Tag Archives: ruang tamu

Dan Aku Pulang: Kamar

“Aku bobo dimana nih?” tanyaku ketika menginjak ruang keluarga di rumah.

“Terserahmulah,” jawab Mamak.

Aku menilik ke dua kamar kosong yang tersedia di rumah. Karena fasilitas lebih lengkap di kamar yang gede, akhirnya aku memilih untuk meletakkan barang-barangku disitu. Mataku melihat ke sekeliling. Ah, lengkap sekali tempat ini sekarang? Aku kemudian beranjak ke kamar yang kecil dan tampaknya riwayat asli rumah ini.

Bahwa masa dan upaya memang mampu mengubah semuanya.

* * *

Kamar yang kecil ini dulunya adalah ruang tamu dalam rumah asli tipe 21. Hampir semua bentuknya masih sama. Dinding masih dengan cat putih, plafon masih dengan tripleks yang sama, pun jendela masih dengan kusen yang sama, hingga colokan listrik-pun masih di tempat yang sama. Dulu ruangan ini adalah pintu masuk, ketika tamu-tamu (mungkin) datang.

Kamar yang besar adalah bangunan yang ditambahkan dari rumah asli. Dahulu kamar itu adalah dua ruang yang disekat dua dinding tripleks. Sebuah ruangan panjang itu berubah menjadi 3 ruang dengan bantuan dua dinding tripleks. Dan jadilah dua kamar plus satu ruang makan plus-plus. Yah, sebut saja plus-plus karena disana ada sebuah meja makan besar yang tidak hanya jadi tempat makan, tapi juga tempat membuat PR, tempat membuat dagangan untuk dijual di kantin, dan lain-lainnya.

Renovasi besar rumah dilakukan beberapa tahun sesudah pindah. Sebuah ruang tamu besar 5 kali 5 meter dibangun di depan bangunan tambahan alias di sisi kanan bangunan asli. Sehingga kemudian ruang tamu lama itu bisa dijelmakan menjadi sebuah kamar tidur. Ruang makan tetap pada tempatnya. Dan dua kamar mungil-mungil sisanya diubah menjadi 1 kamar, tapi dengan disekat dinding bata dengan ruang makan. Sedikit lebih lega memang.

Dan di tempat itulah kehidupan berjalan. Kehidupan sebuah keluarga sederhana dengan mimpi besar.

Sedari kecil aku memang memimpikan sebuah kamar pribadi dengan meja belajar yang bagus, dan syukurlah, mimpi itu tidak pernah terwujud 🙂

* * *

Ketika aku sudah merantau, pemilik rumah yang notabene adalah orang tuaku sendiri kemudian menambah tempat lagi di belakang. Areal yang dulunya adalah tempat pohon pisang dan jemuran itu kemudian dijadikan 3 ruangan. Dapur, ruang makan, dan sebuah kamar di bagian pojok. Meja makan besar itu bisa pindah dari ruang tengah dan resmilah ruang itu menjadi ruang keluarga.

Perlahan pertambahan luas rumah itu berbanding terbalik dengan jumlah penghuninya, satu persatu penghuninya meninggalkan tempat yang bisa disebut RUMAH itu untuk menggapai mimpinya masing-masing. Rumah itu membesar tapi menjadi semakin sunyi. Berbanding terbalik ketika rumah itu kecil dan sangat berisik.

* * *

Aku membaringkan badanku di atas tempat tidur besar yang ada di kamar gede. Ini mungkin tidur yang paling nyaman, mengalahkan hotel kelas premier yang pernah aku inapi. Inilah tidur di tempat yang bisa aku sebut KAMAR, di dalam sebuah tempat yang bisa aku sebut RUMAH, sebuah kombinasi yang tepat ketika aku kemudian menyebutnya dengan PULANG.

🙂

Lelaki Dan Hatinya

Lelaki itu, entah siapa namanya, mungkin kita tak perlu memberinya nama. Hal ini juga tidak cukup urgen. Kalaulah nanti nama itu perlu, silahkan ganti sesukanya. Dipersilahkan, dengan senang hati.

Lelaki itu melangkah mantap ke atas podium. Toga hitam kebesaran dengan samir yang khusus, ah semua orang bermimpi seperti itu. Berdiri di atas podium, dipindahkan arah talinya, dan sudah. SELESAI! Ini katanya wisuda. Lelaki itu baru diwisuda, dia melewati tahapan paling membanggakan dalam hidupnya. Kini, fotonya dan toga hitam sewaan itu akan nampang dengan manis di ruang tamu rumahnya yang minimalis. Setiap tamu yang masuk ke situ akan berdecak kagum karena lelaki itu terbukti sarjana.

Badannya masih bagus, mantap, penuh daya, penuh gairah. Sempurna untuk ukuran lelaki.

Lelaki itu memasuki hidupnya yang baru, layaknya makhluk sebaya. Dia turut serta antri dimana saja. Dia tidak lepas dari interview. Dia selalu mengantungi CV di sakunya, tentulah dalam flash disk. Langkahnya mantap, pada hari pertama. Kemantapan langkahnya menggontai di setiap pergantian hari. Ah, mencari pekerjaan itu sulit.

“Kamu sih terlalu pemilih, buat anak baru mah yang penting kerja.”

Gaung yang dulu terabaikan itu mendadak mencuat, memenuhi gendang telinga dan membran timpani. Begitu dahsyat, sampai ke otak, dan.. ah.. berhasil. Sebuah perspektif telah berubah.

Lelaki itu masih tegap berdiri, kali ini di sebuah gedung tinggi, lantai 15. Dengan kaca di sekitar ruangannya yang selalu mengingatkannya pada kejadian di Film Spiderman, ketika di ketinggian macam ini tiba-tiba ada benda konstruksi yang bergerak.

Ada dua hal, itu mungkin terjadi dan tidak ada Spiderman disini.

Tangannya gesit mengayun jemari, menelusuri kotak-kotak dan angka-angka. Ekspresinya memarah begitu mendapati warna merah, namun merona ketika mendapati warna kuning. Tawanya meledak ketika mengangkat telepon, dan dalam sekejap amarahnya ganti meledak.

“Nggak aku banget..,” gumam lelaki itu, entah pada bagian mana.

Lelaki itu bertanya pada hatinya, “haruskah? masihkah?”

Hatinya hanya menjawab, “sudahkah kamu mendengar aku?”

Dan lelaki itu diam. Dia bertanya, bukan menjawab, jadi ngapain ditanya kembali. Ah, hati yang aneh!

Lima tahun, pas sesuai jumlah jari, lelaki itu sudah duduk di tempat yang lebih nyaman, lebih dingin, dan lebih personal. Raut kelelahan teramat sangat terpancar di sorot matanya. Tapi apalah lelah kalau lelaki itu sudah punya rumah, mobil, dan berbagai gadget terkini.

Lelaki itu masih sama, ada yang terganjal dalam hatinya. Tapi apa?

“Aku nggak nyaman. Aku harus bagaimana?” tanyanya lagi pada hatinya.

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Sungguh jawaban yang membuat MALAS! Astaga!

Penolakan ini membuat hati lelaki itu perlahan mengecil. Paralel, raut-raut besi muncul dari sela raut kelelahan lelaki itu.

Beranjak lima tahun lagi. Wajah lelaki itu sungguh tidak mantap. Raut besi merajalela. Geraknya makin lambat. Dia sakit hipertensi dan diabetes. Hanya 10 tahun sejak badan bugarnya. Terlalu cepat? Mungkin.

Geraknya makin tak nyaman oleh struktur besi yang mulai membentuk tubuhnya. Pantas saja dia lambat. Dan geraknya itu membuatnya SEMAKIN tidak nyaman.

Dia bertanya kembali, “bagaimana ini?”

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Masih sama, meski beralih tahunan. Apakah hati hanya diset bertanya demikian. Jangan sampai. Parah kalau begitu. Lelaki itu tidak tahu bahwa setiap penolakannya berujung pada mengecilnya hati.

Bilangan jumlah tahun yang lain lagi sudah lewat. Lelaki itu sudah punya segalanya. Geraknya sudah lincah walau sepenuhnya sudah jadi besi. Tidak ada lagi ketidaknyamanan yang dulu berpuluh tahun dia rasakan. Dia sungguh nyaman dengan geraknya. Gerak lincah di atas mouse, gerak mantap ketika marah-marah, sorot tajam ketika meminta.

“Ada apa denganmu sobat?” tanya sahabat lelaki itu suatu kali.

“Aku menikmati hidupku. Ada yang salah?”

“Kamu yakin?”

“Tentu.”

Sahabat lelaki itu melihat dari atas ke bawah. Lelaki itu sudah betul-betul serat besi. Strukturnya rapi dan kokoh. Sahabat itu mengintip ke dalam rongga hatinya. Dan sebuah ledakan kecil terjadi. Sahabat itu langsung tahu, ada yang pecah. Dan itu… hatinya!

Lelaki itu berjalan, bergerak, berdinamika dengan caranya. Sebuah cara yang puluhan tahun terus berulang. Sahabatnya hanya terdiam membisu. Lelaki itu kini bukan lagi manusia karena bagian terpenting darinya sudah menghilang, hatinya.

-12.10-