[Interv123] Tax Officer – Travel Blogger

BAYAR UTANG!!! Pada akhirnya saya nulis soal Interv123 lagi. Artinya sudah utang 3 kali nggak nongol, meleset dari jadwal. Beginilah nasib blogger merangkap karyawan, plus ada sedikit urusan yang mengharuskan saya fokus kesana–karena ngaruh ke masa depan, jadi nggak bisa wawancara, deh. Jangankan interv123, anak saya bernama OOM ALFA aja sedikit lepas dari pengawasan. Urusan apa? Nah, sedikit banyak urusan itulah yang memberi influence pada pemilihan tokoh Interv123 kali ini 🙂

Kali ini Interv123 menghadirkan seorang abdi negara alias pegawai negeri sipil. Tapi tentu saja, kalau di blog sini nggak sembarang tamu yang datang dong. Kalau sembarang PNS mah saya bisa asal comot aja di kecamatan.

Jadi, siapa dia?

Sumber: efenerr.com

Sumber: efenerr.com

Di dunia maya, tamu saya ini menggunakan nama tenar Efenerr, bisa ditemui di twitter @efenerr, juga blog efenerr.com, ya beda-beda tipis sama ariesadhar.com gitu deh. Nama aslinya nanti baca sendiri di bawah, tapi dia juga punya nama panggilan “Sinchan”. Mungkin karena sama nakalnya.

Hah? Nakal?

Advertisements

Squidward Q. Tentacles

Squidward menurut Wikipedia:

Unlike most characters in the series, Squidward is generally consideredgrumpy, tactless, sarcastic, and narcissistic. He dislikes many things, including his consistently annoying neighbors Spongebob and Patrick and his job at the Krusty Krab, and is constantly aloof towards the citizens of Bikini Bottom. However, Squidward enjoys abstract art, playing his clarinet (usually quite poorly), modern dance, relaxing, public radio, television programs, and just about anything else that he considers “fancy”. He doesn’t like anyone, except his mom. In Truth or Square, it was revealed that Squidward was a happy and laid back person with a secret garden, but it changes when a pineapple falls over him and his garden, and SpongeBob bought the “house”. The years of irritation with SpongeBob have turned Squidward in the sarcastic and grumpy character that he is now.

Squidward was introduced in the series premiere of the show, as the cashier of the Krusty Krab restaurant. He has held this position for the entire series, and serves as the co-worker of SpongeBob, who is the establishment’s fry cook. His home is a stone tiki head designed to look like the Moai found on Easter Island. The “eyes” of the tiki head consist of the house’s only windows on the second floor.A running gag is that his house gets destroyed in nearly every episode that it has appeared in. He has sought more prestigious and lucrative careers in the arts but has largely failed, as his archrival, a similarly designed but much more successful octopus named “Squilliam Fancyson,” regularly notes whenever he appears.

Saya nggak perlu menjelaskan panjang lebar, tapi setelah mendapat sebuah SMS dari teman soal mimpinya dan menonton sekilas Spongebob, serta membandingkan dengan buku Your Job Is Not Your Career (Rene S.), kok karakternya pas banget di Squidward?

Coba lihat baris pertama sampul belakang buku Pak Rene, “Jika pergi bekerja membuat Anda ingin terjun ke dalam sumur, maka Anda tidak sendiri“. Si Squidward? Jelas banget. Berulang kali, di berulang episode (kan episodenya diulang-ulang hehehe..) ia menyatakan tidak suka pekerjaannya dan akan keluar setelah menjadi seniman sukses.

Faktanya? Ia tetap kasir di Krusty Krab. Squidward tetap kalah dari Squilliam III Fancyson, kecuali dalam hal Rumah Indah yang kejadiannya karena rumahnya hancur, sehingga malah dianggap klasik. Itu saja.

Hmmm.. Squidward sangat interest di seni, dan ia menanti, sampai ada kesempatan menjadi pekerja seni-entah sampai kapan-sambil tetap bekerja di Krusty Krab.

Well, ada berapa banyak Squidward di dunia kerja saat ini? Seperti kata seseorang kepada saya suatu kali, “persoalannya cuma satu, saya masih butuh uang untuk bisa tetap hidup”.

Dan kembali ini soal passion..

Rene Suhardono menulis buku yang sangat menyentuh nurani saya, terlihatnya buku itu tepat ketika saya berada dalam kegalauan berkarier. Dan bagian terpenting dari buku itu adalah kalimat “Passion is not what you are good at. It’s what you enjoy the most.” Dan satu bagian terbaik adalah perbedaan antara Career dan Job, bahwa Job adalah bagian dari Career. Yap, pekerjaan hanyalah bagian dari untaian karir kita, tentunya dengan aspek bahwa ‘seharusnya’ ada kaitan signifikan antara karir dan passion. Kenapa? Karena hanya dengan keberadaan passion-lah, manusia dapat menentukan dan menjalankan karir-nya. Mengutip blog seorang teman, bahwa passion adalah juga a strong of affection or enthusiasm for an object.

Yap, sejatinya memang tidak akan ada sesuatu yang dahsyat yang akan tercapai tanpa antusiasme.

Nah, celakanya, saya sendiri masih kurang paham passion saya dimana. Maksudnya bukan benar-benar tidak paham, tapi belum sepenuhnya paham.

Ada jalur-jalur yang saya rasa menjadi kunci mengapa perjalanan membawa saya pada kondisi yang sekarang ini. Mulai saat memilih masuk IPA di SMA, mulai saat memilih fakultas di perkuliahan, sampai saat saya memilih untuk bekerja di bidang tertentu. Jalur-jalur itu menentukan. Pada saat itu, saya belok mengikuti satu arah tertentu, yang membawa kemari. Ibarat kata jalan ke luar kota, pasti ada percabangan, dan cabang-cabang jalanan itu akan menuju ke tempat yang berlainan pula.

Saya memang belum sepenuhnya paham. Namun saya masih paham bahwa antusiasme saya pada sebuah pengembangan adalah besar. Bagi saya, turut terlibat membangun suatu sistem adalah kegairahan tersendiri. Terlibat aktif ketika ada pengembangan baru, ada sistem baru, dan menjadi bagian penting dari sistem itu sebenarnya cukup menarik. Dan jangan lupa, berkembang dalam membangun selalu punya tantangan tersendiri.

Berkembang dalam membangun tentunya beda dengan berkembang dalam sesuatu yang sudah eksis. Berkembang dalam membangun memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan diri, menujukkan kemampuan.

Satu kelemahan dari antusiasme ini. Ketika kondisi sudah menjadi statis dan eksis, maka antusiasme perlahan akan berkurang. Atau yang kedua, kondisi tidak sepenuhnya berhasil dan mempengaruhi banyak aspek, tekanan meningkat, dan antusiasme menurun.

Mengapa?

Ini tentunya beda dengan antusiasme pada perkembangan yang baru. Kita akan selalu antusias melakukan eksplorasi sampai pada titik dan deadline yang ditetapkan. Kita akan terpacu untuk berbuat yang terbaik dalam menaklukkan kondisi yang baru berkembang itu. Agar apa? Agar kita jadi penguasanya.

Sayangnya, ketika kondisi perubahan itu berjalan dan terkadang ada cacat-cacat dalam perjalanannya, sehingga mempengaruhi sisi teknis dari suatu pekerjaan, disitulah antusiasme menurun. Pada titik itu, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kita belum sepenuhnya menaklukkannya.

Ketika kondisi sudah sepenuhnya baik, kita akan sangat kehilangan antusiasme karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Dan satu-satunya cara adalah mencari tantangan baru.

Sebenarnya saya hanya ingin berbagi soal itu saja sih. Mengingat saya masih harus mencerna banyak hal agar mengerti sepenuhnya soal passion saya, maka sebatas itu dulu wacana-nya. Hehe..

Semangat!!