Tag Archives: galau

Jenis-Jenis Cinta Diam-Diam

Seperti sudah sering diutarakan dalam blog ini, bahwa cinta diam-diam adalah bentuk kriminalisasi terhadap diri sendiri. Sebuah perbuatan yang jauh lebih kejam daripada kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan sangat jauh lebih lebih kejam daripada krimbatisasi rambut keriting.

Nah, sekilas marilah membahas jenis-jenis cinta diam-diam yang ada di dunia nan fana serta fanas (panas -red) ini.

Cinta Sama Sahabat

Pada sebagian kasus, terlalu lama bersama hingga terlalu akrab bisa menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan. Ya memang tidak secepat boneka horta menumbuhkan benihnya, tapi cinta jenis ini termasuk mendalam. Kita tentu mengetahui bagaimana Riani memendam perasaan pada Zafran (dalam novel 5 cm), plus Genta memendam hal yang sama pada Riani. Ini kan jenis cinta sam sahabat sendiri. Mau ditembak, takutnya ditolak, dan terus persahabatannya bubar deh. Ketakutan kehilangan ini yang menyebabkan bara cinta yang terpendam diguyur perlahan pakai air, tapi sesekali pakai alkohol juga. Berusaha dipadamkan, tapi kadang tetap dipelihara. Ya, pada akhirnya sih, tetap tidak dinyatakan.

Cinta Sama Saudara

Oke, bukan maksud SARA loh ini. Tapi ini berkaca dari pengalaman saya yang separuh Batak (tolong dinyanyikan ala NOAH ya). Seorang Simamora itu tidak boleh flirting dengan sesama Simamora, bahkan juga dengan beberapa suku lainnya. Kenapa? Karena kesamaan marga itu berarti kita bersaudara. Dan sekarang coba bayangkan seorang lelaki Simamora yang tampan bertemu seorang gadis Simamora yang cantik jelita, dan sebelum saling menyatakan cinta, mereka mengetahui kalau mereka 1 marga alias bersaudara. Daripada dinyatakan dan kemudian malah bikin heboh urusan peradatan, jadi alangkah lebih baik kalau perasaan itu dipendam dan nanti kalau pas mudik ke Toba, perasaan itu ditenggelamkan di Danau Toba saja.

Cinta Sama Pacar Teman

Nah, jenis ini adalah bentuk perasaan paling sontoloyo. Okelah kita tahu kalau kata novel Perahu Kertas, hati itu DIPILIH, bukan MEMILIH. Dan kalau kebetulan hati itu pas nyangkut pada seseorang yang sedang menjadi pacarnya teman, masih mau menyebut dipilih dan memilih? Mumet pasti. Pada umumnya, hal ini akan berdampak dua. Pertama, seorang yang cinta sama pacar teman akan diam-diam saja sehingga kemudian direkrut tanpa interview sama sekte Cinta Diam-Diam. Kedua, seorang yang cinta sama pacar teman akan segera memepet, menggesek, menelikung, menyabet, menyaut, dan kemudian membawa lari pacar teman. Hilang teman, dapat pacar. Ya, ketika karma eksis, hal yang sama akan terjadi. Bukankah kalau begini lebih baik jadi pecinta diam-diam saja? Hehehe.

Cinta Sama Pacar Orang Lain

Agak beda tipis (tololnya) dengan jenis sebelumnya. Kalau yang di atas kecenderungannya nggak enak sama teman, kalau yang nggak kenal begini bakal lebih enteng. Kalau ditelikung dan kemudian dapat, kan nggak akan kehilangan teman juga. Hanya saja, sifat gentle yang diletakkan disini. Cowok kalau tahu si cewek punya pacar, dan masih dideketin juga, itu ngawur namanya (pengalaman -red). Jadi, ketika sifat gentle itu ada, maka dengan demikian eksislah kaum pecinta diam-diam di dunia yang menggila ini.

Cinta Sejenis

Ini mungkin hanya terjadi di negara dengan tingkat keberterimaan pasangan sejenis yang rendah. Hal simpel deh, seseorang penyuka sesama yang eksis di negeri Indonesia Raya Merdeka-Merdeka ini cenderung akan main bawah tanah karena perkara citra dengan luaran. Termasuk ketika memendam rasa dengan sesama jenis. Lagipula, kalau diumbarpun, jatuhnya bakal nggak lazim di masyarakat. Plus, iya kalau yang disuka sama-sama suka? Kalau yang disuka malah ngibrit gimana? Kemungkinan yang sangat besar dalam kelaziman sesuatu yang disebut norma (ini bukan norma peserta bukan dunia lain ya).

Ya, kira-kira demikian jenis-jenis cinta diam-diam. Meski berasal dari genre yang berbeda-beda, tapi sebenarnya mereka satu jua, sama-sama PECUNDANG yang nggak bisa membela hati mereka sendiri.

Ehm, mereka? Oke, salah. Kami mungkin lebih tepat. Atau kita?

🙂

Pada Akhirnya

“Nus, ikut ya?”

“Ini nanya, atau?”

“Retorika.”

“Ehm, baiklah. Perbuatlah yang kamu mau, Kak.”

Kak Rina segera memasukkanku ke dalam ranselnya. Kemarin Karin–nama panggilanku untuknya–bilang ini hari terakhir berada di kamar nan elit sebelum kemudian kembali ke kehidupan normal.

“Sebenarnya mau kemana sih?” tanyaku persis sebelum Karin menutup ranselnya.

“Katanya perbuatlah yang aku mau. Pakai nanya nih?”

“Ya, nggak jadi deh. Silahkan. Hehehe.”

Ransel menutup dan akupun menatap dalam gelap. Kuharap gelap ini tidak berlangsung lama.

* * *

“Hey! Udah lama?”

Aku mendengar suara itu, milik Karin. Siapa yang dia sapa?

“Belum kok. Baru juga nyampe. Silahkan duduk.”

Kali ini aku mendengar suara laki-laki. Dan sesungguhnya aku tidak mengenali suara itu sama sekali. Sejauh ini suara laki-laki yang aku dengar hanyalah lelaki yang pernah bertandang ke kos-kosan Karin, baik itu di Cikarang, Jogja, dan Solo. Tidak ada yang serupa itu.

“Repot-repot amat, Bang.”

Ah! Aku mengenal sapaan itu. Aku sangat berharap Karin membawaku untuk alasan yang lebih baik daripada berada di dalam ransel sambil menebak-nebak lawan bicara Karin.

“Besok jadinya jam berapa?”

“Jam 9 lewat 10, Bang. Nggak jadi reschedule flight.”

“Wah, sayang sekali.”

“Emang kenapa?”

“Mau tak ajak keliling ibukota. Hehehehe.”

“Ah, waktu aku PKL di pedalaman Cikarang kan udah putar-putar ibukota. Lagian polusi semua ini, mau lihat apa? Mending juga Jogja.”

“Yah, kalau Jogja mah nggak usah ditanya. Disana hanya kurang kendaraan umum doang. Lainnya udah oke. Ngomongin Jogja jadi ingat DM kamu dulu banget, Rin.”

Eh, sebentar. Ngomong Jogja, lalu ingat DM. Ini kok semacam mulai nyambung.

“Yang kapan?”

“Yang waktu kamu mau pindah ke Solo. Yang katanya mau lepas poster aja galau.”

“Hahaha. Tahu sendiri Bang, sebagai sesama sentimentil, kamu harus paham.”

Makin dekat, makin jelas. Aku kan membaca DM itu dengan saksama dan sebaik-baiknya. Rasanya nggak mungkin ada DM lain deh.

“Karin, keluarkan saya dari sini,” gumamku lirih.

“Eh, mana punyamu?” tanya suara laki-laki tersebut.

“Ada, bawa kok. Punyamu?”

“Bawa juga dong. Masak lupa, kan udah janjian.”

Karin segera menarik resleting ranselnya dan aku mulai melihat secercah cahaya yang perlahan membesar. Lalu tangan mulus Karin segera menjamahku dan menarikku keluar dari pengapnya ransel ini.

“Kak?”

“Ini, Bang. Kenalin, namanya Neptunus.”

“Hahahaha, kamu tiru-tiru Kugy dong, Rin?”

“Iya. Seru kan? Kalau Kugy harus tulis surat di perahu kertas supaya sampai ke Neptunus, aku bisa panggil dia kapanpun. Sampai pergi seminar ke Jakarta aja aku bawa. Eh, kamu jadinya beli kapan?”

“Belum lama. Setelah ditimbang-timbang masak-masak baru beli.”

“Untuk gaji seorang esmud di ibukota, nggak mungkin menimbang-nimbang karena perkara finansial. Bohong banget kalau begitu,” kata Karin, penuh dugaan.

“Hahaha. Alasannya sudah aku tulis di blog kok.”

Heh! Aku baca lho! Kalau benar bahwa lelaki di depan mataku ini adalah pemilik akun @alfabege yang diblok Karin sekian bulan silam sih.

“Hmmm, kayaknya aku baca. Jadi mana punyamu?”

“Oh iya, lupa.”

Lelaki itu kemudian ganti merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku bercover hijau dengan judul yang sama persis denganku. Perahu Kertas.

“Namanya?”

“Luhde.”

“Hahaha, tiru-tiru juga kamu Bang.”

“Nggak apa-apa. Luhde kayaknya cakep. Kata Kugy, kayak malaikat. Lagian nggak mungkin juga kasih nama Remi.”

Aku menatap buku yang barusan diletakkan di sebelahku, dari kiri ke kanan.

“Hai. Kita sama ya?” tanya buku itu.

“Iya. Aku Neptunus. Kamu?”

“Luhde.”

“Baiklah. Salam kenal. Yang punya kamu siapa?”

“Oh, ini Bang Alfa.”

Nah, sudah banyak dugaan yang menuju kenyataan. Tapi melihat momen di sekitar, aku jadi menebak akan terjadi sesuatu. Tempat itu ternyata romantis sekali. Sebuah kafe dengan rak buku di satu bagian dinding, lalu ruang bercahaya remang tapi dilengkapi lampu baca. Plus, lilin aromaterapi yang jaraknya hanya 10 sentimeter dari tempatku sekarang.

“Eh, De. Ini bosmu suka sama bosku ya?”

“Nggak tahu, Nus.”

“Kamu nggak sering kepoin dia?”

“Dia mah nggak bisa dikepoin. Aktifnya pakai HP. Nggak bisa ngintip aku.”

“Oh, begitu. Sayang sekali. Soalnya nih, dari dulu aku berpikir kalau sebenarnya bosmu ini suka sama bosku.”

“Rin,” kata Bang Alfa perlahan.

“Tadi bilang kalau baca blogku?”

“Iya.”

“Baca semua?”

“Lumayan.”

“Ehm, menurutmu itu fiksi atau nyata?”

“Fiksi dong.”

“Kok?”

“Kalau nggak fiksi, berarti kamu udah punya pacar berapa kali, Bang? Hehehe.”

Aku dan Luhde mulai bertatapan, tanpa suara, dan mengerti satu sama lain perihal sesuatu yang akan segera terjadi.

“Bisa aja. Menurutmu, kita ketemu lagi begini itu kebetulan bukan ya?”

“Bisa jadi. Kenapa Bang?”

“Kamu percaya kebetulan? Aku sih nggak.”

“Kadang percaya. Kenapa nggak?”

“Buatku sih kebetulan itu adalah persinggungan dua garis nasib. Dan nasib yang sudah diatur sama Tuhan. Jadi kebetulan itu kan kehendak Tuhan juga.”

“Lalu?”

“Ehm, entah sih, tapi semalaman aku berpikir soal ini. Kenapa kita ketemu lagi, kenapa bertemu kamu dalam keadaan sama-sama masih jomblo, kenapa dan kenapa lainnya. Dan sepertinya aku harus bilang sesuatu.”

“Apa?” tanya Karin perlahan, matanya sedikit melirik padaku.

“Ada banyak bagian dari posting di blogku yang sebenarnya adalah perasaanku sendiri, Rin. Perasaanku sendiri, ke kamu.”

Karin hening, bibir manisnya mengatup, tangannya malah memilih untuk mengaduk-aduk kopi. Sementara suara musik istrumen mengalun pelan di penjuru kafe.

“Sejak 7 tahun yang lalu, Rin. Sejak aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan ini. Tapi karena kemudian kita terlanjur dekat sebagai teman, jadi ya aku simpan saja. Dan kamu ingat kan pernah bilang sesuatu soal memendam cinta?”

“Memendam cinta adalah cara tercepat untuk patah hati.”

“Tepat sekali.”

“Dan bahwa aku sudah cukup patah hati ketika kemudian aku nggak bisa lagi menghubungi kamu. Kamu boleh bilang aku gila, tapi sebenarnya hadiah ulang tahunmu waktu itu, aku sendiri yang nganter ke kantor.”

“Bang? Serius?” tanya Karin dengan ekspresi yang berubah drastis. Kali ini dia benar-benar terkejut.

“Iya, aku ke Solo. Menghabiskan cuti sih, jadi sekalian gitu. Sudah sampai di depan kos-kosanmu malah. Sudah ngetuk pintu juga. Tapi akhirnya balik kanan pulang. Baru mampir ke kantormu, nitip hadiah itu. Kadang nyesel juga ngasih hadiah begitu kalau tahu akhirnya kamu malah menjauh begitu.”

“Asli, nggak nyangka Bang.”

“Buat lelaki, nggak ada yang aneh atau nekat kalau statusnya udah cinta, Rin.”

Karin terdiam lagi, melirikku lagi. Aku rasa dia mulai membenarkan perkataanku perihal sesuatu yang aneh kemarin. Salahnya juga nggak mendengarkan aku kan?

“Daripada aku panjang-panjang lagi, intinya sih hanya satu baris. Aku cinta sama kamu, Rin.”

Karinku tertunduk malu-malu, sementara Bang Alfa meraih tangan Karin yang sedari tadi tampak menggengam angin. Karin membuka genggaman jemarinya dan menerima lima jari Bang Alfa di sela-sela lima jarinya.

Aku dan Luhde terdiam saja melihat pemandangan seperti ini. Kejadian ini untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari. Aku menikmati setiap saat ketika cinta dinyatakan, dan aku yakin Luhde demikian.

Badan Bang Alfa terangkat sedikit demi sedikit dari kursinya, kepalanya bergerak mendekati kepala Karin. Pemilikku itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, menyambut sebuah kecupan manis dari sebuah bibir yang baru saja menyebut cinta.

Luhde menatapku dan tersenyum penuh arti. Aku sendiri senang, karena pada akhirnya hipotesaku terbukti, seratus persen.

* * *

buatan minggu lalu, baru diunggah sekarang.. lagi niat.. hehehehe..

[Blog Review] My Koffie Time

Bahwa dunia maya ini gila, bermula dari asal naruh link blog di Leutika, eh, saya ketemu dengan rekan se-almamater yang punya blog My Koffie Time ini. Syukurlah karena dia mengapresiasi konten blog saya, ‘jatuh cinta’ katanya. Apalagi waktu dia baca, ada serentetan cerpen galau yang lagi saya posting. Hahaha..

Lalu saya tengok balik ke blognya, dan–ehm–menarik juga.

Kenapa?

Postingnya jarang yang berjudul panjang sekarang-sekarang ini, bahkan belakangan hanya 1 kata. Misal: monyet, lalu ada juga judul lain: Cabe. Bikin senyum saja itu judul. Ada cerita-cerita yang bikin senyum, misal di posting ‘monyet’, plus ada posting-posting yang bikin hati haru apalagi di posting tentang kematian. Ehm, setidaknya soal kematian ini saya baca 3 kali dengan perspektif yang sama. Buat saya, keren.

Produktivitas Miss B1P buat saya sih relatif lumayan dengan 8 dari 12 bulan di 2012 ada postingan.

Dan disini juga banyak diceritakan asyiknya menjadi guru dan–terutama–pilihan menjadi guru Bahasa Indonesia (lulusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah), bukanlah pilihan buruk. Apalagi kalau diceritakan soal tempat kerjanya yang pindah-pindah dari sekolah elit ke sekolah elit lainnya. Hehehe..

Tentu tidak ada yang meragukan kalau seorang guru Bahasa Indonesia menulis. Demikian kan? Jadi, silahkan kunjungi 🙂

[Blog Review] Bailar Bajo la Iluvia

Hendak bergalau ria dengan cerita-cerita yang dituturkan dengan manis? Satu tempat rekomendasi adalah bailar bajo la iluvia. Ini blognya Tere, yang saya kenal karena dia adalah temen kosnya adek saya. Dan kebetulan adalah sesama anak guru Bahasa Indonesia plus ternyata sesama GALAU. Haha..

Blog-nya Tere ini ada sejak 2010 dan sampai sekarang entah sudah berapa kali ganti desain. Produktivitas mungkin masih sedikit, tapi soal kualitas jangan ditanya.

Mungkin, ini mungkin doang lho ya, dia lebih memilih untuk kuliah daripada ngeblog. Eh, salah.

Mungkin dia memilih untuk menuliskan sebuah cerita yang sudah benar-benar final dan nyata bagus baru diposting. Ini prediksi saya. Karena coba deh lihat postingannya rerata panjang dan terstruktur sehingga tentu perlu permenungan mendalam (ceileee..) sebelum menekan tombol ‘post’.

Ada juga rangkaian posting foto, yang saya tahu mirip dengan yang diposting teman kos adek saya yang lain. Bahkan foto-fotonya juga sama. Ini siapa terinspirasi siapa ya.. Hehe..

Yang kurang dari blognya Tere ini cuma 1 kok, kurang produktif. Karena beberapa pengunjung setia blog saya pernah bilang terus terang kalau menyukai cerita-cerita yang dimuat di blognya Tere.

Keep posting! 🙂

Silahkan dikunjungi.. 😀

Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Masalah Klasik Anak Kos

Lagi merenung, meratap, dan meresap. *halah*

Dan tiba-tiba kepikiran nasib sendiri. Yah, nasib saya yang sudah lebih dari 11 tahun melarikan diri dari pangkuan orang tua. Eh, tepatnya dilarikan, disuruh pergi, tapi emang demi kehidupan dan penghidupan yang lebih baik.

Dan tiba-tiba lagi terkenang pahit manis-nya jadi anak kos. Kok terkenang? Lha wong saya ini juga masih jadi anak kos. Heleh.

Ya pada intinya, berikut masalah klasik anak kos, berdasarkan pengalaman saya.

1. Antri WC

Ini semacam sepele tapi ternyata penting loh. Bayangkan rasanya kebelet, sudah lari-lari dari kamar, dan lantas mendapati kalau WC tertutup? Ini kayaknya mirip dengan mau kawin tapi terus calon kabur sama mantan. Dan rerata WC di kos-kosan itu jumlahnya nggak banyak, paling 1 atau 2 biji saja.

Belum lagi nih, kos saya yang legendaris di Mbah Mardi sana itu menerapkan konsep WC untuk semua, termasuk untuk mencuci. Jadi bayangkanlah rasanya mules, kebelet, sudah di ujung, eh di dalam WC tiba-tiba lagi asyik ngucek sambil bernyanyi riang? Bayangkanlah! Bayangkanlah! *lebay*

2. Ketika Gebetan Jadi Pacar Teman Sekos

Ini asli, asli bukan pengalaman saya. Tapi ada nih temen yang bernasib buruk dalam bercinta. Sebut aja si Roni. Roni ini nggebet si (sebut saja) Mawar Melati Semuanya Indah. Hasil pendekatan beruntun berbuah kandas.

Dan tiba-tiba…

Mawar Melati Semuanya Indah jadi rajin berkunjung ke kos si Roni. Tapi bukan ke kamar Roni, melainkan ke kamar di sebelahnya! Ihiks, gimana gitu rasanya sendiri galau pulang ke kos, lihat sandal si gebetan di depan kamar sebelah. Lalu dengar cekakak-cekikik pujaan hati, juga dari kamar sebelah.

#eaaaa

3. Nginapers dan Nebengers

Kalau ini asli pengalaman saya. Sebagai orang yang ngekos, dan punya banyak teman yang berumah di Jogja, ini konsekuensi logis. Main ke kos sih nggak masalah. Tapi kadang-kadang bikin gundah gulana.

Ada kala ketika lagi asyik sama pacar *asyik nonton TV loh* eh datang teman hendak berkunjung. Ini mah bukan pengalaman saya saja, lebih seringnya saya malah jadi pengunjung *hihihihi..*

Ada kala juga, sudah malam-malam, capek, sudah membayangkan enaknya kasur di kamar. Eh, begitu sampai kos, kamar sudah ramai dengan temannya teman. Jadi ada teman yang mengajak temannya mengerjakan tugas di kamar saya. Ini juga mirip mau malam pertama, tahu-tahu mertua ikut tidur seranjang. Ehm, gini-gini saya juga pelaku setia! Haha…

Ada juga nih, sedang asyik-asyik mimpi sama Halle Berry di sesi tidur siang, tiba-tiba kamar diketuk, dan rombongan manusia masuk, ngerusuhi. Ealah, kabur dah itu Halle Berry.

Tapi ya, kalau nggak ada yang begitu, kadang rasanya sepi. Itu kan prinsip dasar manusia, begitu ada males, begitu nggak ada malah kangen.

4. Sakit Maag

Ini penyakit wajib anak kos dan ditandai utamanya karena ketiadaan dana, terutama di akhir bulan. Wajib deh, bener. Asli bukan anak kos kalau nggak maag *apa coba?*

Menurut yang saya pelajari di kuliah, mayoritas maag itu ya disebabkan dari kesalahan pola makan. Yang dampak lain, misal pemberian obat berlebihan di masa kecil atau perlukaan lambung, itu kecil sekali.

Dan kesalahan pola makan itu terkait kesalahan manajemen keuangan. Ya, intinya mah, kalau anak kos, tanggal 1 itu makannya sate kambing, kalau tanggal 31 makannya tusukan sate kambing. Kalau tanggal 1 minum soda gembira, tanggal 31 minum air putih dari botol soda (sambil) sedih.

5. Pak Kos dan Bu Kos

Ini asli saya paling sebel. Saya pernah tuh berdiri di sebuah pintu depan kos-kosan, menunggu teman cewek. Dan saya dimarahi sama yang punya kos. “Jangan berdiri di situ!”

Ebuset, lha saya ini cuma berdiri, apa salah? Apa salah saya? *mbrebes mili*

Jadi ada yang emang galak, ada yang rese, ada juga yang menyenangkan. Tapi rerata ortu akan senang yang galak dan jam-nya terbatas, karena itu anak pasti terjamin.

Ah, apa iya? Nggak juga. Di kos cewek adik saya, masih ada juga gadis-gadis yang memanjat pagar semata pintu tinggi itu sudah digembok. Ini mah perkara manusiawi juga. Hehehe..

Yah, sekian dulu. Nanti disambung lagi. Itu tadi lebih ke pengalaman di Jogja sih. Kalau pengalaman di Cikarang dan Palembang, nanti di-share terpisah.

Okeeee… Oyeeeeee… *salaman*

Antologi Mayor Berikutnya

Kalau teman-teman sekalian melihat pojok kanan atas blog ini, dan teman-teman sekalian adalah pengunjung setia blog sederhana ini, pastinya ngelihat ada perbedaan.

Yup, ada gambar lain yang muncul disana, tidak hanya foto buku “Kebelet Kawin, Mak!”. Ada tambahan, namanya “Radio Galau FM Fans Stories”.

Syukur kepada Tuhan bahwa saya disempatkan untuk ngecek TL ketika lomba “Radio Galau FM Fans Stories” ini di-tweet. Kala itu, saya sudah capek menulis galau. Tapi, saya lantas berpikir, nggak apa-apalah, sekali-sekali ini. Kalau masuk, kan bisa jadi buku.

Maka, saya hanya membuka sebuah cerita di blog ini juga, tanpa mengganti judulnya. Silahkan search FOTO DALAM DOMPET. Yak, cerpen mini di tanggal 24 Januari 2012 itu yang saya rekarasa untuk kemudian dikirim ke penerbit Wahyumedia.

Well, silahkan berargumen soal copy paste dan lainnya. Bagi saya, ini cerita saya yang tulis, jadi ya suka-suka saya mau diapakan. Iya kan?

Dan saya memilih untuk mengganti tokoh dalam cerita itu plus mengganti endingnya. Ending itupun ditemukan persis ketika mengetik. Ya, saya memang penulis dengan inspirasi sambil jalan. Sungguh berbanding terbalik dengan keseharian saya sebagai orang planning.

Lama, dan lamaaaaaa… akhirnya ada pengumuman. @ariesadhar menembus lomba itu. Syukurlah. Tapi lama dan lamaaaaa baru dapat kabar. Sebenarnya saya bahkan hampir lupa sebelum kemudian ada yang SMS minta alamat untuk pengiriman hadiah. Terus saya kepo ke linimasa, dan ternyata itu buku sudah ada sejak tengah bulan. KEMANE AJE?

Hmmm, pas kemarin saya ke Central Park, ada reuni sama anak-anak PSM CF. Jadi mampir ke Gramedia, dan menemukan buku itu. Seperti biasa, saya beli lebih dari 1, walaupun nanti pasti dapat bukti terbit dan saya toh nggak dapat royalti (karena sudah include di hadiah), tapi saya ya begitu memang. Nanti buku itu kan bisa saya kirim ke ortu, buat nambah-nambah koleksi di rumah. Cinta Membaca (indie) dan Kebelet Kawin, Mak! (Gradien) juga saya kirim ke rumah kok.

Uniknya, buku ini ada di rak BEST SELLER. Wew! Setelah saya berburu “Kebelet Kawin, Mak!” di rak TERBARU Plaza Semanggi, kini saya menemukan buku yang ada tulisan saya-nya di rak BEST SELLER Central Park.

Oke. Masalahnya sekarang, tidak ada lagi pendingan lomba yang saya punya. Sejak Mei saya kehilangan sentuhan menulis. Harus bagaimana ini? Bagaimana dengan cita-cita saya punya buku sendiri?

Itu juga ada kisahnya. Agak sedih sih. Tapi, penulis bagus-pun pernah ditolak kan? Ya anggap saja ini jalan menjadi penulis bagus.

Masalahnya, 2 bulan sesudah mengirim naskah buku, saya ditelepon sama editor, katanya naskahnya oke, tapi menunggu meeting dulu. Karena saya sabar, jadi ya saya tunggu. Dan sampai sekarang saya menunggu. Akhir Agustus itu persis 4 bulan naskah saya dikirim. Artinya? Ya itu bermakna penolakan. Ya sudah. Mari berkarya lagi kalau begitu 🙂

Oh iya, soal tokoh, saya harus mengucapkan terima kasih kepada teman saya yang namanya saya pakai sebagai tokoh di kedua cerpen, baik di “Kebelet Kawin, Mak!” dan di “Radio Galau FM Fans Stories”. Thanks a lot! Apa itu bermakna namanya harus dipakai sebagai tokoh di novel supaya buku saya bisa diterima? Hehehe, entahlah.

Sudut Pandang

“Pantai yo?”

Ajakan retoris anak-anak Dolaners ini memang berlaku umum. Berlaku untuk dikatakan tapi tentatif untuk direalisasikan. Namanya juga Dolaners, mayoritas isu tanpa konsep, sedikit realisasi. Soalnya kalau realisasi semua, jebol juga kantong bolong anak muda.

Tapi ini agak serius. Aku, Chiko, Ano, Roman plus Adel sudah bersiap. Rencananya malah lebih dahsyat bin maut. Jadi ceritanya makan siang dulu di pemancingan yang terletak di pelosok babarsari lalu capcus ke Pantai Parangtritis.

“Eh, bukannya ke Paris nggak boleh ya buat orang pacaran?” tanyaku pada Roman.

“Emang kita pacaran?” Roman malah bertanya pada Adel.

Dasar pasangan yang aneh!

Baiklah. Sejatinya rencana setengah matang ini dibuat dalam rangka menghibur Bayu yang lagi ultra galau. Seorang dengan otak cemerlang ini tampak lemah, letih, dan lesu. Soal cemerlangnya otak Bayu sebenarnya agak sukar di jelaskan oleh kata-kata, bahkan oleh Sukardi sekalipun. Ya bayangkan saja, sepanjang kuliah kerjanya cuma dua, ngantuk dan tidur, tapi begitu dosen bertanya, “ada pertanyaan?”, Bayu dengan mantap bertanya. Mana pertanyaannya berkualitas pula. Tidur macam apa itu?

Nah, tampangnya sudah lemas dari kemarin. Padahal, belum lama ini dia teklek kecemplung kalen, tinimbang golek mending balen dengan Putri. Itu persis beberapa hari sebelum aku mudik. Waktu itu aku lagi nongkrong di depan kampus dan dia mengakui soal CLBK itu.

Lha sekarang sudah galau lagi?

Kembali ke Pat Kai, begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

“Lha, melu ora Bay?” Chiko menanyakan pertanyaan yang ketiga belas kali. Sama persis.

Bayu gojag gajeg tiada tara. Semacam ada yang aneh dengan gelagat manusia satu ini. Bahkan orang pintar pun kalau galau, kepintarannya berkurang 50%, setidaknya aku menemukan fakta soal itu hari ini.

“Aku nyusul yo.”

“Jadi piye?” tanyaku. Sebagai makhluk nebeng tingkat internasional, aku harus memastikan soal ini. Kalau dia nyusul, masak aku harus membawa Alfa, si odong-odong merah, ke pelosok babarsari yang menguras energi dan oli itu? Ampun!

“Yo gampanglah,” ujar Chiko, menenangkan. Jadilah Roman-Adel, Chiko, Ano, dan aku berangkat duluan ke pemancingan. Bayu tinggal. Tampaknya dia ada unfinished business yang kudu dituntaskan. Aku hanya menerka itu dari ekspresinya.

Pemancingan yang menjadi tujuan itu, sejujurnya aku baru tahu beberapa pekan silam. Letaknya di bawah jalan aspal. Jadi ada jalan menurun dulu kalau hendak menuju pemancingan. Ikannya? Banyak.

Beberapa pekan silam, Dolaners memang mancing disini. Kali ini, berhubung sudah siang, sudah lapar, dan hendak ke pantai, kami memutuskan untuk membiarkan pemilik pemancingan yang memancingkan. Toh, mancing atau tidak, harganya sama. Ya mending nggak mancing to? Wong, kalau mancing malah nambah beli cacing plus sewa pancing pula.

Sebutlah ini perspektif malas.

Oke, lanjut ya. Makan-makan ini tidak lain dan tidak bukan membahas Bayu. Mau nggak mau lah. Kami sendiri sudah memandang aneh hubungannya dengan Putri sejak lama. Awalnya sejak Putri yang ngebet sama Bayu, hingga kemudian dunia terbalik ketika Bayu begitu ngebet sama Putri. Sayangnya ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama.

Pacaran mereka juga aneh. Kalaulah Roman dan Adel, setidaknya tangan Adel masih nangkring di pinggang Roman kalau lagi boncengan sepeda motor. Putri? Bahkan Bayu sampai bertanya, kok tangannya nggak mau singgah di pinggang.

Pelbagai keanehan lain menjadi menu pembicaraan. Ini nggak nggosipin orang ya. Ini hanya pemaparan fakta-fakta disertai bumbu opini, disela-sela bumbu ikan bakar.

Satu jam setelah kami duduk di saung, Bayu muncul, masih dengan muka yang sama. Galau.

Piye Pak?”

Bayu tidak menjawab. Bagaimanapun sebagai teman, dan sebagai sesama pernah patah hati, tentu aku harus memahami. Kalau aku mungkin bukan pernah, tapi sering. Ups!

Perjalanan siap dilanjutkan. Aku terpaksa memegang peran sebagai driver sepeda motornya Bayu. Yah, membiarkan seseorang yang baru galau naik sepeda motor ke Paris bukan hal bijak. Lagipula, aku kan bisa mengorek kejadian-kejadian dan fakta-fakta sebenarnya sepanjang jalan. Ikut tanggung jawab juga ceritanya, soalnya dulu awal banget merekomendasikan Putri dengan Bayu. Putri temanku di awal kuliah, Bayu temanku dari SMA. Kupikir cocok, taunya? Haduh.

Perjalanan dimulai, berbekal handphone kamera pinjaman, kami berangkat ke Paris. Sebuah perjalanan seru siang menuju sore ke pantai paling ternama se-Jogja, eh, se-Bantul itu.

Kalau main-main biasanya banyak sepeda motor, kali ini cuma tiga. Nggak apa-apa, yang penting maknanya. Apa sih?

“Zonk, hidup ini ketoke hanya persoalan sudut pandang yo.”

Nah loh! Sebuah pernyataan bijak keluar dari otak si cemerlang ketika aku melaju manis di Jalan Paris.

“Lha piye Pak? Pedhot?”

“Iyo.”

“Bener sih Bay. Tinggal piye kowe ndelok’e wae. Nek arep loro yo loro.  Nek emang lebih baik, yo wis to.”

Gila! Mendadak bijak aku ini! Semacam hebat saja, padahal pacaran aja belum pernah. Yah, kita kan nggak kudu nyoba narkoba untuk tahu itu berbahaya kan? Jadi nggak kudu nyoba pacaran biar tahu itu menyakitkan? Waduh. Bisa single sepanjangan ini. Jangan deh. Amit-amit.

Perjalanan ke Paris ini enak, tinggal lurus wus wus wus. Mau pilih Jalan Paris atau Jalan Bantul, sama lurusnya kok. Banyak yang kencang-kencang disini. Dan sebagai anak muda harapan bangsa, skill naik motor aku, Ano, dan Roman, tidaklah buruk. Jarak ini masih standar untuk Dolaners.

Maka Paris sudah di depan mata. Kami masuk, parkir, dan siap menempuh kehidupan.Eleuh.

Nongkrong di sebuah tempat makan adalah kegiatan pertama. Bayu masih tampak gamang dengan muka pertapa, matanya memandang lepas ke lautan yang sama-sama lepas.

“Ayolah!” Chiko mengajak Bayu untuk melepas atribut dan segera menuju tepian.

Main air lantas menjadi kegiatan berikutnya. Tentu disertai foto-foto dengan handphone kamera pinjaman. Berbagai macam pose. Mulai dari pura-pura terbang hingga pura-pura mati. Dari ‘memegang’ matahari sampai ‘menduduki’ matahari.

Kami jalan jauh ke sisi bukit, hendak melihat air terjun. Sayangnya, tampak kandas. Air terjun itu kering. Yang kami lihat kemudian adalah, air.. eh.. kegiatan dua insan di atas batu. NGAPAIN ITU CEWEK SAMA COWOK DUA-DUAAN DIATAS BATU?

Dasar! Anak muda jaman sekarang suka aneh ah!

Kami yang tidak suka pergaulan bebas lantas foto-foto di dekat batu itu. Yah, aku yakin kedua insan itu akan bertobat segera melihat kelakuan kami yang nggak pindah-pindah dari batu itu dan malah foto-foto dengan berbagai pose.

Termasuk… foto pandang-pandangan Roman dan Adel yang banyakan gagalnya karena mereka malah saling menertawakan satu sama lain. Haduh. Pacar sendiri kok digituin. Ya begitulah cara mereka pacaran, lagi-lagi ini perkara sudut pandang. Bener juga kata master galau hari ini, Bayu.

Ketika mentari menjelang terbenam, Bayu yang lumayan pakar fotografi segera meminta Ano berpose macam-macam. Jadilah banyak foto siluet Ano dan sebuah benda bulat terang yang manis terlihat.

Lagi-lagi, ini tentang sudut pandang.

Ketika matahari akhirnya terbenam, kami meninggalkan pantai itu, berharap kegalauan Bayu segera musnah. Meski Bayu sudah kembali ke klub jomblo, tapi tentunya ini bukan kesenangan. Patah hati itu sakit, dan hanya menjadi nikmat kalau dilihat pada sudut pandang yang tepat.

* * *

Pengumuman Seleksi Antologi Komedi Cinta 3

It’s a good news!!!!!

——————————————————————————–

Kumpul, kumpuuuul…. tok-toroktok-toktok! *pukul kentongan*

Pengumuman penting bagi yang merasa ikutan Seleksi Antologi Komedi Cinta 3 kerjasama Blogfam – Gradien Mediatama. Jadi, setelah para juri nggak bisa mingkem dan gigi mereka pada kering semua kebanyakan  nyengir, akhirnya terpilih sudah 12 Cerpen yang tersaring dari 90 cerpen yang masuk. Pusing milihnya? Banget! Suwer, kocak semua!

Tapi eh tetapi, tetap saja harus ada 12 nama yang akhirnya harus ditampilkan di sini. Kelucuan dan kegalauan kisah cinta yang mereka usung, sukses membuat para juri jungkir balik, ngakak, ngikik, dan ngukuk. So, ini dia 12 Cerpen yang terpilih yang layak tampil dalam buku Antologi Komedi Cinta 3 yang akan diterbitkan oleh Gradien Mediatama.

Ada kah nama kamu di antara 12 orang yang karyanya terpilih di bawah ini?

3 Cerita Utama

  •  High Class – Pradna
  • Kebelet Kawin, Emak! – Zoel Ardi
  • Mantan Pacar – Barokah Ruziati

9 Cerita Unggulan

  • Raja Galau – Haris Firmansyah
  • Cuminya Kasihan Banget – Eri Ilyas
  • XXXL – Muhimmah
  • Kameramen Chemonk – Wuri Nugraeni
  • Jangan Main Api Kalau Tidak Mau Kesiram –  Arie Sadhar
  • Lain Hidung, Lain Belangnya – Cizu Chan
  • Menunggu Jawaban Galau – Sulaiman Hari Prabowo
  • Move On, Yuk Ah! – Yunisri Mur
  • Galau Sampai Akhir – Windi Teguh

Selamat!

Untuk yang belum terpilih, yakinlah bahwa kesempatan lain akan segera datang untuk naskah-naskah menarik seperti itu. Pokoknya tengkyu banget sudah ikut berpartisipasi dan meramaikan hajatan kita kali ini.

 

Salam,

Blogfam & Gradien Mediatama

Iwok Abqary

Amril T. Gobel

Indah Juli

———————————————————————

Gileeeeeeee… MAJOR!!!! Akhirnya!!!!!!!

Sumber: www.blogfam.com

 

Menemukan Pada Kehilangan

Sebuah email masuk di pushmail saya (sok-sokan ceritanya):

Hi,
All advertisements and affiliate links currently active on your site need to be removed, please. These are not permitted at WordPress.com, as per our advertising policy

Ini datang dari Anthony atas nama WordPress. Segera saya nyalakan laptop, buka alamat blog ini, dan..

https://ariesadhar.wordpress.com sudah terbuka kembali. Ditandai dengan dua bola mata yang masih menatap dengan penuh misteri.

Ahhhhh.. Akhirnya….. Blog ini aktif lagi…

Baru sadar ternyata Bu Yuli memantau blog saya juga. Sampai nge-wall kok ga bisa dibuka.. hehehehe..

Pelajarannya? Ini bukan sekadar You Don’t Know What You Have Until You Loose It, tapi lebih lagi. Apa sih makna kehilangan? Kehilangan blog ini berarti banyak. Ketika saya cerita ke beberapa teman muncul komentar-komentar macam, “sayang loh, kan udah banyak…” atau “pasti karena pasal terlalu galau” dan lainnya. Kehilangan blog terasa lebih menyedihkan. Hasil permenungan saya, karena blog ini adalah karya saya sendiri, dan sudah banyak, tanpa back up pula. Mau dibawa kemana kisah-kisah penggalauan ini kalau blog ini hilang? Saya langsung bikin di blogspot sih, tapi mendadak mood menulis hilang total. Saya masih merasa kehilangan.

Dan email barusan sungguh menjadi makna menemukan. Baiklah, semua link soal bisnis saya non aktifkan. Mungkin ada cara lain cari referral. Yang penting sepasang mata itu masih bisa memandang penuh misteri di kepala blog ini.

Welcome Back!

😀