Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Sebutlah Itu Panggilan

Cah! Aku nemu skenario Jomblo Box!”

Sebuah pesan singkat masuk di handphoneku yang bututnya minta ampun. Persis ketika pesan singkat dari Adan masuk, handphone-ku mati. Jadilah aku membuka baterai sejenak kemudian menyalakannya kembali. Selalu demikian setiap kali aku menerima pesan singkat. Selalu menderita. Dan jangan pula melakukan panggilan telepon denganku. Kecuali handphone-ku sedang tersambung charger, maka panggilan telepon akan membuatnya mati segera.

Mau beli baru? Tidak bisa. Maklum, sejak aku memutuskan untuk keluar dari farmasi dan beralih ke keguruan, minta duit ke orang tua menjadi tabu bagiku. Ah, keputusan ajaib itu.

“Kamu mau pindah jurusan?” tanya Papa dengan suara tinggi.

“Iya Pa,” jawabku berusaha tenang.

“Bahkan uang untuk kamu masuk farmasi saja belum lunas, Leon!”

“Baik Pa, nanti Leon ganti kalau sudah ada uang.”

“Memangnya apa masalahmu?”

“Leon nggak enjoy Pa. Sangat sangat tidak menikmati. Leon nggak bisa bergaul dengan apalah itu namanya reaksi kimia. Nggak bisa, Pa.”

“Itu kan baru dasar Leon. Nanti ke depan pasti lebih menarik.”

“Nggak Papa. Buat Leon jadi guru lebih menarik dan menantang.”

“Maksudmu Leon?”

“Aku mau pindah keguruan Pa!”

“Jadi guru?”

“Ya!” ujarku mantap.

“Ya ampun Leon. Kapan kamu kaya kalau cita-cita kamu begitu?”

“Emang hidup hanya untuk kaya ya Pa? Nggak Pa. Hidup itu lebih dari itu!”

“Anak kecil ngomong hidup. Nggak usah sok-sokan Leon. Nggak ada cerita kamu pindah jurusan, apalagi ke keguruan. Titik.”

“Tapi, Pa..”

“Tidak ada sanggahan. Tidak adalah tidak.”

Aku beranjak. Entah apa yang ada di pikiran Papa sehingga aku tidak boleh pindah jurusan. Tapi aku adalah aku, sama kerasnya dengan Papa.

“Tidak adalah tidak juga berlaku untuk Leon, Pa.”

“Ngeyel kamu?” bentak Papa.

“Untuk kebaikan Leon sendiri. Leon akan tetap pindah jurusan.”

“Anak durhaka.”

Aku pergi. Dan sejak itu, pulang ke rumah serasa pulang ke kuburan. Sunyi. Tidak ada hubungan yang apik antara aku dan Papa, antara anak dan orang tuanya. Aku tahu, Papa masih sering mencari tahu tentang kemajuan akademisku dari Mama.

Yah, hanya Mama yang memberi sedikit kehangatan di tempat aku tumbuh besar ini. Dan Mama sendiri takluk pada kerasnya Papa, sehingga cenderung tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu punya uang Leon? Ini kan sudah semester baru,” tanya Mama suatu kali saat tiba-tiba masuk ke kamarku.

“Tenang Ma. Leon sudah menyiapkan semuanya.”

“Kamu yakin?”

“Pasti Ma. Tenang saja.”

“Baiklah, kalau kamu ada kesulitan, bilang sama Mama ya. Berapa IP kamu semester kemarin.”

“Lumayan Ma. IPS-nya 3.88, jadi IPK Leon 3.50. Belum Cum Laude Ma. Semester depan Leon usahakan.”

“Anak Mama memang pintar. Sayangnya, keras kepala,” risau Mama sambil mengelus-elus kepalaku.

“Sama kayak Papa. Turunan persis. Iya kan?” kataku sambil tersenyum, “Percaya Ma. Leon pasti akan berhasil di sini. Tenang saja.”

“Kamu keras, tapi kamu kuat Leon. Nggak sia-sia Papa kasih nama kamu Leonard.”

Aku tersenyum, berupaya tampak tak ada masalah dalam hidupku. Mama lantas beranjak pergi. Aku kembali dalam lamunanku di atas kasur.

Michael Leonard, itulah nama lengkapku. Kalau kata Mama, kedua nama itu adalah gabungan nama dua petinju terkenal. Michael itu diambil Papa dari Michael Moorer, petinju kelas berat. Sedangkan Leonard diambil dari nama Sugar Ray Leonard, legenda tinju pada masanya. Dan begitulah, Michael Leonard melekat pada akte kelahiranku, meski lantas panggilanku menjadi imut, Leon.

Etimologis nama itu tampak juga mempengaruhi karakterku. Aku keras, persis petinju, dan persis Papa. Jadi, kalau sudah berdebat dengan Papa, maka rumah akan menjadi sangat bising. Seringkali Mama menengahi dengan memintaku untuk mengalah, sesekali meminta Papa yang mengalah. Tapi, dua keras yang bertemu tentu tidak akan dengan mudah mengalah, meski demi Mama sekalipun.

Aku tahu, pada dasarnya Papa keras padaku karena sayang. Tidaklah ada orang tua yang membenci anaknya, separah apapun kelakuan anaknya. Untuk keputusanku pindah ke keguruan, aku yakin itu hanya kesalahan perspektif Papa saja. Papa sampai sekarang adalah seorang guru, namun entah mengapa perspektifnya berbeda dengan guru-guru lain. Teman-teman Papa dengan rela dan suka hati menyekolahkan anaknya yang bercita-cita menjadi guru, tapi Papa tidak.

“Pendidikan itu bisnis Leon. Nggak usah kamu ikut dalam arus macam ini,” sebut Papa dalam suatu diskusi keras bersamaku.

“Tapi bukankah itu pengabdian, Pa?”

“Apakah kamu bilang pengabdian kalau konsep-konsep ujian nasional, remidi, dan segala pendekatan yang mendewakan siswa itu dilakukan?”

“Bukankah pendidikan itu untuk memintarkan siswa, Pa?”

“Papa akan sangat setuju kalau kamu jadi guru pada jaman Papa, bukan sekarang. Ada berapa banyak siswa kurang ajar sekarang? Ada berapa banyak siswa yang menganggap tidak mengerjakan PR itu biasa? Ada berapa banyak siswa yang datang ke sekolah hanya untuk pameran mobil barunya? Ini realitasnya Leon. Papa tahu, dan Papa ingin kamu hidup lebih baik.”

“Bagaimana kalau ini panggilan Leon, Pa?”

“Panggilan itu soal mendengar dan melakukan Leon. Kamu bisa saja mendengar, tapi toh kamu tak harus melakukan. Percaya sama Papa, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Sebagian dari kisah Papa pada akhirnya aku temui benar. Aku tidak dapat menyalahkan Papa sepenuhnya soal ini. Aku membiayai kuliahku dengan mengajar privat kimia. Sebagai mahasiswa keguruan kimia, tentu tidak sulit bagiku mendapat anak didik. Bahkan aku sampai menolak tawaran privat, saking padatnya jadwal.

Aku mengamati fenomena anak didik yang betul-betul tidak peduli pada tugas yang diterimanya di sekolah. Aku juga mengamati rasa malas-malasan sepulang dari sekolah. Aku menangkapnya dengan jelas. Tapi bukankah itu bisa diubah? Itulah panggilanku, maka aku memilih berdiri di tempatku sekarang.

Wey sombong. Ora bales SMS!”

Pesan singkat lagi, kali ini handphone-ku tidak mati karena memang sedang bertemu charger. Handphone butut ini sudah semacam telepon rumah. Kalau telepon rumah tidak bisa lepas dengan kabel koneksi, maka handphone ini tidak lagi bisa lepas dari charger. Maka, buatku, charger adalah kebutuhan primer keempat selain sandang, pangan, dan papan. Anak-anak lesku juga paham soal ini karena aku selalu mencari colokan listrik setiap kali sampai ke rumah mereka.

Ngerti dewe hp-ku. Lha piye? Digawe po?”

Pesan singkat balasan dariku meluncur ke Adan.

“Hahaha.. Biasa.. Isu tanpa konsep. Itulah kita.”

Ya, itulah kita, selalu begitu balasan Adan. Aku, Adan, Ola, dan Yo adalah pertemanan yang penuh dengan ide, namun minim realisasi. Tapi aku menikmati pertemananku dengan mereka, meski sekarang statusku adalah adik kelas mereka.

Adan dan aku adalah teman satu kelompok waktu inisasi fakultas. Aku sendiri sekelas dengan Ola dan bahkan satu kelompok praktikum dengan Yo. Ketika aku memutuskan keluar farmasi sesudah semester dua, mereka sempat kaget.

“Yakin kowe?” tanya Ola lembut, sesuai takdirnya sebagai satu-satunya hawa dalam persahabatan kami.

“Kudu yakin, La.”

Ora eman?” kali ini Yo yang bertanya, “Tukang cuci kayak aku wae bertahan kok. Nanti yang gawe laporan siapa nek kowe keluar Le?”

Yo, dalam kemalasannya, memang menjadi tukang cuci alat gelas ketika praktikum dan selalu meminjam laporanku untuk dicontek pada H-1 pengumpulan laporan.

“Diatur wae Yo!” tandasku ringan.

Adan menambahkan, “Ya, kalau itu pilihanmu Le, silahkan saja. Aku sih bisanya bilang gitu. Sebutlah itu panggilan, yo kudu dituruti Le.”

“Sip! Kalian memang teman paling joss sedunia.”

Pria Yang Setia Pada Janjinya

Adit tampak gundah, tangannya sesekali mampir ke kepala dan merusak tatanan rambutnya. Raut mukanya juga lesu. Betul-betul tanpa gairah sama sekali. Sendirian, ia berjalan tanpa arah dan tujuan di taman belakang kampus.

Tiba-tiba kakinya seperti terantuk sesuatu.

“Asem!” teriaknya. Mahasiswa Jogja memang selalu punya cara untuk mengakomodasi umpatan sehingga tampak lebih halus.

Adit menunduk, memegangi kakinya yang hanya tertutup sepatu sandal. Bagaimanapun, itu sakit. Untunglah Adit tidak melihat adanya luka pada kakinya. Menyadari kakinya baik-baik saja, Adit penasaran pada benda yang mendadak mampir ke kakinya. Adit hobi jalan-jalan sendiri di taman belakang kampus dan paham setiap detail di tempat ini. Baginya, terantuk sesuatu di tempat yang sangat dikenal, adalah keanehan.

Raut muka gundah dan lesu segera bertambah ekspresi penasaran. Rasa itu muncul ketika Adit melihat sebuah kotak kayu kuno tergeletak manis ditutupi dedaunan.

“Sejak kapan ada barang begini disini?” gumam Adit sambil membersihkan kotak itu dari dedaunan. Tangannya menelusuri setiap bagian dari kotak kayu kuno dan mendapati sebuah buah gembok disana.

“Kotak itu akan menjawab mimpimu, anak muda.”

Adit kaget sejadi-jadinya melihat seorang pria berjenggot putih 1 meter sudah ada di hadapannya. Alih-alih bertanya lebih lanjut, Adit mengambil langkah seribu. Kabur.

Dengan nafas terengah-engah, Adit terkapar di Lorong Cinta yang terletak di tengah kampus. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang berharap pria berjenggot putih 1 meter itu tidak mengikutinya. Kampus di sore hari pada hari Minggu tentu saja sepi. Adit berada di area maha besar itu sendirian.

Ketika nafasnya mulai tertata rapi, Adit mengambil posisi duduk yang lebih nyaman, bersandar pada pilar Lorong Cinta. Tangannya menimang kotak kayu kuno dengan sebuah gembok. Pikirannya melayang pada perkataan pria berjenggot putih 1 meter.

“Kotak ini akan menjawab mimpimu!”

“Kudu dibuka kalau gitu,” kata Adit, tentu kepada dirinya sendiri, “Tapi piye?”

Adit membolak-balik kotak kayu kuno itu, berharap ada metode lain membuka kotak tersebut tanpa harus mendapatkan gemboknya. Lima belas menit dan puluhan kali bolak-balik, Adit berhenti pada keputusasaan.

“Dit!” Tiba-tiba Vita datang dan menepuk bahu Adit dari belakang.

“Eh!” Antara kaget, malu, senang, dan bingung, Adit kehilangan diksi.

“Ngapain di kampus minggu-minggu?” tanya Vita sambil melontarkan senyum manisnya.

Sebuah senyum yang menjadi mimpi Adit.

“Nggak apa-apa. Maklum lagi galau.”

“Pantes tak cari ke kos nggak ada. Aku mau balikin kunci lab nih,” ujar Vita sambil menjulurkan tangan putihnya yang bertaut serenteng kunci.

“Oke! Habis ini mau kemana, Vit?”

“Ya pulang kos lah. Kenapa?”

“Tunggu sebentar.”

Vita menatap bingung. Adit dengan tergesa-gesa mencoba satu persatu dari serenteng kunci yang diberikan Vita untuk membuka gembok kota kayu kuno yang ada di hadapannya.

“Kamu ngapain, Dit?”

Adit tidak menjawab, fokusnya tertuju sepenuhnya pada kotak kayu kuno dan mimpinya untuk memiliki senyum manis Vita.

“Yes!” teriak Adit. Kunci ke-17 alias percobaan terakhir dari serenteng kunci dari Vita berhasil membuka kotak kayu kuno itu. Vita semakin mengernyitkan dahinya, bingung. Adit semakin bersemangat membuka kotak itu.

“Tidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkah. Jikalau mimpi itu harus dikejar, kejarlah. Jikalau mimpi itu butuh pengorbanan, berkorbanlah. Jikalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah.”

Adit terkesiap. Vita kebingungan. Dua fenomena makhluk hidup yang tampak absurd untuk terjadi pada saat yang sama.
“Kalau mimpi itu harus diungkap, ungkaplah,” bisik Adit.

“Ngomong apa, Dit?” tanya Vita heran.

“Aku sayang kamu.”

“Apa?”

“Aku sayang kamu, Vita.”

Lorong Cinta, Adit, Vita, dan sebuah ungkapan mimpi. Angin bertiup ringan menembus dedaunan, memberi kesejukan untuk sebuah penantian akan jawaban.

Aku menyunggingkan senyum termanis. Tangan dan mataku belum bisa lepas dari selembar kertas yang kupegang. Mataku mulai berkaca-kaca kala kembali memandangi judul yang tertera pada selembar kertas itu, JOMBLO BOX.  Pikirku lantas melayang ke masa  lampau.

Cah, gawe film yuk!” kata Yo sambil tiduran di kasurku.

“Sok. Gawe tugas wae nggak kelar-kelar,” sergah Ola sambil tetap asyik main Snake.

“Hiburan, La. Mosok hidup dengan tugas terus,” ujar Yo membalas argumen Ola.

“Tapi boleh juga tuh. Dan, gawe skenario yo!” timpal Leon sambil tetap asyik memandangi layar monitor yang sedang beralih fungsi jadi televisi.

“Tenan yo! Ojo jadi isu tanpa konsep ini.”

“Justru kamu yang bikin konsepnya, Dan,” racau Yo di balik guling.

Dua bulir air mata menyelinap turun membasahi kulit wajah gelapku, seorang pria sentimentil. Rekaman percakapan asal muasal cerita yang barusan kubaca membawa kenanganku kembali ke masa silam, tepatnya tiga tahun yang lalu.

Film Jomblo Box itu tidaklah pernah menjadi realisasi. Bahkan naskahnya saja terselip manis di dalam tumpukan laporan praktikum di dalam kardus. Aku memang hobi menyimpan semua dokumen, meskipun pada kenyataannya sebagian besar adalah sampah. Setidaknya, ketika aku membongkar kamar, aku bisa sejenak tersenyum seperti ini. Konsekuensinya, kamarku menjadi laksana gudang atau mungkin tempat sampah.

Biarlah, nyatanya tiga sahabatku bisa dengan tenang beristirahat di ruangan 3 kali 3 meter ini. Kamar ini adalah peraduan dari empat orang yang berusaha memulai mimpi dengan langkah, persis seperti yang kutulis di naskah Jomblo Box. Meski cerita itu menjadi isu tanpa konsep, setidaknya aku berhasil menemukan sebuah frase yang menguatkan. “Tidak ada mimpi yang terwujud tanpa sebuah langkah” kemudian menempel manis di styrofoam orange yang melekat di dinding kamarku.

“Rrrrttttttt…. Rrrrrttttttt….,” kasurku bergetar.

Sebuah pesan singkat dari Nia, pacarku.

“Say, udah makan?”

Pertanyaan klasik standar yang selalu dipakai untuk memulai percakapan.

“Udah say. Lagi ngapain?” balasku. Ini juga menu standar.

Aku dan Nia bertemu di awal kuliah dalam sebuah kepanitiaan lintas fakultas.  Itu sudah tiga tahun yang lalu. Sudah setahun ini Nia bekerja di Palembang. Pendidikannya sebagai guru SD yang hanya butuh dua tahun tentu berbeda denganku yang masih harus berkutat dengan teori di kampus. Ketika Nia berkisah tentang realita kerjanya, aku hanya bisa menjawab dengan kutipan buku-buku. Sungguh tidak berimbang.

Beginilah aku dan Nia sekarang, puluhan pesan singkat terkirim setiap hari. Kalau malam menjelang, aku dan Nia akan menghabiskan waktu hingga kuping panas atau salah satu dari kami tertidur. Realita Long Distance Relationship. Untunglah hubungan ini masih bisa bertahan.

Tidak ada balasan dari Nia. Mungkin pacarku itu sedang sibuk mengajar atau koreksi. Aku berusaha memahaminya, seperti Nia memahamiku. Mungkin itulah yang menyebabkan hubungan pisah laut yang kami lakoni bisa bertahan.

Cerita Jomblo Box tadi tiba-tiba menggelorakan niatku untuk memasukkannya ke dunia maya. Aku blogger aktif yang sayangnya belum punya laptop dan modem sendiri. Maka aku dengan rutin dan senang hati menghabiskan uang kirimanku untuk sekadar 1-2 jam berkelana di dunia maya. Blogku dikunjungi setidaknya 50 kali per hari. Aku ingin pengunjung di blogku membaca kisah lama yang tidak pernah terwujud itu.

Pandanganku terhenti sejenak pada kondisi kamar yang lebih parah daripada kapal pecah. Tadinya aku hendak mengumpulkan bahan-bahan selama kuliah Profesi Apoteker guna persiapan ujian komprehensif. Tapi tampaknya menulis blog menjadi hal yang paling menarik saat ini. Perkara kamar berantakan biarlah diurus nanti.

Beginilah kehidupanku, Adan Setia Dharma. Entah mengapa orang tuaku tidak memakai saja istilah umum untuk menamaiku. Adan itu sejatinya sama dengan Adam. Mungkin orang tuaku tidak menginginkanku berkumis macam Om Adam suaminya Tante Inul.

Namaku tidaklah mengandung arti yang sangat berat. Orang tuaku hanya menginginkanku menjadi seorang pria yang setia pada janjinya. Itulah prinsip yang selalu aku junjung tinggi karena bagaimanapun seluruh dunia akan menangkap langsung dari namaku bahwa aku ini selalu setia pada janjiku sendiri. Itulah sebabnya aku berusaha lulus secepat mungkin untuk bisa mewujudkan janjiku membantu orang tua. Adikku empat dan masih sekolah semua, jadi aku harus cepat-cepat menjadi apoteker, cepat-cepat bekerja, dan cepat-cepat membantu orang tua.

Aku selalu merasa kesasar setiap kali hendak lulus karena jiwaku sejatinya bukanlah di farmasi. Seperti karyaku yang terselip di dalam tumpukan, aku lebih nyaman menulis. Bahkan mimpiku adalah menjadi penulis, sungguh tidak nyambung dengan keadaanku sebagai calon apoteker.

Kadang memang hidup harus realistis. Aku selalu berusaha memahami itu sambil tetap berupaya mencari langkah untuk mewujudkan mimpiku.

Telepon genggamku bergetar lagi. Nia membalas pesan singkatku.

“Lagi kangen kamu, sayang :)”

Dan Aku Pulang: Air

“Udah komputernya?”

“Udah.”

Mamak pun bergegas menyalakan pompa air. Tuas untuk mengalirkan listrik ke pompa air diarahkan ke atas dan segera deru mesin pompa itu terdengar. Keran kamar mandi mengeluarkan deru air yang deras.

Dan aku mendadak teringat sesuatu.

* * *

“Ambil dulu air, Nak.”

Aku bersungut-sungut, entah adikku. Tapi bagaimanapun, aku dan adikku harus membawa jerigen putih andalan ini ke sumber air yang terletak di dekat sungai di bagian bawah kompleks, mengisinya dan lantas membawanya kembali ke atas.

Air PAM sudah berbulan-bulan tidak mengucur normal, sementara pembayaran terus dilakukan. Entah apa maksudnya. Apa karena kompleks ini berada di ketinggian? Apa karena tempat ini jauh?

Aku nggak ngerti, tapi siapa aku bisa menangani ini. Yang aku tahu, keran itu mengucur pada jam-jam tertentu dalam debit yang minimal, dan lebih sering tidak mengucur sama sekali. Yang aku tahu, aku kesulitan untuk mandi, buang air, dan lainnya. Air itu kebutuhan primer manusia, dan tidak banyak air yang masuk ke rumah ini.

Dan setiap hari, jeringen putih andalan itu menjadi teman setia berangkat ke sekolah. Air diisi dari keran sekolah, dan pulang sekolah dibawa pulang kembali. Inilah air yang menjadi konsumsi sehari-hari. Sementara air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air yang mengucur pada dini hari.

Perlahan, air itu semakin tidak mengucur. Bolak balik ke sumber air di bawah kompleks mulai menjadi melelahkan. Hingga kemudian, pilihan terakhir muncul.

“Itu air hujannya ditampung ya.”

Sejak itu, air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air tampungan hujan dalam drum besar di depan rumah. Aku bahkan bisa berubah menjadi gembira ria ketika hujan turun karena aku bisa menampung air lebih banyak dari rumah kosong di depan rumah, agar bisa mandi-cuci-dan-lainnya.

Ya, itulah saat-saat ketika air hujan menjadi semacam berkat. Saat-saat ketika aku belum paham bahwa air hujan itu cenderung korosif, tidak sehat, dan lainnya. Kami hanya perlu air, dan air itu datang dari langit. Namanya air hujan.

Berikutnya menjadi lebih terang benderang, karena sebuah modifikasi dilakukan. Sebuah pipa dari atap mengucur langsung ke bak mandi. Bak itu juga dimodifikasi dengan lekukan kecil sehingga kalau bak itu penuh, air bisa mengucur keluar untuk dibuang. Inilah bak mandi dengan sumber air dari langit. Langit ke atap, atap ke talang, talang ke paralon, paralon ke bak mandi. Inilah air yang membilas hidupku sehari-hari.

Bertahun-tahun, hingga aku pergi merantau, air hujan itu menjadi andalan untuk penunjang kehidupan. Belum ada dana untuk membuat sumur pompa, sementara air PAM semakin tidak bisa diharapkan.

* * *

“Kenapa dulu sehat-sehat aja ya?” tanyaku ke Bapak, sambil nonton santai.

“Kenapa?”

“Kita mandi air hujan loh.”

Yah, bertahun kemudian, ketika aku belajar tentang kesehatan, aku paham bahwa air itu tidaklah baik. Air itu bisa korosif. Air itu mengandung bakteri dan lainnya. Dan air itu digunakan untuk penunjang kehidupan, dan anehnya, aku sehat-sehat saja.

Kini sumur pompa sudah ada, tinggal dinyalakan ketika dibutuhkan. Talang yang menyalurkan paralon ke bak mandi sudah diputus-hubungan-kan. Air tanah mengalir ketika dibutuhkan. Semoga masih ada untuk hidup ke depan. Tapi mengingat tanah masih banyak untuk diresapi, kupikir sih nggak masalah.

* * *

Aku memasuki kamar mandi, siang hari, dan tetap dingin. Air itu segar dan tentunya sehat. Setidaknya jauh lebih sehat daripada air hujan.

Sesudah hujan pasti ada pelangi. Setelah mandi air hujan, pastilah ada hidup yang lebih baik. Sebaik dan seindah mandi air segar di kamar mandi yang sudah direnovasi menjadi lebih cantik.

🙂

 

Dan Aku Pulang: Dinding

“Kok masih foto wisudaku?” tanyaku setengah gemas begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah.

“Itu ada yang baru,” ujar Mamak.

“Ya, maksudku, yang baru itu yang digedein. Punyaku diturunin aja. Jelek.”

Apa pantas aku kecewa ketika foto wisudaku terpajang besar-besar di dinding ruang tamu? Aku bukan kecewa, mungkin sedikit malu saja. Foto itu dibuat dengan fotografer seharga 30 ribu untuk 2 foto. Apalah yang bisa diharapkan?

Dan aku berharap, foto wisuda adikku, foto keluarga di sebuah studio foto yang tarifnya lumayan mantap, bisa dipajang menggantikan fotoku nan buruk rupa itu.

Sebelum aku lanjut kecewa, aku melempar pandang ke sekeliling. Yah, dinding ruang tamu itu hampir penuh.

* * *

“Nah, yang pojok atas itu si abang,” tunjuk Mamak pada sebuah foto bayi yang berpose menembak. Itu fotoku.

Petunjuk berikutnya diarahkan ke foto yang terletak 45 derajat di bawah fotoku. Foto adikku, hampir full face. Lalu lanjut ke wajah putih bulat berbalut penutup kepala pink milik adikku yang cewek. Plus diakhiri sosok kecil keriting berdiri, dan ia tampan, ini foto si bungsu.

Empat foto itu adalah penguasa ruang tamu. Ketika dinding itu masih basah oleh cat. Yang mengecat siapa? Ya, bukan tukang, tapi Bapak. 🙂

Hanya empat foto itu, ditambah sebuah jam dinding, dan beberapa foto pernikahan orang tua, yang tertempel di dinding ruangan yang besar. Hmm, kosong, foto-foto itu hanya nuansa dari putihnya dinding yang luas.

* * *

Aku tertidur di sofa bagus. Kalau ini terjadi 11 tahun silam, aku pasti sudah dimarahi sama Mamak, berani-beraninya mengangkat kaki ke atas sofa bagusnya. Entah, kalau sekarang boleh tuh.

Pandanganku beredar ke sekeliling.

Tidak ada lagi empat foto bayi itu. Benda itu sudah pindah ke kamar. Sebuah pigura besar foto keluarga dengan aku mengenakan toga tertempel besar di sana. Di sisi-sisinya, foto latar putih dengan adikku yang mengenakan toga. Oh, ada pula fotoku ketika mengenakan jas, waktu pengambilan sumpah profesi.

Dinding itu tidak lagi sepi. Dinding itu perlahan menjadi saksi sebuah pencapaian. Dinding yang sama, yang dibentuk dengan bata dan semen yang dulu juga ikut diaduk oleh orang-orang yang fotonya tergantung disana.

Dinding yang sama, yang melihat sosok-sosok mungil berbaju seragam sekolah. Dinding yang sama, yang perlahan kehilangan sosok-sosok mungil itu.

Dinding yang itu pula, yang menjadi tempat tertempelnya sebuah rekaman pencapaian. Satu per satu. Dinding yang menyediakan dirinya sebagai tempat sebuah kebanggaan bisa dirayakan.

Ah, aku mengantuk. Melihat tampangku tanpa sentuhan Adobe Photoshop, bertoga, dan kurus kering, bikin mata ini ingin menutup saja. Hmm, setidaknya aku melakukannya dengan senyum.

Sebuah lekukan bibir yang terbentuk ketika mengenang perubahan dinding polos itu menjadi dinding penuh foto, penuh gambar, penuh kebanggaan.

Dan aku terlelap, terpejam, di dalam nyamannya sebuah tempat yang aku sebut RUMAH.

🙂

Dan Aku Pulang: Pagar

“Ini gimana nutupnya?” tanyaku ke Bapak, bingung mekanisme menutup pintu garasi.

“Yang ini yang dikunci,” kata Bapak sambil menjelaskan prosedur penguncian garasi. Perlindungan berlapis adalah khas rumahku. Itu sudah ada dari jaman dulu, waktu bahkan tidak banyak benda yang bisa disebut berharga mahal di dalamnya.

Dan ketika aku memegang besi bagus penutup garasi itu, aku lantas teringat sesuatu.

* * *

“Pak, ngapain?”

“Nebang bambu.”

“Buat?”

“Pagar.”

Sejak pindah ke rumah ini, Bapak memang mendadak hobi bergaul dengan golok andalannya dan serumpun bambu di belakang rumah, hanya 2 meter dari jemuran. Satu persatu batang bambu ditebangnya, sampai kemudian terkumpul beberapa batang.

Rumah, apalagi namanya Perumnas, memang hanya menyediakan tanah dan sebuah unit rumah yang mungil. Sisanya? Tak ada. Jadilah rumah ini tidak berbatas apapun kecuali selokan yang membatasinya dengan jalan kompleks.

Pada hari libur, bilah-bilah bambu itu mulai disusun perlahan. Masih gemuk-gemuk. Bambu itu hanya dibelah dua, digergaji, dan dipaku pada kayu kasau sisa membangun rumah dulu.

Itulah yang kami namakan PAGAR.

Itulah benda yang membatasi rumah kami dengan dunia luar. Ehm, setidaknya anjing kompleks yang ramai berkeliaran itu tidak bisa serta merta masuk ke dalam pekarangan rumah.

Begitulah, setiap kali pulang, maka pagar bambu bikinan sendiri itu yang menjadi penanda pertama untuk sebuah kata: pulang.

Sampai kemudian, karena bambu-bambunya mulai membusuk dan sebab lainnya, Bapak memutuskan untuk mengganti pagar. Kali ini dengan bambu yang diiris lebih kecil dan dipaku dengan jarak tertentu antar bilah.

Menjadi lebih rapi memang.

Kalau dulu, pintu itu pasti terseret dengan tanah, kini tidak. Pintu bikinan sendiri itu bisa dibuka dan ditutup tanpa perlu diseret lagi.

Tapi tetap saja, bambu.

Pagar bambu itulah yang menjadi pelindung rumah ini. Pagar yang memang sama bambu, tapi dengan bentuk yang lebih masuk akal untuk dipandang. Semuanya bikinan sendiri, Bapak mengerahkan dua bocah lelakinya untuk sekadar mengiris satu selongsong bambu menjadi beberapa bilah kecil. Sebuah karya yang dibangun atas dasar kebersamaan. Sebuah karya penuh warna yang selalu tampak di mata.

Sampai kemudian, rejeki yang ditumpuk perlahan, ditambah fakta bahwa pagar bambu sudah semakin langka di kompleks ini, membuat keputusan dibuat.

Buat pagar permanen.

Tukang yang sama dengan yang membangun rumah ini dipanggil. Tapi, baru saja ia selesai membuat pondasi, ia tidak datang-datang lagi.

Sampai kemudian datanglah tukang becak yang menjelma menjadi tukang. Fiuhh..

Orang inilah yang kemudian bertanggungjawab membentuk pagar yang jadinya aneh ini. Pagar berharga mahal karena dibuat dari besi kualitas baik, pembatasan berbentuk bebek yang bagus, plus semen berkualitas itu bentuknya absurd. Pagar besinya tidak bisa terdorong sempurna, hampir pasti nyangkut.

Ah!

* * *

Duduk di teras rumah dengan marmer merah ini selalu jadi hal yang menarik. Pagar bebek itu hanya 3 meter dari mata. Sebuah rumpun bambu tinggi tampak di kejauhan. Dan sebuah kaleidoskop terhampar.

Ketika di tempat pagar itu berdiri, belum ada apa-apa. Ketika di tempat pagar itu berdiri baru ada pagar bambu buluk. Ketika di tempat yang sama pula dibut pagar bambu baru. Saat aku ikut memegang bebek palsu itu waktu dipasang. Kala aku ikut mengulaskan cat putih disana, karena mengecat di rumah ini adalah pekerjaan sendiri. Meng-hire orang untuk proses cat adalah ongkos.

Semuanya memutar memori bernama perjuangan. Pagar ini tidak membatasi. Pagar ini justru menjadi saksi bagaimana aku bertumbuh lantas kemudian lepas darinya dan lalu datang kembali, untuk sebuah kata: PULANG.

🙂

Asa Pada Sebuah Masa

“Gue tuh kadang iri sama lu, Win,” ujar Vienna sembari membenahi posisi duduknya. Matanya masih menerawang ke gate 3 yang belum juga menampilkan tulisan Y6-584.

“Kenapa?” tanya Windy, sambil tetap asyik pada tablet yang dipegangnya.

“Lu sama Hotman itu udah beda agama, beda suku, bisa-bisanya nikah. Lha gue?”

“Hahaha, udah gue duga. Pasti iri hati lu nggak jauh-jauh dari itu.”

“Ya iyalah. Apa lagi yang bisa gue iriin ke lu.”

“Dasar. Udah ngiri, songong juga.”

“Hahaha, ya begitulah Win. Hidup ini kadang abstrak. Giliran ada yang seiman dan sesuku, eh tukang tipu, nikung gue gitu. Giliran ada yang baik, perhatian, sabar, dan lainnya yang baik-baik, plus seiman juga, eh beda suku. Gagal maning, gagal maning.”

“Gue nggak ngerti kondisi sebenarnya, Vi. Tapi gini, lu pernah bilang kalau keluarga lu bahagia, otomatis lu juga bahagia. Right?”

“Betul sekali.”

“Lu juga kerja kayak begini, proyek ke proyek, buat bahagiain keluarga lu kan?”

“Betul juga. Kenapa sih?”

“Kalau lu mengeluh kayak barusan tadi, lu pake standar ganda dong. Kalau keluarga lu udah bilang harus seiman dan sesuku, brarti cuma syarat itu yang bikin mereka bahagia. Otomatis, cuma syarat itu yang harusnya bikin lu bahagia. Iya kan?”

Pandangan Vienna menerawang jauh ke landasan, sebuah pesawat berwarna putih dengan nuansa biru tua tampak mendarat. Ah, berarti tak lama lagi ia akan meninggalkan ruang tunggu ini.

“Iya kali, Win. Ah, entah. Bingung saya.”

“Kalau bingung pegangan, Vi. Susah bener.”

sumber: 143loveu.blogspot.com

* * *

“Lu pulang ama sapa, Vi? Bareng gue?” tanya Windy sambil menarik dan mendorong troli, sebuah aktivitas biasa kala menanti conveyor bagasi bergerak.

“Dijemput.”

“Ada gitu cowok yang jemput lu?”

“Sial. Ada lah.”

“Hmm, bentar-bentar.. Gue tebak. Paling juga Juna. Iya kan?”

Vienna terdiam, matanya sibuk memandangi BB yang nongkrong manis di tangannya.

“Iya kan, Vi? Hayo. Kapan coba gue salah nebak? Haha..”

“Iya.. Iya.. Juna yang jemput.”

Windy memiringkan badannya ke arah Vienna sambil setengah berbisik, “Emang lu masih sama dia?”

“Nggak lah. Begitu Mama bilang nggak boleh, ya langsung gue putusin.”

“Anak baik.”

“Baik apa coba?”

“Ya itu patuh pada orang tua. Hmmm, cuma kok begini ya?”

“Begini kenapa sih, Win?”

“Ya, lu pulang dinas begini, yang jemput Juna juga. Ehm, jangan-jangan lu masih berharap sama hubungan lu dengan Juna ya?”

“Entahlah. Gue sendiri juga bingung.”

“Windy Kepowati terpaksa beraksi nih. Dalam terawangan kepo gue, lu pasti masih membayangkan bakal nikah sama Juna, punya anak, terus sampai kakek-nenek bersama. Iya kan?” berondong Windy dengan kencangnya.

“Iyaaaaaa…”

“Vi, gue bilang nih ya. Gimana caranya lu mau menjadikannya masa lalu, kalau lu aja masih membayangkan masa depan sama Juna?”

“Tapi gue nggak bisa, Win.”

“Terserah sih, gue bilang tadi. Standar kebahagiaan lu jangan ganda. Pilih salah satu. Kalau nggak, lu bakal terjebak. Mau bikin bahagia diri sendiri apa keluarga lu. Percaya ama gue. Gue sama Hotman juga nggak mudah kali, Vi. Mana ada cerita beda agama, beda suku, diizinkan dengan begitu mudah?”

“Ya. Eh, itu tas lu udah nongol.”

sumber: beaut.ie

Windy dan Vienna sibuk mengangkat tas-tas besar mereka yang dibawa dari Padang tadi. Keduanya bekerja di lembaga yang menjadi rekanan proyek pemerintah. Jadilah, mereka lari-lari dari satu kota ke kota lain untuk meninjau lokasi, memberi konsultansi, hingga membuatkan rekomendasi terkait proyek yang hendak dilakoni. Sebuah pekerjaan yang menguras energi pastinya.

“Tuh, suami lu udah nangkring. Udah dari dua abad yang lalu kayaknya,” kata Vienna sambil menunjuk sosok bertopi di pintu kedatangan.

“Arjuna lu mana, Vi?”

“Entah.”

Keduanya mendorong troli hingga ke area luar kedatangan. Hotman menyambut istri tercintanya dengan pelukan hangat. Vienna mendadak dingin, seandainya ada yang berlaku demikian padanya.

“Pulang sama siapa, Vi?” tanya Hotman dengan ramah.

“Dijemput Arjuna-nya, sayang,” kata Windy menjawab pertanyaan suaminya sendiri.

“Lho, Juna mana?”

Vienna masih terdiam. BB-nya masih sunyi dari tadi. Pesan “Aku udah sampe” yang dikirimnya via Whatsapp masih berupa 1 centang hijau, dan kini ia ada di area terbuka lebar. Termasuk terbuka lebar untuk didekati orang dan ditanya, “Taksi? Mau kemana? Sama saya saja.”

“Nggak tahu nih,” jawab Vienna lemas.

“Ya ditelpon lah, Vi. Kayak orang susah aja,” ujar Windy.

Windy tentu tahu kalau soal pulsa, Vienna pasti punya banyak. Vienna hanya tidak ingin menelepon Juna, tapi anehnya tetap mengiyakan tawaran jemputan dari Juna. Bahwa satu-satunya obstruksi manis terhadap logika di dunia ini memang cinta.

“Gue tungguin aja deh. Kalau mau pulang nggak apa-apa. Duluan aja. Gue mampir ke A&W dulu. Laper cuy.”

“Oke deh, beneran ya, Vi? Gue tinggal?”

“Iya. Udah sana, silahkan honeymoon. Minggu depan kita berangkat ke Gunungsitoli loh.”

“Iya neh. Kapan gue jadi istri yang bener yak?” kata Windy sambil garuk-garuk, disambut senyum simpul Hotman.

Windy dan Hotman kemudian berjalan ke arah parkiran, sementara Vienna melajukan trolinya ke arah A&W. Mungkin rootbeer bisa sedikit membantu perasaannya yang mendadak aneh semenjak Mama menolak hubungannya dengan Juna.

Vienna terjebak dalam logika kebahagiaan yang aneh. Sejak lama, setiap kali melihat orang tuanya bahagia, Vienna otomatis merasa bahagia. Kini, orang tuanya tidak setuju pada hubungannya dengan Arjuna, padahal Vienna merasa bahagia bersamanya. Lantas apa makna kebahagiaan kalau begini?

Handphone Vienna bergetar. Sebuah pesan Whatsapp.

Dimana?

A&W. Km dmna?

Oh. Oke. Aku ksana.

Vienna meletakkan handphone-nya dan kemudian asyik dengan fish fillet plus root beer yang ada di depan matanya.

“Hey, cantik. Udah lama?”

“Udah dua minggu. Telat kamu.”

“Eh, kamu telat dua minggu?”

“Heh?”

“Lha katanya, telat. Dua minggu. Jangan-jangan kamu…”

“Udah ah. Geje kamu.”

“Hahaha.. Sorry telat, Vi. Maklum, baru bisa nyetir. Jadi pelan-pelan.”

“Kamu bawa mobil, Jun? Emang punya mobil?”

“Makanya, kalau aku whatsapp itu diladeni. Ini dicuekin melulu. Tiga bulan habis kita putus, banyak hal terjadi, Vi. Hmm, dan entahlah, kata banyak orang ini kesuksesan. Tapi buat aku, ini baru dibilang sukses kalau bisa membawaku balik lagi sama kamu.”

“Apa coba? Geje nih.”

“Jiah, masih aja dibilang geje.”

“Kan kamu geje keturunan.”

“Halah, aku geje juga sejak dekat kamu.”

“Oh, saia induktor geje memang. Siapa yang dekat-dekat, maka bakat geje-nya akan keluar.”

“Heleh. Obrolan apa nih? Nggak jelas. Tapi, ehm, I really miss this conversation. Kamu, Vi?”

“Ya, kadang. Tapi udahlah. Nggak penting juga to?”

“Huuu, jadi nggak boleh berharap nih?”

“Berharap boleh, tapi yang realistis sajalah.”

“Ya, baiklah. Ngomong-ngomong, ini aku boleh duduk nggak nih?”

“Yang nyuruh berdiri dari tadi siapa?”

* * *

“Win, nih,” bisik Vienna sambil mendatangi kubikel Windy dan menyerahkan sebuah bungkusan.

“Apaan?”

“Kira-kira apa?”

Windy dengan bakat kepo-nya tidak bisa menahan diri untuk membuka bungkusan yang diberikan Vienna. Dan matanya mendadak mendelik melihat isinya.

sumber: jamesarekion.blogspot.com

Are you sure?

“Ini undangan mahal, Neng. Kalau gue nggak sure, nggak mungkin gue cetak. Pake nanya.”

“Tapi, bagaimana bisa?”

* * *

Ibukota memang paralel dengan macet dan tentunya paralel dengan ongkos. Tapi Vienna nggak pernah resah meski argo di taksi burung biru itu sudah menunjuk bilangan enam digit. Ia pakai voucher taksi, dan itu urusan kantor. Bagi Vienna, yang penting dia bisa pulang ke rumah dengan tenang. Ongkos ini tentunya setimpal dengan yang dia berikan untuk tempat kerjanya.

“Depan kiri, Pak. Yang cat hijau.”

“Ya, Mbak.”

Vienna turun dari taksi dan berjalan menuju gerbang rumahnya, sebelum kemudian langkahnya terhenti pada sebuah mobil yang terparkir manis di depan rumahnya.

Mobil yang sama dengan yang mengantarnya pulang dua minggu yang lalu. Mobil milik Arjuna.

“Ngapain Juna kesini?” gumam Vienna, setengah geram, tapi separuh senang.

Vienna kemudian berjalan perlahan ke dalam rumah, dan berhenti di pintu yang terbuka, tercekat disana, urung untuk masuk.

sumber: photocase.com

“Jadi Tante, saya mungkin memang nggak satu suku dengan keluarga Tante. Dan mungkin Tante nggak bisa terima kalau anak Tante berhubungan dengan saya.” Suara dari dalam terdengar sangat familiar, ah, siapa lagi, pasti Juna.

“Dasar nekat,” gerutu Vienna.

“Tapi, saya mencintai Vienna.”

“Apa cinta itu cukup?”

“Mama? Waduh, Juna nekat bener, sumpah,” gumam Vienna lagi.

“Buat saya cukup, Tante. Tiga bulan yang lalu waktu Vienna memutuskan berpisah dengan saya karena katanya Tante nggak setuju dengan hubungan kami, saya berpikir tentang banyak hal. Saya pikir, Tante pasti akan bisa menerima saya kalau saya ‘sukses’, apapun suku saya,” beber Juna sambil kedua tangannya membentuk tanda kutip.

“Maksudnya?”

“Tiga bulan itu saya berusaha lebih, Tante. Saya nggak tahu arti sukses, tapi saya mengartikan sukses itu jika bisa bersatu kembali dengan Vienna. Harta memang bukan yang utama, tapi dengan harapan bisa kembali pada Vienna, saya bisa beli rumah dan mobil. Ya, walaupun kecil-kecilan.”

“Hidup kan bukan hanya soal harta. Memangnya kamu ngapain kok tiga bulan bisa begitu?”

“Entah kebetulan atau tidak, naskah-naskah saya yang masuk ke penerbit diterima. Umumnya sih naskah novel, Tante. Dan kebanyakan terinspirasi dari hubungan saya dengan Vienna. Entah kebetulan atau tidak juga, buku-buku itu laku. Saya juga sudah dapat tawaran untuk mem-film-kan buku itu.”

“Lalu?”

“Saya juga tetap bekerja, Tante. Entah kebetulan atau tidak juga, saya dapat promosi, persis sesudah putus dari Vienna,” terang Juna, “Ya satu hal yang nggak bisa saya penuhi, saya memang nggak satu suku dengan Tante dan keluarga.”

“Gila! Bocah nekat,” gumam Vienna yang mencermati pembicaraan ‘orang dewasa’ itu dari luar.

“Jadi bagaimana, Tante? Bisakah saya kembali mencintai Vienna?”

Vienna makin terperangah mendengar suara dari dalam. Dia sudah hendak melangkah ke dalam dan membungkam mulut pria itu, sebelum kemudian mendengar Mama-nya bicara.

“Buktikan sama Tante. Jangan sekali-kali kamu buat Vienna sedih.”

“Siap, Tante. Terima kasih banyak.”

Vienna bingung dengan maksud pernyataan yang barusan dia dengar. Langkahnya tak tertahankan lagi untuk masuk.

“Permisi…”

“Vi?” tanya Juna dengan wajah serba salah. Vienna selalu mewanti-wanti Juna untuk tidak datang ke rumah.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

sumber: photo.net

“Saya, Arjuna Abhiseka, memilih engkau Vienna Nilamsari menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Vienna Nilamsari, memilih engkau Arjuna Abhiseka, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

* * *

“Selamat ya, sayang,” seru Windy dengan sumringah ketika menyalami Vienna dan Juna di pelaminan.

“Makasih ya.”

“Jadi ternyata benar dia masa depan lu ya?” bisik Windy sambil memeluk Vienna.

“Yup. Selalu ada asa untuk setiap masa, Win. Dan yang di sebelah ini, asa gue untuk masa depan. Thanks a lot ya.”

“Nikmati indahnya, Vi.”

“Heh, udah, yang antri banyak nih. Ntar di kantor aja pelukan lagi,” goda Hotman yang disambut gelak tawa Juna.

🙂

Dan Aku Pulang: Kamar

“Aku bobo dimana nih?” tanyaku ketika menginjak ruang keluarga di rumah.

“Terserahmulah,” jawab Mamak.

Aku menilik ke dua kamar kosong yang tersedia di rumah. Karena fasilitas lebih lengkap di kamar yang gede, akhirnya aku memilih untuk meletakkan barang-barangku disitu. Mataku melihat ke sekeliling. Ah, lengkap sekali tempat ini sekarang? Aku kemudian beranjak ke kamar yang kecil dan tampaknya riwayat asli rumah ini.

Bahwa masa dan upaya memang mampu mengubah semuanya.

* * *

Kamar yang kecil ini dulunya adalah ruang tamu dalam rumah asli tipe 21. Hampir semua bentuknya masih sama. Dinding masih dengan cat putih, plafon masih dengan tripleks yang sama, pun jendela masih dengan kusen yang sama, hingga colokan listrik-pun masih di tempat yang sama. Dulu ruangan ini adalah pintu masuk, ketika tamu-tamu (mungkin) datang.

Kamar yang besar adalah bangunan yang ditambahkan dari rumah asli. Dahulu kamar itu adalah dua ruang yang disekat dua dinding tripleks. Sebuah ruangan panjang itu berubah menjadi 3 ruang dengan bantuan dua dinding tripleks. Dan jadilah dua kamar plus satu ruang makan plus-plus. Yah, sebut saja plus-plus karena disana ada sebuah meja makan besar yang tidak hanya jadi tempat makan, tapi juga tempat membuat PR, tempat membuat dagangan untuk dijual di kantin, dan lain-lainnya.

Renovasi besar rumah dilakukan beberapa tahun sesudah pindah. Sebuah ruang tamu besar 5 kali 5 meter dibangun di depan bangunan tambahan alias di sisi kanan bangunan asli. Sehingga kemudian ruang tamu lama itu bisa dijelmakan menjadi sebuah kamar tidur. Ruang makan tetap pada tempatnya. Dan dua kamar mungil-mungil sisanya diubah menjadi 1 kamar, tapi dengan disekat dinding bata dengan ruang makan. Sedikit lebih lega memang.

Dan di tempat itulah kehidupan berjalan. Kehidupan sebuah keluarga sederhana dengan mimpi besar.

Sedari kecil aku memang memimpikan sebuah kamar pribadi dengan meja belajar yang bagus, dan syukurlah, mimpi itu tidak pernah terwujud 🙂

* * *

Ketika aku sudah merantau, pemilik rumah yang notabene adalah orang tuaku sendiri kemudian menambah tempat lagi di belakang. Areal yang dulunya adalah tempat pohon pisang dan jemuran itu kemudian dijadikan 3 ruangan. Dapur, ruang makan, dan sebuah kamar di bagian pojok. Meja makan besar itu bisa pindah dari ruang tengah dan resmilah ruang itu menjadi ruang keluarga.

Perlahan pertambahan luas rumah itu berbanding terbalik dengan jumlah penghuninya, satu persatu penghuninya meninggalkan tempat yang bisa disebut RUMAH itu untuk menggapai mimpinya masing-masing. Rumah itu membesar tapi menjadi semakin sunyi. Berbanding terbalik ketika rumah itu kecil dan sangat berisik.

* * *

Aku membaringkan badanku di atas tempat tidur besar yang ada di kamar gede. Ini mungkin tidur yang paling nyaman, mengalahkan hotel kelas premier yang pernah aku inapi. Inilah tidur di tempat yang bisa aku sebut KAMAR, di dalam sebuah tempat yang bisa aku sebut RUMAH, sebuah kombinasi yang tepat ketika aku kemudian menyebutnya dengan PULANG.

🙂

Dan Aku Pulang: Rumah

17 Agustus 2012, di saat seharusnya menyaksikan upacara di TV, aku malah tersudut di pojok kanan belakang travel Maestro yang membawaku dari Bandara Minangkabau ini. Ah, lama sekali. Kakiku sudah menekuk tidak karuan. Untung saja umurku masih 25, bagaimana kalau ini terjadi 25 tahun lagi? Pasti kakiku sudah membengkak karena penyakit.

15.45, aku mengingat angka itu tampak di dashboard mobil travel persis ketika meninggalkan parkir Bandara dan memulai perjalanan panjang menuju Bukittinggi. 17.45, aku mengingat angka itu tampak di tempat yang sama ketika nama “Padang Luar” sudah tampak di sisi kiri dan kanan.

Tapi kenapa sampai 18.30, mobil ini masih terjebak di macet Simpang Tarok?

Sigh!

Mobil ini masih hendak ke Gadut, masih hendak ke Inkorba, dan Ganting terakhir. Mungkin jam 9 malam aku sampai.

“Lurus!” teriak Polisi di pertigaan yang macetnya sudah mirip Pasar Serang.

Mobil travel ini masih dalam posisi hendak belok ke kiri, ke jalan menuju arah Gadut, kalau aku tidak salah.

“Lurus! Ini nggak bisa jalan,” teriak Polisi itu lagi.

Supir travel ini mengeluarkan pose malasnya. Perjalanan dari bandara sudah cukup melelahkan, pas puasa pula, aku mencoba memahami itu. Ia kemudian mengarahkan mobil ke arah Aur Kuning dan berbelok masuk ke arah Koto Dalam.

“Kalau lewat siko, ka Ganting se dulu, Da.”

“Ganting?”

“Ganting Permai.”

Supir itu diam, tidak menolak ataupun mengiyakan.

Perempatan Bay Pass yang semakin lama tampak sempit bagiku, supir itu belok kiri. Kupikir ia menolak permintaanku, tapi ternyata tidak. Di sebelah Gon Raya, ia berbelok naik. Yah, ini jalanan yang 11 tahun lalu kulewati dengan berjalan kaki sesudah turun dari Ikabe 08.

“Turun depan ajalah,” gumamku ringan.

Oke, ini travel yang seharusnya mengantarku sampai di depan pintu rumah. Tapi buatku, berjalan sedikit mengenang memori mungkin bisa lebih berguna, alih-alih membuat orang lain sebal karena jalan ke rumahku bukanlah mudah untuk ditunjukkan. Berhenti di depan kompleks, tentu akan mempercepat mereka sampai ke Gadut atau Inkorba. Sementara aku cukuplah berjalan sedikit sambil mengenang kisah lama.

“Mokasih, Da.”

Kataku setelah menutup pintu geser mobil travel itu. Semoga selamat sampai akhir ya.

Aku berjalan memasuki kompleks berlabel “Wisma Ganting Permai” itu, perlahan dan sungguh pelan-pelan. 18.45 di daerah Sumatera Barat belumlah terlalu gelap karena matahari belum sepenuhnya terbenam, jadi aku masih bisa menikmati sisa kenangan.

Langkahku bertambah terus, sampai kemudian aku tiba di sebuah rumah.

Rumah itu, rumah tempat aku bisa menyebut satu kata: PULANG.

sumber: osopher.wordpress.com

* * *

“Kemana, Pak?”

“Mau lihat rumah kita nanti.”

“Horeee..”

Aku, kelas 3 SD, diajak Bapak melihat tempat yang disebutnya rumah kita nanti. Apapun itu, aku sebenarnya tidak tahu.

“Mana rumahnya?”

“Belumlah,” kata Bapak.

Aku hanya melihat tanah kosong, dengan sapi yang sedang buang air besar dengan enaknya plus rumpun bambu rimbun di bagian lain tanah kosong itu. Tidak ada yang lain.

Aku hanya terdiam, mencoba berimajinasi bentuk apa yang akan berdiri di tempat sapi itu berada sekarang.

Beberapa bulan kemudian, Bapak kembali mengajakku ke tempat yang sama dengan pemandangan yang sudah berbeda. Sebuah rumah mungil berwarna putih, pintu biru tua, dan papan-papan bercat ungu. Oh iya, atapnya asbes. Sebuah rumah yang hanya terdiri dari 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, dan 1 WC, serta sebuah kran air di belakang WC.

“Kecil ya?” gumamku.

Aku hanya mendapati raut puas Bapak melihat sudah ada bangunan yang berdiri disitu, entah puas akan apa.

Beberapa bulan berikutnya, aku dibawa lagi ke tempat yang sama. Kali ini sudah ada bangunan lain disana. Sebuah bangunan plester semen, tanpa cat dengan sebuah pintu. Bangunan itu membentang dari belakang WC hingga ujung tanah yang berbatasan dengan tetangga. Di dalamnya, ruang panjang itu disekat menjadi 3 bagian.

Dan tak lama kemudian, sebuah ritual dilakoni kembali, dan Bapak-Mamak berjanji ini yang terakhir: PINDAH.

Keluarga kami adalah keluarga kontraktor alias hobi pindah-pindah mengontrak. Setiap kali sebuah rumah aku anggap cukup, pindah menjadi jawaban. Tentu saja, kontrak habis, kalau mau perpanjang mungkin harga naik, dan segala tetep bengek lain yang coba kucerna dari obrolan orang tuaku, dengan otakku yang baru kelas 3 SD.

“Ini yang terakhir kan?” tanya adikku yang cewek. Bahkan di usianya yang baru 5 tahun, ia sudah capek berpindah-pindah rumah.

“Iya.”

Maka pada suatu minggu, pindahlah keluarga kami. Menempati sebuah sudut Perumnas, sebuah tempat yang bisa kami sebut RUMAH, karena ini memang rumah milik sendiri, tidak lagi mengontrak seperti rumah-rumah sebelumnya.

Rumah ini nyaman? Itu relatif.

* * *

Aku sampai, kulihat Bapak di depan pintu, dengan setelan jas-nya yang rapi. Sejak jadi kepala sekolah, Bapak memang jauh lebih rapi. Lagipula, masak sudah punya dua anak sarjana–tepatnya tiga tapi yang satu belum wisuda–masih berdandan kayak dulu?

Aku mencoba tampil biasa, membuka pintu gerbang seperti halnya aku melakukannya dulu dengan seragam SMP.

“Weh? Nyampe juga,” kata Bapak.

Aku tersenyum saja. Yah, aku pulang, ke rumah.

Cinta Yang Tak Sama

“Vin! Kembaranmu lewat!” seru Jonas kencang-kencang.

Sontak, tawa meledak dari mulut-mulut yang ada di tangga depan kampus itu. Hidup itu kadang unik, beberapa orang yang tidak memiliki pertalian darah sedikitpun ternyata bisa mempunyai muka yang mirip. Dan kali ini Davin yang ketiban nasib menemui adik kelas yang bermuka mirip dengannya.

Sejak pria-bermuka-mirip-davin ini masuk, seluruh teman-teman Davin sudah menggunakannya sebagai sarana untuk menghina-dina. Davin sendiri lebih suka tertawa-tawa sok manis, karena memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Ini adalah resiko berkumpul dengan Jonas, Olan, dan yang lainnya.

Bahwa nasib memang sedang menggariskan Davin untuk di-bully. Buktinya, tidak sampai 65 detik setelah pria-bermuka-mirip-davin itu lewat, muncullah Icha.

“Ihirrrrrr..,” teriak Olan, tak kalah kencangnya dengan Jonas.

“Tuh, Vin. Kejar! Gebetan jangan hanya untuk diceritakan, tapi untuk dijadikan pacar,” ujar Jonas, semacam pakar. Tentunya, karena Jonas sudah punya riwayat berpacaran dengan cewek dari 4 angkatan, mulai dari kakak kelas, teman sekelas dan seangkatan, teman sekelas waktu ngulang, sampai mahasiswi yang diasisteni. Kalau Jonas ngomong, kebanyakan itu praktek. Maka sebutlah ia sebagai praktisi percintaan.

“Apa sih?”

“Halah, sok cupu. Sudah sejauh mana sama Icha?”

“Sejauh timur dari barat,” jawab Davin, asal.

“Koplak.”

Tawa masih bersahutan di tangga depan kampus itu, sebuah tawa persahabatan, sebuah tawa hinaan yang menguatkan. Termasuk tawa yang membuat Davin masih dapat menyembunyikan sebuah fakta perih dari teman-temannya ini.

* * *

“Jadi gimana?”

Davin bertanya sambil mengaduk-aduk tape susu di hadapannya. Aslinya Davin memesan tape hangat dan Icha memesan susu hangat. Tapi entah karena mix-up atau hal lain, benda yang datang adalah tape susu. Sebuah minuman aneh yang mungkin memfirasatkan kejadian selanjutnya di malam ini.

“Nggak bisa, Mas.”

“Masih nggak bisa?’

“Ya, memang nggak bisa.”

“Masih sama alasannya dengan kemarin-kemarin?”

“Yup, benar sekali.”

“So, what should I do?”

“Nothing. Ya memang perasaanku ke kamu sebatas ini, Mas. Teman.”

Davin menghirup oksigen lebih dalam. Tidak banyak oksigen di tempat makan yang temboknya menggunakan milik Stasiun Tugu ini. Ada banyak asap rokok yang bercampur baur dengan asap panggangan jeroan ayam plus asap dari kopi joss.

“Boleh tanya sesuatu kalau gitu?”

“Apa, Mas?”

“Lalu kenapa kamu masih mau dekat denganku?”

“Kenapa?”

“Ehm, maksudku. Biasanya, cewek kalau sudah menolak cowok kan akan menjauhi atau bagaimana begitu.”

“Ah, siapa bilang?”

“Ya, menurut pengalaman.”

Icha tergelak. Davin memang sangat terbuka padanya, termasuk pengalamannya 20 kali ditolak cewek. Termasuk yang paling heroik ketika mengikuti Lora naik kereta api Pramex dari Lempuyangan, melakukan penembakan di atas kereta, ditolak dan kemudian turun di Klaten.

“Nggak lah, Mas. Justru aku yang nanya, sudah ditolak 3 kali, 4 sama ini, kok ya masih deket-deket aku?”

“Karena aku sayang kamu, Cha.”

Icha diam saja, mengaduk susu panas di hadapannya. Dan malam semakin larut, pertanda kehidupan lain di kota ini dimulai.

* * *

“Cieee, yang udah gandengan sama Icha. Udah sukses nih kayaknya?” seru Jonas ketika bertemu dengan Davin di depan papan pengumuman fakultas.

“Maksudnya?”

“Halah, nggak usah bohong. Atha bilang kok dia ngeliat Icha gandengan sama kamu, Vin.”

“Pacarmu bohong kali?”

“Mana ada Atha bohong, Vin? Kalau Jonas yang bohong, itu baru mungkin. Hahaha… Jadi udah jadian nih?”

“Apa sih? Nggak mudeng saya,” kata Davin sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Mas Jo!” Sebuah teriakan terdengar dari kejauhan. Jonas menoleh sekilas.

“Iya, Tha,” teriak Jonas. Pria playboy ini lalu berpaling ke Davin, “Ya kalau emang belum mau dipublish silahkan sih. Turut bahagia lah pokoknya, Bro. Semangat! Pacaran dulu ya. Haha.”

Tinggallah Davin dalam bengongnya. Bergandengan tangan dengan Icha adalah isi mimpinya, tapi bahkan untuk makan ke angkringan Tugu-pun mereka menggunakan sepeda motor sendiri-sendiri, bagaimana caranya mau gandengan?

Davin menerawang dalam bingungnya.

* * *

“Loh, Vin. Udah disini aja?” sapa Olan ketika memasuki ruang laboratorium.

“Dari dua jam yang lalu disini kali.”

“Eh, apa iya?”

“Iya.”

“Perasaan tadi di tangga aku ngeliat kamu sama Icha.”

“Ketularan deh nih anak.”

“Ketularan siapa, Vin?”

“Ketularan Jonas. Ketularan playboy juga nggak?”

“Syukurlah, belum.”

“Bagus.”

“Jangan mengalihkan topik, Vin. Beneran udah dua jam disini?”

“Iya.”

“Berarti tadi ngelihat siapa ya?”

“Hantu kali.”

“Oya, mungkin juga. Secara muka-mukamu itu memang sangat pasaran. Adik kelas aja ada yang mirip. Mungkin juga kamu punya kembaran di dunia lain. Ya udah, ini mau ngambil laporan doang kok. Duluan ya.”

“Ya.”

Davin semakin tenggelam dalam bingung yang mulai tak berkesudahan. Ada apa hari ini? Davin mulai lepas fokus dari eksperimennya, sampai kemudian, sebuah kemungkinan terlintas di benaknya.

“Jangan-jangan….”

* * *

sumber: love.catchsmile.com

Davin melajukan sepeda motornya dengan kecepatan biasa-biasa saja. Kebingungan yang melingkupi membuatnya berjalan sambil setengah berpikir. Ah, semoga saja kebingungannya tidak membuat Davin salah jalan dan tahu-tahu nongol di depan rumah Icha.

Bak tape hangat dan susu hangat yang menjadi tape susu hangat, otak Davin tiba-tiba meminta mata untuk melihat sebuah objek. Sweater garis-garis putih ungu. Ini mix up atau kenyataan?

Benda ini adalah kesayanagan Icha. Davin selalu melihat sweater ini ketika mereka berdua beriringan naik sepeda motor kalau hendak pergi makan. Davin bahkan tahu kalau di kanan atas sweater ini ada sedikit bagian yang tersangkut paku sehingga agak rompal. Saking detailnya.

Perlahan Davin sadar kalau ini kenyataan. Pandangannya lantas terpaku pada kenyataan bahwa orang yang menggunakan sweater itu tidak dalam posisi mengendarai sepeda motor, tapi berada jok belakang. Dan sepeda motornya bukanlah milik Icha karena Davin sangat paham nomor plat berikut bulan habis pajaknya plus berapa mur yang digunakan untuk memasang plat itu. Lagi-lagi, efek kebiasaan berjalan beriringan kalau janjian.

Otak Davin yang dipenuhi pertanyaan lantas mengarahkannya untuk bertindak bak mata-mata amatir. Davin mulai menjaga jarak sambil tetap membuntuti sepeda motor nuansa hitam merah yang menjadi target operasinya.

Empat lampu merah terlewati hingga akhirnya sepeda motor itu berhenti di sebuah tempat makan di kompleks Kridosono. Davin mengikuti namun kemudian menjauh ke arah pintu masuk stadion sepakbola. Matanya tetap awas mengamati keadaan.

Kedua orang di atas sepeda motor itu turun, melepas helm, melepas slayer, dan….

berjalan bergandengan tangan.

Davin menatap tajam dari kejauhan. Itu memang Icha. Sweaternya sudah jelas, termasuk bagian yang rusak, sama persis. Rambut panjang itu juga milik Icha, termasuk bando biru yang dikenakannya. Pipi chubby itu juga punya Icha. Ya pokoknya itu memang Icha.

Dan Icha bergandengan tangan dengan seseorang…

Keduanya menuju pintu masuk tempat makan bercat hijau, masih sambil bergandengan tangan. Tiba-tiba, si cowok melepaskan pegangan tangannya dan berlari kembali ke sepeda motornya. Icha sendiri berdiam di depan pintu masuk.

Cowok itu melihat bagian kunci kontak sepeda motornya dan mencabut sesuatu. Ah, paling kunci ketinggalan. Sambil mengantungi kunci itu, ia melihat ke sekeliling, dan Davin dapat melihat muka cowok itu dengan sangat jelas. Dan ternyata, Davin mengenalinya.

Davin mengucek-ucek matanya, lalu menampar pipinya sendiri.

Ia tidak sedang bermimpi, ini nyata. Bahwa cowok yang bergandengan tangan dengan Icha adalah adik kelasnya, si pria-bermuka-mirip-davin.

“Muka boleh sama, cinta yang tak sama,” gumam Davin, lemas. Ia kemudian menyalakan sepeda motornya dan beranjak pergi. Meninggalkan kepedihan dari 4 penolakan dan 1 penglihatan. Itu sebenar-benarnya pedih.

Kisah Lama Yang Terulang Lagi

“Bangggggg….”

Ethan menjauhkan handphone pintarnya dari telinganya. Suara melengking dari ujung telepon itu cukup mengganggu telinganya.

“Apaan sih, Ra?”

“Aku galau.”

“Galau kan nama tengahmu?”

“Buset dah. Beneran ini Bang!”

“Ya tinggal cerita, seperti biasanya, Ra. Kenapa kenapa? Come to papah.”

Kara mulai bercerita, panjang lebar. Ethan mendengarkan dengan saksama. Bukan sekali sih sebenarnya Ethan harus mendengar suara galau Kara bercerita panjang lebar. Dan Ethan selalu menjadi tempat yang nyaman bagi Kara untuk bercerita. Tahu sendiri lah, kalau cerita sama teman sesama cewek, 50% kemungkinan cerita itu akan bocor kemana-mana. Tapi kalau Kara bercerita ke Ethan, semuanya aman diam.

Tentunya dalam diam yang lain.

* * *

“Tuh kan kejadian lagi.”

Sebuah baris whatsapp Ethan meluncur ke whatsapp atas nama Karaniya Adinda.

“Kejadian apa bang? :(”

“Kamu terluka lagi.. Sakit lagi..”

“Ya begitu bang.. What can I do now? Capek aku luka begini terus.”

“Kamu perlu nyari yang ngerti kamu bener, Ra. Kamu itu cewek unik, buatku sih.”

“Unik kenapa, Bang???”

“Eh, nggak ding. Cewek semua unik kok. Hehe. *yang tadi batal*.”

“Eleuh si abang.”

“Haha.”

Dan messanger berwarna hijau itu diam lagi. Tidak ada getaran, tidak ada indikator hijau. Ethan hanya melihat last seen pada profil Karaniya Adinda. Eh, bahkan nggak pernah last seen, selalu online.

Ethan melihat, melihat dan melihat. Tanpa mengetik satu karakter pun.

* * *

“Bang, kok kisahku gini terus ya?” tanya Kara sambil memegangi botol milk tea yang sudah separuh kosong.

“Kayaknya memang cintamu itu rumit, Ra.”

“Rumit gimana Bang?”

“Ya mungkin kamu belum mengerti sesuatu?”

“Heh?”

“Ya mungkin kamu belum sadar kalau cintamu itu bukan dia. Siapa tahu.”

“Hmmmm…”

“Mungkin.. Ini mungkin loh. Ada suara lain yang sudah memanggil-manggil hati kamu dari dulu. Tapi kamu nggak denger,” ujar Ethan sambil memutar tutup botol root beer. Ia lalu menenggak tegukan terakhir dan melemparkan botol minuman bersoda itu ke tempat sampah di sebelah kursi taman.

“Jadi, aku harus ngapain Bang?”

“Cobalah lebih mendengar, Ra.”

“Abstrak Bang.”

“Coba dengar saja. Mungkin ada suara lara dari mana gitu, yang menyentuh laramu sekarang ini.”

“Nggak ngerti.”

“Nanti kamu pasti ngerti, Ra.”

“Okelah, ayo Bang, kita lanjut nyari buku lagi kalau gitu.”

Cobalah lebih mendengar, Kara. Ada suara hati yang memanggil kamu. Suara itu disini. Tidak jauh dari kamu.

Kutipan batin itu tidak pernah terungkap.

* * *

“Bang, sombong ah. Nggak pernah balas whatsapp sekarang. Ditelepon nggak diangkat.”

Sebuah pesan singkat dari Karaniya Adinda.

Ethan menutup kembali handphone-nya dan melempar benda mahal itu ke sudut tempat tidurnya. Suasana masih gelap, padahal pesan itu bertanggal 10 Agustus 2012 jam 14.25.

“Km dimana bang? Aku punya cerita ini. Kayaknya aku sudah bertemu yang kamu bilang bang. Seseorang yang abang bilang kemarin-kemarin. Cinta aku yang sebenarnya. Hehe. Senangnya. Bales ya Bang.”

Pesan singkat lagi, Kara lagi. Kali ini 14.42

Ethan memandang pesan itu singkat. Matanya semakin sayu. Badannya diputar ke kanan, arah tembok. Dalam remangnya kamar itu, Ethan menggores tembok dengan spidolnya.

“Dan kamu belum mendengar lara itu, Kara.”

Ethan beranjak. Dinyalakannya lampu kamar. Dan tampaklah isi kamar itu. Foto Karaniya Adinda dalam berbagai pose tertempel di seluruh dinding. Dan sebuah tulisan besar di tembok kanan tempat tidur.

“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku, dirimu.”

Ruangan itu masih berduka atas sebuah kabar gembira. Ini hanya kisah lama, karena bukan kali ini saja Kara demikian. Dan bukan kali ini Ethan merasakannya. Bahkan seluruh luka Kara, sudah menggores luka yang lebih dalam bagi Ethan.

Ethan hanya menunggu, sampai Kara sadar, bahwa separuh Ethan, adalah Kara.

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH yang berjudul Separuh Aku 🙂