Pengalaman Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat

PENGALAMAN MEMBUAT PASPOR DI KANTOR IMIGRASI JAKARTA PUSAT

Jadi gini. Dalam beberapa hal saya memang masih kalah sama orangtua saya, termasuk juga dalam aspek dulu-duluan ke luar negeri. Bapak-Mamak saya sudah sampai Petronas, saya lebih milih sampai Danau Sentani. Itu juga dibayari negara. Kurang baik apa negara ini? Lho?

Nah, dalam rangka nggak mau kalah sama Bapak dan Mamak akhirnya saya membulatkan perut dan tekad untuk membuat paspor. Dasar kere, umur 28 baru buat paspor. Lha piye meneh? Jadi saya itu buat paspor juga tanpa tendensi hendak ke luar negeri dengan segera. Cuma memang saya sudah melewatkan beberapa lomba blog yang mensyaratkan punya paspor untuk mengikutinya. Kan sedih.

wpid-photogrid_1436282262424.jpgSetelah mengecek ke imigrasi.go.id, problema utama ternyata adalah pada verifikasi keaslian. So, saya harus bawa Kartu Keluarga asli. Padahal tahun lalu itu KK sudah saya bawa buat mengurus pencairan JHT buat beli tivi dan bayar cicilan rumah karena waktu itu saya sudah tiga bulan nggak gajian. Kan pedih. Heu.

Selengkapnya, klik disini!

Kajian Manajemen Risiko Terhadap LDR

Minggu lalu saya habis ikutan training tentang Manajemen Risiko. Ini ilmu yang lagi ngehits banget di dunia manapun, kecuali di negara yang rakyatnya hobi ngeshare berita cuma dari baca judul doang, lalu maki-maki orang di Pesbuk–padahal kenal juga kagak. ISO paling umum, 9001:2008, sedang mengarah ke 9001:2015 dengan penekanan Manajemen Risiko. Jadi ke depan, nggak akan ada auditor internal kacrut sok galak yang kemudian menemukan sebuah form yang tidak ditandatangani, kemudian mengenakan klausul 4.2.2 dan 4.2.3 sebagai temuan. Yang ada, pendekatannya, ketika form tidak ditandatangani, risikonya apa? Nah, itu baru bener.

word-cloud-risk-management-related-items-32680353

LDR? Selengkapnya, nih!