Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Sedingin Kisah Cinta

Bagaimanapun, Dolaners itu orangnya romantis-romantis. Hanya sayang nasibnya kadang nggak cocok sehingga kisahnya kagak romantis. Ketika Chiko, si playboy kena batunya waktu ngedeketin Irin, pada saat yang sama Bayu kena pencuekan dari mantannya, Putri. Dan kebeneran pada saat yang sama, aku juga lagi galau karena kedekatan tidak biasa dengan Alin. Bagaimanapun dan bagaimananya, namanya deket dengan pacar orang itu nggak biasa.

Maka, Yama, yang tampak ayem-ayem kampung berinisiatif meminimalkan kegalauan tiga temannya dengan cara standar: berdoa.

“Cah, ayo nang Sri Ningsih,” ajak Yama ketika kami berempat sedang nongkrong membahas masa depan bangsa dan negara. Paras Chiko masih macam vokalis kehilangan band, Bayu masih seperti orang pintar kehilangan otak pintarnya, dan parasku tetap tidak kelihatan. Lha hitam soalnya.

“Kapan?”

Ngko wae. Kalau besok-besok pasti nggak jadinya.”

“BERANGKAT!” ujarku. Percayalah, bagaimanapun orang galau, gamang, resah, gelisah, dan risau itu sejatinya hanya butuh satu hal: berdoa. Dan biasanya sih, orang akan ingat berdoa kalau lagi galau, gamang, resah, gelisah, dan risau. Yah ini sih sekadar silogisme belaka.

Sepeda motor merah-nya Chiko dan Grand hijau-nya Yama jadi alat angkut untuk berdoa dalam risau di sendang Sri Ningsih. Dan seperti biasa, ketika harusnya jam tidur, kami berangkat. Padahal, jangan salah, hari Jumat pagi besok masih ada kuliah jam 9.

Ini kalau nggak galau maksimal pasti berdoanya sudah ditunda sampai besok.

Perjalanan ke arah timur itu adalah perjalanan paling nikmat untuk anak muda. Jalannya lurus, banyakan mulus, jadilah tinggal was wus. Apalagi itu sudah jam 10 malam yang berarti sepi minta ampun. Paling saingan sama mobil yang mau ke Klaten-Solo. Nggak banyak juga. Maka kecepatan memang berkisar 80-100 km/jam. Kalau sama emakku tahu, pasti udah dihabisin aku, lha 40 km/jam aja udah dipesenin, “jangan kencang-kencang.” Nah!

Sesudah pabrik susu terkemuka, akan ada puteran dan kami masuk ke selatan. Dari situ, masih rada jauh juga sih, akan ketemu tempat yang bernama Sri Ningsih dengan patokan sekolahan. Kalau weekend, sekolahan itu jadi tempat parkir, dan berhubung ini weekdays, jadinya kami bisa naik sedikit dan parkir di rumah penduduk. Tentunya bayar.

“Ayo doa,” ajak Yama begitu kami sampai.

“Ntar lah,” sahutku ringan. Berdoa ketika baru sampai itu asli nggak biasa.

Jadi nih, kalau lagi mau doa ini, doa itu sendiri lebih banyak sebagai kedok. Doanya 10 menit, ngobrol plus curcolnya berjam-jam, tidurnya 1-2 jam, lalu pulang sambil terkantuk-kantuk ria. Ya, semacam itu saja.

Karena belum mau doa, kami akhirnya mampir di sebuah warung dan makan mie instan penuh kehangatan. Cerita lalu dimulai, dengan tiga lelaki galau dan satu konsultan. Dan aku cuma ragu kalau konsultan ini tidak galau. Apa iya?

Aku, sebagai pemain api kelas kacang, masih sempat-sempatnya bertukar pesan singkat dengan Alin. Malah, selagi makan mie instan itu, masih nelpon Alin beberapa menit.

“Hati-hati,” ujar Chiko, masih dengan tampang kehilangan band-nya.

“Iyo. Ini ya nggak ngapa-ngapain kok.”

“Ntar senasib lho,” goda Bayu.

“Beda kasus dikit.”

Dan Bayu beda lagi, ternyata si Putri itu sudah punya pacar baru. Jadi pantas saja kalau si Bayu dicuekin sepanjang acara inisasi anak muda beberapa minggu lalu. Seperti yang pernah aku bilang, miris memang terjadi ketika ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama. Percayalah! Ada lelaki sedang makan mie di depanku yang jadi buktinya.

“Yo, nek nggak ngapa-ngapain ya nggak usah dihubungi,” timpal Yama. Sebagai makhluk paling tua diantara kami berempat memang wajar kalau di agak wise. Apalagi ia bercita-cita menjadi gubernur BEM dalam waktu dekat dan ketua lingkungan kelak kalau sudah uzur.

Aku mengiyakan saja, mencoba mengalihkan topik.

“Lha kowe piye,Ko?”

“Apanya?”

“Lha ya si itu,” kataku tanpa menyebut nama, rasanya agak membuat hati bertanya bagaimana, saking nggak enaknya menyebut nama itu. Membayangkan saja sulit, apalagi merasakannya. Memang hanya playboy sekelas Chiko yang bisa menjalaninya tanpa banyak sakit hati. Dan percayakah, mereka masih kontak-kontakan.

Mbohlah.”

Sebuah kata yang bermakna mirip ‘hehehehe…’ kalau lagi chatting. Itu bermakna suatu percakapan kudu ganti topik.

Dinginnya malah masih memeluk nikmat dan menimbulkan kantuk yang amat sangat. Kami berempat segera menuju sebuah tempat beratap yang memang banyak dipakai untuk menginap. Tikar yang ada kusambar dan rentangkan. Di sudut pondokan itu ada sepasang, entah pacaran atau pasutri, tapi pokoknya cowok dan cewek. Sementara di pondokan lain ada beberapa pria tidur terpisah. Tidak sampai 10 orang di tempat sunyi ini.

Turu sik po?” tanya Chiko.

“Iyolah. Sambil curhat, sambil bobo,” ujarku.

Maka empat lelaki dengan empat kisah sendiri-sendiri itu terlelap dalam dingin. Ehm, Yama sendiri punya kisah juga, dengan adik kelas yang kami juga kenal. Aku juga sempat ditegur karena terlalu kepo. Yah, mohon dimaklumi, naluri jurnalisme warga untuk seorang calon gubernur. Walaupun baru sebatas gubernur BEM.

Aku, Bayu, dan Chiko tidur seadanya. Yama? Komplit dengan bantal dan selimut yang dibawa dari rumahnya. Bagiku ini tampak biasa, toh biasanya juga hanya modal sarung dan kaos kaki cukup. Ngapain juga bawa selimut?

Apakah aku benar?

Dua jam kemudian, semuanya menjadi salah.

Angin di jam 2 pagi sangat sangat sangat sangat sangat dingin. Sampai lima kali sangat saking dinginnya. Aku terbangun, menekuk badan, mengangkat sarung, dan gagal menambah suhu. Aku mulai gemetar dan semakin meringkuk.

Tiupan angin memang bebas karena pondokan itu hanya ada dinding, tiang, dan atap. Ini semacam tidur di alam bebas saja. Jadi ya semua bebas. Termasuk suhunya bebas.

Kondisi dingin membuatku tidak bisa terlelap. Aku menoleh ke kanan dan tampak Yama tidur dengan pulasnya bersama bantal dan selimut. Kalau ingat episode Spongebob waktu Chandy hibernasi, ingin rasanya memotong selimut itu. Sayangnya, Yama tidak sedang hibernasi. Itu saja bedanya.

Aku mendekati meja pendek yang ada di tengah pondokan. Biasanya meja ini untuk berdoa atau menaruh bekal. Tapi tampaknya akan menarik kalau dijadikan tameng angin saja. Anginnya datang dari arah depan, sementara di belakangku sudah tebing. Jadilah aku membuat tameng dari meja itu dan memilih untuk tidur di belakangnya.

Tapi yah namanya meja, yang ditutup hanya satu sisi. Dua sisi samping tidak tertutup sama sekali, tetap saja DINGIN!

Chiko dan Bayu tampak begitu gelisah dalam tidurnya. Dan aku sungguh yakin mereka sedang bermimpi main ski di kutub utara. Nggak mungkin mereka tahan dengan dinginnya pagi ini.

Kali ini aku benar. Tidak lama kemudian Bayu bangun dan mendekatiku yang sedang berlindung dibalik meja pendek. Yak, aku dan Bayu kemudian membentuk formasi seperti perang-perangan dengan angin. Dua orang cowok tidur berdua di balik meja sambil kedinginan. Tampak ironis dan menggelikan.

Jadilah malam yang seharusnya nikmat itu, menjadi penuh perjuangan. Aku dan Bayu tidak berkata-kata karena lebih baik diam daripada membiarkan udara malam masuk rongga mulut. Lha, nggak masuk aja, gigi sudah gemetar. Apalagi aku dan Bayu juga dapa kesadaran 50% yang bangun hanya karena kedinginan.

Chiko? Mungkin masalahnya terlalu pelik hingga dingin tidak berasa. Sepertinya kisah cintanya jauh lebih dingin.

Dua jam penuh penderitaan akhirnya diakhiri dengan kegagalan tidur sempurna. Aku beranjak ke tempat doa dan mulai curhat disana. Menyusul Chiko, Yama, dan Bayu. Tampaknya Bayu baru menikmati angin yang mulai reda di jam 4 pagi.

Tujuan akhirnya tercapai, curhat sambil doa. Eh, atau doa sambil curhat? Sama saja kali ya?

Maka berikutnya adalah… PULANG dan KULIAH!

Jalan Solo kembali menjadi tempat berpacu yang asyik. Jam 5 pagi masih nikmat untuk keluar Klaten menuju Jogja.  Dinginnya memang lumayan, tapi tidak seganas jam 2 pagi tadi. Kantuk masih menggantung sebenarnya, tapi jadi nggak ketika sampai di jalan besar karena kemarin setengah janjian mau bareng Alin. Yup, Alin lagi mudik dan balik Jogja pada pagi yang sama.

Ndi?” tanya Yama.

“Mboh,” ujarku.

Kedua motor berjalan perlahan sambil tengok belakang dan depan. Berhubung janjiannya keputus handphone yang low bat, jadinya cuma setengah doang. Nggak bisa janjian beneran.

Setelah berjalan dua kilometer, Alin tidak ditemukan dan memang tidak bisa dihubungi.

Bablas?” tanya Chiko.

“Iyolah. Emang main api itu tidak diberkati.”

Pelajaran utama, sesungguhnya main api itu memang tidak dianjurkan.

Was wus was wus sepanjang Jalan Solo membuat kami sampai Jogja dengan cepat. Ketika hendak menyeberang masuk ke rumah Yama, motor Chiko tiba-tiba melambat.

“Bocor!”

Wah! Apa ini dampak dari tuah bermain api? Bahkan ban motor Chiko yang notabene ada di bawah tubuhku, karena aku membonceng, bocor!

“Walah.. Isuk-isuk meneh,” gerutuku.

Chiko akhirnya meninggalkan sepeda motornya di rumah Yama. Sebagai pemuda harapan bangsa, bagi kami lebih penting kuliah. Apa iya? Entah juga sih.

Dan kuliah Jumat pagi menjadi penutup hari yang super dahsyat ketika karung mata menggantung nikmat minta ditutup sementara ilmu yang berguna bagi masa depan berkeliaran di telinga. Inilah profil pemuda masa kini. Tepatnya sih, pemuda masa kini dengan kisah-kisah cinta yang dingin.

Jawabannya Adalah….

Percayalah bahwa anak muda labil hanya akan ingat pada Tuhan ketika sedang gamang plus lagi gembira ria. Kalau flat-flat aja, yah so-so lah. Ini aku bukan bermaksud melakukan generalisasi, tapi setidaknya berlaku padaku. Dan jadwal hari ini adalah bertualang ke tempat yang baru dalam list Dolaners. Sebuah tempat doa berbasis sendang di barat Jogja. Maksudnya dari Jogja barat, terus ke barat lagi sampai jauh, kemudian mengalir ke laut. Eh salah, itu lagu Bengawan Solo ding!

Tempat itu bernama Sendang Jatiningsih, sebuah sendang yang berada di tepian Kali Progo yang arusnya sungguh wah itu. Tapi sebentar, emang pada tahu artinya sendang? Yak, sendang adalah kata serapan dari bahasa Jawa. Tentunya tidak diserap dengan kanebo. Arti sendang menurut kamus adalah kolam di pegunungan dsb yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya, biasa dipakai untuk mandi dan mencuci, airnya jernih karena mengalir terus; sumber air.

Jadi sendang yang dimaksud ini yang mana? Anggap saja sumber air yang jernih dan mengalir terus serta digunakan untuk mencuci dosa. Yak, ini adalah perspektif pendosa macam aku!

Sendang ini adalah koleksi kunjungan rohani berikutnya setelah Sendang Sono, yang mana aku tidak ikut semata-mata tidak ada angkutan dan aku tidak layak menggunakan odong-odong merah bernama Alfa ke tempat penuh tantangan macam Sendang ternama di seantero Indonesia itu. Koleksi kunjungan lain adalah Sendang Sriningsih. Ini sih sebenarnya ulah si Yama, pria asli Klaten yang kalau galau suka nangkring sendirian di Sriningsih. Mungkin dalam rangka kebersamaan, maka ngajak galau juga sama-sama. Begitulah persahabatan masa kini. Jangan ditiru ya!

Lokasi sendang ini dekat dengan rumahnya Randu, yang juga Dolaners. Jadi kalau dari arah Jogja, sendang ini lurus terus, nah di suatu pertigaan yang jumlahnya tiga, Randu belok kanan kalau mau pulang. Maka EO dalam hal ini adalah Randu. Pastinya!

Tim dari dusun Paingan dan kota Jogja berangkat. Tentunya sesudah menunggu Roman selesai mbojo sama Adel. Bagaimanapun single alias jomblo macam aku harus kukuh tegar berlapis emas dalam rangka menggelar toleransi terhadap teman yang bermalam mingguan. Toh, itu kan salah satu esensi berpacaran. Harap maklum kalau aku kurang paham karena emang belum pernah pacaran. Eh malah curhat.

Setelah jamnya usai, Roman yang kenaikan berat badannya tidak pernah berkurang ini bergabung dengan Toni yang gondrong sejati mirip rocker tapi doyan lagunya Padi yang romance asyik. Aku yakin role modelnya adalah Piyu, sayangnya Toni kriwul di ujung, jadi tingkat kemiripannya dengan Piyu menurun hingga tidak terdeteksi kualitatif.  Roman dan Toni lantas join dengan aku, Bayu, dan Chiko untuk sama-sama berangkat. Gelapnya malam membawa sepeda motor yang rata-rata berwarna gelap plus mengangkut aku yang gelap menuju ke sendang. Benar-benar gelap sekali dunia kalau begitu ya? Randu sendiri menunggu istruksi. Jadi kalau kami sudah sampai pasar akan SMS supaya ia berangkat dari rumah, jadi sama-sama sampai dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun kecuali bensin subsidi hasil perjalanan. Yang penting jangan kehilangan keperjakaan.

“Lha kok rame?” gumamku. Ini retorika, ya jelas aja ramai. Tempat ini kan tempat doa dan ini juga malam minggu, pastilah banyak orang yang berdoa.

“Jalan-jalan sik wae,” seret Chiko. Jadilah lima lelaki dengan kantuk yang melanda jalan-jalan mengitari sendang bak kehilangan mainan dan dengan guyub mencarinya bersama-sama. Sungguh indah persatuan dan kesatuan kalau begini ya.

Tak lama, Randu muncul dengan bermodal gitar. Yak, sebagai EO yang baik hati dan tidak gemar menabung, maka Randu wajib melayani tamu-tamu yang butuh alas tidur ini.

“Tapi masih rame, Ran,” tunjuk Bayu ke pondokan beratap satu-satunya di tempat itu yang layak dijadikan tempat beristirahat.

“Bentar lagi sepi,” ujar Randu. Sebagai orang dekat sini kami harus percaya pada Randu. Harap maklum, kalau lagi diajak kemana-mana gitu di malam minggu, hampir pasti Randu menolak karena lagi ada acara di tempat ini. Randu memang pendoa sejati, patut ditiru.

Dan benar saja, sejurus kemudian tempat itu sepi. Randu segera menggelar gitarnya, eh tikarnya yang disambut meriah dengan tepuk tangan oleh Roman dan Toni yang dari tadi sudah merindukan alas untuk berbaring. Jadi ini topiknya mau doa atau mau pindah bobo? Ehm, dalam hal ini curhat manis dalam wujud doa lebih enak dilakukan di dini hari dalam balutan angin malam dan kesepian yang maknyus. Jadi tidur adalah opsi awal. Ya semoga saja nggak kebablasan.

Dan topik hari ini, yaitu… ialah… yailah…. GEBETAN!

Ampun dah, jauh-jauh ke sendang, pakai bensin subsidi pula, masih aja ngomongin gebetan. Nongkrong di Pok-Whe ngomongin gebetan, terkapar di kosnya Roman juga ngomongin gebetan. Ehm, topik ini menarik karena Roman lagi tidur, sepertinya. Roman ini harus diwaspadai karena mulutnya ibarat ember bocor yang dapat mewartakan informasi kemana-mana dengan ceplas ceplos yang dahsyat dan kadang dilakukan dengan lantang di depan umum. Padahal sebagai rata-rata pemuja rahasia, kelakuan Roman bisa menjadi blunder yang mengerikan.

Gebetanku dan Bayu sudah bukan rahasia di Dolaners, soalnya berteman baik dan satu sekolah dulunya. Gebetannya Chiko? Yah, sebagai pria dengan ‘reputasi’ playboy tentunya kabar berita dan warta warga tentangnya begitu mudah diketahui publik dan mencari obrolan di angkringan. Macam artis kali bah!

NAH! Yang menjadi pertanyaan adalah gebetannya Randu yang tiada pernah kedengaran suaranya. Masak sih di Farmasi dengan perbandingan cowok-cewek 1:3, tidak ada satupun yang digebet. Kalaulah sampai tak ada maka aku akan mempertanyakan orientasi seksualnya. Ih, jauh kali yak!

“Lha kowe sopo, Ran?” tanya Bayu

Randu diam.

“Ada to tapi?” goda Chiko.

“Ya ada lah.”

Nah, ini disebut clue. Yeah!

“Anak mana?” tanyaku menyelidik penuh makna.

“Iyo bocah mana?” timpal Chiko.

“Farmasi?” sambung Bayu.

Dan ini sudah semacam interogasi pada tersangka pencurian hati anak calon mertua.

“Farmasi,” jawab Randu, tetap dengan suaranya yang tenang-tenang mendayung dihempas ombak. Bisa dibayangkan? Agak sulit ya?

Siapaaaa?” Aku, Chiko, dan Bayu sontak mempertanyakan kata yang sama. Sebagai cowok dengan reputasi gebetan berupa misteri, jawaban ini sangat dinantikan.

“Hoaehhmmmmm.. Ono opo iki?” Buntelan lemak di atas tikar bergerak manja.

“Wahhhhh.. bangun!” sebut Chiko dengan nada kecewa.

“Iya nih. Padahal tinggal dikit lagi,” sambungku.

Roman bangun dengan muka polos seolah tidak bersalah. Ya sebenarnya tidak bersalah sih, cuma ia bangun di waktu yang salah. Jadinya? Ya baiklah, Roman tetap salah dalam hal ini, karena ia bangun, sebuah rahasia besar tidak jadi terungkap!

Chiko, Bayu, dan aku terdiam dan memilih untuk terkapar. Satu kata lagi sebuah jawaban akan terungkap dan yang terjadi adalah gagal. Untuk mengobati kekecewaan, marilah kita menjawabnya dalam hidup kita masing-masing. Aku tak bobo risau dulu. Hiks.

Kentongan Maling (?)

Bayangkan! Mari dibayangkan! Membayangkan apa?

Sebentar, biar aku cerita dulu. Rani dan Aya, dua gadis di kumpulan Dolaners, pada saat yang sama juga ikut di sebuah pertunjukan tari. Sebenarnya ini nggak susah-susah amat untuk diketahui karena mereka latihan dengan terang benderang dihall kampus. Jadi, pulang praktikum sore, udah bisa melihat mereka latihan. Apalagi kalau ke perpus malam-malam.

Nggaya bener ke perpus malam-malam? Ehm, ini khusus aku, maklum, nggak punya komputer. Tong dipahami ya. Tolong banget. Terima kasih. Eh, serasa artis deh.

Dan karena satu kumpulan, orang-orang pertama yang diajak tentunya kumpulan sendiri. Mereka berdua langsung menodong Dolaners yang lain untuk nonton. Pertunjukannya sendiri dihelat di Socitet Jogja, deket Toko Progo. Juga dekat dengan Shopping, pusat buku murah yang disayangi mahasiswa macam aku.

Nah, dengan cerita ini, mari membayangkan. Lelaki-lelaki yang bisanya cuma menghina satu sama lain disuruh nonton kesenian? Orang-orang yang tahu tari aja nggak pernah, disuruh nonton? Entahlah, karena faktor pertemanan, aku dan yang lain setuju untuk nonton. Dan rata-rata dalam umur yang masih belasan, ya baru kali ini nonton pertunjukan tari.

Mangkat jam piro?” Sebuah SMS mampir ke handphone-ku. Yah, inilah khas Dolaners, janji jam berapa, datang jam berapa. Untuk memastikan kalau sudah ada orang, ya SMS dulu.

Aku yang datang dengan odong-odong merah bernama Alfa memang selalu duluan. Bukan karena akuon time, tapi lebih karena aku menyisihkan waktu untuk perjalanan menggunakan odong-odong berasap. Lebih ke situ sih arahnya.

Sampai Socitet, tempat itu masih sepi nyenyet. Aku diam-diam tongkol disana berharap teman-teman berdatangan. Tempat ini lumayan tua juga dan tampaknya memang berbau seni sekali. Agak-agak merinding kalau sendirian.

Nah, panitia mulai membuka lokasi. Teman-teman juga mulai berdatangan.

Arep ngopo kowe?” tanya Roman.

Lha kowe? Emang mudeng tari po?” ujar Chiko.

Paling yo micek” timpal Bona.

Yah, beginilah kalau lelaki-lelaki tanpa pengetahuan dikumpulkan jadi satu, disuruh melihat karya seni.

Aku dan Dolaners yang lain masuk ke dalam ruang pertunjukan yang mirip bioskop itu. Tempat duduk dibuat berjenjang dan berfokus ke panggung di tengah. Hmmm.. seru juga. Naluri pengen tampilku kumat. Padahal jelas-jelas nggak ada yang bisa ditampilkan selain rambut kribo yang sudah kupangkas sejak lulus SMA.

Layar perlahan terbuka dengan lampu padam. Ah, ini pertunjukan mulai juga. Kira-kira aku ngerti nggak ya?

Penari demi penari muncul, datang dan pergi. Ada satu sih yang menjadi fokus penampilan. Dan sesungguhnya tanpa dialog dan penuh gerakan tari ini, otak minimalis macam aku sulit mengerti. Aku sih lebih sibuk menanti kapan Rani dan Aya nongol. Mereka kudu tanggung jawab sudah mengajak kami nonton kesini.

Rani dan Aya kemudian memang muncul, berganti-ganti kostum dengan peran yang mungkin berbeda-beda.

Kae Rani dudu?” tanya Bayu sambil menunjuk seorang gadis di panggung.

Mboh,” sahut Bona. Sangat jelas dan wajar tidak mengerti karena semuanya bercadar. Hanya kelihatan matanya. Ini pas adegan bercadar, mungkin sedang adegan spesial pakai cadar.

Iku ngopo?” tanya Roman dari kursi belakang.

Mboh,” jawab Chiko. Dan jelaslah, bahwa lelaki-lekaki disini benar-benar nggak paham tari. Tak pikir tadi cuma aku saja, eh makhluk-makhluk ghaib di sekitarku mengalaminya juga ternyata. Baiklah.

Dua jam menyaksikan pertunjukan tari membuat aku mulai sedikit paham tentang seni yang satu ini. Aku sendiri memang kurang suka nonton film, kecuali bokep. Itupun karena Roman memutar koleksi barunya yang diperoleh dari Prima. Ampun! Anak muda masa kini!

Tapi tenang, ini yang nonton pria sama pria dengan mode malas dan sangat suka menggeser kursor secepat-cepatnya. Lha ini nonton bokep apa nggak sih? Giliran adegan yang gituan malah dicepetin. Inilah metode nonton bokep yang penuh sopan santun.

Gerakan demi gerakan plus sedikit narasi membawa penonton pada tensi pertunjukan yang meningkat. Lumayan kerasa.

Pada akhirnya, pertunjukan pun berakhir dengan layar yang tertutup perlahan. Nah, ada Aya di tengah-tengah dengan pose mengangkat kedua tangan ke atas.

Kuwi, tangan’e Aya koyo kentongan maling,” bisik Roman yang ditimpali tawa Bona.

Aku yang di bangku depan mulai tersenyum dan lanjut dengan ketawa. Yah, Aya memang punya badan yang agak besar meski sejatinya proporsional. Cuma pas bagian tadi memang terlihat agak ‘besar’.

Tepuk tangan membahana ke seputaran arena. Kami menunggu ketika penonton lain meninggalkan tempat itu satu per satu. Tak lama, Rani dan Aya keluar dari balik panggung dan menuju ke teman-temannya yang sama sekali nggak ngerti tari.

“Bagus nggak?” tanya mereka.

“Bagus kok. Apik. Apik,” ujar Bayu.

“Iyo keren,” timpalku.

Roman dan Bona masih sibuk cekikan di belakang.

“Opo to?” Aya bertanya penasaran.

“Nggak. Roman ini lho, Ya. Kurang ajar,” kata Bona.

“Kok aku sih? Bona kok.”

Dan dua lelaki saling lempar tanggung jawab setelah cekikikan. Wajar untuk Dolaners.

“Anu, itu tanganmu katanya kayak kentongan maling,” sebut Bayu yang disambut ledakan tawa yang lain. Termasuk Aya.

Yah, ejek mengejek fisik kadang memang membuat sakit hati, kalau dicerna dengan cara yang salah. Semua bisa demikian. Kami dengan senang hati mencerca Bona yang punya dengkul suka selingkuh alias gemar mlingse. Kami juga rutin menghina dina Roman yang badannya setengah besar. Mereka juga ganas mengajar Yama yang hobi salah urat leher alias tengeng. Pun dengan aku, karena kelebihan pigmen.

Ini sesuai dengan prinsip utama “Hanya Menjatuhkan Dan Menginjak-Injak, Itulah Persahabatan Kami.”

Guyonan kentongan maling adalah penutup yang pas di malam hari yang dingin, menghangatkan suasana dan mengeratkan persahabatan.

Sudut Pandang

“Pantai yo?”

Ajakan retoris anak-anak Dolaners ini memang berlaku umum. Berlaku untuk dikatakan tapi tentatif untuk direalisasikan. Namanya juga Dolaners, mayoritas isu tanpa konsep, sedikit realisasi. Soalnya kalau realisasi semua, jebol juga kantong bolong anak muda.

Tapi ini agak serius. Aku, Chiko, Ano, Roman plus Adel sudah bersiap. Rencananya malah lebih dahsyat bin maut. Jadi ceritanya makan siang dulu di pemancingan yang terletak di pelosok babarsari lalu capcus ke Pantai Parangtritis.

“Eh, bukannya ke Paris nggak boleh ya buat orang pacaran?” tanyaku pada Roman.

“Emang kita pacaran?” Roman malah bertanya pada Adel.

Dasar pasangan yang aneh!

Baiklah. Sejatinya rencana setengah matang ini dibuat dalam rangka menghibur Bayu yang lagi ultra galau. Seorang dengan otak cemerlang ini tampak lemah, letih, dan lesu. Soal cemerlangnya otak Bayu sebenarnya agak sukar di jelaskan oleh kata-kata, bahkan oleh Sukardi sekalipun. Ya bayangkan saja, sepanjang kuliah kerjanya cuma dua, ngantuk dan tidur, tapi begitu dosen bertanya, “ada pertanyaan?”, Bayu dengan mantap bertanya. Mana pertanyaannya berkualitas pula. Tidur macam apa itu?

Nah, tampangnya sudah lemas dari kemarin. Padahal, belum lama ini dia teklek kecemplung kalen, tinimbang golek mending balen dengan Putri. Itu persis beberapa hari sebelum aku mudik. Waktu itu aku lagi nongkrong di depan kampus dan dia mengakui soal CLBK itu.

Lha sekarang sudah galau lagi?

Kembali ke Pat Kai, begitulah cinta, deritanya tiada akhir.

“Lha, melu ora Bay?” Chiko menanyakan pertanyaan yang ketiga belas kali. Sama persis.

Bayu gojag gajeg tiada tara. Semacam ada yang aneh dengan gelagat manusia satu ini. Bahkan orang pintar pun kalau galau, kepintarannya berkurang 50%, setidaknya aku menemukan fakta soal itu hari ini.

“Aku nyusul yo.”

“Jadi piye?” tanyaku. Sebagai makhluk nebeng tingkat internasional, aku harus memastikan soal ini. Kalau dia nyusul, masak aku harus membawa Alfa, si odong-odong merah, ke pelosok babarsari yang menguras energi dan oli itu? Ampun!

“Yo gampanglah,” ujar Chiko, menenangkan. Jadilah Roman-Adel, Chiko, Ano, dan aku berangkat duluan ke pemancingan. Bayu tinggal. Tampaknya dia ada unfinished business yang kudu dituntaskan. Aku hanya menerka itu dari ekspresinya.

Pemancingan yang menjadi tujuan itu, sejujurnya aku baru tahu beberapa pekan silam. Letaknya di bawah jalan aspal. Jadi ada jalan menurun dulu kalau hendak menuju pemancingan. Ikannya? Banyak.

Beberapa pekan silam, Dolaners memang mancing disini. Kali ini, berhubung sudah siang, sudah lapar, dan hendak ke pantai, kami memutuskan untuk membiarkan pemilik pemancingan yang memancingkan. Toh, mancing atau tidak, harganya sama. Ya mending nggak mancing to? Wong, kalau mancing malah nambah beli cacing plus sewa pancing pula.

Sebutlah ini perspektif malas.

Oke, lanjut ya. Makan-makan ini tidak lain dan tidak bukan membahas Bayu. Mau nggak mau lah. Kami sendiri sudah memandang aneh hubungannya dengan Putri sejak lama. Awalnya sejak Putri yang ngebet sama Bayu, hingga kemudian dunia terbalik ketika Bayu begitu ngebet sama Putri. Sayangnya ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama.

Pacaran mereka juga aneh. Kalaulah Roman dan Adel, setidaknya tangan Adel masih nangkring di pinggang Roman kalau lagi boncengan sepeda motor. Putri? Bahkan Bayu sampai bertanya, kok tangannya nggak mau singgah di pinggang.

Pelbagai keanehan lain menjadi menu pembicaraan. Ini nggak nggosipin orang ya. Ini hanya pemaparan fakta-fakta disertai bumbu opini, disela-sela bumbu ikan bakar.

Satu jam setelah kami duduk di saung, Bayu muncul, masih dengan muka yang sama. Galau.

Piye Pak?”

Bayu tidak menjawab. Bagaimanapun sebagai teman, dan sebagai sesama pernah patah hati, tentu aku harus memahami. Kalau aku mungkin bukan pernah, tapi sering. Ups!

Perjalanan siap dilanjutkan. Aku terpaksa memegang peran sebagai driver sepeda motornya Bayu. Yah, membiarkan seseorang yang baru galau naik sepeda motor ke Paris bukan hal bijak. Lagipula, aku kan bisa mengorek kejadian-kejadian dan fakta-fakta sebenarnya sepanjang jalan. Ikut tanggung jawab juga ceritanya, soalnya dulu awal banget merekomendasikan Putri dengan Bayu. Putri temanku di awal kuliah, Bayu temanku dari SMA. Kupikir cocok, taunya? Haduh.

Perjalanan dimulai, berbekal handphone kamera pinjaman, kami berangkat ke Paris. Sebuah perjalanan seru siang menuju sore ke pantai paling ternama se-Jogja, eh, se-Bantul itu.

Kalau main-main biasanya banyak sepeda motor, kali ini cuma tiga. Nggak apa-apa, yang penting maknanya. Apa sih?

“Zonk, hidup ini ketoke hanya persoalan sudut pandang yo.”

Nah loh! Sebuah pernyataan bijak keluar dari otak si cemerlang ketika aku melaju manis di Jalan Paris.

“Lha piye Pak? Pedhot?”

“Iyo.”

“Bener sih Bay. Tinggal piye kowe ndelok’e wae. Nek arep loro yo loro.  Nek emang lebih baik, yo wis to.”

Gila! Mendadak bijak aku ini! Semacam hebat saja, padahal pacaran aja belum pernah. Yah, kita kan nggak kudu nyoba narkoba untuk tahu itu berbahaya kan? Jadi nggak kudu nyoba pacaran biar tahu itu menyakitkan? Waduh. Bisa single sepanjangan ini. Jangan deh. Amit-amit.

Perjalanan ke Paris ini enak, tinggal lurus wus wus wus. Mau pilih Jalan Paris atau Jalan Bantul, sama lurusnya kok. Banyak yang kencang-kencang disini. Dan sebagai anak muda harapan bangsa, skill naik motor aku, Ano, dan Roman, tidaklah buruk. Jarak ini masih standar untuk Dolaners.

Maka Paris sudah di depan mata. Kami masuk, parkir, dan siap menempuh kehidupan.Eleuh.

Nongkrong di sebuah tempat makan adalah kegiatan pertama. Bayu masih tampak gamang dengan muka pertapa, matanya memandang lepas ke lautan yang sama-sama lepas.

“Ayolah!” Chiko mengajak Bayu untuk melepas atribut dan segera menuju tepian.

Main air lantas menjadi kegiatan berikutnya. Tentu disertai foto-foto dengan handphone kamera pinjaman. Berbagai macam pose. Mulai dari pura-pura terbang hingga pura-pura mati. Dari ‘memegang’ matahari sampai ‘menduduki’ matahari.

Kami jalan jauh ke sisi bukit, hendak melihat air terjun. Sayangnya, tampak kandas. Air terjun itu kering. Yang kami lihat kemudian adalah, air.. eh.. kegiatan dua insan di atas batu. NGAPAIN ITU CEWEK SAMA COWOK DUA-DUAAN DIATAS BATU?

Dasar! Anak muda jaman sekarang suka aneh ah!

Kami yang tidak suka pergaulan bebas lantas foto-foto di dekat batu itu. Yah, aku yakin kedua insan itu akan bertobat segera melihat kelakuan kami yang nggak pindah-pindah dari batu itu dan malah foto-foto dengan berbagai pose.

Termasuk… foto pandang-pandangan Roman dan Adel yang banyakan gagalnya karena mereka malah saling menertawakan satu sama lain. Haduh. Pacar sendiri kok digituin. Ya begitulah cara mereka pacaran, lagi-lagi ini perkara sudut pandang. Bener juga kata master galau hari ini, Bayu.

Ketika mentari menjelang terbenam, Bayu yang lumayan pakar fotografi segera meminta Ano berpose macam-macam. Jadilah banyak foto siluet Ano dan sebuah benda bulat terang yang manis terlihat.

Lagi-lagi, ini tentang sudut pandang.

Ketika matahari akhirnya terbenam, kami meninggalkan pantai itu, berharap kegalauan Bayu segera musnah. Meski Bayu sudah kembali ke klub jomblo, tapi tentunya ini bukan kesenangan. Patah hati itu sakit, dan hanya menjadi nikmat kalau dilihat pada sudut pandang yang tepat.

* * *

Pria Romantis, Tapi….

Tanah lapang, gede banget, banyak debu, panas. Komplit. Aku melangkah berat di dalam sebuah kompleks milik Angkatan Udara dan menjelma menjadi perkemahan. Sebuah tempat yang diperoleh dengan penuh cerita. Jadi, kalau aku dulu diospek bersama dinginnya kaki Merapi, gabungan aktivitas erupsi Merapi dan gempa Jogja menyebabkan kehidupan berubah. Kalau dulu yang namanya ospek itu sudah jelas tempatnya, sekarang panitia yang harus memperjelas tempatnya. Tidak ada lagi patokan tahun lalu, karena opsi tahun lalu sudah dicoret. Ya, memang perkemahannya tutup. Mau bagaimana lagi? Entah harus bersyukur atau mengutuk, tapi aku termasuk panitia.

Perjuangan mencari tempat pengganti jadi warna berikutnya. Mulai dari ngos-ngosan memutari kawasan Candi Ratu Boko dan garuk-garuk aspal setelah melihat harganya sampai jauh-jauh melintas timur ke barat hanya untuk deg-degan waktu lewat waduk Sermo, bukan untuk mencari kitab suci. Semuanya dilakoni hingga akhirnya para panitia inti terpekur pilu kehabisan ide.

Perjalanan dari tempat ke tempat itu bermuara di area milik Angkatan Udara yang mau berbaik hati mempersilahkan anak-anak polos bin lutjuk ini memakai lahan, tentu dengan segala prosedur yang harus ditaati. Termasuk kudu push up karena pakai kaos pas survei lokasi. Kasian.

Itu sudah kisah sebulan yang lalu. Sekarang, aku, berbekal HT, melangkah riang gembira kesana dan kemari. Setidaknya memastikan bahwa yang tertulis di kertas lecek yang aku pegang benar adanya. Sebutlah namanya rundown, meski 24 jam lagi benda ini akan kehilangan nilainya, tapi kalau dia hilang sekarang, aku bisa langsung mencari jurang terdekat untuk lompat. Pedihnya sama seperti jomlo menahun kalau sampai benda yang dibahas sampai nangis darah ini lenyap, pada saat ini.

* * *

“Ko!” sapaku pada Chiko, vokalis band yang ternama, di level fakultas sih. Yang pentin ternama.

“Opo?”

“Buat kompensasi kemarin nih. Tapi tambahi durasimu.”

Kepanitiaan pas mahasiswa itu kudu profesional, termasuk pada teman sendiri. Jadi walaupun aku dan Chiko ini teman, kadang seranjang waktu nebeng di kosnya Roman, kadang-kadang dia curcol kalau galau, tetap saja dia ngamuk waktu kemaren durasinya aku potong. Takdir pemilik dan pengelola acara, kudu nekat dan sedikit tega demi kemajuan nusa dan bangsa.

Setelah melancarkan aksi damai antara seksi acara dengan seksi kesenian yang mengisi acara, aku kembali berputar-putar nari balet. Anggap saja kontrol situasi, meskipun sebenarnya sembari dan seraya mengamati kalau-kalau diantara mahasiswa baru berbaju kuning ini ada yang berjenis kelamin cewek dan kece. Itu kan sembari dan seraya saja, sisanya tetap fokus pada kerjaan.

Malam menjelang. Para maba tampak lelah berpanas ria seharian, dengan baju yang sama mereka akan melalui malam. Aku, tetap berkeliling membawa tiga benda utama, kertas lecek berupa rundown, HT, plus jam tangan butut. Tragedi nasib memang membawaku pada tiga benda keramat itu. Tak apa sih, setidaknya aku bisa memantau kalau di sudut panggung sana ada…

…si Chiko. Mungkin dia sedang persiapan untuk tampil di panggung. Eh, tapi kok lagi dua-duaan sama cewek?

Wah! Ini nggak bener. Setahuku si Chiko ini masih jomlo sejak jadi playboy setahun silam. Definisi playboy adalah dalam 1 semester bisa pacaran dua kali, sementara temannya dalam 1 semester gagal menggebet sampai lima kali. Itu aku.

“Ini nggak seperti yang terlihat. Playboy itu kan menyakiti. Lah aku?”

Itu tadi retorika klasik khas Chiko. Aku sampai bosan mendengarnya, tapi agak-agak miris juga kalau mendengar kisahnya. Jadi, kalau ada cowok berganti-ganti pasangan, itu bukan berarti dia playboy. Bisa jadi itu dia dicampakkan berkali-kali. Aku lantas mencari kawan-kawanku yang lain sesama teman tidur dan nonton bokep di kos Roman. Bayu, yang lagi asyik dengan kamera orang lain—maklum seksi dokumentasi—segera kudekati.

“Itu apaan tuh?” Aku menunjuk Chiko yang lagi dua-duaan di sudut panggung sana.

“Weeehhhh.”

Pemandangan unik dan antik ini harus diperjelas. Sebagai sesama pria jombo yang nyaris korosi menyaksikan Roman asyik pacaran di kosnya tanpa mempedulikan para pendatang dan nebengers yang jomlo menahun ini, fakta Chiko yang terlihat berduaan tentu agak janggal. Janggal ya, bukan Jonggol. Kalau Jonggol itu dekat Bekasi. Jauh.

Namanya sesama, senasib, dan sepenggalauan, mestinya kan ya saling curhat to ya? Dan menurut daftar curhat yang aku punya, gadis yang ini tidak ada. Gadis ini baru masuk ke pembicaraan kemarin! Belum sampai level dicurhatin karena bikin gemes. Cepet juga ini bocah?

Malam semakin larut, sesekali Chiko naik panggung, pada kali lain tentu jatah penampil lain. Ada drama dari panitia, juga ada penampilan dari peserta. Ini kok macam membosankan juga ya? Bahkan aku yang bikin acara saja bosan. Aku malah semakin tertarik dengan Chiko yang makin intens berdua-duaan sama Irin. Adik kelas satu tahun nih ceritanya. Sebagai pewarta warga yang butuh klarifikasi, aku nekat SMS Chiko.

“Hayo! Ngopo kowe?”

Dan seperti biasa, Chiko akan membalas dengan berbagai retorika yang membuatku malas melanjutkan SMS itu. Huh! Sekadar intermezzo, dalam agenda putar-putarku di sekitar panggung, aku malah menemukan Riono sedang asyik berdua dalam gelap dengan Riana. Bagaimana mungkin? Biasa sih. Maklum, mereka ini pasangan baru. Masih fresh from the oven. Malam ini dingin dan mungkin mereka saling menghangatkan karena mereka berdua sama-sama memegang obor. Siapa yang percaya kebetulan di dunia? Memangnya kebetulan dari mana ketika satu cewek dan satu cowok sama-sama dikasih nama dengan huruf depan R, lantas nomor absen urut-urutan 87 dan 88, plus satu kelompok terus dalam kuliah apapun. Kebetulan darimana coba?

Kalau aku percaya, itu adalah singgungan garis-garis nasib. Agak beda konsep dengan kebetulan. Nggak apa-apa, mau kebetulan apa nggak, nyatanya mereka sekarang pasangan kekasih yang jadian di sela-sela jadi relawan selama gempa.

Selingan berikutnya, ini yang aku dari tadi amati. Si Bayu kok kalau habis ngambil foto kok mepet-mepet Putri? Putri kemana, Bayu ngikut. Putri ke WC, Bayu siul-siul depan WC. Putri nari balet, Bayu angguk-angguk. Aduh-aduh, ini mungkin disebut CLBK alias Cinta Lama Belum Kelar. Kalau ibarat kata pepatah Jawa, teklek kecemplung kalen, tinimbang golek, mending balen. Bakiak masuk sungai, daripada nyari mending balikan.

Dan iklan yang terakhir adalah aku sendiri. Namanya juga usaha. Sambil menyelam, makan koral. Tetap tebar pesona, tuai penderitaan, tampang selalu profesional.

Bulan makin terang di atas ketika acara selesai dan seluruh peserta masuk ke tenda masing-masing. Tentu saja yang cowok setenda dengan sesama cowok. Bagaimanapun membuat pepes manusia itu lebih enak kalau sejenis. Kalau dua jenis dalam satu cetakan, itu tidak homogen, ada kontaminan. Aku ngantuk sebenarnya. Semalam tidur larut karena problem sepanjang hari waktu acara hari pertama. Tapi karena aku terbilang rombongan terakhir yang masuk tenda besar panitia, aku harus gigit jari kaki karena tempat tidur disana penuh. Aduh.

Daripada aku jadi pepes manusia di dalam, aku akhirnya keluar, nongkrong bersama panitia-panitia lain yang tampak masih terjaga. Ada Alin disana. Aku duduk disampingnya. Sebutlah ini kesempatan dalam keluasan. Ya emang tempat di sampingnya itu kosong. Sekalian saja, gitu.

Aku dan Alin lantas larut dalam obrolan malam, mulai dari acara seharian sampai RBT-ku yang separuh galau setengah risau ‘Hapus Aku’. Gimana nggak miris kalau begitu menelepon aku, nada deringnya, “Yakinkan aku Tuhan, dia bukan milikku. Biarkan waktu, waktu, hapus aku.”

Ketika langit semakin cerah oleh bintang-bintang, aku dan Alin ngobrol sambil melihat benda langit itu dalam posisi punggung-punggungan. Aduh, deg-degan sih. Semua sempurna mulai langit, obrolan, dan Alin. Satu hal yang tidak sempurna adalah si Alin ini pacar orang. Udah.

Tanpa diduga, cecunguk bernama Chiko bangun dan keluar tenda.

“Aku ganggu yo?”

“Nggak,” jawabku ringan.

Chiko lantas menjadi pihak ketika antara aku dan Alin. Jadilah, mengurangi suudzon orang lain gitu ceritanya. Sambil aku nekat tembak si vokalis playboy ini, “Tadi ngapain?”

“Nggak apa-apa kok.”

Hish. Malas kali aku sama bocah ini. Mata pewarta wargaku sudah melihat dengan jelas kok. Masih membantah. Cling! Tiba-tiba aku ingat, sehabis ini acaranya anak-anak baru nan unyu itu disuruh jalan malam sambil belajar sedikit-sedikit soal kuliah di beberapa pos. Dan aku ingat juga kalau Chiko ini, aku tempatkan sama Irin di satu pos.

Hayo! Kalau nanti aku lihat lagi, dan masih ngebantah, tak ajak sunat ke Bogem! Kalau sudah, ya sunat lagi.

Nggak terasa, sesi punggung-punggungan melihat bintang selesai. Obrolan yang indah dan sempurna seandainya Alin itu jomlo. Baiklah, mari profesional. Acara berikutnya siap dilakoni, dimulai dengan membangunkan para peserta. Pada jam peserta dibangunkan, aku bahkan belum tidur SAMA SEKALI!

Mulailah pagi menjelang, pelan-pelan bulan bersembunyi. Aku mulai berjalan mengikuti anak-anak muda ngantuk itu. Tepat di pos Chiko yang lagi kosong, aku mendapati sebuah penampakan.

Irin bersandar di bahu Chiko! Asem! Ini bocah beneran playboy dah! Perlu aku sembah habis ini.

* * *

Bulan yang tadi sembunyi sudah berganti matahari yang terik. Persis ketika peserta-peserta berkumpul sehabis berngantuk ria di pagi buta, aku mendapatkan intermezzo lain soal Bayu dan Putri. Si Putri dengan cueknya di tenda panitia, Bayu dengan muka berharapnya. Ah! Beginilah cinta. Kata Pat Kai, deritanya tiada akhir. Aku sendiri heran, karena dulu Putri yang ngebet sama Bayu. Kenapa sekarang jadi kebalik? Apa dunia emang sudah kebalik dan aku nggak dikasih tahu?

Rangkaian acara panjang itu akhirnya selesai. Mobil-mobil besar milik tentara yang disewa dengan tarif miring sudah mengangkut pemuda-pemudi harapan bangsa dan mertua itu kembali ke kampus. Tinggallah panitia-panitia dengan muka lusuh penuh kantuk karena nggak tidur. Meski mataku semakin sipit oleh karung mata berikut silaunya matahari, tapi masih dapat melihat sebuah pemandangan kontradiktif dengan keindahan yang aku lihat tadi pagi buta.

Chiko sembab di panggung, sendirian, tidak jauh dari tempatku terjongkok miris membongkar tenda.

Playboy nangis?

“Chiko ngapa?” tanyaku pada Yama, bos acara ini, yang kebetulan juga satu kumpulan. Cuma Yama lebih memilih tidur siang di kosku. Mungkin lebih tentram dan bebas gangguan.

“Pedih.”

“Kok?”

Yama lantas bercerita panjang lebar tentang kejadian yang barusan dia hadapi. Seorang pria bernama Peter datang menjemput Irin. Yama yang juga melihat semua yang kulihat dari semalam lantas nekat tanya, Peter ini siapanya Irin. Dan dengan bahagia Peter menjawab kalau dia pacarnya Irin. Aku tidak mendapati kejadiannya, sehingga aku tidak melihat korelasinya dengan playboy yang lagi galau sendirian di panggung yang sudah kosong.

Aku dan Yama masih membongkar tenda di bawah terik matahari yang akan dengan sukses membakar kulitku yang sudah terbakar. Untung aku sudah pakai lengan panjang. Lumayan mengurangi mestinya. Mungkin Chiko melihatku dan Yama, karena sekejap kemudian dia berdiri dan berjalan lemas ke arahku. Dan pada saat bersamaan muncul juga Bayu, sama galaunya meski tidak terlalu gontai. Dua teman tidurku ini tampak patah hati.

Yama mengulang poin-poin utama ceritanya. Akupun mulai mendapati hubungan cerita Yama dengan sosok Chiko yang berdiri lemas di depanku. Sambil mencabuti pasak-pasak dan melipat tenda, kami berempat ngobrol ringan. Seringan chiki.

“Ini anak juga. Tadi ngapain sampai mukul-mukul pohon?” tanya Yama pada Bayu.

“Olahraga,” jawab Bayu. Sungguhpun orang kalau sudah pintar itu, ngelesnya juga pintar. Satu paket isi otak, pakai sambel.

Hampir semua kumpulan kami ikut ajang ini. Termasuk Riono yang penganten baru, ikut juga Prima yang masih setia pada aktivitas mengincar cewek ras Tionghoa yang membuatnya dipanggil Koko oleh sebagian adik kelas, padahal aku tahu pasti kalau Prima tidak punya darah Tionghoa sedikitpun. Termasuk tidak pernah menerima transfusi darah dari orang Tionghoa. Roman-pun ikut, meski tidak bersama pacarnya.

Inil adalah kumpulan manusia-manusia yang suka menjatuhkan dan menginjak-injak. Jadi kalau lagi galau, bukannya dihibur, tapi ditambahi. Ekstrimnya, kalau lagi berdiri, dijatuhkan. Kalau lagi jatuh, diinjak-injak. Kalau lagi diinjak-injak, dikubur sekalian. Aneh kali persahabatan ini!

Cerita menjatuhkan saling terlontar, termasuk aku juga kena karena Chiko saksi kelakuanku tadi pagi, berduan dengan pacar orang. Aku juga tahu, bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari Alin. Dia sudah saling berharap dengan kekasihnya. Merefleksikan semua hal itu, dalam tawanya yang mulai lepas, Chiko berkata, “Kita ini kan pria-pria romantis.”

“Tapi kisahnya nggak pernah romantis,” celetukku secepat kilat.

Semua tertawa keras, Yama, Chiko, Bayu, dan aku melepas keriangan ke udara. Menertawakan kepedihan—dalam hal ini—mungkin adalah cara yang paling cepat untuk mengenyahkannya.

* * *

Paingan: Metamorfosa Penuh Memori

Pagi-pagi, habis mandi. Seharusnya sih segar, tapi layaknya karyawan lain pada umumnya, even itu yang levelnya bos sekalipun, pasti ada rasa jenuh. Sebuah rasa abstrak yang terenkripsi menjadi malas. Ya, intinya pagi itu aku malas. Kalau pagi-pagi lainnya sih rajin.

Di pagi yang belum jam kerja ini tiba-tiba handphone-ku bergetar. Sejak kejadian ringtone ‘Hujan Nggak Ada Ojek’ Cinta Laura yang membahana hanya tiga meter di belakang Manager QA paling galak se-Cimanggis, aku nggak berani menyalakan fungsi bersuara. Ini semacam miris, tapi ini lebih baik daripada kejadian bodoh itu terulang lagi.

Telepon dari orang HRD! Haduh, sepagi ini, yang nelpon HR pula!

“Halo?”

“Pak, sory ganggu.”

“Gitu tau ganggu.”

“Hehe. Cuma mau tanya, kampus lu sebelah mana Pak?”

“Lu di Jogja?”

“Iye, rekrutmen. Dimana? Ini supir taksi kagak ngerti Paingan.”

“Supir taksi baru kali tuh.”

“Ancer-ancernya deh.”

“Lu dimana?”

“Jalan Diponegoro. Amaris.”

Dan di pagi itu, seorang eksekutif muda wanna be dalam posisi hanya berlapis handuk, memegang telepon dari HRD, dalam rangka menjelaskan sebuah tempat yang jaraknya 12 jam dari tempatnya berada. Itulah aku.

“Jadi ntar suruh sampe ring road utara dulu. Terus suruh kea rah bandara. Kalau ketemu ruko-ruko gede namanya Case Grande, ntar belok kiri. Ada plangnya merah.”

“Ribet yak?”

“Haduh. Kalo nggak bilang aja, deket stadion Maguwoharjo. Stadion Sleman yang baru.”

Perkara stadion ini kadang bikin ngehek. Ketika aku menginjak Paingan untuk pertama kali, tertulis dengan mantap di pintu proyek ‘200 Hari Lagi’. Kemudian? Bahkan stadion ini baru dicat waktu aku semester tua. Yah, itulah Indonesia.

“Gitu ya Pak?”

“Kalo nggak ngerti dua-duanya. Berarti itu supir suruh resign aja jadi supir.”

“Hoho. Sip Pak. Makasih yo.”

“Siap.”

Telepon ditutup, giliran handuk dibuka. Sebuah kegiatan wajib di kamar yang tiada boleh diceritakan dengan gamblang. Bukan apa-apa, karena memang tidak akan mengundang nafsu, adanya malah jijik. Sepertinya sih.

Sebuah pertanyaan di pagi malas membuatku terbawa kembali ke masa silam. Ke sebuah tempat bernama Paingan. Lengkapnya, Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

 * * *

Aku tahu Paingan itu beberapa hari sesudah aku diterima di Fakultas Farmasi. Universitas mana? Ini adalah universitas yang cukup ternama. Sebutlah itu Universitas Sanata Dharma, institusi yang sama persis dengan yang dipilih Bapak untuk menimba puluhan tahun silam sehingga lantas Bapak menamaiku dengan nama yang sama persis.

Percayalah, menyandang beban nama universitas itu beban paling berat sepanjang hidup. Untunglah nama yang aku sandang adalah tempat dengan reputasi baik dan—setidaknya sampai aku lulus—humanis.

Di Minggu pagi yang risau, aku melajukan sebuah odong-odong merah bernama Alfa ke sebuah tempat bernama Paingan. Ini semacam miris karena aku sudah tiga tahun tinggal di Jogja, dan Paingan itu tidak sampai 7 kilometer dari tempatku tinggal, dan aku belum pernah kesana.

Paingan adalah sebuah desa yang bahkan tidak berbatasan langsung dengan ring road utara. Kalau berjalan dari arah Condong Catur ke Bandara, di tengah-tengah akan ada plang merah merona yang menantang karena besar sekali. Itulah satu-satunya penunjuk bahwa dengan belok ke kiri akan ada tempat besar yang nantinya akan penuh kenangan bernama PAINGAN.

Asal tahu saja, aku bahkan tidak langsung menemukan kampus USD itu dalam sekali pencarian. Sampai stress putar-putar dan ketemunya Instiper hingga Pasar yang akrab disebut Pasar Stan. Itu lebih menandakan bahwa aku adalah orang yang ‘malu bertanya sesat beneran’. Aku baru menemukan kampus megah, besar, dan cukup luas itu setelah 4 kali melihat plang merah dan dua kali bertanya plus sekali beli roti. Lapar soalnya.

Anggaplah itu tadi perjuangan menemukan tempat untuk berjuang. Paingan dan kampus 3 USD kemudian menjadi tempat yang tidak terpisahkan dari dua kata: metamorfosis dan memori.

 * * *

Ketika pertama kali menginjak Paingan dan kemudian putar-putar ketika sudah jadi mahasiswa yang kuliah disana, tempat itu tidaklah maju benar. Layaknya area kampus, yang ada di sana hanya tempat fotokopi dan warung makan, serta tentu saja kos-kosan.

Ironi paling mendasar dari Paingan di tahun 2004 adalah TIDAK ADA WARNET SAMA SEKALI! Inilah yang kemudian membuat orang menyebut Paingan sebagai dusun. Secara struktur kenegaraan sih nggak salah-salah amat. Tapi secara pengucapan, sudah jelas itu sindiran.

Warnet pertama akhirnya muncul di tahun 2005 awal, namanya K@MI SAMA. Sebuah nama yang agak mengundang tanda tanya sebenarnya. Kalau koneksinya sih mengundang tanda seru. Maksudnya? Silahkan terka sendiri.

Entah berhubungan atau tidak, atau memang era itu adalah terlalu pesatnya kemajuan ekonomi, sejak munculnya warnet ini, Paingan menjadi berubah signifikan. Usaha-usaha silih berganti datang dan pergi. Usaha khas kos-kosan macam Laundry, Rental VCD, hingga Rental Komik adalah usaha-usaha yang tumbuh-mati-tumbuh-mati selain warung makan, kos-kosan, dan rental PS.

Sejak saat itu, Paingan bukanlah dusun buatku. Setidaknya kalau mau beli shampoo ada Agatha. Kalau mau rental VCD ada Star Otopia. Hendak beli nasi yang bikin kangen rumah? Sebutlah Carano. Mau laundry yang cepet? Ada Fortitu-B. Pengen cuci motor? Ada Cucian Motor Mbah Mardi. Bagian ini anggap saja promosi.

Apalagi hayo? Fotokopi? Pada masanya ada Pena Mas, lalu lanjut Alaska, Akiyama, hingga Melina yang terkenal dengan mbak-mbak yang jutek. Mau beli obat? Ada apotek juga disana. Getol main PS? Hajar ke Sakura. Atau ingin ngangkring? Capcus ke Angkringan Agung kalau begitu.

Paingan sudah memberikan support untuk hidup. Okelah kalau hendak hura-hura dikit, bisa keluar via ring road, Gejayan dan seterusnya. Ehm, bahwa aku melakukan itu hampir setiap hari. Maklum, ceritanya aktivis. Aktif mencari makanan gratis.

Paingan adalah saksi ketika anak-anak berwajah unyu ditempa menjadi pria dan wanita bergelar SARJANA. Dan kemudian meninggalkan Paingan dengan penuh haru. Metamorfosis. Anggaplah itu sama. Bagaimanapun, pria dan wanita itu tidak sekadar dibentuk oleh kampus dan lingkungan. Tapi ada latar tempat, dan itu jelas Paingan.

Meski Paingan di Google tidak banyak ditemukan, bahkan yang lebih banyak muncul adalah Paingan, Ilocos Sur, Filipina, tapi tentu tidak mengurangi nilai dari tempat yang menjadi sarana perubahan penuh sentimen itu.

Paingan memang belum cukup lama dipakai, masih belasan tahun. Jadi wajar kalau lulusan Paingan belum banyak yang mentereng. Tapi yang calon mentereng? Banyak! Ada yang jadi mandor di pabrik obat panas dalam terkemuka, ada yang jadi penunggu gudang produk multivitamin anak yang tenar, ada pula yang pegang mesin-mesin untuk pabrik-pabrik ternama di Indonesia.

Orang-orang itu hendak menjelma dan bermetamorfosis kembali menjadi lebih besar. Itu pasti. Sebuah perubahan yang pernah terjadi di tempat bernama Paingan kemudian masuk menjadi memori. Yak, 3 tahun adalah batas minimal orang ditempa di Paingan, dan sangat tidak mungkin memori selama itu hilang semua. Dalam rentang 3 hingga tahun yang tak boleh disebut, pastilah proses metamorfosis itu masuk dan meresap di memori. Buatku itu pasti.

Aku sendiri dapat tambahan nama di 2008 dan 2009 sejak menginjak Paingan pada 2004. Rentang waktu yang ada itu tentunya sangat cukup untuk membuat banyak memori di otak, apalagi untuk orang dengan level melankoli berlebihan macam aku.

Perubahan dalam wahana bernama waktu itu jelas terasa ketika kemudian aku harus membongkar poster-poster kiper di kamarku, membongkar kabel komputer, melepas semua yang tertempel di dinding, untuk pindah. Pindah dari Paingan adalah hal yang sulit, namun menjadi mudah ketika dengan gelar di belakang nama, masih nekat berkeliaran di Paingan, tanpa pekerjaan.

Bagiku, sebuah kompilasi memori pasti akan memunculkan sebuah album. Judul album itu: UKF Dolanz-Dolanz. Sebuah jejak masa muda di tempat bernama Paingan. Sebuah jejak muda yang penuh dengan cerita. Sebuah jejak belia yang tiada lekang oleh masa.

* * *

Maunya ini bakal jadi semacam Buku Anak Kos Dodol. Berhubung ini baru niat, mohon didoakan karena saya biasanya jago dalam berniat. Udah, berhenti gitu doang sih. Hehehehe…

Kesempatan

Jona meradang setiap kali mengamati timeline Twitter. Entah bagaimana ceritanya dua orang yang suami istri bisa komen-komenan di TL, padahal mereka sebelahan?

Ah, bukan itu sebab radangnya.

Jona adalah penikmat setia TL Tian, meski Tian bukanlah follower dari Jona. Pun sebenarnya Tian juga bukan artis.

Jadi?

Jona hanya meradang betapa Tian dengan mudah beradu retweet romantis dengan seorang pria yang Jona tidak tahu siapa.

Pasal apa sih?

Sepele, Jona naksir Tian. Ini keniscayaan.

Dan sebagai follower sejati, Jona hanya berharap kesempatan. Tapi bahkan berbagai mentions pun tidak berwujud kepada sekadar saling follow. Pedih juga kalau begini ceritanya.

Lama-lama Jona berpikir, mungkin lebih baik un-follow saja Tian. Jadi tidak repot otak karena melihat TL.

Hmmmm..

Jona sempat un-follow Tian dan sejurus kemudian follow lagi. Tak lama, sebuah mentions masuk plus angka follower bertambah.

Siapa?

@T1an_Ayu: @J0jonat eh, baru follow?

@Jojonat: uda lama kok @T1an_Ayu. Kenapa?

@T1an_Ayu: nggak apa-apa kok (^_^)v

Mentions berhenti, tidak ada bahan untuk mentions lagi, walau naksir. Dasar pria payah.

@T1an_Ayu: malam minggu sunyi, butuh puisi cinta..

Tampaknya ini gadis sedang galau. Dengan mengumpulkan tekad dan niat, Jona beraksi dengan mentions:

@Jojonat: siap hadir untuk puisi cinta pada @T1an_Ayu.. #eh

@T1an_Ayu: serius @Jojonat? RT siap hadir untuk puisi cinta pada T1an_Ayu.. #eh

@Jojonat: menunggu itu ga enak, kecuali menunggu cinta @T1an_Ayu #TianPoem

@Jojonat: cinta itu diam pada keindahan @T1an_Ayu #TianPoem

@Jojonat: ketika kata-kata tak bermakna, rasalah yang menyatakan cinta @T1an_Ayu #TianPoem

@T1an_Ayu: sweet word @Jojonat! Thanks!

@Jojonat: aku punya lebih lho @T1an_Ayu.

@T1an_Ayu: apa? @Jojonat

@Jojonat: cek http://t.co/S5tYJwpH @T1an_Ayu. 🙂

Jona berdebar-debar sampai sejurus kemudian page view di blog-nya bertambah 1. Jona lalu cek ke dashboard dan penglihatan itu berasal dari link di Twitter. Pastilah Tian.

Jona hanya menunggu respon balasan dari Tian ketika ia membaca review sebuah buku yang berkisah tentang cinta diam-diam Jona pada Tian.

Sebuah respon penantian, akan sebuah kesempatan.

 

Pintar

“Pinter cucu kakek,” ujar Pak Tino kepada cucunya, Mora,  setelah lelaki mungil itu mengambilkan asbak.

“Pinter itu sebenarnya apa kek?” tanya Mora.

“Pinter itu kalo kamu mengerjakan sesuatu dengan fasih, Mora. Selain itu, pintar itu kalau kamu bisa mengatasi masalah dengan baik.”

“Bukannya di sekolah dibilang, kita sekolah biar pintar kek?”

Pak Tino mengambil rokok klobotnya, sambil menggulung benda keramatnya itu ia berkata, “Sekolah tinggi-tinggi nggak ada gunanya Mora, kalau kamu tidak bermanfaat bagi orang lain. Pintar itu lebih dari sekadar sekolah. Memangnya yang sekolah tinggi-tinggi itu bisa nge-sol sepatu? Nggak kan?”

“Iya sih kek. Lalu gimana caranya biar Mora tetap pintar? Kan katanya tadi Mora pintar?”

“Cucu kakek pandai juga bertanya ya. Gampang kok Mora. Kalau kamu sudah pintar, tetaplah mendengarkan orang lain. Di dunia ini orang pintar itu banyak, tapi sebagian terjebak.”

“Pada apa kek?”

“Terjebak dalam diri sendiri, sudah merasa pintar sendiri.”

“Lalu kek?”

“Lalu mereka nggak ada mudah menerima perubahan. Padahal bumi saja berputar. Artinya perubahan itu adalah bagian dari hidup.”

“Jadi kek?”

“Selalu dengarkan orang lain, Mora. Pikirkan pendapat orang lain, olah dengan kepintaran kita, dan cari yang terbaik. Kita manusia Mora, pasti nggak sempurna.”

Mora mantuk-mantuk ringan. Pak Tino tersenyum simpul sambil menyalakan rokok klobotnya.

Karyawan Biasa

“Yak, selamat siang bapak dan ibu sekalian. Kali ini kita mau rapat tentang pengelolaan keuangan kantin sekolah.” Pak Kepala Sekolah membuka acara rapat.

“Kita perlu panggil Pak Joko, pengelola kantin sekolah?” tanya Pak Wakil Kepala Sekolah Bidang Keuangan.

“Nggak usah. Dia kan sampah,” sebut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

“Baiklah. Jadi sesuai ide dari Pak Wakasek Keuangan, pengelolaan keuangan kantin yang dipegang oleh bawahan Pak Joko yakni Susi akan ditarik dan disentralisasi ke Mila di perpustakaan dalam rangka pengiritan. Bagaimana setuju?”

“Pada prinsipnya setuju Pak,” ujar Wakasek Kesiswaan.

Meeting-pun berjalan dengan hangat.

Keesokan harinya, Pak Joko bertanya, “Pak, ini keuangan kantin nggak ada yang ngurus. Apa benar Susi di-PHK?”

“Iya. Hasil rapat kita kemarin Pak Joko,” jawab Wakasek Keuangan.

“Rapat?”

“Iya, bersama kepala sekolah.”

“Saya nggak diundang?”

“Buat apa Pak? Ada urgensinya?”

Pak Joko hening, ia memilih putar arah kembali ke kantin. Baru sampai kantin, Wakasek Keuangan melepon.

“Halo Pak?”

“Pak Joko. Itu stok air mineral kok saya hitung bisa habis dua tahun. Anda pasti kebanyakan belinya ya?”

“Data darimana Pak?”

“Ya, ini saya ada dapat data. Tentunya terpercaya.”

“Itu untuk kepentingan event cerdas cermat bulan depan Pak. Dan sebagian besar lain untuk Porseni di sekolah kita dua bulan lagi. Saya order dalam rangka perintah dari Pak Kepala Sekolah untuk menekan ongkos kantin.”

“Ah, anda pasti salah hitung.”

“Ya memang begitu Pak.”

“Baik. Saya catat. Tapi tolong besok laporkan dengan baik.”

Pak Joko menutup telepon dengan hening. Ada cara-cara yang signifikan hendak menyingkirkan dia, seorang karyawan biasa di kantin sekolah.

“Kiranya Tuhan menolong saya,” gumam Pak Joko, sambil melanjutkan tugasnya, melayani di kantin.

Petualangan Pio

Langkah terseret-seret dengan nafas terengah-engah menjadi nuansa yang tampak di tempat yang sepi itu. Bahwa itu adalah satu-satunya benda bergerak di tempat yang sama sekali tanpa gerakan adalah fakta yang tak terbantahkan. Pio masih saja menyeret langkahnya dalam kelelahan yang amat sangat. Tapi kata orang-orang di bawah sana tadi, kalau ada halangan apapun tetap berjalan, kalau nggak bisa berabe. Jadilah Pio memaksakan langkah yang sudah tanpa energi itu.

Di sekeliling Pio hanya ada batu dan batu, semuanya batu. Bahkan lumut pun tidak ada. Batuan itu kering sama sekali, mungkin sudah tiga purnama tidak ada hujan di tempat itu.

“Apapun, demi Lena,” gumam Pio dalam lelahnya.

Pio kemudian sampai di sebuah tebing dengan kemiringan 92 derajat alias miring ke arahnya. Pio mendongak sekilas, ada lubang disana. “Pasti itu gua-nya. Lena, tunggu aku,” teriak Pio heroik macam di tivi-tivi.

Pio mengulurkan tangannya untuk memanjat tebing batu yang curam itu.

“Darrrrrr….”

Baru dua langkah naik, Pio terjatuh. Sebuah ledakan kecil terjadi hanya 5 cm dari jemari Pio yang menggapai-gapai.

“Huahahahaha.. Berani juga kau kesini, Pio!” tawa dengan suara dalam terdengar menggema di bebatuan.

“Acarbos?” bisik Pio lemah.

“Sudahlah Pio. Hentikan pencarianmu pada Lena. Jangan habiskan hidupmu sia-sia. Hahahahaha.”

“Tidak. Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Kalau kau bisa. Silahkan saja.”

Pio tampak seperti ngobrol dengan batu. Suara Acarbos hanya menggema di seluruh bebatuan tanpa jelas sosok itu ada di sebelah mana. Pio tahu, kalau memanjat konvensional, dia pasti tidak akan berhasil menuju lubang di atas tebing. Pio lantas menunduk dalam, penuh konsentrasi. Beberapa detik kemudian tangannya terangkat ke atas dan Pio berteriak, “Ubidekarenontranexa.”

Tiba-tiba angin yang awalnya sepoi-sepoi ringan mendadak mengumpul membentuk pusaran di sekitar Pio. Matanya masih terpejam penuh konsentrasi. Pusaran angin itu perlahan mengangkat tubuh Pio ke udara.

“Darrrr… Darrrr…” Suara ledakan-ledakan terdengar di tebing batu. Tampaknya Acarbos tidak mempersiapkan perlawanan untuk upaya Pio yang satu ini. Lewat udara!

Pusaran angin itu berhasil membawa Pio sampai di atas tebing. Matanya seketika terbuka dan ia melompat sekuat-kuatnya menuju lubang besar di atas tebing. Sayang, lompatannya kurang sempurna, Pio mendarat dengan kepala dahulu. Darahpun sontak mengucur dari kepalanya.

Dari luar masih terdengar ledakan-ledakan dinding tebing dan sesekali menggoncang landasan tempat Pio berdiri.

“Lenaaaaaa…,” teriak Pio. Lubang itu ternyata awal dari lorong yang sangat panjang. Teriakan Pio lantas tenggelam oleh ruangan. Pio menoleh sekeliling, ekspresinya mulai menyiratkan putus asa.

“Darrrrr…”  Ledakan terjadi lagi, kali ini di dekat kaki Pio, sontak ia berlari sekencang-kencangnya.

“Acarbos? Mau apa kau?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu? Mau apa kau di tempatku?”

“Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Hahahaha.. Cobalah kalau kau bisa!” Acarbos mengeluarkan pernyataan yang sama.

Pio berlari terus guna menghindari Acarbos. Sebuah pertaruhan karena Pio tidak tahu sama sekali ujung dari lorong yang ia lalui. Sepanjang jalan, sambil berlari, Pio berteriak, “Lenaaaa.. Lenaaaa…”

“Pio!”

Sebuah suara yang sangat Pio kenal terdengar memanggil. Pio berhenti dan melihat ke sekeliling. Pandangannya berhenti pada sosok gadis yang terikat di sebuah batu besar.

“Lena!”

Pio berlari mendekat, tapi ledakan kecil menghalangi langkahnya.

“Hahahaha.. Bagus sekali. Pioglitazon datang kesini mengorbankan dirinya untuk Adapalena. Sebuah kisah heroik. Luar baisa.” Suara yang sama dengan bauran gema di bawah tebing tadi terdengar lagi. Siapa lagi? Pastilah Acarbos.

Pio berdiri dengan kuda-kuda maksimal. Matanya awas ke sekeliling. Tiba-tiba ledakan-ledakan kecil tanpa jelas sumbernya terjadi di sekitar tempatnya berdiri. Pio melompat dan melangkah menyesuaikan ledakan yang terjadi. Perlahan Pio mendekat ke arah Lena.

Tapi aneh!

Setiap kali Pio mendekat ke arah Lena, batu besar itu tampak bergerak, sehingga Pio tidak pernah sampai ke tempat Lena berada. Pio mempercepat larinya, batu itu bahkan tidak tampak mendekat sekalipun. Pio perlahan menjadi lelah mengejar batu itu dan Lena yang terikat disana.

“Pio! Tolong aku!” teriakan Lena di ujung sana menggelorakan kembali semangat Pio.

Pio mulai berpikir kembali, dia harus memakai cara lain. Mantra. Tapi kalau mantra ini menghancurkan batu itu, tentunya Lena akan ikut hancur? Pio mendadak shock membayangkan kemungkinan itu. Tangannya mengepal tanda gemas dan bingung memilih solusi. Di balik kebingungannya Pio kembali mencoba berkonsentrasi.

“Hatimu yang menentukan, Pio. Hatimulah yang akan menang.” Tiba-tiba Pio teringat petuah Guru Besar Ceftrizidim.

“Hati! Hati! Hati!” gumam Pio, mencoba mencerna petuah Guru Besar Ceftrizidim. “Hatiku adalah Lena! Hyaaaaaa….”

Pio mundur doa langkah kemudian berlari maju tapi kali ini tubuhnya perlahan condong menjadi horizontal, tubuhnya juga berputar layaknya mata bor. Dalam pusaran tubuhnya Pio berteriak, “Klomifena Cisaxikam.”

Tubuh Pio melayang persis ke arah Lena terikat.

“Piooooo!” teriak Lena ketakutan.

Dua meter sebelum mencapai tubuh Lena, Pio membelokkan arah dan mulai memutari batu tempat Lena terikat. Pio mengitari batu itu dengan secepat kilat.

“Arrrrgggghhhhhh…” terdengar suara Acarbos. Aha! Ternyata Acarbos adalah batu tempat Lena terikat!

“Sekarang saatnya!” ujar Pio pada putaran ke 173. Tangannya mulai bersiap menggapai Lena. “Tangan, Lena! Tangan!”

Tangan Lena yang terlepas ikatannya karena efek pusaran Pio menggapai ke atas. Pio melihatnya dengan jelas, lalu berteriak, “Risedrona Mekobala.”

Sesudah berteriak demikian, tangan Pio menggapai tangan Lena dan menariknya seketika ke arah atas, sementara Acarbos tampak mulai retak-retak dan kemudian meledak.

Pio dan Lena yang terkapar dalam kondisi berpelukan melihat kehancuran Acarbos dengan jelas. Nafas keduanya terengah-engah, Pio malah baru merasa pusing.

“See? Jadi siapa yang nekat pergi?” kata Pio sambil mengusap kepala Lena.

“Iya Pio. Aku telah melakukan langkah yang salah. Aku pikir pergi ke Negeri Terazoten adalah pilihan bagus.”

“Bagus sih, sampai kamu diculik di jalan sama batu-batuan. Lagian ngapain kamu pergi jauh-jauh hanya alasan mengejar cinta?”

“Tadinya itu dorongan hati, Pio.”

“Dan dorongan hati juga yang membawaku ke tempat ini, Lena. Aku cinta kamu.”

“Sayangnya aku baru tahu itu setelah aku nyaris mati Pio. Kenapa nggak bilang dari dulu?”

“Selama ini aku realistis Adapalena. Bagaimanapun kamu lebih dekat dengan Meglumin dan Promelo. Siapapun tahu kalau mereka jauh lebih tampan dan pintar daripadaku.”

“Dan mereka tidak ada disini, Pio. Yang aku butuhkan bukan kata-kata, tapi bukti nyata. Dan kamu berhasil membuktikannya. Aku yakin aku juga punya perasaan yang sama, Pio.”

“Jadi?”

“Jadi mari kita pergi dari sini. Aku takut.”

“Takut apalagi Lena?”

“Jadi kamu pikir apa yang akan dilakukan dua orang saling cinta di tempat yang sunyi macam ini Pio?”

“Owww.. Baiklah. Mari kita pergi.”

Lena berpelukan erat pada Pio yang sedang berkosentrasi.

“Akril Iz Opagla.”

Mantra terbang telah disebutkan, Pio terbang bak superman dengan Lena berpegangan erat pada punggungnya.