Category Archives: Hanya Mau Menulis

Seperti judulnya, it’s just a script..

Tentang Sebuah Perspektif Sederhana

Ini judul blog ini, lantas kenapa pula saya perlu jadikan posting? Ada 2 alasan. Pertama, judul ini sangat istimewa. Kedua, karena posting di blog ini sudah tembus 100 dalam 9 bulan kelahiran kembalinya.

Berhubungan? Tidak juga. Hehehe..

Hanya ada satu orang yang selalu protes terhadap penggunaan judul ini, adik saya si Cici. Kenapa? Ya karena judul ini saya pakai terus kemana-mana. Toh penggunaannya gampang banget. Sebut saja kita membahas soal kondom, maka tulisannya akan berjudul ‘Kondom: Sebuah Perspektif Sederhana’ atau kalau kita bahas soal jeruk, maka judulnya ‘Jeruk: Sebuah Perspektif Sederhana’. Enak kan? Hahaha..

Judul ini muncul sebagai masterpiece karya-karya saya karena setidaknya pernah memberikan gelar dan (tentu saja) uang. Kalau nggak salah ada 3 lomba yang saya ikuti dengan judul ini yang berhasil meraih penghargaan. Sebenarnya lomba yang diikuti banyak, tapi cuma itu yang dapat.. haha..

Riwayat kelahiran judul ini adalah saat mengikuti Lomba Reportase Pertanian di UPN Veteran tahun 2003. Lombanya unik bin ajaib. Seumur-umur ya baru sekali itu ikut lomba reportase. Modelnya adalah peserta diberi waktu sekitar 2 jam untuk menulis di kertas folio bergaris (tulis tangan pula, waktu itu sih tulisan saya masih bagus). Peserta menulis dengan bahan yang dibawa dari rumah dengan topik kira-kira tanaman lain non beras.

Saya sudah melakukan searching sebelumnya dan memilih singkong. Dan seperti penulis pemula pada umumnya, judul adalah urusan belakangan karena sulit. Walhasil, rangkuman referensi dan opini saya sudah jadi duluan, tinggal dua baris di atas yang belum diisi: judul.

Waktu semakin mepet ketika saatnya harus membuat judul. Mumet minta ampun kala itu. Saya punya kata awal memang, Pemberdayaan Tanaman Singkong. Tapi masak judul tulisan kayak gitu? Ini kan membahas perspektif, bukannya mengajari menanam singkong. Ups, nemu deh kata perspektif.

Waktu semakin semakin dan semakin mepet ketika judul itu harus ditulis. Perspektif Pemberdayaan Tanaman Singkong? Kurang sreg di hati. Pikir terus, karena ini hanya singkong maka saya tambahkan kata Sebuah. Jadilah Sebuah Perspektif Pemberdayaan Tanaman Singkong. Masih belum kena. Belum ada sense yang nendang. Sampai kemudian terlintaslah sebuah kata simple alias sederhana.

Wew, Sebuah Perspektif Sederhana. Sounds sweet.. hahaha..

Maka judul itu pun ditulis. Jangan salah, utik-utik judul itu dilakukan dengan cara menulis pakai pensil dan lalu menghapusnya. Tepat di kertas lomba. Hahaha..

Begitu kira-kira sejarah kelahiran judul ini. Dia berubah menjadi masterpiece, ketika ada lomba lain tentang partai politik yang diselenggarakan oleh PDIP Sleman saya mendapat gelar juara harapan (berharap juara) yang berhadiah 100rb dan kaos PDIP (astaga..)

Judulnya kalau nggak salah, Partai Politik Dari Zaman ke Zaman: Sebuah Perspektif Sederhana. Nongol lagi dia. Haha..

Dan gelar terakhir adalah saat lomba di kampus. Waktu itu Pusat Penelitian Obat USD menyelenggarakan lomba Pusat Penelitian Obat Yang Ideal. Yang boleh ikut mahasiswa dan dosen. Astaga, mati kutu ini. Tapi waktu itu saya berhasil jadi Harapan (lagi-lagi berharap) namun tetap bangga karena juara 1-3 adalah dosen semua.. haha.. Judulnya? Pusat Penelitian Obat Yang Ideal: Sebuah Perspektif Sederhana. 🙂

Memang sekarang saya jarang pakai lagi sebagai judul, namun sebagai masterpiece, dia saya pakai di judul blog ini. Bahkan dia juga jadi alamat blog saya yang lain.

Sederhana bukan? 🙂

Juju: Sebuah Kisah Makanan Enak

Juju.

Entah saya nulisnya bener apa nggak, yang pasti saya diperkenalkan dengan nama itu. Kata Juju kemudian merepresentasikan sebuah tempat penjualan makanan.

Apa yang istimewa dengan Juju?

Sebentar, sebelum berkisah, mari saya ceritakan dulu sejenak kisahnya.

Warung Juju ini terletak di dalam kawasan industri Jababeka II. Kalau dari Pintu Jababeka II, masuk terus, ketemu bundaran kuda masih lurus, lalu ke kanan sampai ketemu Mattel (Pabrik Barbie) lantas ke kiri, terus aja sampai ke tulisan Pecenongan Square. Setelah ini ambil kanan masuk ke kawasan Jababeka II yang beneran. Begitu sampai di perempatan pertama dekat klinik ambil kanan, ikut terus jalannya, ada beberapa belokan. Nanti akan ketemu Jalan Industri Selatan V, jalan aja terus sampai perempatan. Pas disini ambil lurus mentok sampai jalan yang seolah-olah buntu. Nah warungnya ada di kiri jalan. Atau kalau mau lebih mudah, ambil dari Kalimalang, masuk pintu 10 Jababeka, belok kiri, lalu ketemu perempatan belok kiri lagi. Disitulah dia berada.

Warung ini sejatinya ya serupa warung yang lain. Kalau di dekat De Britto dulu ada yang namanya Tenda Biru. Apa persamaannya?

Hehehe.. Harap maklum, keduanya sama-sama warung yang mungkin akan bikin ilfil orang yang (maaf) jijikan. Kalau tenda biru itu, iya dapur, iya pembuangan, iya tempat nggoreng, iya tempat nyuci, iya tempat ngiris, dan lain-lain. Kalau Juju ini modelnya gubuk, lantai tanah. Di dapurnya segala sesuatu jadi satu, mirip dengan tenda biru. Pokoknya kalau terbiasa makan di tempat yang oke macam Hoka Hoka Bento, dijamin ilfil.

Untunglah saya dididik makan murah di tenda biru. Hahaha..

Uniknya dari Juju, terutama yang terjadi dengan beberapa teman kantor saya, adalah: banyak penggemarnya! Masih biasa? Oke, ini fakta berikutnya, beberapa dari penggemar itu belum mengetahui bentuk warung Juju yang sebenarnya. Mereka rata-rata delivery (alias titip beli). Yah, apakah nanti kalau melihat bentuk warungnya masih akan suka Juju?

Tidak ada yang bisa menerka.

Seringkali dalam hidup itu kita suka begitu. Kita menyukai sesuatu yang enak, tapi nggak ngerti latar belakangnya, tahunya ya enaknya. Coba ingat-ingat apakah kita suka dengan sebuah mobil yang bagus yang dimiliki seseorang, tapi kita nggak tahu apa itu diperoleh dari usaha yang halal atau hasil bagi-bagi proyek (lho, malah nyindir? hehe..). Apakah kita berlaku seperti seorang raja yang duduk manis, tanpa peduli orang-orang yang ada di belakang kita? Apakah kita begitu jumawanya saat ini dengan pencapaian saat ini dan lantas lupa latar belakang kita mencapainya?

Yah, ini bukan soal melihat ke belakang tapi ini soal melihat ke dalam. Kita kadang lupa sesuatu yang mendasar dan malah puas terlena pada sesuatu yang enak, yang sudah kita nikmati saat ini. Pada akhirnya? Lupa bersyukur deh. Penyakit kronis saya pribadi itu. Apakah ini penyakit teman-teman juga? Semoga tidak.

Jadi, ada baiknya yang belum pernah lihat warung Juju, segeralah kesana melihat. Siapa tahu ada perubahan perspektif. Hehehehe…

Semangat!!!

Keengganan Meninggalkan Jogja: Sebuah Perspektif Sederhana

Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)

“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”

Buat saya, quote di atas sangat menarik.

dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya

Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.

Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.

Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.

Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.

Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.

Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.

Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.

Salam Semangat!

Ketika Saatnya Harus Melangkah

Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.

Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.

Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.

Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.

Dan ini sulit.

Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.

Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..

Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..

Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.

Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.

Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.

Itulah kehidupan.

Komprehensif

Habis dapat SMS dari seorang gadis galau yang lagi mau ujian komprehensif Apoteker. Mendadak ingat masa silam. Hahahaha..

Saya nggak ngerti kenapa waktu ujian yang disingkat dengan kompre ini, saya malah sakit, sak pol’e. Apa terlalu grogi? Sebenarnya ya tidak juga. Mungkin memang jatahnya sakit saja.

Tapi itu pasti berpengaruh. Kejadian 2,5 tahun yang lalu, ketika saya malah minum obat OTC dan tidur, di saat saya seharusnya belajar, membuat semuanya berjalan bak kartu domino.

Yah, begitulah..

Kompre saya tidak bisa dikategorikan bagus.

Kenapa?

Karena saya tidak menguasai secara komprehensif. Jadi ingat pertanyaan terakhir yang sebenarnya saya bisa jawab cuma mungkin kata-katanya tidak bisa dimengerti oleh penguji.

“Kenapa air disirkulasi? Kok nggak dimatiin saja waktu pabrik tutup?”

Ketidaksanggupan saya memberikan informasi yang jelas ini selalu terngiang-ngiang. Walaupun kemudian saya dapat A juga sih. *congkaksedikit

Saya Apoteker, dan pastinya saya nggak akan menguasai secara komprehensif semua ilmu perapotekeran mulai dari formulasi, kromatografi, konsep pengobatan sendiri, mikrobiologi, manajemen farmasi, dispersi koloid, etika dan perundang-undangan, farmakognosi, farkamoterapi, dan sejenisnya.

Itu terlalu banyak (buat saya)

Tapi yang jelas menempel adalah gelar Apoteker. Dan orang tidak akan peduli bahwa saya adalah apoteker yang tidak mengerti bagian tertentu.

Isn’t right?

Yah, setidaknya saya berusaha menjalankan bagian yang relevan dari Star of Pharmacist: pembelajar sepanjang hayat. Semoga!

My Officemate

Well, senangnya ganti kartu modem. Setidaknya saya nggak harus terlalu emosi setiap malam ketika menyalakan modem. Pakai kartu yang ini bahkan nggak pernah dapat GPRS, at least WCDMA dan banyakan HSDPA. Wew.. Terdengar nikmat.. haha..

Tapi konsekuensinya jelas, kartu yang ini memang mahal. Untuk perdana kemarin, 75rb, saya dapat kuota 307 MB per bulan. Kalau pakai kelakuan saya dengan modem yang pertama kali saya punya, segitu more than enough. Juga dengan yang barusan suka bikin emosi ini. Bahkan dari 500 MB, saya cuma habiskan 220 MB saking emosinya. Sedangkan yang ini, baru 6 hari sudah habis 180 MB. Siap-siap budget tambahan. Kapan cashflow saya kembali kalau begini? T_T

Betewe, hasil penelusuran saya di dunia maya dengan modem yang joss gandos tadi, ternyata banyak teman di kantor baru ini yang eksis di blog. Hmmm.. Baru tau.. Tak pikir cuma 1-2 doang, ternyata ya lumayan banyak.. Jangan-jangan mereka juga baca blog ini.. Hahaha.. Untunglah pengalaman telah memberitahu saya untuk tidak menulis banyak-banyak soal kerjaan kantor di dunia maya.. Lagian buat apa? No added value juga. Lihat kan isi blog ini? Malah ada Shaun The Sheep segala. Hahahaha..

Oke, boleh dicek link berikut, satu persatu, semoga nggak ada yang ketinggalan:

Nova, neo-butterfly, ..just wanna fly like a butterfly..
Oliv, D.I.A.M.O.N.D
Dwi, S U N S H I N E, Shine and brighter world’s days, also need time to hide ^.^
Fani, fanzbul
Agung Heru, Kin_Aruno’s Weblog, Just wanna write
Mel-Rina-sama 1 lagi.. hehe.., 3cantiquez’s Poenya Ceritaz, Food, love, beauty, work, fun, shopping…everything bout our gorgeous life
Flo, My World, …All about Kem-phlo…
Irfan, earfun”.s Blog, belajar, berkarya, beramal, bermanfaat…
Agung Pras, Lorentz-blog

Mari Semangat!!!!!

My Stats

Kecenderungan saya dari kecil adalah menyukai tulis menulis dan analisa data. Bahkan dulu nilai pemain di tabloid BOLA saja bisa saya analisis macam-macam. Pernah pula saking ngebetnya, menghitung statistik pertandingan sepakbola, berapa kali corner, berapa kali lemparan ke dalam, berapa kali offside, dll. Memang saya orang aneh. Hahaha..

Well, termasuk melihat statistik blog ini.

Seperti saya sudah cerita di posting pertama reborn blog ini, semata-mata karena saya menemukan blog friendster via google, dan kemudian ingat kalau blog ini ada, maka terjadilah. Makanya statistiknya aneh, ada 2 view di 2008. Lalu hilang 2 tahun, nongol lagi di 2011. Dan statistiknya semakin lumayan. Sekali lagi, karena targetnya memang bukan mencari orang yang mau lihat blog saya, jadi angka itu sebenarnya hanyalah sekadar angka.

Berbagi pendapat, berbagi cerita, dan belakangan berbagi ilmu, itu yang lebih penting. Berbagi pendapat dan cerita, serta sedikit ilmu disini. Kalau berbagi ilmu beneran, ada di apoteker123.wordpress.com.

Udah, cuma mau nulis itu doang kok. Hehehe..

Semangat!!!

500

Hari ini, penghitung sederhana wordpress menyebut bahwa blog ini sudah 500 kali dilihat.

Well, itu angka yang kecil kalau untuk iklan, tapi tetap milestone yang bagus untuk menuju stone-stone lain yang lebih besar. Toh, waktu awal saya mencoba bangkit dengan blog ini, saya tidak mengharapkan sedemikian banyak. Blog ini betul-betul hanya sarana untuk bangun dari tidur panjang. Dan cukup berhasil, 42 posting dengan 500 view. Artinya 1 post dilihat sekitar 11 orang. Refer ke visi misi blog ini, itu sudah angka yang sangat besar.

Terima kasih kepada yang sudah menyempatkan diri melihat blog ini. Seperti tag-nya, it’s just a script..

Semangat!!!

Terima Kasih

Dear All,

Pada kesempatan ini saya hendak mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan, bantuan, kerjasama, dan hubungan baik yang telah saya alami dalam 2 tahun berinteraksi bersama seluruh tim yang terlibat di tempat ini. Support yang luar biasa tersebut telah terbukti dapat memberi makna dan nilai pada seseorang yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada DC, Tim PS, dan teristimewa kepada tim saya, yang dengan caranya masing-masing telah memberi makna khusus dalam keseharian saya di tempat ini.

Sebagai manusia biasa, saya juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dan kelalaian yang terjadi baik sengaja maupun tanpa saya sadari, sesungguhnya segala ketidaksempurnaan itu tanpa maksud selain upaya untuk memberikan kontribusi yang terbaik.

Per esok hari, saya akan bertugas di tempat baru dan tentunya masih akan berinteraksi aktif dengan tim yang ada di sini. Semoga kerjasama yang telah berjalan baik selama ini, dapat terus menjadi semakin baik. Demikian pula koordinasi antara tim saya dengan seluruh tim yang ada di sini pastinya akan bertambah baik pula.

Segala isu terkait pekerjaan dapat disampaikan ke partner , cc atasan saya.

Tuhan selalu menyertai dan memberikan kesuksesan kepada kita.

Terima kasih

Hormat Saya

Kita hanyalah manusia biasa, dengan karya yang luar biasa”

Perpisahan

Lagu terbaik untuk menggambarkan perpisahan adalah milik Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik:

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku

Kita terharu, seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah karena hari ini yang kita rindukan

Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan

Di hari tua.. ooo…

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Selalu menjadi pernyataan yang kekal bahwa suatu perpisahan tidak akan terjadi tanpa adanya pertemuan. Ya iyalah, gimana bisa berpisah kalau tidak pernah bertemu. Hal ini tidak terbantahkan.

Satu hal yang menjadi perbedaan adalah aspek perpisahan itu sendiri. Apakah perpisahan itu dengan tidak baik atau dengan baik dan penuh haru.

Adapun, baik pertemuan dan perpisahan, sangat terkait dengan suatu hal bernama keputusan. Pertemuan terjadi karena adanya keputusan, demikian pula dengan perpisahan. Tak peduli ini keputusan pihak-pihak yang berpisah atau keputusan pihak lain yang ada di luar itu.

Well, apapun itu, nyaris tiada yang suka dengan perpisahan.

Sudahlah, tak perlu membahas banyak soal perpisahan. Karena toh ini bagian dari perjalanan hidup, bagian dari keputusan hidup.

Yang terpenting, bagian terbaik dari perpisahan adalah saat anda mengetahui bahwa anda dicintai. That’s All!