Kala Nyaris 2

“Hmmm…”

Kalau kamu sudah mengetik bagian ini, aku berasosiasi kamu pasti hendak menulis sesuatu yang penting.

“Kenapa?”

“Gpp.”

“Yakin?”

“Hmmm, ya nggak penting juga.”

“Nggak penting bukan berarti nggak boleh disampaikan loh.”

“Hmmm, yah kadang berasa kangen aja.”

Aku terbelalak, tapi kamu kan tidak tahu ekspresiku saat itu.

“Sama kalau begitu.”

Yah, setelah keputusan kita untuk tidak lagi berusaha menyatukan hati, sejatinya aku kehilangan. Tapi bagaimanapun aku harus sadar kalau kita berada di sisi yang berbeda.

Sebuah jurang besar, yang ironisnya bukanlah agama, terbentang diantara kita. Sebuah jurang besar yang pasti akan sulit kita seberangi satu sama lain. Aku menikmati kala kita berjalan di sisi jurang untuk bersama-sama mengikat rasa. Tapi, ah, jurang itu.

Aku kehilangan kamu, sungguh. Kebersamaan kita memang hanya singkat, tapi aku mendapatkan banyak hal. Aku paham rasanya berbagi resah, aku mengerti indahnya berbagi cerita, dan aku tahu pahitnya perpisahan.

Sebenarnya aku salah jawab tadi. Ini tidak sama . Kamu mungkin kangen. Aku? Sebentar, biarlah aku mencari diksi yang tepat untuk menggambarkan rindu yang membuncah, meluber, dan meruah padamu. Ya, kamu.

“Sudah tidur?”

“Belum.”

“Hmmm..”

“Kenapa?”

“Gpp.”

Dan percakapan kita kembali dingin. Ini nyaris dua bulan kita berpisah, sebuah waktu yang kita pilih ketika kita nyaris 2 bulan bersama.

Arrggghh!!!

Rindu Gila

Sekelebat tampak benda manis lewat di depanku.

“Oke juga,” pikirku.

Dan entah kenapa ada dorongan aneh dari dalam diriku. Kuikuti sosok manis itu dari belakang. Entah, ada semacam rindu yang aneh muncul tiba-tiba. Tapi aku memilih mengikuti naluri.

Kuikuti terus, tanpa upaya memanggil. Kubuntuti sosok itu berjalan. Dan aku merasakan rindu yang benar-benar gila. Sejak kapan rindu oleh sekelebat sosok manis ini tiba? Dan kenapa dia tiba?

Sudah hampir sampai lorong ujung kampus. Aku sudah capek juga mengikutinya. Maka kupercepat jalanku. Kukeluarkan kartu nama yang selalu jadi andalanku. Yah, gadis mana yang bisa abai dengan kartu namaku, seorang yang terkenal di kampus ini.

Aku berlari, kugapai sosok manis itu. Ia berbalik dan seketika aku sadar mengapa aku rindu.

“Kamu to?”

“Iya. Kok disini?”

Sedari tadi aku mengikuti mantan pacarku, pantas saja aku merasa rindu.

🙂