Di usia yang mau 40 tahun ini, saya kadang menyesali keadaan. Bukan tentang keadaan harta saya, tapi keadaan kemudahan berinvestasi pada zaman now. Kalau kemudahan ini sudah ada sejak dahulu kala, mungkin saya bisa sedikit lebih kaya.
Saya sebenarnya sudah tidak muda. Saya lebih tua daripada Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, tapi kebetulan saya masih lebih muda puluhan tahun daripada Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia. Hehe. Jadi, tulisan ini lebih ke arah perspektif investasi ketika masih muda dulu dibandingkan keadaan sekarang yang sudah agak tua.
Pada 2 tahun pertama bekerja, saya betul-betul tidak punya simpanan. Mengerikan, memang, tapi itulah realitanya. Saya juga kagum sendiri kok saya bisa sebodoh itu menghabiskan uang hanya untuk mengunjungi pacar yang kemudian hanya jadi mantan. Eh.
Sesudah putus pada tahun ketiga bekerja, saya baru mulai bisa menata pendapatan sedikit. Bersamaan dengan cicilan rumah, saya mulai merambah investasi Reksa Dana pada usia yang sudah agak terlambat. Waktu itu, untuk bisa melanggan Reksa Dana masih sulit karena harus beli produknya ke bank langsung. Nggak bisa online! Investasi berikutnya yang bisa online. Bagi pegawai pabrik sesungguhnya kebijakan semacam ini merepotkan. Walhasil, saya beli saja empat produk dari empat jenis RD sekadar punya saja biar tiap bulan saya bisa suka-suka mau top up yang mana.
Hasilnya? Walaupun saya nggak kaya-kaya amat, tapi uang di RD itu menjadi penambal kehidupan ketika dengan sadar saya memilih pekerjaan baru dengan gaji separo dari pendapatan di pabrik. Termasuk juga bisa menambah biaya nikah.
Bagi yang belum paham, Reksa Dana itu kurang lebih seperti menaruh uang kita untuk dikelola oleh Manajer Investasi. Para Manajer Investasi tersebut akan bekerja menempatkan uang kita pada instrumen-instrumen yang relevan. Ya, kalau Reksa Dana Pasar Uang, maka akan ditempatkan di pasar uang. Jika RD yang kita beli adalah Saham, maka Manajer Investasi akan menempatkannya di saham.
Keunggulan RD adalah uang kita tidak ditaruh di satu jenis produk, terutama untuk saham. Jadi beda sekali dengan main saham yang harus dipandangi setiap waktu dan cukup makan energi. Ketika ditaruh di beberapa jenis saham maka potensi untuk plus cenderung lebih besar daripada minusnya.
Sekarang, berinvestasi sudah tidak sesulit harus izin ke bank. Telah muncul berbagai platform yang membantu anak muda terutama kaum rebahan untuk bisa berinvestasi bahkan sambil rebahan itu tadi. Salah satunya adalah Ajaib. Melalui platform yang disediakan Ajaib, seorang investor muda bisa berinvestasi dengan sangat mudah dan tentu saja murah.
Salah satu ketakutan anak muda untuk terjun di kancah perinvestasian reksadana–apalagi saham–adalah takut rugi. Ngomong rugi, tentu saya jadi ingat portofolio saham saya yang lagi hancur-hancuran merahnya itu. HAHA. Nah, sebagai pemula yang umumnya selera risikonya rendah dan emoh rugi, Ajaib menyediakan fitur bernama Paket Investasi. Hal semacam ini belum ada pas saya mula-mula berinvestasi dulu.
Begitulah, dengan segala kebutuhan akan cuan, nyatanya sampai sekarang berdasarkan data Ajaib, hanya 0,4 persen penduduk Indonesia yang sudah berinvestasi. Terbukanya saluran-saluran investasi yang lebih mudah tentu menjadi solusi, termasuk dengan adanya Ajaib di dalamnya.
Oya, satu hal yang pasti, bagaimanapun kita investasi demi cuan, bukan bablas. Untuk itu, kita harus juga mengecek terlebih dahulu apakah suatu platform telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum. Sebagai pengawas intern, saya mah paham bahwa suatu platform sudah diawasi itu kinerjanya nggak akan neko-neko.
Ada banyak metode membuat uang beranak, salah satunya adalah dengan investasi di Reksa Dana. Investasi lain ya juga banyak, sampai ada juga orang yang menyebut Bitcoin sebagai investasi meskipun ya risikonya terbilang jauh lebih tinggi daripada main saham sekalipun. Satu hal yang penting, uang kalau ditabung doang itu sayang. Mending ditempatkan di produk-produk Reksa Dana, niscaya hal sepenting ini jika dilakukan dengan niat maka kelak ketika kita butuh duit, akan terasa begitu ajaib karena uang kita seolah-olah tiba-tiba banyak.
Destinasi yang dijuluki 10 Bali Baru adalah salah satu jualan pemerintah sejak tahun 2014 dengan tujuan menjaring lebih banyak wisatawan berkunjung ke Indonesia. Soalnya, sewaktu saya bersua beberapa orang di Hong Kong kurang lebih setahun silam, ternyata masih banyak juga persepsi bahwa yang cakep di Indonesia itu hanya Bali.
Wah, mereka belum pernah perjalanan dinas keliling Indonesia, sih.
Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Gunung Bromo (Jawa Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Labuan Bajo (NTT), dan Morotai (Maluku Utara) menjadi sembilan dari sepuluh Bali Baru tersebut.
Satu lagi? Aha, yang justru biasanya disebut paling duluan. Danau Toba!
Setiap anak yang menempuh pendidikan di Indonesia pasti paham Danau Toba. Setidaknya di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Danau Toba selalu disebut sebagai danau yang paling luas di Indonesia. Betapa tidak, dengan luas 1.145 kilometer persegi, Danau Toba sama luasnya dengan dua kali lipat Singapura.
Bayangkan bahwa di Indonesia ada dua Singapura yang isinya air semua. Semenakjubkan itulah danau yang terbentuk oleh super volcano bertahun-tahun silam. Sama menakjubkannya dengan fakta bahwa letusan Gunung Toba memuntahkan 2.800 kilometer kubik bahan vulkanik dan sampai menyebabkan perubahan iklim dengan masuknya planet bumi ke periode es. Asli, sangar.
Masalahnya adalah–ya namanya juga produk super volcano–Danau Toba itu berada di tempat yang aksesnya aduhai. Harus mendaki gunung dan lewati lembah sebagaimana Ninja Hatori. Itulah sebabnya, saya yang punya kampung sebenarnya tidak jauh dari Danau Toba, baru bisa menjejakkan kaki pada dinginnya air Danau Toba pada usia 20-an akhir ketika hendak menikah dan menggelar ziarah ke kuburan Opung di Dolok Sanggul.
Dahulu, tempat paling kondang untuk berlibur di Danau Toba adalah Parapat, sebuah kelurahan di Kabupaten Simalungun. Dinginnya Parapat ini sangat syahdu dan posisinya hanya 48 kilometer dari Kota Pematangsiantar dan tidak jauh-jauh betul dari Medan dan tentu saja bandara Polonia maupun Kuala Namu. Maka tidak heran kalau Parapat menjadi salah satu akses paling ramai untuk mengunjungi Danau Toba.
Nah, dalam upaya menunjang 10 Bali Baru, pemerintah bergerak gesit. Danau Toba kan luasnya nggak kira-kira, masak sih aksesnya hanya dari Parapat saja? Walhasil, sebuah bandara sukses dioptimalkan menjadi saluran baru untuk mengunjungi Danau Toba. Bandara Internasional Sisingamangaraja XII atau yang dikenal sebagai Bandara Silangit adalah jawabannya. Berlokasi di Siborong-Borong, bandara ini menjadi akses udara paling dekat ke Danau Toba, tepatnya ke Balige.
Baik Balige maupun Siborong-Borong ini terletak di Kabupaten Toba Samosir. Keberadaan Bandara Silangit nyatanya telah membantu terbukanya akses wisatawan ke Danau Toba sisi Toba Samosir ini namun juga dapat menjadi akses jika ada yang hendak ke Parapat, yang notabene telah lebih dahulu dikenal.
Di Toba Samosir sendiri kita bisa menikmati berbagai wisata alam berbasis bukit, suasana sejuk, dan pemandangan menakjubkan dari Danau Toba. Tidak hanya itu, Hotel Murah di Toba Samosir juga ada aksesnya, secara online pula.
Berikut beberapa destinasi ciamik yang bisa dinikmati di Toba Samosir:
1. Huta Gurgur
Sumber: Instagram @travelmatesiantar
Terletak di Kecamatan Tampahan, lokasi Desa atau Huta Gurgur hanya 10 kilometer dari Bandara Silangit. Dari tempat ini, kita bisa melihat lokasi wisata Meat dan tentu saja pemandangan Danau Toba nan indah, suasana alam yang segar, dan hamparan sawah hijau.
2. Pantai Meat
Sumber: pariwisatasumut.net
Sebagaimana disebut tadi bahwa pariwisata di Toba Samosir pasti mayoritas berbasis Danau Toba, termasuk Pantai Meat ini. Salah satu keunggulannya adalah airnya yang sangat jernih bahkan bisa dipakai untuk menyelam. Tapi ingat, secakep apapun Danau Toba ini air tawar sehingga teknik berenangnya harus disesuaikan, yha.
3. Museum TB Silalahi Center
Dokumentasi Pribadi
Nama TB Silalahi di Balige itu moncer setengah mati. Salah satunya adalah melalui Museum TB Silalahi Center. Di tempat ini, selain dapat mengetahui sejarah karir seorang TB Silalahi yang malang melintang sebagai pejabat di beberapa era, kita juga bisa belajar sejarah Batak.
Plus, karena letaknya juga tidak jauh-jauh dari Danau Toba, maka tentu saja bonusnya adalah pemandangan Danau Toba. Kebetulan, waktu itu sempat mampir jadi ada fotonya.
4.Sungai Asahan
Sumber: pedomanwisata.com
Yang satu ini tidak berbasis Danau Toba secara langsung dan sangat cocok untuk yang hobi arung jeram. Pemerintah setempat menyebut bahwa lokasi arung jeram di Sungai Asahan adalah yang terbaik ketiga di dunia sehingga tempat berjarak 70 kilometer dari Balige ini dapat menjadi destinasi yang menawan bagi traveler.
5. Pantai Ajibata
Sumber: Tribunnews.com
Sebenarnya yang ini sudah berbau-bau Parapat karena memang lokasinya yang 60 kilometer dari Balige dan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun. Jadi ya memang arah Parapat. Di Ajibata ini ada lokasi penyeberangan ke Pulau Samosir. Pantainya juga cukup lengkap dengan sepeda air, speed boat, dll.
Sebagaimana disebutkan tadi, salah satu keistimewaan zaman now adalah kemudahan mencari penginapan. Sudah bukan lagi zamannya harus menyimpan nomor hotel-hotel terdekat untuk booking, sementara kalau musim liburan kan juga harus rebutan pesan hotel. Saya sendiri juga sempat mengalami kesulitan dalam booking hotel ketika berkunjung ke Balige beberapa tahun silam karena memang pilihannya yang bisa pesan seperti di kota-kota besar dengan standar kamar yang memadai juga terbatas.
Kini, OYO Hotels Indonesia juga telah menjangkau Toba Samosir dengan beberapa pilihan hotel yang asyik, bukan sekadar ada di kota-kota besar Indonesia saja. Harga dan standar kamarnya juga tentu saja menggunakan standar yang sudah cukup tinggi khas startup unicorn asal India ini. Jadi, tidak ada kekhawatiran kita akan tinggal di tempat yang nggak kece ketika liburan di Toba Samosir.
Salah satu kenikmatan dan ketidaknikmatan hidup zaman sekarang adalah begitu banyak makanan enak. Masalahnya, enak itu belum tentu baik untuk perut. Begitulah, kalau saya lagi beli celana itu suka sedih karena jadinya saya harus mendapati dan meyakini bahwa perut saya itu buncitnya nggak karuan.
Pelan-pelan, saya mendapati bahwa penyebab buncit itu salah satunya adalah karena pencernaan saya tidak sehat. Tidak sehat maka tidak lancar. Ya bagaimana tidak buncit kalau input jauh lebih banyak dari output? Suram sekali.
Cuma, kalau mau meniadakan input itu rasanya saya sekali. Lha, kalau saya posisi sedang di Kupang dan diajak ke Kampung Solor yang kelezatan ikannya tiada tanding itu, masak mau ditolak? Dalam dilema itu, saya kemudian mendapati salah satu solusi kehidupan.
Jadi, kalau malamnya saya makan enak di suatu tempat, maka pagi harinya ketika breakfast di hotel saya mengurangi makan besar dan memperbanyak yogurt. Pada beberapa hotel, terutama yang besar, yogurt itu adalah hidangan wajib yang biasanya diletakkan dekat buah-buahan.
Ditulis dalam artikel ‘Get health benefit from fresh yogurt‘ yang dimuat pada Spartanburg Herald-Journal (Februari 2013) bahwa yogurt lebih dari sekadar snack sehat. Di Amerika dan Eropa, yogurt digunakan sebagai mayones dalam salad maupun saus untuk ikan, steak, atau ayam. Di India, Timur Tengah, maupun Eropa Timur, yogurt juga dikenal sebagai minuman yang kadang-kadang asin, manis, memiliki rasa buah, atau bahkan dicampur dengan tanaman segar.
Yogurt telah lama dikenal sebagai salah satu jenis pangan yang digunakan untuk menjaga kesehatan pencenaan. Bakteri baik melindungi saluran pencernaan dan mencegah bakteri jahat bekerja, hal itu sudah dibuktikan oleh begitu banyak penelitian. Bahkan pernah disebut bahwa mengonsumsi yogurt bisa menghindarkan diri dari peluang sakit hingga 2/3.
Nah, kalau sedang tidak di hotel, kadang-kadang hal ini menimbulkan masalah baru karena saya nggak bisa bikin yogurt. Untung sekarang ada Yoforia, fresh yogurt yang memiliki live probiotics serta tidak melalui proses apapun lagi setelah menjadi yogurt alias tidak dipanaskan lagi, sehingga bakteri baik dapat tetap hidup dan manfaat yogurt-nya tetap terjaga.
Sebagaimana diketahui, Yoforia menggunakan live probiotics yang berfungsi membantu mencerna makanan dengan nutrisi terserap optimal karena banyaknya bakteri non-probiotik cenderung membuat pencernaan tidak lancar. Lebih lanjut lagi, live probiotics pada Yoforia adalah khusus sehingga rasa yang dihasilkan tidak terlalu asam dan lebih creamy.
Mohamed Zommiti, Michael L. Chikindas, dan Mounir Ferchichi pada artikelnya yang berjudul ‘Probiotics–Live Biotherapeutics: a Story of Success, Limitations, and Future Prospects–Not Only for Humans‘ dalam jurnal Probiotics and Antimicrobial Proteins menyebut bahwa setelah mengerahkan aksi baik mereka di saluran pencernaan, probiotik akan mencapai pintu keluar usus bersama dengan mikroorganisme usus lainnya. Pada perjalanan itu, bagian utama dari bakteri probotik akan mati karena pertumbuhan dan proses proliferasi–atau sederhananya perbanyakan–mereka sangat dipengaruhi oleh persaingan dari mikroorganisme lain di usus besar. Probiotik sebagian besar sudah dipecah dan dicerna sebagaimana nutrisi organik lain dalam usus dan kemudian dibuang bersama dengan feses. Jadi, sudah jelas bahwa live probiotics itu aman lahir batin.
Selain itu pula, Yoforia mengandung dietary fiber dari buah jeruk alami. Dietary fiber ini teksturnya lebih lembut dan cocok untuk diet dalam artian bikin kenyang lebih lama sehingga dapat mengurangi input.
Terakhir, Yoforia adalah fresh yogurt dengan banyak varian rasa yang unik. Bahkan ada rasa kopi segala. Adapun sebagaimana produk minuman lainnya, rasa yang paling saya gemari adalah leci dan kebetulan Yoforia merilis rasa terbaru Lychee Blast. Bagi saya, apapun yang dikasih rasa leci itu auto-enak.
Oya, bonus informasi, Yoforia juga sudah memenuhi kaidah-kaidah pendaftaran produk pangan yang benar. Buktinya, pada kemasan Yoforia sudah ada 2D Barcode yang dapat di-scan pada aplikasi BPOM Mobile dan hasilnya adalah seperti ini:
This slideshow requires JavaScript.
Jadi, mengingat sebagai konsumen cerdas saya harus cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Tanggal Kedaluwarsa, maka bagian terakhir ini menjadi faktor penentu untuk bisa mengeksekusi Yoforia dari kulkas toko ke kasir demi mencapai healthy life~
Sudah mau akhir tahun, sudah menang berapa lomba? Kalau belum ada–kayak saya–boleh coba beberapa lomba lagi, nih. Masih banyak juga daftarnya ternyata.
Deadline: 8 November 2019
Pengumuman: 11 November 2019 (pada tanggal 11 November 2019, websitenya diperbaharui lagi dan berakhir di bulan Desember 2019. Hehe.)
Hadiah:
Juara 1 Uang Tunai Rp750.000
Juara 2 Uang Tunai Rp500.000
Juara 3 Uang Tunai Rp250.000
Hadiah:
Juara 1: 7 Juta Rupiah
Juara 2: 4 Juta Rupiah
Juara 3: 2 Juta Rupiah
Semua peserta mendapat diskon menginap di Hotel OYO sebesar 70% satu malam, bebas pilih kota dan tanggal menginap
Perjalanan dengan menggunakan Kereta Api buat saya tetap merupakan perjalanan yang sangat menyenangkan. Apalagi dibandingkan dengan menggunakan bus sejak pengalaman Cikarang-Jogja hampir sehari penuh dahulu kala. Pantas jika ingin melakukan perjalanan darat banyak orang yang lebih memilih menggunakan kereta api karena ya itu tadi, lebih nyaman dan cepat. Sekarang sih bus sudah pada bagus ya, tapi terkadang ada juga penumpang yang tidak nyaman menggunakan bus karena bikin mual dan pusing saat perjalanan, berbeda dengan menggunakan kereta api. Dengan kereta api guncangan yang terasa sangat minim itulah yang menyebabkan penumpang jarang merasa mual dan pusing. Selain itu dengan kereta api juga lebih cepat dan terasa lebih nyaman, dengan adanya fasilitas yang ada di dalam kereta api tersebut.
Ketika kita hendak melakukan perjalanan dari kota Solo ke Jakarta atau sebaliknya maka kita biasanya akan menggunakan kereta api bernama Argo Lawu karena memang kereta api tersebut adalah kereta api yang melayani perjalanan dari Solo ke Jakarta dan sebaliknya. Argo Lawu termasuk Kereta Api eksekutif, sehingga saat memilih menggunakan kereta api tersebut saat perjalanan Solo–Jakarta maka kita bisa menikmati kereta api dengan fasilitas yang sangat baik, karena pada dasarnya hampir seluruh kereta api di Indonesia saat ini sudah dilengkapi dengan fasilitas yang lebih baik. Termasuk kalau kita menggunakan kereta api kelas ekonomi sekalipun, rasanya akan tetap nyaman. Untuk kereta api bernama Argo Lawu yang melayani rute Solo–Jakarta, maka dalam perjalannya akan menempuh jarak sekitar 571 km dan menghabiskan waktu selama 8,5 jam.
Sumber: skyscrappercity.com
Jadwal Perjalanan Kereta Api Argo Lawu
Saat hendak menggunakan kereta api argo lawuuntuk mengantarkan kita dari kota Solo menuju ke Jakarta maka kita bisa menuju ke Stasiun Balapan sik jadi kenangan kowe karo aku di kota Solo, kereta akan berangkat pada pukul 08.00 WIB di pagi hari dan nantinya sesuai jadwal akan tiba di stasiun Gambir, Jakarta pada pukul 16. 27 WIB di sore hari. Selama perjalanan, kereta api tersebut akan berhenti di beberapa titik stasiun yang dilewatinya seperti di stasiun Klaten, Yogyakarta, Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan terakhir berhenti di stasiun Gambir. Selama melewati stasiun-stasiun tersebut tentunya akan ada penumpang yang turun dan juga naik, namun proses tersebut tidak akan memakan waktu yang begitu lama. Sedangkan bagi yang ingin berangkat dari Jakarta menuju ke Kota Solo, maka kereta api ini akan diberangkatkan pada pukul 20.15 WIB di malam hari dan nantinya sampai di Kota Solo pada pukul 04.45 WIB di pagi hari. Selama perjalanan, kita akan disuguhi berbagai pemandangan indah seperti misalnya pegunungan di Banyumas, pemandangan di Kali Serayu dan juga Kali Progo . Untuk harga tiketnya, kita bisa membelinya dengan kisaran harga dari Rp 285.000 sampai Rp 380.000, harga tiket ini bisa berbeda tergantung sub kelas yang diambil, posisi tempat duduk dan hari disaat kita membeli tiket, jika kita membelinya saat sudah dekat dengan hari raya maka harga tiket menjadi mahal.
Informasi Menarik Tentang Kereta Api Argo Lawu
Kita tentunya tidak asing dengan nama Lawu bukan? Sebab Lawu adalah nama gunung yang berada di Surakarta atau lebih dikenal sebagai gunung Lawu. Sedangkan kata Argo memiliki arti harga yang biasanya digunakan untuk mewakili kereta api dari PT KAI yang memiliki layanan tertinggi. Dulu pada awalnya kereta api ini dikenal dengan nama Kereta Api Solo Jaya, lalu namanya diubah menjadi kereta api bernama Argo Lawu yang kita kenal saat ini. Kereta api ini mulai digunakan pada tahun 1996 dan sejak saat itu selalu melayani rute perjalanan Solo – Jakarta hingga saat ini. Saat kita menggunakan kereta api yang satu ini maka kita bisa mendapatkan fasilitas seperti gerbong yang full AC, terdapat TV LCD, toilet dan kursi yang bisa disesuaikan posisinya sesuai dengan kenyamanan kita sendiri. Di setiap kursi penumpangnya pun tersedia beberapa fasilitas yang mendukung kenyamanan penumpang seperti meja lipat, pijakan kaki, stop kontak dan juga lampu baca untuk Anda gunakan.
Per 24 Oktober, film Susi Susanti akhirnya tayang di bioskop. Belum banyak bioskop yang menyediakan lapak, karena masih ada Maleficent yang cukup menyita tempat, plus Perempuan Tanah Jahanam yang ternyata lumayan juga. Di beberapa tempat, posisi film masih dipegang Ajari Aku Islam-nya Roger Danuarta. Di CGV FX Sudirman, Pacific Place, maupun Transmart Cempaka Putih juga belum tayang.
Ya semoga habis ini bertambah.
Film ini murni mengambil kisah Susy Susanti, sosok besar dalam dunia badminton Indonesia. Susy memegang peranan penting dalam kebangkitan badminton putri Indonesia pada masanya, sesuatu yang sampai sekarang masih belum kembali lagi.
Alurnya dibawakan urut ketika Susy masih kecil dan menang tanding badminton lawan cowok sampai berakhir ketika Susy hamil, setahun sesudah pernikahannya dengan Alan Budikusuma. Beda dengan biopik lain seperti Bohemian Rhapsody yang ada momen terbalik-baliknya.
Sebagai sebuah film yang diambil dari kisah nyata dan melibatkan bahkan hingga Liang Chiu Sia asli dalam prosesnya, tentu tidak ada detail peristiwa yang begitu mengganggu. Yang agak aneh ada juga, sih. Nanti saya kisahkan.
Secara umum, sebagai Badminton Lovers, film ini cukup bikin terharu. Meski demikian, kiranya ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.
Pertama, film ini tampak bingung karena ada begitu banyak momen penting yang ingin diangkat. Dua diantaranya adalah final Sudirman 1989 dan final Olimpiade Barcelona 1992. Final Sudirman diangkat karena laga itu memang sangat dramatis dan jadi tonggak beralihnya Susy dari junior ke senior, melewati Sarwendah–seniornya. Sayangnya, final yang itu justru kebanting dengan final Olimpiade yang tampak jadi numpang lewat. Padahal di teaser, adegan Susy menangis di podium adalah yang diangkat.
Kebingungan juga terjadi karena Susy memang secara prestasi memuncak dari 1989 sampai menikah di 1997. Sementara, film ini ingin membawa konflik persoalan identitas Tionghoa sampai ke 1998 yang merupakan tahun terakhir Susy berkarir sebagai pemain. Jadi momen puncaknya tampak wagu karena di 1998 itu yang menang adalah Piala Thomas…
…yang sudah nggak ada Alan-nya, tapi di film masih ada. Itu ngapain Alan pakai baju atlet segala di Hong Kong padahal sudah era Marleve Mainaky?
Menurut saya, yang rasanya lebih cocok sebagai puncak adalah Piala Uber 1994 atau 1996. Tapi itu tentu tidak bisa ditempel dengan konflik 1998 jadinya. Masalahnya memang mengkombinasi perkara status WN Liang Chiu Sia dan Tong Sin Fu dengan SBKRI para atlet ke kerusuhan 1998 butuh effort lebih untuk kesempurnaan dan itu menjadi agak kurang di film ini.
Kedua, ada beberapa detail yang kurang pas terutama tentang karir Alan sesudah 1992. Ketika dia masih nongol di Hongkong pada 1998 malah jadi aneh karena di usia segitu Alan sudah tidak ikut timnas lagi. Tampaknya sutradara juga sadar makanya adegannya nggak yang banyak dan penting sekali.
Ada kebingungan untuk memasukkan Alan dalam kisah Susi padahal momen puncak keduanya memang berbeda. Alan cenderung berjaya dengan Olimpiade 1992 sebagai puncak, sedangkan Susi cenderung baru memulai. Ingat, Alan dan Susi itu berselisih 3 tahun. Dan pada waktu itu, usia 25 tahun untuk atlet cowok sudah bisa dibilang tua. Kita tahu di zaman now paling hanya ada Chou Tien Chen dan sekarang Shesar Hiren Rhustavito yang merangkak naik di usia 25 tahun.
Ketiga, salut kepada kru film dan kepada Laura Basuki yang di usianya pas syuting, 30 tahun mau 31, sukses memerankan Susy sejak usia belasan sampai 28 tahun! Cantik bener, sih, Mbak.
Keempat, ya soal teknik badminton para aktor dan atrisnya, sudahlah ya. Laura Basuki segitunya sudah langsung dilatih Liang Chiu Sia yang asli, lho. Tapi ya namanya keluwesan badminton itu butuh bertahun-tahun. Saya ingat sekali Pak Ipang, dosen saya, yang karir badmintonnya seangkatan Chandra Wijaya, itu saking luwesnya dengan badan yang sudah membesar tetap tangannya ajaib betul. Saya tanding dua lawan satu dengan beliau yang bahkan pakai raket anaknya, tetap kalah. Wagelaseh.
Kelima, film ini membuka luka lama para BL lawas tentang sosok Tong Sin Fu. Dengan segala yang sudah dia berikan ke Indonesia, status kewarganegaraannya tidak kunjung diperoleh dan akhirnya dia kembali ke Tiongkok untuk menelurkan, salah satunya, Lin Dan. Sementara Indonesia sesudah era Taufik Hidayat, mengalami kevakuman prestasi. Sekarang mulai tampak bibit unggul dalam diri Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie, tapi ya mereka berdua masih belum konsisten. Mimpi para BL bahwa sektor tunggal putra kita seperti era 90-an dengan lebih dari 2 andalan yang saling bunuh di tiap kejuaraan pada era Pak Tong masih jauh panggang dari api.
Apapun, sebagai BL saya tetap terharu pada film ini. Saya menantikan sekali besok-besok ada film berjudul Dewa Hendra atau Tangan Petir Kevin. Tentunya setelah segala periode prestasi dilalui, yha.
Sebagai Bapak Millennial merangkap bapak kuliahan, waktu saya dengan anak lanang semata wayang terbilang terbatas. Sebuah kondisi yang bikin sedih, apalagi di usianya yang Terrible Two seperti sekarang ini, ketika setiap hari dia punya kemampuan baru yang bikin takjub.
Berhubung keluarga kecil saya tinggal di Tangerang Raya dan kendala waktu itu tadi, maka opsi terbaik adalah memanfaatkan waktu weekend untuk bermain bersama Isto. Dan sebaiknya juga nggak jauh-jauh, selain karena mahasiswa kan identik dengan kemiskinan, kasihan juga kalau waktu terbatas hanya habis untuk perjalanan.
Cari punya cari, akhirnya saya dan Mama Isto mendapati sebuah opsi menghabiskan weekend yang menarik. Untunglah zaman sekarang ada Traveloka Xperience sebagai solusi untuk mencari hiburan dan liburan tipis-tipis, baik di tempat yang jauh maupun di sekitar rumah.
Buat yang belum begitu tahu Traveloka Xperience, sesungguhnya pasti sudah tahu tapi nggak ngeh saja. Traveloka Xperience adalah pengembangan dari menu Traveloka yang dahulu terkait dengan aktivitas dan hiburan. Jadi kalau dulu beli dalam rupa event-event, nah sekarang khusus untuk yang berbau-bau experience dijadikan satu di Traveloka Xperience sehingga menjadi #XperienceSeru. Dalam lini aktivitas dan hiburan kita juga mengenal Traveloka Eats.
Sebagaimana juga Traveloka yang untuk beli tiket dan booking hotel, sesudah membuka Traveloka Xperience, kita bisa masuk melakukan pencarian dengan interface yang mudah. Untuk tempat-tempat banyak keluarga muda seperti Bogor dan Tangerang Selatan, bahkan ada pencarian cepatnya. Saya menemukan beberapa opsi dan bisa melakukan evaluasi harga karena informasi harga berikut promonya ditampilkan dengan transparan.
Pilihan saya dan istri kemudian jatuh ke Miniapolis BSD. Pertama, tentu saja lokasinya yang nggak jauh-jauh amat dari rumah. Cukup naik taksi daring menuju AEON. Ya, Miniapolis BSD memang terletak di AEON Mall BSD City, tepatnya di lantai 2. Mal dengan identitas Jepang ini memang merupakan salah satu tempat paling hits se-Tangerang Raya sejak kehadirannya.
Miniapolis AEON BSD menghadirkan area bermain anak nan begitu lengkap. Ada Doodles Mini Kitchen yang bisa melatih kemampuan motorik dan kreativitas anak dengan memasak dan menghias kue. Di sini ada peralatan masak untuk anak-anak sehingga anak bisa dilatih untuk belajar memasak. Cita-cita Mama Isto agar Isto jadi master chef junior kiranya bisa dioptimalkan melalui medium ini.
Oya, untuk orangtua jangan lupa membawa kaos kaki, demikian pula dengan anak. Kita nggak mau kan main di wahana kotor? Kalau nggak mau, ya setidaknya jangan jadi pengotor juga. Hehe.
Di bagian dalam dari Miniapolis, Isto begitu gembira. Sebab, ada banyak permainan yang begitu dia sukai dan terutama ya lapak cukup luas untuk lari-larian dan panjat-panjatan. Kalau diingat, anak ini baru bisa jalan di usia 14 bulan. Kala itu saya nggak terlalu khawatir ketika dia tertinggal dua bulanan dari teman-temannya yang sudah bisa jalan di usia 1 tahun pas.
Ya, kalau anak belum bisa jalan tapi tidak ada kendala medis, tenang saja. Jadikan itu momen untuk persiapan. Sebab, begitu anaknya sudah bisa jalan dan kemudian lari…….
….giliran bapaknya yang encok pegal linu.
Miniapolis menyediakan sarana bermain untuk anak di bawah 12 tahun. Artinya, ada anak dari rentang usia baru bisa jalan sampai rentang usia sedikit lagi puber. Penting bagi orangtua untuk mengawasi anak-anaknya.
Bukan apa-apa, mungkin karena bosan di tempat mandi bola bocah, si Isto sempat-sempatnya kabur ke area mandi bola anak gede. Saya yang takut dia ketiban atau keinjak kakak-kakaknya. Heuheu. Saya juga sempat baca sih review dari orangtua yang malah nulis macam-macam karena anaknya luka. Duh, Pak, Bu, namanya juga tempat bermain umum, bukan berarti anak kita lepas liarkan sambil kita buka HP dan haha-hihi. Tetap dijaga dong~
Foto.
Selain mandi bola, ada mini trampoline, ada beberapa sepeda mini, hingga ada juga bola dan gawangnya. Bagi orangtua, ini juga momen melihat pergaulan anak karena mereka akan bertemu teman-teman sebaya. Kalau anak saya sih, bukan sekadar bersosialisasi lagi. Dia malah mbathi.
Beberapa poin penting lain dari main di Miniapolis AEON BSD bersama Traveloka Xperience adalah bahwa tiket masuk itu bisa digunakan untuk wara-wiri seharian penuh. Jadi, jika lapar dan haus, bisa makan dulu untuk kemudian masuk lagi. Sebuah aspek menarik untuk harga yang juga menarik, terutama kalau beli lewat Traveloka. Plus, tiketnya sepaket dengan naik kereta api keliling lantai 2. Dua privilese ini tidak kami manfaatkan karena dua alasan.
Pertama, saya ngejar penerbangan untuk berangkat kerja di sore hari. Kedua, bayi saya keburu lelah di dalam jadi nggak sempat lagi merasakan naik kereta yang sebenarnya adalah kesukaannya.
Oh iya, jika memang tidak tinggal di Tangerang, Traveloka Xperience menyediakan banyak sekali pilihan untuk sekadar mencari pengalaman seru lewat berbagai wahana yang tersedia, berikut promo-promonya. Yakin nih nggak mau?
Mengapa domain penting untuk bisnis? Pertanyaan mendasar itu tentunya berkelindan di benak banyak orang, terutama pelaku bisnis zaman sekarang. Bukankah sudah ada media sosial? Masak nggak cukup?
Sebelum sampai pada 7 alasan mengapa domain penting untuk bisnis, pertama-tama mari kita mengenali domain itu sendiri.
Apa Itu Domain?
Secara sederhana, domain dapat disamakan dengan alamat suatu tempat di internet. Jika kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ada di Jalan Veteran III Jakarta, maka orang-orang yang ada perlu dengan BPIP pasti akan mampir ke Jalan Veteran III tersebut.
Nah, dalam konteks internet, alamat BPIP adalah di bpip.go.id, yang artinya jika orang-orang ada perlu dengan BPIP maka akan mampir ke bpip.go.id. Karena ini internet, maka mampirnya nggak perlu pakai ojek online segala macam. Sambil tidur-tiduran juga bisa.
Penamaan domain adalah identik, sehingga tidak akan ada dua domain ariesadhar.com, misalnya, yang eksis di dunia ini. Dan seperti sewa rumah, domain itu ada masa kontraknya.
Misal, beberapa waktu silam saya punya domain fplngalorngidul.xyz yang ketika jatuh tempo tidak saya perpanjang. Sesudah periode itu, domain tersebut jadi vacant dan bisa saja diambil oleh orang lain, meskipun sebelumnya saya sudah mencitrakan diri sebagai pemilik domain itu.
Apa Itu Ekstensi Domain?
Kita mengenal Top Level Domain (TLD) yang dikenali dari ekstensi akhir sesudah dot berupa tiga huruf atau lebih. Pengecualian untuk hal ini adalah penggunaan ekstensi .mil yang khusus untuk mililter dan .gov yang khusus untuk pemerintahan (government).
Beberapa contoh TLD yang kita kenali adalah .com atau .org. Di Indonesia belakangan ramai juga .tv dan .co sebagai TLD yang jamak digunakan.
Ada juga yang disebut country code Top Level Domain atau ccTLD. Biasanya dikenali dengan identitas berupa kode masing-masing negara. Seperti Malaysia dengan .my atau Singapura dengan .sg, dan Indonesia dengan .id.
Penggunaan di Indonesia sudah tentu kita kenali, seperti .id untuk penggunaan masif personal, komunitas, hingga bisnis. Ada juga yang sudah lama kita kenali dalam rupa .co.id dan .or.id. Penggunaan untuk kampus, misalnya UI dengan alamat ui.ac.id. Demikian pula dengan akun-akun pemerintah seperti bpip.go.id atau kemenkeu.go.id.
Bagaimana Dengan Domain Gratis?
Yang dijelaskan dengan TLD itu tadi pada umumnya adalah berbayar. Kalau hanya sekadar ingin lapak atau domain, tentunya kita bisa mendapatkannya dari internet, antara lain melalui blogger.com dengan ekstensi .blogspot.com maupun juga di WordPress dengan ekstensi .wordpress.com.
Jadi ingat dulu blog ini bermula ya dari ariesadhar.wordpress.com juga. Si FPL Ngalor Ngidul sebelum jadi fplngalorngidul.xyz juga adalah fpl-ngalorngidul.blogspot.co.id.
Hanya saja, kalau iseng-iseng kita cermati jika terima SMS penipuan undian berhadiah, maka umumnya memakai domain-domain gratis seperti undianberhadiah.blogspot.com dan sejenisnya. Selain itu, siapapun bisa bikin domain untuk kemudian ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.
Pada intinya adalah kredibilitas. Dengan penggunaan domain TLD, suatu entitas, baik usaha atau hanya sekadar personal seperti saya, akan lebih meningkat kredibilitas peredaran di dunia maya daripada dengan domain gratis.
Manfaat Domain Untuk Bisnis
Sesudah membahas domain, mari kita langsung fokus ke manfaat untuk bisnis itu tadi. Supaya tidak berkepanjangan seperti pacaran beda agama~
1. Terhubung Dengan Mesin Pencarian
Sekarang ini, setiap kali kita ingin tahu sesuatu, maka larinya pasti ke Google. Bayangkan jika secara sekilas orang mendengar bisnis kita dan ingin tahu lebih lanjut tapi tidak bisa menemukannya di mesin pencari Google maupun yang lain karena kita tidak menyediakan rumah di internet? Sudah jelas, opportunity loss!
Rheinald Kasali bilang era sekarang adalah era disrupsi, ketika masyarakat mengeser aktivitas di dunia nyata ke dunia maya alias internet. Jadi, di era sekarang, kalau sebuah bisnis tidak punya alamat di internet, maka bisa dihitung potensi pendapatan yang gugur.
2. Terlihat Sebagai Bisnis Kredibel
Domain itu berbayar sehingga menandakan keseriusan suatu bisnis untuk berkembang. Kita ingat dong beberapa tahun lalu dalam rangka quick count Pemilihan Presiden ada beberapa lembaga dengan hasil yang berbeda. Meskipun yang berbeda ada beberapa lembaga, namun ada satu yang paling kena bully.
Alasannya? Karena lembaga survei itu mencantumkan alamat dengan domain wordpress.com! Jadilah lembaga ini dipermalukan sana-sini, apalagi survei seperti itu kan uangnya besar, masak hanya bayar domain saja tidak bisa? Dimana kredibilitasnya?
3. Alat Bantu Branding
Sekarang ini sampai ke personal saja sudah menggunakan domain sebagai alat bantu branding, apalagi suatu entitas bisnis. Blogger kondang merangkap tukang koran di Oz, Farchan Noor Rachman, misalnya, punya efenerr.com dan identitas ‘efenerr’ itu digunakannya untuk akun media sosial lainnya. Dengan demikian personal branding-nya menjadi sangat ciamik.
4. Etalase Nyaris Tanpa Batas
Kalau kita punya bisnis di ruko, misalnya, ada keterbatasan ruang. Produk buku di toko terkemuka juga ada keterbatasan waktu untuk dipajang karena begitu nggak laku langsung turun. Sementara itu, tidak setiap saat orang ingin berkunjung ke toko.
Dengan adanya domain dan website, pelaku bisnis seperti punya etalase tanpa batas untuk memajang produknya, dari sisi apapun dengan informasi selengkap apapun, tanpa harus terkendala seperti di toko. Calon konsumen jadi lebih enak jika ingin tahu ini dan itu tentang suatu produk.
5. Mempermudah Akses ke Bisnis
Dengan domain dan website, maka setelah etalase diperlihatkan, ujungnya bisa saling kontak dengan informasi yang ditampilkan. Bayangkan jika tidak ada domain dan tidak tahu mau kontak siapa untuk membeli sesuatu yang ternyata dimiliki suatu bisnis?
6. Hemat Waktu
Percayalah, utak-utik domain dan website itu jauh lebih hemat waktu daripada harus promo sana sini di era disrupsi. Cukup satu periode waktu pasang informasi produk, waktu lainnya kita hanya perlu update. Bayangkan waktu yang bisa dihemat dalam hal ini?
7. Benefit Lebih Tinggi Dari Cost
Dalam teori Cost Benefit Analysis, sesungguhnya potensi benefit yang akan diperoleh jauh lebih tinggi daripada cost yang dikeluarkan untuk suatu domain, tentunya dengan sejalan dengan 6 hal yang juga telah dipaparkan di atas.
Jangan lupa, suatu alamat harus ada lahannya–yang di dunia internet dikenal dengan hosting. Jangan khawatir bahwa hosting ini akan menguras uang karena cukup banyak hosting murah yang bisa kita peroleh, antara lain melalui Rumahweb.
Ketika bicara tentang bencana, saya akan selalu teringat dengan dokumentasi pribadi saya yang satu ini:
Ya, hingga setahun kemudian, saya masih sangat ingat rasanya berada di atas jembatan kebanggan masyarakat Palu itu. Betapa ketika berdiri di anjungan, ada getaran yang cukup terasa ketika mobil melintas. Teringat juga betapa saya mengagumi keindahan Teluk Donggala dari atas jembatan yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melihat buaya yang tersangkut ban.
Kita semua tahu, bahwa jembatan itu, tepat 28 September 2018 sudah menjadi seperti ini:
Doa saya kepada para korban jiwa dalam gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya. Palu adalah tempat yang cukup istimewa buat saya pertama-tama karena rekan-rekan kerja saya di kota tersebut terbilang orang-orang baik dan sangat mudah diajak bekerja sama demi kepentingan organisasi. Jadi, saya tidak pernah mengalami pengalaman tidak mengenakkan di Palu. Semuanya baik, termasuk keindahan monumen Nosarara Nosabatutu, termasuk juga enaknya Kaki Lembu Donggala-nya.
Bencana Dalam Berbagai Perspektif
Oleh BNPB dan regulasi kebencanaan di Indonesia, bencana didefinisikan sebagai perisitwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Lebih spesifik, BNPB juga membagi bencana ke dalam tiga bagian. Pertama, bencana alam yang didefinisikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
Kedua, bencana non alam yang dimaknai sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
Ketiga, bencana sosial, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.
Dalam perspektif lain, sebuah buku berjudul Disaster Management mengklasifikasi bencana menjadi 2, yakni berdasarkan durasi waktu hingga terjadi bencana dan berdasarkan parameter yang memicu.
Berdasarkan durasi waktu hingga terjadinya, bencana didefinisikan sebagai Rapid Occuring Disasters dan Slow Occuring Disasters. Sedangkan berdasarkan parameter pemicunya, bencana dibagi menjadi bencana alam, bencana alam yang dipicu intervensi manusia, dan bencana yang secara khusus hanya dibuat oleh manusia.
Untuk memahami definisi bencana dari perspektif pemicunya, akan lebih mudah jika kita melihat infografis berikut ini:
Berdasarkan infografis di atas, sekilas kita bisa melihat bahwa manusia hanya tidak bisa ikut campur sebagai penyebab pada 1 jenis saja yaitu natural. Sisanya? Mau sedikit atau bahkan menjadi penyebab sebenarnya, peran manusia itu ada. Peran kita itu nyata.
Pengalaman Bencana
Hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006, saya ada jadwal ujian pukul 8 pagi. Belum lagi pukul 6 ketika saya terbangun oleh getaran yang cukup kencang. Karena saya besar di Bukittinggi, sebenarnya guncangan gempat sedikit-sedikit adalah hal yang biasa. Akan tetapi, pagi itu guncangannya begitu kencang.
Saya bergegas keluar sembari mengumpulkan kesadaran. Di depan kos saya ada sebuah bak air. Saya melihat belum bak air itu bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan menumpahkan air di dalamnya. Sesungguhnya, saya langsung sadar bahwa itu adalah gempa terbesar dan terlama yang pernah saya rasakan.
Ketika itu, status gunung Merapi yang posisinya dapat saya lihat dengan mudah dari kos juga sedang naik. Konteks tersebut yang kemudian membuat saya berasumsi bahwa gempa ini adalah karena gunung Merapi. Meskipun kemudian saya sadar bahwa gunung Merapi itu adalah gunung aktif dengan lubang pelepasan energi yang cukup besar. Artinya, sifat pergerakannya tidak akan membuat goncangan untuk lokasi belasan kilometer di selatan dengan intensitas sekencang itu.
Sumber: Kumparan
Sebelum kemudian listrik terputus, saya masih sempat menyalakan televisi untuk mendapat informasi sekilas bahwa gempa barusan bersumber dari arah selatan, bukan dari Merapi. Guncangannya memang ‘hanya’ 5,9 skala Richter. Namun, karena gempanya ternyata dangkal dan berada pada jalur yang padat penduduk, maka jumlah korbannya menjadi luar biasa banyak. Ada lebih dari 6 ribu korban tewas dalam peristiwa ini.
Hari-hari berikutnya, dunia tidak lagi sama untuk saya. Sesungguhnya dalam peristiwa itu, meskipun saya merasakan sekali goncangan yang terjadi, saya bukanlah korban, tidak pula terdampak.
Korban adalah orang/sekelompok orang yang mengalami dampak buruk akibat bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, penderitaan dan atau kehilangan jiwa. Korban dapat dipilah berdasarkan klasifikasi korban meninggal, hilang, luka/sakit, menderita dan mengungsi.
Penderita/terdampak adalah orang atau sekelompok orang yang menderita akibat dampak buruk bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, namun masih dapat menempati tempat tinggalnya.
Saya kemudian turut serta menjadi relawan di tiga rumah sakit besar di Yogya yakni RS Panti Rapih, RS Bethesda, dan RS Sardjito berikut satu posko bantuan Jesuit Refugee Service (JRS). Semuanya saya lakoni dalam waktu 2 pekan.
Pengalaman Recovery Bencana
Dalam 2 pekan tersebut, saya terlibat aktif dalam upaya recovery pasca bencana, utamanya dalam aspek kesehatan. Hari pertama adalah pekerjaan fisik, terutama pada gedung-gedung yang terdampak. Pada posisi ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya melihat mayat-mayat bergelimpangan. Itulah sebabnya saya bilang bahwa peristiwa itu tentu membuat hidup saya berbeda. Sebuah pengalaman introspektif yang luar biasa.
Hari-hari berikutnya, sebagai mahasiswa farmasi, saya dan teman-teman aktif di posko yang dibuka di rumah sakit. Mengelola bantuan, mendistribusikannya hingga ke perawat dan pasien, berbincang dengan pasien tentang kehilangan, hingga hal-hal remeh tapi menyebalkan khas bencana seperti obat bantuan yang kedaluwarsa dan dikirim pada tengah malam buta.
Pada tahun 2008, sebagai pungkasan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias, saya mendapat kesempatan terbang ke Nias guna menjadi bagian dari penyelesaian rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias empat tahun sebelumnya khusus pada area obat dan logistik medis.
Tidak jauh dari pengalaman sebelumnya, namun tentu berada di sebuah pulau yang sangat akrab dengan gempa menjadi pengalaman yang berbeda. Saya masuk ke berbagai Puskesmas yang ada di pulau Nias sembari menikmati jalan yang sudah mulus sebagai hasil rehabilitasi. Meski begitu, saya juga mendapati bahwa dalam sebuah proyek perbaikan yang sedemikian masif, masih sangat banyak hal-hal yang dirasa kurang, antara lain adalah pengelolaan pada obat-obat bantuan yang hingga 4 tahun pasca bencana memang masih ada distribusinya.
Di Nias pula saya melihat alam yang berubah. Dalam sebuah perjalanan ke Nias Selatan, saya tiba di sebuah pantai yang menurut kisahnya sebelum gempa adalah spot dengan ombak tinggi yang dicari oleh peselancar. Ketika saya dan rombongan sampai ke tempat itu, kisah tersebut sudah tiada. Gerakan gempa menjadikan tempat itu tidak lagi asyik untuk berselancar, meskipun kemudian posisinya berpindah ke sisi lain dari garis pantai. Ya, sebuah dinamika alam di negeri yang merupakan ring of fire.
Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita
Ketika tulisan ini dibuat, sebagian wilayah Indonesia, utamanya di Sumatera dan Kalimantan sedang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Berbasis data BNPB, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, kebakaran hutan bersama dengan banjir memang menjadi jenis bencana dengan frekuensi cukup besar kejadiannya di Indonesia.
Gempa, dan terlebih tsunami, terbilang jarang. Walau demikian, pada saat terjadi memang berdampak besar dalam konteks jumlah korban jiwa.
Hal yang menarik jika kita mengacu pada peran manusia dalam bencana sebagaimana literatur di atas adalah bahwa frekuensi yang paling banyak kejadiannya di Indonesia memanglah bencana-bencana dengan intervensi manusia yang sangat besar.
Artinya?
Ya, kita para manusia ini sebenarnya punya andil dalam terjadinya bencana. Tidaklah aneh ketika BNPB sebagai badan nasional yang diamanatkan menjalankan tugas penanggulangan bencana menggaungkan ‘kita jaga alam, alam jaga kita’, karena faktanya ‘kita’ sebagai manusia punya andil dalam 80 persen jenis bencana sebagaimana tampak pada infografis di bawah ini berupa kejadian bencana 10 tahun terakhir baik bencana alam, bencana non alam, maupun bencana sosial.
This slideshow requires JavaScript.
Kita sebagai manusia sesungguhnya harus aktif merawat alam maupun lingkungan tempat tinggal kita. Hanya dengan tindakan seperti itulah, alam akhirnya akan merawat kita pula. Mari berkaca pada kejadian bencana seperti banjir dan longsor. Dua jenis bencana itu adalah bukti nyata bahwa keseimbangan alam terganggu dengan aktivitas yang dilakukan manusia. Demikian pula dengan pendangkalan sungai, penggunaan bantaran sungai sebagai pemukiman, maupun juga pemanfaatan lahan secara tidak tepat menjadi pemicu banyak bencana di Indonesia.
Perlu diingat, bahwa angka-angka yang ada pada statistik bencana sejatinya bukanlah sekadar angka belaka. Ada tangis perpisahan dengan para korban, ada kehilangan dari orang-orang tercinta, ada juga hasil kerja keras bertahun-tahun yang luluh lantak begitu saja karena bencana. Jika mengingat hal ini, semestinya kita akan lebih berupaya untuk sadar bencana.
Saya pernah kebetulan mampir di sebuah pemukiman yang ada di bantaran sungai, sekadar hendak beli gorengan karena sedang lewat. Saya iseng bertanya tentang banjir kepada pemilik warung. Jawabannya, sungguh mengejutkan.
“Ya, kan banjir juga paling setahun sekali. Kayak sekarang ya panas, biasa aja.”
Dalam konteks banjir seperti ini, banyak yang menganggapnya sebagai hal biasa. Pada suatu konsep yang penerapannya kurang tepat, mereka biasanya sudah punya mitigasi risiko sendiri. Kalau dilihat struktur rumah hingga penataan barang-barang di rumah sudah sedemikian rupa sehingga akan mudah untuk evakuasi jika tiba-tiba air tinggi.
Itu baru satu bencana. Perihal kebakaran hutan dan lahan, sesungguhnya kita pernah punya keberhasilan dalam 2-3 tahun terakhir. Entah kenapa, tahun 2019 ini, kebakaran mulai banyak meskipun sebenarnya hujan itu masih turun di bulan Juli. Alias, musim kemarau sejatinya belum lama-lama benar. Fakta tahun ini memperlihatkan bahwa sistem yang dibangun dalam 2-3 tahun terakhir belum cukup menjadi mitigasi yang ideal. Yah, faktanya, kabut asap masih melanda dan masih terus berusaha dikendalikan oleh pihak-pihak berwenang termasuk BNPB.
Apalagi kalau menyoal gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Seringkali, kita para masyarakat ini sadar bencana ketika lagi ramai di Aceh atau di Palu, misalnya. Sesudah itu, kita tenggelam dalam aktivitas sehari-hari dan lupa bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa memiliki risiko bencana.
Konsep budaya sadar bencana secara sederhana dipahami sebagai perubahan paradigma penanggulangan bencana dari sekadar perspektif responsif belaka menuju terwujudnya pemahaman faktor-faktor risiko dan upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan. Selain itu, diperlukan peningkatan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan bencana dalam menghadapi ancaman bencana melalui pelatihan secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan. Termasuk juga di dalamnya terwujudnya antisipasi, proteksi, dan penyelamatan diri dari ancaman bencana.
Ciamiknya Strategi Media BNPB
BNPB selaku pengemban amanat selama ini terbilang on the track dalam menjalankan fungsinya. Satu pujian yang harus selalu dilontarkan kepada BNPB terutama pimpinannya adalah ketika “melepas” Bapak Almarhum Sutopo Purwo Nugroho untuk menjadi media darling, dan bahkan pelan-pelan menjadi public darling.
Sumber: Kompas
Tidak semua instansi pemerintah, utamanya para pimpinan, memiliki kerendahan hati sedemikian rupa untuk melepaskan seorang Eselon II menjadi lebih terkenal daripada pimpinan BNPB itu sendiri.
Nyatanya, hal itu berhasil. Bapak Sutopo dengan ciamik memainkan perannya dalam edukasi kebencanaan. Memang, butuh terobosan khusus untuk bisa berpenetrasi ke dalam hati masyarakat dalam era modern dan zamannya media sosial seperti sekarang ini dan BNPB pernah cukup sukses untuk melakukan suatu terobosan. Sayang, memang, Bapak Sutopo telah meninggal dunia pasca berhadapan dengan kanker yang menyebar alias metastase.
Dalam posisi ini, tentu saja BNPB perlu merevitalisasi jalur yang sudah dilakoni oleh Bapak Sutopo untuk mengedukasi masyarakat. Sudah ada jalurnya, berarti tinggal diteruskan. Setidaknya, cita-cita agar terbentuk masyarakat yang sadar bencana sudah bisa mulai diinternalisasi sejak dini.
Sayangnya, memang Bapak Sutopo sudah tiada. Walau demikian, setidaknya BNPB secara institusi sudah berada pada jalur yang tepat dengan mengoptimalkan skema yang terlebih dahulu ada. Pola komunikasi yang sudah terbentuk itu bukan hal mudah untuk dibangun, adalah keuntungan bagi BNPB ketika pola itu sudah cukup mendarah daging di institusi. Hal ini tentu menjadi kekuatan BPNB dalam mengoptimalkan fungsinya dalam penanggulangan bencana di tingkat nasional.
Di atas bumi Indonesia yang faktor naturalnya sangat besar, sesungguhnya manusia bisa berperan mengurangi dampak bencana yang berasal dari faktor natural dan bahkan menihilkan bencana yang dapat disebabkan oleh manusia dengan menjaga alam. Bagaimanapun, kita percaya bahwa dengan menjaga alam, maka alam pasti akan menjaga kita.
Bandung merupakan salah satu destinasi wisata yang nyaris selalu ramai ketika akhir pekan sehingga tips berlibur menyenangkan di Bandung selalu jadi hal yang diperlukan. Selain dari kota-kota di sekitarnya, pengunjung Bandung tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang Jakarta. Sebagian memang ke Bandung karena mudik, sebagian lagi karena pengen berlibur saja. Nah, berikut ini saya kasih tahu beberapa tips agar liburan kita di Bandung menjadi lebih menyenangkan. Dasar hukumnya adalah karena saya sekarang KTP Jawa Barat, tepatnya Bandung Barat. Plus, Istoyama juga lahirnya di Bandung. Heuheu.
Rental Mobil
Betul sekarang banyak taksi online, selain taksi argo yang banyak juga kita temukan di begitu masuk kota Bandung di Pasteur. Betul juga untuk area sekitar Bandung saja, yang online-online itu cukup berfaedah. Menjadi masalah ketika kita pengen ke tempat yang agak jauh, misalnya ke Lembang dan sekitarnya. Seringkali, kita bisa sampai ke Lembang-nya, tapi terus nggak bisa turun karena nggak bisa order. Jadi, sewa mobil adalah salah satu pilihan menarik agar kita nggak ribet kalau liburan. Kalau bisa menyetir, kita bisa kok lihat harga rental mobil lepas kunci di kota Bandung di berbagai sumber. Continue reading Tips Berlibur Menyenangkan di Bandung→