Jangan Benci Berlebihan

Harga BBM naik, dan tentu saja segala rupa respon terjadi. Mulai dari pemilih Jokowi yang menyesal, pemilih Jokowi yang mendukung, pendukung Prabowo yang mendukung kenaikan harga BBM, sampai pembenci Jokowi yang tampaknya akan terus membenci Pak Presiden sampai kumis Hitlernya itu berubah jadi keriting dan pirang. Ya, semua bisa memberikan respon. Saya sendiri bukannya nggak terpengaruh. Kalau boleh dibilang, dari sisi dompet akan sangat terpengaruh. Beda dengan kenaikan 4500 ke 6500 yang terjadi ketika gaji saya masih melimpah ruah, kenaikan dari 6500 ke 8500 ini terjadi justru ketika finansial saya sedang kembali fitri. Oh, bukan, saya bukan sedang bermain Cinta Fitri. Mereka sudah nikah, saya belum.

Problematika Presiden ini memang terlalu mengemuka. Saya tentu saja ikut serta menyimak. Saya langsung update status begitu melihat bahwa Putri Mahkota ada di jajaran menteri. Saya juga pernah menulis di sebuah forum–dan alhamdulilah nggak banyak yang baca–soal pertanyaan besar dari saya perihal Kartu Indonesia Sehat yang entah mengapa tiba-tiba ada sementara BPJS juga sudah ada. Tapi apapun, saya berusaha untuk tidak membenci keadaan ini secara berlebihan.

Soal benci berlebihan ini tetiba mengemuka begitu saya membaca sebuah pesan dari seorang teman yang ditulis di grup pada aplikasi bikinan dan milik Yahudi. Tulisannya kira-kira begini:

2Rb wat iuran mbah mega plesiran kluar negri n tambahan uang dinaa jokowi klo kluarnegri kan dia bisa ajak anak, bktinya kmren KRRC bawa anak nya. hahha g pernah liat dl SBY DL kluarnegri bawa ibas. Pa agus harimurti. Hahahha. Kampret.

Selanjutnya, Mbohae!