7 Panduan Memilih Laptop: Mahasiswa Wajib Tahu, Dosennya Juga

Sejak 2009, pekerjaan saya selalu berhadapan dengan layar komputer, entah PC entah laptop. Akan tetapi, biasanya ya barangnya ditinggal di kantor. Nah, tahun lalu, kebetulan saya kan kuliah lagi plus tiba-tiba kondisinya jadi seperti sekarang ini, pada akhirnya hidup saya harus betul-betul bersama dengan benda canggih tersebut.

Ya gimana? Sejak pertengahan Maret sampai Ujian Akhir Semester 2 yang baru lewat, semua perkuliahan dilakukan online. Minggu lalu dapat kabar, katanya pendidikan tinggi masih akan tetap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sampai Desember 2020! Walhasil, ya saya hampir pasti akan nongkrong di rumah saja terus-menerus bersama-sama dengan laptop.

Kondisi yang mirip juga terjadi pada Mama Isto. Dia karyawan yang karena kepakarannya juga merangkap dosen. Nah, siapa bilang pas PJJ begini dosen enak hidupnya? Justru bermalam-malam sepulang kerja, Mama Isto harus bergelut dengan laptop-nya untuk bikin bahan, bikin kuis, dan juga mempersiapkan diri untuk pengajaran pada kelas-kelas yang menjadi jatahnya.

Sudah jelas sekali, baik mahasiswa maupun dosen, di era PJJ seperti sekarang ini butuh perangkat yang tidak hanya tangguh, tapi juga harus dekat dengan penggunanya. Lha iya, sepanjang hari dipantengin kalau nggak sreg ya garapan juga ambyar~

Nah, berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka memilih laptop yang tepat baik untuk mahasiswa dan juga dosen, dalam menghadapi semester mendatang ketika kuliah daring tampaknya akan jalan satu semester full.

Tentukan Platform

Secara umum, laptop di pasaran terdiri dari 3 sistem operasi yaitu Windows, Chrome OS, dan MacOS. Gambaran umumnya, Windows adalah sistem operasi yang paling fleksibel dengan rentang harga yang juga sangat luas. Versi terbarunya adalah Windows 10, yang menyediakan sejumlah pembaharuan dari Windows 7 dan Windows 8. Sejak dirilis pada Juli 2015, Windows 10 secara terus menerus melakukan update, termasuk kemampuan asisten digital yang bernama Cortana. Oya, kalau menurut LaptopMag, Windows adalah satu-satunya mesin yang dipertimbangkan oleh gamer.

Untuk MacOS kurang lebih sama dengan Windows 10, namun ada beberapa perbedaan signifikan. Antara lain, MacOS tidak dibuat untuk fungsi touch screen. Sedangkan untuk Chrome atau yang dikenal dengan Google OS terbilang sederhana namun memang kemampuannya terbatas. Interface-nya mirip Windows tapi dasarnya memang browser Chrome.

Tentukan Ukuran Yang Tepat

Di kantor, saya sering mendapati keluhan dari beberapa orang perihal laptop kantornya yang kekecilan. Canggih, sih, tapi kecil. Rupanya, kecanggihannya tidak relevan dengan ukurannya. Jadi, ukuran ini sangat penting.

Jika memang kita ingin unit yang anteng di meja sepanjang hari, maka ukuran 17-18 inchi dapat menjadi pilihan. Apabila ingin yang ukuran agak besar tapi tidak hendak dibawa-bawa secara konstan, maka ukuran 15-16 inchi dapat dipakai. Apabila ingin yang paling enteng tentu saja pilihannya 11-12 inchi.

Adapun yang paling seimbang antara kemudahan dibawa serta penggunaannya adalah ukuran 13-14 inchi.

Cek Keyboard dan Touchpad

Spesifikasi seimpresif apapun kalau tidak ergonomis ya ujungnya tidak akan produktif. Jarak yang ideal untuk pekerjaan yang intens di laptop adalah 1-2 milimeter. Touchpad-nya sendiri sangat krusial untuk mencegah kursor yang melompat-lompat, serta tentu saja sangat membantu untuk desain yang butuh zoom in-zoom out.

Tentukan Spesifikasi

Bagian ini agak panjang karena menyangkut beberapa bagian. Pertama tentu saja CPU alias otak dari komputer yang hendak membantu kita bekerja. Kalau mau kelas yang paling atas maka ada Intel 10th Gen serta Intel Core i9. Umumnya harganya tentu premium sekali dan banyak digunakan di perangkat game kelas tinggi.

Sekali lagi, penggunaan akan sangat menentukan. Ngapain punya otak pintar-pintar kalau misalnya kebutuhannya tidak setinggi itu? Maka, sebenarnya yang umum digunakan alias mainstream adalah Intel Core i5 dan Intel Core i7. Saingan level ini adalah AMD Ryzen 4000.Nah, di bawah itu tentu saja ada Intel Core i3, Intel Pentium/Celeron, maupun AMD A, FX, atau E.

Untuk RAM, mungkin bisa pakai yang 4GB, akan tetapi idealnya sih sekurang-kurangnya 8GB supaya nggak terus berasa lemot pada periode penggunaan tertentu. Sedangkan untuk Storage Drive, sebisa mungkin cari notebook yang sudah Solid State Drive (SSD) daripada hard drive, sebab kecepatannya bisa tiga kali lipat, lho.

Sekarang ke Display. Menurut LaptopMag, spesifikasi yang disarankan untuk display adalah sekurang-kurangnya bisa jalan di 1920 x 1080 atau sering dikenal dengan Full HD (FHD). Untuk yang high-end memang sih ada yang sampai 3840 x 2160 segala.

Berikutnya adalah Graphics Chip. Spesifikasi tinggi diperlukan jika laptopnya akan dipakai untuk memainkan game PC, membuat objek 3D, maupun mengedit video dengan resolusi tinggi. Akan tetapi, untuk pemakaian mahasiswa pada umumnya dapat menggunaan NVIDIA MX250 atau GTX 1650 GPUs.

Salah satu yang bikin laptop atau notebook berasa besar adalah ruang untuk port. Mau nggak mau, port ini penting apalagi buat mahasiswa karena akan sangat membantu distribusi data. Jadi, sebaiknya sih jangan beli yang nggak ada port-nya. Notebook pada ummumnya akan memiliki USB 3.0 dan HDMI out. Yang terakhir itu tentu saja buat presentasi kalau kuliah sudah offline lagi. Nah, belakangan sudah mulai banyak port yang kompatibel untuk USB Type-C sesuai dengan arah ketersediaan USB flashdisk maupun spesifikasi semakin banyak telepon genggam. Akan tetapi, kalau adanya hanya type-C doang juga berabe masih banyak perangkat yang belum support. Idealnya sih ada beberapa pilihan tentu saja.

Jangan Abaikan Baterai

Notebook besar untuk game tentu saja akan diletakkan di singgasana, sehingga akses listriknya juga tidak masalah. Nah, kalau buat notebook khusus untuk kuliah, tentu tidak seperti itu. Di kampus saya misalnya, belum semua ruangan memiliki akses colokan berlimpah. Padahal, kuliah zaman sekarang menurut saya sih lebih baik mencatat di laptop saja toh kemudian tugas-tugasnya kan paper demi paper juga.

Ada Harga, Ada Rupa

Sebenarnya, kalau urusan laptop itu rentangnya panjang sekali. Dari harga 2 jutaan juga sudah ada, sampai ke atas ada banyak sekali lapisnya. Nah, untuk setiap harga tentu ada spesifikasi yang menyertainya. Jadi, balik lagi, semakin rendah harga maka ekspektasi harus disesuaikan. Dan semakin banyak kebutuhan, berarti estimasi harga juga harus disesuaikan.

Brand Adalah Koentji

Kalau soal restoran, biasanya kita akan memilih tempat yang ramai. Sebab, ramai adalah salah satu parameter bahwa makanan yang disajikan enak. Pola pikir yang sama dapat kita terapkan pada konteks memilih laptop. Semakin laris laptop, tentunya itu pertanda bahwa banyak yang cocok. Ya cocok harga, cocok spesifikasi, dan cocok manfaat juga.

Pada awal 2019 misalnya, lembaga riset Gfk melaporkan bahwa brand laptop nomor satu di Indonesia untuk laptop consumer dikuasai oleh Asus dengan 41,8 persen. Beberapa produk andalan yang mendorong kondisi tersebut adalah laptop gaming berbasis Nvidia GTX, ZenBook, dan VivoBook.

Ngomong-ngomong soal jenis yang terakhir itu, ASUS baru saja meluncurkan notebook ASUS VivoBook S14 S433 dengan spirit Dare To Be You. Launchingnya secara digital karena lagi pandemi begini. Dan tentu saja sangat cocok untuk rupa-rupa gawean digital yang sedang melanda nyaris semua bidang pekerjaan pada hari-hari ini.

Ringkas dan Beragam Pilihan Warna

Notebook ASUS VivoBook S14 (S433) hadir dengan 4 pilihan warna yang tidak biasa yaitu Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red. Nih, bisa dilihat sendiri:

Gaia Green maupun Resolute Red kalau menurut terawangan cocok untuk pemuda-pemudi yang memiliki kepribadian berwarna dan tegas. Untuk desain yang lebih elegan bisa ambil Dreamy White atau Indie Black.

Untuk menambah unsur personal, ASUS menghadirkan stiker eksklusif. Jadi, kalau nanti sudah bisa balik lagi ke kampus, maka dipastikan bakal jadi pusat perhatian karena memang beda sendiri. Hal ini pula yang menyebabkan tulisan ASUS VivoBook-nya tidak di tengah-tengah, melainkan ke pinggir. Jadi di tengah bisa dipasang stiker personal itu tadi.

Sebelumnya sudah kita bahas perihal penting tidaknya processor. Nah, VivoBook S14 (S433) memiliki Intel Core 10th Gen Processor yang tentu saja lebih gesit dan hemat daya dibandingkan pendahulunya. Pengujian performa menunjukkan bahwa dengan prosesor Intel Core i5-10210U konfigurasi 4 core dan 8 thread, vivoBook S14 (S433) berhasil meraih skor yang cukup tinggi untuk pengujian dengan Cinebench R20 dan PCMark 10.

Kita juga sudah membahas ukuran dan untuk hal tersebut VivoBook S14 (S433) menawarkan spesifikasi yang sangat menarik. Bobotnya hanya 1,4 kilogram dan tebalnya hanya 15,9 milimeter.

Saya jadi ingat waktu kondangan ke Jambi, karena balik hari, jadi memang Jakarta-Jambi hanya bawa laptop doang. Cuma laptopnya masih kerasa karena lumayan berat. Kalau saya ketika itu bawa VivoBook S14 (S433) ini berasa cuma pergi ke minimarket depan kompleks kali yha.

Oya, meskipun ukurannya sangat ringkas, tapi layarnya 14 inchi. Ada teknologi layar eksklusif NanoEdge Display yang dapat menghadirkan bezel yang sangat tipis sehingga screen-to-body ratio-nya mencapai 85 persen dan berdampak pada ukuran bodi yang lebih ramping. Layarnya juga tampak lebih lega. Model begini asyik buat review jurnal sama bikin konten di beberapa akun yang saya kelola.

Layar VivoBook S14 (S433) telah mampu mereproduksi warna pada color space sRGB hingga mencapai 100 persen sehingga sangat cocok untuk video editor maupun fotografer. Plus, layarnya juga sudut pandang yang lebarnya mencapai 178 derajat.

Mendadak saya ingat kemarin pas garap video untuk UAS, saya sampai periksa mata ke optik karena rasanya sudah sangat pusing sekali. Eh, pas dicek ternyata mata saya masih baik-baik saja. Dengan heran saya cabut dari optik, dan rupanya itu disebabkan karena saya terlalu intens ke laptop yang ada, dengan spesifikasi yang agak kurang cocok untuk kepentingan konten yang butuh ketelitian seperti video.

VivoBook S14 (S433) memiliki kinerja grafis yang kencang karena chip grafis NIVIDIA GeForce MX250. Kalau lagi suntuk baca jurnal dan ingin main esport serta kasual, bisa juga lho. Walaupun tentu saja jangan kebablasan nanti kerjaan utama nggak kelar.

Fitur-Fitur Premium

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi berbagai fitur premium seperti fingerprint sensor, teknologi fast charging, serta backlit keyboard. Pengguna VivoBook S14 (S433) tidak perlu lagi entri password buat masuk dalam sistem Windows 10. Belum lagi kalau lupa atau ketahuan tetangga kos padahal data-datanya banyak yang privat. Yes, fingerprint di VivoBook S14 (S433) telah terintegrasi Windows Hello pada Windows 10. Windows Hello inilah yang memudahkan pengguna untuk masuk ke dalam sistem tanpa perlu mengetik password.

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi dengan fitur audio premium bersertifikasi harman/kardon. Sebab, apalah artinya garap jurnal tanpa mendengarkan lagu-lagu yang memadai. Walaupun ya kalau saya jatuhnya harus mendengarkan lagu anak-anak sesuai request anak. Heuheu. Oya, audio terbaik juga sangat penting untuk pembelajaran jarak jauh, tentunya bersama dengan…

Konektivitas Terbaik

Yak betul! Koneksi. Kita bicara dua aspek perangkat ya. Kalau sinyal itu urusan sendiri-sendiri. Nah kalau di VivoBook S14 (S433) telah dilengkapi WiFi 6 (WiFi 802.11ax) yang adalah teknologi komunikai nirkabel generasi paling terkini. Ada kecepatan transfer data yang lebih tinggi sampai tiga kali lipat, kapasitas jaringan yang juga lebih banyak hingga empat kali lipat, plus latency 75 persen lebih rendah. Sangat cocok untuk PJJ, bukan?

Untuk konektivitas yang terkait port, seperti sudah kita bahas bahwa sebaiknya walaupun ringkas, laptop pilihan kita harus punya port-port yang sesuai. Nah, VivoBook S14 (S433) sendiri punya USB 3.2 (Gen 1) Type-C yang lagi kekinian di berbagai perangkat eksternal.

VivoBook S14 (S433) juga merupakan laptop yang menggunakan PCIe SSD berkapasitas 512GB dengan menggunakan SSD khusus dari Intel yang telah dilengkapi Optane Memory berkapasitas 32GB. Optane Memory ini adalah teknologi eksklusif Intel yang memberdayakan memori tambahan sebagai cache sehingga SSD mampu mengakses data yang kerap digunakan dengan lebih cepat sehingga performa secara keseluruhan lebih cepat pula.

Di atas telah dijelaskan pula tentang pentingnya performa baterai yang baik. Mau kerja di kampus atau juga kerja di rumah, baterai tetap yang krusial. Mau presentasi pas PJJ terus tiba-tiba listrik di rumah padam sementara laptopnya ketergantungan pada listrik ya bisa buyar semuanya.

Nah, VivoBook S14 (S433) mengadopsi baterai 50Whrs yang lebih besar kalau dibandingkan laptop pada kelas yang sama. Hasil pengujian dengan PCMark 10 Battery untuk mode Modern Office, VivoBook S14 (S433) dapat bertahan sampai 12 jam.

Itu kalau kebiasaan kelas online kan yang penting login. Biasanya kalau iseng cek ke room 2-3 jam sesudah kuliah kelar pasti ada saja yang masih login, yang berarti sebenarnya dari tadi dia hanya login tapi nggak ada benar-benar di kelas. Nah, kalau pakai VivoBook S14 (S433) ngeceknya bisa 10 jam kemudian. Heuheu.

Secara umum, sudah kita bahas bahwa dari sederet hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih laptop, rupanya VivoBook S14 (S433) sangat relevan dalam berbagai parameter, plus punya tampilan dan gaya yang oke punya juga. Walhasil, VivoBook S14 (S433) menjadi laptop modern yang sangat pas untuk aktivitas sehari-hari terutama untuk menghadapi perkuliahan jarak jauh yang kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Secara lebih lengkap, berikut spesifikasi VivoBookS14 (S433) sebagaimana sudah kita bahas:

Operating SystemWindows 10 Home
ProcessorIntel® Core™ i7-10510U processor
1.8GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.9GHz) and 8MB cache
Intel® Core™ i5-10210U processor
1.6GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.2GHz) and 6MB cache
GraphicsNVIDIA® GeForce® MX250
Video memory size: 2GB GDDR5 VRAM
Display14” LED-backlit IPS Panel HD (1920 x 1080) 16:9
Frameless NanoEdge display with 85% screen-to-body ratio
178° wide-view technology
Memory8GB 2666MHz DDR4
Storage512GB PCIe SSD
Intel® Optane™ Memory H10 with Solid State Storage

(32GB Optane™ + 512GB SSD)
Interfaces1 x USB 3.2 Gen 1 Type-C™
1 x USB 3.2 Gen 1 Type-A
2 x USB 2.0
1 x HDMI
1 x Audio combo jack
1 x MicroSD card reader
1 x DC-in
Keyboard and TouchpadKeyboard
Full-size backlit, with 1.4mm key travel
Touchpad
Intelligent palm-rejection;
Precision touchpad (PTP) technology supports up to four-finger smart gestures
AudioASUS SonicMaster stereo audio system with surround-sound; smart amplifier for maximum audio performance
Array microphone with Cortana voice-recognition support
3.5mm headphone jack
Certified by Harman Kardon
CameraHD Camera
Wireless ConnectivityWi-Fi
Intel Wi-Fi 6 with Gig+ performance (802.11ax)
Bluetooth®
Bluetooth V5.0
Battery and PowerFast charging: 60% in 49 minutes
50Wh 3-cells lithium-polymer battery
65W power adapter
Plug Type: ø4 (mm)
(Output: 19V DC, 3.42A, 65W)
(Input: 100-240V AC, 50/60Hz universal)
Weight and DimensionsHeight:
1.59cm (0.62 inches)
Width:
32.49cm (12.79 inches)
Depth:
21.35cm (8.40 inches)
Weight:
1.4kg (3.08 pounds)
Included in the BoxVivoBook S14
Included SoftwareASUS Splendid
ASUS Tru2life Video
ASUS AudioWizard

Jadi, bagaimana, langsung ganti laptop?

* * *

Pengen punya laptop ini? Bisa lho mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh ASUS bekerjasama dengan keluargabiru.com. Informasi lebih lanjut bisa cek flyer di bawah ini: