Tag Archives: jogja

Anakku, Di Mana Kamu?

Saya orang yang percaya pada kebetulan semesta. Saya percaya pada aneka peristiwa bisa jadi merupakan pertanda untuk hal lainnya. Seperti saya kisahkan di buku saya, OOM ALFA, saya membaca soal penyelamatan diri terhadap gempa pada malam sebelum gempa Jogja 2006, pada saat seharusnya saya membaca tentang Farmakognosi Fitokimia. Entah berkorelasi atau tidak, tapi kemarin saya mengalami sebuah peristiwa yang begitu mirip dengan yang saya alami 10 tahun lalu. Sebuah kisah orangtua yang ‘kehilangan’ anaknya.

Memang, kisah ini bukan ‘hilang’ dalam konteks diculik atau sejenisnya. Sepuluh tahun silam, sudah ada handphone dan ‘hilang’ yang saya maksud berkorelasi tentang itu. Dua kisah ketika ada orangtua yang mencari anaknya karena anaknya tidak bisa dihubungi. Kisah 2004, orangtua menelepon anaknya tapi tidak diangkat. Kisah 2014, handphone sang anak mati dan orangtua bingung untuk menghubungi anaknya.

IMG_5220

Sepuluh tahun yang lalu saya sedang nongkrong galau di Lorong Cinta dalam rangka menunggu mantan calon gebetan selesai praktikum. Bukan pengen ngobrol atau apapun, cuma pengen melihat. Melihat sudah merupakan kegembiraan paling pilu dari pelaku cinta diam-diam. #tsahhh

Mbohae!

Dari Kota ke Kota

Seraya mengerjakan sebuah posting tidak berbayar perihal traveling, saya mendadak ingat sesuatu. Iya, saya ingat kalau Nia Daniaty sudah pisah ranjang dari Farhat. Ah, itu sih basi. Aslinya, saya jadi ingat perihal kota demi kota tempat saya hidup. Seperti yang bisa dilihat di profil. Saya pernah hidup di Bukittinggi, Jogja, Depok, Palembang, dan kemudian Cikarang. Ibukota bin ibu tiri bernama Jakarta mungkin adalah peraduan berikutnya.

Sempat ngobrol dengan si Cici perihal bagaimana anak-anak di keluarga kami dibentuk. Simpelnya, Cici bilang, “kalau kita kan dilempar kemana juga hayuk!”

Kalau dirasa-rasa sih benar juga.

Nah, berikut sekilas petualangan hidup saya dari kota ke kota.

Kotakan.. Kotakan Sejujurnya..

[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)
🙂

Mbohae!

12 Tahun Merantau

Selalu begini deh. Selalu seminggu sebelumnya diingat-ingat, tapi pas hari H-nya lupa. Dulu juga begitu. Dasar manusia. Ya begitulah, saya masih manusia, bukan manusia milenium.

Lagian yang diingat sebenarnya nggak penting dan krusial sih, cuma merupakan tanggal menarik bagi manusia melankolis macam saya.

Iya, kemarin, 2 Juli 2013, adalah genap 12 tahun saya jadi anak rantau. :)))

Perkara 2 Juli ini sebenarnya baru saya temukan ketika saya packing-packing mau pindah dari Palembang. Tanggal itu adalah tanggal saya mendaftar SMA Kolese De Britto Jogja. Dan saya ingat benar bahwa pagi harinya saya baru menjejak Jogja dengan kereta Senja Utama Jogja. Jadi fix bahwa tanggal itulah pertama kali saya jadi anak rantau.

Well, 12 tahun.

Sebuah bilangan yang gila. Dan nyatanya saya bisa melakoni itu semua. Nyatanya saya bisa ‘hidup sendiri’ untuk rentang waktu yang sepanjang itu. Melihat orang-orang lain masih dengan mudah dan indahnya pulang kampung setiap minggu, sedangkan saya ya beginilah.

Saya jadi anak rantau di usia saya yang ke-14. *ketahuan deh umurnya… hedeh..*

Jadi, dua tahun lagi, setengah usia saya genap habis untuk merantau. Tiga tahun lagi, lebih dari setengah umur saya juga terhitung sebagai perantauan. Jadi mari menikmati 2 tahun lagi, ketika usia jadi anak rantau belum sampai setengah usia saya.

🙂

Cikarang-Jogja 18 Jam

Ini kisahnya sebagian besar sudah ditulis dalam Ada Yang Tertinggal di Jogja dan Ketika Mimpi Itu Jadi Nyata. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya nggak menceritakan detail khusus dari perjalanan ini.

Saya mengambil merk bis yang terkenal, Lorena. Satu-satunya alasan saya menggunakan armada itu adalah karena itu adalah jadwal termalam untuk eksekutif yang saya tahu. Bagaimanapun besoknya saya harus Gladi Bersih, dan itu pasti sangat melelahkan, maka saya perlu istirahat yang cukup di jalan.

Lagipula, dua trip terakhir saya ke Jogja yakni  Desember dan April juga menggunakan Lorena paling malam, dan hasilnya baik-baik saja. Okelah, yang Desember sebenarnya kurang baik, tapi itu karena macetnya Semarang-Magelang-Jogja gegara plat B pada mau liburan *sigh*

Perjalanan nyatanya dimulai jam 9 lewat, telat 1 jam dari jadwal. Saya masuk bis dan segera duduk di bangku nomor 1A, persis dekat pintu. Yah, saya belum pernah ambil seat 1A lagi semenjak kaki ketekuk sepanjang Bukittinggi-Palembang dengan armada Yoanda Prima.

Keluar Tol Cikarang Barat masih seperti biasanya, lanjut sampai ke Cikampek juga biasa saja. Ya, biasanya kan juga macet. Masih masuk akal. Tentunya selepas Cikampek saya nggak melepaskan pandangan dari sisi kiri (sisi utara). Terutama ketika melewati Indramayu.

Intinya sih, banyak yang mulus-mulus di sepanjang jalan itu.

Sekitar jam 11-an, bis akhirnya sampai di Pamanukan. Waktunya makan. Walaupun sebelumnya saya sudah makan mie, tapi bolehlah kalau diisi lagi. Sedikit keluhan sempat muncul di jalan karena bis itu kok rasanya panas sekali. Tapi namanya orang Indonesia, apa iya mau komplain?

Hampir jam 12 ketika kemudian Pak Supir dapat kabar bahwa HARUS menunggu 2 penumpang lagi, yang sedang dibawa sama Bis Purwokerto-an. Ini nih yang paling saya nggak suka dari Lorena, sistem oper-opernya. Di satu sisi itu keunggulan mereka, karena armada yang banyak. Dulu pernah dari Jogja ke Cikarang isi bisnya cuma 3, iya TIGA! Satu Cikarang, satu Cikampek, satunya Lampung. Si Lampung ini ya oper-operan dong. Hehehe.

Selama menunggu, servis AC dilakukan, dan saya malah berkenalan dengan Andreas, si bule dari Salzburg yang sampai sekarang masih nggak masuk akal buat saya kalau dia naik bis.

Sesudah AC beres, Pak Supir dapat kabar bahwa daerah Patrol macet 5-6 Km. Mak! Kilometer macetnya, panjang amat. Awalnya Pak Supir ngikut ke jalur macet itu, tapi kemudian belum 1 Km, udah mandek.

“Ngene tok iki?”

“Mbalek wae.”

Dan pada akhirnya bis besar itu berputar arah, kemudian menuju Subang dan seterusnya sampai saya bangun, sudah di Tol Kanci-Pejagan.

Bis akhirnya sampai di sekitar Brebes, dan ini berarti akan menuju Selatan. Niat awal saya, kalau dia turun di utara, saya kan turun di Jombor, jadi saya bisa langsung beli tiket pulang baru deh capcus ke Taman Budaya.

Tapi kalau lihat jalanan begini, kudu nyari alternatif solusi.

Dan percayalah, saya malah bersyukur bisa naik di bis yang supirnya enak begini. Punya inisiatif, nggak tampak ngantuk, dan ngajak ngomong penumpang. Keren.

Begitu mau ke arah Purwokerto, tahu-tahu ada aroma tidak menyenangkan. Dan nggak lama diikuti asap mengepul dari kotak yang berada PERSIS DI DEPAN SAYA. HUAAAAA!!!

“Mas.. Mas.. Iki kok ketoke kemebul yo..,” kata saya rada gemetar.

Bis lalu berhenti, copot aki, dan ternyata kotak itu isinya panel pengendali sistem elektrik. Syukurlah nggak kenapa-kenapa.

Saya belum pernah ngebis di masa jelang puasa. Kalau jelang lebaran, pernah. Dan jelang lebaran itu jalanannya mulus habis.

Ternyata… yang mulus itu dikerjakan jelang puasa.. -___-

Kena deh saya.

Banyak jalanan yang sedang digarap, dan itulah sumber kemacetannya. Jelas sekali, dan di beberapa tempat panjang sekali. Karena memang sudah kadung jalan, ya mau gimana lagi?

Sampailah kemudian di Karanganyar, dan saya melihat ATM BRI. Segera saya colok HP yang nyaris mati ke Powerbank, lalu telepon 021-121. Yah, jam 11 siang menelepon ke nomor itu jelas banget butuh perjuangan. Dan pada akhirnya ya memang butuh, ada kali 14 kesempatan panggilan sebelum kemudian sampai ke Mbak Sukma.

Transaksi terjadi. Jalanan ini terlalu kejam untuk saya pulang besok Minggu sesuai rencana awal, jadi keberangkatan dari Jogja digeser ke pagi saja.

Dan perjalanan dilanjutkan, disertai obrolan hangat Pak Supir dengan Andreas, yang saya terjemahkan.

Seperti waktu lihat poster “Piye Kabare Le? Penak Jamanku To?”

“Mister, do you know that?”

“Oh yeah. Soeharto.”

Atau ketika Andreas memuji Pak Supir.

“He is a good driver.”

“Mas, jarene kowe supir sik apik.”

“Tenane?”

“Tenan!”

“Weh. Thank you mister.”

Saya ngakak aja di jalanan ini, menemui Pak Supir yang lucu, dan bule Austria yang membumi.

“Ketoke umur e podo aku, Mas,” kata Pak Supir pada saya.

Saya lalu nanya umurnya Andreas.

“Almost fifty.”

“Arep seket, Mas.”

“Actually, fourty eight.”

“Papat wolu, Mas.”

Saya jadi kayak penerjemah presiden di kancah per-PBB-an.

Syukurlah, akhirnya sampai juga di Jogja, tepatnya di Giwangan, nyaris jam 3, dan itu berarti ada sekitar 18 jam saya ada di atas bis Lorena ini.

Saya turun, lalu mengucap terima kasih kepada Pak Supir, dan kerennya, kepada setiap penumpang dia selalu pesan untuk hati-hati. Asli, ini supir keren abis.

Sayangnya saya lupa namanya 😦

Andreas saya ajak ngojek, setelah sebelumnya saya nawar ojek. Mentang-mentang saya bawa bule, mau dimahalin.

“Jalane macet lho Mas.”

“Mas.. Mas.. Aku ki wong kene.. Aku ki yo ngerti dalan e..”

Mungkin dia belum tahu definisi macet versi anak Cikarang.

Akhirnya dengan 20 ribu, saya bisa berangkat ke TBY. Ehm, di Cikarang, ojek 20 ribu itu nggak ada apa-apanya, dan di Jogja saya bisa dapat Terminal Giwangan ke Taman Budaya Yogyakarta. Sebagai konsumen, saya iri. Titik.

Begitulah sekilas perjalanan saya. Meski bukan durasi terlama saya naik bis, karena ke Sumatera saya satuannya bukan jam tapi hari, tapi ini adalah paling lama yang saya tempuh untuk rute Cikarang-Jogja, atau sebaliknya. Cukup layak untuk jadi kisah tambahan di blog ini.

Setidaknya saya jadi tahu, bahwa perjalanan darat menjelang bulan puasa, ada perjalanan yang sebaiknya dihindari. Hehehe..

🙂

Poelang Kampoeng

Ada suatu masa yang telah berlalu, yang kemudian memberi warna, makna, dan rasa pada kehidupan kita. Itu sudah pasti. Dan pernahkah kita merindukan masa-masa itu?

Saya yakin, pernah.

Dan mungkinkah kita kembali ke masa itu?

Tentu kita nggak akan menjadi muda kembali. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa sejenak pulang dan merasakan kembali masa yang telah berlalu itu.

Yup. Sejenak pulang. Sebuah terminologi yang kurang lebih bermakna ‘kembali’. Sebuah diksi yang sejatinya tidak akan bermakna lebih tanpa kehadiran manusia di dalamnya.

Ya anggaplah dulu kita pernah tinggal di suatu tempat, lalu bertahun-tahun kemudian kita kembali ke tempat itu, tapi kita tidak menemukan orang-orang yang dulu ada di tempat itu bersama kita. Makna pulang jadi kurang terasa.

Maka, apa jadinya ketika orang-orang dengan kerinduan yang sama, memutuskan untuk pulang dalam satu waktu yang sama?

Pastinya sangat monumental.

Dan disinilah itu akan terjadi.

poelang kampoeng

Bermula dari sebuah tantangan sang pelatih yang langsung disambut antusias, maka terjadilah event ini:

Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Namanya juga konser reuni, maka yang akan ada di panggung adalah orang-orang yang dulu pernah berjuang bersama di PSM Cantus Firmus, dan kini sudah tersebar di berbagai tempat, yang khusus pulang untuk konser ini.

Mereka datang dari tempat-tempat yang berjauhan, dari barat Indonesia, juga dari timur Indonesia, pun dari sekitar ibukota, hingga dari belahan dunia yang berbeda.

Mereka datang, untuk pulang.

Pernah melihat yang seperti ini sebelumnya?

Untuk itu, jangan lewatkan Konser Reuni Alumni Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2013.

Untuk reservasi tiket bisa melalui Mbak Niken (08985554109). Sistem pemesanannya juga sudah canggih, jadi bisa memilih bangku yang hendak direservasi hanya dengan klik disini 🙂

Tunggu apalagi? Masih hendak melewatkan peristiwa istimewa ini?

🙂

Jogja

Kemaren dapat kirim lagu via whatsapp. Mengingat sejak sudah nggak sama Mbak yang itu, kebiasaan kirim mengirim lagu pakai whatsapp sudah tidak dilakukan lagi, mendadak ingat deh. Hahahaha.

Untung juga HP habis service dan data hilang semua. Setidaknya ada sela di memori, dan jumlahnya lumayan lega.

Nah, lagu yang saya dapat agak mengundang tanda tanya.

Lagu opo iki? Ora tau krungu.

Tapi begitu didengarkan, asyik punya! Beneran. Ini juga nulis posting sambil muter itu lagu.

Judulnya saja sudah monumental banget -> JOGJA. Dinyanyikan sama Ni-na. Dan pastinya bukan Oh Nina, karena itu kan band-nya cowok. Ini cewek. Baiklah, begini liriknya. Saya kutip dari sini. Ada link download-nya juga disana.

Kutemukan cinta di indahnya Jogjakarta
Buat hidupku berwarna terbuai asmara

Kunikmati cinta berdua selalu denganmu
Menyusuri kota budaya Jogjakarta

Tapi kini saatnya tiba
Ku harus tinggalkan dirimu
Meski hati kan selalu milikmu

Ada yang tertinggal di Jogjakarta
Saat kunaiki kereta
Semua kenangan cinta terajut asmara

Entah kapan lagi kita bertemu
Tak mungkin hatiku mendua
Bila nanti kujauh kan kudekap cinta

Ku tlah jatuh cinta pasrahkan diri padamu
Eratkan pelukan hangatnya Jogjakarta

Kunikmati cinta tak lepas diriku kau cumbu
Pelan habiskan malam romantisnya Jogjakarta

Walau diriku kini telah pergi
Hatiku kan selalu disini
Selamanya kan kubawa
Kenangan di Jogjakarta

 

Opo ra nggawe garuk-garuk aspal ki lagune? >.<”

Eniwei, keren abis. ABIS!

Sesudah Hujan

Dua orang sedang berantem di atas kereta api yang sedang melaju kencang. Di kejauhan seorang wanita tampak membidikkan senapan sambil berbincang dengan seseorang yang lain via headset. Wanita itu tampak ragu, tapi seseorang di tempat lain dengan tegas berkata, “shoot!”.

Wanita itupun menembak dan satu dari dua orang yang ada di atas kereta api itu terjatuh, jauh ke bawah. Terhanyut di sebuah air terjun.

Oke, FINE! Aku kurang paham maksud hati kru bis Pantura ini untuk memutar Skyfall persis jam 12 malam. Ya secara biologis jam segitu adalah waktu tidur, dan bayangkan saja di tengah tidur-tidur ayam–namanya juga tidur di bis–aku masih harus mendengar jedar jedor suara tembak-tembakan James Bond dengan musuhnya.

Mungin dia baru beli bajakannya.

Dan entah berhubungan atau tidak, perlahan kaca tebal di sebelah kiriku mendadak basah. Kulihat lebih dekat dan teliti, ya memang semakin basah. Maka sejurus kemudian aku paham bahwa ini adalah hujan. Ehm, hujan di perjalanan Indramayu ke Alas Roban ini tampaknya menjadi lebih menarik daripada Skyfall. Hujan yang dilihat dari sebuah perspektif yang berjalan, sekaligus hujan yang tidak bisa dirasakan. Inilah sebenar-benarnya melihat hujan. Dan bagiku, melihat hujan akan secara otomatis membangkitkan memori tentang dia.

Dia yang seharusnya sudah aku lupakan.

Glodakkk…

Kepalaku sedikit terantuk ke kursi empuk di depanku. Mataku bangkit dari terpejam. Ah, aku terbangun rupanya, mungkin ada lubang di jalan. Lagipula, persis di bawahku adalah roda kanan belakang bis ini, jadi sangat wajar kalau aku bangun duluan kalau roda itu masuk ke dalam lubang.

Bis gelap, layar yang tadi memutar Skyfall sudah tidak lagi menyala. Kutarik handphone yang sedang di-charge dengan powerbank di dalam tasku, jam 04.01.

Hujan berhasil mengantarkanku pada sebuah suasana tidur yang lumayan nyenyak–untuk konteks sebuah perjalanan darat.

Kulepas handphone hitam itu dari powerbank. Kadang aku berpikir, sebegitu tergantungnya aku dengan benda-benda ini. Aku sendiri tidak pernah bisa lagi membayangkan ketika ayahku, puluhan tahun silam menempuh perjalanan darat selama seminggu penuh dari Sumatera ke Jawa. Dan aku tahu benar, dia tidak membawa powerbank, tapi dia bisa sampai dengan selamat dan–ya–tetap bisa hidup. Aku? Tanpa handphone dan powerbank ini, hidupku mendadak gundah. Sebuah ketergantungan yang buruk pada ciptaan sesama manusia.

Selesai rangkaian powerbank itu masuk rapi ke sarangnya, kepalaku kembali mencoba menikmati perjalanan dan pemandangan yang ada di sekitarku. Suasana pagi buta, bagiku adalah sebuah suasana yang khas. Dulu, ketika isu keamanan belum mengemuka, aku sering keluar dari kos pada pagi-pagi buta, sekadar berkeliling kota. Melihat tukang becak tidur di emperan Jalan Mangkubumi, melihat sepeda-sepeda onthel yang dikayuh manusia paruh baya di Ring Road Utara, hingga mengamati orang seusia nenekku masih dengan setia menggendong keranjang rotan ke pasar.

Suasana pagi buta ini pula yang mengingatkanku pada suatu hari, ketika aku terjaga, bergerak, dan mendapati kenyataan bahwa aku sudah seharusnya melupakan dia.

Lagi-lagi dia.

Kaca di sebelah kiriku secara perlahan memberikan terang. Yah, matahari telah terbit, dan pada saat yang sama hujan masih saja turun dengan perlahan. Aku terpekur melihat warna hijau di sisi kiri jalan ini. Inilah jalur yang seringkali kudengar ketika menonton berita arus mudik. Alas Roban.

“Istirahat! Makan!”

Kondektur meneriakkan kedua kata tersebut begitu bis parkir di depan sebuah restoran. Matahari sudah bersinar terang dan bis ini baru keluar dari Alas Roban? Mau sampai Jogja jam berapa ini? Aku mulai merasa pasrah, karena sejatinya aku ada janji jam 12 siang nanti. Semoga masih terkejar.

Bresssss….

Persis ketika aku menginjakkan kaki di teras restoran, sejumlah besar volume air tumpah dari langit. Hujan. Ini hujan yang sama dengan yang aku lihat tadi, tapi ini adalah hujan dengan perspektif yang berbeda. Ini adalah hujan yang kurasakan.

Maka hawa dingin melingkupi restoran ini seketika. Akupun bergegas merogoh saku dan menghitung helai-helai kecil isi kantong untuk kemudian membeli popmie. Sedikit mengelus dada ketika tahu harganya dua kali lipat harga Jakarta. Mungkin memang harga air panas di dekat Alas Roban ini adalah Rp. 4000.

Inilah pemandangan paling sentimentil. Berdiri menghadap parkiran bis yang luas–tapi kosong, sambil menyeruput kuah dengan rasa yang khas, plus memandangi hujan, serta mengingat dia.

Sekelebat dan semakin jelas, dia muncul kembali.

Kutepiskan kehadiran itu, karena aku sendiri yang memutuskan untuk melupakan dia. Untunglah kru bis segera bersiap dan perjalanan dilanjutkan kembali. Aku cukup lelah karena mengamati pagi buta, dan kini saatnya aku meringkuk manja dalam balutan selimut hijau bis Pantura ini.

Tulang belakangku mulai lelah. Sudah 12 jam aku berada dalam posisi yang sama. Dia berontak dan menyebabkanku terbangun. Dan ini masih di satu kota sebelum Jogja.

Lama banget sih!

Kesadaranku perlahan pulih sampai kemudian aku tersadar kalau bis ini sedang berhenti dan supir bis baru saja berlalu di sebelah kananku. Supir juga manusia, dia pasti kebelet pipis. Kepalaku kembali ke sisi kiri dan mendadak sadar kalau bis ini berhenti di sebuah tempat, yang sangat dekat dengan–lagi-lagi–dia.

Kini aku tidak bisa berkelit karena aku tahu benar tempat ini. Tempat dimana aku sempat berharap, untuk kemudian harapan itu padam seketika semata-mata karena harapku terlalu tinggi. Dalam hal cinta, kita boleh bermimpi tinggi tapi tidak boleh berharap terlalu tinggi. Sebuah pelajaran penting yang aku pahami sesudah kejadian suatu sore di tempat yang tidak jauh dari bis ini berhenti, bertahun-tahun silam.

Kenapa mendadak perjalanan ini menjadi tentang dia? Padahal sepanjang jalan ini aku juga asyik bertukar pesan BBM dengan seorang gadis manis yang selama beberapa bulan ini akrab denganku. Seorang gadis yang kukenal tidak lama sesudah aku memutuskan untuk melupakan dia.

Ya, dia. Dia yang mendadak muncul kembali dalam setiap penglihatanku.

Dan aku mendadak perlu kaca ketika aku mengutuk kemacetan di jalan masuk Jogja ini. Kenapa perlu kaca? Karena aku mengutuk plat-plat asing non AB yang mendadak memenuhi jalanan Jogja. Mereka ini menuh-menuhin jalan! Dan kaca itu kuperlukan karena aku sendiri juga adalah pendatang yang dalam waktu singkat akan membuat Jogja semakin penuh.

Kalaulah aku tidak hendak melihat saat bahagia temanku, maka perjalanan ke Jogja pada saat liburan akhir tahun adalah opsi terakhir untuk dipilih. Bahkan dulu waktu aku masih tinggal di kota penuh kenangan inipun, aku–si makhluk sunyi–lebih memilih berdiam di kota mati di sekitarku daripada terjebak macet oleh plat luar kota di jalanan. Sigh!

Jalanan merayap ini akhirnya berakhir juga. Waktu kian mendesak sehingga aku juga bergegas meninggalkan terminal Jombor menuju resepsi pernikahan temanku di sudut lain kota ini. Benar-benar sudut lain, melintang utara selatan. Di perjalanan, aku samar-samar mengingat dia yang sama–yang dari semalam meraja di otakku (lagi). Untungnya aku masih dapat mengendalikan laju sepeda motor sewaan ini. Haha, anggap saja bagian terakhir ini berlebihan.

Resepsi pernikahan teman ini sudah mendekati sepi ketika aku tiba. Masih syukur kalau aku masih bisa melihat segelintir teman yang datang dan kemudian berfoto bersama. Suatu ritus sepele yang sekarang sebenarnya bisa digantikan oleh kreativitas Photoshop. Tapi maknanya itu yang berbeda. Berbeda sekali.

Pernikahan ini milik temanku yang sudah berpacaran enam tahun lamanya. Ehm, sebuah angka yang sama dengan rentang masa aku mengenal dan jatuh cinta pada dia. Ah, suatu kebetulan saja. Momen yang sama menghasilkan dua makna pada dua makhluk yang berbeda. Toh dalam satu momen besar, terjadi momen-momen kecil yang memiliki makna berbeda bagi setiap persona yang mengalaminya.

Makna berbeda, pun dengan nasib. Kalau dia bisa menuntaskan perjalanannya hingga ke pelaminan–dan siap memulai perjalanan baru, maka aku ya semacam ini. Gundah gulana antara (sempat) berhasil melupakan dan kemudian kembali mengingat dia.

Masih saja soal dia yang tidak bisa lenyap dari hati ini.

Mendung menggantung dan aku pamit pulang, ke sebuah tempat penginapan. Tempat biasa tapi sedikit bermakna lebih dalam. Tempat yang ada di sudut lain kota ini.

Ketika aku mengayun tangan di pedal gas, di tanjakan Janti, mendung menggantung itu akhirnya pecah jadi berkeping-keping. Melontarkan volume air yang kusebut hujan. Masalahnya, ini bukan hujan biasa. Ini hujan deras.

Deras sekali.

Bagiku–sejak dulu dan masih kupercaya hingga kini–hujan bukanlah halangan. Petani di masa silam punya rituan khusus memanggil hujan. Kalaulah hujan menghanyutkan (rencana) panen mereka, bukan hujan yang salah, tapi waktu mereka yang tidak tepat. Bahwasanya hujan menjadi sesuatu yang dikutuk oleh orang kebanyakan, mungkin baru terjadi ketika semua lapisan tanah dilarang meresapkan air dan air itu lantas tergenang. Genangan yang kemudian membawa konsekuensinya.

Apakah hujan salah kalau begini? Tidak! Tidak sama sekali.

Maka aku melajukan sepeda motor dengan teknik tertentu. Melibas genangan tidaklah semudah melibas jalanan biasa. Gas besar pada posisi gigi 1 atau 2. Motor menjadi lambat, konsumsi bensin boros, mesin meraung begitu kencang dan lebih panas. Semua dilakukan agar kendaraan roda dua ini masih sanggup berjalan.

Sementara dari atas, tetesan air menyerupai tusukan jarum terus menghujam lenganku. Satu-satunya bagian yang masih terpapar oleh air langit ini.

Aku terus berjalan. Hidup ini soal menuju ke tujuan. Siapa yang tahu sesuatu yang mungkin aku lewatkan jika aku memilih untuk berteduh? Tapi siapa pula yang tahu akibat jika aku terus berjalan? Tidak ada. Ini adalah sebuah pola hidup yang kunamakan misteri.

Makanya, kadang untuk sebuah hadangan semacam genangan, kita perlu bekerja perlahan tapi lebih keras. Perspektif menyikapi hujan yang bagiku sejalan untuk hidup.

Perkaranya, aku tidak bisa memakai perspektif itu ketika suatu hal sudah menyangkut dia.

Dia lagi, dia lagi. Dan akan selalu dia.

Aku akhirnya sampai di tempat penginapan sederhanaku, di sudut utara kota Jogja. Sebuah penginapan penuh makna karena persis di hadapannya adalah sebuah tempat monumental.

Monumen tidak nyata yang terbangun abadi dalam kenangan. Ketika aku berdiri di sebuah tempat dan berbincang dengannya sambil mendongak. Ketika aku mengetahui dia ada dari jendelanya yang terbuka. Ketika aku memanggilnya karena sekadar hendak menyapa.

Maka ketika sepeda motor kuparkir di tempat yang ada di penginapan, aku tidak lantas masuk ke kamar. Aku berdiri seolah menatap hujan yang perlahan mereda. Aslinya, pandanganku menembus jauh ke seberang jalan, ke sebuah jendela, sebuah pagar, dan sebuah tempat percakapan. Dan sekelebat lagi kulihat dia disana.

Mataku terpejam meski basah. Tidak, aku tidak menangis. Ini asli basah oleh hujan yang perlahan mereda. Aku terbayang saat-saat indah itu, ketika aku dan dia menjadi dekat–sebagai teman bercakap-cakap soal hati. Dan tidak pernah lebih dari itu. Bahkan kini berkurang, jauh berkurang menjadi dingin sama sekali.

Indah yang terjadi sesudah hujan, dingin yang terjadi juga sesudah hujan.

* * *

“Kak, boleh curhat?”

Dia mendatangiku dan lantas duduk di atas batu, persis di sebelahku.

Lha, ya silahkan.”

Maka dari bibir manisnya meluncur berbagai perkataan tentang kisah, tentang cinta, tentang pedih. Sebuah rangkaian yang menyebabkan luka di hatiku. Kenapa?

Karena akhirnya aku tahu, bahwa yang ada di hatinya bukanlah aku.

Tapi, seluka-lukanya aku, berduaan dengannya–dengan kaki telanjang menapak di rumput yang basah sesudah hujan–adalah sebuah kejadian tidak ternilai. Maka aku memilih menikmati kebersamaan ini dan menyimpan luka itu rapat-rapat, jauh di tempat yang hanya bisa kujangkau sendiri.

“Ya, kalau memang hatimu memilih dia. Perjuangkan!”

Itu kalimat terakhirku, penuh dengan makna munafik. Sangat munafik karena kemudian aku tidak pernah memperjuangkan pilihan hatiku padanya. Aku tidak sayang pada hatiku, tapi aku lebih sayang pada kedekatan yang mungkin sirna jika memilih untuk mengkonversi perasaan ini menjadi cinta.

Fiuhhh..

* * *

Hujan teramat deras ketika aku sampai di hotel tempatku akan menginap. Aku bahkan tidak tahu ojek ini membawaku ke tempat yang benar atau tidak karena aku berada di bawah kibaran ponco. Pada akhirnya ojek berhenti dan sepertinya aku berada di tempat yang benar.

Kulemparkan tasku ke ranjang begitu memasuki kamar hotel dan segera menyambar handphone yang ada di saku.

‘Aku lagi di Setiabudi. Bisa ketemu?’

Sebuah pesan singkat itu kukirimkan padanya. Berharap sebuah balasan menyetujui untuk bertemu.

Sebuah pesan singkat yang sepanjang malam sampai pagi belum berbalas. Dan pada akhirnya tidak berbalas.

Hujan sepanjang malam menemani penantianku atas pesan singkat yang tidak berbalas itu. Dan persis pagi hari, pagi buta, aku berjalan ke sebuah tempat yang aku tahu adalah kediamannya kini. Sebuah perjalanan melewati jalanan yang sejuk. Bahkan aku melihat sebuah pohon tinggi dengan burung sejenis angka terbang berputar di atasnya. Indah. Meski tidak ada yang lebih indah daripada dia.

Aku akhirnya berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam, persis di sebelah jalan tol. Aku hanya berhenti, berdiam, mematung lima menit, dan mengurungkan niatku memencet bel.

Aku lantas berbalik, berjalan cepat menuju sebuah warung makan kecil, tidak jauh dari situ dan duduk disana. Tidak lama, dia keluar dari rumah pagar hitam itu dan berjalan kaki menuju kantornya yang cukup dekat.

Dari balik warung makan kecil, aku mengamatinya. Dan atas nama langkahnya yang semakin menjauh itu, akupun sadar bahwa dia memang seharusnya aku lupakan.

* * *

‘Udah sampai Jogja?’

BBM masuk, dari gadis cantik yang kuceritakan sebelumnya.

‘Udah dong. Udah kehujanan juga.’

‘Ish, sakit lho ntar.’

‘Gpp kok. Gpp.’

‘Oke d :D’

Sungguhpun aku berterima kasih pada gadis cantik ini yang mampu mengalihkan duniaku dari seorang dia. Meski tidak sepenuhnya. Fakta bahwa aku tidak bisa mengalihkan cintaku ke gadis cantik itu membuatku memang tidak bisa lari dari dia, dia yang punya tempat rapi di hati ini.

Dengan segala isi pemikiran itu, kuletakkan benda hitam kecil itu dan menatap jauh ke luar jendela. Dan tebak, apa yang terjadi? Ya, hujan.

Hujan yang sama, yang mengingatkanku pada rumput hijau yang kupijak dan batu basah yang kududuki saat berbincang dengan dia.

Hujan yang sama, yang membuat tanah basah ketika aku memutuskan untuk melupakan dia, persis di depan rumah berpagar hitam.

Hujan yang sama, yang sedari semalam membangkitkan segala kenangan dan hasratku tentang dia.

Hujan yang lantas menjadi tambah lebat. Derunya–entah bagaimana–membuatku melaju mengeluarkan kepalaku dari jendela dan menikmati deras serta basahnya anugerah langit itu.

Dan–entah darimana pula–aku semacam mendapat keberanian lagi untuk bertemu dia. Aku sadar, ketika aku memilih untuk meninggalkan rumah pagar hitam itu, aku memilih menyimpan sebuah unfinished business yang nyatanya laten.

Bukankah lebih baik aku menyelesaikannya, dan membiarkan dia memberikan kesimpulan alih-alih aku menyimpulkannya sendiri, seperti saat ini? Bukankah lebih baik ditolak daripada menganggap diri ini ditolak?

Tiba-tiba sebuah energi masuk ke langkah kakiku.

* * *

Kini, sepeda motor sewaanku sampai di depan sebuah bangunan berlantai 2. Tidak jauh dari tempat bisku berhenti kemarin. Sebuah perjalanan nekat–dan kembali–menembus hujan.

Dan ketika sesudah hujan, aku sampai di tempat ini, aku merasakan sebuah momen yang sama. Sebuah pengantar untuk sebuah penyelesaian. Sebuah prolog untuk sebuah happy ending. Setidaknya itu yang ada di pikiranku.

“Eh, Mas Leo, lama nggak mampir,” ujar Tante Eliz, seorang baik yang kuketahui sudah melahirkan dia ke dunia fana ini sebagai sebuah pesona tiada akhir.

“Iya, Tante. Mumpung liburan.”

“Ayo, masuk.”

“Makasih, Tante.”

Tempat ini tidak asing, karena aku pertama kali merasakan dinginnya dia padaku, ya di tempat ini. Hanya sebulan sebelum aku memutuskan pergi ke tempatnya tinggal sekarang, di sebuah rumah berpagar hitam.

“Key ada?”

Oke, percayalah aku nekat! Aku datang ke tempat ini untuk bertemu dengan dia, tanpa tahu apakah dia pulang ke rumah kelahirannya ini. Percayalah, tidak ada kata nekat dalam kamus cinta. Dalam cinta, semuanya mendadak menjadi hal yang ordiner.

“Ada, baru pulang tadi. Libur tahun baru dia.”

“Oh begitu. Tante sehat?”

“Syukurlah. Mau minum apa?”

“Jus apel, Tante. Hehe, bercanda. Apa aja deh.”

“Baiklah. Tante panggilkan Key dulu ya.”

Bahwa sebuah pernyataan barusan sudah membuat aliran darahku melaju lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan, kalau ada Amlodipine Besylate di tempat ini, aku sendiri meragukannya akan menurunkan kecepatan aliran darah ke jantung ini.

“Key, ada tamu tuh.”

Samar-samar kudengar Tante Eliz memanggil anak gadisnya itu.

Langkah kaki terdengar jelas di telingaku, dia sedang berjalan mendekat.

“Kak? Ngapain?”

Aku menemukan ekspesi kaget dalam pertanyaannya.

“Selamat sore, Keyla,” ujarku sambil tersenyum.

* * *

Tetes air hujan tampaknya mulai menyelesaikan tugasnya untuk turun dari langit. Kini hanya sisanya saja yang masih berjatuhan. Sementara suasana dingin memeluk bumi. Memeluk aku dan Keyla yang duduk di teras rumahnya sambil menatap hujan.

“Jadi, curhat-curhatmu jaman dulu itu ternyata aku?” tanya Key, matanya tetap menatap jauh kepada hujan.

“Sebagian besar.”

“Hmmmm..”

Suara air tersisa yang masih berjatuhan ke bumi menemani kesunyian pembicaraan sesudah hujan ini.

“Waktu kamu jadian sama Cello, aku sudah berhasil melupakan kamu, Key. Sampai kemudian aku tahu kalau kamu malah disakiti.”

Key terdiam, dengan ekspresi yang sama.

“Dan aku tahu segala resiko untuk kelancanganku pada saat ulang tahunmu. Entahlah, bagiku tidak selayaknya juga aku memberikanmu hadiah yang absurd macam itu.”

Dan Key masih terdiam.

“Dan waktu aku SMS kamu, SMS terakhir itu, aku ada di sana Key. Aku ngelihat kamu berangkat kerja, malah.”

Ada tatapan bermakna kaget, meski yang tampak adalah dia mencoba menyembunyikannya.

“Dan untuk suatu masa yang sudah bertahun-tahun lewat ketika aku memutuskan untuk melupakan kamu, pada akhirnya kamu kembali juga. Aku berbohong karena hati ini masih menyimpan satu tempat untukmu, yang tidak bisa digantikan.”

Gantian aku menatap langit sesudah hujan.

“Kamu tahu satu hal, Kak?”

“Apa?”

“Ah, kamu kan tahu banyak hal. Hehe.”

“Apa sih Key? Nggak mudeng aku?”

“Nggak kok, nggak. Kamu kan ngerti tentang lelaki yang dulu tak curhatkan ke kamu.”

“Aku nggak ngerti orangnya, tapi ngerti spek-nya.”

“Ciee, bahasanya. Mentang-mentang udah jadi bos Quality sekarang.”

“Bos ke Jogja nggak naik bis, Key.”

“Itu kan dalam rangka penghematan.”

Tampak menjadi tidak jelas, tapi aku menikmati percakapan ini. Percakapan yang sudah lama hilang antara aku dan dia.

“Jadi udah berapa lama kamu bohong sama hati kamu, Kak?”

“Cukup lama. Yang pasti sejak kita menjadi lebih dekat.”

“Hahaha, itulah. Kadang batas pertemanan itu yang bikin bias perasaan.”

“Banget.”

Tidak ada lagi tetes air hujan yang jatuh. Sesudah hujan ini aku merasa semakin dipeluk oleh kesejukan. Sejuk oleh cuaca, sejuk oleh terlepasnya beban secara perlahan dari hati ini.

“Dan untuk sesuatu yang sudah kamu tahu sendiri, Key. Just want to say, I love you. Aku nggak usah bilang since ya. Itu sudah lama sekali. Kalau waktu itu ada yang bikin anak, sekarang udah SD dia. Hehehe.”

Dia terdiam, tapi senyum tersungging di bibir manisnya, yang dikepung pipi yang semakin tembem saja. Aku seperti melihat dia yang sama dengan yang kutemui bertahun-tahun silam, dia yang membuatku berhasil jatuh cinta ketika pertama kali menyusup masuk lewat mata ini.

“Hmmm.. hmmm.. haha.. hahahaha..”

Dia tertawa perlahan, lalu kemudian lepas.

“Kenapa?”

“Nggak, Kak. Kadang lucu juga ya. Melihat semua yang pernah terjadi diantara kita. Kenapa jadi begini ya?”

“Nggak tahu,” ujarku sambil mengangkat kedua bahu.

“Dan asal kamu tahu, aku juga kehilangan saat-saat berbincang soal hati dengan kamu, Kak. Cuma memang aku masih nggak suka dengan yang kamu lakukan waktu aku ulang tahun dulu itu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa, udah lewat kok.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Emang kamu nanya?”

“Enggg.. nggak sih.”

“Hahahaha.. Kak, kak.. kamu ini.”

Dan aku hanya bisa tersenyum bingung.

“Ada suatu masa ketika aku mengerti kalau kamu yang bisa menembus pertahanan kuat hati ini. Dan mungkin aku merasakan hal yang sama.”

You love me too?” tanyaku, tiga perempat tidak percaya.

I think.”

Done. Eh, hati, ini loh maumu udah terjawab,” ucapku sambil menengok ke arah ulu hatiku.

“Gila kamu, Kak,” sahut Key dan lantas tertawa.

Sesudah hujan ketika hati ini memperoleh jawab atas sebuah penantian berbilang tahun. Hati mungkin bisa beradaptasi pada sebuah keputusan dan konsekuensi, tapi pada titik tertentu ia akan memunculkan kembali keinginannya. Dan kini, hatiku memperoleh keinginannya.

🙂

 

Senyum Abadi

“Wer ewer ewer ewer ewer.. Ewer ewer…”

Suara pria separuh wanita–atau mungkin sebaliknya–itu membangunkanku dari tidur yang tidak enak. Yah, namanya juga kereta bukan eksekutif, mana bisa tidur enak. Lha kalau kereta eksekutif saja telingaku harus disibukkan oleh tawaran berbagai makanan, mulai dari nasi goreng hingga kentang goreng, juga minuman mulai dari es teh manis hingga kopi panas.

Apalagi kereta bisnis?

Mulai dari ratingdeng sampai mijon, dan bahkan hingga pijet, semuanya ada. Memang luar biasa. Tapi sesungguhnya semua itu mengganggu tidurku. Aku tidak bisa tidur dengan nikmat. Dan pagi ini aku dibangunkan oleh duo ewer-ewer.

Hmmm, tak masalah sih. Bagiku ewer-ewer ini justru menjadi pertanda jelas. Yak, ini sudah stasiun Wates. Tak lama lagi, Jogja.

Dan kereta api Senja Utama Jogja itu mendengus perlahan memasuki tempat-tempat yang perlahan makin aku kenal. Sawah di sisi kanan, hingga rumah kos di daerah Wates tempatku tinggal sebentar dulu. Perlahan dan perlahan lagi akhirnya sampai di kota Jogja, hingga aku lihat kewek.

Ini dia, stasiun Tugu.

Terakhir kali di tempat ini, aku diantar oleh seorang gadis, berpisah dengan pelukan manis. Ah, sebuah masa yang tak terkatakan.

Rombongan porter berebut masuk, bersamaan dengan penumpang yang keluar. Mukaku kusut kurang tidur, tapi aku paksakan untuk bangkit dan keluar.

Kaki kananku menjejak marmer putih di stasiun terkenal itu. Kuhirup sedikit dalam udaranya, dan aku mengerti bahwa ini Jogja. Kenangan merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku. Inilah dia kota itu, ketika semua kenangan terkumpul jadi satu.

Aku keluar dari sisi Mangkubumi. Jalan cukup jauh ke depan, tentu dengan tawaran dari kiri dan kanan, mulai taksi (gelap), taksi (terang), hingga becak. Aku memilih untuk menolak semuanya, karena aku ingin mengenang.

Kenangan yang harus dipaksa untuk diingat, agar nanti aku segera lupa. Lelah aku untuk mengenang semuanya.

Langkah kakiku yang tertekuk semalaman satu persatu melangkah di sepanjang Mangkubumi. Ah, tempat ini sudah tak sedamai dulu. Jauh, jauh dan jauh lebih ramai dari 11 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menjejak kota ini.

Tubuh lelah ini sampai di sebuah lapak gudeg pinggir jalan.

“Bu, setunggal, ngagem ayam.”

“Nggih Mas.”

Entah ini pemandangan apa, aku tak mengerti. Tapi buatku, gudeg itu yang sebenarnya adalah yang dijual oleh orang dengan level Mbah-Mbah. Kalau tidak, menurutku kurang enak. Ya sama persis ketika aku masuk ke warung berlabel warung Padang tapi dilayani dengan bahasa Jawa. Sensasi enaknya berkurang signifikan.

Gudeg, jalanan ini. Ah! Untung ini masih siang. Kalau saja ini sudah malam, maka kenangan itu akan semakin merajalela di pikiranku. Ya aku jarang beredar pagi-pagi, tapi kalau malam hari, jangan ditanya. Disitulah kenanganku terbentuk, satu persatu.

Perjalananku berlanjut, tubuh gontai ini menapak kembali langkahnya di kota tempat ia terbentuk menjadi manusia.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Yak! Pengamen yang tiba-tiba ada di sebelahku dengan sukses menyibak tabir yang selama ini aku tutup, membuka kekelaman yang selama ini aku bungkam. Dengan sukses, ehm, sangat sukses bahkan!

* * *

“Sesungguhnya, ku tak rela…”

Tanganku terjulur memberikan sejumlah koin kepada pengamen bersuara indah ini. Tapi bagiku akan lebih indah kalau dia pergi. Aku butuh suasana tenang.

“Kok disuruh pergi?” tanya Raras.

“Nggak apa-apa. Galau lagunya.”

“Yah, kenapa? Ada hubungan dengan suasana?”

“Sedikit.”

“Oke. Jadi apa yang mau dibicarakan?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Nafas udara malam Jogja yang belum banyak kontaminasi.

“Aku sayang sama kamu, Ras.”

“Hmm, tapi mukamu sendu begitu?”

“Yah justru itu. Aku sayang sama kamu, tapi ternyata aku tidak bisa memiliki kamu sepenuhnya.”

“Masih masalah yang sama?” tanya Raras sambil melempar pandang ke sekeliling.

“Sepertinya masalah diantara kita hanya itu.”

“Dan itu yang terbesar, Jo.”

“Yah begitulah. Aku takut, semakin kita tidak mengindahkan masalah ini, semakin aku bertambah sayang pada kamu, dan semakin aku akan membuat hubungan ini menjadi penderitaan.”

“Maksudmu, Jo?”

“Yah, kalaulah kita menikmati kebersamaan kita, di saat sebenarnya kita tidak bisa bersatu. Pada akhirnya kita akan berpisah kan? Kalau itu terjadi nanti, ehm, akan sangat jauh lebih susah untuk melepaskanmu Ras.”

“Hmmmm, satu tembok ya Jo. Tapi memang terlalu tinggi.”

“Ini berat, Ras. Tapi akan jauh lebih baik buatmu. Memang sebaiknya kita berpisah.”

Raras terdiam, pandangnya masih di tempat yang sama. Nasi goreng sapi yang biasanya lahap disantapnya, kali ini terdiam manis dan malah digapai lalat.

“Mungkin memang begitu Jo. Setidaknya kita masih bisa menjadi teman yang baik.”

“Itu pasti, Ras. Kamu pasti akan jadi teman terbaikku.”

“Cinta itu ya begini kali Jo. Menggelitik. Bikin aku jatuh cinta pada kamu, tapi dengan pandainya membuat kita tidak bisa saling memiliki.”

“Mungkin iya, Ras. Sukanya main-main.”

“Atau mungkin kita yang mempermainkannya, Jo?”

Giliran aku yang terdiam. Bahwa tembok ini sudah aku tahu dari awal, dan tetap aku anggap tiada. Hingga kemudian aku sadar bahwa tembok ini ada dan nyata, tertulis jelas di KTP bahkan.

“Yah, mari kita lanjutkan hidup kita Ras. Pasti ke depan akan lebih baik.”

Aku menutup perpisahan di malam itu dengan mengalihkan pandangan ke nasi goreng sapi di depanku. Kutolehkan kepalaku sekejap, sebuah senyum manis Raras terkembang disana. Ah, senyum itu, masih sama dengan senyum yang membuatku jatuh hati padanya.

* * *

Langkahku masih sendirian saja, tidak akan yang menemani. Sebuah pertemuan, dan permainan yang aku ciptakan sendiri, lantas diakhiri dengan perpisahan yang juga aku buat sendiri. Semuanya terkuak di depan mata.

Dasar pengamen di sebelah ini tahu saja.

“… katamu hadirkan senyummu abadi..”

Raras, senyummu pasti abadi dalam hidupku. Selamanya.

* * *

Sebuah interpretasi dari lagu Jogjakarta-nya KLA Project.

Keengganan Meninggalkan Jogja: Sebuah Perspektif Sederhana

Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)

“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”

Buat saya, quote di atas sangat menarik.

dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya

Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.

Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.

Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.

Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.

Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.

Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.

Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.

Salam Semangat!