All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Kala Nyaris 2

“Hmmm…”

Kalau kamu sudah mengetik bagian ini, aku berasosiasi kamu pasti hendak menulis sesuatu yang penting.

“Kenapa?”

“Gpp.”

“Yakin?”

“Hmmm, ya nggak penting juga.”

“Nggak penting bukan berarti nggak boleh disampaikan loh.”

“Hmmm, yah kadang berasa kangen aja.”

Aku terbelalak, tapi kamu kan tidak tahu ekspresiku saat itu.

“Sama kalau begitu.”

Yah, setelah keputusan kita untuk tidak lagi berusaha menyatukan hati, sejatinya aku kehilangan. Tapi bagaimanapun aku harus sadar kalau kita berada di sisi yang berbeda.

Sebuah jurang besar, yang ironisnya bukanlah agama, terbentang diantara kita. Sebuah jurang besar yang pasti akan sulit kita seberangi satu sama lain. Aku menikmati kala kita berjalan di sisi jurang untuk bersama-sama mengikat rasa. Tapi, ah, jurang itu.

Aku kehilangan kamu, sungguh. Kebersamaan kita memang hanya singkat, tapi aku mendapatkan banyak hal. Aku paham rasanya berbagi resah, aku mengerti indahnya berbagi cerita, dan aku tahu pahitnya perpisahan.

Sebenarnya aku salah jawab tadi. Ini tidak sama . Kamu mungkin kangen. Aku? Sebentar, biarlah aku mencari diksi yang tepat untuk menggambarkan rindu yang membuncah, meluber, dan meruah padamu. Ya, kamu.

“Sudah tidur?”

“Belum.”

“Hmmm..”

“Kenapa?”

“Gpp.”

Dan percakapan kita kembali dingin. Ini nyaris dua bulan kita berpisah, sebuah waktu yang kita pilih ketika kita nyaris 2 bulan bersama.

Arrggghh!!!

Rindu Gila

Sekelebat tampak benda manis lewat di depanku.

“Oke juga,” pikirku.

Dan entah kenapa ada dorongan aneh dari dalam diriku. Kuikuti sosok manis itu dari belakang. Entah, ada semacam rindu yang aneh muncul tiba-tiba. Tapi aku memilih mengikuti naluri.

Kuikuti terus, tanpa upaya memanggil. Kubuntuti sosok itu berjalan. Dan aku merasakan rindu yang benar-benar gila. Sejak kapan rindu oleh sekelebat sosok manis ini tiba? Dan kenapa dia tiba?

Sudah hampir sampai lorong ujung kampus. Aku sudah capek juga mengikutinya. Maka kupercepat jalanku. Kukeluarkan kartu nama yang selalu jadi andalanku. Yah, gadis mana yang bisa abai dengan kartu namaku, seorang yang terkenal di kampus ini.

Aku berlari, kugapai sosok manis itu. Ia berbalik dan seketika aku sadar mengapa aku rindu.

“Kamu to?”

“Iya. Kok disini?”

Sedari tadi aku mengikuti mantan pacarku, pantas saja aku merasa rindu.

🙂

Drama Angkot

Bahwa cinta itu bisa menjadi kausa untuk banyak hal, itu pasti sudah diketahui dan dirasakan oleh semua orang. Dan bahwa cinta itu berdampak ke banyak hal, itu juga pengetahuan umum. Hanya saja, si cinta ini bisa menimbulkan berbagai peristiwa yang kadang bikin geli, terutama bagi orang yang ada di luar lingkaran peristiwa.

Suatu hari di bulan November 2008.

Saya gamang di kos-kosan. Bos DP (kayaknya) sedang lembur.Robert–seperti biasa–pergi ke rumah Mbak-nya di Bekesong. DK, pasti pergi kalau weekend. Tinggal saya dan Cipi yang dengan setia tiada akhir berada di kos-kosan. Dan ditunjang oleh baru adanya berkat alias duit tambahan dari Pakde, maka saya lantas gatal hendak BELANJA! Apa tujuannya? Semata-mata SEPATU FUTSAL, berhubung sepatu yang saya beli di Jogja mendadak tampak alay diantara sepatu futsal yang berkeliaran di pabrik tempat saya PKL.

Maka, di Sabtu siang yang fana itu, saya berangkat sendiri. Tempat terdekat dan paling logis untuk ini adalah Mall Cijantung. Kala itu ada beberapa tempat yang bisa jadi peraduan sih. Terdekat banget ya Giant Cimanggis, tapi nyatanya memang lebih mudah menemukan pembalut atau shampoo alih-alih sepatu futsal yang harganya cocok sama kantong. Lalu berikutnya, Cimanggis Mall. Pertanyaan mendasar, ini mall apa bukan sih? Dan selanjutnya adalah Mall Cijantung. Lumayan kalau ini, jadilah.

Saya bukan orang yang hobi belanja. Jadi kalau belanja itu paling maksimal datang ke 3 tempat, tanya-tanya sedikit, lalu langsung beli. Sesederhana itu saja hidup saya memang. Begitu kemudian dapat yang agak mahal, ya itu namanya NASIB. Maka saya di Cijantung nggak lama-lama. Cuma beli sepatu berwarna putih (yang kemudian awet sampai saya berkarier di Palembang) dan makan Hoka Hoka Bento. Percayalah, ketika itu, Paket Hemat Hoka Hoka Bento adalah kerinduan universal, karena di Jogja nggak ada cabang Hokben. Betapa ndeso-nya saya.

Nah, perjalanan ini lantas mulai unik ketika saya menunggu angkot biru yang akan membawa saya kembali ke Mabeskosmar yang kisahnya banyak dikupas di blog-nya Bos DP (klik link di atas). Sambil menenteng sepatu baru yang murah meriah muntah itu, saya berdiri diam di dekat tiang listrik. Sebuah angkot agak penuh datang, saya masuk langsung ke pojokan karena tahu kalau lokasi saya lumayan jauh ke selatan.

Dari seberang muncul pemandangan menarik. Dua cowok, satu cewek. Yang menarik apa dong? Yah, dua cowok itu mengapit si cewek dan menyeberang jalan dengan gandengan. Usianya saya taksir lebih tua dari saya kala itu (kala ini juga dong ya?). Lihat? Satu cewek menggandeng dua cowok. Buat saya itu menarik. Dan, kok ya ndilalah, masuk ke angkot yang sama persis dengan saya dan lantas duduk PERSIS di depan saya.

Perjalanan dimulai, dan apa yang terjadi kemudian membuat saya terpaksa menyimpulkan banyak hal.

Si cowok 1 berbaju putih, matanya sembab, sesekali menangis dan menggenggam erat tangan si cewek plus menciuminya. Ehm, sejujurnya si cewek ini ya nggak cakep-cakep amat lho. Mukanya lempeng saya atas segala yang diperbuat terhadap tangan kirinya. Lalu si cowok 2 itu gondrong dan tampak tenang sekali.

Sambil menangis, cowok 1 beberapa kali bilang, “maafin aku, maafin aku…”

HELOOOWWWWW, INI DI ANGKOT BRO!

Hemmm, itu sorakan dari dalam hati saja sih. Mana berani saya utarakan. Dan disinilah saya mulai paham betapa TIDAK PEDULI-nya orang-orang di ibukota dan pinggirannya.

“Udah aku maafin,” ujar si cewek, tetap lempeng.

“Maafin aku, maafin aku…”

Cowok 1 tadi tetep menangis. Lha saya bingung, sakjane ini maunya apa? *brb nanya* *lalu ditabok*

Saya jadi menyimpulkan kalau si cowok ini bersalah, minta maaf, pengen balikan, dan nggak bisa. Karena si cewek menambahkan kata “nggak bisa” setelah bilang “udah aku maafin”. Lha ini berkali-kali cuy, di depan mata kepala sendiri pula. Eaaa bener dah.

Separuh jalan, dengan mata sembab dan agak tenang, si cowok 1 bilang ke cowok 2, “jaga dia baik-baik ya.”

GUBRAK TINGKAT INTERNASIONAL!

Jadi ada apa ini?

Sumpah saya bingung. Terpaksa menyimpulkan lagi. Agaknya ini pacar barunya si cewek. Tapi kok ya bisa-bisanya mereka pergi BERTIGA? Ke Mall Cijantung pula (eh, ini pertanyaan perlu nggak ya?).

Drama ini belum usai, karena sesuai ketiga sejoli ini turun di sekitar depan Giant, masih ada percakapan di antara mereka. Saya mengamati singkat sambil mengelus dada lega. MIMPI APA SAYA SEMALAM? Bisa-bisanya niatan beli sepatu harus disertai drama angkot macam ini.

Fiuhhh…

*sekadar cerita*
*efek nggak bisa tidur*
*efek kangen kamu*
*salah fokus*
*udah ah*

🙂

Ketika Semesta

Bukan hal mudah melupakanmu
Adalah sulit untuk tidak lagi sendu
Setelah tak lagi bertukar kata rindu
Ketika rasa harus disimpan rapat di kalbu

Jelas, semuanya itu tak mudah
Karena rangkaiannya terlanjut indah
Meski kemudian satu per satu patah
Terhampar berkeping berbalut perih

Tapi ketika semesta bertindak
Apakah aku bisa berkata tidak?
Apakah aku punya daya untuk menolak?
Ataukah aku layak bersorak?

Kamu muncul saat aku hendak melupakanmu
Kamu hadir di saat aku susah payah tidak merindu
Kamu ada ketika hati ini terlanjur pilu
Dan hati ini mendadak menjadi ragu

Ah, mungkin semua hanya kebetulan saja
Itu pikiran yang terlintas tiba-tiba
Meski lantas aku menangkap sebuah makna
Bahwa tidak ada kebetulan bagi semesta

Jadi, kubiarkan semuanya berjalan
Meski itu teramat sangat pelan
Agar aku lantas bisa mendapat pengertian
Bahwa kehendak semesta adalah acuan

Tidak ada lagi mencoba realistis
Bukan pula hendak menahan tangis
Aku hanya menerka segala rencana magis
Yang aku yakini pasti akan manis

Ketika semesta berbicara, tidak ada yang bisa membantah
Ketika semesta menulis, kadang malah banyak rona merah
Ketika semesta bekerja, pada dasarnya semua itu indah
Ketika semesta itu tentang kamu, maka aku hanya pasrah

Biarlah semuanya terjadi
Sesuai jalannya semesta

160912 – @ariesadhar

Tamu

“Kukuruyukkkkkk…”

Ah, pagi! Di era modern ini mungkin ayam asli sudah tidak berkehendak untuk berkokok subuh-subuh. Untunglah ada alarm yang punya bunyi seperti suara klasik pembangun tidur itu. Semata hendak mengenang masa lalu, maka bunyi itu yang kupilih untuk alarmku.

Aku berguling lemas, ini sama saja dengan pagi-pagi lainnya. Malas.

Yah, dulu pagiku penuh warna di ibukota, sampai kemudian sebuah perusahaan di kota ini menawariku pindah. Bosan dengan hiruk pikuk ibukota, akupun terbujuk.

Apa iya itu alasanku?

Tidak juga. Hal yang utama, karena Dila bekerja di kota ini. Mungkin menjadi hal absurd bagi seorang eksekutif muda berkarier gemilang memutuskan pindah dengan mempertimbangkan seorang gadis yang dicintai secara diam-diam.

Absurd? Bisa jadi. Akan tetapia aku percaya, dalam cinta, semua hal ada logikanya, termasuk hal absurd sekalipun.

Pagiku perlahan menjadi suram karena perlahan asa untuk mencintai itu semakin pudar. Dila bahkan memutuskan komunikasi denganku tanpa aku tahu sebabnya.

“Ilfil kali sama lu. Lagian, karier udah bagus-bagus disini, pake acara pindah gara-gara gebetan. Otak lu kemana bro?”

Demikian Joni, partnerku di tempat lama, pernah bilang kepadaku.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu apartemenku diketuk. Ah, siapa pula yang datang sepagi ini. Bahkan ini belum jam 7 pagi.

Sejak Dila memutuskan komunikasinya denganku, aku sungguh tanpa daya. Malas adalah nama tengah di setiap aktivitas yang aku lakoni. Semuanya berjalan, tapi tanpa jiwa. Semuanya selesai, tapi nyaris tanpa makna. Syukurlah aku masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik, meski tanpa jiwa dan makna.

Malas itu merembet sampai ke pagi hari. Bergerak adalah kesulitan terbesar bagiku di pagi hari. Aku lebih baik berguling kesana kemari alih-alih berdiri dan menuju pintu.

Tok.. Tok.. Tok..

Ya ampun! Aku menggerutu pahit. Ini sungguh menggangguku. Jadilah aku menyeret badanku menuju pintu yang sebenarnya tidak cukup jauh dari tempat tidurku. Kuusap wajahku sekilas, siapa tahu kotoran-kotoran selama tidur bisa berkurang sedikit.

Tok.. Tok.. Tok..

“Sebentar,” gerutuku.

Tanganku menggapai gagang pintu, kantuk membuatku lupa mengintip terlebih dahulu di lubang yang ada di pintu apartemenku.

Ayunan tanganku dengan ringan membuat pintu bergerak, menuju arahku, dan itu sama saja dengan terbuka. Pintu itu terbuka, memperlihatkan objek yang tidak aku kira sama sekali.

“Kamu? Ngapain?”

“Hai! Mau sarapan bareng?”

Tiba-tiba otakku memainkan sebuah film pendek, menutup semua fakta yang berdiri di sekitarku. Film pendek itu bernama kenangan.

“Mas, tukeran mau nggak?” ujar Dila, yang berdiri persis di sebelahku.

“Curang. Hmm, ya udah, sini.”

Aku dan Dila lantas bertukar beban. Latihan fisik paduan suara ini begitu beratnya sehingga setiap orang harus membawa beban untuk dibawa sambil bernyanyi. Dan terkadang bebannya tidak tanggung-tanggung, bisa 3 buah barbel dimasukkan ke dalam tas.

Parahnya lagi, beban itu harus dipertukarkan antar anggota paduan suara.

“Baik hati sekali kamu, Mas,” kata Dila sambil mengunyah pecel lele. Aku dan Dila makan bersama sepulang latihan yang gila itu.

“Yah, apa sih yang nggak buat Dila.”

“Gombalnya kamu, Mas.”

Dila yang cantik ini selalu ada di dekatku, karena memang aku selalu berusaha mendekat. Tapi tak sedikitpun aku berani bertindak lebih selain dekat dan perlahan menjadi sosok kakak bagi Dila.

Dila yang sama yang menjadi pertimbanganku

Film pendek bernama kenangan itu perlahan memudar dan menjelma menjadi sebuah kenyataan. Dila persis berdiri di depanku, ngajak sarapan pula.

“Mas? Mas? Kamu sadar nggak sih?”

Dila bertanya menyelidik. Sebuah tanya yang pasti keluar karena melihat tampangku yang absurd. Senyum mengembang, tatapan kosong menarawang. Ah, aku yakin siapapun yang berada di posisiku, pasti akan berlaku serupa.

“Mas? Mas?”

Dan Dila masih terus bertanya.

 

UGD

Sahabat sejatiku
Hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi

Tiba-tiba lagu “Sahabat Sejati” terngiang di telingaku, semata-mata karena mataku menangkap rangkaian huruf “Diutus Untuk Berbagi” di mobil yang masuk parkir persis di depanku.

Semesta memang pintar mengatur situasi. Bahkan setiap kejadian di semesta itu penuh dengan sebab dan akibat, logika dan keniscayaan. Kini terjadi, lagu itu terlintas keluar dari arsip otak karena hal sepele tapi pada momen yang tepat.

Kulihat BB-ku, sudah berulang kali kulihat pesan yang sama di Whatsapp ini dalam satu jam terakhir.

UGD, dekat pintu tembus ke Elisabeth

Kuletakkan kembali BB-ku di dashboard mobil sambil menanti mobil di depan bergerak.

Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku

Rumah sakit ini mungkin paling laku, hingga mencari tempat parkir mobil saja susahnya setengah mati. Mobil di depan beringsut perlahan. Aku menguntit dengan sabar.

Rumah sakit ini juga menyajikan setting yang kurang asyik. Begitu masuk ke area dalam, ada rumah duka di sisi kanan. Emosi langsung diaduk-aduk. Beberapa puluh meter kemudian, tampak makam para suster pada sisi yang sama dengan rumah duka. Ah, jadi ingat berita kecelakaan mobil bertahun silam yang menewaskan beberapa orang suster. Mereka beristirahat abadi di tempat ini.

Sampai titik ini aku belum mendapat tempat parkir. Itu berarti sebentar lagi aku akan melewati UGD. Aku pernah ada di tempat itu, jadi tahu tempat dan rasanya.

Sudah dimana?

Lewat UGD, nyari parkir 😦

Kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah

Aku raja kaupun raja, aku hitam kaupun hitam
Arti teman teman lebih dari sekadar materi

Lagu yang sama masih terngiang di telingaku ketika aku menemukan celah di dekat poli anak. Langsung kuparkir mobilku disana dan bergegas turun berlari ke UGD.

Sayup-sayup terlintas berbagai peristiwa yang terpisah satu sama lain, namun terkoneksi oleh tokoh. Yah, aku dan Adit.

Terbayang ketika aku diantar ke tempat ini, terhuyung lemas di depan pintu UGD dan bertumpu pada punggung Adit. Teringat ketika belum lama ini aku dan Adit ngobrol panjang di kafe dekat Kambang Iwak. Terlintas pula segala obrolan panjang lebar soal masa depan, mimpi-mimpi masing-masing, dan banyak hal lainnya.

Pegang pundakku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah, lelah dan tak bersinar
Remas sayapku jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang, terbang meninggalkanmu

Aku memasuki pintu UGD. Sebagai mantan pasien, dan pernah berkali-kali kesini, aku tahu benar celahnya. Pintu itu memang selalu tertutup, tapi bisa dibuka oleh siapapun tanpa kecuali. Siapa pula yang hendak menutup pintu yang menjadi tumpuan masa depan orang banyak itu? Siapa yang hendak menghilangkan harapan orang lain akan kesembuhan di tempat itu?

Aku slalu membanggakanmu, kaupun slalu menyangjungku
Aku dan kamu darah abadi
Demi bermain bersama, kita duakan sgalanya
Merdeka kita-kita merdeka

Lagu yang sama mengiringi langkahku mencari bed tempat Adit berada. Terlintas sedikit saat-saat bahagia aku dan sahabatku itu. Memori ini muncul di saat yang tidak pas!

May melambai, aku berlari menghampiri. Dan kulihat tubuh Adit di tempat itu. Sungguhpun aku tidak sanggup berkata-kata.

Tak pernah kita pikirkan ujung perjalanan ini
Tak usah kita pikirkan akhir perjalanan ini

*terinspirasi oleh lagu Sahabat Sejati (Sheila on 7)

Cinta

Mario berdiri mematung di dekat papan pengumuman kampus. Matanya awas memandang ke ujung lorong yang menuju ke tempatnya berdiri. Sudah dua puluh menit ia berdiam disana. Benar-benar berdiri diam sambil sesekali melihat pengumuman dan pada kali lain melihat jam tangannya.

Dua puluh dua menit sesudah Mario berdiri, yang dinanti tiba. Sesosok gadis berambut lurus, memakai behel, dan agak bungkuk muncul dari kejauhan. Mario bersiap, matanya tak lepas menatap gadis itu. Jantungnya berdetak lebih kencang pertanda sirkulasi darahnya meningkat. Ia hendak melangkah, namun mendadak tercekat.

Jarak Mario dan gadis itu tinggal sepuluh meter. Perlahan menipis menjadi sembilan, delapan, enam, empat, dua, satu, dan… satu, dua, empat, enam, delapan, sembilan, dan seterusnya.

Gadis itu berjalan, berlalu di hadapan Mario yang berdiri berdiam tercekat tanpa daya. Mario hanya menatap lekat gadis itu, dari kejauhan hingga dekat dan lantas menjauh lagi. Kepalanya mengikuti langkah gadis yang menjauh itu, kali ini dengan pemandangan tampak belakang. Hanya tas biru dongker dan rambut lurus yang tampak semakin mengecil, menjauh, dan perlahan hilang di kejauhan.

Itulah keseharian Mario. Berdiri di papan pengumuman dengan kaos panitia penerimaan mahasiswa baru, celana jeans longgar, dan tas sandang yang tidak pernah dicuci. Tidak sepanjang waktu Mario ada disana. Ia punya jadwal untuk itu, tentunya menyesuaikan jadwal kuliah gadis yang hendak dilihatnya.

Gadis itu tidak bisa dibilang cantik, tapi harus dibilang menarik. Ia bukanlah gadis yang mempesona dengan dandanan rapi. Lihatlah, hanya baju kaos, celana jeans, dan sepatu sporty. Tas yang dipakai juga jenis ransel. Tidak ada aksesoris berlebihan selain sebuah jam tangan di lengan kirinya. Sesederhana itulah definisi Mario tentang gadis yang menarik. Sesederhana itu pula definisi Mario terhadap jatuh cinta.

Mario beranjak dari tempatnya berdiri untuk duduk di kursi taman kampus. Ia bersiap untuk penantian 2 jam ke depan. Ya, 2 jam adalah waktu kuliah yang diambil gadis tadi. Mario akan menanti dengan sabar guna menyaksikan gadis menarik itu muncul dari kejauhan, mendekat ke arahnya, dan kemudian berlalu lantas pergi menjauh untuk kembali hilang di kejauhan. Mario menikmati hari-harinya. Ia sungguh nyaman dengan hanya memandang, mengamati, dan melakukan hal-hal lain dari kejauhan. Mario tahu benar, jatuh cinta tanpa tendensi memiliki akan tataran tertinggi dalam jatuh cinta.

Senja

Butir-butir pasir itu terhempas pilu. Air garam dalam jumlah dan tekanan yang besar datang menghampiri dan menerpa tanpa ampun. Hanya  sisa debur yang membahana ke studio maha luas yang terhampar disana. Ada pula angin yang membelai lembut butir-butir pasir yang sudah terhempas tanpa ampun itu.

Kupandangi semua sudut dengan sendu. Mataku menyipit oleh terang. Cahaya terhampar begitu luasnya, tanpa dibatasi oleh apapun. Semuanya sampai ke mataku dan itu cukup menjadi alasan aku memicingkan mata. Tentunya, selain karena genangan air mata masih ada di sana, dalam jumlah yang cukup. Genangan itu sedang bersiap untuk tumpah.

Sudut demi sudut melintas di mataku lewat sebuah gerakan kepala melingkar. Ah! Selalu ada sudut yang siap menumpahkan genangan air mata yang volumenya semakin bertambah ini. Sebuah pondokan kecil, sebongkah batu besar, hingga sebiji kelapa yang terkapar manis di dermaga kecil. Tiga sudut itulah yang mampu meruntuhkan pertahanan akan genangan yang ada di kelopak mataku.

Terang perlahan meredup. Sebuah bongkahan kuning kemerahan tampak di ujung horison. Ujung inilah yang membuat Colombus pergi mencari kebenaran. Ujung inilah yang terus dilihat Colombus dalam setiap pencariannya. Ujung yang ternyata tidak berujung. Sebuah silogisme yang lantas menjelma menjadi kebenaran.

Ujung itu pula yang aku lihat, ketika berada di pondokan kecil yang bersebelahan dengan batu besar sambil memegang kelapa muda. Waktu itu aku tidak sendiri, tidak pula beramai-ramai. Aku dan dia, berdua, terdiam menatap ujung yang sama.

“Jadi kita selesai?” tanyaku sambil menunduk dan memutar-muar buah kelapa yang sudah kosong itu.

“Iya, Mas.”

“Nggak ada kesempatan untukku memperbaiki sesuatu?”

“Nggak. Aku sudah kasih kesempatan itu, tapi kamu masih mengulanginya.”

“Yah, baiklah.”

Momen yang sama. Tiupan angin, debur air asin yang bergantian sampai ke daratan, suasana, hingga warna menjelang temaram. Semuanya sama. Bedanya, aku kini sendirian. Tidak ada si cantik itu lagi di sebelahku. Aku hanya sibuk mengingat-ingat peristiwa yang seharusnya tidak diingat. Untuk apa sebuah kejadian pahit itu diingat? Bukankah lebih baik aku bangkit dan memperbaiki diri serta melanjutkan hidup?

Kalaulah hidup ini semudah berkata-kata, pasti aku sudah melakoninya. Akan tetapi, jiwaku masih pada si cantik itu. Itulah sebabnya aku kembali ke pantai ini, pada waktu yang serupa, pada suasana yang sama, saat aku harus melepaskannya.

Objek kuning yang terang itu semakin redup ditelan horison. Gelap mulai menggantikan hadirnya. Sebuah pertanda untuk meninggalkan tempat ini, dan memulai kehidupan baru yang sebenarnya.

“Mas, kok disini?”

Aku mengenali suara itu dengan jelas.

“Kamu juga, kok disini?”

Si cantik ada disini, di tempat yang sama ketika ia memutuskan untuk berpisah denganku. Jantungku berdegup kencang, mendadak asa membuncah dalam diri.

“Ngobrol yuk!” ajakku.

Si cantik mengangguk. Sisa-sisa terang membuatku masih bisa melihat anggukannya. Aku beranjak dalam harapan baru. Pada saat yang sama, sang mentari menghilang di ujung horison untuk datang lagi esok hari.

5 Show Yang Harus Dilupakan

Okelah, masih dengan pertanyaan, siapa saya sampai harus MELUPAKAN sebuah show. Ehm, ya begini-begini saya ini pernah-lah tampil di depan umum, mulai dari depan papan pengumuman sampai depan WC umum. Jadi adalah beberapa koleksi penampilan yang BENAR-BENAR HARUS DILUPAKAN. Lha, dilupakan kok malah ditulis disini.

Sebut saja itu anomali. Hehehehe..

So, ini dia..

1. Senandung Masa Puber (antara 2000 hingga 2001)

Sudah jelas lagi puber, sudah jelas tone suara menurun, masih pede jaya memilih lagu tinggi pas sesi menyanyi di kelas. Mau tahu lagunya? Yakin mau tahu? Bener?

“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siaaaaapaaaa…”

Dan di bagian terakhir yang meninggi itulah, saya slip sakpole ngisin-ngisini. Malu, malu, malu. Hahaha..

2. Anak Yang Hilang (juga sekitar 2000 hingga 2001)

Ide lomba dramatisasi kisah anak yang hilang versi kitab suci bagi saya merupakan ide yang terkutuk. Lebih terkutuk lagi ketika kemudian rayon St. Matheus yang notabene mengambil nama santo pelindung ketua rayon yang sejatinya adalah Bapak saya sendiri, kemudian memilih SAYA sebagai lakon utama: SI ANAK YANG HILANG!

Dan memang dasar saya nggak bisa akting, penampilan di aula yayasan prayoga itu kemudian menjadi derita sepanjang hayat. Mana nggak menang pulak. Sesudah turun panggung, rasanya saya mau hilang dari peredaran dunia saja.

3. Tentara Ora Cetho (tahun 1996)

Ini ceritanya class meeting, lalu bikin drama-dramaan gitu. Nah, kelas VA waktu itu juga ikut bikin drama perang. Dan syukur alhamdulilah saya didaulat main, SEBAGAI FIGURAN.

Dan yang paling mengenaskan dari penampilan ini adalah… saya sendiri nggak nemu inti ceritanya apa, kenapa saya ada, kenapa saya lewat, dan kenapa tanpa ditembak tiba-tiba tangan saya terbalur obat merah tanda habis kena tembak.

Sebuah misteri sampai sekarang, beneran!

4. Romo Ono Maling (sepertinya sih 2008)

Tampil total dengan make up di event sebuah kelompok agama di kampus, saya takjub melihat ekspresi masyarakat yang nonton dengan penampilan don dap dap yang dibawakan. Lha, sebagai kelompok paduan suara yang punya fans, kita nggak biasa mendapati orang melongo diam tanpa tepuk tangan ketika tampil *songong session dimulai kembali*

Makin parah ketika kemudian disuruh tampil lagi, dan dibawakanlah lagu ROMO ONO MALING.

Masih suram suasananya. Lha saya bingung, ini pada pernah nonton paduan suara belum je? Akhirnya lagu ROMO ONO MALING ini diakhiri dengan akting Budi sebagai maling yang lari dan dikejar sama yang lain. Nah, sesi berlari ke belakang ini benar-benar dimanfaatkan sebenar-benarnya untuk lari. Lari malu. Huhuhuhu…

5. Victorious (Oktober 2009)

Jauh-jauh diongkosi ke Jakarta untuk nyanyi, dikasih baju bagus, diinepin di hotel Shantika. Untuk apa? Untuk nyanyi. Ini kemajuan besar karena selama ini paling mentok saya nginap di rumah retret. Jadi begitu nemu hotel yang pintunya pakai kartu, berasa ajaib gitu.

Sebenarnya sudah gamang karena tampil tanpa dirigen. Tapi karena personel dikit jadilah. Tampil di sebuah teater baru milik kantor. Membawakan lagu karangan manager Finance dalam rangka ultah ke-40 kantor yang baru 5-6 bulan saya masuki.

Sebenarnya sudah oke. “Thanks to God, today we celebrate… bla..bla…”

Tetap oke sampai kemudian ketika sebuah interlude menjelang refren penutup tiba-tiba berubah menjadi ending. Ini ibarat ngejar kereta lalu tiba-tiba keretanya cling ilang, bukan lari. Musiknya benar-benar stop pas interlude dan dinamika lagu jadi buyar. Mood buyar pula. Dan ya sudah. BUBAR JALAN.

Maka lagu berikutnya “Cup Mailang” kemudian menjadi pelengkap performa yang sempat membuat saya trauma menyanyi di depan umum itu. MALUNYA ITU LHO!

Yah, sudahlah.. Namanya juga harus dilupakan.. Hehehehe…

13 Kriteria Naskah Layak Terbit

Stalking twitter GagasMedia ketemu ini, kalau mau sila lihat sendiri, saya mau mengkompilasi saja versi Christian Simamora (ini abang saya bukan ya?)

1. Tema menarik/baru/sesuai dengan target pembaca
2. Bab awal menarik perhatian pembaca
3. Karakterisasi kuat dan dikembangkan dengan baik
4. Setting cerita (setting tempat, waktu) hidup dan mendukung cerita
5. Plot rapi dan menuruti logika pembaca
6. Konflik dan solusi masuk akal/logis
7. Porsi deskripsi dan narasi diatur baik
8. Dialog tidak bertele-tele, hidup, dan bukan repetisi
9. Gaya penulisan dan pemilihan diksi menarik
10. Ending memuaskan (fokus membentuk keutuhan cerita)
11. Memperhatikan efektivitas kalimat dan ejaan berbahasa
12. Memiliki nilai tambah yang bermanfaat bagi pembaca
13. Tren/update dalam cerita.

Stalking session selesai.. Hehehehehe…