6 Perbedaan Bermain Futsal Kala Usia Belasan Dengan Umur Tiga Puluhan

img_8463_monkey_monkey

Dalam sebulan ini, alhamdulilah, saya berhasil melaksanakan dua kali pertandingan futsal tingkat dunia. Bermain futsal di usia saya yang sekarang ini sesungguhnya butuh perhatian khusus, karena–sungguh–nggak satu-dua kali saya mendengar kabar seseorang yang meninggal habis main futsal. Lagipula, main futsal di usia segini jelas adalah sebuah bentuk kemewahan dari banyak sisi. Jelas beda dengan jaman muda dahulu, kala setiap hari bisa futsal. Kalau pas kere, ya tinggal nyelip di lapangan voli kampus dan main sampai telapak kaki terkelupas dan berjalan tertatih-tatih hingga 3 pekan lamanya.

img_8516_monkey

Nah, membandingkan main futsal tahun 2016 dengan tahun 2004, ternyata saya mendapati banyak fakta menarik dan layak untuk diteliti lebih lanjut hingga benjut.

Ini dia!

Perizinan

Pada usia belasan, main futsal itu semudah membalik telapak tangan. Mengumpulkan orang untuk main mudah, bahkan lebih-lebih. Sulitnya hanya membayar. Maka nggak heran kalau dahulu saya suka main futsal pukul 22.00. Gimana lagi, murahnya jam segitu. Hal mudah lainnya pada usia belasan adalah soal izin untuk main futsal. Bukan rahasia lagi bahwa bagi sebagian kaum yang berpacar, untuk main futsal itu butuh izin. Kadang-kadang sulit, kadang-kadang nggak boleh. Lucu juga, ya, masih pacaran kok futsal aja nggak boleh.

img_8435_monkey

Nah, bagi adik-adik usia belasan yang terkendala izin pacar, sebaiknya bandingkan dengan kaum saya yang telah berumur dan bangkotan ini. Memperoleh izin istri terbilang lebih sulit lagi, kecuali memang istrinya punya komitmen untuk mendukung, sama seperti istri-istri para member FPL Ngalor Ngidul yang saya kisahkan di websitenya. Lagipula, main futsal usia segini kudu sadar diri, apalagi kalau sudah punya anak. Kalau main futsal, yang jaga anak siapa? Hal-hal semacam itu jelas perlu dipikirkan sebagai lelaki yang bertanggung jawab.

Perbedaan Tempo

Pada usia belasan, bermain futsal itu sama melelahkannya dengan basket. Tempo tinggi dimainkan dari awal hingga akhir. Pertama, karena tenaga berlebih–maklum masih muda. Kedua, karena duit bersama hanya mampu membayar sewa lapangan 1 jam, jadi kudu mangkus dan sangkil. Jangan heran jika permainan keras, serangan silih berganti, selalu tersaji di sepanjang waktu sewa.

img_8401_monkey

Pada usia 30-an? Tempo tinggi paling maksimal hanya berlaku 10 menit, sebelum usia menunjukkan kuasanya. Untuk itulah, para punggawa futsal di usia 30-an ini sangat sering bermain tempo. Yang saya maksud adalah menurunkan tempo. Jadi saat yang lain berlari kencang, akan ada 1-2 orang di 5-10 menit pertama yang berlari pelan bahkan kadang berhenti. Jangan kira mereka berhenti karena kelelahan ya! Mereka berhenti karena ingin memainkan tempo. Mereka berdiri tegak sambil memegang pinggang itu adalah semata-mata pertanda di usia matang ini visi lebih digunakan. Ya, walaupun semua itu sebenarnya bersumber dari kelelahan.

Pergantian Pemain

Pada usia belasan dengan puluhan member dan waktu sewa yang singkat, maka bermain adalah hasrat utama. Nyaris tidak ada yang minta diganti. Bahkan jika atas nama keadilan, kapten atau yang dituakan meminta pergantian, akan ada yang marah-marah karena diganti. Luar biasa, anak muda!

Pada usia 30-an? Tenang saja, sudah pasti semua akan bermain. Bahkan jika kala muda marah-marah jika diganti, maka di usia uzur ini banyak yang akan marah-marah jika minta diganti tapi nggak ada yang mau menggantikan.

Penggunaan Sepatu

Usia belasan hanya sedikit pemuda yang terberkati dengan sepatu futsal mumpuni. Kalau di Jogja paling mentok beli di Selokan Mataram, atau kalau di Jakarta ya Taman Puring. Entah itu Mercurial atau Tiempo, kebanyakan adalah KW kesekian yang dimiliki karena sekadar pengen main.

img_8415_monkey

Pada usia 30-an, dengan penghasilan yang diperoleh, membeli Nike seri apapun, entah belanja online luar negeri maupun mampir ke mal-mal terkemuka bisa dilakoni dengan gampang sekali. Bedanya, dulu sepatu buluk tapi selalu dipakai, maka pada usia lanjut, sepatunya bagus dan mungkin lebih dari 2 pasang, namun dipakai juga jarang-jarang.

Pendukung

Pada usia belasan, melihat cewek nganggur di kursi lapangan futsal adalah biasa. Gadis-gadis yang tiada mengerti sepakbola itu setia menanti kekasihnya yang bersenang-senang hingga bau badan di lapangan futsal. Terpujilah para gadis yang mau begini, itu bukti hubungan nan saling mendukung. Pastinya kalau lagi shopping ditemenin kan?

Nah, pada usia 30-an, seperti saat FPL Ngalor Ngidul Gathering di Kelapa Gading, seorang bayi bernama Naraya menangis begitu melihat bapaknya masuk ke lapangan futsal. Tangisan yang diikuti balita lainnya bernama Aldric.

“Paaapaaaaaa….”

Ya, pada usia 30-an pendukungnya bukan lagi seorang gadis, tetapi istri dan anak. Tetap seru pastinya!

Serba Banyak

“Ini kok nggak selesai-selesai?” gerutu beberapa teman kala saya futsal kemarin ini.

“Lain kali mainnya setengah jam aja,” seru kawan yang lain.

Ya, pada usia 30-an futsal akan lebih banyak dihiasi oleh bicara, alias lebih banyak bicaranya daripada geraknya. Beda dong saat masih muda belia dan asap belum memenuhi paru, dipastikan banyak gerak.

Sama-sama banyak, sih. Satunya banyak gerak, belasan tahun kemudian berubah jadi banyak bicara.

Yah, kira-kira demikian. Doakan saja semoga futsal-futsal yang saya lakoni lancar dan setidaknya mampu mengempiskan perut yang menjelma menjadi bentuk yang USG-able gegara uang rakyat yang sulit dimetabolisme oleh enzim apapun ini. Tetap teguhlah wahai adik-adik pemain futsal, dan bapak-bapak penggila futsal!

Ciao!

Advertisements

7 thoughts on “6 Perbedaan Bermain Futsal Kala Usia Belasan Dengan Umur Tiga Puluhan

  1. Anjir, gue di umur 21 aja mulai gak kuat futsal dibanding pas masih 17-19. Kepala dua aja udah mulai berat, Kak. Wahaha.

    Itu temen yang bilang, waktunya nggak habis-habis, kebanyakan maen sabun kali. :p

    Gue sampe sekarang masih pake sepatu futsal KW harga 100 rebuan, boro-boro beli Nike ori, mending buat nabung biaya nikah. 😄

    Like

    • Kalau temen gue mah nggak main sabun. Main sama yang beneran. Heuheu.
      Soal sepatu ya itu tadi, dulu jaman muda KW tapi seriiiiing banget dipake, begitu udah nikah baru beli segala yang ori. Heuheu.

      Gue nggak enak nih ada bloher kondang mampir. Heuheu.

      Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s