All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Tentang Lee Min-ho

Lee Min-ho dilahirkan di Heukseok-dong, Dongjak-gu, Seoul, Korea Selatan pada 22 Juni 1987, sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara. Sebagai seorang anak laki-laki ia bercita-cita menjadi pemain sepakbola, namun kandas karena cedera saat tingkat 5 SD. Disebutkan bahwa ia adalah murid yang cerdas dengan nilai Matematika konsisten diatas 90 dan nilai olahraga selalu A. Ia selalu menyisihkan uang jajannya yang sebesar 100 ribu won untuk ditabung. Gede juga yak jajannya? Oya, sebagai anak lelaki satu-satunya, ia bebas dari wajib militer.

Pria dengan tinggi badan 187 cm ini masuk dunia akting pada tahun kedua sekolah menengah saat ia bergabung dengan Starhaus Entertainment. Sejak saat itu ia mulai mengikuti audisi dan mendapatkan peran-peran kecil di drama telivisi. Titik tolaknya muncul saat menjadi peran utama di KBS2 drama “Boys Over Flowers” dengan berperan sebagai Gu Jun-pyo. Serial ini sangat populer dengan rating lebih dari 30% di Korea Selatan. Sebenarnya, saat casting, ia bukan pilihan pertama, namun setelah melihat rambutnya dikeriting, produsen merasa Min-ho lebih pantas memerankan tokoh di drama kejar tayang tersebut. Hmmm.. mungkin sejenis dengan Dude Herlino? Wkwkwkwk…

Kini, pria yang berkuliah di jurusan Film dan Seni di Konkuk University ini telah menjadi artis termahal di Korea Selatan.

Wanita ideal versi Min-ho adalah yang mungil dan berkarakter, ada yang merasa? Hehehe.. Ia berteman baik dengan aktris Park Bo-yeong dan aktor Jeong-Il-woo. Min-ho memfavoritkan Leonardo Di Caprio, Sol Kyung-gu, dan Kim Su-ro. Dalam wawancara dengan MBC TV ia mengatakan ingin sekali pergi bertamasya bersama keluarga ke daerah bercuaca panas seperti Bali. Sama aja ya dengan Luis Nani. Hehe…

Min-ho gemar bermain game online dan aktif di dunia maya, yang dibuktikan dengan accountnya di Cyworld dan Twitter yang dulu cukup aktif.

Momen paling mengerikan dari pria Cancer dengan golongan darah A ini adalah saat mendapatkan kecelakaan pada tahun 2006 dan dirawat selama 6 bulan. Kaki kanannya harus menggunakan pen yang kemudian diangkat pada Juni 2009.

Dua hal yang disayangkan oleh fans adalah fakta bahwa Min-ho adalah seorang perokok dan isu bahwa ia operasi plastik. Disebutkan bahwa ia operasi plastik sekitar Desember 2007.

Film yang dibintanginya: Our English Teacher dan Public Enemy Returns (2008). Drama televisi yang diaktorinya: Romance (2002), Sharp 1 (2003), Recipe of Love (2005), Secret Campus (2007), I am Sam (2007), But I Don’t Know Too (2008), Boys Over Flowers (2009), Personal Preference (2010), dan City Hunter (2011).

 * * *

dikompilasi dari berbagai sumber

 

Tentang Juri MasterChef Indonesia

Wajah tampan, postur tinggi, bertato pula, ia memberikan pemandangan aneh dengan profesinya sebagai chef. Ialah Juna Rorimpandey, seorang chef yang sudah belasan tahun berkarier di Amerika Serikat sebagai chef. Chef Juna sebenarnya baru 2 tahun ini kembali ke Indonesia dan berkarya di restoran Jack Rabbit, dimana ia tidak melamar, tapi dijemput dari Amerika.

Sejatinya ia dulu masuk sekolah penerbang, namun krisis ekonomi pada tahun 1998 membuat ia tidak bisa meneruskan pekerjaan, bahkan ia harus bekerja sebagai pelayan. Dari posisinya seorang pelayan, ia belajar banyak. Ia selalu bertanya dan meminta arahan dari chef tempatnya bekerja. Dan pada usia 22 tahun, ia memutuskan menjadi chef.

Kerasnya chef Juna bahkan pernah membuat seorang karyawannya berhenti di tempat karena ia membanting dinding yang kebetulan terbuat dari stainless steel karena sebuah layanan makan siang yang dianggapnya mengerikan. Kerasnya hidup mungkin berasal dari masa lalunya yang suka ngebut-ngebutan, merokok, tawuran, sampai tertangkap polisi. Bahkan ia bertemu Aline Adita, kekasihnya sekarang, di sebuah ajang balap.

Kehadirannya di masterchef juga tidak sembarangan. Ia pernah menjadi 3 besar Hell’s Kitchen di Amerika, namun dibatalkan karena ketersangkutannya dengan hukum di masa lalu. Ia bahkan idealisme tersendiri dengan tidak mau ada seorang yang sekadar cantik dan tampan kemudian memberi penilaian pada suatu acara memasak. Bahkan kalau penyelenggara memanggil selebriti sebagai salah satu juri, ia akan keluar. “saya tidak mau dicampuradukkan,”katanya.

* * *

Chef Vindex, badan besar, paling charming se-masterchef, bernama lengkap Vindex Valentino Tengker. Sangat wajar Chef Vindex manjadi juri di masterchef karena ia sudah 22 tahun menjadi chef. Ia juga menjabat sebagai President Assosiasi Culinary Professional Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 24 November 1968 ini juga pernah membawakan program “Taste of Indonesia” dalam session Indonesia Now di Metro TV.

Bagi Chef Vindex, memasak adalah soal bakat, karena ada orang yang senang memasak tapi selalu gagal. Ia kemudian masuk sekolah perhotelan dan mendalami ilmu memasak. Pria yang tertarik memasak karena sang nenek ini memulai karir di Amandari Hotel, Ubud Bali sebagai Indonesian Chef. Ketika pertama kali membuat makanan khas Indonesia, ia mendapatkan pengalaman berharga. Kala itu ketika membuat rawon, bumbu kluwak yang dipakai kualitasnya jelek sehingga rasa rawonnya menjadi pahit. Pengalaman ini membuatnya menjadi lebih teliti lagi, dan kini selain dikenal piawai mengolah masakan Eropa, ia juga mahir menyiapkan berbagai menu khas Indonesia.

Pada awal karirnya, ia harus menyiapkan 60 menu Nusantara dalam waktu 2 minggu. Pantas saja ia khatam benar menilai taste masakan Indonesia milik para kontestan masterchef. Menurutnya, tamu-tamu mancanegara sekarang banyak yang suka makanan Indonesia, tidak sekadar nasi goreng atau mie goreng.

Pria yang telah memiliki dua anak ini sempat mondar menjadi chef di beberapa resort hotel dan sempat bekerja di Mallorca dan Los Angeles. Terakhir, ia berkarya sebagai chef eksekutif di hotel bertaraf internasional Four Season. Di Four Season yang memiliki 73 hotel di 22 negara itu, ia masih bermimpi untuk berkeliling di luar negeri. Menu yang paling spektakuler dari chef Vindex adalah sebuah burger dengan harga 1 juta rupiah per pieces-nya.

* * *

“Food is art. Food is perfection. Food is passion, and passion never seeks permission. So, live life to the fullest” begitu motto dari satu-satunya juri wanita di masterchef, chef Marinka. Dengan pakaiannya yang modis dan cenderung sopan, chef Marinka tampil sebagai salah satu daya tarik di masterchef. Maria Irene Susanto lahir di Jakarta, 22 Maret 1980. Sejak kecil, ia hobi memperhatikan ibunya memasak di dapur sehingga muncul ketertarikan mendalam di dunia masak-memasak ini.

Chef Marinka menghabiskan banyak waktu bersekolah desain di Sydney, termasuk juga berkarir memasak disana. Selama 8 tahun ia berada di Australia dan terbiasa melakukan segala hal sendiri. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan menjadi pembawa acara Sendok Garpu di JakTV, kemudian di Cooking in Paradise Trans7. Ia sempat berwirausaha dengan membuka cafe “Warung Telur Ceplok” pada tahun 2005. Ia juga merupakan pengajar di Pantry Magic Cooking School Kemang. Chef cantik ini juga sudah menelurkan buku “Fantastic Cooking” pada Maret 2011 yang berisi 30 resep hidangan kreasinya.

Dengan memasak, wanita berkulit putih ini bisa lebih menikmati hidup. Apalagi, kalau dirinya menemukan inovasi dan formula baru dalam membuat aneka masakan yang digemari banyak orang.

sumber: tabloidbintang.com, rinrinmarinka.com, cnngo.com

Tempat Terakhir (by Padi)

//

meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
lama sudah kau menemani langkah kaki di sepanjang perjalanan hidup penuh cerita
kau adalah bagian hidupku dan akupun menjadi bagian dalam hidupmu yang tak terpisah

kau bagaikan angin di bawah sayapku
sendiri aku tak bisa seimbang, apa jadinya bila kau tak di sisi

meskipun aku di surga mungkin aku tak bahagia
bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu
aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian

bila nanti aku kehilangan, mungkin itu hanya sesaat
karena ku yakin kita kan bertemu lagi

tanpamu tak akan sama

* * *

Yang bilang lagu ini menghujat keimanan, aneh.

Klo mau paralel, istilah surga yang lain silahkan dipermasalahkan dulu, misal “Bintang di Surga” apalagi “Surga Dunia”.

Tp daripada memprotes lagu ini, mending kita cari si Udin sama-sama saja. Masih banyak kerjaan lain daripada protes soal surga. 🙂

 

500

Hari ini, penghitung sederhana wordpress menyebut bahwa blog ini sudah 500 kali dilihat.

Well, itu angka yang kecil kalau untuk iklan, tapi tetap milestone yang bagus untuk menuju stone-stone lain yang lebih besar. Toh, waktu awal saya mencoba bangkit dengan blog ini, saya tidak mengharapkan sedemikian banyak. Blog ini betul-betul hanya sarana untuk bangun dari tidur panjang. Dan cukup berhasil, 42 posting dengan 500 view. Artinya 1 post dilihat sekitar 11 orang. Refer ke visi misi blog ini, itu sudah angka yang sangat besar.

Terima kasih kepada yang sudah menyempatkan diri melihat blog ini. Seperti tag-nya, it’s just a script..

Semangat!!!

8 Prinsip PPIC Untuk Kehidupan

Judul yang aneh ya? Hehehe..

Tapi ini serius. Saya 2 tahun berada di bidang ini. Jadi sedikit sharing saja beberapa faedah dan nilai-nilai yang cukup berguna untuk kehidupan. Sebenarnya sih, di bidang apapun anda berada, Quality, Production, Marketing, Maintenance, dll, pasti ada value-nya. Tinggal dituangkan dalam kata-kata saja. 🙂

Pertama: Segala Sesuatu Itu Harus Direncanakan

Hari ini mau ngapain? Besok mau ngapain? Tahun depan mau ngapain? Satu hal yang pasti, dalam manufacture hampir tidak mungkin kita memutuskan apa yang akan kita kerjakan hari ini pada hari itu juga. Kalau memang begitu, berarti PPICnya sudah gagal. PPIC tugasnya menyiapkan rencana produksi dalam rentang waktu yang ditetapkan. Schedule itu yang menjadi titik tolak semuanya, pemesanan barang, persiapan mesin, sampai ke kebutuhan personel. Kalau nggak ada rencana, darimana hal-hal diatas bisa diperoleh?

Sama dengan kehidupan tentunya. Mau jadi apa kita 1 tahun, 5 tahun, atau 20 tahun ke depan sudah harus ada gambarannya. Dari situlah kita akan berangkat mau melengkapi apa saja untuk bisa mewujudkan planning yang sudah kita buat. Bukan begitu?

Kedua: Segala Rencana Ada Dasarnya

Mau bertipe Make To Order atau Make To Stock, setiap planning yang dibuat selalu atas dasar order. Kalau MTS maka dasarnya forecast, kalau MTO dasarnya adalah order. Tidak mungkin kita membuat sesuatu tanpa tujuan, kecuali orang manufakturnya orang gila. Memang ada yang namanya trial dan sejenisnya, tapi itu kan juga ada tujuannya. Trial dilakukan untuk pemastian proses ke depan, itu adalah tujuan, dan sifatnya jangka panjang. So, setiap rencana pasti atas sesuatu yang harus dipenuhi.

Soal kehidupan, ya sama. Kita punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita punya cita-cita utama. Sebutlah itu misalnya, sukses. Dalam upaya mencapai kesuksesan itu, kita akan merencanakan hal-hal yang dibutuhkan untuk pemenuhannya. Entah itu bekerja keras, belajar, atau apapun itu. Sangat baik apabila kita melakukan sesuatu atas dasar, bukan karena hidup yang mengalir.

Ketiga: Selalu Ada Waktu Tunggu

Budaya instant sudah merebak, kata orang jawa, sak dek sak nyet. Minta sekarang, mau ada sekarang. Even kita minta tempe goreng, kalau si tukang tempe baru buka, ia bahkan perlu waktu untuk menyiapkannya. Sama dengan PPIC. Ketika ada planning, untuk menyiapkannya, ada lead time, baik itu bahan baku ataupun produksi. Boleh menyebut lead time itu dalam satuan menit, jam, hari atau bulan. Tapi tetaplah itu waktu tunggu.

Sama halnya dengan hidup kita, kalau mau sesuatu, kita juga perlu waktu dan usaha. Mau ke warung, setidaknya kita harus take time untuk berjalan kaki. Bahkan delivery pun, kita akan merelakan waktu untuk menelpon. Untuk hal yang lebih besar, cita-cita misalnya, kita tidak akan jadi pilot dengan seketika. Ada waktu, ada proses, demikianlah adanya.

Keempat: Ketaatan Pada Setiap Detail Transaksi Berpengaruh Besar Pada Kesuksesan

Sepele kalau ini. Berapa stok kita secara fisik, berapa di data kita. Itu saja deh. Kalau beda, dan apalagi beda signifikan, hasilnya adalah salah keputusan. Salah keputusan bisa berimbas banyak. Marketing ada opportunity loss atau potensial write off atau banyak yang lain. Bagaimana cara mengatasinya? Detail yang diperhatikan. Setiap pergerakan selalu dicatat dan jangan disepelekan. Itu saja.

Ini juga simpel sekali penerapannya dalam kehidupan. Ada di post lain blog ini yang membahas itu, judulnya Detail Kecil Yang Terlupakan. Silahkan dibaca disitu. Hehehe…

Kelima: Kelengkapan Sumber Kesempurnaan

Proses produksi akan berjalan dengan sempurna apabila seluruh komponen dari Bill Of Material terpenuhi lengkap. Kurang salah satu saja, maka potensi proses terganggu sangat besar. Itulah mengapa BOM yang disediakan lengkap akan menghasilkan kesempurnaan persiapan proses produksi. Imbasnya semua berjalan sesuai timeline.

Sama halnya dengan kehidupan. Kita mau ujian, tapi tidak memperlengkapi diri dengan hal-hal yang diperlukan saat ujian, pensil misalnya. Ya bubar. Itu pasti.

Keenam: Hidup Adalah Ketidakpastian

Berangkat dari forecast, planning produksi dirancang. Ketika forecast tidak terpenuhi, bergeserlah semuanya. Salahkah kita? Ya tidak, dari namanya saja sudah forecast, perkiraan, salah itu nama tengahnya. Jadi yang penting adalah selalu aware atas ketidakpastian ini.

Apalagi dalam kehidupan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok? Tidak semua orang pastinya. Itulah pasal ketidakpastian, karena satu hal yang pasti di dunia adalah ketidakpastian itu sendiri. 🙂

Ketujuh: Tidak Mungkin Memuaskan Semua Pihak

PPIC berada di tengah-tengah, semuanya dapat. So, dalam pelayanannya, pasti bertemu banyak pihak, dan pasti tidak dapat memuaskan semua pihak. Spiritnya cuma 1: sesuai arahan atasan/perusahaan. Jadi kalau ada pihak yang mungkin merasa dikalahkan, dikorbankan, itu ya perasaan saja.. hehe.. Toh, intinya orang bekerja kan demi kepentingan perusahaan. Kalau nggak gitu, ya nggak digaji dong?

Di kehidupan apalagi. Ngimpi kita memuaskan setiap orang yang kita temui. Pasti ada kalanya ada pihak yang harus dinomorduakan, karena ada yang prioritas. Itu keniscayaan.

Kedelapan: Proses Yang Baik Adalah Hasilnya

Orang produksi, hasil: produk. Peneliti, hasil: laporan riset. PPIC, hasil? Nggak jelas memang. Hehehe.. Tapi sebenarnya, hasil yang diharapkan adalah terjadinya proses yang baik. Ketika seluruh proses sesuai timeline, sesuai planning, dan tepat sasaran, disitulah kesuksesan. Ada simpangan, itulah kegagalannya. Abstrak, tapi ya terasa sekali.

Soal kehidupan? Kadang kita hidup untuk tujuan tertentu, mungkin itu berupa benda berwujud. Tapi kita pasti juga berinteraksi dan tujuan kita adalah kebaikan bersama. Kecuali orang sinting, tidak ada yang berinteraksi dan bersosialisasi untuk keburukan. So, goal-nya adalah kebaikan bersama itu tadi. Agak sulit dicerna kalau yang ini. Hehehehe..

Itu sedikit renungan saja. Sekali lagi, bukan bermaksud mendewakan profesi saya sekarang. Toh, saya juga masih sering salah, error. Tapi dari kesalahan kita belajar soal kehidupan dan tentunya kesempurnaan. Bukan begitu?

Menjadi Lebih Baik

Perjalanan Cikarang-Bogor-Cikarang sambil terkantuk-kantuk (thanks a lot for Pak Asep hehehe..), membuat saya melakoni kegiatan rutin saat perjalanan: melamun. Dan keping-keping peristiwa terbaru mengarahkan saya pada suatu memori permainan WE/PES di Play Station.

Tulisan ini tidak bermaksud membuat makna bahwa main WE/PES di PS itu baik sempurna, tidak sama sekali. Saya hanya ingin berbagi memori bagaimana kita sejatinya bisa menjadi lebih baik.

Alkisah, pada tahun 2009, dua orang rekan bergabung di permainan bola di PS yang di-liga-kan setiap periode tertentu. Dalam upaya tidak bikin malu, saya dan dua rekan itu rutin berlatih setiap Jumat malam, Sabtu, dan kalau perlu Minggu, tentunya di rental PS sesudah bekerja. Dengan anggapan akan dipakainya permainan PES, kami berlatih PES sepanjang waktu2 itu.

Saat permainan, muncullah WE sebagai basis liga. Persiapan kami hancur, dan kami menjadi 3 terbawah, pun juga jadi lumbung gol.

Beberapa liga kemudian, salah satu dari rekan tersebut hadir kembali di liga, tanpa latihan sama sekali karena tidak sempat, namun hasilnya: JUARA 1.

Well, apa intinya?

Banyak kisah from zero to hero di dunia ini, dalam lingkup yang dipersempit, mungkin kisah tadi bermakna sama. Kita dulu mungkin bukan apa-apa, tetapi dengan terus mendapat inputan, dengan terus berproses, dengan terus berupaya melakukan update diri, pasti ada perubahan.

Oke, rekan tadi memang tidak latihan sama sekali sebelum juara, tapi jauh sebelumnya, ia sudah bermain berkali-kali sampai pagi. Bahkan pernah dalam suatu liga, ia baru tidur subuh karena latihan, dan hasilnya gagal total. Disitu poinnya, setiap kegagalan selalu ada selanya. Ketika gagal di even pertama, jelas perbedaan basis game jadi soal. Solusinya, sesuaikan latihan dengan game yang dipakai pada pertandingan. Ketika kalah banyak, amati terus permainan lawan pada liga-liga berikutnya, dan pasti kita akan menemukan sesuatu. Demikian terus, setiap kesalahan-kesalahan mengumpan misalnya, akan hilang dengan rutin melakukan koreksi.

Tujuannya sederhana, menjadi lebih baik.

Sebenarnya, dalam beberapa hal pasti sudah saya dan kita lakukan. Pun ketika saya berubah dari 3 terbawah dan perlahan ke 3 teratas, bersama rekan tadi. Itu butuh proses, butuh usaha, dan butuh banyak hal yang saya sebutkan di atas. Ketika kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka disitulah keberhasilan kita dalam melakukan koreksi.

Tinggal sekarang, gimana ya caranya menerapkan pada hidup sehari-hari, karena hampir selalu saya sendiri, sering terjebak (seperti kata Badai) di Kesalahan Yang Sama?

Apa jawabnya?  Itulah gunanya kita diberi otak untuk berpikir.

Selamat pagi sobat. Semangat!!! 🙂

Sekilas Tentang Bukittinggi (Versi Saya)

Saya yakin sehakulyakinnya kalau sudah banyak ulasan mengenai Bukittinggi. Kalau nggak percaya ya silahkan tanyakan ke Mbah Google atau Om Wikipedia. Tapi sebuah status di FB dari seorang ibu yang dulu pernah tinggal di Bukittinggi dan menyatakan keinginannya melihat Bukittinggi setelah sekian puluh tahun, membuat saya merasa perlu dan ingin berbagi dan bercerita tentang Bukittinggi dalam versi saya. Sejujurnya saya nggak lama-lama amat disana, hanya 14,5 tahun. Itu juga harus dipotong masa-masa saya jadi orok dan belum mengerti dunia. Hahaha..

Sesuai namanya, Bukittinggi, kota indah ini berada di deretan Bukit Barisan, suatu perbukitan yang bisa dikatakan membelah pulau Sumatera. Secara teoritis dikelilingi oleh tiga gunung yakni Merapi (versi lain menyebutnya Marapi), Singgalang, dan satu gunung lagi yang saya kurang tahu pastinya apa, karena ada yang bilang Sago, ada yang bilang Tandikat. Yah pokoknya tiga. Kota ini bisa dibilang kecil, kalau hanya mau mengelilingi kotanya saja, paling banter menghabiskan waktu 15 menit. Itu sudah keliling kota, tentunya dengan kendaraan bermotor. Ya memang kecil, tapi joss.. Akses ke kota ini sebenarnya banyak, namun pada umumnya adalah lewat Padang, karena via udara. Atau kalau via angkutan darat, biasanya memang ambil rute dari Padang Panjang. Dan itu berarti masih pakai jalan Padang juga. Jalan lain sih banyak. Cuma ya tetap harus mendaki. Hahaha…

Pusat kegiatan disini ada di sekitar jam gadang. Disekitar jam gadang ada yang namanya Pasar Atas. Disini tempatnya kalau mau beli sepatu, baju, dan benda-benda yang bisa dikategorikan agak bersihan. Mengapa begitu? Nanti kita lihat lanjutannya. Di sekitar jam gadang juga adalah Plaza, mirip mall, tapi mungil nan mini. Jangan dibandingkan dengan mal-mal di Jakarta yang bikin pusing saking gedenya. Ada juga balai sidang Bung Hatta, yang kalau nggak salah adalah tempat emak saya wisuda (saya nggak ikut.. huhuhuhu…) Dari pasar atas, kita dapat menuju tempat lain bernama pasar bawah. Nah, diantara pasar bawah dan pasar atas ini ada namanya pasar lereng. Hayooo… Ya ibarat gunung lah, dari bagian atas ke bawah mau turun pasti via lereng. Ya begitu kira-kira. Nah kalau yang dijual di Pasar Atas adalah barang yang agak bersihan, maka yang di pasar bawah adanya ikan asin, tomat, beras, dan sejenisnya. Jangan khawatir soal harga, bisa ditawar. Nah, kalau yang atas agak bersihan, dan yang bawah agak kurang bersihan, maka di pasar lereng ada perifer-nya. Mau cari kaset bajakan, emas bajakan, alat-alat plastik murah, majalah bekas, poster, buku tulis, beha, celana dalam, boleh cari disana. Oya, dari pasar atas ke pasar bawah juga bisa via Jenjang Gudang, nanti keluar di dekat penjara lama. Lalu kalau dari pertengahan pasar lereng bisa turun di Jenjang Lereng. Curamnya minta ampun, dan anak tangganya kecil-kecil, so be carefully. Di ujung dari pasar lereng juga ada jenjang yang lebih elit, tapi saya lupa namanya, maaf.. hehehe..

Itu rute saya pulang sekolah. Dari sekolah saya di belakang Gereja Katolik. Jalan kaki ke jam gadang, pasar atas, pasar lereng, turun jenjang gudang, maen PS dulu, lalu beli paregede (pergedel) di bawah jenjang gudang, jalan lagi ke arah pasar bawah dimana ada petak Ikabe disana. Ikabe adalah angkutan umum disana, selain Mersi. Catat ya, namanya Mersi, alias Merapi Singgalang. Tapi ketika disebut lumayan elit to.. hahaha…

Oke, itu tadi sekelumit soal salah satu tempat di Bukittinggi.

Soal jenjang, memang jadi keniscayaan berada di perbukitan, akan ada banyak turun naiknya. Selain jenjang-jenjang diatas, ada jenjang lain di beberapa tempat. Tapi saya punya concern khusus pada tempat bernama jenjang seribu. Saya bisa yakinikan bahwa saya tobat naik jenjang ini. Hohoho.. Jenjang ini ada di salah satu sisi dari Ngarai Sianok yang tersohor itu. Saya juga bisa pastikan bahwa jumlahnya bukan seribu, sepertinya sih lebih, karena tinggi dari ngarai sianok itu puluhan meter. Dan bagaimana caranya kita bisa mendaki dari dasar ngarai ke atas. Capek? Banget euy.. Tapi kalau mau, boleh dicoba. Kalau mau mencapai jenjang ini dari bawah, butuh perjuangan juga sih menyusuri ngarai. Soalnya dari tempat turun Ikabe Ngarai, belum keliatan. Tapi kalau sudah jalan dikit, kelihatan kok. Silahkan dicari, saya tobat.. Hahaha..Ngarai Sianok ini, menurut salah satu sumber yang saya baca dan percaya, adalah satu dari dua ngarai di dunia selain Grand Canyon. Itu dia, entah sumber apa itu, yang membuat saya keukeuh, tidak ada ngarai lain di dunia selain yang dua itu. Hmmmm..

Apalagi ya? Ohya, kalau hotel janganlah dikau khawatir, ada banyak hotel di Bukittinggi yang mahal sampai yang murah. Losmen juga banyak. Nggak usah ragu soal ini.

Pusat perturisan di Bukittinggi ada di Kampung Cina. Saya bukan mau rasis ya, tapi emang namanya itu je. Memang kampung ini dihuni oleh etnis Tionghoa, dan rata-rata sukses, Hehe… Tempatnya dekat dengan jam gadang juga kok. Jalan dikit ke arah bioskop Sovia atau Hotel The Hills, lalu ikuti jalan turunan sampai mentok, sampai deh. Disitu banyak bule, itu identitasnya. Dan banyak café juga. Saya agak sayang, ada café nuansa Bali. Heh? Ngapain disini? Biarkan tiap daerah punya eksistensi sendiri-sendiri.

Untuk tempat hiburan, ada Niagara Plaza di lantai atas pasar atas (nah looo… atas banget kan?). Cuma nggak terlalu nyaman, menuju kesananya, pun parkirnya. Beuhhh.. Yang pasti kalau mau lihat istimewanya Bukittinggi ya ke Panorama dan Lubang Jepang. Itu hanya ada di Bukittinggi wis.. Yakin.. Tapi tetap perhatikan safety, karena kalau jatuh, ya mati. Beneran dah. Tinggi amat coy. Terus kalau main ke Lubang Jepang, jangan lama-lama. Hehehe.. Oksigen disana rebutan, apalagi kalau rame. Jadi begitu naik dan keluar lagi, serasa hidup kembali. Nggak percaya? Coba, dan datanglah ke Bukittinggi. Ada beberapa tempat lagi yang perlu dikunjungi, benteng Fort De Kock, jempatan Limpapeh, kebun binatang Kinantan (kebun binatang yang letaknya diatas, bayangkan distribusi kotoran hewaninya.. hahaha..), pacuan kuda, museum-museum, rumah Bung Hatta, dan lain-lain.

Ingin berkunjung pasti kan? Hahahaha.. Itulah, Bukittinggi, mantappp…

Catatan penulis: semua istilah telah di-Indonesia-kan. Jadi untuk Janjang, tetap saya tulis sebagai Jenjang. Okay.. hehe..

Kisah Pria Tua, Kersen, dan Hujan

Pria tua itu selalu duduk di bawah pohon kersen kala lewat. Pria tua dengan segala kisah hidupnya. Pria tua yang merasa nyaman dengan bisa beristirahat di bawah pohon kersen. Pria tua yang selalu mengutuk kehadiran hujan. Baginya hujan itu mengganggu istirahatnya.

Atau mungkin, mengganggu kebersamaannya dengan pohon kersen.

Pria tua ini tidak pernah melewatkan waktu istirahatnya tanpa pohon kersen. Ia duduk dibawah pohon itu, mengagumi pohon kersen itu, di dalam hati. Pun ia pula yang merasa bunga gladiol tidak cocok ada disitu. Apalagi kumbang dan kupu-kupu. Itu mengganggu.

Parkit? Ah, biarlah ia diatas sana.

Telah berkali purnama lewat, pria tua memandang pohon kersen dalam keadaan yang nyaris tanpa asa. Ada apa?

Pria tua tidak dapat berbahasa layaknya pohon kersen kepada hujan, hujan kepada awan, awan kepada parkit, atau parkit kepada bunga gladiol. Ia hanya dapat berbahasa sendiri. Ia, pria tua, yang sendirian, pria tua dengan kesakitannya, dengan asa yang tersisa, merasa bahwa pohon kersen itu terlalu indah untuk berdiri tanpa asa seperti sekarang.

Ia masih bisa lebih dekat dan lebih indah.

Semakin banyak purnama lewat, semakin perih ia melihat keadaan pohon kersen. Semakin layu, semakin galau, dan tentunya tanpa asa.

“besok, akan kuselamatkan kamu. Kamu itu berharga, daripada kamu hanya menunggu hujan yang tidak kunjung tiba. Toh, hujan itu mengganggu. Besok kamu akan menjadi keindahan di dalam rumahku”

Petang menjelang, hujan yang sudah berkali purnama tiada tiba itu, muncul juga akhirnya. Pria tua hanya tersenyum kala hujan tiba. Toh, hujan tidak akan menghalanginya untuk semakin dekat dengan pohon kersen. Ia semakin tekun mengasah kapaknya.

Tiba saatnya, kita berdekatan, dan saling menyelamatkan.

Pagi tiba, pria tua menatap pohon kersen yang sejatinya dalam keadaan lebih baik. Mungkin karena telah bertemu hujan. Ia memandang pohon itu berdiri untuk terakhir kalinya.

“Kita akan bersama segera”

Dengan tekun, ia menebang pohon itu. Ini bukan untuk menyakiti. Ini untuk maksud lain yang lebih baik, lebih indah.

Karena ia yakin pohon kersen pun tidak kesakitan

Petang menjelang, ketika ia membawa pohon itu dengan susah payah ke rumahnya. Ia tidak sabar, ia tidak dapat menunggu esok hari. Maka dengan segera, melewati malam, menjelang pagi, menyelesaikan apa yang ia impikan akan pohon kersen.

Dan ketika matahari terbit, pria tua menyelesaikan suatu meja cantik, dari pohon kersen. Pohon itu kini tidak merana, ia dalam keadaan yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih dekat. Itu yang penting.

Ia letakkan meja itu dekat jendela, agar ia bisa menikmati hujan dengan berpangku tangan pada meja kersen ini. Baginya itu suatu kepuasan. Ia bersama kersen, tanpa diganggu rinai hujan.

Mereka aman dibawah atap dan dibalik tembok.

Pria tua itu kini tiada lagi putus asa. Ia merasa lebih hidup. Jauh lebih hidup dari sebelumnya. Bersama meja itu ia melakukan banyak hal. Ia banyak menelurkan karya. Entah untuk dirinya, maupun untuk orang lain.

Ada baiknya ketika semua bisa bahagia.

Pria tua sesekali juga memandang parkit yang datang di sudut jendela. Ia hanya tersenyum, parkit pasti merindukan kersen. Tapi kersen sekarang dalam keadaan yang jauh lebih baik, bersamanya.

Indahnya kehidupan, ketika kehilangan menjadi jalan untuk menemukan.

* * *

terinspirasi dari:

http://dancingintherain-tere.blogspot.com

http://cicilia-menulis.blogspot.com

http://bailaconmigo-jola.blogspot.com

Bukittinggi: Kota Pendidikan?

Saya agak trenyuh membaca tulisan yang saya baca dari web pemerintah kota ini, maaf seribu maaf, tapi sebagai orang yang lahir dan menjelang besar dan dibesarkan oleh dunia pendidikan disana, saya merasa perlu urun komentar.

Profil dibawah asli diambil dari http://www.bukittinggikota.go.id/v2/index.php?class=text&file_id=108


Bidang Pendidikan

Bidang pendidikan ditetapkan menjadi potensi unggulan daerah Kota Bukittinggi, juga sejalan dengan fungsi dan kondisi alamiah Kota Bukittinggi dengan udaranya yang sejuk akan sangat mendukung bagi penyelenggaraan pendidikan, sebagaimana didunia ini Kota Pendidikan itu adalah kota yang berudara sejuk.

Oleh karena itu, sejak dari zaman Belanda, Kota Bukittinggi dan sekitarnya dijadikan sebagai tempat pendirian pusat-pusat pendidikan. Kita kenal dengan “ sekolah Raja “,Fakultas Kedokteran Pertama, Sekolah Mosvia, Kweek School, Mulo, Sekolah Tata Praja (APDN), HIS dan Ambach shcool. Dan pada Zaman awal kemerdekaan berdiri sekolah Polwan dan kadet serta Pamong Paraja yang pertama di Indonesia, bahkan Universitas Andalas yang saat ini berada di Padang, sebelumnya berada di Bukittinggi.

Dalam melestarikan bukti sejarah pendidikan tersebut, pemerintah kota Bukittinggi telah membangun Monumen Kadet dan Tugu Polwan serta melestarikan bangunan Pamong Paraja.

Peningkatan pelayanan pendidikan dijadikan sebagai salah satu agenda pembangunan ini tidak hanya pada pendidikan dasra dan menengah, tetapi juga pada pengembangan pendidikan tinggi yang berbasis aqidah. Melalui peletakan prioritas pembangunan pada peningkatan kualitas pendidikan diharapkan kualitas sumber daya manusia secara bertahap akan dapat ditingkatkan dan pondasi pendidikan bertaraf internasional dapat diwujudkan.

Bukittinggi sebagai Kota Pendidikan telah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai karena saat ini telah tersedia 34 Taman Kanak-kanak, 59 Sekolah Dasar, 10 SLTP, 15 SMU, 13 SMK dan 18 Perguruan Tinggi. Jangkauan pelayanan pendidikan tidak hanya untuk putra daerah Kota Bukittinggi saja, akan tetapi meliputi Wilayah Sumatera Barat bagian Utara, sebagian Riau, Sumatera Utara dan Jambi. Demikian juga tenaga guru/ dosen telah memadai sehingga prestasi akademik pelajar kota ini sangat membanggakan.

Dengan kondisi demikian maka ke depan orientasi pendidikan harus diupayakan bagaiman menciptakan kualitas akademik yang tinggi dibarengi dengan kualitas agama yang sempurna. Hal ini harus kita antisipasi karena dampak globalisasi akan menyebabkan pengaruh negatifnya merasuk ke rumah tangga. Untuk itu kedepan akan dikembangkan Pembangunan SDM berbasis Aqidah, maka pola pendidikan yang berbasis agama sudah dimulai sejak dini (dari kandungan)


Saya terpaksa comment:
1) tidakkah aneh angka 34 Taman Kanak-kanak, 59 Sekolah Dasar, 10 SLTP, 15 SMU, 13 SMK dan 18 Perguruan Tinggi?
Yup, 59 SD berbanding 10 SLTP. Apakah siswa-siswa dari 59 SD itu akan masuk di 10 SLTP yang dimaksud? Mungkin tidak juga. Mungkin anak-anaknya lari ke Padang? Bisa jadi.
2) Ini poin utama saya, dan ini adalah hasil pengamatan saya sejak lama, sejak saya meninggalkan kota kelahiran saya dengan alasan pendidikan.
Bukittinggi itu sangat sangat sangat potensial dari sisi SDM. Nggak percaya? Pada kenal Bung Hatta, Syahril Sabirin, dan tokoh2 lain yang besar di Bukittinggi? Itu potensi besar, buessarrr sekali.
Tapi yang terjadi, dan saya amati betul dari teman-teman saya yang notabene asli sana. Kecenderungan merantau itu pasti, khas Minang. Selalu ada dorongan untuk merantau.
Mengapa merantau? Untuk mencari kesempatan mendapatkan yang lebih baik. Well, lets talk about the name of university. Ada yang tahu nama universitas disana? Saya tahu, karena saya menjelang besar disana.
Lantas kemana bibit2 unggul disana mencari ilmu? Nggak mungkin di kampung sendiri, dengan kualitas yang maaf, masih kalah dengan kualitas anak-anak Bukittinggi. Sekali lagi maaf, tapi ini faktanya.
Itulah yang menyebabkan anak-anak pintar dari Bukittinggi kemudian lari mencari pendidikan ke Padang, Medan, Jakarta, Bandung, sampai Jogja. Dan mereka tidak masuk di Universitas sembarangan, ITB, UI, UGM, UNPAD, STAN, USD (itu saya hahaha..) ada semua.
Dan kecenderungannya, tentu, sudah kadung merantau ke Jakarta-Bandung-Jogja, maka akan mencari penghidupan di tempat yang dekat-dekat situ. Intinya: jarang yang kembali. Dan jadilah tunas-tunas itu mekar di tempat lain.
Maaf, maaf, dan maaf. Tapi ini kenyataan, yang sepenuhnya saya lihat di lapangan.
Lantas?

Aku Tak Mau Kehilangan

Aku Tak Mau Kehilangan

Aku dapat tetap terjaga hanya untuk mendengarmu bernafas
Melihatmu tersenyum saat sedang terlelap
Sementara kamu jauh bermimpi
Aku bisa menghabiskan hidup dalam penyerahan diri yang manis ini
Aku bisa tetap tersesat pada saat ini selamanya
Dimana setiap saat dihabiskan dengan Anda adalah harta yang kucari

Aku tidak ingin menutup mata, aku tidak ingin jatuh terlelap
karena aku akan merindukanmu sayang dan aku tak mau kehilangan
Karena bahkan ketika aku bermimpi indah tentangmu adalah hal yang tidak pernah terjadi
Aku masih akan merindukanmu sayang dan saya tidak mau kehilangan

Berbaring dekatmu, merasakan merasa detak jantungmu
Dan aku bertanya-tanya apa yang kamu impikan
Bertanya-tanya apakah aku yang kamu lihat
Lalu aku mencium matamu dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa kita bersama-sama
Aku hanya ingin tinggal bersama kamu di saat ini selamanya, selama-lamanya

Aku tidak ingin ketinggalan satu senyuman, aku tidak mau ketinggalan satu kecupan
Aku hanya ingin bersama kamu, di sini denganmu, seperti ini
Aku hanya ingin menahan kamu dekat, merasa hatimu begitu dekat denganku
Dan hanya tetap sini pada saat ini untuk semua sisa waktu
Aku masih akan merindukanmu sayang dan aku tak mau kehilangan

* * *

Hayo, lagu opo iki? Hehehe…