Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Cerita Liburan: Memang Tidak Terbalaskan

Salah satu pesan yang saya terima sebelum mudik kemarin adalah mengetik program kerja Mamak saya. Lalu pesan berikutnya adalah membuat DVD yang diputar di DVD Player bisa dilihat di TV.

Yah, saya melihat banyak benda baru di rumah, meski terakhir saya mudik itu baru Desember 2011 silam. Ada TV masa kini yang gede banget, ada laptop (ini sih milik kepala sekolah), dan yang bikin terpana, ada TV kabel segala. Selintas saya berandai-andai, kalau segala fasilitas ini sudah ada ketika saya SMP. Hmmm, saya pasti hanya akan menjadi bocah kecil yang manja, yang akan selalu tergeletak di depan laptop dan di depan TV menikmati hidup. Dalam hal ini saya justru bersyukur (banget).

Nah, bagian paling unik adalah ketika saya kemudian “mengajari” Bapak menggunakan laptopnya yang jauh lebih canggih daripada si lappy. Memori-nya 3 kali lipat, processor masa kini, sudah windows 7 pulak. Parahnya, laptop bagus itu hanya bisa buka MS Word karena MS Office-nya bukan versi Purchase. Buat saya ya sayang, seharusnya–karena ini barang dari pemerintah–budgetnya bisa banget kalau untuk beli license, tapi ini kok begini? Beli Windows 7-nya kuat, beli MS Office-nya nggak. Yak opo iki?

Nah, berikutnya saya diminta mengajari merapikan program kerja matpel yang diajarkan Bapak, yang barangnya sudah ada di laptop. Maka beraksilah saya. Kadang saya heran, kalau benar Bapak kursus, kenapa sekadar “block” hingga “copy paste” saja seperti nggak ngerti? Atau lupa? Atau bagaimana? Ah, entah..

Tapi saya menikmati sekali proses ini. Termasuk kemudian ketika saya memindahkan foto dari HP Bapak ke komputer rumah dan terus kesusahan karena memang HP itu belum pernah dibuka slot memory-nya. Juga memindahkan foto dari BB Mamak yang isinya foto artis lokal semua (kalau saya bilang sih, emak-emak labil.. hehehe… *ampun makkkk* *ditabok*). Juga ketika kemudian saya membuat panduan cara nge-burn CD. Hingga lantas membuat DVD yang diputar bisa terlihat di TV baru.

Huffffttt…

Saya nggak ngerti apa ini, tapi saya lantas ingat posting Bocah Rantau yang satu ini. Bahwa bocah tua nakal ini BENAR 100%. Yah, saya mungkin hanya mengajari hal yang dianggap remeh di masa kini dan lantas tampak pintar. Apa sih CTRL + C dan CTRL + V? Apa sih mindahin foto dari HP ke laptop? Itu semua simpel, tapi buat saya, kemarin ini, bermakna dalam.

Yah, kalau kemudian saya tahu soal CTRL + C, kita perlu bertanya, siapa yang membuat saya mengerti huruf “C”? Nggak lain, kedua orang tua saya. Ketika kemudian saya tahu bahwa untuk membuat TV bisa menayangkan DVD itu harus menekan tombol INPUT di remote, siapa yang membuat saya mengerti bahwa benda itu adalah remote control? Nggak lain juga, kedua orang tua saya. Kalau kemudian ketika saya asyik dengan laptop, lalu kebelet pipis, dan saya bisa pipis dengan lancar, siapa yang mengajari saya cara pipis? Tidak ada yang lain, kedua orang tua saya.

Begitulah hidup. Bocah tua nakal menulis soal kasih yang tidak akan pernah bisa terbalaskan. Saya menambahi, memang tidak terbalaskan. Apalagi ketika saya selesai dengan laptop atau DVD, segelas teh panas sudah tersedia. Ketika saya beres dengan merapikan program kerja, sepiring ayam kampung dengan sambel merah merona sudah siap. Bahkan ketika saya tidur dengan malas, sebuah selimut sudah ada menutup badan saya di pagi hari ketika terjaga. Demikian pula dengan sepiring nasi goreng dan segelas jus yang rasanya mantap. Apalagi yang perlu saya minta kalau sudah begini?

Huwaahhh… Begitulah.. Kasih orang tua pada anaknya, memang tidak terbalaskan. Kenapa? Semata-mata kadarnya yang nggak akan mungkin tercapai. Itu terlalu besar, sobat 🙂

Membanding-Bandingkan

Hahhhh… Entahlah, ini mungkin sedang hectic saja. Penuh, entah dengan apa. Jadi pengen sedikit berefleksi dengan membanding-bandingkan. Bukan maksud apapun kok, ini kan versi saya dan suka-suka saya, lha wong blog juga blog saya. Hahahaha..

Okehhh, kantor lama saya dan kantor saya sekarang sebenarnya satu perusahaan yang sama. Saya pindah dengan sebuah alasan yang (mungkin) lantas disesali. Jadi gini ya saudara-saudari, JANGAN SEKALI-KALI PINDAH KERJA KARENA ALASAN PACAR. Dari sisi itu, saya mungkin menyesal (lha njuk pedhot e.. hahaha..). Tapi dari sisi lain, saya bisa dibilang bersyukur dengan apa yang saya dapat di tempat baru ini, terutama penguasaan saya (dengan belajar sendiri) pada standar-standar yang sama sekali asing. Yah, dulu mana ada saya pernah tahu HACCP, ISO 22000, apalagi Sistem Jaminan Halal. Ya kan? Jadi ya sudah, nggak boleh ada penyesalan, karena toh semua ada positif dan negatif.

Total jenderal saya melakoni dua pekerjaan yang totally different dari sisi ritme dengan tingkat pusing yang sama. Ya iyalah, saya kan digaji untuk pusing dan lantas menghasilkan operasional yang baik. Bukan begitu?

Di tempat lama, saya terjun dalam sebuah rutinitas. Yak, tanggal sekian terima MPS, tanggal sekian upload planning, tanggal sekian running planning, tanggal sekian buat PR, tanggal sekian bikin ROFO. Begitu terus. Belum lagi ada kala material-material yang entah ada itunya, anunya, kurang itu, kurang anu. Ashh mbohh.. Hahaha.. Belum lagi, namanya juga orang planning, ada tarik ulur permintaan. Dan belum lagi yang paling bikin error dunia akhirat, gudang penuh. Hahaha.. Itu bagian-bagian yang setelah saya konfirmasi kemana-mana, jebule podho wae. Ya memang jatuhnya sama. Masalah itu ada relevansi dengan rutinitas. Dan ya memang begitu.

Di tempat sekarang, secara rutinitas memang anjlok. Lha dari 800 terjun ke 4, kompleksnya planning sejujurnya nggak kerasa. Tapi saya juga ngurus rutinitas untuk administrasi, dan saya baru bahan kenapa dulu saya harus susah payah nelpon ke gudang supaya bisa entry penerimaan ke sistem. Jebule angel rek. Saya ketemu dengan supplier yang macam-macam tingkahnya. Saya ketemu dengan dokumen-dokumen yang dulu saya nggak peduli. Itu separuh kerja saya. Sisi lain adalah di itu tadi, belajar standar-standar baru, implementasi, cari gap, cari pemenuhan gap, dan seterusnya. Well, sejujurnya, ini jauh lebih pusing daripada memutuskan harus order 5000 atau 7500. Bener deh. Tapi ya semoga bisa memberikan saya pemahaman lebih soal ilmu-ilmu baru ini, yang notabene di kuliah saya nggak paham. Jujur neh, karena kerja disinilah saya mulai konsen dengan kelas ruangan A sampai G, juga dengan IQ-OQ-PQ. Yah walau kuliah CPOB saya dapat A, tapi kan daya ingat rendah, jadi lupa deh.

Hahahahaha..

Jadi ya, kalau mau membanding-bandingkan, jatuhnya sama saja. Saya suka nguping kerjaan di pabrik otomotif hingga ke retail distribusi, ya sama. Konflik ada, masalah ada, hal-hal absurd ya ada juga. Semuanya berjalan karena memang kita hidup di dunia dan berhubungan dengan manusia.

Ini sekadar refleksi iseng saja kok, tidak mempengaruhi penilaian saya pada apapun. Saya bekerja disini sekarang, dan toh saya harus berkarya disini. Bekerja yang terbaik bukanlah sekadar demi bertahan hidup, tapi juga demi memberikan karya.

Eh, eh.. Satu hal yang kadang unik adalah ketika di pengobatan gratis ketemu obat dari kantor lama, yang saya paham batchnya, dan lantas tarik ke belakang… Ehhhh.. ini poly-nya saya yang order lohhh.. Ini doos-nya saya order sambil marah-marah, dan malah saya SOBEK sendiri (demi keamanan akan obat palsu). Hahaha.. Ini sungguh unik, buat saya. Entah buat yang lain.

Sekali lagi, ini semata-mata membandingkan. Kalaupun ada penyesalan, tentu karena sebuah alasan PACAR itu tadi. Tapi kira-kira sih impas dengan hal-hal lain, misal akses ke Jogja/Bukittinggi lebih murah, dan lainnya. Jadi, inilah hidup, kerjakan dan lanjutkan, demi kemuliaan Tuhan yang LEBIH BESAR.

Semua hal ada baik dan buruk kok, karena kita hidup di dunia 🙂

Panggung Trauma

Oktober 2009, ketika gedung itu baru saja diresmikan, aku yang jelas dan lugas masih unyu itu tampil bernyanyi bersama (kalo nggak salah) 9 orang lainnya. Bangga? Waktu itu mungkin iya, bayangkan saja seorang bocah yang baru 5 bulan kerja sudah disuruh pergi ke kantor pusat, bukan untuk dinas meeting atau training, tapi untuk nyanyi.

Tapi siapa sangka nyanyi itu berujung trauma?

Lagunya itu pakai minus one, dan ada interlude lumayan dengan isi instrumental ciduk-ciduk yang lumayan. Dan entah siapa yang salah, persis pada saat interlude itu, lagu DIMATIKAN!

Bayangkan saja kalau lagi nge-seks tapi belum klimaks. Mungkin kayak gitu, nggak tahu sih saya. Tapi itu lagu belum kelar, dan klimaks lagunya di belakang, dan itu tidak ada.

Cengak cengok di panggung bingung kenapa bisa begitu?

Lagu kedua kemudian berakhir bubar jalan. Cuk Mailang yang aslinya simpel itu menjadi lagu dengan nada yang lari kemana-mana. Tidak saya, tidak orang di sebelah saya, sama saja. Faktor psikis membuat mental bubar jalan. Parah. Saya sakit hati sama yang matiin itu musik. Dan lebih jauh, saya trauma tampil di panggung lagi.

Ehm, di PSM Cantus Firmus saya diajari benar bagaimana tampil di panggung. Mulai dari panggung Melody of Memory hingga ICC Mega Glodok Kemayoran lantai 10. Dan kemudian saya harus berakhir trauma di sebuah gedung di Bintaro itu?

Huffffttttttt…

Dan kemarin, dengan terpaksa, saya kembali ke panggung itu. Dengan nuansa yang lebih parah, cuma berempat, dan bernyanyi. Cukup? Tidak! Ada bagian khusus ketika saya harus bernyanyi sendiri. Saya itu orang paduan suara yang ada di bass dan tidak pernah dapat jatah solis. Dan saya harus menyanyi sendiri?

Meski itu hanya 2 kalimat, sudah cukup bikin merinding! Sumpah!

Dua lagu, Tanah Air dan Mengejar Matahari menjadi warna beda dalam upaya menghapus luka dan trauma. Kalau nggak begini, mau sampai kapan saya trauma sama panggung itu? Ya kan?

Syukurlah, tidak ada kejadian krusial macam 3 tahun silam. Banyak yang bilang bagus, meski saya tahu saya fals, dan itu diamini oleh teman saya sesama CF. Ehm, dalam hal ini anak CF memang selalu bisa objektif. It’s okay for me. Tapi apresiasi juga tentu saya terima dengan penuh rasa terima kasih.

Setidaknya saya tidak perlu trauma dengan panggung itu. Beberapa waktu terakhir saya banyak melawan ketakutan. Mulai dari naik Banana Boat, nonton di GBK, hingga tampil kembali di panggung itu.

Percayalah, tidak ada luka yang sejati, selama kita berniat menghilangkannya 🙂

Mesin Waktu

Siapa yang percaya kebetulan? Perlahan, saya tidak percaya kebetulan, yang saya percayai adalah ketika garis-garis nasib setiap manusia dipertemukan pada peristiwa-peristiwa. Dan, percayalah, kadang itu berulang seperti masuk ke mesin waktu.

Percaya kan?

Siapa yang mengira makhluk-makhluk yang pada era 2004-an silam terkapar manis di kamar kos, galau bersama di Gua Maria, heboh di warung makan, bisa bertemu kembali dengan atmosfer yang kurang lebih sama? Itulah, garis-garis nasib itu dipertemukan kembali. Siapa yang mengatur? So pasti, Tuhan!

Bahwa pengaturan kalau ada teman yang PKL di Bekasi coret, lalu ada teman yang datang dari Jakarta, pun juga ada teman yang ditinggal istrinya kondangan dan baru sekali ke Bekasi coret, bisa bertemu kembali, tentu sepenuhnya misteri ilahi. Sungguhpun tempatnya tidak sungguh-sungguh jauh, tapi handicap-nya tentu jauh berbeda di 2012 dan di 2004-an.

Pertemuan serupa mesin waktu. Ketika melihat gambar dan bertanya, “iki kapan yo?”. Lalu ketika tertawa terbahak mengingat kelakuan masa muda. Sesuatu yang akan sulit dan semakin sulit diulang. Sebuah pertemuan garis nasib yang tampaknya memang dimaksudkan untuk me-refresh memori pada masa perjuangan.

Unik dari ini adalah ketika pertemuan dilangsungkan di rumah milik salah satunya. Unik juga adalah ketika yang dibicarakan bukan lagi gebetan, tugas kuliah, atau mau bolos atau tidak, tapi bagaimana rasanya menikah, bagaimana dan berapa KPR rumah.

Unik juga ketika dalam hal perihal membayar, semuanya siap dengan dompet masing-masing. Ehm, delapan tahun silam, saya nggak yakin setiap orang akan merogoh dompetnya sama-sama untuk sebuah transaksi yang sama. Hendak dulu-duluan.

Unik, lucu, dan misterius.

Misteri ketika harus ditanya, kapan ini akan terjadi lagi?

Ah, apapunlah. Mesin waktu ini sungguh membantu saya, setidaknya untuk mengenang, bahwa saya pernah demikian.

This is about FRIENDSHIP 🙂

Diabetes = Cinta Diam-Diam

Cinta diam-diam itu sungguh penyakit. Dan sejauh saya telusuri, mirip dengan diabetes. Tentunya yang tipe 2. Karena yang tipe 1 sepenuhnya kehendak yang kuasa.

Kenapa?

Diabetes tipe 2 itu tidak ketahuan pada prosesnya, nongolnya ketika pankreas sudah rusak dan insulin tidak lagi diproduksi seimbang.

Cinta diam-diam. Namanya juga diam-diam, ya nggak ketahuan. Nongolnya kalau gebetan sudah punya pacar, ditandai dengan gila, atau setidaknya stress.

Diabetes tipe 2 itu menahun, persis cinta diam-diam.

Diabetes tipe 2 itu ditandai dengan gagalnya karbohidrat dikonversi maksimal menjadi energi oleh insulin. Cinta diam-diam ditandai dengan gagalnya konversi terhadap harapan yang tinggi menjadi realita.

Diabetes tipe 2 menyebabkan penumpukan gula di sekitar pembuluh darah, pelan-pelan menyebabkan sumbatan dan pada akhirnya kecepatan darah meningkat. Cinta diam-diam, dalam diamnya, sudah juga membuat kecepatan darah meningkat.

Diabetes tipe 2 tidak bisa disembuhkan, bisanya di-maintenance. Kalau cinta diam-diam? Kan namanya juga diam-diam, ya nggak bisa sembuh. Kalaulah itu diungkapkan, maka namanya sudah bukan cinta diam-diam lagi.

Obat seperti Metformin dan Acarbose akan membantu menggantikan fungsi insulin atau mempercepat penyerapan gula sehingga tidak menumpuk. Obat dari cinta diam-diam adalah mempercepat konversi harapan ketinggian menjadi kepasrahan.

Diabetes tipe 2 pada umumnya karena kurang gerak. Kalau cinta diam-diam? Yah, namanya juga diam kok. Ya jelas nggak bergerak.

Demikianlah, cinta diam-diam itu sakit, seperti halnya diabetes. Dan sebaliknya.

Cegahlah, sebisa mungkin! 🙂

Sang Guru

Entah mengapa, tiba-tiba teringat sebuah quote bagus dari Bapak Uda waktu saya mudik kemarin.

“Bapak si Alex ini pasti ada yang kenal di jalan…”

Simple.

Bapak Uda memang jadi saksi ketika hanya untuk mengisi angin mobil saja, bapak dan mamak sudah menyapa setidaknya 3 orang.

Bapak saya lebih dari 34 tahun mengajar, kalau mamak sekitar 27 tahun. Suatu angka yang wajar untuk mengenal banyak manusia. Misal 1 tahun ajaran ada 100 anak baru, maka bapak saya setidaknya sudah kenal 3.400 orang dan mamak 2.700 orang. Itu baru muridnya, dengan orang tuanya waktu terima raport, taruhlah separuh yang diwalikelasi oleh bapak dan mamak, maka bapak kenal 1.700 orang wali murid dan mamak punya 1.350 wali murid.

Hitungan sederhana yang mungkin berkurang karena banyak kasus 1 orang tua punya 3 anak yang muridnya bapak mamak semua. Dan ada juga yang sampai anak beranak diajar sama bapak atau mamak.

Hitung deh berapa RIBU?

Yak, betul! Ribuan!

Ini sih nggak sebanyak follower Raditya Dika yang sekitar 2 juta. Apalagi sebanyak follower Lady Gaga. Tapi kalau saya jalan-jalan di Bukittinggi, NYARIS nggak pernah bapak atau mamak TIDAK menyapa seseorang.

Kalau ditanya, “siapa pak?”

“Wali murid..”

“Murid…”

“Orang dinas..”

“Orang gereja..”

“Teman kuliah..”

Yak, selain di sekolah, bapak dan mamak juga kuliah di kota yang sama (sambil momong anak plus sambil kerja). Jadi sudah nggak kehitung temannya ada berapa banyak.

Itulah ENAKnya guru. Saya nggak usah ngomong nggak ENAKnya ya. Enaknya jelas sekali, banyak RELASI. Nggak terhitung dampak dari per-wali murid-an ini. Simpel saja, saya dulu mudik, lalu di sekolah ketemu wali muridnya mamak, yang mana anaknya sudah bertahun-tahun lolos dari kelasnya mamak. Dan saya dikasih duit, lumayan, cepek.

Nggak ada dampak ke dunia pendidikan, karena anaknya sudah jauh lewat dari kuasa mamak saya. Tapi dampak relasi? Masih terus berjalan.

Dan saya menangkap, inilah KEKAYAAN dari guru. Relasi!

Dan sesekali saya bandingkan itu dengan apa yang saya alami di sebuah kawasan industri sebagai tempat mencari nafkah.

🙂

Kita kan punya jalan hidup masing-masing to?

Menemukan Pada Kehilangan

Sebuah email masuk di pushmail saya (sok-sokan ceritanya):

Hi,
All advertisements and affiliate links currently active on your site need to be removed, please. These are not permitted at WordPress.com, as per our advertising policy

Ini datang dari Anthony atas nama WordPress. Segera saya nyalakan laptop, buka alamat blog ini, dan..

https://ariesadhar.wordpress.com sudah terbuka kembali. Ditandai dengan dua bola mata yang masih menatap dengan penuh misteri.

Ahhhhh.. Akhirnya….. Blog ini aktif lagi…

Baru sadar ternyata Bu Yuli memantau blog saya juga. Sampai nge-wall kok ga bisa dibuka.. hehehehe..

Pelajarannya? Ini bukan sekadar You Don’t Know What You Have Until You Loose It, tapi lebih lagi. Apa sih makna kehilangan? Kehilangan blog ini berarti banyak. Ketika saya cerita ke beberapa teman muncul komentar-komentar macam, “sayang loh, kan udah banyak…” atau “pasti karena pasal terlalu galau” dan lainnya. Kehilangan blog terasa lebih menyedihkan. Hasil permenungan saya, karena blog ini adalah karya saya sendiri, dan sudah banyak, tanpa back up pula. Mau dibawa kemana kisah-kisah penggalauan ini kalau blog ini hilang? Saya langsung bikin di blogspot sih, tapi mendadak mood menulis hilang total. Saya masih merasa kehilangan.

Dan email barusan sungguh menjadi makna menemukan. Baiklah, semua link soal bisnis saya non aktifkan. Mungkin ada cara lain cari referral. Yang penting sepasang mata itu masih bisa memandang penuh misteri di kepala blog ini.

Welcome Back!

😀

 

Menjalani Hidup Itu Seperti Lewat Batu Lubang

Teman-teman tahu Batu Lubang?

Kalau nggak tahu, saya kasih tahu, soalnya saya juga baru tahu. Hehehe.. Batu lubang ini adalah sebuah tempat di jalan Tarutung-Sibolga, Sumatera Utara. Ini khas Sumatera banget karena bisa dibilang menjadi penanda berakhirnya jalan kelok-kelok setengah mati dari Tarutung ke Sibolga. Yah, jalan Tarutung ke Sibolga itu kayaknya nggak ada yang lurus. Berkelok melulu.

Batu lubang ini konon adalah batu yang dilubangi oleh pemerintah kolonial dengan “bantuan” warga lokal secara rodi. Bayangkan ngeruk batu? Waw… Pasti melelahkan. Dan kabarnya banyak yang tewas selama proses pembuatan. Mayatnya dibuang dimana? Di jurang, persis di sebelah jalan. Dan ada 2 lho. Jadi ada 2 batu yang dilubangi, dan posisinya pas BELOKAN. Ngeri sak pole mbahe pokoknya.

Untung waktu itu yang bawa mobil Bapak Uda yang sudah fasih luar dalam jalanan situ.

Konon, kalau mau masuk lewat Batu Lubang kudu klakson dulu. Kalau nggak klakson bisa berhenti mendadak di tengah jalan dan mesin akan nyala dengan rokok yang dinyalakan sebagai penolak sial. Nggak percaya? Silahkan, tapi banyak buktinya. Logikanya sih sederhana, klakson dan lampu diperlukan. Ya iyalah, ini gelap pas tikungan pula, klakson jadi penanda bahwa mau lewat, jadi yang di seberang sana hati-hati. Itu kok.

Oke, kembali ke perspektif hidup ala lewat Batu Lubang.

Mau tahu jalannya? Ini dia.


Di depan itu adalah lubang yang pertama dari arah Tarutung ya. Hidup ini yang seperti itu. Maksudnya? Kita itu udah nyaman loh di jalanan sebelum lubang. Tapi kita harus maju untuk tujuan hidup kita. Kalau nggak maju? Diam aja deh di tengah hutan situ. Hehehe.. Klakson dan lampu perlu, kenapa? Dalam PERJALANAN HIDUP kita kan perlu PERSIAPAN.


Foto berikutnya adalah setelah keluar lubang pertama dan menuju lubang kedua. Dalam hidup? Yah, nggak selalu cahaya terang akan bermakna terang sebelum kita melaju. Bahwa mungkin masih ada gelap di depan. Cara menghadapinya? TERUSKAN perjalanan. So Simple! Kalau nggak, mau terjebak diantara dua lubang?


Foto diatas adalah pemandangan sungguh indah. Kenapa? Cercah cahaya itulah ujungnya. Gelap berakhir, dan terbit terang. Terang yang besar. Yang bisa dilalui pasca gelap. Dan ini gelap nggak enak loh. Di dalam lubang yang panjangnya sekitar 8 meter itu jalannya jelek karena kena tetesan air terus menerus.

Ya caranya harus begitu, teruskan perjalanan. Mau tahu yang kita peroleh kemudian?


Cahaya terang saudara-saudara! Foto di atas adalah lubang dilihat dari arah Sibolga. Ini akhir dari dua Batu Lubang. Dan jangan salah, di sebelah kanan ada AIR TERJUN yang sangat indah, tapi agak berbahaya karena langsung jurang. Hiii.. Ngeriiii….

Sedikit pelajaran yang saya dapat bahwa dalam HIDUP itu ada PERJALANAN, dan kita perlu PERSIAPAN, serta yang utama adalah MAJU TERUS, namun terkadang kita perlu BERHENTI untuk MENIKMATI capaian indah yang sudah kita peroleh.

Bukan begitu?

hehehe..

 

 

Sebuah Langkah (Besar)

Yah, sudah tanggal 12. Malah pas jam 12:34 AM pas saya mengetik ini. Angka yang cantik. Hehehe.. Lewat sudah 11 Januari 2012. Maka, saya harus memulai kehidupan baru di usia 25 tahun dengan 11 cita-cita yang harus dipenuhi. Heh? 11? Banyak amat? Yah, tambah umur tambah ganas dong. Soalnya, sekadar sharing, pas usia 24 tahun kemarin, ada 4 cita-cita dan yang tercapai hanya 1. Semacam tidak konsisten. Yang dua statusnya hampir, dan yang satu gagal total.

Ibarat prinsip Balanced Scorecard, saya ingin membuat cita-cita dalam perspektif yang sama. Semoga bisa.

Terima kasih kepada seluruh teman-teman atas perhatian yang diberikan, via FB, via SMS, via Twitter, via Whatsapp, sampai salaman langsung. Itu berarti banyak buat saya. Dan asal tahu saja, kemarin saya menyelesaikan 5 request document. Hahahaha.. Kerja saya kemarin sudah cukup keras ternyata. Entah kenapa, pas pulang rasanya puas sekali bisa menyelesaikan dokumen-dokumen ini.

Baiklah..

11 cita-cita itu cukup menantang. Tapi untuk maju memang butuh tantangan. Saya perlu benar itu guna mencegah pemborosan waktu. Ingat, time is money. Memboroskan waktu, berarti juga memboroskan UANG. Haduh. Tapi lebih penting lagi, memboroskan kesempatan yang ada untuk memenuhi cita-cita.

Okelah.

Sudah pagi. Nanti mau kerja, seperti biasanya.

Semoga di usia yang baru, saya bisa lebih mantap dengan sebuah langkah yang tentunya BESAR!

Amin

😀

Dua Puluh Lima

Entahlah.. Saya itu orangnya terlalu ngeh sama angka-angka. Mungkin itu pula ya yang bikin saya kerjanya di area kotak dan angka. Sampai muka bentuknya sudah kotak dan angka. Hehe.. Tapi serius, dulu waktu mau usia 17 tahun, rasanya ngeri. Demikian pula pas mau usia 20 tahun, ngeri juga. Yang 17 nggak kebayang bagaimana rasanya jadi “dewasa”. Sedangkan 20 tahun relevan dengan kepalanya yang sudah 2, dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Hahahaha..

Dan hari ini, 11 Januari 2012, saya sudah 25 tahun.

Astaga!

Saya sudah seperempat abad ada di dunia yang fana ini.

Apa yang sudah saya dapat, apa yang sudah saya punya, apa yang belum saya capai?

Ketiga pertanyaan itu jawabannya sama: BANYAK!

Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan saya tubuh yang sehat. Sebagai Apoteker yang teregistrasi dan berkompeten (ditandai dengan STRA dan sertifikat kompetensi, asline yo mboh..) saya cukup paham bahwa tubuh yang sehat adalah sumber dari segala upaya di dunia. Untuk itu, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan.

Terima kasih juga pada orang tua saya yang sudah melahirkan (ini tentunya mamak saja) dan membesarkan saya sampai sejauh ini. Meskipun lama-lama persentase waktu saya hidup seorang diri dan di bawah naungan orang tua semakin berkurang, tapi itu kan bagian dari hidup. Saya merantau umur 14, artinya sudah sekitar 11 tahun saya merantau. Tiga tahun lagi, sudah imbang itu. Hehehe…

Terima kasih pula kepada adik-adik saya yang heboh minta ampun. Kalau tidak ribut maka itu pasti bukan kita. Meskipun saya tahu kalau mereka kurang sopan sama saya, tapi setidaknya hanya mereka yang dengan teguh dan konsisten memanggil saya dengan BANG ALEX. Hahahahaha.. Yo kudu kuwi..

Terima kasih kepada teman-teman, dimanapun, yang telah ikut membantu membentuk diri saya seperti sekarang ini. Mulai dari diri saya yang lumayan paham spreadsheet hingga saya yang lama-lama semakin fasih misuh ala Jawa Timur-an. Halah. Tapi serius, lingkungan tentunya memberi banyak pengaruh pada diri kita, dan di lingkungan itu ada kalian wahai teman-teman!

Yah, seperempat abad ada di dunia.  Banyak sekali riak-riaknya. Syukurlah saya dilahirkan sebagai melankolis sehingga setiap detail dari riak-riak itu terekam baik di otak saya. Mulai dari luka parah waktu lompat jauh pas SMP, ikut cerdas cermat filateli, juara lomba PBB di Ngarai Sianok, juara lomba gerak jalan se-Bukittinggi, nyasar di Kusumanegara waktu kelas 1 SMA, ikut workshop di Kanisius, juara lomba menulis, retret, membuat mading, nongkrong di perpus, Titrasi, angkringan tugu setiap malam minggu galau, berdoa minta jodoh di ganjuran dan sriningsih, wisuda, praktek kerja di ibukota, tugas di Nias, sumpahan apoteker, kerja di pabrik ternama, menggalau di simpang patal dengan bandreknya, jadi kiper di liga kantor, bolak-balik naik pesawat, bolak-balik nginap di hotel, pindah kerja, dan banyak lagi hal yang sudah saya peroleh di dunia ini.

Thanks a lot!

Sekarang saatnya bertindak. Yah, usia saya sudah berkurang 1 dari yang diberikan oleh Tuhan pada awalnya. Kalau memang Dia memberi 60, maka usia saya tinggal 35 tahun. Kalau diberi 70 maka usia saya tinggal 45 tahun. Yah, seperti itulah.

Artinya, jangan lama-lama berkutat untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati. Kata hati adalah mimpi. Maka, mulai hari ini, saya harus FOKUS pada semua mimpi-mimpi saya. Dan asal tahu saja, mimpi saya itu banyak (tidak termasuk mimpi basah ya..)

HAPPY BIRTHDAY TO ME.

I’m 25 Years Old Now.

🙂