Category Archives: Cerita Yang Pendek

Sedikit mencoba menulis fiksi..

Hati-Hati Kalau Ngece

Sejujurnya aku sedang mengalami sebuah penyakit yang dalam ilmu kefarmasian perdolanan dikenal sebagai tengeng. Ya, itu sebuah penyakit ketika sesuatu–iya sesuatu banget–terjadi pada bagian tulang belakang sehingga kita tidak bisa menoleh dengan normal. Agak-agak sakit gimana gitu kalau noleh.

Nah, sehubungan dengan penyakit tengeng ini, mendadak aku ingat sebuah azab yang kulanggar beberapa hari yang lalu di grup Whatsapp. Ada sebuah azab yang ternama di kalangan dolaners bahwa jangan sekali-kali menghina alias ngece seorang tokoh di Dolanz-Dolanz.

Ya, jangan sekali-kali ngece Yama!

Pengen tahu riwayat dari azab ini? Mari kita simak.

* * *

Seperti biasa, anak Dolaners pasti menghabiskan diri dengan nongkrong di perpustakaan dan mempelajari buku-buku tebal serupa Farmakope Eropa guna menunjang ilmu selama kegiatan perkuliahan.

Ehm, percaya?

Nggak? Syukurlah. Apa yang aku wartakan tadi bukanlah sebuah kebenaran yang reguler. Hal itu hanya terjadi ketika misalnya, besok laporan dikumpul atau nanti siang ujian. Biasalah, namanya juga anak muda.

Yang benar adalah anak Dolaners akan menghabiskan diri dengan nongkrong di hall belakang, mengamati pemandangan sekitar yang indah nan permai seperti di kebun bunga. Tentunya sambil menyaksikan anak-anak Psikologi yang lewat serta mengabaikan anak-anak Teknik yang juga ikutan lewat. Rerata Dolaners adalah lulusan sekolah homogen, sehingga urusan ‘melihat lelaki sepanjang hari’ itu kebanyakan sudah paham, dan cenderung bosan.

Iki Yama ngendi?” tanyaku sambil duduk nglekar di tangga. Aku sendiri berasal dari kelas C, bersama Toni dan Roman, alias tidak sekelas dengan Dolaners lain yang rerata adalah kelas B.

Jarene nyusul,” jawab Chiko, seadanya.

Oiya, Dolaners yang dari tipe gadis entah sedang kemana, jadi yang berkumpul di tempat ini hanya Dolaners batangan. Dan, yang namanya lelaki berkumpul, obrolan pasti nggak jauh-jauh dari cewek dan segala hal saru lainnya. Kalaupun ada yang lain, tentu saja, sepakbola.

Dari kejauhan kuliah sosok separuh gondrong, nanggung nggak jelas, semacam perpaduan antara Rangga di Ada Apa Dengan Cinta serta Gie dalam film Gie. Cuma ini versi KW3-nya.

Kae Yama dudu?”

Iyo ketoke.”

Sosok gondrong itu mendekat, dan betul sekali bahwa yang datang memang bukan Rangga AADC. Pantas saja nggak ada cewek yang mengerubungi dari tadi. Kalau lalat sama tawon, ada.

“Heh, kok tumben rupamu dadi elek ngono?” tanya Bona, begitu Yama duduk di tangga belakang bersama yang lainnya.

“Lha, biasane?” timpal Chiko dengan tanya lainnya.

Elek banget.”

Spontan ngakak abis! Dan semakin ngakak ketika kemudian tampak fakta bahwa si Yama ini sedang tengeng. Bona yang tampaknya melihat fakta unik ini kemudian mencoba menggoda dengan memanggil Yama yang sedang melihat ke depan.

“Yam?”

Yang dipanggil memiringkan punggungnya, dan menoleh sedikit, serta mengandalkan mata untuk melihat Bona. Tentu hasilnya tidak sempurna.

“Lagi tengeng po kowe?” tanya Chiko.

Ketoke,” jawab Yama, santai.

Dan pada akhirnya tengeng ini menjadi bahan obrolan selanjutnya. Sampai kemudian jadwal kuliah, jadwal fotokopi, dan jadwal pacaran (khusus yang punya) membuat rombongan ini harus berpisah.

* * *

Beberapa hari kemudian adalah hari Sabtu. Ini harinya Squadra untuk bermain sepakbola. Dan beberapa Dolaners ikut di permainan berebut sebiji bola ini. Aku datang agak telat tentunya karena Alfa yang hanya bisa melaju di kecepatan maksimal 40 km/jam. Mana sebanding Alfa ini dengan Ninja Hijau atau Shogun Merah?

Begitu aku masuk ke area lapangan, bukan kegiatan pemanasan yang kutemui, tapi kegiatan evakuasi. Jiah, ada apa pula ini?

Ngopo e?” tanyaku pada Chiko yang lagi sibuk menangani seseorang yang sedang kesakitan dengkulnya. Eh, ini Bona ternyata.

Mlengse.”

Maka kegiatan pemanasan itu menjadi heroik untuk menangani dengkul striker dengan skill mumpuni ini. Permainan baru dimulai ketika Bona masuk ke mobil Kijang merah yang disetiri oleh Bapaknya. Mari berdoa supaya Bona tidak dimarahi Bapaknya karena ngeyel masih main bola. Mari berdoa pula agar Bona tidak dimarahi pacarnya, juga karena masih ngeyel main bola. Amin? Amin!

“Efek ngece Yama, ketoke,” kata Toni sambil terengah-engah dan minum air yang dituang dari galon.

“Bisa jadi.”

Sesuk ojo ngece Yama meneh.”

Demikian kesimpulan hari ini, sebuah peristiwa yang memperlihatkan perkara azab dari seorang Yama.

* * *

“HPmu kok elek men?” tanya Yama padaku ketika melihat HP Nokia 2100-ku yang semakin antah berantah bentuknya.

Sebuah pertanyaan wajar karena beberapa bagian dari HP ini sudah rompal. Belum lagi HP ini masih satu warna dan masih monophonic pula. Cuma satu keunggulan HP-ku, setidaknya selalu ada pulsa.

“Yo, ngko ndelok ae,” ujarku menanggapi pujiannya pada alat komunikasiku satu-satunya ini.

“Lha, wis HP elek, motor sisan.”

Nah, kalau perkara si Alfa ini jangan dipertanyakan lagi. Dari sisi apapun dia memang sudah pantas untuk dihina dina. Kecepatan maksimal 40 km/jam, asap mengebul bak fogging demam berdarah, hobi diservis, dan segala kegilaan lainnya mulai dari susah hidup sampai susah mati. Nggak ada pembelaan kalau ini.

Kadang aku mengelus dada (sendiri) pada nasibku. Apalagi ketika kemudian Yama menyebut hinaan ketiganya dalam sehari.

Iki nonton TV opo ngrungokne (mendengarkan) TV?”

Yeah, di kos-kosanku memang ada sebuah TV Anaco, adiknya Anaconda. Dan karena murahan memang layarnya menghitam dan hanya bisa ditonton oleh orang berhati mulia dengan amal perbuatan yang sudah banyak. Cuma, ya, sudah jelas kos-kosannya begini, titisan gagal Rangga AADC ini ya tetap aja nebeng tidur siang di kamar kosku.

Dasar tidak bersyukur dan karena memang baru saja punya pacar, Yama mengeluarkan hinaan terakhir ketika pamit.

Sik yo Zonk, mbojo sik, duwe soale.”

Kampret! Empat hinaan mutlak dilemparkan kepadaku oleh orang yang sama, dalam waktu yang sama.

* * *

Nah, ada satu hal yang kemudian menjadi kepercayaan di kalangan Dolaners. Bahwa kalau kita diece sama Yama, maka segala sesuatu akan baik adanya. Sebuah kesimpulan yang diambil dari kenyataan yang aku peroleh.

Nggak lama sesudah Yama menghina dina TV-ku, si Anaco, kabar gembira diterima. Aplikasi beasiswaku diterima, sehingga kemudian aku bisa me-refund uang semester yang sudah terbayarkan. Sebuah nominal yang lumayan untuk kemudian membeli sebuah monitor baru, berikut TV Tunernya.

Yeah!

Dan biar asyik sedikit, aku mengajak Yama sebagai tukang angkut dalam proses membeli monitor di pameran komputer ini. Rasain!

Lalu, rejeki lain mendadak nemplok sehingga ada bugdet lebih untuk membeli HP baru. Maka akupun segera memiliki sebuah HP baru, Motorola L6, yang pasti sudah bisa menyimpan musik, bisa foto, dan tidak satu warna lagi. Hore bener.

Yama mendapati HP baruku ketika sedang makan di Warung Padang yang handal (harganya).

“Wuih, HP baru kowe?”

“Pastinya!” kataku dengan senyum kemenangan sambil memasukkan HP baru ke kantong khusus, takut lecet gitu.

Rentetan kabar baik belum usai ketika menjelang skripsi, aku dikabari bos di rumah berita baik lainnya. Proposalku untuk membeli sepeda motor terkabul dengan indah. Lewat sebuah proses yang agak absurd, aku akhirnya memiliki sebuah sepeda motor Honda Revo, yang kemudian melemparkan Alfa ke peraduannya yang baru. Semoga majikan barunya bisa menerima Alfa dengan lapang dada, baik kebaikan dan keburukannya. Yah, walaupun kebanyakan buruk sih.

Empat hinaan itu akhirnya berakhir ketika beberapa bulan sesudah punya Revo, aku akhirnya punya pacar (lagi).

Sesudah poin keempat ini, aku menghitung kembali proses ngece yang dilakukan Yama, dan kejadian yang terjadi sesudahnya. Maka aku mengambil kesimpulan bahwa kalau kita diece sama Yama, maka berkah sudah menanti.

* * *

Percakapan di grup Whatsapp, bertahun-tahun kemudian.

Yama: Mesti kowe jomblo, zonk
Toni: zonk, kowe diece Yama
Zonk: syukurlah, matur nuwun lho
Yama: yowiz, di list wae opo meneh sik arep tak ece

Demikianlah yang terjadi. Sejauh ini, aku tidak mempercaya kebenarannya, tapi geleng-geleng melihat buktinya.

🙂

 

Aku, Di Depan Pintu

“Yang ini bagus, Say.”

Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan berhenti di hadapanku. Mata mereka masing-masing tertuju ke arahku. Kumaknai adanya sebuah rasa penasaran dalam tatapan mereka kepadaku. Sejurus kemudian, mereka berdua saling berpandangan. Sedetik berikutnya, tangan si laki-laki sudah mendekat ke arahku.

Tangan kokoh itu akhirnya sampai juga di tubuhku. Dibelainya sejenak, kemudian direngkuhnya tubuhku yang mungil ini dan dibawanya mendekat ke arah kedua bola matanya.

Kurasakan tatapan matanya memandangi setiap centimeter tubuhku dengan saksama. Ada rasa enggan di dalam diriku. Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Masalahnya, aku tidak bisa berontak, protes, atau apapun. Tugasku memang hanya diam.

“Boleh juga. Coba cari yang lain dulu ya, Say.”

Perlahan, tangan kokoh itu membawaku kembali k posisiku semula. Rasa syukur muncul dalam benakku. Ya, walaupun sejatinya aku boleh dimiliki oleh siapapun, tapi selalu ada rasa hendak memilih seseorang yang berhak memilikiku.

Sepasang kekasih itu akhirnya berlalu dari hadapanku, mungkin hendak mencari yang lebih sesuai dengan keinginan mereka.

Lalu lalang manusia menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Berposisi tepat di depan pintu masuk adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Dan tentu saja, siapapun yang hendak masuk ke tempat ini, pasti akan melewatiku. Syukur-syukur ada yang menengok sebentar dan tampak tertarik padaku.

Sebuah keseharian yang perlahan membuatku terbiasa. Sebuah pengalaman yang pada akhirnya mampu membuatku memahami, sosok yang menurutku pantas untuk memilikiku.

Tapi sekali lagi, aku tidak berada pada posisi memilih, karena aku hanya bisa dipilih.

Tiba-tiba, seorang gadis muda–sendirian–mendekat ke arahku. Badannya yang mungil lantas membungkuk sehingga posisiku dan wajahnya cukup dekat. Tangannya kemudian terjulur membelai tubuhku.

Dan aku merasakan sebuah kehangatan yang lain.

Diam-diam kuintip tatapannya kepadaku. Ehm, kurasakan sesuatu yang lain dari pandangan yang muncul dari dua bola mata yang sedikit berkantong mata itu. Tangannya membolak-balik tubuhku dengan ringan.

Lima menit ia terdiam sambil memegang tubuhku, dan aku merasa nyaman. Bolehkah aku meminta untuk dimiliki orang gadis ini?

Sejenak tubuhku berpindah ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang handphone flip yang barusan dirogoh dari sakunya. Aku hanya dapat mengamati jemarinya beraksi di keypad. Dan karena takdir pula, aku tidak berhak bertanya tentang kegiatan yang ia lakukan.

Tiga menit ia asyik dengan handphone flip itu dan kemudian menutup kembali handphone putih itu. Kulihat senyum manis tersungging di bibirnya, bertambah indah karena sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir itu.

Pertanda apakah ini?

Tubuhku kembali berpindah ke tangan kanannya. Kurasakan sedikit pertanda baik untuk perpindahan ini. Perlahan gadis manis ini melangkah menjauh dari tempatnya berdiri semula. Langkah itu semakin menjauh dan kutengarai mendekat ke sebuah tempat penentuan nasib.

Kassa.

Yeay! Aku bersorak dalam hati. Bahwa kembali kutegaskan bahwa posisiku bukanlah untuk memilih, tapi aku selalu ada keinginan untuk memilih seseorang yang hendak memilikiku. Aku hendak dipilih oleh orang yang kuinginkan.

Dan kini, sepertinya, aku hendak mendapatkan keinginanku.

Aku berpindah dari tangan gadis manis itu ke tangan kasir yang sebenarnya tidak kalah manisnya. Dalam waktu yang teramat singkat, aku sudah berada dalam tempat khusus yang siap membuatku mudah dibawa. Pada saat yang sama, gadis manis itu menyerahkan sejumlah uang. Dan sejurus kemudian, aku kembali ke tangannya.

Tangan kanan gadis manis itu menyambutku dari tangan kasir. Pada tangan yang sama, ia juga memegang handphone flip yang tadi kulihat. Sejenak kubaca teks yang ada di layar yang cukup lebar.

“Barusan membeli Perahu Kertas, walaupun udah pernah baca tapi minjem.”

Dua langkah sesudah meninggalkan kasir, aku dipindahkan ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menyelesaikan pesan singkat yang isinya sudah kubaca itu.

Sebuah proses transaksi selesai, dan aku telah menjadi milik gadis manis ini. Nanti aku akan tahu namanya dan tentu saja kehidupannya. Dari tatapan dan senyumnya, aku membayangkan akan menikmati sebuah petualangan tentang mimpi dan hati, persis dengan yang tertulis pada diriku.

Inilah kisahku, sebuah novel Perahu Kertas.

Sesudah Hujan

Dua orang sedang berantem di atas kereta api yang sedang melaju kencang. Di kejauhan seorang wanita tampak membidikkan senapan sambil berbincang dengan seseorang yang lain via headset. Wanita itu tampak ragu, tapi seseorang di tempat lain dengan tegas berkata, “shoot!”.

Wanita itupun menembak dan satu dari dua orang yang ada di atas kereta api itu terjatuh, jauh ke bawah. Terhanyut di sebuah air terjun.

Oke, FINE! Aku kurang paham maksud hati kru bis Pantura ini untuk memutar Skyfall persis jam 12 malam. Ya secara biologis jam segitu adalah waktu tidur, dan bayangkan saja di tengah tidur-tidur ayam–namanya juga tidur di bis–aku masih harus mendengar jedar jedor suara tembak-tembakan James Bond dengan musuhnya.

Mungin dia baru beli bajakannya.

Dan entah berhubungan atau tidak, perlahan kaca tebal di sebelah kiriku mendadak basah. Kulihat lebih dekat dan teliti, ya memang semakin basah. Maka sejurus kemudian aku paham bahwa ini adalah hujan. Ehm, hujan di perjalanan Indramayu ke Alas Roban ini tampaknya menjadi lebih menarik daripada Skyfall. Hujan yang dilihat dari sebuah perspektif yang berjalan, sekaligus hujan yang tidak bisa dirasakan. Inilah sebenar-benarnya melihat hujan. Dan bagiku, melihat hujan akan secara otomatis membangkitkan memori tentang dia.

Dia yang seharusnya sudah aku lupakan.

Glodakkk…

Kepalaku sedikit terantuk ke kursi empuk di depanku. Mataku bangkit dari terpejam. Ah, aku terbangun rupanya, mungkin ada lubang di jalan. Lagipula, persis di bawahku adalah roda kanan belakang bis ini, jadi sangat wajar kalau aku bangun duluan kalau roda itu masuk ke dalam lubang.

Bis gelap, layar yang tadi memutar Skyfall sudah tidak lagi menyala. Kutarik handphone yang sedang di-charge dengan powerbank di dalam tasku, jam 04.01.

Hujan berhasil mengantarkanku pada sebuah suasana tidur yang lumayan nyenyak–untuk konteks sebuah perjalanan darat.

Kulepas handphone hitam itu dari powerbank. Kadang aku berpikir, sebegitu tergantungnya aku dengan benda-benda ini. Aku sendiri tidak pernah bisa lagi membayangkan ketika ayahku, puluhan tahun silam menempuh perjalanan darat selama seminggu penuh dari Sumatera ke Jawa. Dan aku tahu benar, dia tidak membawa powerbank, tapi dia bisa sampai dengan selamat dan–ya–tetap bisa hidup. Aku? Tanpa handphone dan powerbank ini, hidupku mendadak gundah. Sebuah ketergantungan yang buruk pada ciptaan sesama manusia.

Selesai rangkaian powerbank itu masuk rapi ke sarangnya, kepalaku kembali mencoba menikmati perjalanan dan pemandangan yang ada di sekitarku. Suasana pagi buta, bagiku adalah sebuah suasana yang khas. Dulu, ketika isu keamanan belum mengemuka, aku sering keluar dari kos pada pagi-pagi buta, sekadar berkeliling kota. Melihat tukang becak tidur di emperan Jalan Mangkubumi, melihat sepeda-sepeda onthel yang dikayuh manusia paruh baya di Ring Road Utara, hingga mengamati orang seusia nenekku masih dengan setia menggendong keranjang rotan ke pasar.

Suasana pagi buta ini pula yang mengingatkanku pada suatu hari, ketika aku terjaga, bergerak, dan mendapati kenyataan bahwa aku sudah seharusnya melupakan dia.

Lagi-lagi dia.

Kaca di sebelah kiriku secara perlahan memberikan terang. Yah, matahari telah terbit, dan pada saat yang sama hujan masih saja turun dengan perlahan. Aku terpekur melihat warna hijau di sisi kiri jalan ini. Inilah jalur yang seringkali kudengar ketika menonton berita arus mudik. Alas Roban.

“Istirahat! Makan!”

Kondektur meneriakkan kedua kata tersebut begitu bis parkir di depan sebuah restoran. Matahari sudah bersinar terang dan bis ini baru keluar dari Alas Roban? Mau sampai Jogja jam berapa ini? Aku mulai merasa pasrah, karena sejatinya aku ada janji jam 12 siang nanti. Semoga masih terkejar.

Bresssss….

Persis ketika aku menginjakkan kaki di teras restoran, sejumlah besar volume air tumpah dari langit. Hujan. Ini hujan yang sama dengan yang aku lihat tadi, tapi ini adalah hujan dengan perspektif yang berbeda. Ini adalah hujan yang kurasakan.

Maka hawa dingin melingkupi restoran ini seketika. Akupun bergegas merogoh saku dan menghitung helai-helai kecil isi kantong untuk kemudian membeli popmie. Sedikit mengelus dada ketika tahu harganya dua kali lipat harga Jakarta. Mungkin memang harga air panas di dekat Alas Roban ini adalah Rp. 4000.

Inilah pemandangan paling sentimentil. Berdiri menghadap parkiran bis yang luas–tapi kosong, sambil menyeruput kuah dengan rasa yang khas, plus memandangi hujan, serta mengingat dia.

Sekelebat dan semakin jelas, dia muncul kembali.

Kutepiskan kehadiran itu, karena aku sendiri yang memutuskan untuk melupakan dia. Untunglah kru bis segera bersiap dan perjalanan dilanjutkan kembali. Aku cukup lelah karena mengamati pagi buta, dan kini saatnya aku meringkuk manja dalam balutan selimut hijau bis Pantura ini.

Tulang belakangku mulai lelah. Sudah 12 jam aku berada dalam posisi yang sama. Dia berontak dan menyebabkanku terbangun. Dan ini masih di satu kota sebelum Jogja.

Lama banget sih!

Kesadaranku perlahan pulih sampai kemudian aku tersadar kalau bis ini sedang berhenti dan supir bis baru saja berlalu di sebelah kananku. Supir juga manusia, dia pasti kebelet pipis. Kepalaku kembali ke sisi kiri dan mendadak sadar kalau bis ini berhenti di sebuah tempat, yang sangat dekat dengan–lagi-lagi–dia.

Kini aku tidak bisa berkelit karena aku tahu benar tempat ini. Tempat dimana aku sempat berharap, untuk kemudian harapan itu padam seketika semata-mata karena harapku terlalu tinggi. Dalam hal cinta, kita boleh bermimpi tinggi tapi tidak boleh berharap terlalu tinggi. Sebuah pelajaran penting yang aku pahami sesudah kejadian suatu sore di tempat yang tidak jauh dari bis ini berhenti, bertahun-tahun silam.

Kenapa mendadak perjalanan ini menjadi tentang dia? Padahal sepanjang jalan ini aku juga asyik bertukar pesan BBM dengan seorang gadis manis yang selama beberapa bulan ini akrab denganku. Seorang gadis yang kukenal tidak lama sesudah aku memutuskan untuk melupakan dia.

Ya, dia. Dia yang mendadak muncul kembali dalam setiap penglihatanku.

Dan aku mendadak perlu kaca ketika aku mengutuk kemacetan di jalan masuk Jogja ini. Kenapa perlu kaca? Karena aku mengutuk plat-plat asing non AB yang mendadak memenuhi jalanan Jogja. Mereka ini menuh-menuhin jalan! Dan kaca itu kuperlukan karena aku sendiri juga adalah pendatang yang dalam waktu singkat akan membuat Jogja semakin penuh.

Kalaulah aku tidak hendak melihat saat bahagia temanku, maka perjalanan ke Jogja pada saat liburan akhir tahun adalah opsi terakhir untuk dipilih. Bahkan dulu waktu aku masih tinggal di kota penuh kenangan inipun, aku–si makhluk sunyi–lebih memilih berdiam di kota mati di sekitarku daripada terjebak macet oleh plat luar kota di jalanan. Sigh!

Jalanan merayap ini akhirnya berakhir juga. Waktu kian mendesak sehingga aku juga bergegas meninggalkan terminal Jombor menuju resepsi pernikahan temanku di sudut lain kota ini. Benar-benar sudut lain, melintang utara selatan. Di perjalanan, aku samar-samar mengingat dia yang sama–yang dari semalam meraja di otakku (lagi). Untungnya aku masih dapat mengendalikan laju sepeda motor sewaan ini. Haha, anggap saja bagian terakhir ini berlebihan.

Resepsi pernikahan teman ini sudah mendekati sepi ketika aku tiba. Masih syukur kalau aku masih bisa melihat segelintir teman yang datang dan kemudian berfoto bersama. Suatu ritus sepele yang sekarang sebenarnya bisa digantikan oleh kreativitas Photoshop. Tapi maknanya itu yang berbeda. Berbeda sekali.

Pernikahan ini milik temanku yang sudah berpacaran enam tahun lamanya. Ehm, sebuah angka yang sama dengan rentang masa aku mengenal dan jatuh cinta pada dia. Ah, suatu kebetulan saja. Momen yang sama menghasilkan dua makna pada dua makhluk yang berbeda. Toh dalam satu momen besar, terjadi momen-momen kecil yang memiliki makna berbeda bagi setiap persona yang mengalaminya.

Makna berbeda, pun dengan nasib. Kalau dia bisa menuntaskan perjalanannya hingga ke pelaminan–dan siap memulai perjalanan baru, maka aku ya semacam ini. Gundah gulana antara (sempat) berhasil melupakan dan kemudian kembali mengingat dia.

Masih saja soal dia yang tidak bisa lenyap dari hati ini.

Mendung menggantung dan aku pamit pulang, ke sebuah tempat penginapan. Tempat biasa tapi sedikit bermakna lebih dalam. Tempat yang ada di sudut lain kota ini.

Ketika aku mengayun tangan di pedal gas, di tanjakan Janti, mendung menggantung itu akhirnya pecah jadi berkeping-keping. Melontarkan volume air yang kusebut hujan. Masalahnya, ini bukan hujan biasa. Ini hujan deras.

Deras sekali.

Bagiku–sejak dulu dan masih kupercaya hingga kini–hujan bukanlah halangan. Petani di masa silam punya rituan khusus memanggil hujan. Kalaulah hujan menghanyutkan (rencana) panen mereka, bukan hujan yang salah, tapi waktu mereka yang tidak tepat. Bahwasanya hujan menjadi sesuatu yang dikutuk oleh orang kebanyakan, mungkin baru terjadi ketika semua lapisan tanah dilarang meresapkan air dan air itu lantas tergenang. Genangan yang kemudian membawa konsekuensinya.

Apakah hujan salah kalau begini? Tidak! Tidak sama sekali.

Maka aku melajukan sepeda motor dengan teknik tertentu. Melibas genangan tidaklah semudah melibas jalanan biasa. Gas besar pada posisi gigi 1 atau 2. Motor menjadi lambat, konsumsi bensin boros, mesin meraung begitu kencang dan lebih panas. Semua dilakukan agar kendaraan roda dua ini masih sanggup berjalan.

Sementara dari atas, tetesan air menyerupai tusukan jarum terus menghujam lenganku. Satu-satunya bagian yang masih terpapar oleh air langit ini.

Aku terus berjalan. Hidup ini soal menuju ke tujuan. Siapa yang tahu sesuatu yang mungkin aku lewatkan jika aku memilih untuk berteduh? Tapi siapa pula yang tahu akibat jika aku terus berjalan? Tidak ada. Ini adalah sebuah pola hidup yang kunamakan misteri.

Makanya, kadang untuk sebuah hadangan semacam genangan, kita perlu bekerja perlahan tapi lebih keras. Perspektif menyikapi hujan yang bagiku sejalan untuk hidup.

Perkaranya, aku tidak bisa memakai perspektif itu ketika suatu hal sudah menyangkut dia.

Dia lagi, dia lagi. Dan akan selalu dia.

Aku akhirnya sampai di tempat penginapan sederhanaku, di sudut utara kota Jogja. Sebuah penginapan penuh makna karena persis di hadapannya adalah sebuah tempat monumental.

Monumen tidak nyata yang terbangun abadi dalam kenangan. Ketika aku berdiri di sebuah tempat dan berbincang dengannya sambil mendongak. Ketika aku mengetahui dia ada dari jendelanya yang terbuka. Ketika aku memanggilnya karena sekadar hendak menyapa.

Maka ketika sepeda motor kuparkir di tempat yang ada di penginapan, aku tidak lantas masuk ke kamar. Aku berdiri seolah menatap hujan yang perlahan mereda. Aslinya, pandanganku menembus jauh ke seberang jalan, ke sebuah jendela, sebuah pagar, dan sebuah tempat percakapan. Dan sekelebat lagi kulihat dia disana.

Mataku terpejam meski basah. Tidak, aku tidak menangis. Ini asli basah oleh hujan yang perlahan mereda. Aku terbayang saat-saat indah itu, ketika aku dan dia menjadi dekat–sebagai teman bercakap-cakap soal hati. Dan tidak pernah lebih dari itu. Bahkan kini berkurang, jauh berkurang menjadi dingin sama sekali.

Indah yang terjadi sesudah hujan, dingin yang terjadi juga sesudah hujan.

* * *

“Kak, boleh curhat?”

Dia mendatangiku dan lantas duduk di atas batu, persis di sebelahku.

Lha, ya silahkan.”

Maka dari bibir manisnya meluncur berbagai perkataan tentang kisah, tentang cinta, tentang pedih. Sebuah rangkaian yang menyebabkan luka di hatiku. Kenapa?

Karena akhirnya aku tahu, bahwa yang ada di hatinya bukanlah aku.

Tapi, seluka-lukanya aku, berduaan dengannya–dengan kaki telanjang menapak di rumput yang basah sesudah hujan–adalah sebuah kejadian tidak ternilai. Maka aku memilih menikmati kebersamaan ini dan menyimpan luka itu rapat-rapat, jauh di tempat yang hanya bisa kujangkau sendiri.

“Ya, kalau memang hatimu memilih dia. Perjuangkan!”

Itu kalimat terakhirku, penuh dengan makna munafik. Sangat munafik karena kemudian aku tidak pernah memperjuangkan pilihan hatiku padanya. Aku tidak sayang pada hatiku, tapi aku lebih sayang pada kedekatan yang mungkin sirna jika memilih untuk mengkonversi perasaan ini menjadi cinta.

Fiuhhh..

* * *

Hujan teramat deras ketika aku sampai di hotel tempatku akan menginap. Aku bahkan tidak tahu ojek ini membawaku ke tempat yang benar atau tidak karena aku berada di bawah kibaran ponco. Pada akhirnya ojek berhenti dan sepertinya aku berada di tempat yang benar.

Kulemparkan tasku ke ranjang begitu memasuki kamar hotel dan segera menyambar handphone yang ada di saku.

‘Aku lagi di Setiabudi. Bisa ketemu?’

Sebuah pesan singkat itu kukirimkan padanya. Berharap sebuah balasan menyetujui untuk bertemu.

Sebuah pesan singkat yang sepanjang malam sampai pagi belum berbalas. Dan pada akhirnya tidak berbalas.

Hujan sepanjang malam menemani penantianku atas pesan singkat yang tidak berbalas itu. Dan persis pagi hari, pagi buta, aku berjalan ke sebuah tempat yang aku tahu adalah kediamannya kini. Sebuah perjalanan melewati jalanan yang sejuk. Bahkan aku melihat sebuah pohon tinggi dengan burung sejenis angka terbang berputar di atasnya. Indah. Meski tidak ada yang lebih indah daripada dia.

Aku akhirnya berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam, persis di sebelah jalan tol. Aku hanya berhenti, berdiam, mematung lima menit, dan mengurungkan niatku memencet bel.

Aku lantas berbalik, berjalan cepat menuju sebuah warung makan kecil, tidak jauh dari situ dan duduk disana. Tidak lama, dia keluar dari rumah pagar hitam itu dan berjalan kaki menuju kantornya yang cukup dekat.

Dari balik warung makan kecil, aku mengamatinya. Dan atas nama langkahnya yang semakin menjauh itu, akupun sadar bahwa dia memang seharusnya aku lupakan.

* * *

‘Udah sampai Jogja?’

BBM masuk, dari gadis cantik yang kuceritakan sebelumnya.

‘Udah dong. Udah kehujanan juga.’

‘Ish, sakit lho ntar.’

‘Gpp kok. Gpp.’

‘Oke d :D’

Sungguhpun aku berterima kasih pada gadis cantik ini yang mampu mengalihkan duniaku dari seorang dia. Meski tidak sepenuhnya. Fakta bahwa aku tidak bisa mengalihkan cintaku ke gadis cantik itu membuatku memang tidak bisa lari dari dia, dia yang punya tempat rapi di hati ini.

Dengan segala isi pemikiran itu, kuletakkan benda hitam kecil itu dan menatap jauh ke luar jendela. Dan tebak, apa yang terjadi? Ya, hujan.

Hujan yang sama, yang mengingatkanku pada rumput hijau yang kupijak dan batu basah yang kududuki saat berbincang dengan dia.

Hujan yang sama, yang membuat tanah basah ketika aku memutuskan untuk melupakan dia, persis di depan rumah berpagar hitam.

Hujan yang sama, yang sedari semalam membangkitkan segala kenangan dan hasratku tentang dia.

Hujan yang lantas menjadi tambah lebat. Derunya–entah bagaimana–membuatku melaju mengeluarkan kepalaku dari jendela dan menikmati deras serta basahnya anugerah langit itu.

Dan–entah darimana pula–aku semacam mendapat keberanian lagi untuk bertemu dia. Aku sadar, ketika aku memilih untuk meninggalkan rumah pagar hitam itu, aku memilih menyimpan sebuah unfinished business yang nyatanya laten.

Bukankah lebih baik aku menyelesaikannya, dan membiarkan dia memberikan kesimpulan alih-alih aku menyimpulkannya sendiri, seperti saat ini? Bukankah lebih baik ditolak daripada menganggap diri ini ditolak?

Tiba-tiba sebuah energi masuk ke langkah kakiku.

* * *

Kini, sepeda motor sewaanku sampai di depan sebuah bangunan berlantai 2. Tidak jauh dari tempat bisku berhenti kemarin. Sebuah perjalanan nekat–dan kembali–menembus hujan.

Dan ketika sesudah hujan, aku sampai di tempat ini, aku merasakan sebuah momen yang sama. Sebuah pengantar untuk sebuah penyelesaian. Sebuah prolog untuk sebuah happy ending. Setidaknya itu yang ada di pikiranku.

“Eh, Mas Leo, lama nggak mampir,” ujar Tante Eliz, seorang baik yang kuketahui sudah melahirkan dia ke dunia fana ini sebagai sebuah pesona tiada akhir.

“Iya, Tante. Mumpung liburan.”

“Ayo, masuk.”

“Makasih, Tante.”

Tempat ini tidak asing, karena aku pertama kali merasakan dinginnya dia padaku, ya di tempat ini. Hanya sebulan sebelum aku memutuskan pergi ke tempatnya tinggal sekarang, di sebuah rumah berpagar hitam.

“Key ada?”

Oke, percayalah aku nekat! Aku datang ke tempat ini untuk bertemu dengan dia, tanpa tahu apakah dia pulang ke rumah kelahirannya ini. Percayalah, tidak ada kata nekat dalam kamus cinta. Dalam cinta, semuanya mendadak menjadi hal yang ordiner.

“Ada, baru pulang tadi. Libur tahun baru dia.”

“Oh begitu. Tante sehat?”

“Syukurlah. Mau minum apa?”

“Jus apel, Tante. Hehe, bercanda. Apa aja deh.”

“Baiklah. Tante panggilkan Key dulu ya.”

Bahwa sebuah pernyataan barusan sudah membuat aliran darahku melaju lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan, kalau ada Amlodipine Besylate di tempat ini, aku sendiri meragukannya akan menurunkan kecepatan aliran darah ke jantung ini.

“Key, ada tamu tuh.”

Samar-samar kudengar Tante Eliz memanggil anak gadisnya itu.

Langkah kaki terdengar jelas di telingaku, dia sedang berjalan mendekat.

“Kak? Ngapain?”

Aku menemukan ekspesi kaget dalam pertanyaannya.

“Selamat sore, Keyla,” ujarku sambil tersenyum.

* * *

Tetes air hujan tampaknya mulai menyelesaikan tugasnya untuk turun dari langit. Kini hanya sisanya saja yang masih berjatuhan. Sementara suasana dingin memeluk bumi. Memeluk aku dan Keyla yang duduk di teras rumahnya sambil menatap hujan.

“Jadi, curhat-curhatmu jaman dulu itu ternyata aku?” tanya Key, matanya tetap menatap jauh kepada hujan.

“Sebagian besar.”

“Hmmmm..”

Suara air tersisa yang masih berjatuhan ke bumi menemani kesunyian pembicaraan sesudah hujan ini.

“Waktu kamu jadian sama Cello, aku sudah berhasil melupakan kamu, Key. Sampai kemudian aku tahu kalau kamu malah disakiti.”

Key terdiam, dengan ekspresi yang sama.

“Dan aku tahu segala resiko untuk kelancanganku pada saat ulang tahunmu. Entahlah, bagiku tidak selayaknya juga aku memberikanmu hadiah yang absurd macam itu.”

Dan Key masih terdiam.

“Dan waktu aku SMS kamu, SMS terakhir itu, aku ada di sana Key. Aku ngelihat kamu berangkat kerja, malah.”

Ada tatapan bermakna kaget, meski yang tampak adalah dia mencoba menyembunyikannya.

“Dan untuk suatu masa yang sudah bertahun-tahun lewat ketika aku memutuskan untuk melupakan kamu, pada akhirnya kamu kembali juga. Aku berbohong karena hati ini masih menyimpan satu tempat untukmu, yang tidak bisa digantikan.”

Gantian aku menatap langit sesudah hujan.

“Kamu tahu satu hal, Kak?”

“Apa?”

“Ah, kamu kan tahu banyak hal. Hehe.”

“Apa sih Key? Nggak mudeng aku?”

“Nggak kok, nggak. Kamu kan ngerti tentang lelaki yang dulu tak curhatkan ke kamu.”

“Aku nggak ngerti orangnya, tapi ngerti spek-nya.”

“Ciee, bahasanya. Mentang-mentang udah jadi bos Quality sekarang.”

“Bos ke Jogja nggak naik bis, Key.”

“Itu kan dalam rangka penghematan.”

Tampak menjadi tidak jelas, tapi aku menikmati percakapan ini. Percakapan yang sudah lama hilang antara aku dan dia.

“Jadi udah berapa lama kamu bohong sama hati kamu, Kak?”

“Cukup lama. Yang pasti sejak kita menjadi lebih dekat.”

“Hahaha, itulah. Kadang batas pertemanan itu yang bikin bias perasaan.”

“Banget.”

Tidak ada lagi tetes air hujan yang jatuh. Sesudah hujan ini aku merasa semakin dipeluk oleh kesejukan. Sejuk oleh cuaca, sejuk oleh terlepasnya beban secara perlahan dari hati ini.

“Dan untuk sesuatu yang sudah kamu tahu sendiri, Key. Just want to say, I love you. Aku nggak usah bilang since ya. Itu sudah lama sekali. Kalau waktu itu ada yang bikin anak, sekarang udah SD dia. Hehehe.”

Dia terdiam, tapi senyum tersungging di bibir manisnya, yang dikepung pipi yang semakin tembem saja. Aku seperti melihat dia yang sama dengan yang kutemui bertahun-tahun silam, dia yang membuatku berhasil jatuh cinta ketika pertama kali menyusup masuk lewat mata ini.

“Hmmm.. hmmm.. haha.. hahahaha..”

Dia tertawa perlahan, lalu kemudian lepas.

“Kenapa?”

“Nggak, Kak. Kadang lucu juga ya. Melihat semua yang pernah terjadi diantara kita. Kenapa jadi begini ya?”

“Nggak tahu,” ujarku sambil mengangkat kedua bahu.

“Dan asal kamu tahu, aku juga kehilangan saat-saat berbincang soal hati dengan kamu, Kak. Cuma memang aku masih nggak suka dengan yang kamu lakukan waktu aku ulang tahun dulu itu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa, udah lewat kok.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Emang kamu nanya?”

“Enggg.. nggak sih.”

“Hahahaha.. Kak, kak.. kamu ini.”

Dan aku hanya bisa tersenyum bingung.

“Ada suatu masa ketika aku mengerti kalau kamu yang bisa menembus pertahanan kuat hati ini. Dan mungkin aku merasakan hal yang sama.”

You love me too?” tanyaku, tiga perempat tidak percaya.

I think.”

Done. Eh, hati, ini loh maumu udah terjawab,” ucapku sambil menengok ke arah ulu hatiku.

“Gila kamu, Kak,” sahut Key dan lantas tertawa.

Sesudah hujan ketika hati ini memperoleh jawab atas sebuah penantian berbilang tahun. Hati mungkin bisa beradaptasi pada sebuah keputusan dan konsekuensi, tapi pada titik tertentu ia akan memunculkan kembali keinginannya. Dan kini, hatiku memperoleh keinginannya.

🙂

 

Percakapan Tentang Hati

“Dan saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya, tapi minjem.”

Aku membaca sepotong pesan singkat itu sambil tersenyum. Entah apa maknanya gadis cantik di seberang sana mengirimkan pesan singkat itu padaku. Siapa aku sampai perlu tahu hal sekecil itu? Jangan-jangan sepotong pesan kecil itu hanya membuatku berharap berlebihan.

Sepotong pesan singkat yang dikirim sudah lama sekali.

Ya, aku membuka kembali handphone lamaku sekadar untuk membaca kembali percakapanku dengannya. Sebuah percakapan yang teramat sangat aku rindukan kini. Sebuah percakapan yang kini berubah menjadi dingin. Sangat dingin.

Buku itu, ah..

Mungkin bukan buku, lebih tepat disebut novel. Ya, novel itu yang membuatku sampai perlu membuka kembali percakapan bertahun-tahun silam.

Novel itu, entah sudah berapa kali gadis cantik itu menceritakannya padaku dalam bentuk rekomendasi. Entah sudah berapa kali pula aku melewatkannya di toko buku. Hal sederhana saja, bukannya aku tidak mampu membeli buku itu. Harganya hanya separo pendapatanku sehari.

Hingga pada akhirnya aku membeli juga novel ini, setelah dua edisi film-nya selesai tayang di bioskop. Lama sekali.

Lantas mengapa aku terlambat?

Aku, teramat sangat tidak ingin terikat dengannya.

Cupu? Mungkin. Tapi sungguh dua kata yang menjadi judul buku itu sangat melekat di benakku, dan sangat identik dengan dia.

Dan kini hanya ada aku, novel itu, dan sebuah kamar hotel yang luas. Sebuah caraku untuk berefleksi melepaskan diri dari keramaian duniawi. Aku pergi ke tempat yang jauh untuk menyepi, meski aku harus mengeluarkan sedikit uang lebih. Tak apalah. Sekali-sekali juga.

Dan sebuah pergulatan tidak penting juga terjadi sampai akhirnya aku memilih novel itu sebagai bahan untuk menyendiri. Ya, pergulatan untuk kembali mengingat dia. Dia yang pada dasarnya sudah coba kulupakan dua kali. Dan yang terakhir, dengan sebuah perjalanan keputusan. Fiuhhh..

Kalimat demi kalimat kulewati, dan aku perlahan tahu tentang tokoh-tokoh yang sering dikisahkan gadis cantik itu padaku. Tentang dua orang sosok yang saling mencintai, meski akhirnya ada perkara dengan hati.

Ah! Hati!

Sesungguhnya, percakapan tentang hati adalah bagian yang paling aku rindukan dari gadis yang seharusnya sudah kulupakan itu. Texting soal hati dengannya adalah hal terbaik dalam bertukar pola pikir. Sesungguhnya aku menemukan sesuatu yang hilang, padanya.

Dan sesekali aku membaca sepotong kalimat yang aku tahu benar pernah dikirimkannya kepadaku, dalam percakapan tentang hati itu. Semakin aku membaca, semakin aku merindukannya. Dan semakin pula aku sadar bahwa hati ini sebenarnya sudah memilihnya, dari suatu waktu yang sudah lama sekali.

Kualihkan pandanganku sejenak dari baris-baris kalimat di novel warna hijau yang kupegang. Mataku beralih ke sebelah kanan, jendela. Bintang bersinar di sana dalam kesunyian yang mengelilinginya. Bahkan bintang pun berani bersinar dalam kegelapan, kenapa aku justru memilih berdiam dalam keheningan? Berdiam dalam rentang waktu yang teramat lama sehingga kemudian aku hanya berhasil mendapati kenyataan bahwa aku harus melupakan gadis itu.

Mataku kembali ke kertas abu-abu di genggamanku. Kembali kubaca kata-kata tentang hati, dan.. ah.. kenapa aku harus membaca seluruh kata-kata ini? Kenapa rangkaian huruf di novel ini membentuk sebuah kata yang adalah nama gadis itu di benakku? Kenapa aku merasakan kembali bahwa sebenarnya hati ini memilih dia? Kenapa aku merasa bahwa aku merasa bahwa dia lah yang tidak perlu melakukan apa-apa, tapi aku sanggup memberikan semuanya?

Halaman terakhir menjelang, dan sebuah akhir manis dari novel ini kubaca. Dua manusia itu menang dalam petualangan hatinya. Mereka bersatu dalam sebuah jalinan kisah cinta yang resmi. Ah, manis sekali.

Lembar hijau terakhir itu kututup, dan kupejamkan mataku.

Benarlah, bahwa hati ini tidak perlu diarahkan, dia akan memilih.
Benarlah, bahwa hati ini tidak akan kalah oleh konsekuensi sebuah pilihan.

Dan kebenaran pahit menjadi kesimpulan terakhirku: bahwa memang dia adalah pilihan hatiku.

Mungkin aku perlu jalan yang lebih berliku daripada Keenan dalam rangka mencapai Kugy. Tapi tak apa, seperti yang tertulis di novel Perahu Kertas ini, hatiku sudah memilih. Dan pilihan itu tidak pernah berubah, meski aku tahu, hal yang sama tidak terjadi padanya.

🙂

*sebuah apresiasi bebas untuk novel perahu kertas

17 in 1

“Mak, besok aku pergi ya. Ke Solo,” ujarku pada Mamak yang lagi berkunjung ke Jogja guna mengantarkan adikku gadis satu-satunya bersekolah di kota pelajar ini.

“Ngapain?”

“Main.”

Ya, aku pun kurang tahu mau ngapain di Solo besok, tapi ini sudah perjanjian dengan Dolaners dan kalau nggak ikut kok rasanya kurang afdol. Lagipula, ehm, aku kan belum pernah ke Solo.

Ada untungnya juga aku pergi main begini ketika ada orang tua. Bayangkan, dari sekian rute dolan-dolan sebelumnya, mayoritas aku berangkat dengan kelaparan dan kehausan. Sekarang? Sejak subuh Mamak sudah menyiapkan sepiring mie goreng dan susu untuk anak lelaki pertamanya ini. Hore bener.

Aku bergegas menuju Stasiun Lempuyangan di tengah kota Jogja. Perjalanan tanpa konsep ini segera dimulai.

Oke, baiklah kalau aku bercerita sedikit latar belakang perjalanan ini. Jadi itu, si Chiko, bilang ke teman-teman kalau dia belum pernah naik Kereta Api. Ceritanya yang diulang-ulang membuat teman-temannya trenyuh minta ampun dan kemudian merancang sebuah perjalanan dinas dengan Kereta Api. Kalau mau ke Jakarta, kejauhan. Jadi diambil yang singkat dan mestinya murah, naik Prambanan Ekspress alias Prameks ke Solo.

Di Solo ngapain? Ya, itu urusan nanti.

Aku juga kurang tahu siapa saja yang ikut dalam edisi dolan kali ini, mau ngapain di Solo, dan segala tetek bengek perjalanan lain. Satu yang pasti, ini mau dolan ke Solo.

Aku masuk ke tempat pembelian tiket Prameks di stasiun Lempuyangan dan bertemu dengan beberapa Dolaners. Absen demi absen, akhirnya terkumpullah sumbangan sebesar, eh salah, 15 manusia Dolaners. Banyak juga!

Lima belas pemuda-pemudi harapan bangsa ini bergegas masuk setelah membeli tiket Prameks. Chiko menjadi fokus perjalanan karena dolan-dolan kali ini dirancang untuk kesenangannya. Mana ada coba teman kayak gini? *songong mode on*

Kereta api jurusan Jogja-Solo itu berjalan perlahan meninggalkan Lempuyangan. Agak berbeda dengan yang sering aku temui. Ya tentu saja, aku biasa naik kereta api untuk perjalanan jauh yang membutuhkan perpisahan. Kalau Jogja Solo ini jarang ada dadah-dadah dan tangis-tangis layaknya kereta menuju Jakarta. Paling nanti sore ketemu lagi.

Ketika memasuki daerah bandara, Chica dengan bangga menunjuk-nunjuk, “Kae loh TK-ku dulu.”

Sebagian bangkit berdiri melihat ke jendela. Sebagian yang lain hanyut dalam lelap. Maklum, berangkat pagi untuk mahasiswa yang lagi libur semester itu setengahnya bermakna derita, meski itu untuk dolan sekalipun.

Ketika kemudian kereta memasuki daerah Klaten, Yama giliran bangkit berdiri dan menujuk ke arah luar sambil berkata, “Kae omahku.”

Kali ini semua bangkit berdiri dan menatap sekilas bangunan yang cukup megah dengan pemandangan asli kampung di sekitarnya.

“Apik omahmu,” ujarku.

“Ora koyo rupamu,” timpal Chiko.

Yak, sesi ejek mengejek tampaknya dimulai. Timpalan dari Chiko sudah berhasil mencairkan suasana pagi ini. Berbagai ejekan dan hinaan keluar bergantian di dalam kereta api yang kini melaju kencang itu.

“Solo Balapan habis,” ujar porter yang merangsek masuk ke dalam kereta. Tentunya mereka berharap ada sedikit rezeki dari orang-orang berbawaan banyak.

Dolaners turun satu per satu. Sesudah turun, yang terjadi adalah bingung. Mata beredar ke sekeliling dan melihat sebuah kereta api eksekutif parkir. Tanpa buang waktu, Dolaners pose di depan kereta eksekutif itu. Hmmm, jadi secara dokumentasi kami tidak akan dianggap naik Prameks karena novum ini memperlihatkan kami berfoto bersama kereta eksekutif. *penting ya?*

Aku dan 14 dolaners lain berjalan ke luar stasiun. Sampai luar, yang ada adalah… bingung. Terkapar miris di depan kantor PT KAI adalah kejadian selanjutnya.

“Iki ngopo dewe?” tanyaku.

“Lha kowe Ko, arep ngopo dewe?” imbuh Fian.

“Muleh wae po?” kata Chiko.

Dan ini sebenar-benarnya bingung.

“Aku wis ngomong Ani kok wingi,” ujar Chica. Perkataan yang sungguh meredakan suasana.

Ani adalah teman main juga, dan kebetulan berasal dari Solo dan karena ini libur semester maka otomatis berada di rumanya. Artinya, Ani sedang berada di Solo. Jadi, Ani ini orang Solo bukan ya? Malah nggak jelas begini.

Setengah jam kemudian muncullah sebuah kijang berwarna merah. Ani yang bertubuh mungil bak anak SD kemudian turun dari bangku depan. Kedatangan Ani menjadi semacam Oscar Oasis melihat setetes air di padang gurun.

Obral-obrol sebentar, perjalanan lantas hendak dilanjutkan. Pertanyaan besar muncul.

“Naik apa?”

Ani sudah berbaik hati menyewakan sebuah mobil kijang dan membooking saudaranya untuk menyetirkan mobil kijang ini. Dan sebagai dolaners yang baik, harus bisa berbuat sesuatu. Maka, tindakan selanjutnya adalah… memastikan 15 dolaners plus 2 penghuni Solo asli bisa cukup di dalam sebuah mobil Kijang Super!

Absurd? Pasti. Tak bahas sebentar metode penataannya.

Saudara Ani tentu di bangku kemudi. Ani duduk manis di sebelah pengemudi karena badannya yang kecil mungil. Nah, karena ada Bona yang lagi cedera lutut tapi dengan rela hati ikut dolan, maka ia harus jadi prioritas. Jadilah Bona booking satu tempat di depan. Chiko dengan seringai liciknya mengajukan diri menemani Bona. Yak, empat orang di bagian depan.

Masih ada 13 orang lagi yang belum masuk ke mobil merah ini.

Gadis-gadis yang berbodi agak gede lantas masuk ke deret tengah. Aya, Dipta, dan Cindy masuk. Sofa hidup ini lantas dilapis gadis-gadis yang agak kecilan. Jadilah Sinta, Rani, dan Chica masuk. Sip, enam orang ini bisa membentuk pepes gadis jika dikukus beberapa jam.

Nah, tinggal tujuh manusia lain. Ini Kijang edisi lawas, jadi tampaknya mampu memuat agak banyak di bagian belakang. Kursinya model berhadap-hadapan samping. Fano dan Yama mantap di pojokan masing-masing kursi. Aku dan Randu menyusul di sebelah Fano dan Yama. Jadi sudah berapa ini? Sampai nggak bisa menghitung lagi.

Tujuh kurang empat. Yak, zona kecil di antara dua kursi itu harus bisa memuat tiga manusia lagi. Toni dan Bayu masuk dan mencari posisi, tampaknya dapat. Sebagai finalisasi, Fian masuk ke celah yang tersisa dengan pose kepala duluan, kaki belakangan. Ini pose paling antik dalam upaya pemecahan rekor dunia ini.

Pas ngepas abis. Mobil berisi tujuh belas manusia ini lantas berjalan. Seluruh penghuni mobil 17 in 1 ini pasrah pada Ani, hendak dibawa kemana hubungan kita. *armada mode on*

Tanpa disangka, Ani membawa kami ke Soto Gading. Memangnya apa Soto Gading? Aku sih nggak tahu, tapi melihat ramainya mobil yang parkir plus ramainya pengunjung, mestinya soto ini terkenal. Mungkin bahan bakunya pakai gading gajah duduk.

Mobil kijang merah itu kemudian parkir manis di sebuah celah yang ada. Dan sesi pembuatan pepes sementara berakhir. Kami bergegas keluar lewat urutan yang sudah dibentuk dari awal tadi. Tukang parkir tampak menganga melihat jumlah orang yang turun dari mobil yang tampak tua itu.

Soto Gading tentu beda dengan Soto Simbok. Ya iyalah, dari daftar harganya sudah bikin garuk-garuk. Tapi tampaknya Ani ini memang baik hati. Sebanyak 17 mangkok soto plus minumnya menjadi tanggungan Ani. Teman macam apa ini? Sudah menyewakan mobil plus mencarikan supir, masih membayari makan pula. Mantap kali!

“Kemana?” tanya Ani ketika sesi makan pagi hampir disudahi.

“Kraton wae,” ujar Chiko.

“Sekalian Klewer kalau gitu.”

Sepakat! Tentu sepakat karena mayoritas nggak tahu Solo. Dengan hawa panas habis makan soto yang pedas, tim pepes manusia kembali membentuk formasi 17 in 1. Kali ini sudah mulai terbiasa.

Mobil melaju perlahan ke arah pasar Klewer sampai menemukan sebuah celah untuk parkir di sela-sela keramaian. Yak, ini mungkin tempat perhentian yang salah. Ramai cuy!

Mulailah pintu dibuka, Fian keluar, Bayu dan Toni menyusul, lantas aku dan Randu. Aku iseng mengamati kenaikan perlahan bodi mobil terhadap ban pada setiap kali manusia turun. Ternyata ini mobil tadinya ceper. Ya iyalah, memuat 17 orang itu sudah hampir mendekati 1 ton kayaknya. Orang-orang yang lewat juga tidak kalah menganganya dibandingkan tukang parkir Soto Gading. Tapi, namanya Dolaners, ya cuek sajalah. Anggap aja lagi di Ngobaran.

Pasca parkir di Pasar Klewer, rombongan manusia muda belia harapan bangsa ini berjalan ke Kraton Solo. Sejujurnya nih, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah kraton. Ya, meski sudah empat tahun di Jogja, aku sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di Kraton Jogja itu sendiri.

Rombongan Dolaners segera memasuki bagian dalam Kraton yang mensyaratkan satu hal: buka alas kaki. Bukan masalah buat yang lain, tapi isu besar buat Aya yang kakinya baru aja luka. Ehm, alasannya sih jatuh dari sepeda motor. Yah, fakta yang tidak bisa dibantah adalah hampir selalu si Aya ini jatuh tiap kali mencoba mengendarai sepeda motor. Sungguh kasihan, sepeda motornya.

Namanya juga Kraton, jadi suasananya cenderung agak mistis. Tapi hawa dolan tetap lebih besar melingkupi makhluk-makhluk dengan agenda tidak jelas ini. Jadilah aktivitas hanya gundah dan sok angguk-angguk waktu berkeliling Kraton serta tidak lupa foto-foto. Harap maklum, karena Dolaners adalah Magito alias manusia gila magito! Eh, manusia gila foto!

Urusan di Kraton dan Klewer menjadi tidak lama karena sudah menjelang Sholat Jumat. Berhubung saudaranya Ani yang menjadi driver bagi karung-karung beras yang bisa ngomong ini harus menunaikan kewajiban, akhirnya kunjungan di tempat bersejarah disudahi. Kijang Super 17 in 1 segera melaju menuju mall paling gress di Solo, namanya Solo Grand Mall.

Sungguh bersyukur si Kijang ini masih bisa berjalan menganggung beratnya beban hidup dan beban dosa. Bagian terakhir tentu saja penting karena sebagian dari berat yang ditanggungnya adalah berat dosa manusia-manusia yang bertopang di atas empat rodanya. Kijang ini berjalan pelan hingga akhirnya sampai di SGM.

Dan, percayalah, bahwa mall baru bukanlah tempat berkunjung yang layak karena pada dasarnya kita hanya akan mengunjungi tempat-tempat kosong atau yang bertuliskan ‘under construction’.

“Ngopo iki?” tanya Chiko.

“Golek ombe wae,” usul Bona sambil berjalan tertatih. Yeah, atlet ternama ini berjalan tertatih gegara urusan dengkul. Atlet ternama pun punya kelemahan, hanya saja kok ya atlet lemah di dengkul.

Cari punya cari, akhirnya dolaners nongkrong di food court yang baru menyediakan sedikit menu. Berhubung masih cukup kenyang dengan soto, akhirnya hanya es krim yang mampir ke pencernaan kami masing-masing. Yah, namanya juga aktivitas menunggu. Dan tentu saja es krim harga mall sudah cukup menguras kantong anak muda macam kami.

Next Stop: rumah Ani. Ehm, sesudah ditraktir soto mahal, ditraktir mobil sewaan, dan diarahkan ke jalan yang benar, mampir tentu menjadi kewajiban. Ya, walaupun sebenarnya mampir itu akan bermakna menghabiskan banyak makanan di rumahnya Ani sih. Tapi, ya namanya diajak mampir, masak ditolak? Lagipula rute sudah habis—berikut uang di dompet—dan kereta terakhir masih beberapa jam lagi.

Bagian terbaik dari perjalanan menuju rumah Ani adalah ketika si Kijang dengan sukses membawa 17 manusia berdosa ini melewati sebuah tanjakan dengan sudut yang lumayan. Kadang-kadang aku berpikir bahwa mobil tua selalu punya kelebihan. Makin tua, makin joss!

Sesampainya di rumah Ani, benarlah prediksi Ki Joko Widodo yang aku sebut di atas tadi. Makanan disajikan silih berganti, bahkan Ani pergi dulu ke luar rumah beli makanan. Plus, manusia-manusia dolaners ini terkapar manis mulai dari ruang tamu sampai teras depan. Rumah Ani yang megah mendadak menjadi tempat pengungsian pemuda harapan Indonesia raya. Topik obrolan? Tentu saja nggak jauh-jauh dari tampang Yama, dengkul Bona, sampai pacar baru Chiko. Standar kok, hanya diulang-ulang dengan tambahan bumbu yang berbeda.

Sore menjelang dan kami harus bergegas ke stasiun agar tidak ditinggal oleh kekasih, eh oleh Pramex. Kami berpamitan dengan orang rumah Ani yang jelas-jelas akan repot cuci piring sesudah kami pergi. Sebelumnya, sebuah dokumen mahal dibentuk. Ya, 16 orang berfoto di depan Kijang bersejarah tadi. Satu lagi aku, yang mengambil foto dengan kamera poket berisi film 36. Sebuah dokumentasi yang moncer pada jamannya.

Sudah sore, sudah capek, sudah apek, sudah ngantuk. Maka perjalanan kembali ke stasiun dan bahkan hingga sampai ke dalam kereta menjadi sunyi senyap tapi tidak sendu. Yang ada hanya muka menjelang tidur dan sudah tidur beneran.

Kijang dan 17 n 1 ini adalah salah satu kisah monumental Dolaners, tentunya mengingat momen dan peristiwa unik yang terjadi. Sebuah perjalanan yang nyatanya tidak pernah terulang lagi. Setiap peristiwa menghadirkan cerita, dan setiap cerita memiliki makna. Biarkan makna dari setiap momen perjalanan menjadi warna persahabatan. Terima kasih Ani atas jamuannya dan Chiko harus sujud menyembah pada kami semua karena sudah dengan rela hati menemaninya naik kereta api, pertama kali seumur hidup. Yeah!

Masa Lalu

“Sssttt, Egi sekarang pacaran sama Alena lho.”

Dan sesi gosip dimulai. Di kantor yang mayoritas isinya cewek, selalu ada ruang dan waktu untuk bergosip.

“Tahu dari mana lu?” selidik Dina.

Tia, yang mencetuskan kalimat pertama tadi, segera menyambung, “Kemarin gue kan ke mejanya Egi. Pas dia lagi whatsapp sama Alena.”

“Kalau whatsapp, sama gue juga tuh.”

“Yahhh, sama lu nggak pakai emo-emo love-love gitu kan? Pokoknya gue yakin bener deh, Egi sama Alena. Sayang bener ya, padahal si Alena itu kan nakal. Serigala berbulu domba!”

“Kok bisa?” tanya Dina. Mukanya mendekat, diikuti oleh teman-teman lain yang berada di Pantry itu.

Maka Tia mulai bercerita, panjang dan lebar hingga panjang kali lebar. Segala sesuatu yang ia ketahui tentang masa lalu Alena. Sesuatu yang mudah untuk diceritakan karena Alena adalah orang yang pernah merebut kekasih Tia, jauh di masa lalu. Bahwa semestalah yang mempertemukan keduanya kembali di satu kantor. Sebuah kehendak yang kadang menjadi sebuah retorika. Bukan karena sudah jelas jawabannya, tapi karena memang tidak perlu dijawab.

“Kasihan ya temen gue,”bisik Dina. Ya, sejak sama-sama masuk ke kantor ini dalam 1 batch penerimaan, Dina dan Egi menjadi teman yang sangat akrab. Terlebih ketika rekan-rekan di batch mereka satu per satu resign dan hinggap di perusahaan lain. Dan percaya atau tidak, memang tinggal Dina dan Egi yang tersisa dari 20 orang yang pernah masuk sebagai Trainee, 3 tahun silam.

* * *

“Ciee, yang punya pacar nggak bilang-bilang,” goda Dina sambil menepuk bahu Egi yang sedang asyik dengan kotak dan angka di layar laptop.

“Apaan?”

“Halah, pura-pura bodoh ah. Katanya lu udah punya pacar baru bro?”

“Siapa bilang?”

“Ya tahu aja.”

“Lu percaya?”

Dina diam saja sambil berjalan ke kubikelnya, tapi sejenak kemudian ia mengangguk perlahan.

“Hahahahaha.. Din.. Din.. Yang ngawur dipercaya,” ujar Egi sambil tetap asyik menatap laptopnya. Tak lama, handphone-nya bergetar dan sebuah whatsapp muncul. Alena Puspita.

Dina melirik Egi yang beralih asyik ke handphone, lalu berkata, “Tuh kan, pacaran.”

Egi tersenyum simpul saja. Tidak bertindak lain.

* * *

Kedai kopi di sudut foodcourt ini selalu jadi tempat curhat Dina dan Egi setidaknya seminggu sekali sepulang kantor. Suasana yang hectic di kantor nyatanya bisa diredakan dengan minum segelas kopi atau teh. Dan kini, di hari Jumat, keduanya asyik dengan gelas dan handphone-nya masing-masing.

“Susah ya punya bos kayak sekarang ini,” ujar Egi.

“Kurang ajar bener lu, Gi.”

“Iya dong. Ya gimana ceritanya gue minta review kerjaan gue bener apa kagak, yang dikoreksi cuma typo-typo-nya doang. Padahal yang lebih penting kan action plan yang gue kasih. Kagak dikomen sama sekali.”

“Udah, sabar aja,” kata Dina, “Trus ngomong-ngomong gimana Alena?”

Egi sedikit tersedak mendengar Dina menyebut nama Alena.

“Kenapa emang?”

“Udah bro, kita temenan juga udah lama. Jujur aja, lu pacaran sama Alena kan?”

“Hmm, kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Lagian kenapa bisa nama itu lu sebut sih. Perasaan dia kerjanya dimana, gue dimana, ketemu di kantor juga kagak.”

“Ya gue ngerti kalau Alena kerjanya di lantai 8, kita lantai 3. Ngerti banget gue mah. Tapi, gimana ya, gosip-gosip yang beredar sudah bilang begitu.”

“Buset, uda ada gosipnya juga?”

“Makanya sekali-sekali main ke pantry! Haha.. Kerja melulu sih.”

“Iya dong, pegawai teladan.”

Dina menunduk sedikit, perkataan Tia masih terngiang di benaknya dan sebagai teman yang baik, ia hendak menyelamatkan sahabatnya ini.

“Ehm, mungkin lu belum mau ngomong, Gi. Tapi andaikan iya nih, lu sama Alena Puspita itu. Gue dengar banyak hal yang nggak baik soal dia.”

“Maksud lu?”

“Ya, dari riwayat ngerebut pacar orang, terus suka pulang malam, dan yang sejenis-sejenis itu lah.”

“Hahahaha…”

“Ketawa lu, Gi?” tanya Dina dengan muka bengong.

“Dina.. Dina.. Lu tahu kan kalau gue manusia?”

“Kalau lu setan, gue nggak bakalan ngopi sama lu, dodol!”

“Nah itu dia,” ujar Egi sambil mengaduk kopi di hadapannya, “Gue, lu, bahkan Alena itu juga manusia.”

“Lalu?”

“Dan setiap manusia punya masa lalu, Din. Plus, nggak semua masa lalu itu baik. Lu tahu kalau di masa lalu gue ini perokok berat?” tanya Egi. Konsep yang satu ini ia lontarkan karena Egi tahu kalau Dina amat sangat tidak suka dengan pria perokok.

“Tahu, kan lu pernah cerita.”

“Terus, kenapa lu nggak memperlakukan gue kayak lu sebel banget sama si Herman? Jarak dua meter dari dia aja lu udah kabur?”

“Ya, kalau itu, kan lu tahu gue nggak suka cowok yang merokok.”

“Thats! Gue, dulu, dulu nih ya, lebih ganas dari Herman ngerokoknya, kenapa lu ama gue sahabatan?”

“Kan lu nggak ngerokok bro!”

“Ya itu dia. Gue punya masa lalu yang sebenarnya lu nggak suka kan? Terus kita akrab begini, artinya lu menerima masa lalu gue yang nggak oke itu.”

“Hubungannya dengan Alena?”

Ya, kalau lah, gue bener deket sama Alena. Gue kenal dia juga udah lima tahunan kali, Din. Udah cukup lama. Gue tahu beberapa masa lalunya dia juga. Jadi, kalau emang gue mau dan bisa dekat sama dia, pasti karena gue udah mengesampingkan masa lalu itu.”

Dina terdiam mendengarkan perkataan Egi.

“Lagian gue juga dulu kan bajingan. Ngedeketin cewek orang, ngajak ngedate cewek orang, sampai jadi pemberi harapan palsu juga pernah. Gue sih mikir aja, kalau gue mikir masa lalu orang yang mau gue deketin, itu bisa saja dilakukan orang terhadap masa lalu gue kan?”

“Iya juga sih.”

“Gue pernah baca status temen gue di FB. Bilang gini nih.. ‘Setiap orang punya masa lalu.. Kalo ingin pasangan dengan masa lalu yg 100% bersih, silahkan cari anak baru lahir dan awasi sampai gede baru jadiin pasangan..’,” kata Egi sambil melihat handphone-nya.

sumber: armstrongismlibrary.blogspot.com

“Ehm, iya ya. Tumben lu pinter, Gi?”

“Dari dulu gue pinter kali.”

“Jadi, lu beneran sama Alena?”

“Hahahaha, benar atau tidak. Belum saatnya gue bilang sesuatu soal hubungan pribadi gue, Din. Lu tahu kan sakitnya gue yang putus kemarin ini.”

“Hmmm, baiklah. Gue tunggu kabar bahagia dari lu deh.”

“Sip.”

Handphone Egi bergetar, sebuah pesan whatsapp dari Alena.

“Udah makan sayang?”

Bahwa setiap orang memiliki masa lalu

–o–

Sebuah Perjalanan Yang Amat Panjang

Perjalanan itu tentang dua tempat dan sebuah jarak yang memisahkan

1997.

Saya berumur 10 tahun lewat setengah ketika sebuah informasi dari orang tua segera menaikkan energi eksitasi saya sampai puncak. Ya, sebuah perjalanan panjang yang jamak disebut mudik akan saya lakoni, tentunya bersama keluarga. Mudik yang tidak sembarangan karena menyangkut jarak ribuan kilometer antara Bukittinggi dan Jogjakarta. Hal ini menjadi sebuah kejadian besar terutama jika mengingat milestones keluarga ini.

1986, kedua orang tua saya menikah.
1987, saya lahir.
1988, adik saya lahir.
1989, perjalanan mudik ke Jogja yang pertama.
1990, adik saya lahir.
1995, ompung (nenek dari Mamak) meninggal.
1995, adik saya lahir.

Apakah yang terlihat dari milestones itu? Ya, sejak Bapak dan Mamak menikah, sesuatu yang berjudul “mudik ke Jogja” itu baru terlakoni satu, ya satu kali saja. Itu ketika saya berumur 2 tahun. Bahkan saya hanya ingat secuil cerita dari perjalanan yang tampaknya seru itu. Sungguh seru karena saya melihat diri saya ada di Candi Borobudur, saya mendapat cerita bahwa saya masuk Pekan Raya Jakarta, dan yang paling penting saya diberi tahu bahwa saya pernah naik pesawat.

Sejak tahun itu, keluarga kami bertambah besar, dan tidak pernah pulang lagi ke Jogja. Jadi jelas, kedua adik saya yang lahir sesudah 1989, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke kampung halaman Bapak saya.

Durasi waktu tidak mudik yang teramat panjang, ditambah heroisme bertajuk “berlibur ke rumah nenek”, plus rasa ingin tahu terhadap tempat bernama Jogja menjadi sedemikian lengkap dengan agenda utama. Sesuai umur saya yang sudah 10 tahun, saya akan segera melakoni hal yang menjadi wajib untuk orang Jawa: sunat.

Segala hal dipersiapkan oleh orang tua saya. Ini mudik massal, melibatkan enam orang. Dua orang tua akan membawa 4 anak yang notabene masih kecil-kecil. Saya yang paling tua saja masih berumur 10 tahun. Adik saya yang paling kecil bahkan baru lewat ulang tahun yang ke-2. Saya sudah merasa ini tidak akan mudah.

Dan bukanlah jatah anak usia 10 tahun untuk mempertanyakan rute dan bekal perjalanan. Semua sudah menjadi tanggungan orang tua saya. Semua baju dan segala kelengkapan lainnya juga. Dan kebetulan, kami adalah anak-anak yang sangat penurut sehingga bahkan tidak terpikir sedikitpun untuk (misalnya) membawa mainan kami dalam perjalanan yang akan sangat panjang ini. Dua buah tas besar-besar berisi pakaian dan kelengkapan lainnya, ditambah dengan sebuah keranjang hijau yang penuh dengan makanan, plus beberapa kardus oleh-oleh sudah siap pada malam sebelum kami berangkat.

Pagi hari tiba!

Anak-anak tidak berpikir panjang soal perjalanan. Ya, meski saya sudah mengenal Geografi dari 1 tahun sebelumnya, saya tidak benar-benar paham bahwa perjalanan yang akan kami tempuh ini jauhnya minta ampun. Yang saya tahu, kami akan berlibur di sebuah kota bernama Jogja. Titik.

Senyum masih merekah di bibir kami, anak-anak kecil yang belum tahu banyak. Keluarga saya mencarter sebuah angkutan kota ternama di kota Bukittinggi bernama Mersi. Ini tentu bukan Mersi yang berasal dari Mercedes Benz. Ini hanyalah angkutan kota yang dimiliki oleh koperasi bernama Merapi-Singgalang. Nama yang diambil dari dua buah gunung yang mengitari kota mungil tempat kelahiran saya itu. Merapi dan Singgalang itulah yang kemudian disingkat menjadi Mersi.

Ketika Mersi carteran sampai di pool bis Gumarang Jaya di daerah Jambu Air, saya dan adik-adik turun dengan riang. Sebuah bis besar warna kombinasi hitam, merah, dan putih sudah berdiri gagah di parkiran tempat yang cukup luas itu. Akan tetapi, karena belum waktunya berangkat, maka saya dan keluarga hanya duduk-duduk di tempat yang sudah disediakan. Tentunya bersama penumpang lainnya. Dan tentu saja, tidak ada penumpang lain yang komponen rombongannya seperti keluarga kami.

Mamak dengan sigap sudah menyiapkan perkakas anti mabuk. Salonpas sudah menempel di pusar kami masing-masing sedari rumah tadi. Dan kini sebungkus obat anti mabuk paling ternama se-Indonesia sudah siap masuk ke mulut bocah-bocah dengan naluri liburan membuncah ini.

Ketika setengah tablet obat berisi Dimenhidrinat itu masuk ke perut kami, tepat ketika panggilan untuk masuk bis muncul. Bis dengan formasi duduk 2-3, dengan sebuah jendela geser. Ah! Waktu itu saya tidak pernah berpikir soal kelas bis. Di kemudian hari baru saya kenali bahwa bis itu adalah kelas terbawah dalam stratifikasi bis lintas Sumatera.

Tentu saja demikian, terbawah. Nanti saya ceritakan penyebab utamanya.

Ini bukan pertama kalinya saya naik bis karena sebelumnya beberapa kali naik ANS atau NPM untuk rute Bukittinggi-Padang. Akan tetapi seluruh perjalanan itu dilakukan dalam rombongan. Artinya, baru kali ini saya menaiki bus dalam konteksnya sebagai angkutan umum, bukan sewaan rombongan.

Perjalanan di Sumatera, manapun, akan banyak diwarnai oleh jalan menanjak-menurun-berkelok. Saya berani bilang begitu setelah menikmati enak dan lurusnya Pantura, belasan tahun kemudian. Eksitasi untuk sampai tujuan masih tinggi ketika bis lepas landas dari pool.

Dan perlahan, itu sirna.

Belum tiga jam ketika muka-muka riang kami berubah menjadi kantuk yang berat. Saya bahkan terlelap ketika bis dengan lugas melibas setiap tikungan ketika menyisir Danau Singkarak. Mamak mulai mengeluarkan satu per satu perbekalan guna menambal lapar yang mulai terasa dalam perjalanan ini.

Tidak ada lagi senyum ketika sesekali kami terbangun. Ini belum seberapa jauh dan bocah-bocah kecil yang tadinya bersemangat tinggi sudah menjadi bocah yang sebenarnya, lelah dan mengantuk.

Saya duduk di sisi kiri bis, bagian depan, persis di dekat pintu masuk. Maka saya punya dua sudut pandang. Depan dan samping kiri. Kepala lelah saya mulai bersandar ke dinding bis dan kemudian asyik terpaku pada deretan benda yang dilewati. Mulai dari pohon, rumah, restoran, pasar, dan lainnya. Mulai dari tempat yang penuh manusia hingga tempat yang bahkan tidak ada manusia yang tampak sama sekali.

Saya mulai menikmati perjalanan ini.

“Tuh, Bang. Masih berapa kilo?” tunjuk Bapak ke sebuah benda kuning yang tampak di sebelah kiri jalan. Sebuah benda berwujud tiang kecil dengan tiga sisi yang bertuliskan huruf dan angka. Satu tiang kecil itu lewat saja ketika Bapak selesai menunjuk.

“Apa toh Pak?”

“Nanti lihat lagi.”

Saya setia menanti, dan syukurlah tidak lama. Benda yang sama kembali terlihat. Saya mulai mengenali benda itu. Benar ada tiga sisi disana. Dari sudut pandang saya melihat, saya bisa membaca sebuah rangkaian tiga huruf di bagian atas dan deretan angka persis di bawahnya. Profil serupa saya dapati ketika bis besar ini persis melewati benda itu. Dan bentuk serupa saya intip sekilas ketika bis sudah melewati benda itu.

Benda itu berlalu lagi, dan saya menanti lagi.

Ah! Saya mulai mendapati polanya. Angka yang tampak dari sisi bis ini melaju berkurang 1 setiap kali melewati benda kuning itu. Pastilah itu penunjuk arah. Dan 3 huruf di atasnya baru saya pahami ketika mencocokkan gapura yang saya lihat dengan tiga huruf di benda itu.

Ya, saya berhasil menyimpulkan bahwa Sawah Lunto masih berjarak 20 kilometer lagi, setelah mengamati lebih dari sebelas benda kuning itu.

Angka inilah yang memperkenalkan saya pada jarak. Bahwa dalam setiap putaran roda bis ini, ada sebuah jarak yang dibunuh dan sebuah perjalanan akan segera sampai tujuan. Ya, jarak hanya akan mati jika ia dilalui. Tidak ada gunanya diam dalam sebuah perjalanan, kecuali untuk merenunginya.

Bis itu akhirnya berhenti di sebuah restoran. Seluruh penumpang turun, demikian pula keluarga kami. Saya menoleh sedikit ke belakang dan menemukan ada orang yang berdiri, lalu membereskan papan tempatnya duduk, meletakkannya di pinggiran kursi, lalu berjalan ke arah luar.

Saya mulai paham kelas kendaraan ini. Dua buah kursi yang ada di bagian gang menjadi landasan untuk sebuah papan, dan ada orang duduk disana. Ternyata ini yang namanya bangku tembak. Dan tidak hanya satu orang yang berlaku demikian. Well, saya yang duduk manis di kursi saja sudah cukup lelah, bagaimana dengan mereka?

Inilah konsekuensi naik bis ekonomi.

Restoran ini ternyata juga menjadi tempat istirahat banyak bis lainnya. Tidak hanya arah Padang-Jakarta, tapi juga sebaliknya. Maka saya melihat ratusan orang dengan aktivitasnya masing-masing.

Seorang ibu yang bergegas muntah persis di sebelah bis, segera sesudah ia menginjakkan kaki ke tanah. Seorang anak yang menangis–tampak baru selesai muntah juga. Banyak ornag yang berdiri sambil merokok. Orang-orang yang sibuk ber-wudhu. Orang-orang yang setengah berlari menuju toilet. Semuanya melengkapi kehadiran manusia-manusia yang tampak sangat nyaman setelah membasuh muka, yang tampak puas sesudah menyantap sepiring nasi berikut lauknya, yang tampak sumringah karena sudah semakin dekat dengan tujuan.

Manusia-manusia itu adalah bagian dari perjalanan, bagian dari penakluk jarak. Makhluk hidup yang hendak berpindah, melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuannya. Dan semuanya menyikapi situasi dengan berbeda.

Saya mengamati itu dengan otak saya yang masih kecil. Saya adalah pengamat murni sedari kecil. Saya adalah anak kecil yang hafal 11 nama pemain Inter Milan hanya dengan sekali menyaksikan pertandingan Inter vs Bologna di tahun 1995. Saya mengamati dan menyimpan itu di dalam otak saya. Itulah sebabnya saya orang yang sangat jarang bertanya.

Keluarga kami lantas memasuki restoran. Mamak sudah membawa nasi yang cukup untuk 1-2 kali makan keluarga. Yang kami butuhkan hanya lauk dan sayur. Dan orang tua saya mengajari tips hemat makan di restoran Padang, utamanya dalam perjalanan.

Ya, Mamak mengambil piring kecil berisi cancang (daging yang diolah dengan bumbu khas dan tentunya santan) dan membagi rata ke seluruh anggota keluarga. Ya, sepiring itu saja. Kami bahkan tidak diperkenankan menyentuh dua potong ayam goreng yang terkapar manis menggoda di sebelah piring cancang itu.

Tidak ada pula memesan minuman sejenis es teh, apalagi es campur. Yang diminum hanya air putih yang merupakan paket dari sepaket nasi dan lauk yang disediakan.

Konsep restoran Padang di jalur bis memang sama dengan kebanyakan. Ketika pelanggan masuk, meja kosong. Sejurus kemudian, dengan atraksi membawa banyak piring dalam 1 kali perjalanan, pelayan akan meletakkan berbagai macam lauk pauk di atas meja. Pelayan lain akan datang membawa nasi, dan pelayanan lainnya lagi meletakkan segelas air putih dan semangkok kecil air pencuci tangan.

Nah, masalahnya, di kebanyakan tempat, perhitungannya agak rumit. Ya, misalkan seorang pelanggan mengambil 1 dari 2 potong ayam yang ada, berikut cancang, maka ia harus membayar 2 potong ayam dan 1 piring cancang. Kenapa? Karena yang dihitung buat jumlahnya, tapi piringnya. Ketika ada piring yang berkurang isinya, itulah yang dibayar.

Sebuah fakta akhir 1990-an yang saya pahami sendiri dalam perjalanan lain berikutnya.

Setelah kira-kira 1 jam bergelut dalam cuaca panas terik, akhirnya para penumpang kembali diminta masuk ke bis via panggilan yang dilakukan dengan microphone. Itulah sebabnya nomor bis harus menjadi acuan penumpang untuk setiap perjalanan jauh yang butuh istirahat makan, karena personil restoran hanya akan menyebut merk bis dan nomor lambungnya. Sebuah masalah ketika ada 10 bis dengan merk yang warna yang sama ada di tempat yang sama pula.

Tebak lanjutan perjalanan ini?

Tentu saja! Tidur panjang!

Saya sesekali terbangun dan melihat deretan pohon lewat, lalu tidur lagi. Berulang-ulang demikian hingga kemudian saya melihat langit mulai gelap. Dalam situasi yang mulai temaram saya mengintip ke arah luar dan mencari-cari papan nama yang mungkin ada.

Dan saya temukan itu. Ini sudah di JAMBI.

Perjalanan malam, apalagi dalam posisi saya duduk sungguh merupakan sebuah nuansa baru. Saya menyaksikan dengan jelas lampu-lampu besar dari arah berlawanan. Yah, ini jalan lintas propinsi, sesuatu yang di pelajaran Geografi saya kenal sebagai Jalan Lintas Sumatera. Saya tidak sedang ada di peta, saya sedang melaluinya. Itu yang ada di benak saya, tidak ada yang lain.

Perhentian kedua dilakukan di Jambi. Hari sudah malam dan penumpang sudah semakin lusuh bentuknya. Terang saja, keringat dan lelah menjadi perpaduan yang cocok di bis ini. Orang-orang yang pagi tadi cantik dan tampan sekarang bentuknya serupa, lusuh. Tentu saja termasuk saya.

Meski di Jambi, tapi tetap saja yang disambangi adalah restoran dengan menu Padang. Ini juga fakta lain yang baru saya ketahui. Ya, di sepanjang Jalan Lintas Sumatera ada banyak restoran yang sama, dan rerata bis akan mampir di restoran jenis ini. Semuanya telah menyediakan fasilitas toilet dan mushala. Meski memang terkadang tidak manusiawi.

Tidak manusiawi?

Seperti yang saya dapati di Jambi, entah kota mana ini. Saya harus buang air kecil di tempat beratapkan langit di sebuah tempat yang tidak berair. Hanya sebuah semen berlubang dan, ehm, lubang itu langsung menuju sungai yang memang terdengar mengalir deras dari tempat saya buang air kecil. Tapi siapa yang peduli tempat kalau memang sudah kebelet? Bahkan di rimbunnya dedaunan-pun hal ini bisa dilakukan.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sudah malam pula, saatnya anak kecil untuk tidur. Tapi sebelum saya masuk ke alam mimpi penuh goncangan itu, saya diberi tahu untuk menutup gorden jendela. Saya melakoninya tanpa tahu alasan yang pasti.

Tidur saya tentu tidak cukup pulas. Anak kecil yang biasanya lelap di ranjang harus tidur sambil duduk, dan sungguh saya tidak terbiasa dengan ini. Maka saya pun kadang terbangun. Dan dalam satu sesi terbangun, saya melihat kondektur meminta seorang penumpang untuk merapikan gorden hingga menutup sempurna.

“Lahat-Lubuk Linggau.”

Itu yang terdengar oleh saya, masih tanpa mengerti maknanya.

Dan saya melanjutkan lelap hingga subuh, saya mengintip ke jendela dan menyaksikan bahwa saya sudah berada di Palembang.

“Untung lancar tadi ya,” ujar kondektur kepada supir yang membawa bis ini melaju.

Dan saya juga belum mengerti makna dari gorden menutup, Lahat-Lubuk Linggau, dan lancar. Ini bak misteri yang meminta dipecahkan.

Ketika matahari akhirnya meninggi kembali, bis ini akhirnya berhenti. Dan tahu-tahu ini sudah di Lampung. Waw! Kami sudah hampir sampai di ujung Sumatera. Pantat saya sudah cukup lelah untuk terus-terusan duduk sedari kemarin pagi. Tapi saya tidak bisa melakukan apapun selain, ya, tetap duduk.

Terang membantu saya melihat pagar khas orang Lampung. Hampir setiap rumah di pinggir jalan itu memakai gapura dengan “kepala” yang sama. Dengan tulisan “bertapis” di sebelah kiri. Awalnya saya mengira kata kedua yang ada di sebelah kanan akan sama. Tapi menjadi tidak ketika sudah memasuki daerah Lampung Tengah. Gapuranya sama, tulisan “bertapis” juga sama, tapi gapura kanan memuat kata yang berbeda. Saya mencoba mencernanya sebagai sebuah slogan kabupaten.

Siang hari yang terik, bis berhenti di sebuah tempat yang tampak seperti bukan restoran. Ya, ini mungkin pool bis area Lampung karena ada banyak teknisi disini. Kami pun hanya makan di tempat yang lebih mirip kantin alih-alih restoran. Bis besar yang kami tumpangi mendapat perawatan di tempat ini, dan durasinya lumayan lama. Ditunjang cuaca Lampung yang panas bukan main (ingat, kami dari Bukittinggi yang dingin bukan main), lengkaplah sudah rasa malas yang membuncah.

Bahkan dalam waktu 24 jam, sesuatu yang membuncah dari dalam diri sudah bisa berbeda.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan saya mulai merasakan hawa penyeberangan. Kenapa? Karena di sepanjang jalan, saya menemukan berbagai tulisan “persewaan kapal”. Dan lebih menggelitik lagi ketika nama-nama persewaan kapal itu malah semacam membentuk trivia suku Batak. Ya, di sini adalah persewaan “Pasaribu”, tidak jauh ada persewaan “Situmorang”, dan berbagai marga Batak lainnya.

Saya, yang setengah Batak, tersenyum simpul melihat itu. Mamak saya, yang asli Batak, malah ketawa melihat deretan papan nama marga di sepanjang jalanan itu.

Persis ketika matahari ada di atas kepala, sampailah bis di sebuah tempat yang bernama Bakauheni. Syukur tersirat dalam hati ketika sampai di tempat ini. Sebuah perjalanan yang terhitung sangat lancar karena bisa sampai di Bakauheni tepat tengah hari. Dua puluh tujuh jam dari keberangkatan di Bukittinggi. Waw, lama sekali!

Ehm, dan nyatanya sebuah perjalanan tidaklah semudah yang barusan dilalui. Kita tidak pernah tahu hal yang ada di depan mata. Dan itu yang saya dapatkan, persis ketika memasuki kapal. Sebuah langkah menuju pulau seberang.

Ya, pada mudik edisi pertama, saya memang pernah naik kapal. Bahkan kapal yang jauh lebih besar dari sekadar kapal penyeberangan Selat Sunda. Tahun 1989 itu perjalanannya melalui pelabuhan Teluk Bayur nan kesohor dengan lagu galaunya. Menyusuri pantai barat Sumatera dan berlabuh di Tanjung Priok. Masalahnya, saya sama sekali tidak sadar soal pengalaman itu. Siapa pula yang hendak merekam memori sedemikian baik di usia 2 tahun?

Panas terik sekali di Bakauheni hari itu. Tentu saja, ini pertengahan tahun, saat memang sedang panas-panasnya. Pedagang dengan berbagai macam bawaan silih berganti naik ke bis yang saya naiki. Sebagai orang yang duduknya paling depan sendiri, tentu mengamati hal itu dengan sangat jelas.

Bis bergerak sangat perlahan, dan secara perlahan pula saya mulai merasakan perih di mata. Ah! Ini pasti kelakuan dan perbuatan dari asap knalpot setiap kendaraan yang ada di antrian. Bis-bis besar, dan sebagian lagi mobil pribadi berkumpul di satu tempat, semuanya dalam posisi menyala dan otomatis mengeluarkan gas buangnya masing-masing. Saya mulai ‘menangis’ dengan kondisi ini. Suatu tangisan yang terjadi bukan karena perasaan, tapi sebenar-benarnya faktor fisik.

Penderitaan dan tangisan itu akhirnya berakhir ketika seluruh penumpang bis diminta turun untuk naik ke kapal berwarna putih yang dengan gagahnya mengambang di lautan. Mata mulai berhenti mengeluarkan air dan yang terasa kemudian adalah hembusan kencang angin pelabuhan.

Saya dan keluarga sampai di sebuah tempat penuh kursi. Ya, itulah tempat penumpang bis akan duduk di kapal sepanjang perjalanan ke Pulau Jawa. Sebuah kursi putih segera saya duduki dan belum ada perasaan apapun. Tentu saja, heroisme ‘berlibur ke rumah nenek’ masih terpatri jelas di dalam otak.

Ada sekitar 10 menit saya duduk diam mengamati suasana, sambil sesekali menikmati sisa-sisa makanan yang dibawa oleh orang tua saya dalam keranjang hijau andalan. Tentulah tinggal sisa karena sudah lebih dari 24 jam kami meninggalkan rumah untuk sebuah perjalanan yang nyata-nyata sangat panjang ini. Saya tetap duduk hingga kemudian suara sirene terdengar. Hmm, agaknya kapal ini hendak berangkat.

Dan dimulailah sebuah derita perjalanan.

Sesungguhnya saya tangguh di darat. Sudah terbukti dalam perjalanan dari rumah ke Bakauheni, saya tidak muntah sama sekali. Ya, saya tidak mabuk dalam perjalanan darat. Goyangan jalanan bisa ditutupi oleh hijaunya sawah atau rindang pepohonan yang tampak di sisi kanan-kiri jalan. Dan celakanya, saya tidak setangguh itu di lautan.

Lantai kapal yang saya duduki mulai bergoyang. Sebuah mekanisme yang sangat bisa dijelaskan secara fisika mengingat benda yang saya naiki mengambang di perairan. Ini tentu saja sama dengan kapal-kapalan kertas yang saya ambangkan di atas Tambuo. Juga sama dengan bungkus kacang koro yang saya ambangkan di bandar (selokan gede dalam terminologi Minang) dan saya ikuti perjalanannya sambil pulang sekolah. Ya, sama persis. Hanya kali ini saya ada di benda yang mengambang itu.

Anggap saja ini pelajaran hidup. Ada masanya kita melakoni suatu peristiwa yang sering kita lihat sebagai hal yang sepele. Dan nyatanya itu tidaklah cukup sepele.

Dan goyangan itu perlahan sampai ke otak saya. Lebih lanjut lagi, otak saya tidak merespon dengan baik. Maka, terjadilah. Kepala saya mulai pusing, perut bergolak, dan isi di dalamnya nyaris saja keluar. Saya menahan diri dengan duduk diam dan menyandarkan kepala ke kursi yang ada di depan. Sementara dua adik saya yang lain dengan lincahnya beredar di sekitar ruangan kapal. Sesekali bahkan ke luar ruangan.

Ya, saya tidak terbiasa dengan suasana ini.

Lagipula tidak ada pengalih perhatian yang benar-benar asyik. Kalau di darat, saya bisa melihat kiri kanan dengan warna yang berbeda. Kalau memang sudah mentok banget, saya akan menghitung mundur benda kuning yang memuat angka kilometer terhadap tujuan terdekat. Kalau di laut?

Yang saya lihat ya cuma air, warna biru. Tidak ada yang lain. Walaupun demikian, saya tetap mencoba untuk melangkahkan kaki dan berdiri di pinggir kapal. Angin laut bertiup kencang sekali, tapi saya coba melawan guna mencari pengalih fokus. Satu hal yang disyukuri adalah karena ini musim kemarau. Maka laut biru yang terhampar luas ini sedang tenang-tenang saja. Ya, betul-betul tenang. Sekali kesempatan saya mengintip ke bagian bawah kapal dan yang saya lihat hanyalah hempasan air di lambung kapal.

Tidak ada benda kuning yang bisa saya hitung di lautan ini. Jadi saya hanya mengamati arah depan dan berharap akan tampak daratan dengan segera. Persislah kalau manusia dapat masalah, inginnya segera ada solusi di depan mata. Meski nyata-nyata tidak selalu akan begitu.

Akan tetapi, penantian selalu akan membuahkan hasil. Kapal ini pasti akan sampai. Dan ketika sudah hampir 1 jam saya melongo memandang laut lepas akhirnya tampak daratan. Secuil. Kecil sekali.

“Itu Bang, Merak,” kata Bapak.

Sebuah pernyataan yang cukup melegakan hati. Ya, setidaknya derita sepanjang perjalanan ini akan segera berakhir di tempat yang secuil itu tadi.

Mendadak waktu menjadi terasa amat sangat lama sekali.

Saya terus-terusan melihat daratan itu dan tetap saja kecil. Penambahan ukurannya tidak signifikan. Bahkan kapal malah berjalan ke arah yang tampaknya lain, semacam menjauhi daratan tersebut. Saya sudah semakin pusing dan akhirnya memilih untuk kembali duduk. Berharap perjalanan penuh goyangan ini segera berakhir. Kalau tidak, target saya untuk tidak muntah sepanjang perjalanan ‘berlibur ke rumah nenek’ ini tidak akan tercapai.

Duduk sambil menyanggakan kepala di kursi putih yang ada di depan. Itu saja yang saya lakukan. Kepala ini rasanya sudah sangat berat. Well, sebuah kondisi yang mungkin sangat biasa untuk bocah berusia 10 tahun dengan riwayat imunitas rendah. Ya, saya termasuk anak lemah. Saya bahkan satu-satunya anak di keluarga ini yang pernah menderita step. Suatu kondisi panas tinggi yang sampai membuat bola mata yang berwarna hitam tidak kelihatan lagi. Suatu keadaan antara hidup dan mati. Dan syukurlah, saya masih bisa hidup. Mengingat kejadian sekitar 9 tahun silam itu sesungguhnya memberi makna lebih untuk hidup. Saya masih bisa bertahan meski dengan fisik yang lemah. Bukankah bertahan itu jauh lebih penting? Lemah masih bisa diperkuat bukan?

Keramaian mulai tampak ketika penumpang-penumpang mulai mengemasi barang bawaan masing-masing dan bersiap turun ke dek terbawah, tempat kendaraan terparkir. Ramai sekali. Dan sesungguhnya hal itu membuat kepala pusing ini jadi bertambah pusing. Tapi, ya sudahlah. Perjalanan kan harus dilanjutkan.

Saya ikutan turun. Anak usia 10 tahun harus taat dan patuh pada orang tua. Maka, saya meniti tangga satu per satu untuk kemudian sampai di tempat yang luas sekali, di dek terbawah. Banyak kendaraan besar terparkir di tempat ini. Satu hal yang langsung terbayangkan adalah kalau sampai kapal ini tenggelam, maka bis dan truk ini adalah yang pertama sampai ke dasar laut. Ngeri.

Sambil berjalan di antara bis-bis dan truk-truk, saya mendengar deru perlahan. Hmm, seluruh kendaraan ini sedang dalam posisi menyala. Saya sempat terpikir sesuatu, tapi segera lewat begitu saya menoleh ke sebuah jendela kecil di dinding kapal.

Biru, bergoyang. Itu air laut. Dan saya sangat dekat dengan air laut.

Yak, persis di bawah saya adalah air laut. Segera, bayang-bayang tenggelam kembali mengemuka dalam benak saya. Entahlah, saya selalu berpikir negatif terlebih dahulu alih-alih berpikir tentang kesenangan.

Dalam ketakutan yang mendadak muncul, kedua bola mata yang sempat jadi kasus 9 tahun lalu ini kembali terasa perih. Nafas saya juga mulai terasa sesak. Tubuh kecil saya masih sangat dekat dengan knalpot dan asapnya begitu perkasa keluar menyergap orang-orang yang ada di dek ini.

Mungkin tidak ada yang peduli, atau mungkin sudah sangat terbiasa. Tapi nyaris tidak ada orang yang mempermasalahkan keadaan ini selain tiga anak kecil di bis bagian depan. Saya dan adik-adik mengeluh mata pedih pada orang tua kami. Adik saya mungkin masih terlalu kecil. Ehm, ternyata tidak, dia tidur. Pantas saja.

Derita ini belum berakhir juga ternyata. Saya menahan nafas yang sudah sangat jelas berbau asap knalpot. Mata perih. Bis ini bis kelas ekonomi pula. Kalaulah jendela saya tutup, jendela yang lain masih memberikan ruang untuk asap knalpot masih ke dalam bis. Ya, ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang murah. Jangan pernah abaikan itu.

Ada rasa yang jauh lebih penuh dengan eksitasi daripada sebuah tas baru ketika kenaikan kelas. Rasa yang baru saja saya pahami. Apa itu? Melihat pintu besar kapal di ujung sana terbuka. Cahaya yang perlahan tampak di depan mata itu menandakan harapan yang sangat besar untuk segera lepas dari derita goyang-goyang di kapal plus mata perih ditambah asap yang memenuhi hidup. Ah!

Pak supir menginjak pedal gas dan kopling secara perlahan. Bis ini melaju secara perlahan pula. Sementara kemuakan saya tidak bisa dijadikan perlahan. Saya sudah sangat ingin keluar dari tempat ini. Saya muak, tapi saya diam.

Ya, itulah saya. Dalam kondisi di tempat umum, saya akan tampak sangat penurut. Sejak kecil saya dibiasakan demikian. Saya tidak seperti seorang anak kecil yang menangis meraung-raung karena kebelet pipis di bis yang tidak ada toiletnya. Kalau saya, ya saya tahan. Kalau itu sudah amat sangat parah dan benar-benar tak tertahankan, baru saya bilang. Nyatanya, saya dengan polosnya bertahan sepanjang perjalanan dari Bukittinggi ke Bakauheni.

Roda bis berputar terus, dan pintu terang di depan itu semakin dekat. Air mata semakin deras mengucur, hidung sudah semakin susah bernafas dengan benar. Sebuah harapan sederhana tampak di depan mata. Saya hanya ingin keluar dari kapal ini. Itu saja kok.

Syukurlah, permohonan sederhana itu segera terkabul. Perlahan terang melingkupi dan jelas ini sudah sampai. Ini di Merak, dan itu pertanda, saya sudah berada di Pulau Jawa. Pikiran kecil saya berkata, “Rumah simbah sudah dekat!”

Benar?

Tentu tidak.

Ternyata derita di kapal itu sesungguhnya baru awal. Yah, itu hanya secuil dari derita lain yang muncul kemudian. Dalam perjalanan kami di tanah Jawa. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Perjalanan Keputusan

“Bruummmm…”

Raungan sepeda motor begitu membahana begitu memasuki ruang sempit di kos-kosan Ray. Bahwasanya Tuhan tidak lagi menciptakan tanah adalah sebuah kendala tersendiri buat anak kos. Kenapa? Ya, pemilik kos-kosan dengan asoy geboy membuat kos-kosan dengan fasilitas tempat parkir yang minim abis. Dan karena faktor biaya, tetap saja ada anak kos yang akan menyewa tempat meski parkirnya minimalis begitu.

Ray turun dari sepeda motornya dengan gontai lantas memarkir kendaraan miliknya itu mepet-mepet. Ya memang harus mepet karena ada 10 sepeda motor lain yang ada di kos ini. Semua perlu tempat.

Bahwa tempat parkir kos ini adalah anomali di hati Ray. Ketika disini ada muatan tapi minim tempat, maka di hati lelaki menjelang dewasa itu berlaku sebaliknya. Ada tempat yang luas, tapi tidak ada muatan.

Mirip dengan parkiran kos yang sudah menempatkan bahwa di sudut dekat pintu itu adalah kapling punya Ray, maka di hatinya juga sudah ada pemilik kapling itu.

Ada tempat, ada pemilik kapling, tapi tempat itu kosong, tidak bertuan.

Ray menyeret langkahnya menuju kamarnya, empat meter dari tempatnya parkir sepeda motor. Serenteng kunci dikeluarkan dari saku, masuk ke lubang kunci, pintu segera terbuka.

Tas yang disandangnya segera terlempar ke sudut kamar, sementara pemilik tas itu dengan pasrah terjun ke kasur yang terhampar di lantai. Seragam masih melekat di badan. Tangan Ray segera menuju ke saku celana, mengambil handphone dan melihat isi tampilan layar dalam posisi tidur terlentang.

Inilah keseharian Ray sepulang kerja, terkapar manis bersama linimasa. Ya, linimasa yang spesifik, merujuk pada sebuah nama yang ada di Twitter, di Facebook, dan di Blogspot. Linimasa yang punya 3 ID berbeda tapi dimiliki oleh satu orang. Persona yang sama dengan pemilik kapling luas di hati Ray.

“Hehmmm.. Kapan kelarnya niy?” gumam Ray.

Agaknya ia sudah ada dalam posisi lelah. Stalking nyata-nyata melelahkan. Selain tentunya jiwa tersiksa. Stalking kadang menjadi kebodohan, apalagi ketika dengan santainya Ray membuka ‘view conversation’ pada twit yang nongol di timeline si pemilik kapling hati itu.

Sebut saja itu kebodohan yang (kadang-kadang) indah.

Ray terpejam sejenak. Tangannya mengepal dan nafasnya ditarik dalam-dalam. Seluruh oksigen yang sejatinya sudah minimalis masuk ke dalam paru-paru.

“Ini harus diselesaikan,” bisiknya.

Ray lalu membuka aplikasi kalender di handphone-nya, menatap tanggal-tanggal yang tertera disana. Ia lantas mengetik dua kata pada kotak yang menunjuk tanggal 30 April.

Perjalanan Keputusan

Jemarinya masih ada di handphone itu, menuju aplikasi burung biru. Kali ini Ray mengetik sebuah kalimat singkat.

“Mohon bantuannya pada semesta.”

Lalu Ray terlelap, dengan handphone di tangan, dengan seragam di sekujur tubuh, dengan ID Card perusahaan masih menggantung di leher. Sebuah lelap yang lelah.

* * *

sumber: ecosalon.com

“Magelang? Ada?”

Ray beringsut dari kursi yang sudah membawanya ratusan kilometer dari tempatnya berasal. Selimut yang semalaman menempel di tubuhnya segera lepas. Sudah saatnya ia turun, untuk memenuhi segala bentuk pencarian keinginan semesta dalam perjalanan keputusan.

Kaki kiri Ray menapak manis di depan Armada Town Square alias Artos. Masih pagi hari, dan kota ini dingin sekali. Ray melempar pandang ke sekeliling. Selintas, merk-merk yang ada di depan Artos ini mengingatkannya dengan hiruk pikuknya ibukota. Ah, sampai juga mereka di kota kecil ini.

Tangan Ray menyambar handphone di saku jaketnya. Powerbank dan kabel masih menjadi satu dengan handphone itu. Sungguh mudahnya teknologi sehingga nge-charge handphone-pun bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Dan teknologi menjadi semakin mudah ketika kemudian Ray membuka GPS. Diketiknya nama sebuah hotel dan segera peta Magelang plus petunjuk arah ada di kotak kecil bernama handphone itu. Semuanya tampak begitu sederhana. Sesuatu yang dahulu dibayangkan saja tidak bisa. Begitulah dunia.

Jarak hotel yang dimaksud nyatanya tidak terlalu jauh. Ray lantas berjalan mengikuti petunjuk yang ada di GPS-nya. Pagi ini menjadi tidak lagi dingin karena seluruh sel di tubuh Ray bergerak mengikuti arah GPS itu. Tidak jauh benar memang, karena 15 menit kemudian ia sampai di hotel yang namanya persis sama dengan yang tertera di GPS.

Tidur di dalam bis sungguh tidak lelap meski Ray sudah mengambil bis yang paling oke, Super Executive. Maka, begitu kamar hotel itu dibuka, tubuhnya segera terkapar manja.

Tangannya mengetik sebuah pesan singkat, sesaat sebelum ia tertidur.

Dua jam kemudian, Ray terbangun sejenak. Ia segera melihat ke handphone-nya dan tidak ada SMS masuk. Ray melanjutkan tidurnya.

Empat jam berikutnya, Ray akhirnya benar-benar terjaga. Sudah siang di Magelang dan lapar mulai terasa. Ketika ia terduduk di ranjang hotel, tangannya kembali menggapai handphone-nya. Tidak ada SMS masuk.

“Satu poin dari semesta,” ujar Ray sambil melihat ke kotak kecil sejuta fungsi itu. Ya, sebuah pesan singkat yang tidak berbalas.

* * *

“Patas AC ngendi Pak?” tanya Ray pada seorang bapak yang berdiri dengan memegang setumpuk kertas kecil warna biru.

“Disini, Mas.”

“Sudah lewat?”

“Nanti lewat lagi.”

Ray pun melakukan transaksi pembelian tiket bis Patas AC dengan bapak yang berdiri di depan warung itu. Transaksi kilat khusus yang bahkan semenit pun tidak sampai. Ray lantas berlalu dan menunggu, sambil sesekali melihat transaksi yang sama terjadi di depan matanya.

“Semarang?”

Orang-orang yang sedang asyik duduk dan berdiri segera bersiap. Rokok dimatikan, minuman dihabiskan, tas-tas segera disandang, pun handphone segera dimasukkan ke kantong.

Ray mengikuti orang-orang yang menaiki bis Ramayana yang muncul dari arah kanan. Ia mengambil posisi idealnya, kebetulan masih ada. Yup, nomor 4 dari depan, di sisi tempat supir berada. Entahlah, posisi itu adalah kesukaannya ketika naik bis. Kecuali busway tentunya.

Perjalanan keputusan itu berlanjut, dan baru ada satu poin dari semesta. Ray mencatat itu dengan baik, sambil berharap ada pertanda lain yang memungkinkannya untuk segera memutuskan.

Lelap menjadi teman Ray sepanjang perjalanan melewati Secang, Ambarawa, Ungaran, dan seterusnya. Ia mulai terjaga ketika deretan kaleng biskuit ukuran raksasa tampak di sepanjang jalanan.

“Mau sampai,” bisiknya.

Pandangan Ray menuju ke langit, mendung menggantung manja disana. Dalam hati ia berdoa semoga hujan tidak akan cepat-cepat turun.

“Banyumanik!” teriak kondektur bis Patas AC itu.

Ray dan beberapa orang lain bergegas turun. Dan ketika kakinya menapak di tempat yang bernama Semarang itu, ia mulai keder. Bukan keder karena ia baru pertama kali menginjakkan kaki ke kota dan tempat ini. Tapi keder pada tanda yang hendak semesta tunjukkan padanya.

“Udah jauh-jauh juga. Lanjut!” katanya dengan lembut sambil berjalan ke arah utara.

Kembali GPS menjadi andalan. Ia lagi-lagi mengetik nama sebuah hotel dan kali ini tampaknya GPS kurang berjodoh dengannya. Tempat itu tidak cukup dekat, plus mendung yang kali ini menggantung tapi tidak sambil manja.

Ray memutuskan untuk berjalan kaki, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Langkahnya terus menyapu jalanan yang baru pertama kali diinjak seumur hidupnya itu. Melewati Museum Rekor Indonesia, Jamu Jago, Carrefour, dan kemudian KFC.

Ketika sampai persis di depan ADA, air mulai menetes perlahan dari langit.

“Ups…,” gerutu Ray sambil mempercepat jalannya. Ia bisa saja berlari, tapi akan menjadi pemandangan yang aneh di jalanan itu.

Air yang menetes itu mulai bertambah, sementara pengendara sepeda motor satu persatu berhenti untuk mengenakan jas hujan masing-masing. Sementara Ray masih saja terus berjalan.

Hingga kemudian, air di langit itu benar-benar tumpah. Ray menuju tempat berteduh terdekat, sebuah gapura. Ah! Tapi atapnya kecil sekali.

Ray melihat sekeliling dan melihat sebuah pos ojek, dan seorang tukang ojek melambaikan tangan padanya.

“Teduhan kene wae, Mas,” teriak tukang ojek itu.

Bahwa keras dan mirisnya ibukota mampu membuat Ray lupa bahwa kebaikan itu sejatinya masih ada, meski tidak di ibukota.

Tanpa buang waktu, Ray berlari ke pos ojek. Persis di saat yang sama, seorang tukang ojek dengan ponco masuk ke pos ojek itu. Maka, seketika sebuah ide terlintas di benak Ray, meminta untuk dieksekusi.

“Mas, ke hotel yang disana itu ya,” ujar Ray.

“Di belakang?”

“Di hotelnya, Mas.”

Ray langsung menelusup masuk ke dalam lindungan ponco. Sepeda motor itu melaju dan air yang tumpah dari langit masih pada eksistensinya. Sepeda motor itu melaju pelan, entah kemana. Sungguhpun Ray tidak tahu tempat itu, dan tidak tahu sejauh mana lagi hotel yang ia maksud.

Nyatanya memang dekat, tak sampai 5 menit sepeda motor ojek itu berhenti di sebuah tempat yang teduh. Tidak ada air menetes dari langit, tertahan oleh atap.

Ray membayar lebih untuk jasa ojek ini. Setidaknya jasa ojek masih JAUH lebih manusiawi daripada ojek yang pernah ia rasakan di kawasan industri, yang mematok harga gila untuk jarak yang teramat pendek.

Dengan tubuh basah, Ray masuk ke hotel. Secara muka dan aroma, ia jelas tidak tampak seperti orang yang mampu menginap di hotel. Tapi terlepas dari itu sesungguhnya ia mampu.

Sebuah kamar dengan harga yang cukup mahal ia ambil. Ray ingin menikmati perjalanan keputusannya dengan nyaman. Kalaulah pertanda semesta itu masih dalam tanda tanya, setidaknya ia masih bisa menikmati hidup. Kalaulah pertanda semesta itu lantas buruk, setidaknya ia masih bisa menghibur diri.

Lelah berjalan cukup jauh, tubuh Ray kembali terkapar manis di ranjang yang jauh lebih empuk. Tentu tidak lupa mengetik sebuah pesan singkat.

Dua jam berlalu.

Ray bangkit, menyalakan TV dan AC yang sedari tadi belum menjalankan fungsinya. Sesudahnya, tangannya kembali ke handphone yang ternyata…. tidak ada pesan singkat apapun.

Tidak berbalas.

Ray beranjak ke WC. Menikmati setiap fasilitas di hotel itu penting karena sejatinya itu semua dibayar. Ray akan selalu mengeksplorasi semuanya jika itu adalah hotel yang dibayar sendiri. Kalau hotel yang dibayari kantor, tentu tidak terlalu jadi beban di pikiran.

Ray kembali, dan masih berharap ada sesuatu di handphone-nya.

Tangannya membuka lock tombol.

1 Unread Message

Ray hampir bersorak sebelum kemudian ia sadar kalau kamarnya terletak di dekat sisi ramai hotel ini. Sebuah pesan balasan yang diharapkan tadi diterima juga!

Dengan harapan yang lebih tinggi, Ray mengirimkan pesan lagi, ke tujuan yang sama.

Harapannya tinggi dan terus membumbung naik seiring terkirimnya pesan singkat itu. Ray duduk tidak jauh-jauh dari handphone yang sedang diisi power-nya itu sambil menonton televisi.

Lima belas menit, tidak ada pertanda dari handphone itu.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Dua jam.

Dan hari sudah jam 9 malam. Harapan yang tadinya tinggi itu perlahan menurun, jatuh, dan lantas terkubur.

Ray terlentang di kasur yang empuk sambil berkata, “dua poin dari semesta.”

* * *

Pagi hari di hotel yang dibayar sendiri tentunya bernama breakfast semaksimal mungkin. Ray segera turun, menuju tempat breakfast di pinggir kolam renang dan meminta segala yang mungkin dipesan. Ada dua hal, ia benar-benar lapar atau itu hanyalah kamuflase atas dua pertanda dari semesta yang muncul dua hari sebelumnya.

Sesudah mengisi perut, Ray lantas menuju kamar kembali lalu bergegas mandi. Tidak cukup lama, ia kemudian sudah siap menempuh perjalanan yang mungkin akan menjadi pertanda kemenangan semesta atas perjalanannya.

Ray keluar hotel dan berjalan ke arah selatan. Sebuah pemandangan unik ada di depan markas tentara di seberang jalan. Bukan markas tentaranya, tapi beberapa pohon dan banyak hewan–entah burung entah angsa–yang berumah dan berkeliaran di atas sana.

Ini indah.

Langkah Ray terus melaju di pinggiran jalanan yang penuh kendaraan melaju kencang itu. Kaki-kakinya terus menuju sebuah tempat yang dianggapnya peraduan terakhir dalam perjalanan keputusan ini. Jika kali ini semesta juga berkata TIDAK, maka sampailah Ray pada penantian kesimpulan.

Semakin dekat dengan rumah yang ia tuju, hatinya semakin deg-degan. Langkahnya menjadi pelan dan gontai. Tapi sepelan-pelannya langkah itu akhirnya sampai juga pada tujuan. Mendadak jarak menjadi sedemikian dekat.

Ray berdiri di depan sebuah rumah. Hanya berdiri.

Pandangannya terlempar ke sekeliling dan memastikan bahwa rumah ini sama persis dengan sebuah alamat yang pernah masuk sebagai pesan singkat di handphone-nya. Ia tak perlu mengeceknya karena sudah hafal benar alamat rumah itu pada kali pertama membacanya.

Bahwa cinta kadang membuat logika berantakan.

Ray masih berdiri, langkahnya berhenti. Niatan untuk masuk dan mengetuk pintu tercekat hanya 2 meter dari depan pintu. Dua meter yang ternyata jauh lebih sulit daripada ratusan kilometer yang dilaluinya sebelum sampai ke tempat ini.

Hingga kemudian keberanian itu secuil muncul. Langkahnya menembus dua meter yang sulit itu hingga kemudian tangannya mengayun ringan.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Ketukan halus, tanda lemas. Satu kali percobaan tanpa jawaban.

“Satu lagi, berarti tidak,” bisik Ray sambil kemudian mengayun tangannya untuk percobaan kedua.

“Tok.. Tok.. Tok..”

Satu menit.

Lima menit.

Tujuh menit.

Dan sunyi masih ada disana.

Ray mundur teratur dan membalikkan tubuhnya. Ia menengadah ke langit dan bergumam, “Sudah tiga dalam tiga hari. Oke semesta menang.”

Semesta menang, keputusan itu akhirnya dibuat.

* * *

“Mangkang habis!”

Kaki kiri Ray menginjak terminal Mangkang. Sebuah tempat yang menjadi jalannya untuk pulang, kembali ke rutinitasnya, dengan sebuah keputusan.

Ray menatap lurus menerawang di jalur bis tempatnya menanti. Seketika bak ada pemutaran film layar lebar disana.

Terlintas tahun-tahun yang berlalu bersama si pemilik kapling hati itu. Mulai dari pertama kali bertemu, berkenalan, dan akhirnya Ray jatuh cinta.

Semuanya terjadi dengan sederhana meski tidak berdampak sama sederhananya. Jatuh cinta itu adalah kecelakaan yang indah, yang mungkin akan jadi buruk jika terjadi pada saat atau objek yang tidak tepat.

Ya, ini memang tidak tepat.

Ray sadar soal ketidaktepatan itu dan kemudian memilih menyimpan rasa itu hingga bertahun lamanya, hingga membatu dalam hatinya.

Sebuah rasa yang kemudian tidak bisa dibunuh karena ia tidak pernah dilahirkan. Tidak lahir, tapi sudah hidup dan menghuni ruang besar di hati Ray.

Segala momen kebersamaan itu berseliweran bersama bis-bis yang silih berganti lewat. Satu per satu.

“Bejeu!”

Sebuah bis warna hitam yang dinanti akhirnya tiba. Ray bergegas berdiri dan film yang diputar tadi seketika selesai. Ray masuk via pintu tengah dan menuju kursi yang kali ini bukan favoritnya.

Ia duduk, mengatur kursi, dan lantas memejamkan mata.

“Aku memang tidak boleh mencintai kamu. Dan semesta sudah memberi pertanda itu. Sekarang, aku tidak lagi orang yang mencintaimu. Aku hendak menjadi orang yang PERNAH mencintaimu.”

Sebuah lafal dalam hati Ray. Sebuah lafal yang menjadi kesimpulan dari perjalanan keputusan. Tak lupa Ray memberi catatan khusus dalam kesimpulannya.

Tapi tempat di hati ini tetap milikmu.”

Polbek – Prolog

Jogja panas walaupun sudah sore-sore sendu. Sebuah kipas angin dari jaman batu masih setia bertiup ke satu arah. Yah, benda itulah satu-satunya penyejuk di kamar kosku yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat, tapi mendadak kecil karena seluruh kenangan hampir 8 tahun disimpan di ruangan yang sama. Kipas itu aku beli di pekan pertama aku menjadi penghuni Jogja, itu sudah hampir 8 tahun yang lalu. Waktu itu aku baru masuk SMA, sekarang sudah lulus kuliah. What a long time.

Sebuah kemeja hitam lengan panjang terhampar manis di depanku. Sebuah setrikaan model jadul juga sudah mengambil posisi siap sedia. Kipas, kemeja, setrika, dan aku. Oh, kelupaan. Ada juga sebuah monitor yang merangkap layar televisi dengan bantuan TV Tuner. Sungguh sebuah sore hari yang kelam bagi anak kos.

Aku melihat jam, dan sudah mendekati angka 6. Aku lantas mulai mengintimkan hubungan kemeja hitam dengan setrikaanku. Dalam suasana yang hangat mereka bercumbu. *ini apaan sih?*

Dalam waktu yang tidak lama lagi, aku yang adalah seorang PENGANGGURAN, akan berangkat ke Bandung dalam rangka wawancara kerja. Minggu lalu aku ditelepon sebuah perusahaan yang lumayan wahid, kurang dari 24 jam sesudah aku memasukkan aplikasi via seorang kakak kelas. Ya, namanya juga usaha cuy!

“Peluklah diriku dan jangan kau lepas….”

Sebuah lagu dari Alexa yang berjudul “Jangan Kau Lepas” tiba-tiba terdengar. Itu sudah pasti dari handphone baruku yang sebenarnya berwujud lebih mirip remote AC karena kecil dan warnanya putih. Untung nggak ada AC di kamar ini, jadi nggak akan ada kejadian tertukar antara HP dengan remote AC.

Kucari-cari HP yang kubeli karena merupakan HP Slide yang paling murah itu. Tubuhnya tertindih bantal di atas kasurku. *ini apa pula sih?*

Sebuah nomor, 021, meneleponku sore-sore begini. Ada apa gerangan?

“Selamat sore.”

“Iya, Mbak. Selamat sore.”

“Maaf menelepon sore-sore.”

“Sudah saya maafkan, Mbak.”

“……”

Oh, oke. Yang sebenarnya bukan begitu. Lagian mana berani saya bilang begitu? *yang bener aja*

“Mau memberitahukan, setelah kami diskusikan dengan user hasil wawancara kemarin, maka kamu diterima. Sekarang bisa kita jadwalkan untuk medical check up?”

Berasa dunia ini berputar. Yah, 3 minggu yang lalu aku interview di sebuah perusahaan dan sepulang dari sana, aku tergolek lemah seharian gegara nggak ada telepon konfirmasi dari perusahaan itu. Ya sudah, aku bermaksud pasrah dan tawakal pada kegagalan yang kesekian itu. Ketika aku sudah lupa, sudah tidak berharap, eh dia nongol lagi. Lebih oke lagi ketika harapan itu kembali persis ketika aku sedang menyetrika baju guna interview besok di Bandung.

Ini kerjaannya semesta pastinya.

Telepon sore itu adalah pembuka semua jalan yang lantas ada di depan. Aku menerima tawaran itu dan bergabung dengan perusahaan farmasi yang terkemuka, di sebuah kota bernama Palembang.

* * *

Aku punya cukup banyak aset ketika jadi anak kos. Sebuah sepeda motor yang umurnya baru 1,5 tahun tersedia. Sebuah desktop lengkap juga ada. Tapi aku juga punya adik yang butuh desktop itu, dan adik lainnya yang butuh sepeda motor itu.

Maka, kutinggalkan semuanya di Jogja.

Dan aku memulai semuanya di Palembang, nyaris tanpa apa-apa. Aku menjadi pelanggan rutin warnet di dekat kos-kosan. Aku juga pelanggan setia angkot hijau Ampera-Lemabang. Aku tentunya juga menjadi nebengers sejati. Ya, nyaris nggak modal pokoknya. Aku menjalani hari-hari yang sulit tanpa segala fasilitas yang bisa memudahkan itu, dan syukurlah kalau aku akhirnya masih bisa SURVIVE.

Sampai suatu hari tiba: gajian plus bonus tahunan.

Sejumlah uang yang cukup besar bagiku, kini siap memberiku kelengkapan hidup. Sebuah nominal yang sudah kurencanakan peruntukannya, sebuah angka yang akan mengubah hidupku.

Maka aku memulai perjalanan dengan membeli sebuah TAS.

Macam Macam Settingan HP Kaum Jomblo

Pernah nggak sih ngelihat handphone seseorang bergetar sepanjang hari? Pernah melihat handphone yang bersuara (juga) sepanjang hari? Atau ada yang sepanjang waktu asyik dengan handphone-nya? Nah, jangan salah, diantara manusia-manusia yang sedang asyik dengan benda mini itu, sejatinya banyak juga yang jomblo.

Dannn… hal itu bisa juga diketahui dari setting yang dibuat di HP-nya.

Loud Pake Banget

Settingan ini berlaku untuk jomblo yang saking lamanya tidak melakukan pendekatan atau didekati sama orang lain. Saking lamanya, kadang-kadang lupa kalau punya HP. Nah, dalam rangka agar tidak lupa kalau punya HP, maka dibuatlah setting yang Loud maksimal. Model begini juga ditujukan agar orang sekitar tahu kalau dia menggunakan HP-nya, selain sebagai ganjalan pintu atau untuk melempar anjing galak.

Settingan ini ternyata juga berguna agar tampak heroik di depan khalayak. Semisal nih, untuk sebuah SMS, dibuat ringtone lagu “Jatuh Cinta” full utuh. Jadi, meskipun itu cuma SMS dari operator atau sekadar nawarin kartu kredit, tetap berasa ada yang nelpon *soalnya ringtone-nya lamaaaaa dan gedeeeeee*

Getar Kagak, Bunyi Apalagi

Ini berlaku untuk jomblo-jomblo yang baru putus, atau yang jadi korban PHP, atau yang mulai pasrah pada kejombloannya. Kalau yang baru putus tentunya karena biasanya itu HP nggak pernah berhenti bergetar, eh tahu-tahu sepi. Guna menghilangkan kesan itu, maka mode getar-nya juga di off sekalian. Sunyi banget mengandalkan backlight jadinya. Mode ini sangat irit sama batere. Tapi jadi nggak irit karena meskipun sudah diset tanpa getar dan bunyi, pasti itu tangan dikit-dikit langsung pegang HP dan sekadar mengecek apakah ada BBM atau Whatsapp atau SMS atau–yang paling diharap–panggilan telepon dari mantan pacar/mantan PHP/mantan gebetan.

HP Off Dengan Sendirinya

Ini karena benar-benar jomblo, nggak ada gebetan, nggak ada yang didekatin, nggak ada yang di-sepik, nggak perlu HP-lah pokoknya. Jadi itu HP akan mati ketika batere-nya habis. Maklum, nggak pernah diapa-apain, jadi nggak rajin juga yang nge-charge. Nanti giliran ada yang nyari, mau ngajak arisan misalnya, baru deh sadar kalau “lu kok ga bisa dihubungin?”. Sesudahnya, ya bakal sama lagi.

Homescreen Foto

Rerata jomblo ngenes akan menggunakan teknik pemujaan jenis ini. Jomblo biasa tidak sampai ke level ini sih, karena memang spesial untuk jomblo ngenes. Jomblo ngenes adalah kolektor foto yang handal dari FB dan Twitter dan kemudian memilih salah satu foto dan lantas dijadikan homescreen. Ini juga berlaku untuk jomblo yang kangen/masih sayang sama mantannya. Jadi deh itu foto mantan dijadikan homescreen. Hmmm, jadi bisa dengan mudah melihat masa lalu yang ‘kelam’ itu.

Akses Cepat Untuk BBM/Whastapp

Kan ada nih, kalau di Android memindahkan beberapa menu ke homescreen. Jadi deh, aplikasi BBM dan Whatsapp itu ditaruh di depan, jadi kalau pengen lihat kapan terakhir kali gebetan/mantan buka BB atau WA, bisa segera menuju aplikasi itu. Dannn, biasanya lagi gebetan/mantan ada di list paling atas. Dan paling ngenes adalah rerata pesan BBM atau Whatsapp itu dikirim, diterima, dibaca, dan TIDAK dibalas.

Yah, demikian macam-macam settingan HP kaum jomblo. Tulisan ini hanya hiburan semata *kalau dianggap menghibur*

Cemungudhh Kk…