Kenapa Saya Aneh

Ini mungkin sudah kejadian beberapa tahun silam, tapi ya mungkin memang belum pernah diklarifikasikan. Ketika dulu saya dengan nekat berpindah di jurusan di tahap paling akhir kuliah.

Hemmmm..

Okelah, mungkin saya bisa dicap pembelot atau sejenisnya. Oke, fine. Saya terima. Dan faktual tampak demikian. Saya hanya belum pernah menjelaskan alasan yang sebenarnya atas keputusan aneh saya itu.

Jadi ceritanya 3 Januari 2008, sore hari, saya ikut berdiskusi dengan dua dosen terkait data hasil penelitian saya. Ehm lagi, tampaknya bahwa data yang saya punya itu bisa dibilang ‘sayang’ alias eman-eman. Bahwa saya bisa menghitung prevalensi dengan proses yang saya lakukan dan bahkan saya nggak perlu mencari orang yang sama dua-tiga kali dalam rangka memperoleh data. Diketahui sehari sesudah ujian tertutup. Miris buat saya pribadi.

Dan sejujurnya motivasi saya menjadi nol, atau mungkin minus.

Saya akhirnya memilih untuk menyelesaikan saja studi ini, dan entah mau kenapa sesudah itu. Demikian faktanya.

Saya kemudian mencari-cari jalan ke depan saya. Mau terus di minat yang sama, sungguh saya nggak punya motivasi. Sayang banget uang orang tua saya tergerus dengan kuliah saya yang minim motivasi. Buat apa?

Nggak diterusin, udah separuh jalan mau kelar ini. Lebih sayang lagi kan?

Akhirnya saya nekat saja, tentu sesudah tanya-tanya boleh atau tidak. Kebetulan saya masih ada celah yang memungkinkan untuk bertindak aneh. PINDAH MINAT.

Pindah minat pasti akan jadi jelek di mata orang lain? Ya terpaksa. Daripada duit orang tua saya habis untuk kuliah yang tidak bermotivasi?

Dan tentu ada konsekuensinya.

Saya belajar beneran. Saya bahkan melepas PSM, dimulai dari tugas di Bank Mandiri, demi tetap kuliah dengan baik. Saya juga belajar dengan sangat keras di 6 bulan pertama. Bagaimana lagi? Itu konsekuensi. Dan setidaknya saya punya motivasi. Itu yang jauh lebih penting.

Hasilnya? Ehm, bukan mau sombong. Tapi di ujian CPOB, saya satu dari dua yang tidak ngulang. Buat saya itu prestasi, lha jarang-jarang saya bisa begitu. Lebih lanjut, meski saya kena di kompre, eh pada akhirnya saya bisa dapat IP rangking 3. Kalau Rissa nggak dapat IP 4, pasti saya udah ikut dipanggil penghargaan. Hahahaha..

Dan pada akhirnya saya menemukan teman-teman yang pindah minat ketika di dunia kerja. Salah? Nggak! Saya hanya perlu belajar lebih dulu, dan itu saya ambil di kuliah. Saya agak lambat belajar soalnya.

Hasilnya?

Saya bisa bekerja di salah satu perusahaan farmasi terbesar Indonesia, nyaris promosi (hehehe…), belajar banyak hal baru di industri, dan sejauh ini punya penghasilan yang lumayan.

Saya aneh, tapi saya punya alasan untuk itu. 🙂

Cantik

“Oke, kita ketemu di ibukota ya!”

“Siap. Siapa takut?”

Cem menyunggingkan senyum sambil menyentuh layar ponsel pintarnya. Sebuah tantangannya pada seorang teman lama disanggupi. Sebenarnya justru karena berawal dari sama-sama ingin bertemu, kerinduan itu menjelma menjadi sebuah tantangan. Tantangan teman lama.

“Cem, berhubung kamu sudah esmud begitu, walaupun di pedalaman Andalas sana, kayaknya kamu perlu ditantang deh.”

“Kenapa Det? Apa sih yang nggak buat kamu?”

“Kita ketemu di ibukota, dalam posisi backpacker, dan nggak boleh naik pesawat. Soalnya kamu pasti bisa dengan mudah pakai burung besi itu Cem.”

Cem sedikit keder. Tapi nggak mungkin dia kalah sama Deta. Nyali Cem terpaksa dikuat-kuatkan. Jalan lintas Sumatera bukanlah jalan yang sepenuhnya ramah. Dicegat di jalan, dilempar batu, hingga digemboskan bannya pernah dialami Cem ketika masih belia. Dan hidupnya yang penuh fasilitas perlahan membentuk jiwanya menjadi manja. Cem aslinya takut hendak kembali ke masa seperti belianya. Tapi ya itu tadi, dia nggak mau kalah sama Deta. Masak esmud tambang kalah sama dosen muda? Mana ada?

“Deal, Cem?”

“Deal, Det. Lanjutkan.”

* * *

Cem memasuki pelataran loket bus Putra Remaja di Jalan M Isa. Hasil tanya kiri kanan mengarahkan Cem ke tempat ini. Panas-panas ngentang, Cem menaiki bis yang hendak membawanya ke ibukota. Ehm, sejatinya ini akan jadi sangat lebih mudah kalau dia naik taksi ke SMB II, lalu menggunakan penerbangan ke Soekarno Hatta, lalu taksi ke meeting point. Biasanya hidup Cem adalah sesederhana itu. Dan bagi Cem, bus ini sama sekali tidak sederhana.

“Posisi Det?”

“Otw, Tegal.”

“Naik apa kamu?”

“Ini nunggu kendaraan ke Cirebon.”

“Heh? Nggak ada yang lebih mudah Det?” tanya Cem. Dalam hatinya, dia mengkhawatirkan seorang wanita muda penuh pesona yang sendirian hendak menuju Cirebon untuk sebuah pertemuan dengannya. Bagi Cem, ini juga sebenarnya bisa mudah. Apa susahnya naik pesawat dari Adisucipto ke Soekarno Hatta? Tak sampai 55 menit, jarak itu terbunuh.

“Hey Cem! Percaya kan bahwa hidup ini petualangan? Nikmatilah. Dimana kamu?”

“Baru masuk Lampung. Udah lewat tempat tentara nih.”

“Oke Cem. Lanjutkan!”

“Sip Det.”

Dan Cem mulai meresapi kata-kata Deta. Nikmatilah.

* * *

Bus yang membawa Cem sudah sampai di Bakauheni. Turunan perlahan dengan persewaan kapal di kiri dan kanannya sudah menandakan bahwa Bakauheni memang sudah dekat. Cem pun mulai bersiap, karena terakhir kali dia naik kapal penyeberangan ini, dia mabuk laut. Ah, kadang fasilitas justru membuat orang menjadi sangat-sangat manja. Meski sejatinya mereka bisa, tanpa fasilitas itu. Berbagai logika mulai berlari di otak Cem.

HP-nya bergetar. Smartphone bukan pilihan bagus untuk perjalanan jauh karena baterai hanya akan habis dalam setengah jalan. Jadilah Cem memakai HP lama-nya, jaman dia masuk berani naik angkot sendirian, jaman dia masih pede berdiri di atas bus, jaman dia belum terlena oleh fasilitas sebagai esmud.

Deta disana.

“Posisi bos?”

“Bakauheni. Situ?’

“Nggak ngerti juga saya. Hahaha.. Pokoknya di atas kereta. Nggak dapat kursi neh.”

“Berdiri???” tanya Cem terperanjat.

“Lha iya, kenapa?”

“Ehm, nggak apa-apa kok. Oke. Go ahead.”

“Siap bos.”

* * *

Cem sendiri masih bingung menerjemahkan makna permintaan Deta. Jadilah dia tidak hanya menghindari burung besi, tapi juga burung biru. Padahal dia adalah pelanggan tetap angkutan itu. Semata-mata mengikuti permintaan Deta.

“Bu bos?”

“Mari? Dimana Pak?”

“Pulo Gadung. Meeting point mana?”

“GBK kayaknya asik.”

“Yah, jauh aja Det.”

“Ya gpplah. Aku juga dari stasiun sini nggak dekat-dekat amat itu GBK.”

“Okelah Det.”

Dan Cem memasuki terminal besar itu, memasuki halte Busway dan kemudian masuk ke kerumunan orang, berdiri. Sepanjang jalan.

* * *

GBK. Patung memanah. Sungguh sebuah view yang indah untuk dijadikan titik pertemuan, apalagi ketika tempat bersejarah itu sedang sepi.

“Cem!” Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang. Cem yang sedang memandangi megahnya GBK menoleh seketika.

“Det! Sampai juga kamu. Capek?”

“Enjoy Cem. Itu bikin nggak capek-capek amat. So, bagaimana perjalananmu?”

“Ehm, gila. Aku bilang kamu gila dengan ide ini.”

“Nggak lah Cem. Aku cuma mau ngetes. Apa kamu masih kuat menderita. Hahaha.”

“Gila kamu Det. Tapi kamu berhasil. Aku lulus kan?’

“Ehm, sepertinya sih gitu.”

Kedua teman lama itu kemudian duduk di rerumputan, memandang megahnya GBK dan cerahnya langit. Cem menoleh ke samping, tampak paras Deta. Penuh lelah dengan perjalanan antik Jogja-Cirebon-Jakarta yang mayoritas berdiri. Entah kenapa, Cem tiba-tiba hendak memuji Deta.

“Det?”

“Kenapa?”

“…….”

“Kamu kenapa Cem?”

“Ehm, nggak apa-apa. Kamu terlihat cantik sekali.”

Deta tersenyum dan kembali memandang lepas ke langit.

Bahwa makna cantik itu tidak semata-mata soal paras.

Panggung Trauma

Oktober 2009, ketika gedung itu baru saja diresmikan, aku yang jelas dan lugas masih unyu itu tampil bernyanyi bersama (kalo nggak salah) 9 orang lainnya. Bangga? Waktu itu mungkin iya, bayangkan saja seorang bocah yang baru 5 bulan kerja sudah disuruh pergi ke kantor pusat, bukan untuk dinas meeting atau training, tapi untuk nyanyi.

Tapi siapa sangka nyanyi itu berujung trauma?

Lagunya itu pakai minus one, dan ada interlude lumayan dengan isi instrumental ciduk-ciduk yang lumayan. Dan entah siapa yang salah, persis pada saat interlude itu, lagu DIMATIKAN!

Bayangkan saja kalau lagi nge-seks tapi belum klimaks. Mungkin kayak gitu, nggak tahu sih saya. Tapi itu lagu belum kelar, dan klimaks lagunya di belakang, dan itu tidak ada.

Cengak cengok di panggung bingung kenapa bisa begitu?

Lagu kedua kemudian berakhir bubar jalan. Cuk Mailang yang aslinya simpel itu menjadi lagu dengan nada yang lari kemana-mana. Tidak saya, tidak orang di sebelah saya, sama saja. Faktor psikis membuat mental bubar jalan. Parah. Saya sakit hati sama yang matiin itu musik. Dan lebih jauh, saya trauma tampil di panggung lagi.

Ehm, di PSM Cantus Firmus saya diajari benar bagaimana tampil di panggung. Mulai dari panggung Melody of Memory hingga ICC Mega Glodok Kemayoran lantai 10. Dan kemudian saya harus berakhir trauma di sebuah gedung di Bintaro itu?

Huffffttttttt…

Dan kemarin, dengan terpaksa, saya kembali ke panggung itu. Dengan nuansa yang lebih parah, cuma berempat, dan bernyanyi. Cukup? Tidak! Ada bagian khusus ketika saya harus bernyanyi sendiri. Saya itu orang paduan suara yang ada di bass dan tidak pernah dapat jatah solis. Dan saya harus menyanyi sendiri?

Meski itu hanya 2 kalimat, sudah cukup bikin merinding! Sumpah!

Dua lagu, Tanah Air dan Mengejar Matahari menjadi warna beda dalam upaya menghapus luka dan trauma. Kalau nggak begini, mau sampai kapan saya trauma sama panggung itu? Ya kan?

Syukurlah, tidak ada kejadian krusial macam 3 tahun silam. Banyak yang bilang bagus, meski saya tahu saya fals, dan itu diamini oleh teman saya sesama CF. Ehm, dalam hal ini anak CF memang selalu bisa objektif. It’s okay for me. Tapi apresiasi juga tentu saya terima dengan penuh rasa terima kasih.

Setidaknya saya tidak perlu trauma dengan panggung itu. Beberapa waktu terakhir saya banyak melawan ketakutan. Mulai dari naik Banana Boat, nonton di GBK, hingga tampil kembali di panggung itu.

Percayalah, tidak ada luka yang sejati, selama kita berniat menghilangkannya 🙂

Gembira

Rumah itu perlahan terbentuk. Pondasi jadi, dinding berdiri, daun pintu terpasang, bahkan marmer lantai juga sudah ada pada posisinya. Tukang-tukang bekerja dengan giat, kadang mandor datang melihat kinerja tukang. Ada pula arsitek yang merancang rumah itu, ikut pula ada disana.

“Wahai para pekerja, besok pemilik rumah ini akan datang, melihat rumah yang kita bangun ini. Persiapkan sebaik mungkin ya,” seru Mandor di sore hari menjelang tukang-tukang pulang.

Esoknya, para tukang bekerja banting tulang menyelesaikan bagian-bagian yang belum dipoles dari rumah indah itu. Beberapa kali spesialis tukang batu ikut ngecat demi menyelesaikan bangunan yang luas itu.

“Pasti oke ini rumah mah,” seru tukang spesialis listrik.

Tukang batu yang ikut ngecat tadi tersenyum simpul. Dia barusan ngecat di stop kontak yang belum terpasang. Dia juga baru ngecat langit-langit yang bolong karena paku kabel.

Akhirnya pemilik rumah datang, melihat-lihat. Mandor menemani pemilik rumah dengan ‘speak-speak’ yang mumpuni.

“Ini dari batu kali gunung Merapi Pak, langsung!” ujar Mandor berapi-api.

Tukang batu tadi menoleh sebentar, lalu geleng-geleng. Dia tentu masih sangat ingat kalau baru kemarin mengambil batu di toko batu langganan. Geleng-gelengnya berlanjut seiring ayunan tangannya pada kuas.

“Oke, bagus. Kinerja kalian luar biasa,” kata pemilik rumah dengan tersenyum bangga.

“Terima kasih Pak. Silahkan datang kali seketika, kami siap memuaskan Bapak,” seru Mandor.

“Baik. Karena kesuksesan kalian, saya kasih bonus!”

Tukang-tukang senang mendengar itu. Mandor dengan berapi-api mengucap terima kasih pada pemilik rumah. Tukang batu tadi mengoles cat terakhirnya dan melangkah keluar perlahan dari rumah tersebut.

Tukang-tukang yang lain berkerumun pada kabar bonus dari pemilik rumah. Tukang batu itu menjauh sambil menatap.

Selalu ada cara yang berbeda untuk gembira.

Mesin Waktu

Siapa yang percaya kebetulan? Perlahan, saya tidak percaya kebetulan, yang saya percayai adalah ketika garis-garis nasib setiap manusia dipertemukan pada peristiwa-peristiwa. Dan, percayalah, kadang itu berulang seperti masuk ke mesin waktu.

Percaya kan?

Siapa yang mengira makhluk-makhluk yang pada era 2004-an silam terkapar manis di kamar kos, galau bersama di Gua Maria, heboh di warung makan, bisa bertemu kembali dengan atmosfer yang kurang lebih sama? Itulah, garis-garis nasib itu dipertemukan kembali. Siapa yang mengatur? So pasti, Tuhan!

Bahwa pengaturan kalau ada teman yang PKL di Bekasi coret, lalu ada teman yang datang dari Jakarta, pun juga ada teman yang ditinggal istrinya kondangan dan baru sekali ke Bekasi coret, bisa bertemu kembali, tentu sepenuhnya misteri ilahi. Sungguhpun tempatnya tidak sungguh-sungguh jauh, tapi handicap-nya tentu jauh berbeda di 2012 dan di 2004-an.

Pertemuan serupa mesin waktu. Ketika melihat gambar dan bertanya, “iki kapan yo?”. Lalu ketika tertawa terbahak mengingat kelakuan masa muda. Sesuatu yang akan sulit dan semakin sulit diulang. Sebuah pertemuan garis nasib yang tampaknya memang dimaksudkan untuk me-refresh memori pada masa perjuangan.

Unik dari ini adalah ketika pertemuan dilangsungkan di rumah milik salah satunya. Unik juga adalah ketika yang dibicarakan bukan lagi gebetan, tugas kuliah, atau mau bolos atau tidak, tapi bagaimana rasanya menikah, bagaimana dan berapa KPR rumah.

Unik juga ketika dalam hal perihal membayar, semuanya siap dengan dompet masing-masing. Ehm, delapan tahun silam, saya nggak yakin setiap orang akan merogoh dompetnya sama-sama untuk sebuah transaksi yang sama. Hendak dulu-duluan.

Unik, lucu, dan misterius.

Misteri ketika harus ditanya, kapan ini akan terjadi lagi?

Ah, apapunlah. Mesin waktu ini sungguh membantu saya, setidaknya untuk mengenang, bahwa saya pernah demikian.

This is about FRIENDSHIP 🙂

Menghemat Pengeluaran Skripsi

Percayalah bahwa pengeluaran skripsi itu paling mendasar dalam pengeluaran kelulusan. Berikut sedikit tips yang saya terapkan dalam rangka cost reduction di skripsi.

1. Pembimbing pasti bolak balik minta naskah. Nah, diskusikan dulu. Ada pembimbing yang bisa softcopy, itu kan sangat membantu dalam proses mengirit. Atau kalau memang harus hardcopy, diskusikan juga, mau nggak pembimbing menerima print di kertas bekas. Nah, dalam hal kertas bekas, selalu coret halaman yang tidak terpakai, dan print dalam posisi terbalik agar tidak sulit dan membingungkan.

2. Setiap revisi, usahakan tidak mengubah susunan halaman. Pasti bisa, kecuali revisinya mendasar. Jadi kalaupun disuruh revisi, yang dicetak ulang hanya halaman yang direvisi saja, tidak semua.

3. Untuk perbanyakan, JANGAN PRINT SENDIRI SEMUA. Ini sungguh boros. Boros tinta printer pasti, boros kertas iya, boros tenaga nungguin juga. Kalau mau, pilih fotokopian berkualitas print. Harganya biasanya dua kali lipat fotokopi biasa, tapi hasilnya oke. Dan kita hanya perlu nunggu barang 30 menit, alih-alih nge-print, tinta habis, beli dulu, nge-print lagi, kertas habis, beli dulu, dan seterusnya. Kalaupun hanya dicetak, ya yang berwarna saja to.

4. Teliti itu pangkal hemat. Banyak kasus, salah print membuat harus print ulang, padahal hanya perkara typo. Sebisa mungkin telitilah sebelum mencetak.

5. Kerjakan sendiri skripsi itu! Bahwa skripsi adalah satu-satunya mahakarya seoang mahasiswa, kalau dikerjakan sendiri. Kalau kita paham skripsi kita sendiri, niscaya kesalahan akan lebih minim. Banyak kasus copy paste membuat kita bingung sendiri dan akhirnya revisi. Ini juga cost loh.

6. Korbankan diri sendiri! Hmmm.. gini, waktu berangkat ujian, saya membawa sebuah copy skripsi saya sendiri dalam wujud cetakan di kertas bekas, two page per sheet. Tipe cetak? Fast draft. Hehehe.. Ini juga bagian pengiritan, toh ini skripsi kita sendiri, jadi tenang saja, harusnya kita paham.

Konsep go green mungkin belum berlaku di jaman saya skripsi, tapi dengan semakin berkurangnya hutan tentu go green semakin digalakkan. Berhematlah kertas dalam skripsi 🙂

Satu, Dua, Tiga… Byurrrrr…

Ulang tahun memang layaknya dirayakan sebagai wujud syukur. Tidak melulu ulang tahun sendiri, tapi juga orang lain, apalagi teman. Kalau teman senang, tentunya kita ikut senang. Kalau teman menderita di hari ulang tahunnya, mungkin kita akan sama senangnya.

Sama persis dengan 16 Agustus ini, ulang tahunnya Soe Hok Gie wannabe, Yama. Meski tampilan muka jelas beda dengan Nicholas Saputra, tapi sisi aktivis-nya yang kita ambil sebagai Gie wannabe. Kalau muka mau disamakan sama Gie vesi film, mungkin perlu effort buat operasi plastik.

Aya, mami-nya anak-anak Dolaners sudah mempersiapkan agenda ini. Kebetulan, aku, Aya, Sinta, dan Rani yang sibuk di inisiasi tingkat universitas lagi libur karena besok acara dimulai. Pas kebetulan lagi bocah Dolaners lain yang ikut inisiasi tingkat fakultas juga lagi di kampus, menemani si gondrong Toni menjaga pendaftaran. Jadi cocok sekali.

Ini akan jadi perayaan ulang tahun yang oke buat Yama, mestinya.

“Lha ini Yama kesini nggak?” tanya Chiko sambil duduk-duduk ngangkang di lorong cinta. Lagi-lagi, tempat bernama lorong cinta menjadi tempat untuk berbuat, bertindak, dan lain sebagainya. Lorong ini memang saksi untuk berbagai kegiatan.

“Udah di-SMS?” tanya Rani.

“Udah. Katanya nanti mau kesini,” ujar Aya, yang ceritany jadi EO untuk perayaan ulang tahun ini. Kue yang lumayan besar sudah disiapkan, sungguh EO yang niat. Dalam hati aku curiga bakal ada iuran sesudah ini. Hmmm, tak apalah, orang tuaku barusan datang kok, kantong masih cukup tebal untuk sekadar kue gede ini.

Menunggu sosok semisterius Yama memang ngeri-ngeri sedap. Matahari kian meninggi, sosok gondrong mirip grandong ini nggak nongol-nongol juga.

“SMS lagi deh,” kataku.

“Kan nanti juga mau kesini. Mau ketemu Bu Yetty katanya, ngurus nilai ujian,” jawab Aya.

Ow! Aku agak paham dengan makhluk ini jadi pasti ia datang. Nilai Kimia Dasar itu begitu berharga untuk makhluk yang baru mengambil 13 SKS. Seperti halnya donor darah, setitik nilai begitu berharga.

“Kayaknya itu deh.” Si pintar Bayu menunjuk sosok kurus kering kerontang jalan dari kejauhan. Cara jalannya Yama itu spesial minta ampun, tidak ada yang nyamain, jadi hampir pasti itu Yama.

“Ho oh. Bener. Yo, dijamu dulu lah,” ujar Chiko.

Rambutnya melambai malas, mukanya juga sudah buat malas. Tapi dalam rangka hura-hura, rasanya tidak masalah menjamu makhluk ini terlebih dahulu.

“Kene sik. Duduk-duduk sik,” kata Chiko kepada Yama dengan muka playboy-nya. Yah, muka playboy kok diterapkan ke sesama cowok. Mungkin ini ada problem disorientasi.

“Aku arep ketemu Bu Yetty cah.”

“Yo kene sik lah. Ngobrol-ngobrol. Durung ono ibu e.”

Yama pun luluh lunglai, bokongnya mendarat manis di kursi lorong cinta. Formasi pesta sudah disiapkan. Chiko, Bayu, Toni, aku, dan segenap cewek-cewek penggembira.

“Ngopo kie?” Yama mulai curiga melihat makhluk-makhluk bertampang polos di sekitarnya berubah menjadi seringai ganas.

“Orapopo,” kataku.

Dan… Happpp..

Kedua tangan Yama dipegang erat, demikian pula kedua kakinya. Prosedur perayaan ulang tahun resmi diaktifkan!

Chiko merogoh seluruh saku Yama, maka dompet, handphone, dan kunci segera diamankan. Aya sebagai EO segera mengambil langkah pengamanan. Tidak ada rontaan berlebihan dari Yama. Ya, sebenarnya dengan berat badannya yang di bawah Body Mass Index, percuma juga mau berontak. Nanti salah-salah malah itu tulang belulang copot semua.

Setelah isi kantong dipastikan bersih, sandal juga dilepas. Seluruhnya diberikan kepada tim cewek satuan pengamanan barang. Sementara cowok-cowok bertugas menjadi eksekutor.

Jadi ini Yama mau dibawa kemana sih?

Ehm, beberapa puluh meter dari lorong cinta ada sebuah kolam dengan air yang hijau. Sungguh eksotis untuk dipandang tapi tidak nyaman untuk dicicipi. Jadi, setiap yang ulang tahun harus merasakan tempat ini sebagai wujud perayaan. Singkatnya, Yama hendak diceburin ke kolam berwarna hijau eksotis itu.

Karena Yama tidak meronta dan kebetulan lagi tubuhnya memang kurus kering, jadilah mengangkat makhluk aktivis ini tidak susah-susah amat. Dalam sekejap mata, ia sudah sampai di bibir kolam.

Prosedur disiapkan untuk eksekusi. Empat orang memegang tubuh Yama, masing-masing satu di tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

“Hitung?” tanyaku.

“Foto dulu,” ujar Aya. Maka kamera pocketku yang kebetulan masih ada film-nya segera digunakan. Jepret!

“Siap?”

“Yo!”

“Satu, Dua, Tiga!”

Tubuh kering Yama melayang manis di kolam berwarna hijau, nyebur sebentar hingga tak terlihat dan sejurus kemudian muncul lagi. Tepi kolam itu hanya sepinggang kok, jadi tampaknya memang diset untuk memuaskan hasrat mahasiswa galau dalam merayakan ulang tahun teman.

Pada saat bersamaan, seluruh Dolaners berlari berpencar menghindari pembalasan dari Yama. Terutama yang cowok-cowok nih, karena Yama siap berlari mendekat dan memeluk bak maho guna menularkan hijaunya kolam kepada yang lain.

Dan benar. Yama berlari mendekati setiap orang yang dekat. Dan ini macam kejar-kejaran di SD saja. Untung kampus memang lagi off kuliah, jadi area kampus yang luas itu serasa milik sendiri saja.

Setelah lelah, akhirnya perayaan benerannya dimulai. Aya mengeluarkan kue tart yang lumayan gede untuk teman yang berulang tahun ke-20 ini. Persis di bawah tangga lab, pesta dimulai.

“Ayo, ditiup sik. Make a wish. Make a wish.”

Yama merem sekilas, lalu meniup lilin 20 yang ada di kue tart itu. Pesta selesai! Kue tart itu lantas jadi konsumsi bersama. Sungguh kebersamaan yang indah di panas yang terik. Yah, apa yang kurang indah coba? Melihat teman masuk kolam dengan sukses dan diakhiri makan kue adalah wujud persahabatan yang mantap.

Ibarat kurva, dinamika menurun. Aktivitas lain-lain siap dimulai kembali, maka Dolaners bubaran satu per satu, didahului Yama yang terpaksa pulang lagi dalam rangka ganti baju berhubung ia belum sempat menemui Bu Yetty.

Sisanya?

“Bayar!” tagih Aya kepada Dolaners lain yang bersiap pergi. Seandainya bagian ini ditiadakan mungkin pesta barusan akan jadi lebih indah. Tapi sebagai sesama mahasiswa tentulah semuanya masih minta orang tua, jadi apapun harus dibebankan bersama. Indah juga bukan?

Pendadaran

Entah mengapa dan bagaimana saya jadi teringat soal pendadaran saya beberapa tahun silam, tepatnya sih 2 Januari 2008 (020108).

Jejak-jejaknya sudah dimulai dari bermalam tahun baru dengan slide presentasi, paling wagu sedunia kalau ini. Hehehe… Lalu saya mencoba tidur di tanggal 1 malam, sejak jam 8, dan… GAGAL!

Deg-degannya, entah mengapa dan bagaimana, membuat saya gagal tidur. Jam 4 pagi kemudian saya menjemput penguji di stasiun. Ehm, biar nggaya ini maksudnya. Saya antar ke hotel dan disana beliau menelepon teman dari grup yang sama dan masih/sudah bangun. Artinya? Yak, semua sama-sama sulit tidur. Hehehe..

Oke. Lanjut. Saya kemudian pulang dan akhirnya BERHASIL tidur 1 jam berkat bantuan Anti*o setengah tablet, sebuah miss-use oleh calon S. Farm.

Lalu dan lagi, saya bangun pagi-pagi sekali dan berangkat juga pagi sekali meski jadwal pertama bukan saya, kalau nggak salah Ana. Saya membantu dengan sepenuh hati mempersiapkan viewer dll, dan sungguh tidak mengantuk. Ketika itu langsung sadar kalau belum ada laptop. Ehm lagi, saya waktu itu masih kere, nggak punya laptop, masak ya bawa-bawa desktop kamar kos ke kampus?

Maka langsung capcus ke rumahnya Manda, lalu pinjam laptop, dan namanya terpatri indah di ucapan terima kasih skripsi saya di satu nomor. Hehehe..

Saya giliran ketiga, kalau nggak salah sesudah Rissa. Dan itulah, asli saya nggak ngantuk meski hanya tidur 1 jam. Apa sih yang saya takutkan? Entah!

Soal kostum. Well, celana yang saya pakai adalah satu-satunya celana kain yang saya punya, sejak semester 1. Celana yang sama dengan konser Melody of Memory, celana yang juga join di KPS Unpar, dan celana yang itu juga dalam Golden Voice Christmas Choir Competition. Sepatu? Ya sama juga. Hehehe..

Baju? Nah, yang ini punya bapak. Saya sungguh hanya modal beli DASI di Stock Well yang diskon. Udah.

Saya masuk, deg-degan, lalu didadar disana. Dan semuanya dijawab dengan lancar dan manis. Ternyata kalau skripsi itu digarap sendiri, nggak ada yang perlu ditakutkan. Itulah yang disebut keniscayaan. Kalau suatu metode kita tahu asal muasalnya, kelemahan adalah sesuatu yang bisa diakui, asal jelas. Yang pasti, kehancuran skripsi dan pendadaran adalah ketika kita tidak tahu apa yang kita tulis. Dan ini banyak, copy paste pasti penyakit utama. Syukurlah, saya nggak copy paste sama sekali. Skripsi saya justru dengan baik dan benar menjadi sarana untuk mencurahkan hasrat menulis yang lama lepas.

Oya, kalau mau cek, di skripsi saya, profil penulis ada di halaman 123. Hehehe.. Meskipun total jenderal sampai mau 200 karena ternyata tambahannya banyak sekali. Saya itu orangnya ya begitu, sampai profil penulis pun dipas-paskan dengan halaman 123.

Yahhh, itulah pendadaran. Saya tepar sepulangnya karena tidak tidur itu bikin ngantuk juga. Tanggal 3 saya datang lagi, membantu ujian teman lain, dan syukurlah sukses semua. Sorenya saya bablas ke Ambarawa, nyanyi koor manten dan mendapatkan SMS yang tidak dapat saya lupakan sampai saat ini.

Aku lagi ndelok foto-foto di jakarte. Entah mengapa aku merindukanmu.”

Hmmmmmmmmmm…

Sedingin Kisah Cinta

Bagaimanapun, Dolaners itu orangnya romantis-romantis. Hanya sayang nasibnya kadang nggak cocok sehingga kisahnya kagak romantis. Ketika Chiko, si playboy kena batunya waktu ngedeketin Irin, pada saat yang sama Bayu kena pencuekan dari mantannya, Putri. Dan kebeneran pada saat yang sama, aku juga lagi galau karena kedekatan tidak biasa dengan Alin. Bagaimanapun dan bagaimananya, namanya deket dengan pacar orang itu nggak biasa.

Maka, Yama, yang tampak ayem-ayem kampung berinisiatif meminimalkan kegalauan tiga temannya dengan cara standar: berdoa.

“Cah, ayo nang Sri Ningsih,” ajak Yama ketika kami berempat sedang nongkrong membahas masa depan bangsa dan negara. Paras Chiko masih macam vokalis kehilangan band, Bayu masih seperti orang pintar kehilangan otak pintarnya, dan parasku tetap tidak kelihatan. Lha hitam soalnya.

“Kapan?”

Ngko wae. Kalau besok-besok pasti nggak jadinya.”

“BERANGKAT!” ujarku. Percayalah, bagaimanapun orang galau, gamang, resah, gelisah, dan risau itu sejatinya hanya butuh satu hal: berdoa. Dan biasanya sih, orang akan ingat berdoa kalau lagi galau, gamang, resah, gelisah, dan risau. Yah ini sih sekadar silogisme belaka.

Sepeda motor merah-nya Chiko dan Grand hijau-nya Yama jadi alat angkut untuk berdoa dalam risau di sendang Sri Ningsih. Dan seperti biasa, ketika harusnya jam tidur, kami berangkat. Padahal, jangan salah, hari Jumat pagi besok masih ada kuliah jam 9.

Ini kalau nggak galau maksimal pasti berdoanya sudah ditunda sampai besok.

Perjalanan ke arah timur itu adalah perjalanan paling nikmat untuk anak muda. Jalannya lurus, banyakan mulus, jadilah tinggal was wus. Apalagi itu sudah jam 10 malam yang berarti sepi minta ampun. Paling saingan sama mobil yang mau ke Klaten-Solo. Nggak banyak juga. Maka kecepatan memang berkisar 80-100 km/jam. Kalau sama emakku tahu, pasti udah dihabisin aku, lha 40 km/jam aja udah dipesenin, “jangan kencang-kencang.” Nah!

Sesudah pabrik susu terkemuka, akan ada puteran dan kami masuk ke selatan. Dari situ, masih rada jauh juga sih, akan ketemu tempat yang bernama Sri Ningsih dengan patokan sekolahan. Kalau weekend, sekolahan itu jadi tempat parkir, dan berhubung ini weekdays, jadinya kami bisa naik sedikit dan parkir di rumah penduduk. Tentunya bayar.

“Ayo doa,” ajak Yama begitu kami sampai.

“Ntar lah,” sahutku ringan. Berdoa ketika baru sampai itu asli nggak biasa.

Jadi nih, kalau lagi mau doa ini, doa itu sendiri lebih banyak sebagai kedok. Doanya 10 menit, ngobrol plus curcolnya berjam-jam, tidurnya 1-2 jam, lalu pulang sambil terkantuk-kantuk ria. Ya, semacam itu saja.

Karena belum mau doa, kami akhirnya mampir di sebuah warung dan makan mie instan penuh kehangatan. Cerita lalu dimulai, dengan tiga lelaki galau dan satu konsultan. Dan aku cuma ragu kalau konsultan ini tidak galau. Apa iya?

Aku, sebagai pemain api kelas kacang, masih sempat-sempatnya bertukar pesan singkat dengan Alin. Malah, selagi makan mie instan itu, masih nelpon Alin beberapa menit.

“Hati-hati,” ujar Chiko, masih dengan tampang kehilangan band-nya.

“Iyo. Ini ya nggak ngapa-ngapain kok.”

“Ntar senasib lho,” goda Bayu.

“Beda kasus dikit.”

Dan Bayu beda lagi, ternyata si Putri itu sudah punya pacar baru. Jadi pantas saja kalau si Bayu dicuekin sepanjang acara inisasi anak muda beberapa minggu lalu. Seperti yang pernah aku bilang, miris memang terjadi ketika ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama. Percayalah! Ada lelaki sedang makan mie di depanku yang jadi buktinya.

“Yo, nek nggak ngapa-ngapain ya nggak usah dihubungi,” timpal Yama. Sebagai makhluk paling tua diantara kami berempat memang wajar kalau di agak wise. Apalagi ia bercita-cita menjadi gubernur BEM dalam waktu dekat dan ketua lingkungan kelak kalau sudah uzur.

Aku mengiyakan saja, mencoba mengalihkan topik.

“Lha kowe piye,Ko?”

“Apanya?”

“Lha ya si itu,” kataku tanpa menyebut nama, rasanya agak membuat hati bertanya bagaimana, saking nggak enaknya menyebut nama itu. Membayangkan saja sulit, apalagi merasakannya. Memang hanya playboy sekelas Chiko yang bisa menjalaninya tanpa banyak sakit hati. Dan percayakah, mereka masih kontak-kontakan.

Mbohlah.”

Sebuah kata yang bermakna mirip ‘hehehehe…’ kalau lagi chatting. Itu bermakna suatu percakapan kudu ganti topik.

Dinginnya malah masih memeluk nikmat dan menimbulkan kantuk yang amat sangat. Kami berempat segera menuju sebuah tempat beratap yang memang banyak dipakai untuk menginap. Tikar yang ada kusambar dan rentangkan. Di sudut pondokan itu ada sepasang, entah pacaran atau pasutri, tapi pokoknya cowok dan cewek. Sementara di pondokan lain ada beberapa pria tidur terpisah. Tidak sampai 10 orang di tempat sunyi ini.

Turu sik po?” tanya Chiko.

“Iyolah. Sambil curhat, sambil bobo,” ujarku.

Maka empat lelaki dengan empat kisah sendiri-sendiri itu terlelap dalam dingin. Ehm, Yama sendiri punya kisah juga, dengan adik kelas yang kami juga kenal. Aku juga sempat ditegur karena terlalu kepo. Yah, mohon dimaklumi, naluri jurnalisme warga untuk seorang calon gubernur. Walaupun baru sebatas gubernur BEM.

Aku, Bayu, dan Chiko tidur seadanya. Yama? Komplit dengan bantal dan selimut yang dibawa dari rumahnya. Bagiku ini tampak biasa, toh biasanya juga hanya modal sarung dan kaos kaki cukup. Ngapain juga bawa selimut?

Apakah aku benar?

Dua jam kemudian, semuanya menjadi salah.

Angin di jam 2 pagi sangat sangat sangat sangat sangat dingin. Sampai lima kali sangat saking dinginnya. Aku terbangun, menekuk badan, mengangkat sarung, dan gagal menambah suhu. Aku mulai gemetar dan semakin meringkuk.

Tiupan angin memang bebas karena pondokan itu hanya ada dinding, tiang, dan atap. Ini semacam tidur di alam bebas saja. Jadi ya semua bebas. Termasuk suhunya bebas.

Kondisi dingin membuatku tidak bisa terlelap. Aku menoleh ke kanan dan tampak Yama tidur dengan pulasnya bersama bantal dan selimut. Kalau ingat episode Spongebob waktu Chandy hibernasi, ingin rasanya memotong selimut itu. Sayangnya, Yama tidak sedang hibernasi. Itu saja bedanya.

Aku mendekati meja pendek yang ada di tengah pondokan. Biasanya meja ini untuk berdoa atau menaruh bekal. Tapi tampaknya akan menarik kalau dijadikan tameng angin saja. Anginnya datang dari arah depan, sementara di belakangku sudah tebing. Jadilah aku membuat tameng dari meja itu dan memilih untuk tidur di belakangnya.

Tapi yah namanya meja, yang ditutup hanya satu sisi. Dua sisi samping tidak tertutup sama sekali, tetap saja DINGIN!

Chiko dan Bayu tampak begitu gelisah dalam tidurnya. Dan aku sungguh yakin mereka sedang bermimpi main ski di kutub utara. Nggak mungkin mereka tahan dengan dinginnya pagi ini.

Kali ini aku benar. Tidak lama kemudian Bayu bangun dan mendekatiku yang sedang berlindung dibalik meja pendek. Yak, aku dan Bayu kemudian membentuk formasi seperti perang-perangan dengan angin. Dua orang cowok tidur berdua di balik meja sambil kedinginan. Tampak ironis dan menggelikan.

Jadilah malam yang seharusnya nikmat itu, menjadi penuh perjuangan. Aku dan Bayu tidak berkata-kata karena lebih baik diam daripada membiarkan udara malam masuk rongga mulut. Lha, nggak masuk aja, gigi sudah gemetar. Apalagi aku dan Bayu juga dapa kesadaran 50% yang bangun hanya karena kedinginan.

Chiko? Mungkin masalahnya terlalu pelik hingga dingin tidak berasa. Sepertinya kisah cintanya jauh lebih dingin.

Dua jam penuh penderitaan akhirnya diakhiri dengan kegagalan tidur sempurna. Aku beranjak ke tempat doa dan mulai curhat disana. Menyusul Chiko, Yama, dan Bayu. Tampaknya Bayu baru menikmati angin yang mulai reda di jam 4 pagi.

Tujuan akhirnya tercapai, curhat sambil doa. Eh, atau doa sambil curhat? Sama saja kali ya?

Maka berikutnya adalah… PULANG dan KULIAH!

Jalan Solo kembali menjadi tempat berpacu yang asyik. Jam 5 pagi masih nikmat untuk keluar Klaten menuju Jogja.  Dinginnya memang lumayan, tapi tidak seganas jam 2 pagi tadi. Kantuk masih menggantung sebenarnya, tapi jadi nggak ketika sampai di jalan besar karena kemarin setengah janjian mau bareng Alin. Yup, Alin lagi mudik dan balik Jogja pada pagi yang sama.

Ndi?” tanya Yama.

“Mboh,” ujarku.

Kedua motor berjalan perlahan sambil tengok belakang dan depan. Berhubung janjiannya keputus handphone yang low bat, jadinya cuma setengah doang. Nggak bisa janjian beneran.

Setelah berjalan dua kilometer, Alin tidak ditemukan dan memang tidak bisa dihubungi.

Bablas?” tanya Chiko.

“Iyolah. Emang main api itu tidak diberkati.”

Pelajaran utama, sesungguhnya main api itu memang tidak dianjurkan.

Was wus was wus sepanjang Jalan Solo membuat kami sampai Jogja dengan cepat. Ketika hendak menyeberang masuk ke rumah Yama, motor Chiko tiba-tiba melambat.

“Bocor!”

Wah! Apa ini dampak dari tuah bermain api? Bahkan ban motor Chiko yang notabene ada di bawah tubuhku, karena aku membonceng, bocor!

“Walah.. Isuk-isuk meneh,” gerutuku.

Chiko akhirnya meninggalkan sepeda motornya di rumah Yama. Sebagai pemuda harapan bangsa, bagi kami lebih penting kuliah. Apa iya? Entah juga sih.

Dan kuliah Jumat pagi menjadi penutup hari yang super dahsyat ketika karung mata menggantung nikmat minta ditutup sementara ilmu yang berguna bagi masa depan berkeliaran di telinga. Inilah profil pemuda masa kini. Tepatnya sih, pemuda masa kini dengan kisah-kisah cinta yang dingin.

Bapak Millennial