Menjadi Lebih Baik

Perjalanan Cikarang-Bogor-Cikarang sambil terkantuk-kantuk (thanks a lot for Pak Asep hehehe..), membuat saya melakoni kegiatan rutin saat perjalanan: melamun. Dan keping-keping peristiwa terbaru mengarahkan saya pada suatu memori permainan WE/PES di Play Station.

Tulisan ini tidak bermaksud membuat makna bahwa main WE/PES di PS itu baik sempurna, tidak sama sekali. Saya hanya ingin berbagi memori bagaimana kita sejatinya bisa menjadi lebih baik.

Alkisah, pada tahun 2009, dua orang rekan bergabung di permainan bola di PS yang di-liga-kan setiap periode tertentu. Dalam upaya tidak bikin malu, saya dan dua rekan itu rutin berlatih setiap Jumat malam, Sabtu, dan kalau perlu Minggu, tentunya di rental PS sesudah bekerja. Dengan anggapan akan dipakainya permainan PES, kami berlatih PES sepanjang waktu2 itu.

Saat permainan, muncullah WE sebagai basis liga. Persiapan kami hancur, dan kami menjadi 3 terbawah, pun juga jadi lumbung gol.

Beberapa liga kemudian, salah satu dari rekan tersebut hadir kembali di liga, tanpa latihan sama sekali karena tidak sempat, namun hasilnya: JUARA 1.

Well, apa intinya?

Banyak kisah from zero to hero di dunia ini, dalam lingkup yang dipersempit, mungkin kisah tadi bermakna sama. Kita dulu mungkin bukan apa-apa, tetapi dengan terus mendapat inputan, dengan terus berproses, dengan terus berupaya melakukan update diri, pasti ada perubahan.

Oke, rekan tadi memang tidak latihan sama sekali sebelum juara, tapi jauh sebelumnya, ia sudah bermain berkali-kali sampai pagi. Bahkan pernah dalam suatu liga, ia baru tidur subuh karena latihan, dan hasilnya gagal total. Disitu poinnya, setiap kegagalan selalu ada selanya. Ketika gagal di even pertama, jelas perbedaan basis game jadi soal. Solusinya, sesuaikan latihan dengan game yang dipakai pada pertandingan. Ketika kalah banyak, amati terus permainan lawan pada liga-liga berikutnya, dan pasti kita akan menemukan sesuatu. Demikian terus, setiap kesalahan-kesalahan mengumpan misalnya, akan hilang dengan rutin melakukan koreksi.

Tujuannya sederhana, menjadi lebih baik.

Sebenarnya, dalam beberapa hal pasti sudah saya dan kita lakukan. Pun ketika saya berubah dari 3 terbawah dan perlahan ke 3 teratas, bersama rekan tadi. Itu butuh proses, butuh usaha, dan butuh banyak hal yang saya sebutkan di atas. Ketika kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka disitulah keberhasilan kita dalam melakukan koreksi.

Tinggal sekarang, gimana ya caranya menerapkan pada hidup sehari-hari, karena hampir selalu saya sendiri, sering terjebak (seperti kata Badai) di Kesalahan Yang Sama?

Apa jawabnya?  Itulah gunanya kita diberi otak untuk berpikir.

Selamat pagi sobat. Semangat!!! 🙂

Sekilas Tentang Bukittinggi (Versi Saya)

Saya yakin sehakulyakinnya kalau sudah banyak ulasan mengenai Bukittinggi. Kalau nggak percaya ya silahkan tanyakan ke Mbah Google atau Om Wikipedia. Tapi sebuah status di FB dari seorang ibu yang dulu pernah tinggal di Bukittinggi dan menyatakan keinginannya melihat Bukittinggi setelah sekian puluh tahun, membuat saya merasa perlu dan ingin berbagi dan bercerita tentang Bukittinggi dalam versi saya. Sejujurnya saya nggak lama-lama amat disana, hanya 14,5 tahun. Itu juga harus dipotong masa-masa saya jadi orok dan belum mengerti dunia. Hahaha..

Sesuai namanya, Bukittinggi, kota indah ini berada di deretan Bukit Barisan, suatu perbukitan yang bisa dikatakan membelah pulau Sumatera. Secara teoritis dikelilingi oleh tiga gunung yakni Merapi (versi lain menyebutnya Marapi), Singgalang, dan satu gunung lagi yang saya kurang tahu pastinya apa, karena ada yang bilang Sago, ada yang bilang Tandikat. Yah pokoknya tiga. Kota ini bisa dibilang kecil, kalau hanya mau mengelilingi kotanya saja, paling banter menghabiskan waktu 15 menit. Itu sudah keliling kota, tentunya dengan kendaraan bermotor. Ya memang kecil, tapi joss.. Akses ke kota ini sebenarnya banyak, namun pada umumnya adalah lewat Padang, karena via udara. Atau kalau via angkutan darat, biasanya memang ambil rute dari Padang Panjang. Dan itu berarti masih pakai jalan Padang juga. Jalan lain sih banyak. Cuma ya tetap harus mendaki. Hahaha…

Pusat kegiatan disini ada di sekitar jam gadang. Disekitar jam gadang ada yang namanya Pasar Atas. Disini tempatnya kalau mau beli sepatu, baju, dan benda-benda yang bisa dikategorikan agak bersihan. Mengapa begitu? Nanti kita lihat lanjutannya. Di sekitar jam gadang juga adalah Plaza, mirip mall, tapi mungil nan mini. Jangan dibandingkan dengan mal-mal di Jakarta yang bikin pusing saking gedenya. Ada juga balai sidang Bung Hatta, yang kalau nggak salah adalah tempat emak saya wisuda (saya nggak ikut.. huhuhuhu…) Dari pasar atas, kita dapat menuju tempat lain bernama pasar bawah. Nah, diantara pasar bawah dan pasar atas ini ada namanya pasar lereng. Hayooo… Ya ibarat gunung lah, dari bagian atas ke bawah mau turun pasti via lereng. Ya begitu kira-kira. Nah kalau yang dijual di Pasar Atas adalah barang yang agak bersihan, maka yang di pasar bawah adanya ikan asin, tomat, beras, dan sejenisnya. Jangan khawatir soal harga, bisa ditawar. Nah, kalau yang atas agak bersihan, dan yang bawah agak kurang bersihan, maka di pasar lereng ada perifer-nya. Mau cari kaset bajakan, emas bajakan, alat-alat plastik murah, majalah bekas, poster, buku tulis, beha, celana dalam, boleh cari disana. Oya, dari pasar atas ke pasar bawah juga bisa via Jenjang Gudang, nanti keluar di dekat penjara lama. Lalu kalau dari pertengahan pasar lereng bisa turun di Jenjang Lereng. Curamnya minta ampun, dan anak tangganya kecil-kecil, so be carefully. Di ujung dari pasar lereng juga ada jenjang yang lebih elit, tapi saya lupa namanya, maaf.. hehehe..

Itu rute saya pulang sekolah. Dari sekolah saya di belakang Gereja Katolik. Jalan kaki ke jam gadang, pasar atas, pasar lereng, turun jenjang gudang, maen PS dulu, lalu beli paregede (pergedel) di bawah jenjang gudang, jalan lagi ke arah pasar bawah dimana ada petak Ikabe disana. Ikabe adalah angkutan umum disana, selain Mersi. Catat ya, namanya Mersi, alias Merapi Singgalang. Tapi ketika disebut lumayan elit to.. hahaha…

Oke, itu tadi sekelumit soal salah satu tempat di Bukittinggi.

Soal jenjang, memang jadi keniscayaan berada di perbukitan, akan ada banyak turun naiknya. Selain jenjang-jenjang diatas, ada jenjang lain di beberapa tempat. Tapi saya punya concern khusus pada tempat bernama jenjang seribu. Saya bisa yakinikan bahwa saya tobat naik jenjang ini. Hohoho.. Jenjang ini ada di salah satu sisi dari Ngarai Sianok yang tersohor itu. Saya juga bisa pastikan bahwa jumlahnya bukan seribu, sepertinya sih lebih, karena tinggi dari ngarai sianok itu puluhan meter. Dan bagaimana caranya kita bisa mendaki dari dasar ngarai ke atas. Capek? Banget euy.. Tapi kalau mau, boleh dicoba. Kalau mau mencapai jenjang ini dari bawah, butuh perjuangan juga sih menyusuri ngarai. Soalnya dari tempat turun Ikabe Ngarai, belum keliatan. Tapi kalau sudah jalan dikit, kelihatan kok. Silahkan dicari, saya tobat.. Hahaha..Ngarai Sianok ini, menurut salah satu sumber yang saya baca dan percaya, adalah satu dari dua ngarai di dunia selain Grand Canyon. Itu dia, entah sumber apa itu, yang membuat saya keukeuh, tidak ada ngarai lain di dunia selain yang dua itu. Hmmmm..

Apalagi ya? Ohya, kalau hotel janganlah dikau khawatir, ada banyak hotel di Bukittinggi yang mahal sampai yang murah. Losmen juga banyak. Nggak usah ragu soal ini.

Pusat perturisan di Bukittinggi ada di Kampung Cina. Saya bukan mau rasis ya, tapi emang namanya itu je. Memang kampung ini dihuni oleh etnis Tionghoa, dan rata-rata sukses, Hehe… Tempatnya dekat dengan jam gadang juga kok. Jalan dikit ke arah bioskop Sovia atau Hotel The Hills, lalu ikuti jalan turunan sampai mentok, sampai deh. Disitu banyak bule, itu identitasnya. Dan banyak café juga. Saya agak sayang, ada café nuansa Bali. Heh? Ngapain disini? Biarkan tiap daerah punya eksistensi sendiri-sendiri.

Untuk tempat hiburan, ada Niagara Plaza di lantai atas pasar atas (nah looo… atas banget kan?). Cuma nggak terlalu nyaman, menuju kesananya, pun parkirnya. Beuhhh.. Yang pasti kalau mau lihat istimewanya Bukittinggi ya ke Panorama dan Lubang Jepang. Itu hanya ada di Bukittinggi wis.. Yakin.. Tapi tetap perhatikan safety, karena kalau jatuh, ya mati. Beneran dah. Tinggi amat coy. Terus kalau main ke Lubang Jepang, jangan lama-lama. Hehehe.. Oksigen disana rebutan, apalagi kalau rame. Jadi begitu naik dan keluar lagi, serasa hidup kembali. Nggak percaya? Coba, dan datanglah ke Bukittinggi. Ada beberapa tempat lagi yang perlu dikunjungi, benteng Fort De Kock, jempatan Limpapeh, kebun binatang Kinantan (kebun binatang yang letaknya diatas, bayangkan distribusi kotoran hewaninya.. hahaha..), pacuan kuda, museum-museum, rumah Bung Hatta, dan lain-lain.

Ingin berkunjung pasti kan? Hahahaha.. Itulah, Bukittinggi, mantappp…

Catatan penulis: semua istilah telah di-Indonesia-kan. Jadi untuk Janjang, tetap saya tulis sebagai Jenjang. Okay.. hehe..

Kisah Pria Tua, Kersen, dan Hujan

Pria tua itu selalu duduk di bawah pohon kersen kala lewat. Pria tua dengan segala kisah hidupnya. Pria tua yang merasa nyaman dengan bisa beristirahat di bawah pohon kersen. Pria tua yang selalu mengutuk kehadiran hujan. Baginya hujan itu mengganggu istirahatnya.

Atau mungkin, mengganggu kebersamaannya dengan pohon kersen.

Pria tua ini tidak pernah melewatkan waktu istirahatnya tanpa pohon kersen. Ia duduk dibawah pohon itu, mengagumi pohon kersen itu, di dalam hati. Pun ia pula yang merasa bunga gladiol tidak cocok ada disitu. Apalagi kumbang dan kupu-kupu. Itu mengganggu.

Parkit? Ah, biarlah ia diatas sana.

Telah berkali purnama lewat, pria tua memandang pohon kersen dalam keadaan yang nyaris tanpa asa. Ada apa?

Pria tua tidak dapat berbahasa layaknya pohon kersen kepada hujan, hujan kepada awan, awan kepada parkit, atau parkit kepada bunga gladiol. Ia hanya dapat berbahasa sendiri. Ia, pria tua, yang sendirian, pria tua dengan kesakitannya, dengan asa yang tersisa, merasa bahwa pohon kersen itu terlalu indah untuk berdiri tanpa asa seperti sekarang.

Ia masih bisa lebih dekat dan lebih indah.

Semakin banyak purnama lewat, semakin perih ia melihat keadaan pohon kersen. Semakin layu, semakin galau, dan tentunya tanpa asa.

“besok, akan kuselamatkan kamu. Kamu itu berharga, daripada kamu hanya menunggu hujan yang tidak kunjung tiba. Toh, hujan itu mengganggu. Besok kamu akan menjadi keindahan di dalam rumahku”

Petang menjelang, hujan yang sudah berkali purnama tiada tiba itu, muncul juga akhirnya. Pria tua hanya tersenyum kala hujan tiba. Toh, hujan tidak akan menghalanginya untuk semakin dekat dengan pohon kersen. Ia semakin tekun mengasah kapaknya.

Tiba saatnya, kita berdekatan, dan saling menyelamatkan.

Pagi tiba, pria tua menatap pohon kersen yang sejatinya dalam keadaan lebih baik. Mungkin karena telah bertemu hujan. Ia memandang pohon itu berdiri untuk terakhir kalinya.

“Kita akan bersama segera”

Dengan tekun, ia menebang pohon itu. Ini bukan untuk menyakiti. Ini untuk maksud lain yang lebih baik, lebih indah.

Karena ia yakin pohon kersen pun tidak kesakitan

Petang menjelang, ketika ia membawa pohon itu dengan susah payah ke rumahnya. Ia tidak sabar, ia tidak dapat menunggu esok hari. Maka dengan segera, melewati malam, menjelang pagi, menyelesaikan apa yang ia impikan akan pohon kersen.

Dan ketika matahari terbit, pria tua menyelesaikan suatu meja cantik, dari pohon kersen. Pohon itu kini tidak merana, ia dalam keadaan yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih dekat. Itu yang penting.

Ia letakkan meja itu dekat jendela, agar ia bisa menikmati hujan dengan berpangku tangan pada meja kersen ini. Baginya itu suatu kepuasan. Ia bersama kersen, tanpa diganggu rinai hujan.

Mereka aman dibawah atap dan dibalik tembok.

Pria tua itu kini tiada lagi putus asa. Ia merasa lebih hidup. Jauh lebih hidup dari sebelumnya. Bersama meja itu ia melakukan banyak hal. Ia banyak menelurkan karya. Entah untuk dirinya, maupun untuk orang lain.

Ada baiknya ketika semua bisa bahagia.

Pria tua sesekali juga memandang parkit yang datang di sudut jendela. Ia hanya tersenyum, parkit pasti merindukan kersen. Tapi kersen sekarang dalam keadaan yang jauh lebih baik, bersamanya.

Indahnya kehidupan, ketika kehilangan menjadi jalan untuk menemukan.

* * *

terinspirasi dari:

http://dancingintherain-tere.blogspot.com

http://cicilia-menulis.blogspot.com

http://bailaconmigo-jola.blogspot.com

Bukittinggi: Kota Pendidikan?

Saya agak trenyuh membaca tulisan yang saya baca dari web pemerintah kota ini, maaf seribu maaf, tapi sebagai orang yang lahir dan menjelang besar dan dibesarkan oleh dunia pendidikan disana, saya merasa perlu urun komentar.

Profil dibawah asli diambil dari http://www.bukittinggikota.go.id/v2/index.php?class=text&file_id=108


Bidang Pendidikan

Bidang pendidikan ditetapkan menjadi potensi unggulan daerah Kota Bukittinggi, juga sejalan dengan fungsi dan kondisi alamiah Kota Bukittinggi dengan udaranya yang sejuk akan sangat mendukung bagi penyelenggaraan pendidikan, sebagaimana didunia ini Kota Pendidikan itu adalah kota yang berudara sejuk.

Oleh karena itu, sejak dari zaman Belanda, Kota Bukittinggi dan sekitarnya dijadikan sebagai tempat pendirian pusat-pusat pendidikan. Kita kenal dengan “ sekolah Raja “,Fakultas Kedokteran Pertama, Sekolah Mosvia, Kweek School, Mulo, Sekolah Tata Praja (APDN), HIS dan Ambach shcool. Dan pada Zaman awal kemerdekaan berdiri sekolah Polwan dan kadet serta Pamong Paraja yang pertama di Indonesia, bahkan Universitas Andalas yang saat ini berada di Padang, sebelumnya berada di Bukittinggi.

Dalam melestarikan bukti sejarah pendidikan tersebut, pemerintah kota Bukittinggi telah membangun Monumen Kadet dan Tugu Polwan serta melestarikan bangunan Pamong Paraja.

Peningkatan pelayanan pendidikan dijadikan sebagai salah satu agenda pembangunan ini tidak hanya pada pendidikan dasra dan menengah, tetapi juga pada pengembangan pendidikan tinggi yang berbasis aqidah. Melalui peletakan prioritas pembangunan pada peningkatan kualitas pendidikan diharapkan kualitas sumber daya manusia secara bertahap akan dapat ditingkatkan dan pondasi pendidikan bertaraf internasional dapat diwujudkan.

Bukittinggi sebagai Kota Pendidikan telah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai karena saat ini telah tersedia 34 Taman Kanak-kanak, 59 Sekolah Dasar, 10 SLTP, 15 SMU, 13 SMK dan 18 Perguruan Tinggi. Jangkauan pelayanan pendidikan tidak hanya untuk putra daerah Kota Bukittinggi saja, akan tetapi meliputi Wilayah Sumatera Barat bagian Utara, sebagian Riau, Sumatera Utara dan Jambi. Demikian juga tenaga guru/ dosen telah memadai sehingga prestasi akademik pelajar kota ini sangat membanggakan.

Dengan kondisi demikian maka ke depan orientasi pendidikan harus diupayakan bagaiman menciptakan kualitas akademik yang tinggi dibarengi dengan kualitas agama yang sempurna. Hal ini harus kita antisipasi karena dampak globalisasi akan menyebabkan pengaruh negatifnya merasuk ke rumah tangga. Untuk itu kedepan akan dikembangkan Pembangunan SDM berbasis Aqidah, maka pola pendidikan yang berbasis agama sudah dimulai sejak dini (dari kandungan)


Saya terpaksa comment:
1) tidakkah aneh angka 34 Taman Kanak-kanak, 59 Sekolah Dasar, 10 SLTP, 15 SMU, 13 SMK dan 18 Perguruan Tinggi?
Yup, 59 SD berbanding 10 SLTP. Apakah siswa-siswa dari 59 SD itu akan masuk di 10 SLTP yang dimaksud? Mungkin tidak juga. Mungkin anak-anaknya lari ke Padang? Bisa jadi.
2) Ini poin utama saya, dan ini adalah hasil pengamatan saya sejak lama, sejak saya meninggalkan kota kelahiran saya dengan alasan pendidikan.
Bukittinggi itu sangat sangat sangat potensial dari sisi SDM. Nggak percaya? Pada kenal Bung Hatta, Syahril Sabirin, dan tokoh2 lain yang besar di Bukittinggi? Itu potensi besar, buessarrr sekali.
Tapi yang terjadi, dan saya amati betul dari teman-teman saya yang notabene asli sana. Kecenderungan merantau itu pasti, khas Minang. Selalu ada dorongan untuk merantau.
Mengapa merantau? Untuk mencari kesempatan mendapatkan yang lebih baik. Well, lets talk about the name of university. Ada yang tahu nama universitas disana? Saya tahu, karena saya menjelang besar disana.
Lantas kemana bibit2 unggul disana mencari ilmu? Nggak mungkin di kampung sendiri, dengan kualitas yang maaf, masih kalah dengan kualitas anak-anak Bukittinggi. Sekali lagi maaf, tapi ini faktanya.
Itulah yang menyebabkan anak-anak pintar dari Bukittinggi kemudian lari mencari pendidikan ke Padang, Medan, Jakarta, Bandung, sampai Jogja. Dan mereka tidak masuk di Universitas sembarangan, ITB, UI, UGM, UNPAD, STAN, USD (itu saya hahaha..) ada semua.
Dan kecenderungannya, tentu, sudah kadung merantau ke Jakarta-Bandung-Jogja, maka akan mencari penghidupan di tempat yang dekat-dekat situ. Intinya: jarang yang kembali. Dan jadilah tunas-tunas itu mekar di tempat lain.
Maaf, maaf, dan maaf. Tapi ini kenyataan, yang sepenuhnya saya lihat di lapangan.
Lantas?

Aku Tak Mau Kehilangan

Aku Tak Mau Kehilangan

Aku dapat tetap terjaga hanya untuk mendengarmu bernafas
Melihatmu tersenyum saat sedang terlelap
Sementara kamu jauh bermimpi
Aku bisa menghabiskan hidup dalam penyerahan diri yang manis ini
Aku bisa tetap tersesat pada saat ini selamanya
Dimana setiap saat dihabiskan dengan Anda adalah harta yang kucari

Aku tidak ingin menutup mata, aku tidak ingin jatuh terlelap
karena aku akan merindukanmu sayang dan aku tak mau kehilangan
Karena bahkan ketika aku bermimpi indah tentangmu adalah hal yang tidak pernah terjadi
Aku masih akan merindukanmu sayang dan saya tidak mau kehilangan

Berbaring dekatmu, merasakan merasa detak jantungmu
Dan aku bertanya-tanya apa yang kamu impikan
Bertanya-tanya apakah aku yang kamu lihat
Lalu aku mencium matamu dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa kita bersama-sama
Aku hanya ingin tinggal bersama kamu di saat ini selamanya, selama-lamanya

Aku tidak ingin ketinggalan satu senyuman, aku tidak mau ketinggalan satu kecupan
Aku hanya ingin bersama kamu, di sini denganmu, seperti ini
Aku hanya ingin menahan kamu dekat, merasa hatimu begitu dekat denganku
Dan hanya tetap sini pada saat ini untuk semua sisa waktu
Aku masih akan merindukanmu sayang dan aku tak mau kehilangan

* * *

Hayo, lagu opo iki? Hehehe…

Pohon Kersen dan Bunga Gladiol


Kelas I SMA, pelajaran yang paling menarik di sesi Bahasa Indonesia adalah membuat cerita. Ketika kita mengalami kebuntuan: (1) ambil satu cerita, (2) lanjutkan cerita itu dalam 3 paragraf, (3) buang cerita asli, dan (4) lanjutkan 3 paragraf itu menjadi sebuah cerita lagi.

Special thanks kepada pemilik cerita asli 😀

Tersebutlah sebuah pohon kersen di suatu taman. Ia sendirian, hanya kadang parkit dan hujan yang menemaninya.

“Ada baiknya kita tanam bunga disini..” sebut seseorang yang berdiri di bawah pohon kersen, pada suatu siang yang terik.

“bunga apa?”

“Gladiol agaknya menarik”

Bunga gladiol adalah salah satu bunga kebun yang terindah dan merupakan tanaman bunga hias yang termasuk dalam keluarga iridaceae. Tanaman ini berasal dari Afrika selatan dan sebagian kecil spesis lainnya berasal dari Eurasia. Julukan lain dari bunga gladiol ini adalah “sword lily” atau pedang kecil dikarenakan bentuknya yang merupai. Bunga gladiol ini dapat tumbuh di ketinggian 90 sampai 150 cm dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup baik. Warnanya juga bervariasi ada yang putih, kuning, oranye, merah-muda, dan merah. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik pada tanah ber-pH 5,8-6,5 dalam suhu 10-25⁰ C sangat toleran pada berbagai struktur tanah, dari tanah yang ringan berpasir dengan berbahan organik rendah sampai tanah yang berat berlempung atau liat. Tanaman gladiol akan berbunga sekitar 60-90 hari setelah tanam. Kelebihan dari bunga potong yang satu ini adalah kesegarannya bisa bertahan sampai sekitar satu setengah minggu dan dapat berbunga sepanjang waktu. Warnanya dan penampilannya akan tampil maksimal jika ditanam di kondisi dimana mereka mendapatkan cahaya matahari yang penuh, dan dapat membantu tanaman ini menyimpan energi matahari tersebut untuk masa pertumbuhannya di tahun berikutnya. Perlu diingat juga bahwa bagian tertentu dari bunga gladiol ini mengandung racun, jika dimakan atau disentuh bisa mengakibatkan reaksi iritasi atau alergi. Manfaat dari bunga gladiol ini adalah untuk sarana peralatan tradisional, untuk keperluan agama, ritual ritual tertentu, dan upacara kenegaraan. Bunga gladiol ini adalah salah satu cut-flowers atau bunga potong yang paling banyak dicari orang baik sebagai bunga hias atau untuk keperluan tanaman kebun karena bunga ini sangat menarik perhatian atau “eye-catching”.

Gladiol, pikir pohon kersen, terdengar menarik. Ia memang terlalu lama disana, sehingga wawasannya kurang. Ia tidak tahu seperti apa bentuk bunga gladiol itu, hanya kedengarannya menarik.

Ia begitu menanti kehadiran gladiol, setiap kali sang pemilik taman tiba, ia selalu berharap dapat melihat sosok bernama gladiol itu. Baginya gladiol dapat menjadi tambatan dari kesendiriannya di taman ini. Lagu lawas berkata “I knew I love you, before I met you

Sampai suatu ketika, di suatu senja, ketika pohon kersen dalam kantuk dan kesendiriannya, ia merasakan sesuatu yang lain ketika benar-benar terjaga. Sesosok indah bunga gladiol ada di dekatnya, sungguh-sungguh dekat.

Gladiol itu masih baru dan kecil. Meskipun besar nanti, pasti tidak akan sebesar pohon kersen. Itu keniscayaan.

Pohon kersen pada dasarnya telah dapat akrab dengan gladiol, namun itu semata-mata dalam halnya melindungi si kecil gladiol. Meskipun pohon kersen berharap agar keindahan di depan mata itu benar-benar menjadi pelangkap dirinya.

Suatu kali, pohon kersen hendak mendekat, bercerita lebih dalam.

Ia melihat sesosok kumbang bercengkrama manis bersama gladiol. Hatinya tertusuk. Mengapa kumbang yang datang dan pergi itu bisa begitu dekat dengan gladiol, sementara ia yang selalu ada disana, tidak dapat menyentuhnya.

Satu hal, pohon kersen tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ini berbeda dengan upaya-nya yang lain, ia masih dapat bercerita dengan parkit, dengan hujan, bahkan dengan awan.

Pohon kersen kemudian menjadi saksi, ketika kumbang gila meninggalkan gladiol dalam keadaan terluka dan menangis. Pohon kersen kemudian menjadi pelindung, penyemangat sampai akhirnya gladiol dapat tersenyum kembali.

Namun, hanya sampai disitulah pohon kersen bertindak.

Lagi-lagi ia tiada mampu menyatakan, bahwa gladiol telah dapat memberi semarak pada jiwanya. Dan ia hanya mampu menyimpan itu sendiri. Hanya sendirian.

Kini ia hanya mampu menyaksikan gladiol tengah menikmati keindahan hidup bersama kupu-kupu. Pun gladiol masih sempat menyampaikan ketakutannya akan terluka lagi. Pohon kersen hanya dapat mendengar dan berucap seolah-olah tanpa ada hati yang terluka.

Mungkin ia harus mengutuk seseorang yang pernah berkata, “apabila kamu mencintai sesuatu, kamu pasti bahagia apabila sesuatu itu bahagia”

Yang ada saya sedih Tuan, batin pohon kersen.

Dan itulah yang terjadi sekarang, pohon kersen dalam kesendiriannya, menatap gladiol menggapai asa dengan kupu-kupu yang selalu hinggap manis kala senja hari.

Ini ironi, ia begitu dekat, tapi kau tak mampu-bahkan sekadar-untuk menyentuhnya.

Teori menyebut gladiol beracun, tapi bukan racun itu yang membuat pohon kersen iritasi dan alergi, tapi ketidakmampuannya mengucapkan cinta.

Hanya 1 soal, mengapa pohon kersen tak mampu mengucapnya, sedangkan ia begitu dekat?

Tidak ada yang tahu, karena memang pohon kersen memilih untuk menyimpannya sendiri.

* * *

inspired by: http://bailaconmigo-jola.blogspot.com/

Terima Kasih

Dear All,

Pada kesempatan ini saya hendak mengucapkan terima kasih atas semua kesempatan, bantuan, kerjasama, dan hubungan baik yang telah saya alami dalam 2 tahun berinteraksi bersama seluruh tim yang terlibat di tempat ini. Support yang luar biasa tersebut telah terbukti dapat memberi makna dan nilai pada seseorang yang sebelumnya bukanlah siapa-siapa.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada DC, Tim PS, dan teristimewa kepada tim saya, yang dengan caranya masing-masing telah memberi makna khusus dalam keseharian saya di tempat ini.

Sebagai manusia biasa, saya juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan dan kelalaian yang terjadi baik sengaja maupun tanpa saya sadari, sesungguhnya segala ketidaksempurnaan itu tanpa maksud selain upaya untuk memberikan kontribusi yang terbaik.

Per esok hari, saya akan bertugas di tempat baru dan tentunya masih akan berinteraksi aktif dengan tim yang ada di sini. Semoga kerjasama yang telah berjalan baik selama ini, dapat terus menjadi semakin baik. Demikian pula koordinasi antara tim saya dengan seluruh tim yang ada di sini pastinya akan bertambah baik pula.

Segala isu terkait pekerjaan dapat disampaikan ke partner , cc atasan saya.

Tuhan selalu menyertai dan memberikan kesuksesan kepada kita.

Terima kasih

Hormat Saya

Kita hanyalah manusia biasa, dengan karya yang luar biasa”

Perpisahan

Lagu terbaik untuk menggambarkan perpisahan adalah milik Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik:

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku

Kita terharu, seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah karena hari ini yang kita rindukan

Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan

Di hari tua.. ooo…

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

Semoga kita selalu, menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

Selalu menjadi pernyataan yang kekal bahwa suatu perpisahan tidak akan terjadi tanpa adanya pertemuan. Ya iyalah, gimana bisa berpisah kalau tidak pernah bertemu. Hal ini tidak terbantahkan.

Satu hal yang menjadi perbedaan adalah aspek perpisahan itu sendiri. Apakah perpisahan itu dengan tidak baik atau dengan baik dan penuh haru.

Adapun, baik pertemuan dan perpisahan, sangat terkait dengan suatu hal bernama keputusan. Pertemuan terjadi karena adanya keputusan, demikian pula dengan perpisahan. Tak peduli ini keputusan pihak-pihak yang berpisah atau keputusan pihak lain yang ada di luar itu.

Well, apapun itu, nyaris tiada yang suka dengan perpisahan.

Sudahlah, tak perlu membahas banyak soal perpisahan. Karena toh ini bagian dari perjalanan hidup, bagian dari keputusan hidup.

Yang terpenting, bagian terbaik dari perpisahan adalah saat anda mengetahui bahwa anda dicintai. That’s All!

Masih Soal Gawang

Hmmm.. Posting saya kemarin belum memuaskan saya. Masih banyak yang ingin di-share.. hehehe..

Let’s see

Jadi kiper itu tentu saja perlu latihan. Karena dari latihan-lah lahir kesempurnaan, atau setidaknya sense untuk menangkap bola.

Lalu, sebelum bertarung, tentunya perlu bergembira sejenak. Karena kegembiraan sejenak dapat menghilangkan ketegangan. Walaupun belum tentu menambah kekuatan. Sekilas senyum itu penting.

Dan jangan lupa foto-foto dulu. Ini wajib dalam upaya nampang. Wow..

Dan sesudah nampang, tentunya bersiap. Dalam hal ini berdoa itu perlu. Tentunya sebelum pertandingan mulai.

Oya, dalam pertandingan, ada kalanya sang kiper harus mengembalikan bola ke lapangan dengan caranya sendiri.

Kurang jelas ya.. hmmm.. kira-kira jelasnya begini:

Bentuknya memang agak aneh. Hehehe..

Jangan lupa waspada atas serangan yang ada, itu penting sekali.

Waspada itu perlu, karena kadang-kadang kita akan dijegal. Btw, dijegal itu sakit loh.. Maka sedikit protes itu perlu.

Tentu waspadai juga kemelut yang ada. Ini yang sulit, mengambil keputusan itu sudah sulit, dan keputusan itu belum tentu benar pula. Ngenes juga…

Hmmm… sudah demikian-sudah jatuh-sudah usaha, tetap ada peluang untuk kebobolan.

Yah, kebobolan itu pasti pahit rasanya. Tapi tidak boleh meratap terus menerus. Waktu terus berjalan. Kita masih perlu usaha untuk menepis bola-bola lainnya. Sambil, kadang berharap, segeralah teman kita mencetak gol dan segeralah pertandingan selesai. Hehehe..

Demikian sedikit sharing saya soal gawang.

Penjaga Gawang

Apa yang anda pikir ketika melihat ini:

Kalau buat saya, gawang ini berarti sebuah kepercayaan dan usaha untuk membayar kepercayaan yang telah diberikan. Terlalu berlebihan? Tidak juga.

Apa makna bahwa gawang ini kepercayaan? Jelas sekali, peraturan di olahraga sepakbola menyebutkan bahwa ada 1 orang yang boleh menjaga gawang dari kebobolan. Apa pula makna kebobolan? Sederhana sekali, hasrat dasar manusia adalah kemenangan. Kemenangan terjadi, setidaknya, harus dimulai dari kenyataan bahwa sang penjaga gawang alias kiper tidak mudah ditembus.

Dari 11 orang yang bertarung, hanya 1 yang diberi peran menjaga gawang. Ia diberi kepercayaan, diberi hak khusus, boleh memegang bola. Kepercayaan itu yang harus dibalas dengan penampilan, sederhana saja, tidak kebobolan.

Posisi ini sungguh menarik. Dalam satu tim sepakbola misalnya, setidaknya akan ada 20-an pemain, dan hanya 3-4 orang saja yang menjadi kiper. Namun, bersaing untuk 3-4 itu juga tidak sesimpel yang dikira. Sang kiper yang sudah mendapat kepercayaan dari tim, akan selalu ada di bawah mistar, sampai semampunya.

Kiper juga rata-rata diberi nomor punggung 1. Nomor pertama dalam sistem penomoran yang diakui sepakbola. Apalagi kurangnya?

Cuma ya itu, tanggung jawab yang diberikan harus dibalas dengan penampilan. Jatuh itu pasti untuk kiper. Terbang itu kemungkinan besar. Kontak antara kepala dengan dengkul orang peluangnya 50-50.

Dan yang pasti, satu prinsip yang harus dianut oleh para penjaga gawang.

bukan soal sebanyak atau seindah apapun penyelamatan yang kamu lakukan, tapi soal berapa banyak gol yang bersarang di gawangmu

Quote di atas sifatnya mutlak.

Yah, seringkali penjaga gawang sudah tampil semaksimal mungkin, namun ketika lawan lebih kuat selalu ada peluang untuk mencetak gol. Maka, sebanyak apapun penyelamatan, itu tidak masuk angka skor. Memang bisa dibalas dengan argumen, “kalau tidak diselamatkan, maka gol akan menjadi sekian” dan memang hanya itu saja. Angka yang tercatat sampai akhir hayat adalah berapa skor akhir pertandingan tersebut. Itulah mengapa posisi ini identik dengan usaha membayar kepercayaan.

Oya, ada hal lain terkait kepercayaan ini.

Ketika kepercayaan itu sedikit ternodai, maka selalu ada kepercayaan berikutnya. Kok jadi rumit ya?

Begini. Suatu kali saya menjaga gawang, dan berhasil menyelamatkan satu tendangan keras. Di lain waktu dalam pertandingan yang sama, pemain yang sama melepaskan tendangan yang lebih pelan, namun bola berputar dan perlahan masuk ke gawang meski sempat ditepis. Ini blunder. Jelas sekali.

Tapi apa yang dilakukan teman-teman saya, mereka maju ke titik tengah dengan tetap memberikan jempolnya pada saya.

Tidak cuma saya yang baru hitungan jari jadi kiper, coba lihat saja kiper-kiper yang melakukan blunder. Seketika setelah blunder terjadi, rekan-rekan akan datang menghampiri dan memberikan penguatan.  Itu yang saya maksud dengan kepercayaan berikutnya. Itulah kadang saya kurang setuju dengan pergantian kiper karena performa.

Yah, posisi apapun selama itu di tim sepakbola, selalu punya makna. Saya membahas posisi ini semata karena keunikan dan ke-spesial-annya. Itu saja. Tiada tendensi lain.

Hujan mulai deras ketika malam semakin larut, saatnya kembali ke peraduan, agar kembali segar kala mengawal gawang dari terjangan masalah di esok hari. Semangat!!!

Bapak Millennial