“Memang ya nasib universitas swasta tu lowongan pekerjaannya + kesempatannya sangat sedikit yang ditawarkan dibanding universitas negeri 😦”
Demikian sebuah statement.
“Coba aja ke gedung X (sebuah universitas negeri ternama), wuih lowongannya super banyak buanget dan misal kayak U (sebuah perusahaan ternama) dll yang gede2 pasang juga..”
Demikian statement berikutnya.
Kesimpulan saya sementara:
kesempatan kerja berbanding lurus dengan lowongan kerja yang ditempelkan di kampus.
Apa iya?
Hmmmm.. berdasarkan pengalaman saya sih, nggak setuju dengan statement di atas.
Dulu saya memang sempat jadi pengangguran (ngaku deh.. hehe..) karena lulus 28 Feb dan kerja 5 May. Tapi sebenarnya, tempat yang saya masuki 5 May itu sudah mulai proses saya sejak 3 May tahun sebelumnya.. hahahaha..
Which is means, saya sebenarnya nganggur juga bukan nganggur nggak jelas.
Dan di sela-sela menganggur itu, saya sempat bertualang ke beberapa tempat. Macam-macam latar belakangnya. Ada yang apply langsung, ada yang lewat teman, tapi yang pasti hampir nggak pernah menggunakan pengumuman rekrutmen yang ditempel di kampus 🙂
Dengan begitu saja, saya sudah berhasil masuk ke gedung perusahaan nomor farmasi nomor 1, perusahaan farmasi nomor 2, perusahaan farmasi nomor 3, dan perusahaan farmasi nomor 4 di Indonesia. Semuanya tanpa sama sekali menggunakan lowongan pekerjaan yang ditempel di kampus. Sampai saat ini saya bekerja di salah satu dari perusahaan2 tersebut.. hehehehe….
Yah, sederhana kok. Hari gini juga ada situs-situs pencari kerja. Saya juga 2-3 kali proses lewat portal itu, termasuk salah satunya untuk salah satu perusahaan di atas.
Jangan lupa juga soal networking. Meskipun saya kadang nggak kepenak karena minta-minta CV tapi ada beberapa yang belum follow up. Tapi ada beberapa yang berhasil masuk via saya (meski belakangan berharap jangan sampai anaknya menyesal.. hahahaha..)
Jadi sebenarnya tidak ada dikotomi swasta-negeri di banyak perusahaan. Memang tidak bisa dipungkiri, masih ada yang demikian, tapi nggak banyak dan nggak bisa digeneralisasi.
Haree geneee, ternyata yang lebih penting adalah kualitas personal dan tentu saja attitude. Begitu kata salah satu petinggi di salah satu dari 4 perusahaan diatas dalam sebuah pembicaraan.
Dua hari nggak buka laptop bagi pemain perangkaum macam saya itu mirip dengan bunuh diri. Desa-desa saya di perangkaum sudah diserang sama yang namanya coolwar, akuang, dan banyak lagi. Bayangkan berapa duit yang terbuang untuk membangun desa-desa itu, sudah setahun lebih main perangkaum, kalikan saja jumlah byte setiap kali proses. *lho kok malah curhat..
Tapi nasib desa saya yang semakin tak menentu mengalihkan saya ke topik lain yang agaknya cukup menarik bin menawan.
Jadi ceritanya kemarin teman saya dari PT. Dexa Medica Site Palembang datang. Sebagai teman yang baik saya pun membawanya makan ke tempat yang kiranya jadi trademark di bumi Cikarang. Jadilah kami makan di bakmi jawa GUNUNGKIDUL.. Lho? Mana ke-Cikarang-annya? Nggak urus, menurut saya enak.
Selesai makan, kami pun hendak kembali ke hotel tempat teman saya tadi menginap. Tapi di sisi kiri, tampak godaan tahu tek. Well, posisi saya sudah maju beberapa ratus meter sebelum kemudian memutuskan kembali untuk membeli tahu tek.
Dan disinilah aspek yang saya jadikan judul bermula.
Sejenak parkir, teman saya tadi malah bertemu dengan adik kelasnya yang juga bekerja di site yang sama, tapi di Site RnD Cikarang, kebetulan dia sedang bersama temannya yang lain yang bekerja di tempat yang sama tapi beda bagian. Sejenak ini sudah unik. Seharusnya kami pulang, tapi keputusan membeli tahu tek membawa ke tempat yang malah mempertemukan kenalan lama.
Obrol punya obrol, dari kejauhan muncullah sepasang suami-istri muda alias pengantin baru. Dia adalah kenalannya teman yang di RnD tadi karena satu angkatan pas kuliah di Jogja. Dan kebetulan lagi, ia bersama istrinya yang adalah kakak kelas saya dua tahun. Yang lelaki kerja di AstraZeneca Cikarang dan yang wanita di Sanbe Farma Bandung.
Entah apa persepsi anda, tapi menurut saya ini sudah unik minta ampun. Disini adalah setidaknya dua institusi pendidikan di Jogja, UGM dan USD. Disini ada institusi Dexa Medica, DLBS, Sanbe Farma, dan AstraZeneca. Disini bahkan ada apoteker dari Palembang dan dari Bandung. Pada saat bersamaan bertemu, di tahu tek jalan Puspa Cikarang.
Saya lalu teringat cerita teman minggu lalu kala ikut pameran Ipex di Kemayoran. Keliling punya keliling, ketemu-ketemunya ya teman sendiri. Untuk itulah saya bertanya, kenapa semuanya seolah bisa bertemu sedemikian mudahnya? Atau, industri farmasi memang terlalu sentral sehingga person-person macam saya bisa bertemu sedemikian mudahnya dengan rekan yang lain, bahkan di warung tahu tek?
Berita duka: telah meninggal dunia dengan tenang Bapak Drs. Mulyono, Apt pada pukul 17.15 di RS Sardjito Yogyakarta
Sedih.
Saya bukan orang yang cukup dekat dengan beliau, saya hanyalah seorang mahasiswanya, dan beliau tentunya punya ribuan mahasiswa. Tapi saya mengagumi ilmu yang beliau miliki, mengagumi semangat beliau, dan sangat mengagumi jiwa mudanya.
Pak Mul adalah dosen pendamping untuk kelompok F angkatan 2004, kelompok dimana saya bernaung. Jadilah saya bertemu terus dengan Pak Mul setiap kali KRS. Sebenarnya sebatas itu saja keakraban saya dengan Pak Mul. Beliau mengampu di banyak mata kuliah yang sayangnya kebanyakan saya dapat C, hanya 1 kuliah saya dapat B, Farmakologi-Toksikologi Molekuler. Tapi sesungguhnya saya menikmati kuliah-kuliahnya, terutama Farmakokinetika Dasar. Kuliah ini oleh banyak mahasiswa dianggap mengerikan, sehingga toh saya bersyukur bisa dapat C 🙂
Pak Mul selalu berjiwa muda, itu yang sangat istimewa darinya. Beliau sangat sangat enerjik. Semangat mengajarnya mengalahkan mahasiswa-mahasiswa pemalas macam saya.
Suatu kali saya dapat kesempatan istimewa. Hari Rabu, 14 Februari 2007, saya semester 6 waktu itu. Hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-70 pas. Beliau datang ke kampus dengan kemeja pink melambangkan Valentine hari itu. Dan beliau juga berbagi sedikit makanan. Dan ketika kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada beliau, yang kemudian dilontarkan kepada kami mahasiswanya adalah soal rasa syukurnya bisa diberi umur lebih, maksudnya dari rata-rata usia harapan hidup.
Pak Mul ini begitu legendarisnya dengan keilmuan yang beliau punya. Saya kadang nggak habis pikir bagaimana seseorang bisa paham farmakologi, farmakoterapi, farmakokinetika, bioanalisis, toksikologi, ilmu-ilmu molekuler, uji klinis, bahkan sampai ke psikologi kesehatan. Dan dari cerita-ceritanya sepanjang kuliah, beliau juga sangat paham dengan ilmu-ilmu kimia, mulai dari analisis sampai medisinal. Pak Mul adalah dosen yang sangat komplet dari sisi keilmuan.
Gosip yang saya dengar, beliau sebenarnya S2 dan S3 di Belanda, namun gelarnya tidak dapat dipakai di Indonesia karena suatu hal. Bagi saya itu jadi nggak penting karena beliau membuktikan dirinya punya ilmu yang seabrek-abrek dalam bidangnya. Kalau sudah mendengar dia kuliah, siapa yang percaya bahwa namanya hanya ada Drs dan Apt? Semua juga yakin pasti lebih. Anda juga kan?
Mungkin saya memang sering terkantuk-kantuk waktu kuliahnya, terutama Bioanalisis karena dihelat siang-siang sesudah makan. Tapi soal cerita-cerita dan perspektifnya mengenai farmasi, banyak yang saya tangkap. Mungkin itu sebabnya saya dapat C, karena menangkap hal lain dalam kuliah alih-alih isi kuliahnya? Saya juga termasuk yang terkesima bahwa beliau juga sangat paham cerita-cerita film dan sinetron dengan detail dan lengkap.
Beliau mungkin lupa-lupa ingat sama saya meskipun saya adalah mahasiswa bimbingannya di kelompok F. Tapi seperti saya bilang tadi, siapa yang bakal ingat kalau sudah punya ribuan mahasiswa. Saya pernah dapat cerita bahwa Pak Mul adalah dosen seorang dosen yang kemudian mendoseni dosen yang lain. Ibarat kata mahasiswanya adalah anak, maka sudah ada 3 generasi. Pak Mul, mahasiswanya, dan mahasiswa dari mahasiswanya itu tadi. Apa nggak luar biasa itu namanya?
Dan satu hal lagi saya peroleh dari Pak Mul menjelang kelulusan saya. Waktu itu hendak meminta kesan-pesan yang akan dimasukkan di buku kenangan angkatan XVI. Kami memang meminta setiap dosen menulis langsung kata-kata yang diinginkan. Dan apa yang beliau tulis?
“If you can live forever, what do you live for?”
Beliau bercerita sedikit latar belakang dari pernyataan yang ditulis tadi. Dan tentunya sambil bertanya kepada kami yang meminta. Saya sendiri hanya terbengong-bengong, entah dua rekan saya yang lain. Ada benarnya juga, kalau kamu bisa hidup selamanya, lalu hidup kamu buat apa?
Dan Pak Mul sudah membuktikan diri bahwa hidupnya adalah untuk mendidik. Sampai selesai.
Teringat saat terakhir saya bertemu beliau, waktu itu di depan sekretariat farmasi, 17 April 2011. Saya bertanya apakah beliau sehat karena memang saya mendengar beliau sempat masuk rumah sakit. Dan beliau dengan semangat mudanya, menggerakkan tangan dan mengindikasikan bahwa beliau sehat. Meski saya juga sangsi apakah beliau masih betul-betul ingat saya, tapi kami sempat mengobrol soal kesehatannya, dan sedikit soal karier saya. Setidaknya beliau mengerti dimana saya bekerja (kala itu).
Dan kini di usia 74 tahun, beliau pergi. Menghadap Pemilik dan bersatu kembali dengan istri tercinta.
Selamat Jalan Pak Mul!
Tuhan selalu punya jalan yang hebat untuk manusia yang hebat…
Jangan dulu mengabaikannya karena saya barusan menemukan refleksi yang cukup dalam gara-gara kuku jempol tangan kiri.
Alkisah, lepas dari paksaan kuku pendek di SMP, saya masuk ke SMA yang dari segi kuku boleh kayak gimana aja. Lagipula, mana ada cowok yang membuat kukunya sepanjang nenek-nenek pemegang rekor dunia kuku terpanjang? Simple saja, kuku terserah. Maka saya pun memanjangkan sebuah kuku saja, kuku jempol tangan kiri. Ini sejak tahun 2001.
Kenapa?
Mungkin ada yang berpikir untuk sanitasi alias ngupil. Well, saya kok lebih senang yang masuk hidung jari yang lain yak. Jempol kegedean. Mungkin ada yang berpikir untuk melepas sticker, ya kadang-kadang demikian. Tapi sejatinya saya nggak pernah punya alasan spesifik untuk memanjangkannya.
Dan tahu apa yang saya korbankan?
Waktu SMA saya lumayan sering jadi kiper, tentunya karena saya sudah dipecat dari posisi yang lain, dan pernah dipercaya dalam pertandingan melawan kelas II-6 dengan rekor kebobolan 4 kali oleh pria yang sama *astaga.. Saya sebenarnya bisa mematangkan posisi itu, tapi apa? Saya lebih memilih menjaga kuku saya yang di kiri ini dari terjangan bola besar. Karena pernah kesenggol, sakit.
Dan saya mengorbankan posisi idaman di sepakbola hanya demi sebuah kuku?
Dan begitulah, kuku jempol tangan kiri ini selalu lebih dari 3 mm panjangnya, beda dengan 9 kuku lainnya di tangan pun 10 yang lain di kaki. Dan sesuatu tanpa alasan itu bertahan hingga 10 tahun.
Mungkin sudah takdirnya bahwa saya mendadak harus bersentuhan dengan sesuai yang related potensi bahaya, dan kuku panjang adalah potensi bahaya. Tidak ada lagi kuku panjang. Itu harus. Pilihannya saya cari kerjaan lain yang membolehkan kuku panjang atau potong. Hingga kemudian saya berjanji bahwa ketika gong sudah ditabuh, si kuku jempol ini harus sama dengan lainnya.
Well, tadi siang saatnya. Ketika kuku yang lain sudah rapi jali, tinggal si kuku yang satu itu.
Sempat 3-4 kali alat pemotong itu hanya numpang lewat sebelum akhirnya saya benar-benar memotongnya. Fuihhh.. keramat 10 tahun selesai. Dan ada 2 refleksi hari ini.
Pertama, kenapa saya harus nggondeli si kuku ini tetap panjang? Memangnya siapa saya? Berkali-kali ia memberikan rasa nyeri ketika tak sengaja kejepit, meski ia pernah membantu jadi pembolong plastik di toko buku.. hehehe.. Toh kalau Tuhan mau, dia bisa saja bikin ini kuku kejepit dari dulu sehingga harus dipotong. Kalau itu ceritanya, memangnya saya bisa apa? Jadi saya pun memilih untuk memotong saja, selagi keputusan itu masih di saya. Sama aja dengan hidup kita kan?
Kedua, percaya atau tidak, saya sudah nggak bisa memotongnya sependek kuku yang lain. Sedikit daging jempol menyatu dengan bagian kuku, kira-kira 1 mm dan kalau disentuh sakit. Artinya? Kalau saya perlama lagi, mungkin bisa jadi 2-3 mm. Waw, berapa sakit itu? Semakin lama 2 hal bertemu, semakin lengketnya mereka, kalau kita selalu bertemu si buruk, makin buruklah kita. Sesederhana itu, harus ada langkah revolusioner, POTONG!
Fuihhh.. dan sekarang ia ikut menari di tuts ini, dengan tampilan barunya dan tugas lamanya sebagai tukang pencet spasi.. hehehe…
Kalau di posting perjalanan lainnya saya membahas tempat yang memang layak jadi tempat wisata, sekarang saatnya sekilas mengenai suatu tempat bernama Cikarang.
What?
Mau lihat apa di Cikarang?
Yah, kalau di Palembang saya masih bisa mengajak tamu tetamu untuk melihat ampera, museum, dan makan pempek. Nah kalo di Cikarang?
Begitulah, Cikarang ini tempat yang betul-betul sarana mencari uang.
Kalau melihat peta, Cikarang masuk di kawasan Bekasi. Secara umum dibagi jadi Cikarang Utara (Jababeka dan sekitarnya), Cikarang Selatan (Lippo Cikarang dan sekitarnya), Cikarang Barat (pintu tol Cikarang Barat dan sekitarnya), serta yang pasti satunya lagi.. hehehe..
Di Cikarang ini kita mungkin tidak menemukan landmark tertentu. Yang menguasai disini adalah pabrik dan perumahan. Diperkirakan ada 1 juta manusia yang hidup dan mencari makanan di daerah sini. Akses utama adalah lewat tol yakni Exit Tol Cikarang Barat. Ini yang paling dekat, ada sih Tol Cikarang Utama juga.
Nah, kalau dari Tol Cikarang Barat kita akan dihadapkan dengan jembatan layang. Itu adalah jalan kiri dan kanan. Kiri ke Jababeka, Kanan ke Lippo, dua wilayah besar di Cikarang, selain kalau terus lurus menembus apapun akan sampai ke Delta Mas hehe..
Di Kota Jababeka kita akan disambut oleh tulisan besar warna merah dan jalan beton. Berkendara di jalanan Cikarang berarti harus siap bertemu truk2 besar dan panjang. Namanya juga kawasan industri. Nantinya kita akan sampai di pintu Jababeka II terlebih dahulu, disini ada Plaza Jababeka, President Executive Club, Patung Kuda, Metro Park Condominium, Pecenongan Square, Movieland, dan tentunya kawasan industri Jababeka II. Disini ada Kawan Lama, Alfamart, serta NDC AAM.
Kalau dari pintu II tadi kita lurus, maka ke kiri ada Jababeka I. Disini banyak sekali pabrik besar macam Samsung dan Unilever. Nah, kalau kita teruskan lagi, maka akan sampai ke Cikarang Dry Port (Pelabuhan Kering??) dan kompleks baru lagi namanya Techno Park, ada pabrik AstraZeneca disini. Terus lagi? Ketemu Stasiun Lemahabang. Terus lagi? Karawang. Hahaha…
Nah, di sekitar Lippo lebih banyak lagi. Ada kawasan Delta Silicon, ada EJIP, ada Hyundai. Yah, pokoknya kalau pabrik, disini buanyakkkkk.. Mungkin wisata pabrik paling oke kalau di Cikarang sini… hehehe..
Kemarin bantu-bantu di Balai Kesehatan di sebuah kompleks perumahan di daerah Cikarang. Sebagai apoteker galau yang (kalau kata orang Palembang) katek gawe, jadilah bantu-bantu sejenak dilakoni.
Menjelang akhir keluarlah resep hiperlipidemia, isinya Allopurinol dan Simvastatin. Saya nggak perlu nyebut merknya lah ya? hahaha..
Well done.
Well done sampai kemudian, sesuai prosedur, saya menyobek kemasan doos dari salah satu obat itu. Begitu suara sobekan terdengar, mendadak saya sadar, bahwa produk yang kemasannya saya sobek barusan ini berasal dari tempat kerja saya yang lama.
Dan produk ini, lebih tepatnya item kemasan yang baru saya sobek ini, dikelola dengan suatu mekanisme njelimet yang bikin telinga saya sampai kebal dan otak saya nyaris hang.
Saya lihat nomor batchnya, tepat di bulan saya pindah.
Artinya, benda yang saya sobek ini yang pernah bikin saya sakit kepala. Dan sekarang saya juga yang menyobek dan memasukkannya ke tempat sampah?
ASTAGA!
Itulah kemasan sekunder. Kalau bicara kemasan primer alias kontak langsung dengan produk, kita nggak bisa permisif, dia lekat dengan produk. Kalau sekunder? Coba deh, berapa persen (sebutlah) doos yang sampai ke konsumen? Atau berapa banyak brosur yang dibaca oleh konsumen?
Atau sepengalaman saya ikut di bala bantuan gempa, seberapa banyak tenaga kesehatan yang membaca brosur? Tidak cukup banyak. Apalagi hanya untuk obat-obat yang terkenal macam dua yang di atas.
Kemasan sekunder itu fungsinya hanya mengantarkan isi berupa kemasan primer. Itupun dari pabrik ke distributor. Sesudah itu, mayoritas dari mereka akan hinggap di tempat sampah.
Itulah yang kadang bikin saya merasa sia-sia berpusing2 ria mengurusi benda yang pada akhirnya juga harus musnah.
Tapi..
Pernahkah kita berpikir begitu? Kalau iya, salah!
Ini pola pikir busuk.. Sama saja dengan buat apa bikin obat dengan kualitas prima toh nanti juga ED di apotek, pola pikir yang keluar saat pemusnahan obat di apotek. Buat apa masak banyak2 kalau akhirnya jadi busuk juga.
Kalau kita berpikir soal akhir yang buruk, kita nggak akan berkarya. Kalau kita masih menganggap suatu kerja akan sia-sia, maka nilai dari kerja kita akan jadi minimal. Coba deh kalau saya bilang, ngapain yang begini ini diurusin? Selain saya pasti dimarahin bos, saya juga bisa menganggap proses dari pabrik hingga sampai ke distributor itu bukan proses bernilai. Padahal ada penjagaan kualitas, ada pihak yang terlibat disana.
Jadi sebaiknya sih, jangan kayak saya. Kalau bekerja atau mengerjakan sesatu, pikirkan saja dampak baiknya. Itu agaknya lebih menambah value dari sesuatu yang kita kerjakan.
Kenapa gila? Mungkin saya jadi gila karena saya selalu menganggap diri saya kecil dan masih buda melia alias muda belia.
Mulai dari tahun 2009, ketika teman yang kala itu usia 25 mengirimkan undangan pernikahan. Masih biasa wae. Lha saya masih umur 22 kok. Masih jauh.
Lantas setahun kemudian, teman yang seumuran juga mengirimkan undangan yang sama. Saya juga masih biasa saja. Toh beliau pacaran lebih lama. No issue lah soal itu.
Masih di tahun yang sama, teman yang jauh lebih senior menikah (akhirnya..). Saya pun menghadiri pernikahannya sambil terbang nun jauh ke Jogja dari Palembang. Ini juga masih biasa. Beliau usia 30 kala menikah. Which is means beda 7 tahun dengan saya. Tetap no issue.
Cuma berondongan belakangan ini mulai menggelitik.
Mulai dari undangan teman sekantor yang umurnya 27. Itu logis banget buat nikah. Lalu diteruskan dengan rencana salah satu teman COWOK seangkatan kuliah dan senasib di Dolanz-Dolanz untuk menikah awal tahun depan. Lalu juga teman sesama cowok di kuliah yang mo nikah akhir bulan ini. Lalu buka email tadi pagi dan tiba-tiba ada undangan pernikahan tanggal 2 besok dari eks rekan sebelah kamar saya di mess waktu di Palembang. Lalu menyusul juga teman saya yang lain yang usianya siap nikah (28) yang akah nikah di November. Plus lagi sebuah SMS undangan pernikahan lain pada tanggal 9 Oktober mendatang.
Itu semua teman-teman saya, beberapa yang saya tahu benar kelakuannya. Dan mereka hendak menikah? Lalu saya?
Saya lantas mulai berkaca sedikit. Ini sudah bulan September mau Oktober. Jadilah saya sebentar lagi akan tembus usia 25. Kalau mengacu pada undang-undang, kalau tidak salah saya sudah lewat 6 tahun dari limit “boleh kawin”. Nggak masalah, wong saya punya pacar baru umur 20. Hahahaha..
Saya lalu mengkombinasikannya dengan teman-teman lain yang mulai galau dengan deadline usia.
Apa iya menikah itu harus? Itu dulu pertanyaannya. Lalu, apa iya menikah itu harus umur sekian? Lalu pertanyaannya bisa dilanjut: memangnya habis nikah mau ngapain?
Kalau kita bertanya itu terus, maka nggak akan ada upaya persiapan. Jadi iri melihat teman yang sudah mempersiapkan diri dengan membeli rumah meskipun itu secara KPR.
Apakah saya kepengen?
Nggak sesederhana itu juga sih.
Kepengen kawin? JELAS! Saya pria normal kok. Hahaha..
Tapi saya yang berada di kumpulan orang-orang usia matang, dan memang seharusnya sudah menikah, menangkap berita kiri-kanan itu sebagai sebuah fenomena.
Kita sering dijebak dan terjebak oleh target-target. Umur sekian harus nikah, umur sekian harus punya anak. Kita juga sering terjerat oleh pandangan sekitar bahwa kalau umur sekian belum nikah itu pasti nggak oke. Kita juga sering dibuat iri oleh lingkungan sekitar dengan kabar gembiranya. Namun kita juga sering dibuat bersyukur: syukur saya belum nikah, kalau lagi dihadapkan pada sesuatu konflik orang lain.
Mari kembali ke inti.
Ada yang bilang kita diciptakan berpasang-pasangan. Ada yang bilang bahwa hakekat hidup kita adalah melanjutkan keturunan. Dan legal formal di depan hukum dan di depan Tuhan adalah pernikahan.
Apakah kita wajib galau kalau mendapat undangan pernikahan? Kalau dengan usia saya yang belum 25, mungkin masih belum. Toh, teman cowok segenerasi yang jelas beritanya juga baru 2. Haha..
Mungkin tulisan itu malah ruwet dan nggak jelas sikapnya. Tapi intinya yang saya bilang adalah setiap manusia punya garisnya sendiri-sendiri. Kalau kita galau karena ada undangan pernikahan dan galau karena usia kita, kegalauan itu pun memang sudah digariskan. Biarkan saja.
Toh hidup dari Tuhan ini harusnya kita nikmati, bukan kita galaukan. Kalau ada undangan, ikut senang. Dan mari kita pikirkan undangan kita kelak. Kalau belum ada nama yang pas untuk diketik di undangan, memangnya ada masalah soal itu? Itulah garis kita untuk mencarinya.
Ini judul blog ini, lantas kenapa pula saya perlu jadikan posting? Ada 2 alasan. Pertama, judul ini sangat istimewa. Kedua, karena posting di blog ini sudah tembus 100 dalam 9 bulan kelahiran kembalinya.
Berhubungan? Tidak juga. Hehehe..
Hanya ada satu orang yang selalu protes terhadap penggunaan judul ini, adik saya si Cici. Kenapa? Ya karena judul ini saya pakai terus kemana-mana. Toh penggunaannya gampang banget. Sebut saja kita membahas soal kondom, maka tulisannya akan berjudul ‘Kondom: Sebuah Perspektif Sederhana’ atau kalau kita bahas soal jeruk, maka judulnya ‘Jeruk: Sebuah Perspektif Sederhana’. Enak kan? Hahaha..
Judul ini muncul sebagai masterpiece karya-karya saya karena setidaknya pernah memberikan gelar dan (tentu saja) uang. Kalau nggak salah ada 3 lomba yang saya ikuti dengan judul ini yang berhasil meraih penghargaan. Sebenarnya lomba yang diikuti banyak, tapi cuma itu yang dapat.. haha..
Riwayat kelahiran judul ini adalah saat mengikuti Lomba Reportase Pertanian di UPN Veteran tahun 2003. Lombanya unik bin ajaib. Seumur-umur ya baru sekali itu ikut lomba reportase. Modelnya adalah peserta diberi waktu sekitar 2 jam untuk menulis di kertas folio bergaris (tulis tangan pula, waktu itu sih tulisan saya masih bagus). Peserta menulis dengan bahan yang dibawa dari rumah dengan topik kira-kira tanaman lain non beras.
Saya sudah melakukan searching sebelumnya dan memilih singkong. Dan seperti penulis pemula pada umumnya, judul adalah urusan belakangan karena sulit. Walhasil, rangkuman referensi dan opini saya sudah jadi duluan, tinggal dua baris di atas yang belum diisi: judul.
Waktu semakin mepet ketika saatnya harus membuat judul. Mumet minta ampun kala itu. Saya punya kata awal memang, Pemberdayaan Tanaman Singkong. Tapi masak judul tulisan kayak gitu? Ini kan membahas perspektif, bukannya mengajari menanam singkong. Ups, nemu deh kata perspektif.
Waktu semakin semakin dan semakin mepet ketika judul itu harus ditulis. Perspektif Pemberdayaan Tanaman Singkong? Kurang sreg di hati. Pikir terus, karena ini hanya singkong maka saya tambahkan kata Sebuah. Jadilah Sebuah Perspektif Pemberdayaan Tanaman Singkong. Masih belum kena. Belum ada sense yang nendang. Sampai kemudian terlintaslah sebuah kata simple alias sederhana.
Wew, Sebuah Perspektif Sederhana. Sounds sweet.. hahaha..
Maka judul itu pun ditulis. Jangan salah, utik-utik judul itu dilakukan dengan cara menulis pakai pensil dan lalu menghapusnya. Tepat di kertas lomba. Hahaha..
Begitu kira-kira sejarah kelahiran judul ini. Dia berubah menjadi masterpiece, ketika ada lomba lain tentang partai politik yang diselenggarakan oleh PDIP Sleman saya mendapat gelar juara harapan (berharap juara) yang berhadiah 100rb dan kaos PDIP (astaga..)
Judulnya kalau nggak salah, Partai Politik Dari Zaman ke Zaman: Sebuah Perspektif Sederhana. Nongol lagi dia. Haha..
Dan gelar terakhir adalah saat lomba di kampus. Waktu itu Pusat Penelitian Obat USD menyelenggarakan lomba Pusat Penelitian Obat Yang Ideal. Yang boleh ikut mahasiswa dan dosen. Astaga, mati kutu ini. Tapi waktu itu saya berhasil jadi Harapan (lagi-lagi berharap) namun tetap bangga karena juara 1-3 adalah dosen semua.. haha.. Judulnya? Pusat Penelitian Obat Yang Ideal: Sebuah Perspektif Sederhana. 🙂
Memang sekarang saya jarang pakai lagi sebagai judul, namun sebagai masterpiece, dia saya pakai di judul blog ini. Bahkan dia juga jadi alamat blog saya yang lain.