Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Keengganan Meninggalkan Jogja: Sebuah Perspektif Sederhana

Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)

“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”

Buat saya, quote di atas sangat menarik.

dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya

Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.

Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.

Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.

Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.

Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.

Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.

Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.

Salam Semangat!

Ketika Saatnya Harus Melangkah

Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.

Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.

Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.

Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.

Dan ini sulit.

Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.

Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..

Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..

Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.

Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.

Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.

Itulah kehidupan.

Komprehensif

Habis dapat SMS dari seorang gadis galau yang lagi mau ujian komprehensif Apoteker. Mendadak ingat masa silam. Hahahaha..

Saya nggak ngerti kenapa waktu ujian yang disingkat dengan kompre ini, saya malah sakit, sak pol’e. Apa terlalu grogi? Sebenarnya ya tidak juga. Mungkin memang jatahnya sakit saja.

Tapi itu pasti berpengaruh. Kejadian 2,5 tahun yang lalu, ketika saya malah minum obat OTC dan tidur, di saat saya seharusnya belajar, membuat semuanya berjalan bak kartu domino.

Yah, begitulah..

Kompre saya tidak bisa dikategorikan bagus.

Kenapa?

Karena saya tidak menguasai secara komprehensif. Jadi ingat pertanyaan terakhir yang sebenarnya saya bisa jawab cuma mungkin kata-katanya tidak bisa dimengerti oleh penguji.

“Kenapa air disirkulasi? Kok nggak dimatiin saja waktu pabrik tutup?”

Ketidaksanggupan saya memberikan informasi yang jelas ini selalu terngiang-ngiang. Walaupun kemudian saya dapat A juga sih. *congkaksedikit

Saya Apoteker, dan pastinya saya nggak akan menguasai secara komprehensif semua ilmu perapotekeran mulai dari formulasi, kromatografi, konsep pengobatan sendiri, mikrobiologi, manajemen farmasi, dispersi koloid, etika dan perundang-undangan, farmakognosi, farkamoterapi, dan sejenisnya.

Itu terlalu banyak (buat saya)

Tapi yang jelas menempel adalah gelar Apoteker. Dan orang tidak akan peduli bahwa saya adalah apoteker yang tidak mengerti bagian tertentu.

Isn’t right?

Yah, setidaknya saya berusaha menjalankan bagian yang relevan dari Star of Pharmacist: pembelajar sepanjang hayat. Semoga!

My Officemate

Well, senangnya ganti kartu modem. Setidaknya saya nggak harus terlalu emosi setiap malam ketika menyalakan modem. Pakai kartu yang ini bahkan nggak pernah dapat GPRS, at least WCDMA dan banyakan HSDPA. Wew.. Terdengar nikmat.. haha..

Tapi konsekuensinya jelas, kartu yang ini memang mahal. Untuk perdana kemarin, 75rb, saya dapat kuota 307 MB per bulan. Kalau pakai kelakuan saya dengan modem yang pertama kali saya punya, segitu more than enough. Juga dengan yang barusan suka bikin emosi ini. Bahkan dari 500 MB, saya cuma habiskan 220 MB saking emosinya. Sedangkan yang ini, baru 6 hari sudah habis 180 MB. Siap-siap budget tambahan. Kapan cashflow saya kembali kalau begini? T_T

Betewe, hasil penelusuran saya di dunia maya dengan modem yang joss gandos tadi, ternyata banyak teman di kantor baru ini yang eksis di blog. Hmmm.. Baru tau.. Tak pikir cuma 1-2 doang, ternyata ya lumayan banyak.. Jangan-jangan mereka juga baca blog ini.. Hahaha.. Untunglah pengalaman telah memberitahu saya untuk tidak menulis banyak-banyak soal kerjaan kantor di dunia maya.. Lagian buat apa? No added value juga. Lihat kan isi blog ini? Malah ada Shaun The Sheep segala. Hahahaha..

Oke, boleh dicek link berikut, satu persatu, semoga nggak ada yang ketinggalan:

Nova, neo-butterfly, ..just wanna fly like a butterfly..
Oliv, D.I.A.M.O.N.D
Dwi, S U N S H I N E, Shine and brighter world’s days, also need time to hide ^.^
Fani, fanzbul
Agung Heru, Kin_Aruno’s Weblog, Just wanna write
Mel-Rina-sama 1 lagi.. hehe.., 3cantiquez’s Poenya Ceritaz, Food, love, beauty, work, fun, shopping…everything bout our gorgeous life
Flo, My World, …All about Kem-phlo…
Irfan, earfun”.s Blog, belajar, berkarya, beramal, bermanfaat…
Agung Pras, Lorentz-blog

Mari Semangat!!!!!

My Stats

Kecenderungan saya dari kecil adalah menyukai tulis menulis dan analisa data. Bahkan dulu nilai pemain di tabloid BOLA saja bisa saya analisis macam-macam. Pernah pula saking ngebetnya, menghitung statistik pertandingan sepakbola, berapa kali corner, berapa kali lemparan ke dalam, berapa kali offside, dll. Memang saya orang aneh. Hahaha..

Well, termasuk melihat statistik blog ini.

Seperti saya sudah cerita di posting pertama reborn blog ini, semata-mata karena saya menemukan blog friendster via google, dan kemudian ingat kalau blog ini ada, maka terjadilah. Makanya statistiknya aneh, ada 2 view di 2008. Lalu hilang 2 tahun, nongol lagi di 2011. Dan statistiknya semakin lumayan. Sekali lagi, karena targetnya memang bukan mencari orang yang mau lihat blog saya, jadi angka itu sebenarnya hanyalah sekadar angka.

Berbagi pendapat, berbagi cerita, dan belakangan berbagi ilmu, itu yang lebih penting. Berbagi pendapat dan cerita, serta sedikit ilmu disini. Kalau berbagi ilmu beneran, ada di apoteker123.wordpress.com.

Udah, cuma mau nulis itu doang kok. Hehehe..

Semangat!!!

500

Hari ini, penghitung sederhana wordpress menyebut bahwa blog ini sudah 500 kali dilihat.

Well, itu angka yang kecil kalau untuk iklan, tapi tetap milestone yang bagus untuk menuju stone-stone lain yang lebih besar. Toh, waktu awal saya mencoba bangkit dengan blog ini, saya tidak mengharapkan sedemikian banyak. Blog ini betul-betul hanya sarana untuk bangun dari tidur panjang. Dan cukup berhasil, 42 posting dengan 500 view. Artinya 1 post dilihat sekitar 11 orang. Refer ke visi misi blog ini, itu sudah angka yang sangat besar.

Terima kasih kepada yang sudah menyempatkan diri melihat blog ini. Seperti tag-nya, it’s just a script..

Semangat!!!

Terima Kasih

Dear All,

Pada kesempatan ini saya hendak mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan, bantuan, kerjasama, dan hubungan baik yang telah saya alami dalam 2 tahun berinteraksi bersama seluruh tim yang terlibat di tempat ini. Support yang luar biasa tersebut telah terbukti dapat memberi makna dan nilai pada seseorang yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada DC, Tim PS, dan teristimewa kepada tim saya, yang dengan caranya masing-masing telah memberi makna khusus dalam keseharian saya di tempat ini.

Sebagai manusia biasa, saya juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dan kelalaian yang terjadi baik sengaja maupun tanpa saya sadari, sesungguhnya segala ketidaksempurnaan itu tanpa maksud selain upaya untuk memberikan kontribusi yang terbaik.

Per esok hari, saya akan bertugas di tempat baru dan tentunya masih akan berinteraksi aktif dengan tim yang ada di sini. Semoga kerjasama yang telah berjalan baik selama ini, dapat terus menjadi semakin baik. Demikian pula koordinasi antara tim saya dengan seluruh tim yang ada di sini pastinya akan bertambah baik pula.

Segala isu terkait pekerjaan dapat disampaikan ke partner , cc atasan saya.

Tuhan selalu menyertai dan memberikan kesuksesan kepada kita.

Terima kasih

Hormat Saya

Kita hanyalah manusia biasa, dengan karya yang luar biasa”

Perpisahan

Lagu terbaik untuk menggambarkan perpisahan adalah milik Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik:

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku

Kita terharu, seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah karena hari ini yang kita rindukan

Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan

Di hari tua.. ooo…

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Selalu menjadi pernyataan yang kekal bahwa suatu perpisahan tidak akan terjadi tanpa adanya pertemuan. Ya iyalah, gimana bisa berpisah kalau tidak pernah bertemu. Hal ini tidak terbantahkan.

Satu hal yang menjadi perbedaan adalah aspek perpisahan itu sendiri. Apakah perpisahan itu dengan tidak baik atau dengan baik dan penuh haru.

Adapun, baik pertemuan dan perpisahan, sangat terkait dengan suatu hal bernama keputusan. Pertemuan terjadi karena adanya keputusan, demikian pula dengan perpisahan. Tak peduli ini keputusan pihak-pihak yang berpisah atau keputusan pihak lain yang ada di luar itu.

Well, apapun itu, nyaris tiada yang suka dengan perpisahan.

Sudahlah, tak perlu membahas banyak soal perpisahan. Karena toh ini bagian dari perjalanan hidup, bagian dari keputusan hidup.

Yang terpenting, bagian terbaik dari perpisahan adalah saat anda mengetahui bahwa anda dicintai. That’s All!

Masih Soal Gawang

Hmmm.. Posting saya kemarin belum memuaskan saya. Masih banyak yang ingin di-share.. hehehe..

Let’s see

Jadi kiper itu tentu saja perlu latihan. Karena dari latihan-lah lahir kesempurnaan, atau setidaknya sense untuk menangkap bola.

Lalu, sebelum bertarung, tentunya perlu bergembira sejenak. Karena kegembiraan sejenak dapat menghilangkan ketegangan. Walaupun belum tentu menambah kekuatan. Sekilas senyum itu penting.

Dan jangan lupa foto-foto dulu. Ini wajib dalam upaya nampang. Wow..

Dan sesudah nampang, tentunya bersiap. Dalam hal ini berdoa itu perlu. Tentunya sebelum pertandingan mulai.

Oya, dalam pertandingan, ada kalanya sang kiper harus mengembalikan bola ke lapangan dengan caranya sendiri.

Kurang jelas ya.. hmmm.. kira-kira jelasnya begini:

Bentuknya memang agak aneh. Hehehe..

Jangan lupa waspada atas serangan yang ada, itu penting sekali.

Waspada itu perlu, karena kadang-kadang kita akan dijegal. Btw, dijegal itu sakit loh.. Maka sedikit protes itu perlu.

Tentu waspadai juga kemelut yang ada. Ini yang sulit, mengambil keputusan itu sudah sulit, dan keputusan itu belum tentu benar pula. Ngenes juga…

Hmmm… sudah demikian-sudah jatuh-sudah usaha, tetap ada peluang untuk kebobolan.

Yah, kebobolan itu pasti pahit rasanya. Tapi tidak boleh meratap terus menerus. Waktu terus berjalan. Kita masih perlu usaha untuk menepis bola-bola lainnya. Sambil, kadang berharap, segeralah teman kita mencetak gol dan segeralah pertandingan selesai. Hehehe..

Demikian sedikit sharing saya soal gawang.

Penjaga Gawang

Apa yang anda pikir ketika melihat ini:

Kalau buat saya, gawang ini berarti sebuah kepercayaan dan usaha untuk membayar kepercayaan yang telah diberikan. Terlalu berlebihan? Tidak juga.

Apa makna bahwa gawang ini kepercayaan? Jelas sekali, peraturan di olahraga sepakbola menyebutkan bahwa ada 1 orang yang boleh menjaga gawang dari kebobolan. Apa pula makna kebobolan? Sederhana sekali, hasrat dasar manusia adalah kemenangan. Kemenangan terjadi, setidaknya, harus dimulai dari kenyataan bahwa sang penjaga gawang alias kiper tidak mudah ditembus.

Dari 11 orang yang bertarung, hanya 1 yang diberi peran menjaga gawang. Ia diberi kepercayaan, diberi hak khusus, boleh memegang bola. Kepercayaan itu yang harus dibalas dengan penampilan, sederhana saja, tidak kebobolan.

Posisi ini sungguh menarik. Dalam satu tim sepakbola misalnya, setidaknya akan ada 20-an pemain, dan hanya 3-4 orang saja yang menjadi kiper. Namun, bersaing untuk 3-4 itu juga tidak sesimpel yang dikira. Sang kiper yang sudah mendapat kepercayaan dari tim, akan selalu ada di bawah mistar, sampai semampunya.

Kiper juga rata-rata diberi nomor punggung 1. Nomor pertama dalam sistem penomoran yang diakui sepakbola. Apalagi kurangnya?

Cuma ya itu, tanggung jawab yang diberikan harus dibalas dengan penampilan. Jatuh itu pasti untuk kiper. Terbang itu kemungkinan besar. Kontak antara kepala dengan dengkul orang peluangnya 50-50.

Dan yang pasti, satu prinsip yang harus dianut oleh para penjaga gawang.

bukan soal sebanyak atau seindah apapun penyelamatan yang kamu lakukan, tapi soal berapa banyak gol yang bersarang di gawangmu

Quote di atas sifatnya mutlak.

Yah, seringkali penjaga gawang sudah tampil semaksimal mungkin, namun ketika lawan lebih kuat selalu ada peluang untuk mencetak gol. Maka, sebanyak apapun penyelamatan, itu tidak masuk angka skor. Memang bisa dibalas dengan argumen, “kalau tidak diselamatkan, maka gol akan menjadi sekian” dan memang hanya itu saja. Angka yang tercatat sampai akhir hayat adalah berapa skor akhir pertandingan tersebut. Itulah mengapa posisi ini identik dengan usaha membayar kepercayaan.

Oya, ada hal lain terkait kepercayaan ini.

Ketika kepercayaan itu sedikit ternodai, maka selalu ada kepercayaan berikutnya. Kok jadi rumit ya?

Begini. Suatu kali saya menjaga gawang, dan berhasil menyelamatkan satu tendangan keras. Di lain waktu dalam pertandingan yang sama, pemain yang sama melepaskan tendangan yang lebih pelan, namun bola berputar dan perlahan masuk ke gawang meski sempat ditepis. Ini blunder. Jelas sekali.

Tapi apa yang dilakukan teman-teman saya, mereka maju ke titik tengah dengan tetap memberikan jempolnya pada saya.

Tidak cuma saya yang baru hitungan jari jadi kiper, coba lihat saja kiper-kiper yang melakukan blunder. Seketika setelah blunder terjadi, rekan-rekan akan datang menghampiri dan memberikan penguatan.  Itu yang saya maksud dengan kepercayaan berikutnya. Itulah kadang saya kurang setuju dengan pergantian kiper karena performa.

Yah, posisi apapun selama itu di tim sepakbola, selalu punya makna. Saya membahas posisi ini semata karena keunikan dan ke-spesial-annya. Itu saja. Tiada tendensi lain.

Hujan mulai deras ketika malam semakin larut, saatnya kembali ke peraduan, agar kembali segar kala mengawal gawang dari terjangan masalah di esok hari. Semangat!!!