Happy Life Ala Bapak Millennial: Perlindungan Untuk Keluarga

Sejak menjadi bapak millennial sembilan bulan yang lalu, hidup saya tidaklah sesederhana masa lalu ketika persoalan hanya tentang mau makan di warteg atau di restoran cepat saji. Kini, ada anak yang harus dipikirkan–bersama-sama dengan istri, tentu saja. Sekarang, bisa tidur 8 jam tanpa terputus sudah merupakan keajaiban dunia nomor 8.

Apalagi, hidup dan bekerja di Jakarta bolehlah disebut susah, pelik, dan sulit diprediksi. Terlalu banyak faktor eksternal yang mengatur hidup, yang otomatis menjadikan perlindungan pada diri sendiri menjadi sangat penting. Terlebih, saya adalah kaum commuter yang berkantor puluhan kilometer dari rumah dan harus berpindah-pindah moda transportasi mulai dari kendaraan pribadi, KRL, bis, hingga ojek online. Semuanya dengan risiko masing-masing. Belum lagi, pekerjaan saya kadang juga mensyaratkan untuk berpindah dari kota ke kota, dari bandara ke bandara.

Maka, kalau lagi kena goncangan di udara, yang terbayang sekarang adalah senyum polos Istoyama di rumah. Jika sedang senggol-senggolan di Jalan Sudirman, yang sekelebat muncul di kepala adalah ocehan nggak jelas Istoyama. Kalau sedang stres di kantor, yang dirindukan adalah polah si bocah. Yeah, sekarang terminologi happy life alias hidup bahagia nggak jauh-jauh dari anak dan masa depannya. Begitulah takdir bapak millennial–yang sebagaimana kata Business Wire mikir-mikir kalau mau kasih adik untuk Istoyama.

Sumber: Business Wire

Cita-cita juga nggak lagi aneh-aneh. Apalagi, hasrat traveling sedikit banyak sudah diakomodasi oleh pekerjaan. Saya sudah pernah menginjak lebih dari 75% ibukota provinsi, dan sebagian besar terjadi karena faktor pekerjaan. Kini, keberadaan anak justru berkali-kali bikin saya menolak suatu penugasan ke tempat-tempat yang sebenarnya menarik. Lagi-lagi, sekarang apa-apa adalah soal anak dan keluarga, bukan lagi soal keinginan sendiri.

Maka, selain gencar berinvestasi di produk-produk yang memberikan keuntungan yang riil dalam rentang waktu yang diharapkan seperti properti, reksadana–seperti yang saya lakukan selama ini dengan akun Commonwealth Bank, Unit Link, atau cara-cara modern lainnya, Investasi Terbaik yang harus ada justru adalah Asuransi Jiwa. Sebagai kepala keluarga, saya harus memastikan masa depan keluarga dan untuk itulah Asuransi Jiwa menjadi sangat penting supaya setidaknya saya bisa sama dengan 34% millennial, dan bukannya keder seperti yang 13%.

Sumber: Millennial Money

Jelas, dengan hidup yang memang serba dinamis, Asuransi Jiwa mampu memberikan Manfaat Asuransi yang mengakomodasi happy life versi bapak millennial itu tadi: keluarga yang terlindungi. Jadi, selain pensiun yang akan diberikan oleh negara jika saya kenapa-kenapa, sudah ada perlindungan lain untuk memastikan bahwa kelak masa depan anak saya akan terjamin. Sekurang-kurangnya, lebih baik dari bapaknya.

Di usia 30-an awal, sudah tentu saya harus bergerak begitu kencang guna menjamin anak saya memiliki kehidupan dan masa depan yang baik, mumpung saya masih segar-segarnya dan sebelum semua kekuatan saya diserap oleh usia. Jadi, salah satu impian saya yang harus terwujud dalam waktu dekat adalah memiliki asuransi untuk melindungi diri sendiri dan juga keluarga. Mungkin agak berat, tetapi harus bisa.

Yeah, semoga semua teman-teman millennial bisa hidup berbahagia sebelum usia 40, yha. Ciao!

Advertisements

4 thoughts on “Happy Life Ala Bapak Millennial: Perlindungan Untuk Keluarga

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.