Teman?

“Ran, Mily itu pacarmu?” tanya Yana, suatu kali.

“Heh? Pacar? Dari mana ceritanya? Kita itu hanya berteman kali bro.”

“Tapi kok kalian sepertinya dekat sekali?”

“Ah, itu perasaan dek Yana saja. Aku sama Mily nggak pergi makan tiap hari, nggak pernah apel-mengapeli, nggak pernah telpon-telponan, nggak setiap hari Whatsapp-an. Dari mana status pacar masbro?”

“Yah, tampak di mata saja. Setidaknya,pasti ada perasaan.”

“Nonsense…”

Dan hening.

Rana dan Mily. Tidaklah aneh memberi predikat mereka teman. Tidak pula luar biasa menyebut mereka, lebih dari sekadar teman. Karena semua orang boleh berpendapat, karena hak berpendapat itu dijamin di negeri ini. Yang tidak dijamin itu hak untuk berdiri di halte bus untuk kemudian bisa selamat sampai naik bus yang ditunggu.

“Cek.. cek…” Rana mengetik sebuah pesan via Whatsapp.

Tak berbalas.

“PING!”

Masih tak berbalas.

“PING!”

“Yooooooo…” Sebuah balasan dari Mily The Galauers

“Sombong…”

“Yo ben.. Ngopo?”

“Ora popo.. Tadi ada yang bilang kita pacaran! Wkwkwkwk..”

“Huuuuu.. Wah, aku dipitnah.. aku dipitnah..”

“Lha njuk?”

“Pitnah kan lebih kejam daripada demo.. Ihiks..”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Dasar esmud galau! Makanya cepet cari pacar sono.. Buat obat galau!”

“Jiahhh.. ngopi.. ngopi.. ngopi yuk…”

“Hayukkkk… kapan? kemarin?”

“Abad depan. Huhhhhhhh.. Ayo tak jemput.”

“Oke.. oye.. Mari…”

Dua gelas plastik sudah berdiri manis di meja. Satu gelas Caramel Machiato, dan satu gelas Java Chip. Keduanya berdiri tegar di atas meja, diantara dua insan, Rana dan Mily.

“Jadi siapa ya bilang kita pacaran?” tanya Mily, membuka pembicaraan.

“Tuhhh.. si Yana. Ora cetho kok.. hahaha..”

“Hahaha.. memang pancen ora cetho..”

Kedua insan ini kemudian bercengkerama ngalor ngidul. Setiap sedotan kopi yang masuk ke dalam kerongkongan berbuah sebuah topik menarik. Mulai dari bincang novel, bincang adik, bincang bintang, sampai ke bir bincang.

“Jadi sebenarnya gimana?” tanya Mily, ketika gelak tawa perbincangan mereda.

“Opo?”

“Ya kita ini emangnya gimana? Kan ora cetho.. hahaha…”

“Yah, kan emang kita berteman to?”

“Teman?” tanya Mily dengan intonasi yang 180 derajat berbeda dari gelak tawanya barusan.

“Yah.. enaknya kita berteman ajalah.. lebih asyik, tanpa beban, tanpa berharap, tanpa sakit hati.. Sip?”

“Jossss…”

Sedotan kopi dihentikan, karena memang sudah habis. Kedua gelas itu ditinggalkan dalam keadaan diam, meski keduanya telah menjadi saksi dua tetes air mata Mily, yang tidak sempat dilihat oleh Rana.

Ya, kita berteman aja

 

One thought on “Teman?

  1. Pingback: Mana Curhat? Mana Fiksi? Mana Aja! :) « Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s