Sedikit Kisah Tentang Alfa

Saya yakin, buat teman-teman yang tahu benar kisah dan riwayat si Alfa dalam cerita ini, pasti tertawa ngekek. Ini memang bukan kisah sembarangan, dan saya percaya bahwa Tuhan menganugerahkan Alfa kepada saya adalah dalam rangka saya bisa memperoleh hikmat atas cobaan-cobaan yang muncul menyertainya.. hahahaha..

Alkisah, saya diberi karunia sebuah motor murah meriah muntah bernama Alfa, lahir tahun 1989, berwarna merah, dan yang pasti PENYAKITAN. Tapi it’s OK, seperti saya bilang tadi, banyak hikmat yang saya peroleh atasnya. Berikut saya sampaikan beberapa kegilaan si Alfa:

1. Waktu mau penyuluhan AIDS di Prambanan. Saya disuruh berangkat duluan sama teman-teman. Dan di setengah jalan, saya disalip sama teman-teman yang berangkat 30 menit belakangan. Apa pasal? Ketika diagakgeber, pistonnya berbunyi dan berteriak, “Ampun Bang, nggak kuat…krik..krik..krik…” Dan ketika saya jalan pelan, dia mau berdamai. Hmmm..

2. Salah satu fenomena motor rusak adalah nggak mau hidup. Itu biasa. Tapi kalau si Alfa ini, problemnya, mulai dari nggak mau hidup sampai…NGGAK MAU MATI! Suatu kali di parkiran motor kampus, saya bahkan perlu sok-sokan duduk diam di motor yang masih menyala meski kunci kontaknya sudah lepas 5 menit yang lalu, dalam rangka menunggu dia mati. Sementara si Alfa masih terus batuk-batuk ringan. Solusinya ada beberapa, kecilkan putaran gasnya, atau yang paling ekstrim, ambil kain lap, copot businya. Dan hmmm.. solusi ekstrim yang tidak mempertimbangkan OHSAS itu bahkan masih membuatnya tetap menyala. Astaga.

3. Perjalanan awal bulan selalu menyedihkan, saya biasanya pinjam motor teman untuk ini. Ya bukan apa-apa, saya harus mengantarkan uang bulanan ke adik-adik yang kosnya jauh-jauh (jauh dalam definisi si Alfa). Pernah suatu kali, karena kerusakan CDI, perjalanan Paingan-Gowok-Purawisata-Paingan menghabiskan 3 busi @10.000. Ini motor boros amat yak?

4. Si Alfa ini kalau pas mati, nggak mikir-mikir. Pernah pula, pas pulang latihan PSM, jam setengah 10 malam, MACET. Dan itu posisinya di perempatan Condong Catur yang kalau jalan kaki sampai Paingan (apalagi nonton motor), lumayan. Dan terjadilah. Heh.. Tapi uniknya, hari itu saya benar-benar tidak emosi, kalau biasanya, itu motor saya tendang dan pengen tak buang. Tapi kok waktu itu nggak. Ada-ada saja.

5. Selain boros bensin karena dua tak, si Alfa juga boros karena sering pipis sembarangan. Bahkan saya sampai pernah menggunakan tusuk gigi ditutup sama pantat bolpoin pilot untuk menutup saluran itu, supaya dia tidak pipis sembarangan. Tapi tetep aja. Hmm.. Bukan apa-apa, bensin kan bisa meledak, kan mesakke ada ledakan karena pipisnya si Alfa ini.

6. Oh iya, si Alfa punya sedikit kelebihan. Tidak perlu muter gas biar dia jalan. Soalnya kawat gasnya udah gitu deh. Jadi cukup masukkan gigi, dan ia akan berjalan seperti mobil yang dilepas koplingnya. Itu kelebihan atau kekurangan? Hahaha..

7. Yang hobi banget kejadian adalah sekrup footstepnya yang copot. Entah kenapa ya, dari 3 sekrup itu selalu aja ada yang copot, diganti ini, copot yang itu, diganti itu, copot yang anu. Apa saya yang naik motornya kebandelan? Nggak juga deh.

8. Hmmm.. kecepatan maksimal dari si Alfa, adalah…… 40 km/jam. Yah, harus diterima dengan lapang dada kalau ini. Tapi mengenaskan untuk ukuran motor 2 Tak.

9. Lampu? Jangan diharap. Saya mengandalkan intuisi ketika berjalan di kegelapan. Yang penting itu lampu kelihatan sama orang di depan dan belakang aja deh. Biar nggak ditabrak. Hehehe..

Itu baru sembilan, sebenarnya ada lagi, pelek yang mau pecah, dashboard yang lepas sampai bolong, rantai nyangkut, oli mblobor, dll. Saya menulis ini bukan dalam rangka mengeluh juga . Seperti saya sebut tadi, ini sepenuhnya hikmat.

Sampai ketika saya mendapat Bang Revo di 2007, dan harus menjual si Alfa, ada perasaan berat juga. Dia sudah menemani saya tidur segala loh. Soalnya dulu saya tidur bersama bensin pipisnya dia. Astaga. Tapi ya dia memang harus dijual dengan harga yang bahkan bayar SKS 1 semester aja kurang, saking murahnya. Hahahaha.. Dan dari hikmat-hikmat yang diberikan atas nama Alfa, saya bisa menjalani hidup bersama Bang Revo dan sekarang si BG, dengan lebih menyenangkan.

Oya, ini pose saya bersama Alfa, sesaat sebelum dia dijual:

Saat Terakhir

Semua yang datang dan pergi dalam hidup kita, pasti ada hikmatnya. Jangan selalu menganggap itu buruk, bahkan derita pun pasti ada sisi baiknya. Itu refleksi saya  bersama si Alfa. Dimana ya dia sekarang? Hmmm…

Belajar Bahasa Minang (Versi ArieSadhar)

Empat belas tahun tinggal di Bumi Minang, walaupun nggak asli, bolehlah sedikit berbagi pengetahuan. Kan lumayan, kalau anda-anda belanja dimana-mana, percaya deh, hampir dimanapun ada orang Minang. Saya beli baju di Pasar Baru Bandung, saya lewat di Malioboro, bahkan saya makan di sebuah warung di Nias Selatan, ada aja orang Minang. Mungkin kalau saya ikut program ke Mars, disana sudah ada orang Minang datang duluan.

download (5)

Bahasa Minang, pada dasarnya, meng-o-kan kata-kata. Itulah ketololan sepanjang hayat. Termasuk presenter banci yang ngakunya orang Padang, semuanya di-o-kan. Saya yang bukan orang Minang saja malu dengernya. Hedeh.

Ketemu pertama, mari menyapa:
saya = ambo, denai (yg dikasarkan menjadi aden)
kamu = awak, ang (bukan avatar loh ini..)
Dia = inyo
Kakak = uni
Abang = uda
Adik = adiak
Jadi, kalau beli sate Padang, pas pulang, coba bilang, “Berapa, Da?” kalau yang jualan laki-laki.

Menyoal beli sate, kalau kita tanya demikian, bisa jadi dia akan jawab dengan bahasa Minang. Jangan bigung, karena bahasa Minang sangat nikmat kalau dipelajari. Ingat aja lagu DoMiKaDo, ciek duo tigo. Ini kali ya yang bikin bahasa Minang itu seolah-olah semua o. Mulai dari 1 ya, ciek, duo, tigo, ampek, limo, anam, tujuah, (sa)lapan, sambilan, sapuluah, sabaleh, duo baleh, tigo baleh. Hmm.. sejak 12, muncul baleh sebagai belas versi Minang. Hati-hati, jangan salah nyebut sebelas jadi ciek baleh, soalnya nanti bikin malu. Begitu sampai 20, jadi puluah, duo puluah, tigo puluah, ampek puluah. Dan, as well as ASEM or BAJIGUR  word in Java, be careful to use AMPEK in Minang. Konotasinya jadi agak negatif.

Oya, satu lagi yang saya ingat banget, soalnya pernah malu sama Alm. Uda Haris. Kelapa di Minang adalah Karambia, jangan bilang KALAPO.

images (13)

Kata-kata standar, ada bara (berapa), a (apa), ko (ini), jo (dengan), indak (tidak), ka (ke). Biar agak asik kedengarannya, banyak digunakan penikmat berupa a dan do. Semisal: iko a (ini), atau indak do (tidak). Kata-kata lain pai (pergi), lalok (tidur), imbau (panggil), jago (bangun), baraja (belajar), tokok (pukul), siko (sini), ketek (kecil), bulek (bulat), berang (marah), kaja (kejar), kajai (karet), gundar (sikat), gadang (gede), saketek (sedikit).

Penggunaan bahasa ini berguna waktu saya nawar jaket di Pasar Baru Bandung, berguna waktu meninggalkan counter di emperan Malioboro karena jadi tahu kalau si penjual mau mark up sekayangnya, dan sangat bermanfaat waktu saya membayar makanan di Nias Selatan. Coba deh, sekali-kali teman-teman terapkan di rumah makan padang, untuk memastikan keaslian rumah makan tersebut. Dan sekali lagi, ini versi saya lho ya, banyak ketidaksempurnaannya.

Squidward Q. Tentacles

Squidward menurut Wikipedia:

Unlike most characters in the series, Squidward is generally consideredgrumpy, tactless, sarcastic, and narcissistic. He dislikes many things, including his consistently annoying neighbors Spongebob and Patrick and his job at the Krusty Krab, and is constantly aloof towards the citizens of Bikini Bottom. However, Squidward enjoys abstract art, playing his clarinet (usually quite poorly), modern dance, relaxing, public radio, television programs, and just about anything else that he considers “fancy”. He doesn’t like anyone, except his mom. In Truth or Square, it was revealed that Squidward was a happy and laid back person with a secret garden, but it changes when a pineapple falls over him and his garden, and SpongeBob bought the “house”. The years of irritation with SpongeBob have turned Squidward in the sarcastic and grumpy character that he is now.

Squidward was introduced in the series premiere of the show, as the cashier of the Krusty Krab restaurant. He has held this position for the entire series, and serves as the co-worker of SpongeBob, who is the establishment’s fry cook. His home is a stone tiki head designed to look like the Moai found on Easter Island. The “eyes” of the tiki head consist of the house’s only windows on the second floor.A running gag is that his house gets destroyed in nearly every episode that it has appeared in. He has sought more prestigious and lucrative careers in the arts but has largely failed, as his archrival, a similarly designed but much more successful octopus named “Squilliam Fancyson,” regularly notes whenever he appears.

Saya nggak perlu menjelaskan panjang lebar, tapi setelah mendapat sebuah SMS dari teman soal mimpinya dan menonton sekilas Spongebob, serta membandingkan dengan buku Your Job Is Not Your Career (Rene S.), kok karakternya pas banget di Squidward?

Coba lihat baris pertama sampul belakang buku Pak Rene, “Jika pergi bekerja membuat Anda ingin terjun ke dalam sumur, maka Anda tidak sendiri“. Si Squidward? Jelas banget. Berulang kali, di berulang episode (kan episodenya diulang-ulang hehehe..) ia menyatakan tidak suka pekerjaannya dan akan keluar setelah menjadi seniman sukses.

Faktanya? Ia tetap kasir di Krusty Krab. Squidward tetap kalah dari Squilliam III Fancyson, kecuali dalam hal Rumah Indah yang kejadiannya karena rumahnya hancur, sehingga malah dianggap klasik. Itu saja.

Hmmm.. Squidward sangat interest di seni, dan ia menanti, sampai ada kesempatan menjadi pekerja seni-entah sampai kapan-sambil tetap bekerja di Krusty Krab.

Well, ada berapa banyak Squidward di dunia kerja saat ini? Seperti kata seseorang kepada saya suatu kali, “persoalannya cuma satu, saya masih butuh uang untuk bisa tetap hidup”.