Satu nama ini memang selalu mampu ‘mengubah’ pertelevisian Indonesia. Ya, namanya Wishnutama. Sesudah menggebrak dengan Trans TV–kemudian menyusul Trans 7–dia kemudian hengkang dan tahu-tahu tiba di sebuah stasiun TV baru yang tampak aneh karena mencoba merebut ceruk iklan di kompetisi pertelevisian yang padat. Namun ,belum apa-apa, stasiun TV itu sudah bikin launching yang LUAR BIASA MEWAH. Saya mencoba menonton televisi itu beberapa kali, tapi mungkin hanya Sarah Sechan yang bisa mencuri perhatian. Ya, stasiun TV itu adalah NET.
Tunggu punya tunggu, akhirnya NET punya juga sebuah masterpiece. Diusung M. Ikhsan di Production Head, Yenni Pujiastuti di Produser, Nunung Kusuma Wardhani di bagian Creative, dan Fatur Rachman di Production Assistant, muncullah sebuah tayangan andalan setiap jam 7 malam. Sebuah jam yang sangat berani untuk melawan stasiun TV lain ketika kemudian ada hewan ganteng. Yup, liat NET jam 7 malam, setiap Senin sampai Jumat, maka kita akan berkenalan dengan Angel, Adi, Bintang, dan Bastian di Tetangga Masa Gitu?
Garis besar ceritanya ada pada empat orang dan dua rumah tangga. Angelica Schweinsteiger (diperankan oleh Sophia Muller), seorang pengacara kaya, yang sudah menikah selama 10 tahun dengan pria bernama Adi Putranto (diperankan oleh Adi Dwi Sasono), seorang pelukis yang cenderung pengangguran. Lihat saja, dua nama kondang ini ada di skenario, bagaimana tidak menarik?
Seumur-umur, saya baru dua kali nonton film pada hari pertama kemunculannya di bioskop, yakni The Avengers dan Soegija. Nah, ternyata saya bisa juga dapat kesempatan untuk nonton film pada hari minus dua kemunculan di bioskop. Ya, kemaren saya menghadiri penayangan perdana film “Cahaya Dari Timur: Beta Maluku” di Plaza Senayan, sekaligus baru tahu kalau pas premier itu ternyata banyak artis berseliweran. Selayang pandang ada Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan, Dion Wiyoko, Laudya Chyntia Bella, Erwin Gutawa, Harvey Malaiholo (saya hampir saya mendatangi dia kan bertanya kenapa CF nggak lolos 5 besar Golden Voice tujuh tahun yang lalu), Pandji, dan artis-artis lainnya yang saya tidak kenal, dan tentu saja nggak kenal saya, apalagi kenal OOM ALFA.
Ah, sudahlah, tanpa berpanjang-panjang mari kita mulai review-nya.
Satu hal yang harus saya tekankan adalah durasi film ini tidak seperti durasi film Indonesia pada umumnya. Mungkin bisa cek di website-nya twentiwan soal durasi pastinya, tapi yang jelas dari film dimulai sekitar 21.30, saya keluar studio itu jam 23.55! Saya hitung-hitung bahkan lebih panjang dari Captain America, Divergent, dan X-Men, tiga film terakhir yang saya tonton.
Setelah dibawa kemana-mana, akhirnya buku “Tulang Rusuk Susu” ini kebaca juga. Fiuh. Ada untungnya juga buku ini saya bawa ke Jogja, karena akhirnya terbaca juga sembari menunggu jodoh bis Pahala Kencana di Terminal Jombor. Saking lamanya menunggu, saya hampir mengganti nama bisnya jadi PHP Kencana.
Memang si Tristan nggak pernah jago kalau disuruh motret, jadinya ya kayak gambar di atas ini deh.
#virtualbooktour #day8. Gila. Mau ngetik review aja butuh perjuangan minta ampun menyembah-nyembah ke modem supaya sinyalnya bagus. Fiuh. Iya, saya tidak terlalu suka mengetik di aplikasi pengolah kata lalu kemudian memindahkannya ke blog. Kenapa? Kurang suka aja, titik.
Review saya kali ini adalah novel Cinta. milik Bernard Batubara, seseorang yang sosoknya justru saya tahu karena pernah menjadi tokoh di sebuah novel. Kebetulan juga, saya pernah ikut di project-nya Bara yang bernama Radio Galau FM Fans Stories. Sejujurnya nih, Cinta. adalah novel pertama Bara yang saya baca. Biasanya kalau yang pertama ini kesannya lain, tidak ada ekspektasi berlebihan, atau juga tidak ada perasaan meragukan. Biasanya sih.
Kebetulan lagi, Cinta. ini bersanding dengan buku saya di website Bukune. Nemplok dulu ah, biar ikutan tenar. Uhuk.
Ini kok malah iklan?
Baiklah, mari kita serius.
Ada satu kalimat di Cinta. ini yang langsung saya tulis di Twitter ketika saya sedang membacanya, dan kalimat itu adalah:
Mengapa cinta membuatku mencintaimu ketika pada saat yang sama kau mencintai orang lain yang bukan aku?
Tanpa saya sadar, kalimat di atas ini ternyata juga menjadi kalimat pertama di blurb. Apa artinya? Ya, kalimat ini penting bagi jalan cerita di novel ini. Plus, kalimat di atas tadi juga mengandung tiga kata cinta dalam 1 kalimat. Hal ini rada penting buat saya karena sejatinya saya sudah bertanya-tanya dari awal, kenapa judul novel ini harus Cinta. alias Cinta Dengan Titik, yang di covernya juga harus ditambahkan cara membacanya? Dan sebenarnya, saya baru benar-benar menemukan filosofi judul ini begitu membaca cerita Mbak Iwied sebagai Editor.
Jadi pada intinya, saya sendiri harus berjuang menemukan makna Cinta Dengan Titik dan korelasinya dengan isi. Bagi yang belum baca, daripada berat-beratin pikiran, mending lupakan keinginan untuk mencari tahu hubungan judul dengan isi. Nanti juga ketemu kok. Tenang saja.
Cinta. berkisah tentang Nessa. Bara sendiri bilang bahwa Nessa adalah tokoh utama perempuan pertama yang dia garap. Sejatinya kalau Bara nggak bilang di blognya, saya juga nggak akan ngerti. Gaya bertutur dalam cerita Bara memang akan lebih mudah masuk ke dalam karakter perempuan, itu sudah saya temukan sejak membaca ceritanya di RGFM Fans Stories.
Nessa adalah “korban” perselingkuhan, yang lantas kemudian terjerat dalam pusaran dengan kata kunci yang sama. Disitu kemudian muncul nama Demas, lalu Endru, dan kemudian Ivon serta Bian. Nessa menjadi pelaku hubungan-resmi-yang-ada-di-atas-hubungan-resmi-lainnya. Buat saya, itu ngenes.
Sebagai laki-laki yang pernah mengganggu kehidupan berpacaran orang, saya sendiri kurang suka dengan Demas. Okelah, dia memperjuangkan cinta yang dipilih oleh hatinya, tapi pada saat yang sama dia juga mempertaruhkan kelelakiannya dalam sebuah komitmen ganda. Dalam beberapa konteks, saya justru mempertanyakan kelelakian Demas. Di posisi ini, justru saya tertarik dengan posisi Endru, yang selalu ada bagi Nessa. Kebetulan pula, saya pernah ada di posisi Endru, juga dengan pernyataan yang sama, dan dengan penolakan yang sama.
*toss dulu sama Endru*
Ending di novel ini cukup menarik bagi saya. Sebuah perpisahan nyatanya dibutuhkan untuk mengetahui sebenar-benarnya perasaan yang ada dalam diri kita. Dan itu yang kemudian terjadi.
Saya menghabiskan novel ini hanya dalam beberapa jam saja, lalu kemudian telat bangun dan telat berangkat kerja besok harinya. Maksud saya adalah bahwa novel ini tidak cukup berat untuk dituntaskan dalam waktu cepat. Kan ada tuh novel-novel yang butuh jeda permenungan terlebih dahulu sebelum kemudian lanjut membaca.
Di Cinta. ini akan ada pergulatan dari pembaca mengenai siapa yang ada di posisi benar: orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga. Dan bahwa kita tidak selalu bisa menjustifikasi bahwa orang ketiga yang selalu salah. Sebenarnya, orang ketiga juga nggak akan ada kalau orang pertama tidak mulai. Makanya saya nggak suka sama Demas.
Soal review jalan cerita, beberapa review yang lain dan yang akan datang mungkin akan lebih menarik. Saya sendiri lebih asyik menelisik soal pemilihan nama tokoh yang bagi saya aneh-aneh. Ya, Nessa yang punya inisial NEM, saya bahkan jarang menemukan setiap kata yang ada di nama itu sebagai bagian dari nama orang. Demikian juga dengan Demas, apalagi Endru. Memang, kalau nama terlalu biasa, kita juga malas baca novel, tapi dengan tiga nama yang bagi saya aneh semua ini, saya juga agak terganggu.
Saya juga menyoroti sudut pandang yang diambil Bara perihal pekerjaan Nessa dan Demas. Plus, pekerjaan Endru yang saya tidak tahu aslinya apa. Maklum, saya orang pabrik, meski cinta menulis. Jadi soal copywriter freelance plus editor, itu asli hanya ada di awang-awang saya.
Kemudian, Bara dengan sukses membuat saya merasa gagal dalam hal eksplorasi Jogja. Hampir delapan tahun saya di Jogja, tapi nggak pernah sekalipun saya tahu tempat-tempat yang disebut di dalam Cinta., kecuali Amplaz.
JADI DI JOGJA SAYA NGAPAIN AJA?
Oke. Santai.
Dan satu lagi adalah soal kebetulan. Yah, pertemuan Demas dan Nessa di pesawat, lalu dilanjutkan pertemuan berikutnya bagi saya adalah soal kebetulan. Mbak Windy pernah menjawab twit saya bahwa kebetulan tidak masalah asal ditunjang oleh hubungan sebab-akibat yang jelas. Nah, jadi apakah pertemuan itu bermasalah dari sisi plot?
Nggak. Sama sekali tidak. Saya itu hanya iri hati karena dari puluhan kali naik pesawat, nggak pernah mengalami duduk bersebelahan sama cewek yang sedang baca buku puisi. Padahal kalau ada, kan lumayan buat pengisi hati yang hampa ini.
*eh curhat*
Novel ini juga bikin saya makjleb di beberapa konteks, seperti: pertanyaan orang tua soal pasangan, teman akrab yang sudah menikah, sampai durasi waktu menjomblo. Buat saya, Bara menggunakan banyak sisi kontekstual yang tepat untuk membuat pembaca merasa “ini gue banget”, sehingga kemudian pembaca bisa memilih sisi itu, dan muaranya adalah keinginan mengikuti jalan cerita hingga usai.
Kalaulah ada diksi dan konteks yang agak bikin bertanya-tanya, ada di halaman 83 dan 87. Semacam kontras, walau sebenarnya tidak ngaruh benar dengan jalan cerita. Dan kalaulah ada adegan yang bikin ehem-uhuk-uhuy-ahay, itu ada di halaman 94.
Apa itu?
Makanya beli dan baca ya. Jangan lupa beli Oom Alfa juga. #tetepngiklan
Begitu saja hasil olah batin dan olah pikir saya terhadap novel Cinta. milik Bara, semoga berkhasiat bermanfaat.
…bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja. Cinta. Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita lihat ke mana arahnya bermuara…
🙂
PS: Bara juga sukses mengingatkan saya pada seseorang, melalui sebuah menu minuman kopi, persis di halaman 100. *sambil nyanyi terjebak nostalgia*
Sudah lama sekali saya nggak nulis review film. Ya memang saya semakin jarang nonton film. Dan semakin jarang nulis soal film. Review saya sebelumnya itu Battleship (16 April 2012), The Avengers (4 Mei 2012), dan Soegija (7 Juni 2012). Memang sih saya juga sempat menonton film seperti 5 Cm, Cinta Dalam Kardus, dan juga Monster University. Cuma nggak tahu kenapa kok malas nulis review.
Jadi mumpung kemarin diajakin nonton The Wolverine, bolehlah kita nulis lagi 😀
Kita semua harusnya tahu tentang Wolverine, karakter yang bagi sebagian orang paling berkarakter dari segambreng tokoh di X-Men. Kalau saya sih, tetap lebih suka Cyclops. Hehehe.
Dalam The Wolverine ini, tokoh Wolverine diperankan oleh Hugh Jackman. Pecinta film tentu tahu soal aktor yang satu ini. Secara umum, Hugh Jackman memang “wolverine banget”.
Sumber: thetorchonline.com
Oya, saya bukan pembaca setia komik Marvel, jadinya saya memang tidak terlalu paham plot asli dari cerita yang diterjemahkan ke film ini. Itulah sebabnya saya kasih judul seperti di atas.
Film dimulai dengan adegan di Jepang. Awalnya biasa saja sebelum kemudian saya melihat adegan harakiri dari 3 perwira Jepang, dan adegan Wolverine mengintip dari sebuah tempat di bawah tanah.
Clue utamanya kemudian muncul, yakni sebuah benda yang jatuh dan ternyata adalah bom atom Nagasaki. Yah, saya baru tahu kalau di dalam sejarahnya bom Hiroshima dan Nagasaki ada superhero disana.
Singkat cerita seorang tentara bernama Yashida (Ken Yamamura) sudah mau harakiri tapi diselamatkan sama Wolverine, disuruh masuk ke lubangnya Wolverine alias Logan, dan dilindungi dari dampak bom atom.
Selesai disini.
*kunyang popcorn*
Adegan langsung lompat ke tokoh Jean. Penikmat X-Men dan The Wolverine sejati pasti tahu soal Jean ini. Orang yang dicintai sama Logan, tapi dibunuh sendiri sama dia. Buat saya ya lucu adegan yang ini, wong lagi bermesraan tapi kok kukunya sudah nancep aja di perut.
Ternyata itu hanya mimpi belaka. Jadi jangan heran dengan 2 adegan semula yang sebenarnya kurang korelatif. Kenapa juga harus begitu? Tampaknya sutradara pengen memberikan background cerita utama di adegan pertama, tapi juga hendak memberikan konteks kehilangan tujuan hidup di adegan kedua.
Hingga akhirnya sampai di adegan bangun tidur di tengah hutan. Nah, disinilah cerita sebenarnya dimulai. Tetap saja ada adegan lucu yang ditampilkan di film ini. Salah satu yang buat saya menarik adalah adegan beruang grizzly kencing dengan mengangkat kaki kanannya. Itu beruang beneran kalau pipis begitu ya?
Nah, si beruang kemudian sekarat gara-gara pemburu, lalu Logan menuntut balas. Pas sedang menuntut balas inilah muncul Yukio (Rila Fukushima). Ini juga menurut saya kurang smooth. Tapi ya mungkin memang cerita aslinya begitu sih. Kenapa juga si Jepang ini sampai menemukan Logan di posisi lagi berantem, kenapa nggak pas nangkring di hutan atau apalah.
Sumber: marvel-movies.wikia.com
Yukio kemudian mengakui kalau dia disuruh bosnya, Yashida, yang ingin berterima kasih kepada Logan. Ceritanya si Yashida sakit keras, tapi pengen mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Sesuatu yang kemudian membuat Logan sampai ke Jepang.
Iye. Jauh amat.
Dikisahkan kalau si Yashida itu jadi orang kaya raya banget sekali di Jepang. Jadi nyambung juga sih, gimana seorang prajurit waktu muda, kemudian bisa jadi kaya raya waktu tua. Ini kayak di sebuah negeri yang pernah dijajah sama Jepang selama 3,5 tahun. Ada gitu deh sebuah negara yang banyak prajurit menjelma jadi orang kaya di masa tuanya.
Bermunculanlah tokoh semacam Shingen Yashida (Hiroyuki Sanada), juga Kenuichio Harada (Will Yun Lee), dan dua penyegar utama dalam film ini atas nama Viper (Svetlana Khodchenkova) serta Mariko Yashida (Tao Okamoto).
Yashida tua ternyata hendak “mengambil” keabadian Logan untuknya. Disebutkan bahwa Logan yang mimpi buruk terus sepanjang malam itu sudah tidak punya tujuan hidup.
Iya. Ngapain hidup dan nggak mati-mati, tapi nggak punya tujuan hidup? Ini justru pelajaran yang saya petik disini.
Lewat sebuah ciuman, Viper yang menyamar jadi dokter Green berhasil membuat sisi penyembuhan sendiri dari Logan hilang. Dan bersamaan dengan itu, Yashida tua “mati”. Ketika pemakaman malah jadi heboh karena ternyata Yakuza berhasil menculik Mariko, si cucu-nya Yashida.
Sumber: Yahoo.com
Namanya juga superhero, Logan berhasil juga menyelamatkan Mariko dari Yakuza itu. Mariko dengan bantuan mahasiswa-kedokteran-hewan berhasil mengoperasi Logan untuk mengambil peluru yang ada di tubuhnya. Kan imortal-nya hilang, jadi ada peluru ya sakit. Mariko lalu membawa Logan ke selatan, ke sebuah rumah yang disebutkan tersembunyi.
Disitu kemudian mereka berciuman dan kayaknya sih ML.
*khas film barat.. hehehe…*
Ada banyak kenapa di sini. Pertama, kenapa rumah yang rahasia itu tidak dikunci, atau ditunggui tapi tetap tampak rapi. Kedua, kenapa orang-orang suruhan ayahnya Mariko dan tunangan Mariko, Menteri Keadilan, Noburo Mori (Brian Tee), nggak bisa tahu dengan cepat tempat persembunyian yang sepertinya akrab dengan Mariko itu. Ketiga, kenapa akhirnya mereka ML? *tetep*, dan keempat, kenapa penculikan Mariko berhasil dilakukan padahal dia lagi tidur di samping Logan yang tidur saja nggak nyenyak.
Arah cerita juga membawa Logan dan (tahu-tahu nongol) Yukio ke tempatnya Noburo. Kalau mau yang lucu lagi dan bin garing, ya pas Noburo dipelesetkan nggak sengaja sama Logan jadi Nostramo. Emangnya Nostradamus? Hehe.
Kenapa berikutnya muncul ketika ada Menteri Keadilan yang main sama pelacur bule tanpa pengawalan sama sekali. Ya jelas saja Logan bisa masuk dengan mudah, sampai bisa melempar Noburo ke kolam yang jauh sekali di bawah.
Nah, kenapa berikutnya rada ruwet.
Jadi Shingen minta Mariko ditemukan. Sudah ketemu tuh. Nggak jadi dibunuh. Karena ternyata ninja yang bekerjasama dengan Viper dan Harada berhasil mengambil alih Mariko. Si cantik ini lalu dibawa ke sebuah tempat yang tinggi dan canggih.
Sumber: spinoff.comicbookresources.com
Awalnya, Viper tampak ingin Mariko untuk memancing Logan datang. Pas dengan Harada yang ingin Mariko kembali padanya.
Tapi….
ini yang ruwet.
Begitu Logan berhasil ditangkap, ternyata ada robot adamantium yang bangun dan bertarung lalu pengen mematahkan kuku-nya Logan. Ini kenapa yang besar, karena ternyata isinya robot itu adalah orang yang kita kenal dari awal cerita. Lah kan saya bingung. Jadi sebenarnya dia mati nggak sih? Lalu sebenarnya si Viper itu tujuannya mau ngapain sama si Logan? Terus katanya Yashida mengkhawatirkan Mariko makanya nggak pengen mati, lah kok nggak kelihatan gelagatnya waktu ‘bertarung’ dengan Mariko.
Kalau Harada jelas kayaknya. Dibutakan cinta, malah bekerjasama dengan penjahat. Kasian deh lo.
Jadi kenapa sih Yashida tidak ingin mati? Kenapa kemudian ada Viper bisa disana? Kenapa adamantium yang sudah disedot dari Logan bisa balik lagi? Dan banyak kenapa lain yang bikin saya bertanya soal plot-nya.
Kalau menurut saya ceritanya kurang kuat. Waktu workshop novel saya selalu dibilang sama editor kalau plot sebab-akibat itu penting. Nah, di film ini saya tidak menemukannya dengan tegas.
Tapi sebuah box office begini pasti punya keunggulan. Aspek pertarungan di atas shinkansen tentu nggak bisa kita lewatkan. Itu keren. Juga soal pertanyaan “tujuan hidup” yang penting banget. Eksploitasi sisi Jepang juga andalan yang oke. Dan jangan lupa si cantik Mariko yang bikin film ini seger abis.
Perkara act saya nggak banyak komentar, karena sudah keren. Perkara visual, ya paling hanya kurangnya efek darah dari setiap cabikan kuku-nya Wolverine. Perkara cakep, Mariko sudah cakep banget. Kekurangpuasan saya pada film ini adalah sisi plot yang menimbulkan banyak tanya. Plot yang lebih runyam sebenarnya ada di The Avengers, tapi bisa disampaikan dengan baik tanpa harus melontarkan banyak “kenapa?”
Begitu saya ulasan dari saya. Secara umum tentu saja tetap layak dinikmati sebagai summer movie. Tapi dari sisi apapun, saya tetap lebih suka The Avengers daripada The Wolverine, tapi masih suka The Wolverine daripada Battleship.
Hari ini cuti, jadi bisa menyaksikan penampilan perdana Film ‘The Avengers’ di bioskop, dan karena nonton jam 12.15, maka jelas saja sepi. Apalagi saya kan di tempat karyawan-karyawan berada yang notabene jam segini masih kerja.
Itu pengantar saja. Hehe.. Baiklah, kita mulai.
The Avengers benar-benar film yang mengaduk-aduk rasa. Dimulai dari sebuah pernyataan bagus di awal film “The humans, what can they do but burn?” dari makhluk luar dimensi yang mengincar The Tesseract sebuah kubus biru dengan tenaga tak terbatas yang ditemukan dalam evakuasi Captain America puluhan tahun silam. Loki, yang terbuang dari Ansgard karena katanya dikhianati melihat benda itu sebagai sarana bagus untuk mengorbankan bumi. Kaitannya sih sama saudaranya Thor yang memang bersikap ‘melindungi’ bumi.
Dengan banyak tokoh, maka perlu plot yang bagus untuk menata kemunculan tokoh demi tokoh dan Joss Whedon dengan baik melaksanakannya. Awalnya tentu Fury (Samuel L. Jackson) sebagai pemimpin projek dimunculkan lalu ada Hawkeye alias Agen Barton (Jeremy Renner) dan kemudian lagi ada Loki (Tom Hiddleston). Semuanya bermuara pada hilangnya si kubus biru, diambil sama Loki. Dan tidak cuma itu, Loki juga mengambil dua orang terbaik di S.H.I.E.L.D dengan tongkatnya.
Nah, dalam upaya merebut kembali sumber energi tidak terbatas itu mulai dimunculkan satu-satu. Panggilan terhadap Natasha Romanoff alias Black Widow yang diperankan si cantik Scarlett Johansson, dilanjutkan dengan memanggil kembali jago lama Captain America (Chris Evans). Lalu Natasha juga berhasil membajak Dr. Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk membantu. Orang yang baru nonton serial Marvel, pada awalnya nggak akan tahu kalau tokoh ini adalah Hulk karena di awal memang tidak dimunculkan. Mereka lalu dikumpulkan di tempat yang canggih. Oh, lupa, ada juga si Iron Man alias Tony Stark (Robert Downey Jr).
Nah, kisah sebenarnya dimulai ketika Loki tampil beraksi jahat di Jerman dan dengan kata-kata bijak ala pemimpin yang bilang kebebasan hanya bayangan semu manusia saja. Disitulah kemudian muncul Captain America dan dari situ juga Loki ditangkap.
Ini mulai aneh ketika Loki mau-mau saja ditangkap. Bahkan Captain America alias Steve Rogers berdialog dengan Tony Stark, kenapa rocker ini mau-mau saja ditangkap. Ini bagian dari dialog-dialog di film ini yang bisa mengundang senyum.
Dalam posisi ini muncullah Thor (Chris Hemsworth). Konflik dipermainkan dengan pintar oleh sutradara ketika Iron Man menyerang Thor yang datang dari dimensi lain itu. Pertentangan karena Iron Man menganggap Thor mencuri tahanannya. Nah, berbagai efek pertarungan juga dibalut apik disini, termasuk keterlibatan Captain America.
Loki kemudian di bawa ke S.H.I.E.L.D dan ditaruh di kamar Hulk. Natasha lalu interview ke Loki dan akhirnya menemukan bahwa maksud Loki mau ditahan adalah hendak membangkitkan Hulk. Kebeneran pada saat yang sama, ada motif yang terungkap oleh masing-masing jagoan. Baik Steve, Stark, Bruce, Thor, dan lainnya menangkap motif lain dari kubus biru itu. Pertentangan antar tokoh yang sejatinya satu kubu ini juga dibalut apik. Jadi jelas, bahwa film ini tidak semata-mata mengutamakan efek layaknya Battleship, tapi plot juga dijalin menarik. Termasuk ketika pertentangan itu akhirnya gagal membuat Bruce tidak marah. Hulk yang tidak dapat dikendalikan akhirnya muncul.
Fury tidak digambarkan sebagai sejati hitam-putih, tapi abu-abu. Disinilah Samuel L. Jackson bisa menampilkan karakter yang menarik. Mulai dari tipu menipu misi, hingga berkeras dengan direktur misi.
Hawkeye sempat menelusup masuk dan menghancurkan beberapa bagian di markas S.H.I.E.L.D namun kemudian pertemuan dengan Natasha bisa membuatnya sadar kembali, tentu lewat pertarungan keras.
Dalam analisisnya masing-masing akhirnya perjuangan dilanjutkan. Dialog menarik dari Steve dan Stark adalah kala Steve bilang, bahwa Fury memang tidak sepenuhnya benar, tapi abaikan dulu. Keduanya langsung bersiap dan lantas didukung oleh Hawkeye dan Black Widow. Dua jago lain? Yak, Thor dan Hulk terhempas jauh ke bumi dengan cara masing-masing.
Kelimanya kemudian bersatu guna mengalahkan Loki yang kebetulan masang aksi di gedungnya Stark. Dan tentunya pertarungan dimenangkan oleh protagonis, layaknya film-film jagoan lainnya. Itu sih biasa ya?
Banyak sisi-sisi lucu yang membuat senyum terkembang. Dialog yang menyebut Loki seorang rocker adalah salah satunya. Ada juga ketika tongkat ajaib Loki tidak bisa mengubah jiwa Stark karena ada logam di dada Stark. Dan yang buat saya ketawa banget adalah ketika Hulk dan Thor sama-sama habis mendarat sesudah menghancurkan Chitauri, keduanya berdampingan. Seketika tangan kiri Hulk menghajar Thor. Yak, sangat bisa dimaklumi karena Hulk tidak bisa dikendalikan. Hehehe.. Juga adegan miris ketika ada seorang polisi diarahkan oleh Captain America dan malah bilang, “siapa anda sehingga saya harus menuruti anda?” Maklum juga, si Captain kan tidur lama banget. Ada juga adegan ketika Bruce bugil dan berdialog dengan polisi plus datang ke lokasi Stark dengan motor super butut.
Film ini juga kembali menekankan poin bahwa niat buruk itu tidaklah baik. Si kubus biru hendak dijadikan senjata pemusnah massal dan pada akhirnya gagal. Direktur yang menyuruh melepaskan nuklir malah nyaris menghancurkan kota, untung ada Iron Man yang mengarahkan nuklir ke dimensi lain. Avengers sendiri adalah proyek yang dicancel, dan membangkitkannya dianggap ide buruk, padahal mereka jadinya penyelamat dunia.
Secara efek memang tidak sedahsyat perang kapal di Battleship karena pertarungan antar badan banyak disini. Satu hal yang pasti, film ini benar-benar mampu menyatukan berbagai karakter. Membuat novel dengan lima karakter saja sulit, bagaimana bisa di film dibalut sedemikian apik? Tepuk tangan!
CNN bilang begini “but if it’s a Friday Night SmackDown you’re after, ‘Avengers’ gets the job done“. Tulsaworld menyebut “When was the last time you cheered at the movies? ‘The Avengers’ could be that opportunity.”
Orang-orang yang tidak mengikuti cerita Marvel juga pasti akan bingung dengan Bifrost atau HYDRA, tapi sekelebat pertanyaan itu akan hilang oleh keping yang menyatukan setiap informasi.
Kesimpulan saya, film ini oke banget. Perpaduan efek dengan kemampuan ‘meracik’ berbagai karakter dengan apik. Kelemahannya menurut beberapa reviewer adalah membangun plotnya kelamaan, tapi kalau saya bilang itu wajar dengan tokoh yang sedemikian banyak.
Oya, satu quote menarik hati adalah, “And you, Hulk, SMASH!“