Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Tentang Mereka yang Tidak Lagi Bersama

Usia Facebook saya pada Januari 2026 ini adalah 17 tahun. Sudah cukup matang sebagai sebuah akun media sosial. Paling berasa di Facebook itu adalah ketika setiap hari dia merilis unggahan kita bertahun-tahun silam. Konten-konten masa muda yang kalau direfleksikan sekarang adalah perihal:

“ngapain gue ngetik beginian dulu?”

Salah satu momen yang kerap muncul adalah dokumentasi kehadiran saya pada pernikahan teman-teman. Kalau diingat-ingat, dulu itu saya cukup ekstrim juga urusan kondangan ini. Paling ekstrim adalah ada waktu Ketika saya kondangan pagi di Bekasi, malamnya di Surabaya. Pada pernikahan pertama dari personil kumpulan saya waktu kuliah yang Bernama UKF Dolanz-Dolanz, saya terbang langsung dari Padang ke Jogja di 1 Januari 2012. Belum lagi kisah-kisah naik kereta untuk menghadiri pernikahan di Bandung, Jogja atau Ambarawa.

Memang ihwal pertemanan ini menjadi penting karena kemudian mayoritas teman yang saya hadiri pernikahannya itu lantas hadir waktu pernikahan saya di Bandung tahun 2016. Benar-benar datang dari Jakarta ke Bandung untuk kondangan saya. Keren, sih.

Sambil terus menggulirkan layar media sosial berselang-seling dengan warta perselingkuhan dan perceraian figur publik, saya lantas menyadari bahwa ternyata tidak semua pernikahan yang saya hadiri dalam 17 tahun tersebut masih berada di jalur yang sama.

Ada pernikahan yang melibatkan saya sebagai pendamping pengantin pria dan usianya tidak panjang karena teman saya tersebut meninggal dunia. Ada pula beberapa pernikahan yang saya hadiri dengan cukup upaya dan kini mereka sudah menjalani hidup masing-masing, baik dengan pasangan baru maupun tetap sendiri.

Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Di usia pernikahan yang baru akan 10 tahun pada 2026 ini serta kondisi negara yang model begini, saya cukup bisa memahami bahwa hidup berumah tangga bukanlah perkara mudah. Kalau menurut AI Consensus, berakhirnya rumah tangga umumnya didorong oleh pertengkaran dan ketidakharmonisan yang terkait erat dengan tekanan ekonomi, disertai perselingkuhan, KDRT, campur tangan keluarga, dan konteks perubahan sosial.

Saya tentu tidak punya nasehat pernikahan, sebab kalau saya jago maka saya akan daftar Seksi Kerasulan Keluarga di paroki dan jadi pembicara di giat Membangun Rumah Tangga. Saya sendiri bersama istri masih terus belajar membangun rumah tangga yang baik.

Saya juga tidak akan memberikan opini apapun pada teman-teman yang memilih untuk pisah jalan karena saya tidak tahu masalahnya. Satu hal yang saya pahami adalah bahwa setiap orang berusaha mencari solusi atas permasalahannya masing-masing dan boleh jadi perpisahan itu adalah solusi.

Semoga teman-teman semua sehat dan bahagia selalu, yha~

Tentang Pindahan Kos-Kosan

Saya itu sebenarnya pengalaman ngekosnya nggak banyak. Sejak merantau dan sempat tinggal bersama Simbah, saya mulai jadi anak kosan paripurna itu awal 2006 dan mengakhiri jadi anak kos itu di awal 2017 dengan mengontrak rumah.

Jadi ya cuma 11 tahun sahaja, kan. Cuma, 11 tahun itu rupanya tersebar di beberapa kota. Mulai dari kos-kosan prapatan di Paingan, pindah ke kos Cece Meytin di Palembang untuk kemudian geser mengambil jatah mess. Pas pindah ke Cikarang, sempat sebulan di pavi lalu geser pindah ke Kedasih 3. Ketika akhirnya ke Jakarta, sempat sebulan pula di Pulo Asem untuk lantas bergeser ke dekat kantor. Terakhir, sesudah menikah, saya ngekos di belakang kantor Fadli Zon di Benhil.

Oh, ini tentu mencakup juga 2 bulan ngekos di Mabeskosmar Cimanggis ketika saya melakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker.

Boleh dibilang, dalam setiap kepindahan itu saya selalu nemplok dulu di satu tempat dalam kurun waktu singkat sebelum kemudian pindah ke tempat lain dalam jangka waktu panjang. Umumnya, untuk ngekos di kota yang benar-benar baru, tren semacam itu kerap terjadi. Bagaimanapun, yang kita butuhkan adalah kenyamanan. Maka ketika saya ngekos di pavi dan bibiknya cerewetnya nggak karuan, waktu sebulan yang sudah kadung bayar itu dioptimalkan untuk mencari lokasi lain yang kira-kira lebih ciamik.

Menyoal pindah-pindah kosan, khususnya untuk para pekerja di Jakarta, Bandung, dan Bali, ada opsi ngekos di Cove. Di 3 kota tersebut ada lebih dari 45 ribu properti sehingga pilihan menjadi tanpa batas. Pendekatan Cove adalah pengalaman co-living modern untuk harian dan bulanan. Maka tidak heran kalau yang dikedepankan adalah desain modern dan fasilitas yang lengkap.

Pindahan kos-kosan yang saya alami secara umum dapat dibagi menjadi dua yakni pindahan short stay dan long stay.

Saat pindahan short stay seperti ketika saya pindah dari kos Cece Meytin di Palembang ke mess atau dari pavi ke Kedasih atau juga saat kelar PKPA di Cimanggis, cenderung tidak ada proses packing yang memakan waktu. Sebab, barang-barang juga umumnya tidak terlalu dibongkar karena sudah tahu bahwa akan dibungkus lagi.

MaBesKosMar di Cimanggis

Beda dengan pindahan long stay yang notabene semua sudah terpasang rapi di berbagai sudut dan semuanya itu harus dirapikan kembali untuk masuk ke box-box dan kemudian berpindah ke tempat tinggal lainnya.

Dalam pindahan kos juga perlu dipikirkan soal kendaraan sebab seringkali kita luput dengan properti yang kita punya. Ambil contoh waktu saya pindah dari Benhil ke kontrakan, sudah memesan truk tertutup karena pas musim hujan ternyata baru ngeh kalau ada kulkas dan dispenser yang harus dipindahkan dan tingglnya tidak cukup untuk truk. Untungnya kedua barang itu belum digunakan, jadi masih bisa sedikit-sedikit ditidurkan. Saya sih menyarankan untuk pakai truk terbuka sekalian kalau urusannya pindah kos karena faktor ini.

Terakhir, hal penting dalam pindah kos itu adalah bilang dulu sama penunggu kos. Sebab mereka itu cukup teliti. Kalau kita wira-wiri bawa barang, tas, koper, dll dengan sepeda motor misalnya, sudah terlihat tanda-tanda pindah dan jika tidak bilang maka akan jadi poin minus bagi mereka. Sebab akan ada uang bulanan yang berkurang dan di beberapa kasus sebenarnya kamar kita itu sudah ada yang mengantri dan siap menghuninya.

Di usia 30-an ujung ini, lelah rasanya untuk pindah-pindah lagi. Untungnya sih sudah punya rumah sendiri. Cuma masalahnya, saya juga ada keinginan untuk sekolah lagi dan boleh jadi itu akan mengharuskan saya pindah lagi. Entahlah.

“Nggak Kerasa Ya, Sudah Gede…”

Saya seringkali mempertanyakan ucapan yang menjadi judul tulisan ini ketika ada orang tua update status soal anaknya. Saya sangat yakin, malam-malam penuh begadang ketika anak masih bayi itu adalah sesuatu yang sangat terasa. Saya paling tidak cocok dengan ucapan itu dalam periode Maret 2020 sampai Agustus 2021 karena saya benar-benar membersamai anak saya 24/7 soalnya saya kuliah dari rumah dan ndilalah daycare anak saya juga tutup dan menjelma jadi laboratorium swab.

Nah, belakangan ini, anak saya yang sudah mau 5 tahun memperlihatkan kecepatan kemajuan dalam hal apapun. Saya ingat benar pas kami pindah di rumah sekarang, kepalanya baru nongol sedikit kalau dibandingkan dengan meja. Eh, sekarang sudah jauh di atas meja. Sudah bisa naruh dagu di meja gitu dah.

Paling berasa sih soal pup. Kemarin saya nonton Tekotok soal nyebokin anak. Asli saya mendadak lupa secara teknis caranya nyebokin anak. Padahal dulu saya paling jago soal itu. Termasuk segala drama pup mulai dari AEON sampai di atas langit Lampung kala naik Garuda Indonesia. Sekarang, anaknya sudah bisa pup sendiri. Sudah bisa buka celana, pasang penutup pup di kloset, lalu duduk dan baru manggil saya kalau pup-nya selesai.

Iya, se-nggak berasa itu ketika skill yang dulu saya punya kemudian bisa-bisanya saya lupakan. Skill yang pernah bikin saya dipuji belasan ibu-ibu karena beratraksi mengganti popok Isto umur 5 bulan. Pujian yang bikin saya kaget karena ternyata banyak juga bapak-bapak yang blas nggak mau gantiin popok anaknya.

Apakah nggak berasa? Hari-hari ketika pup-nya berserakan dalam transisi diapers ke cawet itu terjadi kok. Riil. Berasa bangetlah ngelap pup berserakan di rumah maupun di lantai toilet kontrakan. Hanya saja begitu kejadian sekarang, rasanya kok tampak tidak berasa.

Kemarin ketika saya WFH karena pengasuh anak belum balik, si Isto juga bisa betul mencari aktivitas sendiri tanpa mengusik saya yang Zoom Meeting sana-sini. Bahkan ujug-ujug jadi gambar dinosaurus se-pemandangannya. Sudah secepat itu. Saya jadi ingat susahnya mengajari dia untuk mewarnai sesuai dengan garis lebih dari setahun lalu. Eh, sekarang sudah rapi benar warnanya.

Demikianlah hidup. Pas dilakoni berasa bener. Pas sudah lewat yo ternyata bablas dan tampak nggak berasa. Hehe.

Nge-Zoom dari Pantai: Antara Keseruan dan Pertanyaan Soal Work-Life Balance

Saya tidak hadir sejak awal peralihan kerja ke sebagian Zoom seperti sekarang. Kala Zoom hadir, saya masih kuliah. Betul bahwa kuliah saya memang pakai Google Meet dan kemudian Zoom, tapi aktivitas Zoom itu ya hanya saya lakukan ketika dibutuhkan saja. Ketika kemudian teman mengunggah foto sedang Zoom dengan 2, 3, 4, atau bahkan 5 gawai, saya hanya melihat dengan takzim~

Sampai kemudian saya mengalami sendiri ketika dalam pekerjaan berbagai rapat datang bertubi-tubi dan semuanya pakai Zoom. Gawai saya ya paling HP dua biji sama laptop satu. Maksimal hanya bisa 3. Belum lagi telinga cuma punya 2. Tapi kok ya sering betul dalam 2 Zoom betul-betul pada jam yang sama dan seluruhnya berlabel penting.

Maka saya pernah nge-Zoom sambil menemani anak di playground (karena Zoom-nya sore bablas), pernah nge-Zoom sambil lari-lari di bandara. Zoompalitan pokoknya. Dan paling mutakhir, kemarin ketika snorkeling di Pulau Lihaga, saya sempat-sempatnya Zoom Meeting di pantai dalam kondisi tubuh masih basah karena memang benar-benar baru naik ke darat.

Tuntutan pekerjaan dengan Zoom ini buat saya mengerikan. Setiap yang nge-Zoom sekarang bikin Zoom Meeting tanpa memandang kapasitas. Dulu kan masih cek ruang rapat dulu, sekurang-kurangnya. Sekarang ruangnya virtual, bisa rapat sambil gimana saja, dan walhasil rapat demi rapat itu datang dan pergi sampai HP kentang saya lelah.

Belum lagi Zoom Meeting bersahut-sahutan itu bikin mata dan telinga lelah. Satu saja lelah apalagi tiga. Plus, jadi tidak bisa bekerja maksimal karena kan harus fokus mendengarkan dan memberikan pendapat. Saya sendiri, seperti barusan ini, akhirnya baru malam-malam bisa buka laptop tanpa distraksi Zoom Meeting sehingga bisa buka sana-sini beberapa dokumen yang sayangnya sudah lewat tenggat sehingga saya terlambat menindaklanjuti.

Kalau 1-2 tahun mungkin saya masih kuat. Tapi semakin berlalu, tampaknya saya nggak akan sekuat sekarang. Semoga ada kultur yang bisa diperbaiki di masa depan.

Mentalitas Staf

Saya ketiban gawean baru di kantor. Ya sebut saja ketiban, lah. Dibilang rejeki jelas bukan karena tidak ada benefit finansial yang saya peroleh. Malah rada-rada mambu tekor soalnya saya kudu lebih sering di kantor. Jika saya tidak mendapat gawean itu, dengan kondisi sekarang hampir pasti saya ikut WFH. Ingat, saya pernah menulis bahwa saya suka WFH.

Cuma ya sudahlah. Anggap saja sekalian belajar. Belajar hidup terutama. Wkwk.

Di gawean tambahan ini dan sesuai strata jabatan fungsional, saya “punya” anak buah. Yah, sederhananya, saya membawahi 2 orang staf yang sekurang-kurangnya absennya saya verifikasi dan SKP-nya harus saya pikirkan. Belum termasuk 3 honorer yang juga tentu perlu saya pikirkan kelanjutan karirnya.

Sungguh, bagi saya ini jetlag sekali. Bukan apa-apa, sejak di pabrik dulu, saya nggak pernah punya bawahan lebih dari satu. Di Palembang dulu admin inventory itu Mba Herpi seorang. Di Cikarang, operator palugada saya ya Triyono seorang juga. Sudah. Mereka saja. Nggak ada yang lain.

Dan lagi, saya resign dari pabrik itu sudah (((delapan))) tahun lalu. Selepas itu saya kembali ke nol, menjadi staf sepenuhnya yang siap disuruh melakukan apapun. Dan mentalitas itu terbawa betul.

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Dalam pekan-pekan pertama, saya merasa keplepekan karena semuanya saya pegang sendiri. Bukan apa-apa, sih, dulu saya masuk ketika kantor saya bahkan tidak punya sekretaris bos. Banyak hal yang dulu saya sebagai cecurut di kantor harus bikin sendiri dan lama-lama kok jadi biasa. Makin ke sini, saya suka lupa bahwa saya sudah berada pada posisi yang memungkinkan untuk delegasi dan kemudian supervisi tentu dengan tuntutan yang lebih tinggi dari atasan.

Sampai kemudian salah satu ‘anak’ saya bilang, “Lho, Mas, kalau cuma bikin form ya kami aja yang bikin…”

Tak pikir-pikir bener juga. Kalau katanya saya sudah kedapuk jadi level yang tanggung jawabnya naik sedikit walaupun tunjangan kinerjanya kagak, ngapain juga saya kudu terjun langsung bikin Google Forms atau sejenisnya.

Ya balik lagi, karena saya masih punya mentalitas bahwa saya ini staf dan apapun harus saya kerjakan sendiri. Mentalitas yang tentu saja buruk dan menyebabkan ada banyak target yang lantas terlewatkan karena saya terlalu sibuk ke printilan yang seharusnya bisa didelegasikan.

Sejujurnya saya pengen itu semuanya didelegasikan. Toh bocah-bocah sudah pintar-pintar. Saya tidak mewarisi staf-staf yang newbie, tapi justru saya yang menjadi nubitol, newbie dan tolol pada posisi yang sekarang. Cuma balik lagi, mentalitas staf menjadi problematika tersendiri dalam hidup saya.

Sebenarnya mirip juga kayak di rumah. Ada beberapa kali WFH bertepatan dengan pengasuh Isto tidak masuk karena satu dan lain hal. Sudahlah nge-Zoom dua, ketambahan kudu mendampingi anak sekolah online pula. Tapi ya itu, saya bisa saja bilang bahwa aunty harus datang. Tapi pada akhirnya saya selalu merasa bisa meng-handle semuanya walaupun ketika dilakoni yo spaneng juga. Pada titik ini, mentalitas staf justru membuat saya mampu melakoni semuanya.

Lantas apa intinya? Nggak ada. Saya baru saja bayar package blog ini lebih dari 700 ribu. Itu di luar biaya domain yang 400 ribuan. Lebih dari sejuta setahun kalau dipikir-pikir ya sayang juga jika tidak dimanfaatkan untuk menulis sesuatu. Ya siapa tahu kan bakal jadi sesuatu seperti halnya 2 buku saya yang notabene lahir dari tulisan-tulisan pendek semacam ini.

Berhenti Mengagumi Anies Baswedan

picmonkey-collage6

Duh, ngomongin politik lagi, deh. Maaf ya sohib-sohib blog ini nan budiman. Sebenarnya ini nggak politik-politik banget, kok. Hanya sebuah catatan pribadi yang nyerempet politik. Gitu.

Ini tentang Yang Terhormat Bapak Anies Baswedan. Salah satu sosok yang dalam posting ini saya akui sebagai orang baik. Salah satu sosok yang–tadinya–langka di Indonesia. Bagaimana nggak langka? Di saat banyak politisi sibuk beretorika, janji sana-sini, blio bersama rekan-rekan sevisi menggagas Indonesia Mengajar, berikut Kelas Inspirasi. Paket kegiatan yang saya akui sangat positif. Saya pernah ada di keramaian Kelas Inspirasi dan merasakan benar energi positif yang ada dalam kegiatan kerelawanan itu.

Kala mengikuti Kelas Inspirasi inilah saya seolah kesirep sama sosok Anies Baswedan. Waktu itu di gedung Indosat, saya ada di bagian terdepan untuk mengikuti speech indah tentang janji kemerdekaan, tentang menghadirkan mimpi di ruang-ruang kelas, tentang iuran kehadiran. Luar biasa dan sangat realistis bagi saya kala itu. Ngomong-ngomong, cerita Kelas Inspirasi yang saya ikuti dapat dibaca dalam posting dengan judul “30 Menit Yang Luar Biasa”.

Continue reading Berhenti Mengagumi Anies Baswedan

Kalau Doktor dan Profesor Saja Mempercayai Hoax, Siapa Lagi yang Bisa Kita Harapkan?

Pertama-tama, saya mohon maaf kalau tulisan kali ini rada serius, dan semoga tidak meninggalkan ariesadhar.com sama sekali. Serial Lost in Bangka masih akan berlanjut sesudah ini, kok. Tenang saja, nanti akan dilengkapi kesegaran kisah dari Palu juga.

Tadi sepulang dari Palu, saya membaca dinding Facebook. Sejujurnya saya sudah jengah dengan linimasa ini karena yang disebar makin lama makin banyak kebohongan. Ya, seperti sering saya bilang, karena jempol jauh dari otak jadi kadang nge-share berita nggak sempat dipikir dulu, jempolnya langsung jalan. Share dahulu, pikir belakangan.

Tadinya saya pikir, fenomena ini adalah semata-mata kelakuan orang yang nggak berpendidikan atau setidaknya orang berpendidikan yang baru kenal Facebook dan nggak tahu bahwa tombol SHARE itu bisa berdaya ungkit tingkat tinggi. Masih begitu isi pikiran saya sampai kemudian muncul shareshare gawat tentang obat dan makanan yang berkali-kali saya tulis di blog ini klarifikasinya. Mulai dari beras plastik, air minum dalam kemasan, hingga biskuit yang bisa terbakar.

Eh, sekarang rupanya nge-share yang semacam itu sudah tidak laku. Paling enak zaman sekarang adalah nge-share tentang agama dan Tiongkok. Sudah deh, itu jamak sekali yang nge-share. Nggak peduli benar atau tidak. Mulai dari tulisan tentang siapalah petinggi Republik Rakyat Tiongkok yang katanya ingin menyelamatkan etnis Tionghoa di Indonesia hingga foto-foto yang diyakini sebagai korban Rohingya. Padahal, ya kali pimpinan pemerintah di RRT mikirin rakyat Indonesia, lha wong di sana saja penduduknya kurang lebih 3-4 kali Indonesia. Belum lagi masalah foto kekejaman Rohingya yang sejauh bertahun-tahun silam sudah diklarifikasi sebagai foto kecelakaan atau foto penangkapan biksu di Tibet.

Continue reading Kalau Doktor dan Profesor Saja Mempercayai Hoax, Siapa Lagi yang Bisa Kita Harapkan?

Mencoba Berdamai Dengan Jakarta

mencobaberdamaidengan

Pagi hari–sama halnya dengan pagi-pagi lain–kala para jomblo masih meringkuk manja di bawah naungan selimut, pukul 7 tepat, saya membuka gembok pagar kontrakan kecil yang saya huni bersama Istri.

Ciye, punya istri. Ciye.

Sekilas memandang sekitar, gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tampak berdiri dengan angkuh. Sementara udara yang tersedia untuk dihirup terasa benar tidak menyuguhkan kesegaran hakiki yang dibutuhkan, hanya cukup untuk bernapas dan melanjutkan siklus oksigen untuk mendukung kinerja mitokondria di dalam sel sana.

Seketika saya terkenang kala pertama kali melihat Jakarta dalam kondisi sadar dan bisa mengingat, medio 1997. Setelah kena tipu bis asal Padang yang dengan janji manis bak playboy akan mengantar hingga Kampung Rambutan namun lantas semena-mena mengoper keluarga saya di sebuah mesjid dekat Pelabuhan Merak, kami akhirnya mendapat tumpangan sebuah bis nan penuh sesak.

Saya terduduk setengah terhimpit di tangga pintu belakang bis. sementara orang-orang lain yang lebih tua bahkan tidak peduli sedikitpun pada anak kecil yang teronggok di sudut mati bis pengap itu. Aroma apapun bercampur baur layaknya toko parfum bermetanol berada di tengah-tengah pasar ikan. Tumplek blek menjadi satu dalam persaudaraan nan erat.

Nyaris tengah malam ketika bis yang entah apa namanya itu melewati Tol Dalam Kota, menyajikan gedung-gedung tinggi dengan gemerlap lampu yang terangnya minta ampun. Saya terpana sepenuhnya, melihat sesuatu yang selama 10 tahun hidup tidak pernah saya saksikan di Bukittinggi. Lha, angkutan umum bernama Ikabe saja berakhir pukul 6 sore. Bagi saya dalam raga nan kecil, hari berakhir pukul 6 sore, kala lampu terbesar yang tampak berasal dari mushala Al-Ikhlas di depan rumah.

Si BG segera saya keluarkan dari parkiran mini di depan pintu kontrakan, sembari melakukan ritual memanaskan mesin dan menanti istri mengunci pintu, saya seketika ingat kali lain saya menginjak Jakarta. Enam tahun sesudah saya terpana dengan gedung tinggi Jakarta pada waktu tengah malam.

Pernah saya tulis juga di blog ini ketika saya ketiban rejeki juara sekian lomba sebuah Kementerian. Saya melaju bersama Kereta Api Taksaka Malam bersama Frater Danang Bramasti, SJ, sekarang sudah Romo dan bertugas di Paroki Kotabaru, Jogja. Saya diajak ke rumah beliau, diajak juga ke rumah para Romo, diajak juga naik bajaj yang kala itu masih oranye semua. Saya menemukan sisi-sisi Jakarta yang berbeda. Gang-gang sempit, jalan kecil, penatnya menumpang bajaj, dan lain-lainnya. Akan tetapi, gegara saya kemudian ikut acara di Hotel Bidakara yang megah sekali itu, maka Jakarta versi realistis itu menjadi pemandangan sekunder untuk disimpan dalam memori, bergabung bersama kenangan kecupan mantan.

Klik untuk membaca selengkapnya!

11 Perbandingan Populasi Islandia Dengan Angka-Angka di Indonesia

Islandia, sekarang semua orang sudah pernah mendengar nama itu, padahal sebelumnya tidak. Pencapaian di Euro 2016 bikin mata dunia terbuka, walaupun tayangannya masih saja kalah pamor dibandingkan sinetron Anak Jalanan. Negeri dengan bumi yang bisa dibilang termuda itu bikin terbelalak karena dengan jumlah penduduk yang bahkan lebih sedikit daripada Kota Leicester, bisa menaklukkan Inggris dan melaju ke perempat final Euro 2016 untuk bertemu tuan rumah.

Nah, saya jadi iseng, dengan jumlah penduduk yang menurut worldometers.info hanya 331.796 orang saja, kira-kira setara dengan apa ya jika kita bahwa angka itu ke Indonesia?

Ini dia!

1. Jumlah penduduk Islandia itu tidak ada apa-apanya dengan jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jawa Barat yang mencapai 445.489 orang.

IslanIndo1

2. Jika ingin mengumpulkan orang untuk bisa sama dengan jumlah penduduk Islandia, cukup panggil seluruh tenaga keperawatan dan tenaga kebidanan yang ada di Indonesia, jumlahnya sudah melebihi penduduk Islandia, kok. karena ada 335.646 orang tenaga keperawatan dan kebidanan di Indonesia.

IslanIndo2

3. Ternyata lagi, jumlah seluruh penduduk Islandia tidak sebanding dengan jumlah pengangguran di Sumatera Utara, yang menurut data BPS pada Agustus 2015 jumlahnya 429.000 orang.

IslanIndo3

4. Nah, akhirnya jumlah penduduk Islandia punya nilai yang melebihi angka di Indonesia. Hal itu untuk perbandingan terhadap jumlah narapidana. Setidak-tidaknya, sih, jumlah penduduk Islandia masih jauh lebih banyak daripada jumlah narapidana di Indonesia yang 138 ribu lebih itu.

IslanIndo5

Selengkapnya!