujan masih saja turun dengan perlahan. Aku terpekur melihat warna hijau di sisi kiri jalan ini. Inilah jalur yang seringkali kudengar ketika menonton berita arus mudik. Alas Roban.

“Istirahat! Makan!”

Kondektur meneriakkan kedua kata tersebut begitu bis parkir di depan sebuah restoran. Matahari sudah bersinar terang dan bis ini baru keluar dari Alas Roban? Mau sampai Jogja jam berapa ini? Aku mulai merasa pasrah, karena sejatinya aku ada janji jam 12 siang nanti. Semoga masih terkejar.

Bresssss….

Persis ketika aku menginjakkan kaki di teras restoran, sejumlah besar volume air tumpah dari langit. Hujan. Ini hujan yang sama dengan yang aku lihat tadi, tapi ini adalah hujan dengan perspektif yang berbeda. Ini adalah hujan yang kurasakan.

Maka hawa dingin melingkupi restoran ini seketika. Akupun bergegas merogoh saku dan menghitung helai-helai kecil isi kantong untuk kemudian membeli popmie. Sedikit mengelus dada ketika tahu harganya dua kali lipat harga Jakarta. Mungkin memang harga air panas di dekat Alas Roban ini adalah Rp. 4000.

Inilah pemandangan paling sentimentil. Berdiri menghadap parkiran bis yang luas–tapi kosong, sambil menyeruput kuah dengan rasa yang khas, plus memandangi hujan, serta mengingat dia.

Sekelebat dan semakin jelas, dia muncul kembali.

Kutepiskan kehadiran itu, karena aku sendiri yang memutuskan untuk melupakan dia. Untunglah kru bis segera bersiap dan perjalanan dilanjutkan kembali. Aku cukup lelah karena mengamati pagi buta, dan kini saatnya aku meringkuk manja dalam balutan selimut hijau bis Pantura ini.

Tulang belakangku mulai lelah. Sudah 12 jam aku berada dalam posisi yang sama. Dia berontak dan menyebabkanku terbangun. Dan ini masih di satu kota sebelum Jogja.

Lama banget sih!

Kesadaranku perlahan pulih sampai kemudian aku tersadar kalau bis ini sedang berhenti dan supir bis baru saja berlalu di sebelah kananku. Supir juga manusia, dia pasti kebelet pipis. Kepalaku kembali ke sisi kiri dan mendadak sadar kalau bis ini berhenti di sebuah tempat, yang sangat dekat dengan–lagi-lagi–dia.

Kini aku tidak bisa berkelit karena aku tahu benar tempat ini. Tempat dimana aku sempat berharap, untuk kemudian harapan itu padam seketika semata-mata karena harapku terlalu tinggi. Dalam hal cinta, kita boleh bermimpi tinggi tapi tidak boleh berharap terlalu tinggi. Sebuah pelajaran penting yang aku pahami sesudah kejadian suatu sore di tempat yang tidak jauh dari bis ini berhenti, bertahun-tahun silam.

Kenapa mendadak perjalanan ini menjadi tentang dia? Padahal sepanjang jalan ini aku juga asyik bertukar pesan BBM dengan seorang gadis manis yang selama beberapa bulan ini akrab denganku. Seorang gadis yang kukenal tidak lama sesudah aku memutuskan untuk melupakan dia.

Ya, dia. Dia yang mendadak muncul kembali dalam setiap penglihatanku.

Dan aku mendadak perlu kaca ketika aku mengutuk kemacetan di jalan masuk Jogja ini. Kenapa perlu kaca? Karena aku mengutuk plat-plat asing non AB yang mendadak memenuhi jalanan Jogja. Mereka ini menuh-menuhin jalan! Dan kaca itu kuperlukan karena aku sendiri juga adalah pendatang yang dalam waktu singkat akan membuat Jogja semakin penuh.

Kalaulah aku tidak hendak melihat saat bahagia temanku, maka perjalanan ke Jogja pada saat liburan akhir tahun adalah opsi terakhir untuk dipilih. Bahkan dulu waktu aku masih tinggal di kota penuh kenangan inipun, aku–si makhluk sunyi–lebih memilih berdiam di kota mati di sekitarku daripada terjebak macet oleh plat luar kota di jalanan. Sigh!

Jalanan merayap ini akhirnya berakhir juga. Waktu kian mendesak sehingga aku juga bergegas meninggalkan terminal Jombor menuju resepsi pernikahan temanku di sudut lain kota ini. Benar-benar sudut lain, melintang utara selatan. Di perjalanan, aku samar-samar mengingat dia yang sama–yang dari semalam meraja di otakku (lagi). Untungnya aku masih dapat mengendalikan laju sepeda motor sewaan ini. Haha, anggap saja bagian terakhir ini berlebihan.

Resepsi pernikahan teman ini sudah mendekati sepi ketika aku tiba. Masih syukur kalau aku masih bisa melihat segelintir teman yang datang dan kemudian berfoto bersama. Suatu ritus sepele yang sekarang sebenarnya bisa digantikan oleh kreativitas Photoshop. Tapi maknanya itu yang berbeda. Berbeda sekali.

Pernikahan ini milik temanku yang sudah berpacaran enam tahun lamanya. Ehm, sebuah angka yang sama dengan rentang masa aku mengenal dan jatuh cinta pada dia. Ah, suatu kebetulan saja. Momen yang sama menghasilkan dua makna pada dua makhluk yang berbeda. Toh dalam satu momen besar, terjadi momen-momen kecil yang memiliki makna berbeda bagi setiap persona yang mengalaminya.

Makna berbeda, pun dengan nasib. Kalau dia bisa menuntaskan perjalanannya hingga ke pelaminan–dan siap memulai perjalanan baru, maka aku ya semacam ini. Gundah gulana antara (sempat) berhasil melupakan dan kemudian kembali mengingat dia.

Masih saja soal dia yang tidak bisa lenyap dari hati ini.

Mendung menggantung dan aku pamit pulang, ke sebuah tempat penginapan. Tempat biasa tapi sedikit bermakna lebih dalam. Tempat yang ada di sudut lain kota ini.

Ketika aku mengayun tangan di pedal gas, di tanjakan Janti, mendung menggantung itu akhirnya pecah jadi berkeping-keping. Melontarkan volume air yang kusebut hujan. Masalahnya, ini bukan hujan biasa. Ini hujan deras.

Deras sekali.

Bagiku–sejak dulu dan masih kupercaya hingga kini–hujan bukanlah halangan. Petani di masa silam punya rituan khusus memanggil hujan. Kalaulah hujan menghanyutkan (rencana) panen mereka, bukan hujan yang salah, tapi waktu mereka yang tidak tepat. Bahwasanya hujan menjadi sesuatu yang dikutuk oleh orang kebanyakan, mungkin baru terjadi ketika semua lapisan tanah dilarang meresapkan air dan air itu lantas tergenang. Genangan yang kemudian membawa konsekuensinya.

Apakah hujan salah kalau begini? Tidak! Tidak sama sekali.

Maka aku melajukan sepeda motor dengan teknik tertentu. Melibas genangan tidaklah semudah melibas jalanan biasa. Gas besar pada posisi gigi 1 atau 2. Motor menjadi lambat, konsumsi bensin boros, mesin meraung begitu kencang dan lebih panas. Semua dilakukan agar kendaraan roda dua ini masih sanggup berjalan.

Sementara dari atas, tetesan air menyerupai tusukan jarum terus menghujam lenganku. Satu-satunya bagian yang masih terpapar oleh air langit ini.

Aku terus berjalan. Hidup ini soal menuju ke tujuan. Siapa yang tahu sesuatu yang mungkin aku lewatkan jika aku memilih untuk berteduh? Tapi siapa pula yang tahu akibat jika aku terus berjalan? Tidak ada. Ini adalah sebuah pola hidup yang kunamakan misteri.

Makanya, kadang untuk sebuah hadangan semacam genangan, kita perlu bekerja perlahan tapi lebih keras. Perspektif menyikapi hujan yang bagiku sejalan untuk hidup.

Perkaranya, aku tidak bisa memakai perspektif itu ketika suatu hal sudah menyangkut dia.

Dia lagi, dia lagi. Dan akan selalu dia.

Aku akhirnya sampai di tempat penginapan sederhanaku, di sudut utara kota Jogja. Sebuah penginapan penuh makna karena persis di hadapannya adalah sebuah tempat monumental.

Monumen tidak nyata yang terbangun abadi dalam kenangan. Ketika aku berdiri di sebuah tempat dan berbincang dengannya sambil mendongak. Ketika aku mengetahui dia ada dari jendelanya yang terbuka. Ketika aku memanggilnya karena sekadar hendak menyapa.

Maka ketika sepeda motor kuparkir di tempat yang ada di penginapan, aku tidak lantas masuk ke kamar. Aku berdiri seolah menatap hujan yang perlahan mereda. Aslinya, pandanganku menembus jauh ke seberang jalan, ke sebuah jendela, sebuah pagar, dan sebuah tempat percakapan. Dan sekelebat lagi kulihat dia disana.

Mataku terpejam meski basah. Tidak, aku tidak menangis. Ini asli basah oleh hujan yang perlahan mereda. Aku terbayang saat-saat indah itu, ketika aku dan dia menjadi dekat–sebagai teman bercakap-cakap soal hati. Dan tidak pernah lebih dari itu. Bahkan kini berkurang, jauh berkurang menjadi dingin sama sekali.

Indah yang terjadi sesudah hujan, dingin yang terjadi juga sesudah hujan.

* * *

“Kak, boleh curhat?”

Dia mendatangiku dan lantas duduk di atas batu, persis di sebelahku.

Lha, ya silahkan.”

Maka dari bibir manisnya meluncur berbagai perkataan tentang kisah, tentang cinta, tentang pedih. Sebuah rangkaian yang menyebabkan luka di hatiku. Kenapa?

Karena akhirnya aku tahu, bahwa yang ada di hatinya bukanlah aku.

Tapi, seluka-lukanya aku, berduaan dengannya–dengan kaki telanjang menapak di rumput yang basah sesudah hujan–adalah sebuah kejadian tidak ternilai. Maka aku memilih menikmati kebersamaan ini dan menyimpan luka itu rapat-rapat, jauh di tempat yang hanya bisa kujangkau sendiri.

“Ya, kalau memang hatimu memilih dia. Perjuangkan!”

Itu kalimat terakhirku, penuh dengan makna munafik. Sangat munafik karena kemudian aku tidak pernah memperjuangkan pilihan hatiku padanya. Aku tidak sayang pada hatiku, tapi aku lebih sayang pada kedekatan yang mungkin sirna jika memilih untuk mengkonversi perasaan ini menjadi cinta.

Fiuhhh..

* * *

Hujan teramat deras ketika aku sampai di hotel tempatku akan menginap. Aku bahkan tidak tahu ojek ini membawaku ke tempat yang benar atau tidak karena aku berada di bawah kibaran ponco. Pada akhirnya ojek berhenti dan sepertinya aku berada di tempat yang benar.

Kulemparkan tasku ke ranjang begitu memasuki kamar hotel dan segera menyambar handphone yang ada di saku.

‘Aku lagi di Setiabudi. Bisa ketemu?’

Sebuah pesan singkat itu kukirimkan padanya. Berharap sebuah balasan menyetujui untuk bertemu.

Sebuah pesan singkat yang sepanjang malam sampai pagi belum berbalas. Dan pada akhirnya tidak berbalas.

Hujan sepanjang malam menemani penantianku atas pesan singkat yang tidak berbalas itu. Dan persis pagi hari, pagi buta, aku berjalan ke sebuah tempat yang aku tahu adalah kediamannya kini. Sebuah perjalanan melewati jalanan yang sejuk. Bahkan aku melihat sebuah pohon tinggi dengan burung sejenis angka terbang berputar di atasnya. Indah. Meski tidak ada yang lebih indah daripada dia.

Aku akhirnya berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam, persis di sebelah jalan tol. Aku hanya berhenti, berdiam, mematung lima menit, dan mengurungkan niatku memencet bel.

Aku lantas berbalik, berjalan cepat menuju sebuah warung makan kecil, tidak jauh dari situ dan duduk disana. Tidak lama, dia keluar dari rumah pagar hitam itu dan berjalan kaki menuju kantornya yang cukup dekat.

Dari balik warung makan kecil, aku mengamatinya. Dan atas nama langkahnya yang semakin menjauh itu, akupun sadar bahwa dia memang seharusnya aku lupakan.

* * *

‘Udah sampai Jogja?’

BBM masuk, dari gadis cantik yang kuceritakan sebelumnya.

‘Udah dong. Udah kehujanan juga.’

‘Ish, sakit lho ntar.’

‘Gpp kok. Gpp.’

‘Oke d :D’

Sungguhpun aku berterima kasih pada gadis cantik ini yang mampu mengalihkan duniaku dari seorang dia. Meski tidak sepenuhnya. Fakta bahwa aku tidak bisa mengalihkan cintaku ke gadis cantik itu membuatku memang tidak bisa lari dari dia, dia yang punya tempat rapi di hati ini.

Dengan segala isi pemikiran itu, kuletakkan benda hitam kecil itu dan menatap jauh ke luar jendela. Dan tebak, apa yang terjadi? Ya, hujan.

Hujan yang sama, yang mengingatkanku pada rumput hijau yang kupijak dan batu basah yang kududuki saat berbincang dengan dia.

Hujan yang sama, yang membuat tanah basah ketika aku memutuskan untuk melupakan dia, persis di depan rumah berpagar hitam.

Hujan yang sama, yang sedari semalam membangkitkan segala kenangan dan hasratku tentang dia.

Hujan yang lantas menjadi tambah lebat. Derunya–entah bagaimana–membuatku melaju mengeluarkan kepalaku dari jendela dan menikmati deras serta basahnya anugerah langit itu.

Dan–entah darimana pula–aku semacam mendapat keberanian lagi untuk bertemu dia. Aku sadar, ketika aku memilih untuk meninggalkan rumah pagar hitam itu, aku memilih menyimpan sebuah unfinished business yang nyatanya laten.

Bukankah lebih baik aku menyelesaikannya, dan membiarkan dia memberikan kesimpulan alih-alih aku menyimpulkannya sendiri, seperti saat ini? Bukankah lebih baik ditolak daripada menganggap diri ini ditolak?

Tiba-tiba sebuah energi masuk ke langkah kakiku.

* * *

Kini, sepeda motor sewaanku sampai di depan sebuah bangunan berlantai 2. Tidak jauh dari tempat bisku berhenti kemarin. Sebuah perjalanan nekat–dan kembali–menembus hujan.

Dan ketika sesudah hujan, aku sampai di tempat ini, aku merasakan sebuah momen yang sama. Sebuah pengantar untuk sebuah penyelesaian. Sebuah prolog untuk sebuah happy ending. Setidaknya itu yang ada di pikiranku.

“Eh, Mas Leo, lama nggak mampir,” ujar Tante Eliz, seorang baik yang kuketahui sudah melahirkan dia ke dunia fana ini sebagai sebuah pesona tiada akhir.

“Iya, Tante. Mumpung liburan.”

“Ayo, masuk.”

“Makasih, Tante.”

Tempat ini tidak asing, karena aku pertama kali merasakan dinginnya dia padaku, ya di tempat ini. Hanya sebulan sebelum aku memutuskan pergi ke tempatnya tinggal sekarang, di sebuah rumah berpagar hitam.

“Key ada?”

Oke, percayalah aku nekat! Aku datang ke tempat ini untuk bertemu dengan dia, tanpa tahu apakah dia pulang ke rumah kelahirannya ini. Percayalah, tidak ada kata nekat dalam kamus cinta. Dalam cinta, semuanya mendadak menjadi hal yang ordiner.

“Ada, baru pulang tadi. Libur tahun baru dia.”

“Oh begitu. Tante sehat?”

“Syukurlah. Mau minum apa?”

“Jus apel, Tante. Hehe, bercanda. Apa aja deh.”

“Baiklah. Tante panggilkan Key dulu ya.”

Bahwa sebuah pernyataan barusan sudah membuat aliran darahku melaju lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan, kalau ada Amlodipine Besylate di tempat ini, aku sendiri meragukannya akan menurunkan kecepatan aliran darah ke jantung ini.

“Key, ada tamu tuh.”

Samar-samar kudengar Tante Eliz memanggil anak gadisnya itu.

Langkah kaki terdengar jelas di telingaku, dia sedang berjalan mendekat.

“Kak? Ngapain?”

Aku menemukan ekspesi kaget dalam pertanyaannya.

“Selamat sore, Keyla,” ujarku sambil tersenyum.

* * *

Tetes air hujan tampaknya mulai menyelesaikan tugasnya untuk turun dari langit. Kini hanya sisanya saja yang masih berjatuhan. Sementara suasana dingin memeluk bumi. Memeluk aku dan Keyla yang duduk di teras rumahnya sambil menatap hujan.

“Jadi, curhat-curhatmu jaman dulu itu ternyata aku?” tanya Key, matanya tetap menatap jauh kepada hujan.

“Sebagian besar.”

“Hmmmm..”

Suara air tersisa yang masih berjatuhan ke bumi menemani kesunyian pembicaraan sesudah hujan ini.

“Waktu kamu jadian sama Cello, aku sudah berhasil melupakan kamu, Key. Sampai kemudian aku tahu kalau kamu malah disakiti.”

Key terdiam, dengan ekspresi yang sama.

“Dan aku tahu segala resiko untuk kelancanganku pada saat ulang tahunmu. Entahlah, bagiku tidak selayaknya juga aku memberikanmu hadiah yang absurd macam itu.”

Dan Key masih terdiam.

“Dan waktu aku SMS kamu, SMS terakhir itu, aku ada di sana Key. Aku ngelihat kamu berangkat kerja, malah.”

Ada tatapan bermakna kaget, meski yang tampak adalah dia mencoba menyembunyikannya.

“Dan untuk suatu masa yang sudah bertahun-tahun lewat ketika aku memutuskan untuk melupakan kamu, pada akhirnya kamu kembali juga. Aku berbohong karena hati ini masih menyimpan satu tempat untukmu, yang tidak bisa digantikan.”

Gantian aku menatap langit sesudah hujan.

“Kamu tahu satu hal, Kak?”

“Apa?”

“Ah, kamu kan tahu banyak hal. Hehe.”

“Apa sih Key? Nggak mudeng aku?”

“Nggak kok, nggak. Kamu kan ngerti tentang lelaki yang dulu tak curhatkan ke kamu.”

“Aku nggak ngerti orangnya, tapi ngerti spek-nya.”

“Ciee, bahasanya. Mentang-mentang udah jadi bos Quality sekarang.”

“Bos ke Jogja nggak naik bis, Key.”

“Itu kan dalam rangka penghematan.”

Tampak menjadi tidak jelas, tapi aku menikmati percakapan ini. Percakapan yang sudah lama hilang antara aku dan dia.

“Jadi udah berapa lama kamu bohong sama hati kamu, Kak?”

“Cukup lama. Yang pasti sejak kita menjadi lebih dekat.”

“Hahaha, itulah. Kadang batas pertemanan itu yang bikin bias perasaan.”

“Banget.”

Tidak ada lagi tetes air hujan yang jatuh. Sesudah hujan ini aku merasa semakin dipeluk oleh kesejukan. Sejuk oleh cuaca, sejuk oleh terlepasnya beban secara perlahan dari hati ini.

“Dan untuk sesuatu yang sudah kamu tahu sendiri, Key. Just want to say, I love you. Aku nggak usah bilang since ya. Itu sudah lama sekali. Kalau waktu itu ada yang bikin anak, sekarang udah SD dia. Hehehe.”

Dia terdiam, tapi senyum tersungging di bibir manisnya, yang dikepung pipi yang semakin tembem saja. Aku seperti melihat dia yang sama dengan yang kutemui bertahun-tahun silam, dia yang membuatku berhasil jatuh cinta ketika pertama kali menyusup masuk lewat mata ini.

“Hmmm.. hmmm.. haha.. hahahaha..”

Dia tertawa perlahan, lalu kemudian lepas.

“Kenapa?”

“Nggak, Kak. Kadang lucu juga ya. Melihat semua yang pernah terjadi diantara kita. Kenapa jadi begini ya?”

“Nggak tahu,” ujarku sambil mengangkat kedua bahu.

“Dan asal kamu tahu, aku juga kehilangan saat-saat berbincang soal hati dengan kamu, Kak. Cuma memang aku masih nggak suka dengan yang kamu lakukan waktu aku ulang tahun dulu itu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa, udah lewat kok.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Emang kamu nanya?”

“Enggg.. nggak sih.”

“Hahahaha.. Kak, kak.. kamu ini.”

Dan aku hanya bisa tersenyum bingung.

“Ada suatu masa ketika aku mengerti kalau kamu yang bisa menembus pertahanan kuat hati ini. Dan mungkin aku merasakan hal yang sama.”

You love me too?” tanyaku, tiga perempat tidak percaya.

I think.”

Done. Eh, hati, ini loh maumu udah terjawab,” ucapku sambil menengok ke arah ulu hatiku.

“Gila kamu, Kak,” sahut Key dan lantas tertawa.

Sesudah hujan ketika hati ini memperoleh jawab atas sebuah penantian berbilang tahun. Hati mungkin bisa beradaptasi pada sebuah keputusan dan konsekuensi, tapi pada titik tertentu ia akan memunculkan kembali keinginannya. Dan kini, hatiku memperoleh keinginannya.

🙂