Percakapan Tentang Hati

“Dan saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya, tapi minjem.”

Aku membaca sepotong pesan singkat itu sambil tersenyum. Entah apa maknanya gadis cantik di seberang sana mengirimkan pesan singkat itu padaku. Siapa aku sampai perlu tahu hal sekecil itu? Jangan-jangan sepotong pesan kecil itu hanya membuatku berharap berlebihan.

Sepotong pesan singkat yang dikirim sudah lama sekali.

Ya, aku membuka kembali handphone lamaku sekadar untuk membaca kembali percakapanku dengannya. Sebuah percakapan yang teramat sangat aku rindukan kini. Sebuah percakapan yang kini berubah menjadi dingin. Sangat dingin.

Buku itu, ah..

Mungkin bukan buku, lebih tepat disebut novel. Ya, novel itu yang membuatku sampai perlu membuka kembali percakapan bertahun-tahun silam.

Novel itu, entah sudah berapa kali gadis cantik itu menceritakannya padaku dalam bentuk rekomendasi. Entah sudah berapa kali pula aku melewatkannya di toko buku. Hal sederhana saja, bukannya aku tidak mampu membeli buku itu. Harganya hanya separo pendapatanku sehari.

Hingga pada akhirnya aku membeli juga novel ini, setelah dua edisi film-nya selesai tayang di bioskop. Lama sekali.

Lantas mengapa aku terlambat?

Aku, teramat sangat tidak ingin terikat dengannya.

Cupu? Mungkin. Tapi sungguh dua kata yang menjadi judul buku itu sangat melekat di benakku, dan sangat identik dengan dia.

Dan kini hanya ada aku, novel itu, dan sebuah kamar hotel yang luas. Sebuah caraku untuk berefleksi melepaskan diri dari keramaian duniawi. Aku pergi ke tempat yang jauh untuk menyepi, meski aku harus mengeluarkan sedikit uang lebih. Tak apalah. Sekali-sekali juga.

Dan sebuah pergulatan tidak penting juga terjadi sampai akhirnya aku memilih novel itu sebagai bahan untuk menyendiri. Ya, pergulatan untuk kembali mengingat dia. Dia yang pada dasarnya sudah coba kulupakan dua kali. Dan yang terakhir, dengan sebuah perjalanan keputusan. Fiuhhh..

Kalimat demi kalimat kulewati, dan aku perlahan tahu tentang tokoh-tokoh yang sering dikisahkan gadis cantik itu padaku. Tentang dua orang sosok yang saling mencintai, meski akhirnya ada perkara dengan hati.

Ah! Hati!

Sesungguhnya, percakapan tentang hati adalah bagian yang paling aku rindukan dari gadis yang seharusnya sudah kulupakan itu. Texting soal hati dengannya adalah hal terbaik dalam bertukar pola pikir. Sesungguhnya aku menemukan sesuatu yang hilang, padanya.

Dan sesekali aku membaca sepotong kalimat yang aku tahu benar pernah dikirimkannya kepadaku, dalam percakapan tentang hati itu. Semakin aku membaca, semakin aku merindukannya. Dan semakin pula aku sadar bahwa hati ini sebenarnya sudah memilihnya, dari suatu waktu yang sudah lama sekali.

Kualihkan pandanganku sejenak dari baris-baris kalimat di novel warna hijau yang kupegang. Mataku beralih ke sebelah kanan, jendela. Bintang bersinar di sana dalam kesunyian yang mengelilinginya. Bahkan bintang pun berani bersinar dalam kegelapan, kenapa aku justru memilih berdiam dalam keheningan? Berdiam dalam rentang waktu yang teramat lama sehingga kemudian aku hanya berhasil mendapati kenyataan bahwa aku harus melupakan gadis itu.

Mataku kembali ke kertas abu-abu di genggamanku. Kembali kubaca kata-kata tentang hati, dan.. ah.. kenapa aku harus membaca seluruh kata-kata ini? Kenapa rangkaian huruf di novel ini membentuk sebuah kata yang adalah nama gadis itu di benakku? Kenapa aku merasakan kembali bahwa sebenarnya hati ini memilih dia? Kenapa aku merasa bahwa aku merasa bahwa dia lah yang tidak perlu melakukan apa-apa, tapi aku sanggup memberikan semuanya?

Halaman terakhir menjelang, dan sebuah akhir manis dari novel ini kubaca. Dua manusia itu menang dalam petualangan hatinya. Mereka bersatu dalam sebuah jalinan kisah cinta yang resmi. Ah, manis sekali.

Lembar hijau terakhir itu kututup, dan kupejamkan mataku.

Benarlah, bahwa hati ini tidak perlu diarahkan, dia akan memilih.
Benarlah, bahwa hati ini tidak akan kalah oleh konsekuensi sebuah pilihan.

Dan kebenaran pahit menjadi kesimpulan terakhirku: bahwa memang dia adalah pilihan hatiku.

Mungkin aku perlu jalan yang lebih berliku daripada Keenan dalam rangka mencapai Kugy. Tapi tak apa, seperti yang tertulis di novel Perahu Kertas ini, hatiku sudah memilih. Dan pilihan itu tidak pernah berubah, meski aku tahu, hal yang sama tidak terjadi padanya.

🙂

*sebuah apresiasi bebas untuk novel perahu kertas

17 in 1

“Mak, besok aku pergi ya. Ke Solo,” ujarku pada Mamak yang lagi berkunjung ke Jogja guna mengantarkan adikku gadis satu-satunya bersekolah di kota pelajar ini.

“Ngapain?”

“Main.”

Ya, aku pun kurang tahu mau ngapain di Solo besok, tapi ini sudah perjanjian dengan Dolaners dan kalau nggak ikut kok rasanya kurang afdol. Lagipula, ehm, aku kan belum pernah ke Solo.

Ada untungnya juga aku pergi main begini ketika ada orang tua. Bayangkan, dari sekian rute dolan-dolan sebelumnya, mayoritas aku berangkat dengan kelaparan dan kehausan. Sekarang? Sejak subuh Mamak sudah menyiapkan sepiring mie goreng dan susu untuk anak lelaki pertamanya ini. Hore bener.

Aku bergegas menuju Stasiun Lempuyangan di tengah kota Jogja. Perjalanan tanpa konsep ini segera dimulai.

Oke, baiklah kalau aku bercerita sedikit latar belakang perjalanan ini. Jadi itu, si Chiko, bilang ke teman-teman kalau dia belum pernah naik Kereta Api. Ceritanya yang diulang-ulang membuat teman-temannya trenyuh minta ampun dan kemudian merancang sebuah perjalanan dinas dengan Kereta Api. Kalau mau ke Jakarta, kejauhan. Jadi diambil yang singkat dan mestinya murah, naik Prambanan Ekspress alias Prameks ke Solo.

Di Solo ngapain? Ya, itu urusan nanti.

Aku juga kurang tahu siapa saja yang ikut dalam edisi dolan kali ini, mau ngapain di Solo, dan segala tetek bengek perjalanan lain. Satu yang pasti, ini mau dolan ke Solo.

Aku masuk ke tempat pembelian tiket Prameks di stasiun Lempuyangan dan bertemu dengan beberapa Dolaners. Absen demi absen, akhirnya terkumpullah sumbangan sebesar, eh salah, 15 manusia Dolaners. Banyak juga!

Lima belas pemuda-pemudi harapan bangsa ini bergegas masuk setelah membeli tiket Prameks. Chiko menjadi fokus perjalanan karena dolan-dolan kali ini dirancang untuk kesenangannya. Mana ada coba teman kayak gini? *songong mode on*

Kereta api jurusan Jogja-Solo itu berjalan perlahan meninggalkan Lempuyangan. Agak berbeda dengan yang sering aku temui. Ya tentu saja, aku biasa naik kereta api untuk perjalanan jauh yang membutuhkan perpisahan. Kalau Jogja Solo ini jarang ada dadah-dadah dan tangis-tangis layaknya kereta menuju Jakarta. Paling nanti sore ketemu lagi.

Ketika memasuki daerah bandara, Chica dengan bangga menunjuk-nunjuk, “Kae loh TK-ku dulu.”

Sebagian bangkit berdiri melihat ke jendela. Sebagian yang lain hanyut dalam lelap. Maklum, berangkat pagi untuk mahasiswa yang lagi libur semester itu setengahnya bermakna derita, meski itu untuk dolan sekalipun.

Ketika kemudian kereta memasuki daerah Klaten, Yama giliran bangkit berdiri dan menujuk ke arah luar sambil berkata, “Kae omahku.”

Kali ini semua bangkit berdiri dan menatap sekilas bangunan yang cukup megah dengan pemandangan asli kampung di sekitarnya.

“Apik omahmu,” ujarku.

“Ora koyo rupamu,” timpal Chiko.

Yak, sesi ejek mengejek tampaknya dimulai. Timpalan dari Chiko sudah berhasil mencairkan suasana pagi ini. Berbagai ejekan dan hinaan keluar bergantian di dalam kereta api yang kini melaju kencang itu.

“Solo Balapan habis,” ujar porter yang merangsek masuk ke dalam kereta. Tentunya mereka berharap ada sedikit rezeki dari orang-orang berbawaan banyak.

Dolaners turun satu per satu. Sesudah turun, yang terjadi adalah bingung. Mata beredar ke sekeliling dan melihat sebuah kereta api eksekutif parkir. Tanpa buang waktu, Dolaners pose di depan kereta eksekutif itu. Hmmm, jadi secara dokumentasi kami tidak akan dianggap naik Prameks karena novum ini memperlihatkan kami berfoto bersama kereta eksekutif. *penting ya?*

Aku dan 14 dolaners lain berjalan ke luar stasiun. Sampai luar, yang ada adalah… bingung. Terkapar miris di depan kantor PT KAI adalah kejadian selanjutnya.

“Iki ngopo dewe?” tanyaku.

“Lha kowe Ko, arep ngopo dewe?” imbuh Fian.

“Muleh wae po?” kata Chiko.

Dan ini sebenar-benarnya bingung.

“Aku wis ngomong Ani kok wingi,” ujar Chica. Perkataan yang sungguh meredakan suasana.

Ani adalah teman main juga, dan kebetulan berasal dari Solo dan karena ini libur semester maka otomatis berada di rumanya. Artinya, Ani sedang berada di Solo. Jadi, Ani ini orang Solo bukan ya? Malah nggak jelas begini.

Setengah jam kemudian muncullah sebuah kijang berwarna merah. Ani yang bertubuh mungil bak anak SD kemudian turun dari bangku depan. Kedatangan Ani menjadi semacam Oscar Oasis melihat setetes air di padang gurun.

Obral-obrol sebentar, perjalanan lantas hendak dilanjutkan. Pertanyaan besar muncul.

“Naik apa?”

Ani sudah berbaik hati menyewakan sebuah mobil kijang dan membooking saudaranya untuk menyetirkan mobil kijang ini. Dan sebagai dolaners yang baik, harus bisa berbuat sesuatu. Maka, tindakan selanjutnya adalah… memastikan 15 dolaners plus 2 penghuni Solo asli bisa cukup di dalam sebuah mobil Kijang Super!

Absurd? Pasti. Tak bahas sebentar metode penataannya.

Saudara Ani tentu di bangku kemudi. Ani duduk manis di sebelah pengemudi karena badannya yang kecil mungil. Nah, karena ada Bona yang lagi cedera lutut tapi dengan rela hati ikut dolan, maka ia harus jadi prioritas. Jadilah Bona booking satu tempat di depan. Chiko dengan seringai liciknya mengajukan diri menemani Bona. Yak, empat orang di bagian depan.

Masih ada 13 orang lagi yang belum masuk ke mobil merah ini.

Gadis-gadis yang berbodi agak gede lantas masuk ke deret tengah. Aya, Dipta, dan Cindy masuk. Sofa hidup ini lantas dilapis gadis-gadis yang agak kecilan. Jadilah Sinta, Rani, dan Chica masuk. Sip, enam orang ini bisa membentuk pepes gadis jika dikukus beberapa jam.

Nah, tinggal tujuh manusia lain. Ini Kijang edisi lawas, jadi tampaknya mampu memuat agak banyak di bagian belakang. Kursinya model berhadap-hadapan samping. Fano dan Yama mantap di pojokan masing-masing kursi. Aku dan Randu menyusul di sebelah Fano dan Yama. Jadi sudah berapa ini? Sampai nggak bisa menghitung lagi.

Tujuh kurang empat. Yak, zona kecil di antara dua kursi itu harus bisa memuat tiga manusia lagi. Toni dan Bayu masuk dan mencari posisi, tampaknya dapat. Sebagai finalisasi, Fian masuk ke celah yang tersisa dengan pose kepala duluan, kaki belakangan. Ini pose paling antik dalam upaya pemecahan rekor dunia ini.

Pas ngepas abis. Mobil berisi tujuh belas manusia ini lantas berjalan. Seluruh penghuni mobil 17 in 1 ini pasrah pada Ani, hendak dibawa kemana hubungan kita. *armada mode on*

Tanpa disangka, Ani membawa kami ke Soto Gading. Memangnya apa Soto Gading? Aku sih nggak tahu, tapi melihat ramainya mobil yang parkir plus ramainya pengunjung, mestinya soto ini terkenal. Mungkin bahan bakunya pakai gading gajah duduk.

Mobil kijang merah itu kemudian parkir manis di sebuah celah yang ada. Dan sesi pembuatan pepes sementara berakhir. Kami bergegas keluar lewat urutan yang sudah dibentuk dari awal tadi. Tukang parkir tampak menganga melihat jumlah orang yang turun dari mobil yang tampak tua itu.

Soto Gading tentu beda dengan Soto Simbok. Ya iyalah, dari daftar harganya sudah bikin garuk-garuk. Tapi tampaknya Ani ini memang baik hati. Sebanyak 17 mangkok soto plus minumnya menjadi tanggungan Ani. Teman macam apa ini? Sudah menyewakan mobil plus mencarikan supir, masih membayari makan pula. Mantap kali!

“Kemana?” tanya Ani ketika sesi makan pagi hampir disudahi.

“Kraton wae,” ujar Chiko.

“Sekalian Klewer kalau gitu.”

Sepakat! Tentu sepakat karena mayoritas nggak tahu Solo. Dengan hawa panas habis makan soto yang pedas, tim pepes manusia kembali membentuk formasi 17 in 1. Kali ini sudah mulai terbiasa.

Mobil melaju perlahan ke arah pasar Klewer sampai menemukan sebuah celah untuk parkir di sela-sela keramaian. Yak, ini mungkin tempat perhentian yang salah. Ramai cuy!

Mulailah pintu dibuka, Fian keluar, Bayu dan Toni menyusul, lantas aku dan Randu. Aku iseng mengamati kenaikan perlahan bodi mobil terhadap ban pada setiap kali manusia turun. Ternyata ini mobil tadinya ceper. Ya iyalah, memuat 17 orang itu sudah hampir mendekati 1 ton kayaknya. Orang-orang yang lewat juga tidak kalah menganganya dibandingkan tukang parkir Soto Gading. Tapi, namanya Dolaners, ya cuek sajalah. Anggap aja lagi di Ngobaran.

Pasca parkir di Pasar Klewer, rombongan manusia muda belia harapan bangsa ini berjalan ke Kraton Solo. Sejujurnya nih, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah kraton. Ya, meski sudah empat tahun di Jogja, aku sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di Kraton Jogja itu sendiri.

Rombongan Dolaners segera memasuki bagian dalam Kraton yang mensyaratkan satu hal: buka alas kaki. Bukan masalah buat yang lain, tapi isu besar buat Aya yang kakinya baru aja luka. Ehm, alasannya sih jatuh dari sepeda motor. Yah, fakta yang tidak bisa dibantah adalah hampir selalu si Aya ini jatuh tiap kali mencoba mengendarai sepeda motor. Sungguh kasihan, sepeda motornya.

Namanya juga Kraton, jadi suasananya cenderung agak mistis. Tapi hawa dolan tetap lebih besar melingkupi makhluk-makhluk dengan agenda tidak jelas ini. Jadilah aktivitas hanya gundah dan sok angguk-angguk waktu berkeliling Kraton serta tidak lupa foto-foto. Harap maklum, karena Dolaners adalah Magito alias manusia gila magito! Eh, manusia gila foto!

Urusan di Kraton dan Klewer menjadi tidak lama karena sudah menjelang Sholat Jumat. Berhubung saudaranya Ani yang menjadi driver bagi karung-karung beras yang bisa ngomong ini harus menunaikan kewajiban, akhirnya kunjungan di tempat bersejarah disudahi. Kijang Super 17 in 1 segera melaju menuju mall paling gress di Solo, namanya Solo Grand Mall.

Sungguh bersyukur si Kijang ini masih bisa berjalan menganggung beratnya beban hidup dan beban dosa. Bagian terakhir tentu saja penting karena sebagian dari berat yang ditanggungnya adalah berat dosa manusia-manusia yang bertopang di atas empat rodanya. Kijang ini berjalan pelan hingga akhirnya sampai di SGM.

Dan, percayalah, bahwa mall baru bukanlah tempat berkunjung yang layak karena pada dasarnya kita hanya akan mengunjungi tempat-tempat kosong atau yang bertuliskan ‘under construction’.

“Ngopo iki?” tanya Chiko.

“Golek ombe wae,” usul Bona sambil berjalan tertatih. Yeah, atlet ternama ini berjalan tertatih gegara urusan dengkul. Atlet ternama pun punya kelemahan, hanya saja kok ya atlet lemah di dengkul.

Cari punya cari, akhirnya dolaners nongkrong di food court yang baru menyediakan sedikit menu. Berhubung masih cukup kenyang dengan soto, akhirnya hanya es krim yang mampir ke pencernaan kami masing-masing. Yah, namanya juga aktivitas menunggu. Dan tentu saja es krim harga mall sudah cukup menguras kantong anak muda macam kami.

Next Stop: rumah Ani. Ehm, sesudah ditraktir soto mahal, ditraktir mobil sewaan, dan diarahkan ke jalan yang benar, mampir tentu menjadi kewajiban. Ya, walaupun sebenarnya mampir itu akan bermakna menghabiskan banyak makanan di rumahnya Ani sih. Tapi, ya namanya diajak mampir, masak ditolak? Lagipula rute sudah habis—berikut uang di dompet—dan kereta terakhir masih beberapa jam lagi.

Bagian terbaik dari perjalanan menuju rumah Ani adalah ketika si Kijang dengan sukses membawa 17 manusia berdosa ini melewati sebuah tanjakan dengan sudut yang lumayan. Kadang-kadang aku berpikir bahwa mobil tua selalu punya kelebihan. Makin tua, makin joss!

Sesampainya di rumah Ani, benarlah prediksi Ki Joko Widodo yang aku sebut di atas tadi. Makanan disajikan silih berganti, bahkan Ani pergi dulu ke luar rumah beli makanan. Plus, manusia-manusia dolaners ini terkapar manis mulai dari ruang tamu sampai teras depan. Rumah Ani yang megah mendadak menjadi tempat pengungsian pemuda harapan Indonesia raya. Topik obrolan? Tentu saja nggak jauh-jauh dari tampang Yama, dengkul Bona, sampai pacar baru Chiko. Standar kok, hanya diulang-ulang dengan tambahan bumbu yang berbeda.

Sore menjelang dan kami harus bergegas ke stasiun agar tidak ditinggal oleh kekasih, eh oleh Pramex. Kami berpamitan dengan orang rumah Ani yang jelas-jelas akan repot cuci piring sesudah kami pergi. Sebelumnya, sebuah dokumen mahal dibentuk. Ya, 16 orang berfoto di depan Kijang bersejarah tadi. Satu lagi aku, yang mengambil foto dengan kamera poket berisi film 36. Sebuah dokumentasi yang moncer pada jamannya.

Sudah sore, sudah capek, sudah apek, sudah ngantuk. Maka perjalanan kembali ke stasiun dan bahkan hingga sampai ke dalam kereta menjadi sunyi senyap tapi tidak sendu. Yang ada hanya muka menjelang tidur dan sudah tidur beneran.

Kijang dan 17 n 1 ini adalah salah satu kisah monumental Dolaners, tentunya mengingat momen dan peristiwa unik yang terjadi. Sebuah perjalanan yang nyatanya tidak pernah terulang lagi. Setiap peristiwa menghadirkan cerita, dan setiap cerita memiliki makna. Biarkan makna dari setiap momen perjalanan menjadi warna persahabatan. Terima kasih Ani atas jamuannya dan Chiko harus sujud menyembah pada kami semua karena sudah dengan rela hati menemaninya naik kereta api, pertama kali seumur hidup. Yeah!

2012: Yang Sudah Berlalu

Mengawali tahun 2012 dengan sebuah perjalanan jauh (Bukittinggi-Jogja, start jam 3 pagi), saya mengakhiri tahun yang sama juga dengan sebuah perjalanan (Cikarang-Jogja-Jakarta-and then-Bandung). Dua perjalanan itu mengapit rangkaian peristiwa yang saya lewati di 2012.

Banyak hal–tentu saja–yang terjadi di tahun yang katanya bakal kiamat itu. Ada pencapaian bagus, ada pula kegagalan yang berharga mahal. Yah, namanya juga hidup. Bukan begitu?

Di tahun 2012 ini saya putus dua kali. Penting? Nggak juga kali ya. 🙂

Di tahun 2012 ini saya semakin akrab dengan bis, alih-alih pesawat. Frekuensi saya naik pesawat jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya, tapi berbanding terbalik dengan frekuensi saya naik bis. Tanda ngirit? Maybe.

Di tahun 2012 ini juga saya akhirnya bisa ‘menyumbang’ tulisan di dua buah buku antologi cerpen. Setidaknya saya sudah pernah melihat buku yang di dalamnya ada tulisan saya, di toko buku.

Di tahun 2012 ini pula saya merasakan pelajaran besar bermakna tentang KEKECEWAAN terhadap sebuah KESUKSESAN. Sebuah refleksi atas pencapaian yang disikapi dengan sombong oleh seseorang. Dan, yah, sejak itu saya hidup tanpa passion, sama sekali.

Di tahun 2012 ini saya kembali ke panggung yang menakutkan, dan ‘cukup’ berhasil menaklukkannya. Ada di bagian lain blog ini tentang panggung itu. Sebuah trauma hampir 3 tahun bisa saya hilangkan. Saya juga berhasil meraih juara 1 (yang mana entah kapan saya terakhir kali menjadi juara 1) bersama tim happy puppet. Saya juga dengan senang hati ikut–lagi–lomba choir dan syukurlah berhasil.

Saya tidak banyak ketemu dengan orang-orang baru di tahun 2012 ini, selain anak kos baru. Hehe.. Saya lebih banyak duduk/tidur manis di kos dan menerawang di TL. What the fuck!

Saya juga merasakan makna GAGAL KETIKA KITA SUDAH BERUSAHA (dan keluar modal banyak). Fiuhh.. Syukurlah saya nggak menangis untuk itu. Tapi saya mulai merasakan indahnya mewujudkan mimpi (dan diberi wujud yang dilebihkan) via menjadi dirigen di lingkungan. Wong mimpi saya itu cuma ikutan koor lagi kok, malah dikasih lebihan. Hehe..

Hmmm, ya sudah.. Sudah lewat ini. Saya harus berubah, ada banyak ide di kepala, semoga bisa dituntaskan dengan aksi NYATA. Amin!

Selamat tahun baru.. 🙂

Kondangan

2012 ini tahun yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya sudah ‘cukup’ umur, ditandai dengan terselenggaranya pernikahan 3 orang teman yang duluuuuu pas kuliah sekumpulan di UKF Dolanz-Dolanz.

Agak unik juga pernikahan 3 teman saya ini. Lebih unik lagi kalau dipadu padankan dengan perjalanan saya mencapai tiga tempat itu.

Boriz menikah 1 Januari 2012, Budi (alias Yoyo) menikah 30 Juni 2012, dan terakhir Sisil menikah 29 Desember 2012. Kalau dibuat pola, udah awal-tengah-akhir itu kan?
Soal tempat resepsi juga representatif. Boriz di UNY (Sleman–sepertinya), Budi di sebuah balai desa di Gunungkidul, dan Sisil di Madukismo (Bantul).
Lalu soal perjalanan saya mencapai ketiga kondangan ini, ehm, ada sedikit PENURUNAN. Hahaha.. Kalau Boriz dulu saya berangkat dari Padang, lalu dua kali naik Garuda, lalu naik Trans Jogja, lalu naik ojek, lalu nebeng Robert. Yah, poinnya di PESAWAT ya. Pas Yoyo, saya berangkat dari Cikarang naik bis ke Senen, lalu lanjut Senja Utama ke Jogja, lalu naik sepeda motor ke Ceria, lalu nebeng Boriz ke Gunungkidulnya. Poinnya sih KERETA API. Nah, yang kemarin, saya naik sepeda motor ke tol Cikarang Barat, lalu naik Lorena ke Jombor, terus naik BANG REVO ke lokasi. Poinnya sih naik BUS. Ehehehe, dari pesawat, KA, lalu bis. Penurunan perlahan sepertinya.

Yang eksis hadir, setahu saya nggak banyak. Setidaknya hanya Rian (Bunting), Chandy, dan Cawaz. Boriz mungkin bisa dihitung eksis, tapi kan kondangan pertama dia hadir sebagai yang dikondangi. Wkwkwk..

Begitu saja, sedikit posting nggak penting menutup tahun 2012 ini. Yuk lanjut! 😀

[Blog Review] CoretaN si boCah r@ntau

Blog yang paling sering saya komen dan paling sering ngomen blog saya. Maklum, sama-sama jomblo #lohkokngono

Si bocah rantau yang sebenarnya sudah nggak tergolong bocah ini adalah salah satu yang menginspirasi saya nge-blog, terutama di kebangkitan blog saya. Thanks a lot for him.

Dia tampaknya nggak mau bikin cerpen dan lebih memilih untuk posting reflektif, utamanya tentang leadership. Sebagai orang yang membawahi banyak orang tentu saja ilmu-ilmu leadership-nya bisa dipercaya. Apalagi nih, suka main akronim-akronim. Nggak percaya? Monggo dicek.

Dan terutama yang menarik adalah karena bocah tua nakal ini hobi tanya-tanya orang dan menuliskan hasil wawancara kehidupannya ke dalam kisah di blognya. Jarang orang yang iseng nanya, dan biasanya memang iseng nanya itu selalu punya cerita.

Soal produktivitas, tentu kita nggak bisa berharap lebih pada seseorang dengan tanggung jawab besar macam beliau ini. Jadi, apa yang dituliskannya sekarang sejatinya sudah lebih dari cukup.

Dan, ehm, bagian paling menarik tentu kalau postingnya sudah membahas soal.. ehm.. JOMBLO dan JODOH. Hehehe.. Saya nggak mau bahas panjang kalau yang begini, tapi coba deh lihat dan baca. Plus, di blog ini kita bisa melihat perjuangan sepasang guru untuk melahirkan dua orang anak dan kemudian profil cerita masa kini-nya.

So, silahkan dikunjungi 🙂

[Blog Review] My Koffie Time

Bahwa dunia maya ini gila, bermula dari asal naruh link blog di Leutika, eh, saya ketemu dengan rekan se-almamater yang punya blog My Koffie Time ini. Syukurlah karena dia mengapresiasi konten blog saya, ‘jatuh cinta’ katanya. Apalagi waktu dia baca, ada serentetan cerpen galau yang lagi saya posting. Hahaha..

Lalu saya tengok balik ke blognya, dan–ehm–menarik juga.

Kenapa?

Postingnya jarang yang berjudul panjang sekarang-sekarang ini, bahkan belakangan hanya 1 kata. Misal: monyet, lalu ada juga judul lain: Cabe. Bikin senyum saja itu judul. Ada cerita-cerita yang bikin senyum, misal di posting ‘monyet’, plus ada posting-posting yang bikin hati haru apalagi di posting tentang kematian. Ehm, setidaknya soal kematian ini saya baca 3 kali dengan perspektif yang sama. Buat saya, keren.

Produktivitas Miss B1P buat saya sih relatif lumayan dengan 8 dari 12 bulan di 2012 ada postingan.

Dan disini juga banyak diceritakan asyiknya menjadi guru dan–terutama–pilihan menjadi guru Bahasa Indonesia (lulusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah), bukanlah pilihan buruk. Apalagi kalau diceritakan soal tempat kerjanya yang pindah-pindah dari sekolah elit ke sekolah elit lainnya. Hehehe..

Tentu tidak ada yang meragukan kalau seorang guru Bahasa Indonesia menulis. Demikian kan? Jadi, silahkan kunjungi 🙂

[Blog Review] Tintusfar’s Weblog

Dari baca judulnya saja sudah nggak niat, apalagi lihat isinya. Ehm, maksud saya, bahkan Tintus (si empunya blog ini) nggak mengganti tag line ‘Just Another WordPress weblog’. Plus, jangan harap bisa menemukan ‘archive’ blog ini selain dengan menekan ‘older post’. Ya, kalau dari manajemen blog, buat saya Tintus kurang niat. Hahaha.. *piss ah*

Tapi jangan ragukan soal konten.

Ini adalah satu dari sedikit blog unik yang ditulis dengan sederhana, jauh lebih sederhana daripada blog saya yang nyata-nyata pakai judul ‘sederhana’, tapi punya sisi-sisi penceritaan yang di luar kebiasaan. Membaca blognya Tintus pasti akan bikin tersenyum kecil dari caranya bercerita.

Ya, sederhana. Kenapa? Karena runut sekali, habis A, lalu B, lalu C, lalu D, dan selesai. Sudah. Tapi di dalam A, B, C itu ada twist yang mampu bikin blog ini jadi unik.

Contoh:

Sesaat setelah melewati genangan air tersebut, rintik demi rintik airpun turun. Bunyinya bukan hanya di atas genting, melainkan juga di atas helmku, di atas kap mobil, di atas atap halte bis, dan di atas lainnya. Lama kelamaan airnya turun tidak terkira. Kutengok kiri dan kanan, pohon, ranting, rumah, basah semua. Termasuk diriku. Dan air hujan tidak kenal tempat. Di tengah jalan raya yang banyak dilalui orang ini, ia terus merambat sampai ke dalam celanaku. Bahkan lebih jauh lagi, sampai ke dalam celana dalamku. Dingin, dingin, gimanaaa gitu..

Ingat lagu ‘tik..tik..tik.. bunyi hujan di atas genting.. airnya turun tidak terkira..dst…’? Dibawakan dengan manis dan mengundang senyum hanya dengan menceritakan lagi kehujanan.

Atau cara lain penyampaian yang begini:

Di foto yang terpajang di papan pengumuman tersebut, wajahnya mulus tanpa jerawat. Aslinya, dalam kamus bahasa halus untuk kaum hawa, wajahnya bagai rembulan. Mungkin selama mengenalnya, dia sedang puber.

Penggunaan majas yang asyik sekali tampak di kalimat barusan.

Yah, kisah-kisah sederhana, ditulis dengan sederhana, tapi penuh dengan twist yang oke punya. Yah, cuma kurang niat melengkapi widget-nya aja ni orang. Oya, Tintus ini hanya berselisih NIM 1 dengan saya waktu kuliah, jadi hampir pasti saya dan dia 1 kelompok, apapun itu kuliahnya. 😀

Silahkan dikunjungi 🙂

[Blog Review] darfiansyah’s notes

Oke, lanjut.. Kalian luar biasa… *salah fokus*

Review blog berikutnya adalah milik teman sekantor saya, Irfan, dalam darfiansyah’s notes.

Dalam catatannya, Irfan banyak berkisah soal sehari-hari juga, tapi arahnya (menurut saya) lebih dari perspektif keagamaan. Tentu saja, karena saya lihat di kantor dia orang yang agamanya oke. Hehe.. Lihat saja di posting-postingnya, setiap hal sederhana bisa dikaitkan dengan kacamata yang lain karena dilingkupi konteks Tuhan.

Hal simpel misalnya tertulis di beberapa posting tentang tafsir kitab suci. Mengambil konsep audit, temuan berulang di beberapa bagian adalah observasi besar. Irfan juga menemukan temuan sejenis, misal soal tafsir, dan menuliskannya di beberapa bagian. Artinya, dia punya pengertian tentang itu. Boleh juga.

Blog ini juga banyak bercerita tentang masa-masa menempuh pelajaran hidup sejak dahulu kala dan dituliskan dalam konteks bersyukur. Yah, kalau bacanya, kadang adem sendiri, walaupun saya dari kepercayaan yang berbeda. Hehe..

Silahkan dikunjungi 🙂

 

[Blog Review] (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda

Ini blog asli adek saya. Ya walaupun hanya 1 dari sejuta manusia di dunia yang mengakui kalau ada kemiripan antara saya dengan dia. Terang sajalah! Saya gelap buruk rupa begini, dia putih dan (cukup) mempesona. Itu dia, makanya (m)buat anak jangan coba-coba #halah

Sesuai namanya, (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda, Cici lebih banyak menuliskan pendapatnya tentang segala sesuatu atau tentang pengalaman sehari-harinya. Dari judulnya sudah main aman. Dia pakai kata mencoba, alih-alih menahbiskan diri kalau dia sedang melihat dari sisi yang berbeda (tentang sesuatu yang dikomentari).

Dan coba bandingkan tulisan saya di blog ini dengan tulisan Cici, bagi yang mengerti dunia tulis-menulis pasti menemukan beberapa kemiripan gaya. Ya, hal itu dimungkinkan karena orang tuanya sama. Yang ngajari nulis sama, yang ngajari berpikir juga sama. Perbedaan hanya pada bentuk-rupa-wujud saja kok. Haha..

Cici sama nggak produktifnya dengan Tere. Saya yakin itu semata-mata perkara dia nggak punya uang beli pulsa modem, karena beberapa kali minta saya #diceplosin

Dan kalau saya cenderung melihat hal-hal gede (sok mau jadi orang besar), adek saya ini mengomentari bahkan hingga kuliah kosong. Jadi, silahkan dikunjungi untuk melihat sisi yang berbeda 🙂

[Blog Review] Bailar Bajo la Iluvia

Hendak bergalau ria dengan cerita-cerita yang dituturkan dengan manis? Satu tempat rekomendasi adalah bailar bajo la iluvia. Ini blognya Tere, yang saya kenal karena dia adalah temen kosnya adek saya. Dan kebetulan adalah sesama anak guru Bahasa Indonesia plus ternyata sesama GALAU. Haha..

Blog-nya Tere ini ada sejak 2010 dan sampai sekarang entah sudah berapa kali ganti desain. Produktivitas mungkin masih sedikit, tapi soal kualitas jangan ditanya.

Mungkin, ini mungkin doang lho ya, dia lebih memilih untuk kuliah daripada ngeblog. Eh, salah.

Mungkin dia memilih untuk menuliskan sebuah cerita yang sudah benar-benar final dan nyata bagus baru diposting. Ini prediksi saya. Karena coba deh lihat postingannya rerata panjang dan terstruktur sehingga tentu perlu permenungan mendalam (ceileee..) sebelum menekan tombol ‘post’.

Ada juga rangkaian posting foto, yang saya tahu mirip dengan yang diposting teman kos adek saya yang lain. Bahkan foto-fotonya juga sama. Ini siapa terinspirasi siapa ya.. Hehe..

Yang kurang dari blognya Tere ini cuma 1 kok, kurang produktif. Karena beberapa pengunjung setia blog saya pernah bilang terus terang kalau menyukai cerita-cerita yang dimuat di blognya Tere.

Keep posting! 🙂

Silahkan dikunjungi.. 😀

Bapak Millennial