Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Stalking adalah kegiatan yang tidak direkomendasikan bagi pecinta diam-diam. Stalking hanya akan menghanyutkan perasaan cinta jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan penyebab yang paling utama adalah karena stalking tidak dapat mengubah apapun.

Teori stalking di atas adalah kesimpulanku untuk kegiatan yang kini sedang kulakukan sendiri. Yah, aku tahu stalking itu tidak baik, tapi akan halnya merokok, tidak stalking bisa membuatku gila.

Enam tahun, dan akan terus bertambah, aku diam dalam cinta diam-diam. Sebuah perasaan cinta yang berkembang menjadi tak menentu seiring berjalannya waktu. Pertahananku pada cinta diam-diam ini semata-mata perkara rasa. Aku sudah tiga kali berpacaran dalam periode enam tahun itu. Aku sudah mencoba menghilangkan rasa yang ada, namun sia-sia.

Laptopku masih menyala, tapi pandanganku lantas menerawang. Aku mulai berpikir soal kemungkinan-kemungkinan. Ah, untuk apa pula aku berpikir soal kemungkinan untuk sesuatu yang sudah berlalu? Tapi naluriku tidak bisa dibohongi oleh logika. Kadang-kadang itu terjadi juga. Nyatanya, kini aku semakin tenggelam dalam pengandaian dan kemungkinan. Perlahan, aku mulai menikmatinya.

Jemariku berhenti menarikan kursor di linimasa. Kursor kini mengarah ke folder foto. Kubuka folder dengan nama yang tersamar. Bagaimanapun laptopku bisa diakses oleh orang-orang yang bergantian memainkan Pro Evolution Soccer (PES) di kamarku. Folder dengan deretan angka yang sukar dimengerti, 111701038788. Siapa pula yang hendak iseng membuka folder bernama absurd ini?

Folder terbuka dan terhampar deretan foto dengan tokoh yang sama persis dengan yang terbuka di linimasaku. Yah, inilah gadis yang menjadi korban stalking-ku, inilah gadis yang menjadi cinta diam-diamku.

Foto itu bercerita banyak hal. Aku menyimpan foto itu sejak pertama kali aku mengenalnya. Dari deretan foto itu pula aku bisa melihat perubahan fisiknya selama 6 tahun terakhir. Satu hal yang pasti, ia bertambah cantik.

Pikiranku makin kacau setelah melihat rangkaian foto itu. Gerak tubuhku berubah acak. Jari-jariku menari entah kemana. Aku berusaha mengontrol diri dan berhasil. Kualihkan pandangku sejenak dari layar laptop menuju telepon genggamku.

“Saranku sih jangan, bang. Dia bukan tipe orang yang pacaran dengan teman.”

Sebuah pesan singkat dari adikku. Pesan singkat yang kemudian membunuh mimpiku perlahan-lahan. Pesan singkat yang menimbulkan timbunan penyesalan. Aku percaya benar pada adikku soal ini karena ia adalah teman akrab pemilik rangkaian foto yang sedang terhampar di layar laptopku.

Teman. Sebuah kata yang ternyata mampu menghabisi mimpi yang indah. Anganku berlari ke masa lalu, ketika aku mulai mendekati gadis ini. Sebuah pendekatan yang tidak biasa, karena arahnya kemudian berubah. Aku dan dia tidak menjadi sepasang kekasih, tidak pula menjadi mantan. Aku dan dia menjadi teman yang akrab. Cukup akrab untuk saling berbagi canda hingga berbagi masalah. Cukup akrab untuk saling bertukar visi tentang masa depan. Cukup akrab untuk sekadar berbagi sisi sentimental.

Satu kata itu, teman, benar-benar membunuhku. Aku merasa sangat nyaman di dekatnya sehingga aku tidak berani bertindak lebih lanjut. Aku sudah membayangkan kedekatanku dengannya akan musnah ketika aku mulai mendekatinya untuk dijadikan pacar. Aku sudah membayangkan rasanya memiliki hari-hari tanpa bertukar pikiran dengannya. Itu mungkin serasa neraka buatku. Maka aku memilih untuk tetap menjadi teman dan menahan rasa cinta yang membuncah dalam dada sekaligus mengolahnya menjadi cinta diam-diam.

“Coba dulu tak tembak aja,” gumamku sambil memandang kembali layar laptop.

Ketika otakku sudah berpikir tentang ini, maka diksi yang pasti muncul adalah ‘Coba dulu’ disertai lanjutannya. Yah, aku sering berpikir bahwa aku sudah bertindak keliru sejak awal. Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mendekatinya dalam upaya mencari cintanya juga, tapi kemudian aku memutuskan untuk berteman akrab saja dengannya. Sebuah pilihan yang membuatku segila sekarang.

sumber: transgriot.blogspot.com

Coba dulu aku tembak saja gadis manis itu. Aku mungkin akan ditolak pada kesempatan pertama. Bagiku itu tampak lebih mudah karena aku pasti hanya butuh 1-2 bulan untuk kemudian berpaling ke target lainnya. Atau mungkin aku sudah nyaman dengan dia sebagai kekasih hatiku tanpa perlu memendam cinta dalam kadar tertinggi ini. Atau bisa juga aku dan dia berpacaran lalu putus, itu juga mungkin akan lebih baik karena solusinya hanya move on.

Sekarang? Bagaimana mungkin aku akan move on ketika aku bahkan tidak bergerak sama sekali, sejak 6 tahun yang lalu? Aku masih disini, diam, melihat, mencintai, dan terus menerus seperti itu. Seandainya dulu aku bisa lebih nekat, pasti aku tidak disini sekarang. Ah, tapi mana bisa? Ini kan soal cinta, sesuatu yang perlu usaha lebih untuk dimengerti.

Seandainya juga dulu aku tidak melanjutkan pertemananku lebih intens, mungkin aku juga tidak akan segalau ini. Aku punya banyak teman, tapi hanya sedikit yang mengetahui sisi sentimentilku dan sebaliknya. Seandainya juga aku tidak memperkenalkan orang tuaku padanya dan sebaliknya. Seandainya pula kedekatan kami tidak sampai pada level berbagi masalah. Ah!

Semua kedekatan itu membuatku semakin mengenalnya. Seluruh intensitas itu mampu menancapkan citranya di hatiku. Dan kombinasi kedekatan itu, parahnya, membuatku semakin jatuh cinta padanya. Pada akhirnya, membuatku semakin tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih untuk berbuat berbeda. Aku tidak akan diam memendam rasa yang sama hingga bertahun lamanya. Aku akan mendekatinya perlahan, mencari celah di hatinya, mengungkap rasa, dan menikmati keputusannya.

Jika aku diterima, maka aku akan menjadi kekasih hatinya dan akan selalu membahagiakannya. Jika lantas di kemudian hari tidak ada kecocokan, maka aku akan melepasnya dengan bangga karena aku pernah punya mantan yang loveable. Jika kemudian aku ditolak, maka aku dengan pasti akan beralih mencari cinta yang lain.

Kalau aku bisa memutar waktu, aku hanya akan membuat satu perbedaan dalam hidupku. Satu hal kecil saja, aku hanya perlu mengungkapkan perasaanku padanya sebelum semuanya terlambat.

Kalau saja aku bisa membuat masa itu kembali lagi, aku piker hidupku akan jauh lebih baik dari ini. Hidupku tidak akan lekat dengan stalking di linimasa, tidak akan diam di hamparan foto dalam folder dengan nama tersembunyi, juga tidak akan mati dalam rasa yang tidak terungkapkan.

Perlahan pengandaian ini ikut membunuhku. Yah, semua sudah terjadi dan aku tidak bisa memutar waktu. Aku harus hidup dengan jalan ini. Dengan memendam cinta yang terungkap. Bukan untuk sebuah pernyataan “entah sampai kapan”, tapi untuk “selama-lamanya”.

Aku terdiam menatap lekat foto di layar laptop. Perlahan dua bulir air mata mengintip dari rongga dan bergegas turun. Cinta diam-diam adalah tataran tertinggi dalam mencintai, sekaligus paling menyakitkan.

Aku Ingin Jatuh Cinta

Jemariku belum lepas dari telepon genggam yang agak pintar ini. Sudah dua jam lebih aku terkapar di kasur sambil memegangi benda hitam mungil yang kubeli dari Tunjangan Hari Raya tahun lalu ini. Aplikasi yang dibuka sebenarnya tidak banyak, hanya Facebook, Twitter, dan beberapa portal berita. Ketika aku bosan, maka aku akan mengulang kembali aplikasi yang sama. Selalu ada yang baru di newsfeed FB dan timeline Twitter, jadi biasanya mampu membuatku tidak bosan.

Beginilah aktivitasku sehari-hari. Sepulang dari kantor, aku hanya terpakar di kasur dan akrab dengan aplikasi yang tidak banyak. Aku tahu ini hanya upayaku untuk mengalihkan diri dari masa lalu tapi tampaknya aku bertindak dengan cara yang salah. Aku masih tetap memegang benda hitam mungil ini. Aku memang membuka aplikasi, tapi mata dan jariku sangat awas pada notifikasi Whatsapp di pojok kiri atas. Lingkaran hijau itu yang selalu mengingatkanku tentang masa lalu yang indah.

Nyatanya, lingkaran hijau notifikasi itu tidak pernah ada lagi. Hidupku memang tidak pernah sama lagi. Sejak aku dan dia memutuskan untuk berpisah karena perbedaan yang tidak lagi dapat menyatukan dua hati yang rindu, hidupku memasuki babak baru. Menurutku, ini babak baru yang suram.

Aku tidak lagi mampu mengerjakan sebuah laporan dengan cepat. Aku jauh lebih sibuk melihat telepon genggam yang nyata-nyata tidak pernah berbunyi lagi. Dalam setiap pandanganku ke layar monitor, aku tidak melihat forecast dan rencana produksi. Angka-angka itu, di mataku, menjelma menjadi teks percakapan Whatsapp plus emoticon yang menyertai.

Aku tidak lagi menempuh perjalanan dengan riang karena tidak ada lagi yang berpesan padaku seperti yang dia selalu lakukan dulu, “hati-hati ya”. Malah wajahnya terbayang di berbagai kejadian, entah itu lukisan di belakang truk hingga sekadar orang lewat. Aku selalu merasa sedang melihat wajahnya.

“Brakkkk.”

Terdengar suara pintuku dipukul keras. Ah, itu pasti Rian yang baru pulang kerja. Sudah menjadi kebiasaannya untuk berbuat barbar macam itu. Sudah hampir pasti juga kamarku menjadi sasaran karena terletak paling depan.

“Apa?” teriakku sambil tetap terguling sempurna.

“Nggak apa-apa. Makan?”

“Nanti.”

“Ya. Mandi dulu.”

“Ya.”

Aku serasa hidup di hutan kalau sedang ngobrol dengan Rian dalam posisi ini. Aku tergolek lesu di kamar, Rian duduk asyik di depan televisi yang jaraknya lima belas meter dari tempat aku berbaring sekarang. Rian tertawa riang karena baru jadian, aku tertunduk lesu karena baru putus.

Hawa panas di dalam kamar yang pengap ini akhirnya mampu membuatku bergerak. Dua jam terkapar dengan masih mengenakan seragam kantor adalah tabiat buruk yang tidak layak ditiru. Seragam kantorku—berikut kelengkapannya—sangat cocok untuk kantorku yang dingin ber-AC, tapi tidak untuk kamarku yang pengap dan lembab.

Aku bangkit, tapi tetap lemas. Mataku masih awas pada sudut kiri atas telepon genggamku, berharap notifikasi Whatsapp muncul. Satu menit mataku menatap awas ke arah itu, dan nihil. Segera kulepas seragam kantorku dan berganti dengan baju rumah.

“Jokowi atau Foke?” tanyaku pada Rian yang sedang asyik duduk di depan televisi, menonton Quick Count Pilkada DKI.

“Ini lagi nonton.”

“Nggak phonesex?”

“Belum.”

Tepat ketika Rian selesai menyebut “belum”, Blackberry-nya berbunyi. Rian bergegas masuk kamar, dan aku langsung menyimpulkan itu adalah pacarnya.

Perihal istilah phonesex, memang agak vulgar. Meski tidaklah ada diksi yang cukup kurang ajar di sebuah kos-kosan cowok yang berisi staf-staf muda di berbagai pabrik. Rian yang mencetuskan istilah itu ketika ia sering tiba-tiba berada di depan kamarku dan mendengarkan pembicaraan teleponku.

Kini dunia berbalik. Rian sering senyum-senyum sendiri. Staf di pabrik otomotif ini juga bisa berjam-jam bertelepon ria di dalam kamar. Dalam beberapa kali percakapan, ia mulai sering menyebut diksi “bojoku”.

Ah, ini pasti pertanda jatuh cinta. Sebuah keadaan yang mampu mengaduk-aduk emosi manusia. Sebuah perasaan yang mampu meningkatkan kadar senang dan sedih dalam hitungan detik. Sebuah kondisi yang bisa menyunggingkan senyum dan menorehkan luka lebih cepat dari membalik telapak tangan.

sumber: iamalittlemorethanuseless.blogspot.com

Rian sedang menikmati indahnya. Ia tersenyum sepanjang hari. Kalau jam 10 malam ia sudah keluar dari kamar, senyumnya bisa lebih mengembang. Saat main PES 2012 pun, ia hampir selalu menang karena bermain dengan riang gembira. Ketika mandi, ia bernyanyi paling keras, bahkan sampai terdengar ke kamarku. Indah sekali hidup seperti Rian ya?

Aku masuk ke kamar mandi, tetap dengan gontai. Kuletakkan peralatan mandi di pinggir bak dan kugantung handuk pada tempatnya. Kedua tanganku masuk ke bak dan basah seketika. Kuusap kedua belah tangan itu ke wajahku. Pikiranku melayang ke berbagai tempat. Sekelebat tampak Rian yang sedang riang gembira. Sedetik berikutnya  terbayang kesendirianku di dalam kamar. Sejurus kemudian berganti ke masa silam, ketika aku berada pada posisi yang sama dengan Rian.

Bahwa jatuh cinta itu indah, aku paham benar soal ini. Bahwa ada konsekuensi lain dari jatuh cinta, aku juga harus mengerti soal itu. Maka pikiranku melayang ke sebuah percakapan yang masih melekat erat di hidupku.

“Mas, aku mau kita udahan.”

“Kenapa?”

“Ya, kamu tahu kan. Kita nggak bisa bersatu.”

Aku terdiam, berpikir, dan mengeluarkan kata-kata yang menurutku ajaib bisa meluncur dari mulutku sendiri, “Kalau memang itu yang terbaik buat kamu, nggak apa-apa kok.”

Senyum tersungging kecil di bibirku, berharap itu dapat menyunggingkan senyum yang sama dari bibir lawan bicaraku.

“Aku sayang kamu, Mas. Tapi sepertinya memang harus begini. Ini bukan yang terbaik untukku. Akupun menangis karena ini.”

“Ini fakta kok, kita itu sukunya berbeda. Ya nggak ada yang bisa diubah.”

“Mas?”

“Iya?”

Dan yang kudengar selanjutnya ada isak tangis, dari gadis yang sangat kucintai ini. Perbedaan suku berhasil memisahkan dua hati ini.

Kusandarkan dua tanganku pada bak mandi, kupandang air yang menggenang di bak itu. Kulihat wajah gembira Rian disana, kulihat kebersamaanku dengan gadis manis yang aku cintai, kulihat tubuhku terkapar di dalam kamar.

Ah, seandainya aku bisa seperti Rian, yang sedang menikmati indahnya jatuh cinta. Seandainya waktuku menikmati indahnya jatuh cinta itu bisa lebih lama. Berbagai pengandaian lain mendadak bermunculan, sekaligus berupaya menepis kenyataan. Sebuah kesia-siaan, karena kenyataan tidaklah musnah oleh pengandaian. Ini tetaplah kenyataan.

Aku ingin jatuh cinta lagi, tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku sudah jatuh terlalu dalam di hatinya.

Sarung Tangan

Setelah pergumulan sekian waktu, akhirnya saya memutuskan untuk membeli sarung tangan kiper. Yah, secara nominal sih nggak banyak. Saya pernah kalap beli buku dengan harga 2 kali lipat sarung tangan ini. Hehe..

Bermula dari ngelihat sebuah sarung tangan keren di mall lippo dengan harga 199 ribu. Pastinya keren itu. Saya sih ogah beli yang ecek-ecek 20-30 ribu kalau hanya untuk rusak dalam waktu singkat. Tapi dipikir-pikir lagi, dan akhirnya ditemukan sebuah model yang harganya lebih masuk akal. Jadilah saya beli.

Oke, kenapa dengan sarung tangan?

Tentu kejadian kuku galau waktu futsal bareng Raditya Dika masih membekas. Sejak itu saya memang sudah mulai mengubah teknik menangkap bola saya yang dulu buruk menjadi sedikit tidak buruk. Sejak itu juga saya mulai lebih cermat, tapi ya namanya yang nendang bola kencang-kencang, siapa yang ngira sekeras apa itu bola.

Lagipula jari-jari saya nggak kokoh, perlu penopang. Dan berdasarkan panggilan jiwa (berhubung dipecat di posisi mana-mana) jadilah saya konsen di kiper. Hmmm, sebenarnya ada 1 quote yang bikin saya termotivasi untuk mencoba lebih baik. Itu dari pemilik blog ini yang bilang, “saiki dadi kowe” atas sebuah tepisan sederhana di waterboom. Ya, setidaknya ada apresiasi 🙂

Dan sarung tangan itu mulai membantu saya kemarin.

Menjadi kiper itu remeh, seperti seorang teman bilang, “halah, jadi kiper doang, nggak ada kerjaan.”

Tapi saya tahu kok, menjadi kiper tidak sesederhana yang terlihat. 🙂