Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

Reach Your Dream…

Barusan membaca blog teman lama saya berinisial 122. Jiahh.. ya disebut demikian karena selama 7 semester kami bersama. Hal itu tentu saja karena NIM 122 dan 123 selalu dalam urutan nomor yang jelas dan lugas.

Kemarin tanggal 1 juga sempat ketemu di Jogja, dan baru tahu kalau dia sudah menyatakan resign dari kantornya, tepat 2 tahun.

Dari status2nya dan kekasihnya, saya cukup tahu bahwa mereka berkeinginan untuk segera wirausaha. Lagipula si 122 ini berasal dari keluarga yang berwirausaha, cocok sekali.

Dan sungguh sebuah keberanian besar bagi seseorang untuk melepaskan status pegawai sebuah perusahaan yang cukup ternama, yang notabene melepaskan pula segenap gaji, tunjangan, asuransi, dan fasilitas lain yang melindungi.

Saya hanya perlu memberikan jempol untuknya!

Sekilas membahas ini. Dalam salah satu perjalanan hidup saya berurusan dengan bank, saya merasakan betul bahwa seorang karyawan memiliki banyak kemudahan dalam berproses. Wawancara kredit misalnya, waktu untuk wawancara 1 wirausahawan bisa setara 5 karyawan. Kenapa? Bank hanya perlu memastikan bahwa karyawan ini gajinya sesuai dan statusnya tetap untuk memastikan keberlanjutan kredit, sementara wirausahawan? Senguping saya, sampai ditanya prospek segala.

Tapi bagaimanapun, setiap orang punya mimpi masing-masing. Namun tidak semua orang berani meninggalkan kenyamanan yang dia sudah punya, untuk menggapai mimpi-mimpi itu.

Saya pun demikian.

Kenapa? Karena setidaknya yang saya lakukan sekarang masih bersinggungan dengan mimpi-mimpi saya. Itu pasti. Dan yang terutama adalah karena saya berjuang banyak untuk bisa sampai pada posisi seperti yang saya punya sekarang.

Artinya? Saya tidak akan merealisasikan mimpi saya?

Tentu tidak! Ada suatu waktu ketika mimpi itu akan jadi nyata. Tidak sekarang, memang. Karena mimpi itu perlu dirintis perlahan, meski itu dengan noda-noda kegagalan, penolakan, ketidakpedulian, dan banyak lagi. Sampai detik ini pun saya masih belajar mengolah kegagalan dan penolakan sebagai bagian dari upaya saya menggapai mimpi itu.

Salut untukmu bro! Kalau sudah sukses, kabar-kabari ya.. hehehe…

Dari Yakin Ku Teguh

Hah, anggaplah judul tadi mengejewantahkan makna selanjutnya. Ya, saya maksudnya mau nulis tentang Syukur. Bukan tentang Syukur teman bapak saya dulu, tapi ya tentang bersyukur. Kenapa judulnya ini? Tahu kan lagu Syukur? Itu kan dimulai dari kata-kata “Dari Yakin Ku Teguh.. dst..”

Sebuah mention masuk di twitter saya kemarin, dari seorang penulis galau juga, masuk blog teman di sisi kanan blog ini, pilih saja. Saya pikir dia hendak membagi kegalauan lagi, ternyata tidak. Dia menulis soal berbagi.

Salah satu cerita, uang sekolah seorang anak adalah 55 ribu, orang tuanya cuma mampu 25 ribu, teman saya tadi nombok 30 ribu. Sederhana sekali.

Hey! Apa makna 30 ribu sekarang?

Lihat konteks.

Saya pernah menginap dengan ironis di sebuah apartemen mewah, mau tahu harga makanan paling murah disana? 40 ribu. Untuk sepiring nasi goreng!

Saya pernah minum kopi, ya segelas kopi (saja), di sebuah warung kopi ternama, dan harga paling murahnya? 30! Dengan note di bawahnya, dalam satuan 000. Well, itu berarti 30 ribu.

Saya pernah survei untuk skripsi. Mau tahu berapa pendapatan SEBULAN sebuah keluarga? Ada yang 200 ribu, ada yang 400 ribu, ada yang 500 ribu. Itu sekeluarga lho.

Dan saya beruntung dibesarkan di keluarga yang tidak kaya raya sehingga saya paham benar makna uang semacam itu. Di kala jajan anak lain 5000, saya 2000 saja, itu sudah termasuk ongkos. Demi ngirit, pulang jalan kaki. Hehehe… Tapi itu disyukuri, karena ada yang lebih menderita dari saya.

Inilah, saya seringkali lupa. Di sela-sela kehebohan isi kepala dan rasa syok melihat isi rekening yang terus menyusut. Datang posting blog yang menyentuh macam itu. Bayangkan, gaji saya itu berapa kali lipat keperluannya anak-anak itu? Dan saya masih mengeluh? ASTAGA!

Saya sering menulis kalimat terakhir tadi, tapi seringkali lupa. Itu makanya saya perlu tulis kembali dan terus menerus. Biar ingat!

Ini hari sudah mau gajian. Saya sudah komitmen untuk menghadiri pernikahan teman di luar kota (itu ongkos), membayar tanggungan (itu ongkos juga), tapi toh gaji saya sebenarnya bahkan jauh lebih banyak daripada mamak saya. Masak sih nggak bisa? Kata retweet seorang teman barusan, “Jika kamu memberi banyak, kamu akan menerima banyak”.

Jadi, yang harus saya lakukan sekarang adalah memberi banyak dan tentunya mencari lebih banyak, supaya saya bisa menerima banyak dan HARUS memberi lebih banyak lagi.

Baiklah, mari kita lanjutkan..

….hati iklasku penuh, akan karuniamu.. dst…

Memaknai Kesempatan

Memang ya nasib universitas swasta tu lowongan pekerjaannya + kesempatannya sangat sedikit yang ditawarkan dibanding universitas negeri 😦

Demikian sebuah statement.

Coba aja ke gedung X (sebuah universitas negeri ternama), wuih lowongannya super banyak buanget dan misal kayak U (sebuah perusahaan ternama) dll yang gede2 pasang juga..

Demikian statement berikutnya.

Kesimpulan saya sementara:

kesempatan kerja berbanding lurus dengan lowongan kerja yang ditempelkan di kampus.

Apa iya?

Hmmmm.. berdasarkan pengalaman saya sih, nggak setuju dengan statement di atas.

Dulu saya memang sempat jadi pengangguran (ngaku deh.. hehe..) karena lulus 28 Feb dan kerja 5 May. Tapi sebenarnya, tempat yang saya masuki 5 May itu sudah mulai proses saya sejak 3 May tahun sebelumnya.. hahahaha..

Which is means, saya sebenarnya nganggur juga bukan nganggur nggak jelas.

Dan di sela-sela menganggur itu, saya sempat bertualang ke beberapa tempat. Macam-macam latar belakangnya. Ada yang apply langsung, ada yang lewat teman, tapi yang pasti hampir nggak pernah menggunakan pengumuman rekrutmen yang ditempel di kampus 🙂

Dengan begitu saja, saya sudah berhasil masuk ke gedung perusahaan nomor farmasi nomor 1, perusahaan farmasi nomor 2, perusahaan farmasi nomor 3, dan perusahaan farmasi nomor 4 di Indonesia. Semuanya tanpa sama sekali menggunakan lowongan pekerjaan yang ditempel di kampus. Sampai saat ini saya bekerja di salah satu dari perusahaan2 tersebut.. hehehehe….

Yah, sederhana kok. Hari gini juga ada situs-situs pencari kerja. Saya juga 2-3 kali proses lewat portal itu, termasuk salah satunya untuk salah satu perusahaan di atas.

Jangan lupa juga soal networking. Meskipun saya kadang nggak kepenak karena minta-minta CV tapi ada beberapa yang belum follow up. Tapi ada beberapa yang berhasil masuk via saya (meski belakangan berharap jangan sampai anaknya menyesal.. hahahaha..)

Jadi sebenarnya tidak ada dikotomi swasta-negeri di banyak perusahaan. Memang tidak bisa dipungkiri, masih ada yang demikian, tapi nggak banyak dan nggak bisa digeneralisasi.

Haree geneee, ternyata yang lebih penting adalah kualitas personal dan tentu saja attitude. Begitu kata salah satu petinggi di salah satu dari 4 perusahaan diatas dalam sebuah pembicaraan.

So?

Jawabannya dalam hidup kita masing-masing.

Semangat!!!

Kancah Perapotekeran Industri Farmasi Dan Warung Tahu Tek

KancahPerapotekeran

Dua hari nggak buka laptop bagi pemain perangkaum macam saya itu mirip dengan bunuh diri. Desa-desa saya di perangkaum sudah diserang sama yang namanya coolwar, akuang, dan banyak lagi. Bayangkan berapa duit yang terbuang untuk membangun desa-desa itu, sudah setahun lebih main perangkaum, kalikan saja jumlah byte setiap kali proses. *lho kok malah curhat..

Tapi nasib desa saya yang semakin tak menentu mengalihkan saya ke topik lain yang agaknya cukup menarik bin menawan.

Jadi ceritanya kemarin teman saya dari PT. Dexa Medica Site Palembang datang. Sebagai teman yang baik saya pun membawanya makan ke tempat yang kiranya jadi trademark di bumi Cikarang. Jadilah kami makan di bakmi jawa GUNUNGKIDUL.. Lho? Mana ke-Cikarang-annya? Nggak urus, menurut saya enak.

Selesai makan, kami pun hendak kembali ke hotel tempat teman saya tadi menginap. Tapi di sisi kiri, tampak godaan tahu tek. Well, posisi saya sudah maju beberapa ratus meter sebelum kemudian memutuskan kembali untuk membeli tahu tek.

Dan disinilah aspek yang saya jadikan judul bermula.

Sejenak parkir, teman saya tadi malah bertemu dengan adik kelasnya yang juga bekerja di site yang sama, tapi di Site RnD Cikarang, kebetulan dia sedang bersama temannya yang lain yang bekerja di tempat yang sama tapi beda bagian. Sejenak ini sudah unik. Seharusnya kami pulang, tapi keputusan membeli tahu tek membawa ke tempat yang malah mempertemukan kenalan lama.

Obrol punya obrol, dari kejauhan muncullah sepasang suami-istri muda alias pengantin baru. Dia adalah kenalannya teman yang di RnD tadi karena satu angkatan pas kuliah di Jogja. Dan kebetulan lagi, ia bersama istrinya yang adalah kakak kelas saya dua tahun. Yang lelaki kerja di AstraZeneca Cikarang dan yang wanita di Sanbe Farma Bandung.

Entah apa persepsi anda, tapi menurut saya ini sudah unik minta ampun. Disini adalah setidaknya dua institusi pendidikan di Jogja, UGM dan USD. Disini ada institusi Dexa Medica, DLBS, Sanbe Farma, dan AstraZeneca. Disini bahkan ada apoteker dari Palembang dan dari Bandung. Pada saat bersamaan bertemu, di tahu tek jalan Puspa Cikarang.

Saya lalu teringat cerita teman minggu lalu kala ikut pameran Ipex di Kemayoran. Keliling punya keliling, ketemu-ketemunya ya teman sendiri. Untuk itulah saya bertanya, kenapa semuanya seolah bisa bertemu sedemikian mudahnya? Atau, industri farmasi memang terlalu sentral sehingga person-person macam saya bisa bertemu sedemikian mudahnya dengan rekan yang lain, bahkan di warung tahu tek?

Tanya kenapa 😀

Kuku Jempol Tangan Kiri

Apa pentingnya judul ini?

Hahahahaha…

Jangan dulu mengabaikannya karena saya barusan menemukan refleksi yang cukup dalam gara-gara kuku jempol tangan kiri.

Alkisah, lepas dari paksaan kuku pendek di SMP, saya masuk ke SMA yang dari segi kuku boleh kayak gimana aja. Lagipula, mana ada cowok yang membuat kukunya sepanjang nenek-nenek pemegang rekor dunia kuku terpanjang? Simple saja, kuku terserah. Maka saya pun memanjangkan sebuah kuku saja, kuku jempol tangan kiri. Ini sejak tahun 2001.

Kenapa?

Mungkin ada yang berpikir untuk sanitasi alias ngupil. Well, saya kok lebih senang yang masuk hidung jari yang lain yak. Jempol kegedean. Mungkin ada yang berpikir untuk melepas sticker, ya kadang-kadang demikian. Tapi sejatinya saya nggak pernah punya alasan spesifik untuk memanjangkannya.

Dan tahu apa yang saya korbankan?

Waktu SMA saya lumayan sering jadi kiper, tentunya karena saya sudah dipecat dari posisi yang lain, dan pernah dipercaya dalam pertandingan melawan kelas II-6 dengan rekor kebobolan 4 kali oleh pria yang sama *astaga.. Saya sebenarnya bisa mematangkan posisi itu, tapi apa? Saya lebih memilih menjaga kuku saya yang di kiri ini dari terjangan bola besar. Karena pernah kesenggol, sakit.

Dan saya mengorbankan posisi idaman di sepakbola hanya demi sebuah kuku?

Dan begitulah, kuku jempol tangan kiri ini selalu lebih dari 3 mm panjangnya, beda dengan 9 kuku lainnya di tangan pun 10 yang lain di kaki. Dan sesuatu tanpa alasan itu bertahan hingga 10 tahun.

Mungkin sudah takdirnya bahwa saya mendadak harus bersentuhan dengan sesuai yang related potensi bahaya, dan kuku panjang adalah potensi bahaya. Tidak ada lagi kuku panjang. Itu harus. Pilihannya saya cari kerjaan lain yang membolehkan kuku panjang atau potong. Hingga kemudian saya berjanji bahwa ketika gong sudah ditabuh, si kuku jempol ini harus sama dengan lainnya.

Well, tadi siang saatnya. Ketika kuku yang lain sudah rapi jali, tinggal si kuku yang satu itu.

Sempat 3-4 kali alat pemotong itu hanya numpang lewat sebelum akhirnya saya benar-benar memotongnya. Fuihhh.. keramat 10 tahun selesai. Dan ada 2 refleksi hari ini.

Pertama, kenapa saya harus nggondeli si kuku ini tetap panjang? Memangnya siapa saya? Berkali-kali ia memberikan rasa nyeri ketika tak sengaja kejepit, meski ia pernah membantu jadi pembolong plastik di toko buku.. hehehe.. Toh kalau Tuhan mau, dia bisa saja bikin ini kuku kejepit dari dulu sehingga harus dipotong. Kalau itu ceritanya, memangnya saya bisa apa? Jadi saya pun memilih untuk memotong saja, selagi keputusan itu masih di saya. Sama aja dengan hidup kita kan?

Kedua, percaya atau tidak, saya sudah nggak bisa memotongnya sependek kuku yang lain. Sedikit daging jempol menyatu dengan bagian kuku, kira-kira 1 mm dan kalau disentuh sakit. Artinya? Kalau saya perlama lagi, mungkin bisa jadi 2-3 mm. Waw, berapa sakit itu? Semakin lama 2 hal bertemu, semakin lengketnya mereka, kalau kita selalu bertemu si buruk, makin buruklah kita. Sesederhana itu, harus ada langkah revolusioner, POTONG!

Fuihhh.. dan sekarang ia ikut menari di tuts ini, dengan tampilan barunya dan tugas lamanya sebagai tukang pencet spasi.. hehehe…

Kemasan: Sejenak Refleksi

Kemarin bantu-bantu di Balai Kesehatan di sebuah kompleks perumahan di daerah Cikarang. Sebagai apoteker galau yang (kalau kata orang Palembang) katek gawe, jadilah bantu-bantu sejenak dilakoni.

Menjelang akhir keluarlah resep hiperlipidemia, isinya Allopurinol dan Simvastatin. Saya nggak perlu nyebut merknya lah ya? hahaha..

Well done.

Well done sampai kemudian, sesuai prosedur, saya menyobek kemasan doos dari salah satu obat itu. Begitu suara sobekan terdengar, mendadak saya sadar, bahwa produk yang kemasannya saya sobek barusan ini berasal dari tempat kerja saya yang lama.

Dan produk ini, lebih tepatnya item kemasan yang baru saya sobek ini, dikelola dengan suatu mekanisme njelimet yang bikin telinga saya sampai kebal dan otak saya nyaris hang.

Saya lihat nomor batchnya, tepat di bulan saya pindah.

Artinya, benda yang saya sobek ini yang pernah bikin saya sakit kepala. Dan sekarang saya juga yang menyobek dan memasukkannya ke tempat sampah?

ASTAGA!

Itulah kemasan sekunder. Kalau bicara kemasan primer alias kontak langsung dengan produk, kita nggak bisa permisif, dia lekat dengan produk. Kalau sekunder? Coba deh, berapa persen (sebutlah) doos yang sampai ke konsumen? Atau berapa banyak brosur yang dibaca oleh konsumen?

Atau sepengalaman saya ikut di bala bantuan gempa, seberapa banyak tenaga kesehatan yang membaca brosur? Tidak cukup banyak. Apalagi hanya untuk obat-obat yang terkenal macam dua yang di atas.

Kemasan sekunder itu fungsinya hanya mengantarkan isi berupa kemasan primer. Itupun dari pabrik ke distributor. Sesudah itu, mayoritas dari mereka akan hinggap di tempat sampah.

Itulah yang kadang bikin saya merasa sia-sia berpusing2 ria mengurusi benda yang pada akhirnya juga harus musnah.

Tapi..

Pernahkah kita berpikir begitu? Kalau iya, salah!

Ini pola pikir busuk.. Sama saja dengan buat apa bikin obat dengan kualitas prima toh nanti juga ED di apotek, pola pikir yang keluar saat pemusnahan obat di apotek. Buat apa masak banyak2 kalau akhirnya jadi busuk juga.

Kalau kita berpikir soal akhir yang buruk, kita nggak akan berkarya. Kalau kita masih menganggap suatu kerja akan sia-sia, maka nilai dari kerja kita akan jadi minimal. Coba deh kalau saya bilang, ngapain yang begini ini diurusin? Selain saya pasti dimarahin bos, saya juga bisa menganggap proses dari pabrik hingga sampai ke distributor itu bukan proses bernilai. Padahal ada penjagaan kualitas, ada pihak yang terlibat disana.

Jadi sebaiknya sih, jangan kayak saya. Kalau bekerja atau mengerjakan sesatu, pikirkan saja dampak baiknya. Itu agaknya lebih menambah value dari sesuatu yang kita kerjakan.

Career and Treadmill

Menjadi seseorang yang bekerja di industri atau bolehlah dikatakan profesional skala ecek2, adalah hal yang baru. Latar belakang kehidupan di masa kecil sebagai anak guru membuat jenjang karir itu adalah hal yang baru dalam hidup. Maaf-maaf kata, kehidupan yang saya tahu, tataran guru adalah di golongan, jabatannya ya tetap guru.Jabatan macam Kepsek dan sejenisnya itu fungsional. Itu setahu saya lho.. Maaf kalau sekarang sudah beda. Jadi dari jaman dulu kala, bapak saya ya guru, dengan golongan yang terus meningkat dan tentunya gaji yang terus bertambah, sesekali jadi wakil kepsek atau kepsek. Begitu yang dulu saya tahu.

Maka ketika sampai di karir semacam ini agak kagok juga. Di kota macam bukittinggi dan pergaulan di lingkungan pendidikan, siapa yang pernah dengar jabatan manager? Makanan macam apa itu?

Tapi intinya saya sekarang berada di lingkungan yang baru itu.

Well, kemarin baca-baca tentang filosofi treadmill dan relevansinya terhadap karier. Maka mau sedikit berbagi saja disini.

Dulu waktu di Palembang sempat ikut fitness, salah satu alat yang dipakai adalah treadmill. Alat yang memungkinkan orang berjalan hingga berlari di tempat yang sama, karena nggak mungkin tempat fitness menyediakan lintasan lari.

Apa khasnya?

Treadmill itu akan selalu di tempat yang sama, orang yang naik akan berjalan atau berlari mengikuti irama yang ada di treadmill. Kecepatan bisa ditingkatkan, elevasi bisa dinaikkan, keringat deras akan mengucur sejadi-jadinya.

Bayangkan dalam konteks karier, sudah berjalan, berlari, berkeringat susah payah, apakah ada perubahan tempat? TIDAK. Itulah kalau kita berjuang di atas treadmill. Kita memang dibentuk dengan kuat oleh tempaan yang ada, namun kalau tidak ada peluang untuk maju, buat apa?

Coba bayangkan kelemahan lain treadmill. Ketika kita sudah susah payah berjuang lalu lemas, lalu kita ditendang oleh orang untuk turun dari treadmill itu, ada dimana kita? Yap, tepat di tempat yang sama ketika kita naik dalam keadaan masih segar-bugar.

Apa artinya?

Dalam berkarier, janganlah memilih tempat seperti treadmill. Kalau itu anak muda baru lulus mungkin tidak masalah, namanya juga belajar. Tapi ketika sudah berkaitan dengan kemajuan diri, ngapain kita lama-lama di treadmill, kapan kita majunya? Kita hanya akan menguras keringat sampai tepar untuk kemudian harus terus berkeringat agar orang yang siap menendang kita di sebelah itu tahu kalau kita tetap memakai treadmill-nya.

Kalau kita di lintasan? Mungkin di depan kita akan menemui batu, mungkin rintangan lain, tapi pada saat tertentu kita akan sampai pada tempat yang baru dan tentunya kemungkinan yang baru. Umpama kita ditendang dari lintasan, apakah kita sudah berubah dari awal berlari? Tentu saja sudah. Kita ditendang, tapi tetap beberapa langkah lebih maju dari sebelumnya.

Sekadar refleksi, bagaimana kondisi di tempat kerja anda sekarang? 🙂

Cerita Klakson

Hufftt.. lama nggak masukin posting disini. Setelah di awal Juli membombardir dengan puluhan posting, saya sadar, bahwa kualitas itu tidak selalu paralel dengan kuantitas. Kadang kebanyakan kuantitas, orang jadi nggak merindukan lagi, disitulah maknanya kualitas. #sajakbijak

Ini cerita soal kelakuan si BG yang agak menarik.

Dua minggu lalu, saya pergi ke Lippo Cikarang. Nah, di jembatan tegalgede, ada cegatan minggu pagi (seperti biasa). Karena saya malas bertemu dengan polisi, meskipun sepenuhnya saya comply, saya memutar balik menyusur kalimalang. Lalu menuju Lippo Cikarang lewat jalur alternatif.

Jalan ini melalui sebuah jembatan tanpa pengaman, itu sudah bahaya. Hahaha.. Lalu masuk jalan kampung, melewati atas tol via jembatan mini yang lebarnya cuma 1 mobil. Lalu menyusur jalan berbatu yang belum diaspal karena kelihatannya ini proyek perumahan yang lagi proses. Lalu tembus ke tambal ban dekat Taman Beverli.

Bagian tersulit dari ini adalah goncangan di jalan berbatu yang menyebabkan klakson si BG mati total.

Nah, kemarin, dalam upaya menonton Harry Potter sesi terakhir, saya kembali melewati jalan yang sama. Terpaksa, daripada bertemu kemacetan di jalur Jababeka-Lippo. Dan terpaksa juga melewati jalan batu yang sama.

What next?

Klakson si BG menyala kembali, walaupun tidak sepenuhnya sempurna. Agaknya goncangan batu mengembalikan posisi kabel yang error ke tempat yang mendekati semula.

Apa yang saya dapat?

Kadang, ketika mendapati bahwa suatu jalan itu sulit, kita emoh melalui kembali jalan yang sama. Ketika jalan itu menimbulkan kesakitan, luka, dan sejenisnya, kita menolak untuk melaluinya lagi.

Tapi si BG tampil dengan cara yang berbeda. Ia saya paksa melalui kembali jalan yang sama, yang membuat klaksonnya rusak. Dan ternyata, meski tidak sempurna, bunyi klaksonnya kembali. Si BG berani melalui jalan batu itu dan sembuh.

Mungkin, kalau kita tersakiti, ada kalanya kita perlu meretas kembali jalan itu, semata-mata berharap, mungkin disitu kita dapat penyembuhan. Toh, bila penyembuhan tidak didapat, kita bisa beroleh kekuatan untuk bertahan. Tidak ada yang buruk dari keduanya.

Begitu menurut saya.. 🙂

Life Your Life…

Sudah beberapa hari ga posting, ternyata sulit juga untuk posting setiap hari. Bukan masalah ide sebenarnya, tapi lebih kepada niat. Haha..

Kali ini postingnya berjudul Life Your Life, sebenarnya nggak tahu juga ini benar sebagai bahasa Inggris atau tidak. Dan ini juga sebenarnya agak mencontek slogan tempat saya bernaung saat ini. Dan posting ini mungkin akan menimbulkan persepsi macam-macam, tapi percayalah, semuanya hanya sekadar refleksi belaka. Tidak ada pengaruh signifikan pada apapun.

Well, ini memang memasuki perjalanan tahun ketiga saya bekerja. Maksudnya 2 tahun lebih sekian bulan, gitu. Dalam beberapa posting terdahulu, saya juga sedikit membahas soal ini, tapi ini perspektifnya lebih luas.

Dua tahun awal, saya bekerja di lokasi yang bukan kawasan industri, dan dua bulan ini saya masuk di sebuah tempat yang berada di kawasan industri yang menurut referensi ada 1 juta orang pekerja disini. Itu orang semua ya.. hehe.. Tapi yang bikin saya berefleksi adalah hasil gaul sama orang-orang di lingkungan waktu tadi ada acara olahraga di sekitar gereja.

Oke, saya dibesarkan di sebuah keluarga guru, Bapak-Mamak guru galur murni, alias guru semua. Apa yang saya tahu tentang pekerjaan orang tua saya? Ya, berangkat bersama-sama ke sekolah, pulang juga kadang-kadang malah duluan orang tua, soalnya saya main dulu sama teman-teman. Sarapan, makan siang, dan makan malam bersama bukan hal yang susah dilakoni. Kalau tidak sedang kasih les, orang tua saya bisa tidur siang. Kalau sekolah libur, orang tua saya ikut libur. Kadang-kadang saja masuk karena piket. Hal semacam ini saya lihat dari kecil sampai menjelang besar, dan tertanam jelas di batang otak.

Apa yang saya lihat disini?

Yang saya tahu dari obrolan tadi, ada yang hari minggu masuk kerja. Ada yang sedang cuti karena anaknya libur sekolah. Dan yang pasti, setidaknya tidak ada makan siang bersama anak-anak mereka. Dan apa profilnya? Profesional harus selalu bergerak dengan semangat tersebut. Lembur bisa disesali, dimaki, tapi harus dilakoni. Itu pasti. Dan soal apa yang didapat? Nggak perlu heran lihat mobil-mobil bagus disana. Hmmm..

Saya kadang membayangkan, bagaimana anak-anak dan orangtuanya berinteraksi? Dalam bayangan saya, yang ada hanya bayangan masa kecil saya. Ketika bapak pergi diklat gitu, 2-3 kali makan siang tanpa ada bapak, itu aneh. Lah, kalo anak-anak dengan orangtua yang bekerja di kawasan ini? Bagaimana? Sempatkah mereka bertemu? Saya yakin pasti ada caranya, cuma pikiran saya belum nyampe. Semuanya masih soal apa yang saya lihat di masa silam, masa kecil saya.

Dan disinilah saya sekarang, itu poinnya. Saya orang pertama di keluarga yang bekerja, dan mengambil jalur yang berbeda sekali dengan yang saya alami di masa kanak-kanak. Dan selama bertahun-tahun mencoba mencari link tentang apa yang saya dapat sewaktu kecil dengan apa yang saya lihat disini (lihat, karena saya belum merasakan).

Nah, ketika orang-orang itu, bekerja menghidupi diri dan keluarga mereka, apakah mereka menghidupi hidupnya sendiri? Apakah derap kegiatan sehari-hari itu punya isi, punya nyawa? Atau sekadar-sekadar?

Pertanyaan refleksinya, apakah saya dalam bekerja, menghidupi hidup saya sendiri? Apakah derap kegiatan saya sehari-hari itu punya isi, punya nyawa? Atau sekadar-sekadar?

Huh… Pertanyaan yang sulit untuk dibawa ke alam mimpi.

Sedikit Kisah Tentang Alfa

Saya yakin, buat teman-teman yang tahu benar kisah dan riwayat si Alfa dalam cerita ini, pasti tertawa ngekek. Ini memang bukan kisah sembarangan, dan saya percaya bahwa Tuhan menganugerahkan Alfa kepada saya adalah dalam rangka saya bisa memperoleh hikmat atas cobaan-cobaan yang muncul menyertainya.. hahahaha..

Alkisah, saya diberi karunia sebuah motor murah meriah muntah bernama Alfa, lahir tahun 1989, berwarna merah, dan yang pasti PENYAKITAN. Tapi it’s OK, seperti saya bilang tadi, banyak hikmat yang saya peroleh atasnya. Berikut saya sampaikan beberapa kegilaan si Alfa:

1. Waktu mau penyuluhan AIDS di Prambanan. Saya disuruh berangkat duluan sama teman-teman. Dan di setengah jalan, saya disalip sama teman-teman yang berangkat 30 menit belakangan. Apa pasal? Ketika diagakgeber, pistonnya berbunyi dan berteriak, “Ampun Bang, nggak kuat…krik..krik..krik…” Dan ketika saya jalan pelan, dia mau berdamai. Hmmm..

2. Salah satu fenomena motor rusak adalah nggak mau hidup. Itu biasa. Tapi kalau si Alfa ini, problemnya, mulai dari nggak mau hidup sampai…NGGAK MAU MATI! Suatu kali di parkiran motor kampus, saya bahkan perlu sok-sokan duduk diam di motor yang masih menyala meski kunci kontaknya sudah lepas 5 menit yang lalu, dalam rangka menunggu dia mati. Sementara si Alfa masih terus batuk-batuk ringan. Solusinya ada beberapa, kecilkan putaran gasnya, atau yang paling ekstrim, ambil kain lap, copot businya. Dan hmmm.. solusi ekstrim yang tidak mempertimbangkan OHSAS itu bahkan masih membuatnya tetap menyala. Astaga.

3. Perjalanan awal bulan selalu menyedihkan, saya biasanya pinjam motor teman untuk ini. Ya bukan apa-apa, saya harus mengantarkan uang bulanan ke adik-adik yang kosnya jauh-jauh (jauh dalam definisi si Alfa). Pernah suatu kali, karena kerusakan CDI, perjalanan Paingan-Gowok-Purawisata-Paingan menghabiskan 3 busi @10.000. Ini motor boros amat yak?

4. Si Alfa ini kalau pas mati, nggak mikir-mikir. Pernah pula, pas pulang latihan PSM, jam setengah 10 malam, MACET. Dan itu posisinya di perempatan Condong Catur yang kalau jalan kaki sampai Paingan (apalagi nonton motor), lumayan. Dan terjadilah. Heh.. Tapi uniknya, hari itu saya benar-benar tidak emosi, kalau biasanya, itu motor saya tendang dan pengen tak buang. Tapi kok waktu itu nggak. Ada-ada saja.

5. Selain boros bensin karena dua tak, si Alfa juga boros karena sering pipis sembarangan. Bahkan saya sampai pernah menggunakan tusuk gigi ditutup sama pantat bolpoin pilot untuk menutup saluran itu, supaya dia tidak pipis sembarangan. Tapi tetep aja. Hmm.. Bukan apa-apa, bensin kan bisa meledak, kan mesakke ada ledakan karena pipisnya si Alfa ini.

6. Oh iya, si Alfa punya sedikit kelebihan. Tidak perlu muter gas biar dia jalan. Soalnya kawat gasnya udah gitu deh. Jadi cukup masukkan gigi, dan ia akan berjalan seperti mobil yang dilepas koplingnya. Itu kelebihan atau kekurangan? Hahaha..

7. Yang hobi banget kejadian adalah sekrup footstepnya yang copot. Entah kenapa ya, dari 3 sekrup itu selalu aja ada yang copot, diganti ini, copot yang itu, diganti itu, copot yang anu. Apa saya yang naik motornya kebandelan? Nggak juga deh.

8. Hmmm.. kecepatan maksimal dari si Alfa, adalah…… 40 km/jam. Yah, harus diterima dengan lapang dada kalau ini. Tapi mengenaskan untuk ukuran motor 2 Tak.

9. Lampu? Jangan diharap. Saya mengandalkan intuisi ketika berjalan di kegelapan. Yang penting itu lampu kelihatan sama orang di depan dan belakang aja deh. Biar nggak ditabrak. Hehehe..

Itu baru sembilan, sebenarnya ada lagi, pelek yang mau pecah, dashboard yang lepas sampai bolong, rantai nyangkut, oli mblobor, dll. Saya menulis ini bukan dalam rangka mengeluh juga . Seperti saya sebut tadi, ini sepenuhnya hikmat.

Sampai ketika saya mendapat Bang Revo di 2007, dan harus menjual si Alfa, ada perasaan berat juga. Dia sudah menemani saya tidur segala loh. Soalnya dulu saya tidur bersama bensin pipisnya dia. Astaga. Tapi ya dia memang harus dijual dengan harga yang bahkan bayar SKS 1 semester aja kurang, saking murahnya. Hahahaha.. Dan dari hikmat-hikmat yang diberikan atas nama Alfa, saya bisa menjalani hidup bersama Bang Revo dan sekarang si BG, dengan lebih menyenangkan.

Oya, ini pose saya bersama Alfa, sesaat sebelum dia dijual:

Saat Terakhir

Semua yang datang dan pergi dalam hidup kita, pasti ada hikmatnya. Jangan selalu menganggap itu buruk, bahkan derita pun pasti ada sisi baiknya. Itu refleksi saya  bersama si Alfa. Dimana ya dia sekarang? Hmmm…