Membaca berulang-ulang posting tentang Kelas Inspirasi (takut dituntut kayak yang lagi heboh sekarang, padahal ya nggak ngapa-ngapain), malah membuat saya ingat kalau hari Minggu kemarin baru saja melakoni perjalanan absurd ke sebuah tempat bernama Muara Gembong.
Tahu Muara Gembong dimana?
Ah, kalau ingat kisah ikan paus terdampar di Karawang, yang lalu bisa bebas tapi kemudian mati, nah kematian paus itu ada di perairan Muara Gembong ini. Singkatnya Kabupaten Bekasi bagian Utara. Saya juga sempat heran, memangnya Bekasi punya pantai? Ternyata ada, dan di peta ya memang ada. Sebuah tempat yang basah dalam arti fisik (mepet kali Citarum–kalo nggak salah), tapi jelas sangat tidak basah bagi Kabupaten, apalagi dibandingkan KAWASAN INDUSTRI yang BANYAK DUITNYA ITU LOH BRO!
Sekilas soal jauhnya Muara Gembong bisa saksikan peta berikut, sepintas malah lebih dekat sama Tanjung Priok tapi lewat laut.
Sumber: Google Maps
Jalurnya sih ambil Pantura Bekasi, sampai Pilar ambil jalan ke utara, lalu ya terus saja sampai jauh akhirnya ke laut. Dan dari daerah Cabangbungin, jangan harap nemu jalan yang OKE. Yang ada jalanan yang bolong-bolong plus persis di sebelah tanggul yang tingginya lebih dari 2 kali tinggi mobil.
Saya bisa sampai ke Muara Gembong ini dalam rangka baksos gereja. Syukur juga saya diajak ke event ini. Selain bisa dapat kenalan baru, saya juga bisa dapat pengalaman baru. Lagipula, saya lumayan suka kegiatan macam ini karena saya bisa merefresh ilmu saya sebagai seorang Apoteker. Sekalian, buat latihan untuk Kelas Inspirasi. Maksud awalnya begitu.
Perjalanan dari Jababeka 2 memakan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam. Untung saya naik mobil yang dibawa sama orang yang rajin jelajah Pantura guna menuju Jogja, Klaten, Bantul dan sekitarnya. Jadi, cukup yakinlah akan selamat sampai tujuan. Kalau naik OOM ALFA? Ucapkan selamat tinggal! Sejak masuk Pilar, jalanannya memang hanya kecil. Jadi ya begitulah keadaannya. Ketika sampai, saya dan tim pelayanan lain kudu menyeberangi sebuah jembatan kayu. Mobil ditinggal di kantor kelurahan (kalau nggak salah). Dari jembatan, kudu jalan lagi beberapa ratus meter sebelum kemudian sampai di sebuah sekolah tempat bakti sosial diselenggarakan.
Poin utama dari baksos kali ini adalah JUMLAH PASIENNYA. Seumur-umur saya ikut baksos, ya baru kali ini dapat pasien lebih dari 500. Kalau nggak salah sampai 560-an. Kaki sudah sampai ngesot-ngesot, ya nggak kelar-kelar juga. Iya, 500-an pasien itu beneran rekor baru dalam hal saya ikutan baksos. Tidak di gempa Jogja, tidak di tempat lainnya. Sungguh saya ingin melambaikan tangan ke kamera hendak menyerah sebelum saya sadar ini baksos, bukan acara televisi soal hantu-hantuan.
Satu hal sih. Saya suka dengan baksosnya gereja karena stok obatnya lengkap dan tidak sekadarnya. Yeah, kan ada baksos yang alakadar. Yang formulariumnya bahkan tidak diupdate, yang stok obatnya adalah barang-barang mendekati ED, yang poly-nya sudah remuk redam sehingga kalau mau kasih ke pasien kudu dibongkar dulu lalu dimasukin plastic clip biar keliatan tetap oke. Baksos yang begitu sih buat saya nggak niat, dan percayalah itu terjadi di CSR sebuah perusahaan farmasi. Baksos niat ya kalau sampai bawa obat yang jumlahnya alamakjang begini. Untuk pasien yang jumlahnya amalakjang juga.
Sudah begini, punya tempat permanen untuk beribadah saja nggak boleh. #TANYAKENAPA
Dari daerah pantai yang kemudian sangat dekat dengan aliran sungai ini, saya belajar tentang hidup. Saya belajar bagaimana pelayanan sebenarnya tidak meminta pamrih. Saya juga belajar banyak, karena saya tahu 500 pasien itu sangat biasa di rumah sakit.
Akhirnya sampai juga di kawasan tempat pabrik-pabrik berdiri. Sampai juga di ladang pencarian penghidupan. Setelah melalui perjalanan absurd. Ya iyalah, wong mobil 121-nya memilih lewat Kalimalang alih-alih Pintu Tol Cikarang Barat. Apapun itu, yang patut disyukuri adalah saya sampai di kamar kos dengan selamat 🙂
Saat mengetik postingini, baju saja masih sama persis dengan yang saya kenakan seharian tadi. Mungkin dengan mengenakan baju yang sama, saya lebih bisa menggambarkan atmosfer gila seharian ini. *alasan malas ganti baju*
Pagi tadi, jam 6 lewat 10 saya landingdi SDN 03 Pagi Palmerah. Ya, hari ini adalah Hari Inspirasi di 58 sekolah di seantero Jakarta. Dan paralel juga berlangsung di beberapa kota lainnya. Saya sendiri tergabung di kelompok 2 bersama kepala suku Pak Muam, Mbak Ita, Dwita, Christian, Rifki, Salita, dan gitaris kondang Mas Jubing. Di kelompok ini juga ada 2 fotografer, Nanda dan Okka. Plus juga Ogie sang videografer. Syukurlah kelompok ini akhirnya lengkap, meskipun kalau mau janjian (kata Dwita) sudah kayak arrange meeting direksi :p
Dan jadwalnya sungguh ‘memihak’ saya. Kenapa? Nama saya ada di jadwal untuk 6 jam pertama. Dan karena di SD tersebut hanya ada 1 kelas per tingkat, itu berarti saya akan menghabiskan jatah masuk kelas di 6 kesempatan pertama. Enam kali 30 menit yang bikin saya nggak sanggup sarapan (atau bahkan minum sekalipun). Saya emang gitu, kalau nervous malah ogah makan atau minum. Ada kecenderungan untuk melakukan vomit 🙂
Baiklah, sekilas akan saya ceritakan tentang enam kali 30 menit yang luar biasa itu.
Kelas 5
Waktu observasi, saya sudah masuk kelas ini. Dan bapak wali kelasnya juga sudah memberitahukan ‘kelakuan’ kelas ini. Pada awalnya, saya mengira ini kelas paling ‘menguras tenaga’ jadi saya bersyukur masuk kelas ini duluan. Ehm, ini sih sekilas pengamatan waktu saya masuk satu-satu pas observasi.
Lalu apa yang terjadi?
Saya keringetan. Dan yang bikin agak malu adalah ketika dua orang anak cewek berdiri dan menyalakan kipas angin karena saya keringetan. Soal keluarnya cairan dari pori-pori ini juga nggak jauh-jauh dari nervous. Karena cairan yang sama juga keluar waktu saya pertama kali ngelatih koor. Hehehehe…
Di kelas ini saya mencoba pakai teori Whoosh yang diberikan pas pembekalan. Biar kayaknya demokratis, saya ajukan ke anak-anak itu, mau Whoosh tipe apa. Eh, mereka kompak memilih Whoosh Chibi-Chibi. Jadi modelnya adalah: Prok Prok Prok (tiga kali tepuk) Chibi Chibi Chibi (ala Chibi pokoknya) Whoosh (sambil menjulurkan tangan seolah memberi tenaga dalam). Dan ironisnya, ah, nanti saja ceritanya 🙂
Konten saya sederhana sekali. Saya hanya memperkenalkan nama saya, lalu pekerjaan saya sebagai apoteker. Saya juga hendak meluruskan pemikiran anak-anak tersebut tentang si pembuat obat. Yup, mayoritas bilang kalau yang buat obat itu dokter. *pelajaran banget buat para farmasis Indonesia untuk semakin memperlihatkan diri kan?* Oya, biar kelihatan pintar, saya coba menantang mereka untuk mengucap nama penyakit dan saya kasih tahu obatnya. Semoga tampak keren. Hahaha..
Karena mayoritas mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah, saya mencoba mengangkat dengan menceritakan kisah saya dulu yang bikin es buat dijual di kantin. Kalau dulu saya bikin es, sekarang saya bisa ikutan bikin obat. Kalau bikin obat, lalu orang sakit yang minum kemudian sembuh, senang nggak? Senang, kata mereka. Sungguh melegakan hati.
Overall, di kelas yang pertama ini saya nggak terlalu ‘dapat masalah’. Masalah terbesar saya ada pada ‘sulap tebak tanggal lahir’ yang saya bawakan sebagai BANG! Iya, jadi masalah karena semua anak minta ditebak tanggal lahirnya. -___-”
Kelas 1
Yak, even emak saya yang guru SD aja menghindari kelas ini ketika pembagian kelas di awal tahun. Saya mulai merasakan tantangan ada disini.
Apa demikian adanya?
BETUL SEKALI! Hahahahaha..
Awalnya biasa saja, nama, pekerjaan, deskripsi pekerjaan, sampai ke Chibi-Chibi Whoosh. Saya bahkan sudah tidak kemringet lagi. Sampai kemudian ketika saya mulai bercerita tentang 4 nilai dasar Kelas Inspirasi (Jujur, Kerja Keras, Pantang Menyerah, Kemandirian), di pojok kanan bagian belakang ada dua anak lelaki yang berantem dan salah duanya kemudian menundukkan kepala di meja. Satunya nangis beneran, satunya nangis pura-pura. Ealah, anak jaman sekarang sudah bisa bersandiwara rupanya. Waktu saya kemudian sedikit habis di urusan berantem ini, soalnya ketika yang di pojokan belum kelar. Eh, sudah nongol lagi prahara di sudut lain kelas ini.
Akhirnya saya tahu kenapa Mamak selalu menghindari kelas 1. 😀
Ya, pada akhirnya recap-nya sih lumayan. Setidaknya mereka mulai tahu apoteker itu adalah si pembuat obat. Mengingat, masalah yang sama juga terjadi di kelas ini. Itu tadi, bagi sebagian dari mereka, yang membuat obat itu adalah dokter.
Oya, mulai dari kelas ini, saya sadar bahwa ‘sulap tebak tanggal lahir’ saya benar-benar sulap pengundang prahara. Soalnya ketika ditanya, siapa yang mau ditebak tanggal lahirnya, semuanya ngacung. Ketika ditunjuk 1, yang lain berebut minta ditunjuk juga. Sambil teriak-teriak pula. Plus, Chibi-Chibi Whoosh saya menuai ‘bencana’. Ketika saya suruh kasih Whoosh, mereka sontak mengelilingi korban Whoosh dan mengobok-obok kepala korban Whoosh. Waduh, ampun Mak!
Kelas 3
Dulu waktu saya kelas 3 itu pas pinter-pinternya, sampai bisa rangking 1. Jadi, itu motivasi saya untuk cukup excited masuk ke kelas 3. Dan kelas ini ternyata cukup kooperatif–menurut saya.
Mungkin cuma di kelas ini kali ya, saya bisa cukup mulus menjalankan BOMBER-B yang diajarkan pas briefing. Masih dengan BANG yang sama, pertanyaan “Siapa yang pernah sakit?” lalu “Kalau sakit dikasih apa?” dan diakhiri dengan “Siapa sih yang bikin obat?”
Ehm, jawabannya masih sama. Dokter. Okelah, itu tugas tambahan saya di Kelas Inspirasi saya berarti. Sesuai sumpah yang saya ucapkan di depan mic tahun 2009 silam. Terutama di bagian “Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.”
Yah, bicara soal masalah di kelas ini, tidak lain dan tidak bukan (masih) disebabkan oleh sulap saya. Dan masih dengan sebab yang sama. Karena saya berhasil menebak dengan benar tanggal lahir mereka via 5 kartu. Seluruh kelas berebutan minta ditebak tanggal lahirnya. Yah, saya semakin berpikir ini ide buruk. Maka saya mencoba kasih trik lain. Mengingat mereka sudah bisa kali bagi tambah kurang, saya coba kasih permainan itu. Gile ya anak sekarang, dulu saya kelas 4 SD aja masih menghafalkan perkalian 1-9. Dan syukurlah permainan memilih angka berapapun dan kemudian dikali-tambah-bagi-kurang hingga menjadi angka 3 itu berhasil.
Saya sih coba bilang bahwa berapapun angka kalian, ujungnya 3 juga. Jadi, apapun cita-cita kalian, pasti nanti ujungnya BISA jadi nyata asalkan bla..bla..bla.. (sesuai 4 prinsip Kelas Inspirasi). Oya, disini ada yang kecil-kecil udah punya penyakit yang mengharuskan dia minum obat lima biji. Penyakit yang menurut saya belum layak dia terima, tapi secara medis memang sangat mungkin terjadi si setiap usia. Untunglah, dia tampak sebagai seorang anak yang kuat.
Rupanya, sedikit ‘kedamaian’ di kelas 3 ini adalah PENGANTAR bagi saya untuk memasuki kelas tersulit di jam berikutnya.
Kelas 2
Begitu masuk kelas ini, anak-anaknya sudah heboh mau istirahat. Dan bahkan ada yang ngumpet di dekat lemari ketika saya masuk kelas. Waduh, padahal kan masih 1 jam lagi? Jadilah, saya mengeluarkan kembali sulap saya yang bergelimang masalah itu. Dan, yah bisa ditebak. Hancur lebur dah! Hahahaha…
Ada yang duduk di meja, ada yang berdiri di kursi, dan ada tingkah antik lainnya di kelas ini. Belum lagi, ditunjang oleh ketua kelasnya yang KEREN ABIS karena sedari kecil sudah memperlihatkan diri kalau punya pengaruh. Saya selalu bertanya siapa ketua di setiap kelas dan saya simpulkan bahwa ketua kelas 2 ini yang paling cocok jadi presiden. 😀
Saya masih menggunakan lesson plan yang sama dengan kelas-kelas lainnya. Tapi sungguh saya semacam mendapat penolakan di kelas ini. Bahkan seorang anak yang badannya agak bongsor dengan beraninya mengacungkan jari tanda mengusir saya segera keluar dari kelas. Buset, anak jaman sekarang bro!
Nah, ketika saya coba angkat dengan Chibi-Chibi Whoosh itu, eh mereka malah memperlihatkan stok tepuk yang mereka punya. Dan sudah bisa ditebak kan, siapa provokatornya. Iya, si ketua kelas! Di balik stress yang saya alami di kelas ini, kepemimpinan anak yang satu ini sungguh mengundang decak kagum. Asli!
Ya pada akhirnya saya hanya bisa bilang kalau saya itu apoteker, yang bikin obat, bikinnya di pabrik. Ya, sekaligus untuk memperbaiki mindset yang mereka punya, selagi bisa.
Dan kalau saya agak merasa terusir tadi, rupanya itu hanya sekadar basa basi, karena, ehm, begitu saya hendak melangkah keluar dari kelas, sontak belasan anak berlari dan memeluk nggondelikaki saya. Ini memang sempat hendak diskenariokan untuk videografi. Tapi yang saya alami ini sungguh-sungguh sama sekali bukan rekayasa. Mereka benar-benar ndlosor di lantai dan memeluk kaki saya sampai bergerakpun tidak bisa. Apa pula maksudnya ini?
Ah, entahlah 😀
Kelas 6
Sebuah lompatan mendasar, dari 2 ke 6. Kelas ini juga dihindari sama Mamak kalau pembagian kelas, tapi saya sih berpikir itu semata soal malas kalau Ujian Akhir Nasional saja. Hehehe..
Lompatan mendasar itu ternyata beneran kerasa. Kalau di kelas lain heboh tiada terkira, di kelas paling tinggi ini malah saya MATI GAYA. Dikasih Chibi-Chibi Whoosh mereka malah memperlihatkan muka yang kira-kira bermakna “apaan sih”. Waduh!
Tapi ada baiknya juga sih. Di kelas yang anteng ini–karena sudah menjelang dewasa–saya malah bisa bercerita tentang cara penyimpanan obat yang baik. Juga bisa bercerita ringan tentang bagaimana mekanisme aksi obat, kok bisa sih obat yang diminum lewat mulut bisa mengobati sakit kepala, juga soal overdosis. Rupanya mereka sudah cukup mengerti.
Oh ya, di kelas ini saya kena batunya. Hehe..
Sulap penuh dilema itu akhirnya ke-gap sama salah seorang anak cewek yang duduk di bagian belakang. Dia dengan jeli mengamati kartu-kartu yang saya tunjukkan dan dengan jeli juga menemukan clue dari sulap icak-icak yang sebenarnya sekadar permainan matematika itu.
Secara konten, saya puas dengan yang saya sampaikan di kelas ini. Tapi melihat antengnya mereka, saya malah jadi kikuk sendiri. Dasar manusia, dikasih yang heboh stress, dikasih yang anteng eh stress juga. 🙂
Kelas 4
Sesudah rehat setengah jam gegara memang mereka istirahat, saya memasuki akhir dari petualangan hebat saya hari ini. Kelas 4, tingkatan yang sekarang jadi garapan Mamak di SD Fransiskus. Tingkatan yang kapan hari itu sempat saya bikin RPP untuk Bahasa Indonesia dan PKN-nya *balada anak guru kalau mudik*
Nah, kata teman-teman, kelas ini cukup bisa dikendalikan. Tapi nyatanya, saya malah kesulitan meng-handle kelas ini. Terbukti dari adanya (lagi) anak yang nangis di kelas ini. Huhuhu..
Secara konten masih sama, pun dengan kesalahan tafsir soal dokter dan apoteker. Ayo farmasis Indonesia, mari kita berbuat sesuatu, profesi kita benar-benar butuh diperkenalkan pada anak-anak seusia mereka.
Nah, untuk BANG, karena terakhir, saya pasang dua kali permainan matematika. Satunya tentu saja sulap saya yang sudah ketahuan di kelas 6 tadi. Dan, ehm, praharanya masih sama. Bahkan ada yang tarik-tarik tangan saya minta ditebak. Yaelah, sesuatu yang sebenarnya mau untuk ice breaking saja malah menjelma jadi sumber keributan, dan terbukti di 6 kelas. Fix tidak direkomendasikan untuk diulang di Kelas Inspirasi manapun. Hahaha..
Lalu permainan angka berapapun yang akan berujung tiga coba saya angkat. Niatnya mengundang partisipasi, jadilah saya panggil dua anak ke depan. Eh, ada 1 anak yang maju, tapi kemudian DISURUH MUNDUR sama teman-temannya. Dan entah kenapa, anak itu mundur beneran, lalu duduk nangis di kursinya dan sejurus kemudian membanting kotak pensil. Belum cukup, dia membanting meja di belakangnya. Oya, posisinya nangis dia adalah menyandarkan kening ke kursi tempatnya duduk.
Saya dan Nanda yang lagi ada di sana untuk foto, sontak hening. Tapi anak-anak lain malah dengan santai bilang, udah biasa. Weleh, ada-ada saja ya. Pada akhirnya permainan saya yang angka 3 ini dikomentarin “alah, paling juga tambah bagi kurang kali kan.”
Nggak apa-apa, yang penting intinya dapat.
Dan petualangan hebat saya hari ini selesai.
Ah masak?
Belum ternyata. Masih ada dampak yang tersisa 😀
Ketika kelas 1 dan 2 pulang, banyak dari mereka datang ke saya dan relawan lain tentunya, menjulurkan tangan, lalu mencium tangan. BUSET! Jarang-jarang saya begini. Maaf-maaf kata nih, saya kan juga mengenal beberapa anak dari level ekonomi baik di luaran, dan mereka TIDAK SESOPAN INI. Hal simpel, uluran tangan dan cium tangan. Sebuah hal sederhana yang masih ada di Indonesia Raya Merdeka Merdeka ini. Tidak lupa, ketika anak kelas 2 pulang, mereka kembali menghambur ke kaki saya, kali ini dua-duanya. Dan–ini dia ironinya–memanggil saya sebagai KAKAK CHIBI-CHIBI.
*tepok jidat*
Oya, si ketua kelas 2 bahkan datang ke saya dan menyebutkan alamat rumahnya plus nama emaknya. “Bilang aja, pasti tahu,” katanya. Ini anak kalau dididik dengan benar, bakal jadi luar biasa. 😀
Acara di kompleks SD 01-05 Palmerah ditutup dengan bernyanyi bersama diiringi Mas Jubing. Hey, kapan lagi nyanyi diiringi gitaris kondang? Ya cuma disini 😀
Mas Jubing ini action (sumber: dokumentasi pribadi)
Ketika ajang nyanyi bareng ini, saya coba masuk ke barisan anak-anak, dan ini beberapa pernyataan mereka yang bikin senyum.
“Kak, aku seneng banget hari Rabu ini.”
“Kak, kapan kesini lagi?”
“Kakak apoteker, bikinin obat dong.”
“Kak, tadi rahasia sulapnya apa?”
Dan beberapa pernyataan lainnya. Satu hal, ketika mereka masih ingat nama saya saja itu sudah bonus. Mereka habis ketemu 6 sampai 8 orang dalam waktu cepat dan masih ingat nama orang-orang itu? Apa nggak bonus itu namanya?
Saya juga mewariskan 5 kartu sulap yang berlumuran problema itu ke salah seorang anak di kelas 5, plus cara memainkan sulapannya. Yah, wong saya juga ngerti permainan ini pas kelas 5 SD gegara baca buku punya tulang kok. Nggak ada salahnya, toh ini juga sekadar permainan matematika.
Puncak dari kehebohan hari ini adalah ketika sesi MENDADAK ARTIS. Mungkin acara ini bisa bikin saya bersiap jadi artis karena sesudah bubaran dan kemudian istirahat, anak-anak itu datang dengan buku/kertas plus alat tulis lalu meminta NAMA, NOMOR HP, TANDA TANGAN, sampai ALAMAT FACEBOOK. Sekarang kapan lagi ada makhluk hidup yang datang ke saya dan minta kelengkapan itu? Saya sering dimintain tanda tangan, tapi itu buat approval dokumen atau approval pengeluaran material. Cuma baru ini dimintain tanda tangan macam artis gini. Dan di akhir dikasih tahu Rifki bahwa di kelas-kelas akhir, sudah ada yang switch cita-citanya jadi APOTEKER. Hahahaha.. *berhasil-berhasil-berhasil-hore*
Yah, posting ini sudah panjang sekali, ngalah-ngalahi 1 bab di Lovefacture. Maka beberapa kesimpulan hari ini:
1. Saya akan segera menelepon Mamak dan bilang bahwa mengajar SD itu SULIT, JENDERAL!
2. Satu hari cuti untuk hal semacam ini, sama sekali tidak ada RUGINYA.
3. Setiap orang itu boleh dan malah harus punya MIMPI. Tugas kita-kita ini untuk MENYALAKAN MIMPI itu.
4. Kita memang perlu berpikir BESAR, tapi akan lebih baik kalau kita memulai dengan KECIL, tapi SEKARANG.
5. Mereka lahir kira-kira ketika saya SMA/Kuliah, jadi intinya saya sudah tua *loh*
6. Mari bergerak, untuk MEMBANGUN MIMPI ANAK INDONESIA!
Audit terkarakterisasi dengan ketergantungannya pada sejumlah prinsip yang dapat membuat audit efektif dan menjadi alat yang baik dalam rangka mendukung kebijakan dan control manajemen, dengan menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh organisasi untuk improvisasi performa. Ketaatan pada prinsip-prinsip tersebut merupakan persyaratan untuk penyediaan kesimpulan audit yang relevan dan sesuai serta untuk membuat auditor mencapai kesimpulan yang sesuai.
INTEGRITAS, pondasi dari profesionalisme
Auditor dan personel yang mengelola program audit hendaklah melakukan pekerjaannya dengan jujur, rajin, dan penuh tanggung jawab; memantau dan selalu patuh pada segala persyaratan legal yang relevan; memperlihatkan kompetensi ketika melakukan pekerjaannya; melakukan pekerjaannya dengan tata cara yang baik, misalnya tetap berlaku fair dan tidak bias dalam setiap kesepakatan; berlaku sensitive pada setiap pengaruh yang mungkin ada pada setiap pengambilan keputusan ketika audit.
FAIR, kewajiban untuk melakukan pelaporan secara benar dan akurat
Temuan audit, kesimpulan audit, dan laporan audit hendaknya merefleksikan aktivitas audit secara benar dan akurat. Hambatan signifikan yang terjadi selama audit dan tidak dapat diatasi oleh auditor dan auditee juga harus dilaporkan. Komunikasi hendaknya benar, akurat, objektif, tepat waktu, jelas, dan tuntas.
PROFESIONAL, berlaku tekun ketika audit dan dalam melakukan pengambilan keputusan
Auditor hendaknya berlatih untuk memperhatikan kepentingan tugas yang dilaksanakannya dengan memiliki keyakinan untuk itu. Sangat penting untuk bekerja dengan profesional sehingga dapat membuat pertimbangan dan keputusan di dalam semua situasi audit.
KERAHASIAAN, keamanan informasi
Auditor hendaknya bertindak hati-hati dalam penggunaan dan proteksi informasi yang didapatkan selama tugasnya. Informasi audit hendaknya tidak digunakan secara tidak sesuai oleh auditor maupun klien audit, yang dapat merugikan legitimasi auditee. Konsep ini mencakup penanganan yang sesuai terhadap informasi yang sensitif dan rahasia.
INDEPENDEN, basis untuk keadilan audit dan objektivitas kesimpulan audit
Auditor hendaklah independen dari aktivitas yang diaudit jika memungkinkan, dan bertindak sedemikian rupa sehingga bebas dari bias dan konflik kepentingan. Untuk internal audit, auditor hendaknya independen dari fungsi operasi yang diaudit. Auditor juga harus berlaku objektif untuk memastikan temuan audit dan kesimpulan diambil berdasarkan bukti audit. Untuk organisasi yang kecil, bisa jadi sulit untuk auditor internal bisa independen sepenuhnya dari aktivitas yang diaudit, akan tetapi setiap usaha perlu dikerahkan untuk melindungi bias dan mempertahankan objektivitas.
PENDEKATAN BERBASIS BUKTI, metode rasional untuk mencapai kesimpulan audit yang handal dan dapat dipercaya dalam rangka proses audit yang sistematis
Bukti audit harus dapat diverifikasi. Secara umum bukti diperoleh berdasarkan pengambilan sampel terhadap informasi yang tersedia dalam periode audit yang terbatas berikut sumber daya yang terbatas pula. Jumlah yang sesuai untuk proses pengambilan sampel hendaknya dilakukan guna menjamin keyakinan terhadap kesimpulan audit.
Audit adalah proses sistematis, independen, dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara objektif untuk menentukan sejauh mana kriteria audit dipenuhi. Audit internal, seringkali disebut sebagai audit pihak pertama, diselenggarakan oleh organisasi itu sendiri, atau atas nama organisasi, untuk kajian manajemen dan tujuan internal yang lain (contoh: untuk melakukan konfirmasi efektivitas sistem manajemen atau untuk memperoleh informasi guna perbaikan sistem manajemen). Audit internal dapat menjadi dasar pernyataan kesesuaian di dalam organisasi. Di dalam banyak kasus, utamanya di organisasi kecil, independensi dapat memperlihatkan kebebasan dari tanggung jawab terhadap aktivitas yang diaudit atau kebebasan dari bias dan konflik kepentingan.
Audit eksternal mencakup audit pihak kedua dan ketiga. Audit pihak kedua diselenggarakan oleh organisasi terkait kepentingan tertentu seperti pelanggan atau oleh orang lain atas nama pelanggan. Audit pihak ketiga diselenggarakan oleh organisasi audit yang independen, seperti regulator atau badan sertifikasi.
Jika dua atau lebih sistem manajemen dari disiplin yang berbeda (seperti mutu, lingkungan, K3L) diaudit bersamaan, disebut sebagai audit kombinasi.
Jika dua atau lebih organisasi audit bekerjasama melakukan audit pada satu auditee, disebut sebagai audit bersama.
Kriteria Audit merupakan gabungan kebijakan, prosedur atau persyaratan yang digunakan sebagai referensi bukti audit dibandingkan. Jika kriteria audit merupakan persyaratan hukum (termasuk regulasi dan perundang-undangan), terminologi patuh dan tidak patuh sering digunakan dalam temuan audit.
Bukti Audit adalah catatan, pernyataan atau informasi lain yang sesuai terhadap kriteria audit dan dapat diverifikasi. Bukti audit dapat berupa kualitatif dan kuantitatif.
Temuan Audit adalah hasil evaluasi dari bukti audit terhadap kriteria audit. Temuan audit mengindikasikan kesesuaian atau ketidaksesuaian. Temuan audit dapat menjadi identifikasi terhadap peluang perbaikan atau merekam praktek yang sudah baik. Jika kriteria audit diambil dari persyaratan legal, terminologinya adalah compliance dan non-compliance.
Kesimpulan Audit adalah keluaran dari audit, sesudah mempertimbangkan tujuan audit dan semua temuan audit.
Klien Audit merupakan organisasi atau personel yang meminta audit. Dalam konteks internal audit, klien audit dapat merupakan auditee atau personel yang mengelola program audit. Permintaan untuk audit eksternal dapat berasal dari regulator, pihak ketiga yang terikat kontrak atau klien potensial.
Auditee adalah organisasi yang diaudit.
Auditor adalah personel yang melaksanakan audit.
Tim Audit adalah satu atau lebih auditor yang melaksanakan audit, dan jika perlu didukung oleh ahli teknis. Satu auditor di tim audit ditunjuk sebagai ketua tim. Tim audit dapat menyertakan auditor yang sedang dalam pelatihan.
Ahli Teknis adalah personel yang memiliki pengetahuan spesifik atau keahlian dan menyediakannya pada tim audit. Pengetahuan spesifik atau keahlian terkait dengan organisasi, proses atau aktivitas yang akan diaudit atau bahasa dan budaya. Ahli teknis tidak bertindak sebagai auditor di dalam tim audit.
Observer adalah personel yang berada bersama dalam tim audit, tapi tidak melakukan proses audit. Observer tidak merupakan bagian dari tim audit, dan tidak mempengaruhi atau mengganggu proses audit. Observer dapat berasal dari auditee, regulator, atau pihak lain yang terkait dengan audit.
Pemandu merupakan personel yang ditunjuk oleh auditee untuk membantu tim audit.
Program Audit adalah pengaturan perencanaan satu atau lebih audit dalam rentang waktu spesifik dan dibuat untuk tujuan spesifik.
Ruang Lingkup Audit merupakan cakupan dan batas-batas pelaksanaan audit. Ruang lingkup audit umumnya mencakup deskripsi lokasi fisik, unit organisasi, aktivitas, proses, sejauh tercakup dalam periode waktu yang ditentukan.
Rencana Audit adalah deskripsi aktivitas dan pengaturan pelaksanaan audit.
Resiko adalah pengaruh ketidakpastian pada tujuan.
Kompetensi merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Kemampuan menyiratkan penerapan yang sesuai terhadap perilaku personel selama proses audit.
Kesesuaian adalah pemenuhan terhadap persyaratan.
Ketidaksesuaian adalah ketidakpemenuhan dari persyaratan.
Sistem Manajemen adalah sistem yang menetapkan kebijakan dan tujuan yang bersama-sama mencapai tujuan tersebut. Sistem manajemen dari sebuah organisasi dapat mencakup sistem manajemen yang berbeda seperti sistem manajemen mutu, sistem manajemen finansial, atau sistem manajemen lingkungan.
Berita soal rencana resign-nya Paus mengemuka di berbagai media. Dan menjadi unik karena setidaknya sudah sejak lama posisi Paus ini begitu jarang dilihat orang. Kenapa? Sejak Karol Wojtyla dikukuhkan sebagai Paus Yohanes Paulus II di usia yang cukup muda, beliau menjabat cukup lama dan baru turun dari tahta suci sesudah meninggal. Rentang waktu puluhan tahun jabatan ini membuat suksesi kepausan menjadi jarang terlihat di era modern.
Paus Yohanes Paulus II kemudian digantikan oleh Kardinal Joseph Ratzinger yang memilih nama Paus Benediktus XVI. Beliau terpilih di usia 70-an akhir, jelang 80. Suatu usia yang sudah cukup tua. Maka, ketika beliau kemudian memilih hendak mengundurkan diri, menjadi perbincangan menarik.
Menurut sumber ini, Paus dapat mengundurkan diri jika memang ingin. KHK 332 menuliskan bahwa apabila Paus mengundurkan diri dari jabatannya, untuk sahnya dituntut agar pengunduran diri itu terjadi dengan bebas dan dinyatakan semestinya, tapi tidak dituntut harus diterima siapapun. Hanya memang diharapkan bahwa sebagai penerus Santo Petrus, Paus mengemban jabatan hingga akhir usia.
Sukses kepausan dengan resignation ini sudah terjadi beberapa kali di era lampau. Paus St. Pontianus mengundurkan diri lima tahun sesudah dipilih karena beliau dibuang ke Sardinia oleh Kaisar Maximinus Thrax di era pembantaian umat Kristen.
Jangan salah pula, Paus St. Silverius malah pernah diturunkan dari tahta hanya 1 tahun sesudah terpilih. Adalah Ratu Theodora yang melakukan ‘kudeta’ ini karena paus menolak calon uskup yang diajukannya. Penggantinya adalah Paus Vigilius. Hal yang sama terjadi pada Paus St. Martin I yang diculik dan diturunkan dari tahta. Sejarah mencatat bahwa ini adalah kejadian terakhir paus wafat sebagai martir.
Dalam era kegelapan gereja Katolik, malah ada Paus Benediktus IX yang menjabat paus dalam 3 periode berbeda. Sudah kayak jadi ketua partai saja. Tapi itu adalah sejarah kelam yang harus diketahui dan diakui oleh umat Katolik di dunia. Waktu naik pertama kali menggantikan om-nya Paus Yohanes XIX, ayahnya—Alberic—melakukan upaya yang tidak wajar sampai kemudian belia u terpilih. Paus Benediktus IX ini kemudian diturunkan dari tahta dan digantikan Paus Sylvester III.
Nah, kudeta dalam arti yang semakin mirip perang terjadi disini. Tidak lama sesudah terpilih, Paus Sylvester diserang oleh pendahulunya dan jadilah Paus Benediktus IX menjabat lagi. Uniknya, tidak lama kemudian, beliau resign. Ada hawa politis dibalik pengunduran diri ini, ditengarai ada embel-embel janji uang. Paus berikutnya adalah Paus Gregorius VI.
Katolik dekat dengan kekuasaan ketika itu dan terbukti dengan Konsili yang dihelat oleh Raja Henry III. Hasil konsili ini adalah terpilihnya Paus Klemens II, yang tidak lama kemudian wafat diracun. Benediktus IX akhrinya menobatkan diri sendiri sebagai paus untuk ketiga kalinya. Raja Henry III turun tangan (lagi) dan membuat Paus Damasus II bisa dinobatkan sebagai paus.
Pada akhirnya pertobatan itu datang juga kok. Paus Benediktus IX mengasingkan diri dan menyesali dosa-dosanya plus kemudian bermati raga. Kalau dulu Paus dipilih oleh para klerus dan rakyat Roma, maka sejak Paus Nikolaus II ditetapkan bahwa proses pemilihan paus ditentukan oleh para kardinal.
Kasus resign Paus juga terjadi pada St. Selestine V. Beliau dipilih di usia 84 tahun karena dewan kardinal mentok. Padahal beliau pada dasarnya adalah pertapa.
Well, agama itu sejatinya soal diri sendiri dengan Tuhan kok. Paus—bagi saya—adalah sebuah jabatan suci yang kalau dijabat oleh siapapun tidak akan mempengaruhi keimanan saya sendiri. Nggak seperti orang-orang yang menjadikan ketua partai sebagai ‘nabi’ mereka. Yang jelas, pilihan Paus Benediktus XVI adalah pilihan bijak dan modern. Kenapa? Daripada tidak sanggup lagi mengunjungi umat, bukankah lebih baik memberikan pekerjaan mulia itu kepada orang lain yang lebih sanggup?
Ini judul klasik, tapi baru saya sadari barusan ini. Iya, emang beneran baru ngeh.
Ngeh apa sih?
Kalau hidup saya sekarang, benar-benar sudah ‘dipengaruhi’ segala hal yang saya kerjakan selama hampir 4 tahun ini. Sebuah masa ketika saya menjadi manusia yang terlibat di bidang perencanaan produksi.
Teori perencanaan produksi itu sebenarnya kan sederhana. Dimulai dari teori (S)-I-P-O-(C). Ada Input, yang di-Proses, menghasilkan Output. Input diperoleh dari Supplier. Dan Output akan diteruskan kepada Customer. Nah, perencanaan adalah menjamin alur itu berjalan baik timbal balik. Jadi apa yang dipasok oleh Supplier itu benar-benar untuk pemenuhan Customer. Dan apa yang diperlukan Customer sesuai dengan yang dipasok Supplier.
As simple as I write, but it’s a f*ckin’ difficulties 🙂
Itu kerjaan saya. Termasuk di dalamnya perencanaan produksi (Master Production Scheduling), perencanaan kapasitas (Capacity Planning), sampai bagian yang dulu paling saya benci tapi nyatanya saya malah menggila ketika jadi bagian itu, perencanaan kebutuhan material (Material Requirements Planning).
Hubungannya dengan kebiasaan?
Nah, ini yang saya mau cerita.
Sejak menjadi ‘orang planning’ hampir pasti saya berpikir terlalu banyak. Iya, karena misalnya ketika hendak berencana ke suatu tempat, saya sudah pikirkan segala halnya. Ketika hendak membeli sebuah benda, saya berpikir benda-benda lainnya yang mendukung.
Misal, ketika saya (dulu) pp Palembang-Jogja. Saya selalu beli tiket Jogja-Palembang terlebih dahulu. Memastikan bahwa saya bisa kembali ke Palembang. Intinya, saya sudah memastikan hendak naik apa aja. Atau ketika saya membolang ke Semarang, itu segala survei sudah saya lakukan via dunia maya dan dunia nyata untuk memastikan bahwa saya nggak akan kesasar disana.
Atau ketika hendak beli laptop dan motor. Percaya atau tidak, saya bahkan sudah beli tas laptopnya terlebih dahulu sebelum punya laptopnya. Saya punya helm, mantel, kanebo, dan gembok jauh sebelum saya punya sepeda motornya. Buat saya intinya (recipe-nya) adalah ‘memiliki sepeda motor’. Supaya aman dan damai, maka komposisinya adalah sepeda motor, helm, mantel, kanebo, dan gembok. Percayalah, di dunia farmasi pun begitu. Paracetamol hanya akan jadi serbuk kurang bernilai ketika nggak ada laktosa, misalnya. Nggak akan jadi obat juga. Punya sepeda motor tanpa punya helm jadinya juga demikian.
Dan saya nggak yakin akan berpikir sedemikian banyak kalau saya nggak jadi manusia planning. Terkadang hal macam ini bikin nambah pikiran, tapi terkadang juga justru sangat berguna.
Sejujurnya saya kudu berdoa dulu sebelum nulis judul di atas, takut ngawur. Ya, kan malu kalo ngawur, secara saya punya adik (mantan) guru Bahasa Inggris dan calon adik ipar juga lagi sekolah Bahasa Inggris. Tapi di catatan saya tertulis begitu. Semoga bener ya 🙂
*ini kok malah salah fokus*
*kembali ke topik*
Ini sebenarnya sama persis ketika lebih dari setahun silam saya dikasih tahu teman soal ‘memberi bantuan’ pada yang membutuhkan. Waktu itu saya urunan ‘hanya’ 60 ribu rupiah per bulan untuk uang sekolah dua orang anak di Magelang. Sekarang, karena sudah naik kelas, malah hilang. Nanti hubungin Bu Sum lagi deh, supaya lanjut lagi.
Sama persisnya dimana?
Sama persis karena saya diberikan kesempatan untuk bisa membayar semua yang pernah saya terima atas nama pendidikan. Saya yang dulu cuma bisa oek-oek, bisa ngetik blog ini juga karena pendidikan. Saya sampai sekarang bisa mengelola kotak-dan-angka (pekerjaan sehari-hari saya) juga karena pendidikan. Lebih jauh saya juga hutang budi sama pendidikan karena isi perut saya sejak lahir dipasok dari ‘bisnis’ pendidikan. Iya, kedua orang tua saya adalah guru 🙂
Dan ketika saya kemudian mendapat email di grup farmasis muda tentang Kelas Inspirasi, plus kemudian berseliweran di Twitter, maka rasa pengen ikut itu muncul juga. Asli, begitu saya baca konsep Kelas Inspirasi, yang terbayang di benak saya adalah kejadian bulan Oktober silam ketika saya menunggui Mama mengajar, persis di depan kelasnya. Oya, beliau guru kelas 4 SD. Dan lantas terpikir, sepertinya seru juga. Saya lantas mendaftar saja di web Kelas Inspirasi. Dan saya juga tulis di essay yang diminta bahwa kedua orang tua saya termasuk yang menginspirasi saya ikut Kelas Inspirasi ini.
Kebetulan saya pasang push mail, jadi setiap email yang masuk perlakuannya sama dengan SMS. Nah, waktu itu kan katanya diemail dari jam 19.00 sampai 22.00. Sampai jam 9 itu masih nggak ada email dari Kelas Inspirasi.
*mulai putus asa*
Tapi beberapa menit kemudian, saya dapat email yang dimaksud. Dan isinya ‘TERPILIH’. Sip! Dan di briefing kemarin saya baru ngeh kalau pendaftarnya ada 1000-an, artinya yang terpilih adalah separuhnya saja. Terima kasih atas kesempatannya.
Kemarin saya datang di briefingnya, bertempat di Gedung Indosat. Sebagai makhluk yang agak jauh tinggalnya, saya berangkat jam 9 pagi dari Cikarang. Untungnya jalanan bisa dibilang lancar jaya. Dan meskipun sempat dibohongin Google Maps, akhirnya saya sampai juga di Gedung Indosat, tentunya dengan berkeringat 🙂
Saya bergabung dengan ratusan profesional muda hingga senior di sebuah ruangan sambil duduk bersila. Ehm, sebenarnya saya nggak kuat lama-lama bersila. Efek gaya hidup buruk membuat saya gampang ‘kesemutan’ plus loro boyok. Tapi masak ya anak 26 tahun kalah sama yang senior. Jadi ya, dikuat-kuatkan 😀
Bagian pertama yang bikin merinding adalah ketika ratusan manusia di ruangan itu bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lha saya ini nyanyiin mars De Britto, hymne Sanata Dharma, sama mars kantor aja trenyuh, apalagi nyanyi Indonesia Raya?
*dasar melankolis*
Speech Pak Anies (sumber: dokumentasi pribadi)
Bagian kedua yang cukup mengena adalah speech dari Pak Anies Baswedan. Sebenarnya materi yang dibawakan oleh Pak Anies itu simpel loh. Cuma memang kebanyakan itu kurang disadari. Hal simpel misalnya. Bangsa ini didirikan oleh IURAN pendahulu kita. Pahlawan yang mati di medan perang itu iuran nyawa kan? Mbah saya dulu juga iuran tenaga dalam masa perang kemerdekaan. Itu iuran. Dan karena iuran itu terbentuklah Indonesia. Nah, lantas kita mau iuran apa?
Lalu juga soal terminologi ‘korban pendidikan’. Ini juga benar. Dan yang ditekankan oleh Pak Anies adalah sesuai judul yang saya tulis di atas. Terhadap semua yang sudah kita terima, ini saatnya kita membayarnya. Dengan apa?
Nah ini dia. Dengan apa?
Dalam video yang diputar sebelum speech dari Pak Anies ada quote. Think big (please koreksi, yang benar think atau dream hehe..), start small, ACT NOW. Poin terakhir, ACT NOW. Jadi kita membayarnya dengan bertindak.
Dan Kelas Inspirasi adalah salah satu cara bertindak sekarang 🙂
Ya, daripada menonton berita di negeri ini, Si Itu ketangkap disini, Si Anu kena kasus itu, bukankah lebih baik kita menyalakan mimpi melalui ruang-ruang kelas? Daripada mengutuk kegelapan, bukankah lebih baik menyalakan lilin? Pak Anies sih agak nyindir juga. Misalnya waktu ngomong soal integritas. Tanpa integritas, kita nggak akan sampai ke world class. Kalau jadi bupati sih masih bisa :p
Sebuah hari yang istimewa bagi saya. Apalagi kemudian bisa bertemu rekan-rekan dari aneka ragam profesi. Saya ada di kelompok 2, bersama orang-orang dari beragam profesi. Terbukti, dari kartu namanya saja sudah macam-macam. Hehehehe…
Semoga hari kemarin menjadi awalan baik, untuk beberapa hari lain ke depan, sampai tanggal 20 Februari, ketika HARI INSPIRASI berlangsung.
Oya, ada yang bilang, niat yang baik itu akan diberkati jalannya. Ketika kemarin saya pulang kok agak ngerasa ada keberuntungan. Waktu acara briefing, sekitar Gedung Indosat hujan. Pas pulang, sudah reda. Lalu katanya lagi ada banjir di beberapa tempat dan jalanan padat (misalnya di TolDalKot). Tapi saya tidak ketemu sama sekali dengan macet/padat sedari Gedung Indosat sampai Halte Benhil dan kemudian dari Semanggi ke Cikarang. Kalau sekadar berdiri dari Jakarta-Cikarang, itu wajar di malam minggu. Ketika sampai Cikarang, hujan malah sudah reda. Keberuntungan? Bisa jadi 🙂
Dari briefing ini saya mulai berpikir banyak hal. Mulai dari materi yang akan disampaikan pas HARI INSPIRASI besok, sampai ingin membuat hal yang mirip dengan Kelas Inspirasi, setidaknya di sekolah tempat kedua orang tua saya mengajar di Bukittinggi sana.
Kiranya Tuhan menolong saya, seluruh relawan Kelas Inspirasi lainnya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia.
Seperti sudah sering diutarakan dalam blog ini, bahwa cinta diam-diam adalah bentuk kriminalisasi terhadap diri sendiri. Sebuah perbuatan yang jauh lebih kejam daripada kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan sangat jauh lebih lebih kejam daripada krimbatisasi rambut keriting.
Nah, sekilas marilah membahas jenis-jenis cinta diam-diam yang ada di dunia nan fana serta fanas (panas -red) ini.
Cinta Sama Sahabat
Pada sebagian kasus, terlalu lama bersama hingga terlalu akrab bisa menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan. Ya memang tidak secepat boneka horta menumbuhkan benihnya, tapi cinta jenis ini termasuk mendalam. Kita tentu mengetahui bagaimana Riani memendam perasaan pada Zafran (dalam novel 5 cm), plus Genta memendam hal yang sama pada Riani. Ini kan jenis cinta sam sahabat sendiri. Mau ditembak, takutnya ditolak, dan terus persahabatannya bubar deh. Ketakutan kehilangan ini yang menyebabkan bara cinta yang terpendam diguyur perlahan pakai air, tapi sesekali pakai alkohol juga. Berusaha dipadamkan, tapi kadang tetap dipelihara. Ya, pada akhirnya sih, tetap tidak dinyatakan.
Cinta Sama Saudara
Oke, bukan maksud SARA loh ini. Tapi ini berkaca dari pengalaman saya yang separuh Batak (tolong dinyanyikan ala NOAH ya). Seorang Simamora itu tidak boleh flirting dengan sesama Simamora, bahkan juga dengan beberapa suku lainnya. Kenapa? Karena kesamaan marga itu berarti kita bersaudara. Dan sekarang coba bayangkan seorang lelaki Simamora yang tampan bertemu seorang gadis Simamora yang cantik jelita, dan sebelum saling menyatakan cinta, mereka mengetahui kalau mereka 1 marga alias bersaudara. Daripada dinyatakan dan kemudian malah bikin heboh urusan peradatan, jadi alangkah lebih baik kalau perasaan itu dipendam dan nanti kalau pas mudik ke Toba, perasaan itu ditenggelamkan di Danau Toba saja.
Cinta Sama Pacar Teman
Nah, jenis ini adalah bentuk perasaan paling sontoloyo. Okelah kita tahu kalau kata novel Perahu Kertas, hati itu DIPILIH, bukan MEMILIH. Dan kalau kebetulan hati itu pas nyangkut pada seseorang yang sedang menjadi pacarnya teman, masih mau menyebut dipilih dan memilih? Mumet pasti. Pada umumnya, hal ini akan berdampak dua. Pertama, seorang yang cinta sama pacar teman akan diam-diam saja sehingga kemudian direkrut tanpa interview sama sekte Cinta Diam-Diam. Kedua, seorang yang cinta sama pacar teman akan segera memepet, menggesek, menelikung, menyabet, menyaut, dan kemudian membawa lari pacar teman. Hilang teman, dapat pacar. Ya, ketika karma eksis, hal yang sama akan terjadi. Bukankah kalau begini lebih baik jadi pecinta diam-diam saja? Hehehe.
Cinta Sama Pacar Orang Lain
Agak beda tipis (tololnya) dengan jenis sebelumnya. Kalau yang di atas kecenderungannya nggak enak sama teman, kalau yang nggak kenal begini bakal lebih enteng. Kalau ditelikung dan kemudian dapat, kan nggak akan kehilangan teman juga. Hanya saja, sifat gentle yang diletakkan disini. Cowok kalau tahu si cewek punya pacar, dan masih dideketin juga, itu ngawur namanya (pengalaman -red). Jadi, ketika sifat gentle itu ada, maka dengan demikian eksislah kaum pecinta diam-diam di dunia yang menggila ini.
Cinta Sejenis
Ini mungkin hanya terjadi di negara dengan tingkat keberterimaan pasangan sejenis yang rendah. Hal simpel deh, seseorang penyuka sesama yang eksis di negeri Indonesia Raya Merdeka-Merdeka ini cenderung akan main bawah tanah karena perkara citra dengan luaran. Termasuk ketika memendam rasa dengan sesama jenis. Lagipula, kalau diumbarpun, jatuhnya bakal nggak lazim di masyarakat. Plus, iya kalau yang disuka sama-sama suka? Kalau yang disuka malah ngibrit gimana? Kemungkinan yang sangat besar dalam kelaziman sesuatu yang disebut norma (ini bukan norma peserta bukan dunia lain ya).
Ya, kira-kira demikian jenis-jenis cinta diam-diam. Meski berasal dari genre yang berbeda-beda, tapi sebenarnya mereka satu jua, sama-sama PECUNDANG yang nggak bisa membela hati mereka sendiri.
Ehm, mereka? Oke, salah. Kami mungkin lebih tepat. Atau kita?
Kak Rina segera memasukkanku ke dalam ranselnya. Kemarin Karin–nama panggilanku untuknya–bilang ini hari terakhir berada di kamar nan elit sebelum kemudian kembali ke kehidupan normal.
“Sebenarnya mau kemana sih?” tanyaku persis sebelum Karin menutup ranselnya.
“Katanya perbuatlah yang aku mau. Pakai nanya nih?”
“Ya, nggak jadi deh. Silahkan. Hehehe.”
Ransel menutup dan akupun menatap dalam gelap. Kuharap gelap ini tidak berlangsung lama.
* * *
“Hey! Udah lama?”
Aku mendengar suara itu, milik Karin. Siapa yang dia sapa?
“Belum kok. Baru juga nyampe. Silahkan duduk.”
Kali ini aku mendengar suara laki-laki. Dan sesungguhnya aku tidak mengenali suara itu sama sekali. Sejauh ini suara laki-laki yang aku dengar hanyalah lelaki yang pernah bertandang ke kos-kosan Karin, baik itu di Cikarang, Jogja, dan Solo. Tidak ada yang serupa itu.
“Repot-repot amat, Bang.”
Ah! Aku mengenal sapaan itu. Aku sangat berharap Karin membawaku untuk alasan yang lebih baik daripada berada di dalam ransel sambil menebak-nebak lawan bicara Karin.
“Besok jadinya jam berapa?”
“Jam 9 lewat 10, Bang. Nggak jadi reschedule flight.”
“Wah, sayang sekali.”
“Emang kenapa?”
“Mau tak ajak keliling ibukota. Hehehehe.”
“Ah, waktu aku PKL di pedalaman Cikarang kan udah putar-putar ibukota. Lagian polusi semua ini, mau lihat apa? Mending juga Jogja.”
“Yah, kalau Jogja mah nggak usah ditanya. Disana hanya kurang kendaraan umum doang. Lainnya udah oke. Ngomongin Jogja jadi ingat DM kamu dulu banget, Rin.”
Eh, sebentar. Ngomong Jogja, lalu ingat DM. Ini kok semacam mulai nyambung.
“Yang kapan?”
“Yang waktu kamu mau pindah ke Solo. Yang katanya mau lepas poster aja galau.”
“Hahaha. Tahu sendiri Bang, sebagai sesama sentimentil, kamu harus paham.”
Makin dekat, makin jelas. Aku kan membaca DM itu dengan saksama dan sebaik-baiknya. Rasanya nggak mungkin ada DM lain deh.
“Karin, keluarkan saya dari sini,” gumamku lirih.
“Eh, mana punyamu?” tanya suara laki-laki tersebut.
“Ada, bawa kok. Punyamu?”
“Bawa juga dong. Masak lupa, kan udah janjian.”
Karin segera menarik resleting ranselnya dan aku mulai melihat secercah cahaya yang perlahan membesar. Lalu tangan mulus Karin segera menjamahku dan menarikku keluar dari pengapnya ransel ini.
“Kak?”
“Ini, Bang. Kenalin, namanya Neptunus.”
“Hahahaha, kamu tiru-tiru Kugy dong, Rin?”
“Iya. Seru kan? Kalau Kugy harus tulis surat di perahu kertas supaya sampai ke Neptunus, aku bisa panggil dia kapanpun. Sampai pergi seminar ke Jakarta aja aku bawa. Eh, kamu jadinya beli kapan?”
“Belum lama. Setelah ditimbang-timbang masak-masak baru beli.”
“Untuk gaji seorang esmud di ibukota, nggak mungkin menimbang-nimbang karena perkara finansial. Bohong banget kalau begitu,” kata Karin, penuh dugaan.
“Hahaha. Alasannya sudah aku tulis di blog kok.”
Heh! Aku baca lho! Kalau benar bahwa lelaki di depan mataku ini adalah pemilik akun @alfabege yang diblok Karin sekian bulan silam sih.
“Hmmm, kayaknya aku baca. Jadi mana punyamu?”
“Oh iya, lupa.”
Lelaki itu kemudian ganti merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku bercover hijau dengan judul yang sama persis denganku. Perahu Kertas.
“Namanya?”
“Luhde.”
“Hahaha, tiru-tiru juga kamu Bang.”
“Nggak apa-apa. Luhde kayaknya cakep. Kata Kugy, kayak malaikat. Lagian nggak mungkin juga kasih nama Remi.”
Aku menatap buku yang barusan diletakkan di sebelahku, dari kiri ke kanan.
“Hai. Kita sama ya?” tanya buku itu.
“Iya. Aku Neptunus. Kamu?”
“Luhde.”
“Baiklah. Salam kenal. Yang punya kamu siapa?”
“Oh, ini Bang Alfa.”
Nah, sudah banyak dugaan yang menuju kenyataan. Tapi melihat momen di sekitar, aku jadi menebak akan terjadi sesuatu. Tempat itu ternyata romantis sekali. Sebuah kafe dengan rak buku di satu bagian dinding, lalu ruang bercahaya remang tapi dilengkapi lampu baca. Plus, lilin aromaterapi yang jaraknya hanya 10 sentimeter dari tempatku sekarang.
“Eh, De. Ini bosmu suka sama bosku ya?”
“Nggak tahu, Nus.”
“Kamu nggak sering kepoin dia?”
“Dia mah nggak bisa dikepoin. Aktifnya pakai HP. Nggak bisa ngintip aku.”
“Oh, begitu. Sayang sekali. Soalnya nih, dari dulu aku berpikir kalau sebenarnya bosmu ini suka sama bosku.”
“Rin,” kata Bang Alfa perlahan.
“Tadi bilang kalau baca blogku?”
“Iya.”
“Baca semua?”
“Lumayan.”
“Ehm, menurutmu itu fiksi atau nyata?”
“Fiksi dong.”
“Kok?”
“Kalau nggak fiksi, berarti kamu udah punya pacar berapa kali, Bang? Hehehe.”
Aku dan Luhde mulai bertatapan, tanpa suara, dan mengerti satu sama lain perihal sesuatu yang akan segera terjadi.
“Bisa aja. Menurutmu, kita ketemu lagi begini itu kebetulan bukan ya?”
“Bisa jadi. Kenapa Bang?”
“Kamu percaya kebetulan? Aku sih nggak.”
“Kadang percaya. Kenapa nggak?”
“Buatku sih kebetulan itu adalah persinggungan dua garis nasib. Dan nasib yang sudah diatur sama Tuhan. Jadi kebetulan itu kan kehendak Tuhan juga.”
“Lalu?”
“Ehm, entah sih, tapi semalaman aku berpikir soal ini. Kenapa kita ketemu lagi, kenapa bertemu kamu dalam keadaan sama-sama masih jomblo, kenapa dan kenapa lainnya. Dan sepertinya aku harus bilang sesuatu.”
“Apa?” tanya Karin perlahan, matanya sedikit melirik padaku.
“Ada banyak bagian dari posting di blogku yang sebenarnya adalah perasaanku sendiri, Rin. Perasaanku sendiri, ke kamu.”
Karin hening, bibir manisnya mengatup, tangannya malah memilih untuk mengaduk-aduk kopi. Sementara suara musik istrumen mengalun pelan di penjuru kafe.
“Sejak 7 tahun yang lalu, Rin. Sejak aku melihat kamu pertama kali, aku sudah merasakan ini. Tapi karena kemudian kita terlanjur dekat sebagai teman, jadi ya aku simpan saja. Dan kamu ingat kan pernah bilang sesuatu soal memendam cinta?”
“Memendam cinta adalah cara tercepat untuk patah hati.”
“Tepat sekali.”
“Dan bahwa aku sudah cukup patah hati ketika kemudian aku nggak bisa lagi menghubungi kamu. Kamu boleh bilang aku gila, tapi sebenarnya hadiah ulang tahunmu waktu itu, aku sendiri yang nganter ke kantor.”
“Bang? Serius?” tanya Karin dengan ekspresi yang berubah drastis. Kali ini dia benar-benar terkejut.
“Iya, aku ke Solo. Menghabiskan cuti sih, jadi sekalian gitu. Sudah sampai di depan kos-kosanmu malah. Sudah ngetuk pintu juga. Tapi akhirnya balik kanan pulang. Baru mampir ke kantormu, nitip hadiah itu. Kadang nyesel juga ngasih hadiah begitu kalau tahu akhirnya kamu malah menjauh begitu.”
“Asli, nggak nyangka Bang.”
“Buat lelaki, nggak ada yang aneh atau nekat kalau statusnya udah cinta, Rin.”
Karin terdiam lagi, melirikku lagi. Aku rasa dia mulai membenarkan perkataanku perihal sesuatu yang aneh kemarin. Salahnya juga nggak mendengarkan aku kan?
“Daripada aku panjang-panjang lagi, intinya sih hanya satu baris. Aku cinta sama kamu, Rin.”
Karinku tertunduk malu-malu, sementara Bang Alfa meraih tangan Karin yang sedari tadi tampak menggengam angin. Karin membuka genggaman jemarinya dan menerima lima jari Bang Alfa di sela-sela lima jarinya.
Aku dan Luhde terdiam saja melihat pemandangan seperti ini. Kejadian ini untuk dinikmati, bukan untuk dikomentari. Aku menikmati setiap saat ketika cinta dinyatakan, dan aku yakin Luhde demikian.
Badan Bang Alfa terangkat sedikit demi sedikit dari kursinya, kepalanya bergerak mendekati kepala Karin. Pemilikku itu kemudian mengangkat sedikit kepalanya, menyambut sebuah kecupan manis dari sebuah bibir yang baru saja menyebut cinta.
Luhde menatapku dan tersenyum penuh arti. Aku sendiri senang, karena pada akhirnya hipotesaku terbukti, seratus persen.
* * *
buatan minggu lalu, baru diunggah sekarang.. lagi niat.. hehehehe..
Saya punya sebuah naskah. Iya, naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku pertama yang bisa saya selesaikan. Yang kedua baru kelar tanggal 2 kemarin, buat ngirim ke lomba novel. Naskah kedua itu sebenarnya ya bukan utuh naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku sih, karena itu lebih berupa kompilasi posting-posting di blog ini.
Jadi, mari kita bicara sedikit tentang naskah pertama itu.
Ditulis dari mid 2011, dan baru selesai hampir mid 2012. Sebuah waktu yang sangat panjang untuk menulis. Tapi sebuah kebanggaan juga karena ada 1 dari sekian banyak file naskah-dengan-persyaratan-sepanjang-buku yang beneran jadi. Yang berhenti di halaman 5? Ada. Di halaman 10? Ada juga. Di halaman 40? Juga tersedia.
Nah, karena saya ini NIAT dan kebetulan baru dapat bonus, saya bertekad memperlakukan naskah pertama ini dengan maksimal. Jadi, sudah saya putuskan untuk mengirimkannya ke penerbit yang oke (tidak sembarangan), punya rekam jejak bagus untuk genre naskah itu. Dan saya juga lantas memperlakukan naskah itu dengan optimal dalam hal mencetak.
Iya, saya BELI PRINTER, khusus buat ngeprint naskah doang. Kenapa sih? Entah, mungkin banyak yang menilai jelek. Tapi saya hanya hendak menghargai karya pertama saya yang beneran jadi. Saya juga jilid dengan spiral plus buat cover dengan mencetak di kertas foto ukuran A4.
Saya hendak bikin dia eksklusif. Itu saja.
Dan untuk menggenapi perlakuan istimewa saya pada naskah itu, maka saya meluangkan 1 hari cuti di 26 April 2012 untuk mengantarkan langsung naskah itu ke penerbitnya. Cerita itu ada di bagian lain blog ini, sila cek.
Dan, bagian yang harus dicamkan dalam hal pengiriman naskah buku oleh pemula adalah:
JUST WRITE, SEND, AND FORGET IT
Itu menurut saya lho. Karena kalau kita ingat-ingat terus, nggak akan muncul karya-karya lainnya ntar. Contohlah saya, sejak naskah pertama itu, belum ada lagi naskah yang oke. Memang ada sebagian yang sudah outline, tapi kemudian pupus lagi-pupus lagi.
Dan memang naskah itu saya lupakan, sampai kemudian saya dapat telepon dari editor dan bilang ‘tertarik’ untuk naskah itu. Okesip. Lalu? Tunggu kabar selanjutnya.
Ada hal yang menarik dari nasib naskah saya ini. Secara langsung, editor bilang kalau naskah saya ‘cukup menarik’. Tapi tidak serta merta itu langsung akan diterbitkan. Dan uniknya lagi, tidak pula ditolak 🙂
Saya sempat mentions di Twitter dan karena telat lihat mentions, jadi obrolan saya dengan admin Twitter-nya kandas. Lalu, saya email-lah ke redaksi soal naskah itu. Bukan apa-apa sih, kali kalau penerbit itu mau ISO 9001 (anggap begitu), naskah saya bisa jadi temuan. Kenapa? Karena di-state waktu X bulan untuk disposisi naskah, sementara naskah saya sudah lebih dari X bulan itu. Saya sih cuma nggak mau memperibet masalah.. Hehehe.. Kalau emang nggak diterima, silahkan, saya rela hati dan sadar diri. *kira-kira itu konten email saya ke redaksi*
Tapi di lubuk hati terdalam saya sangat ingin naskah saya diterbitkan disana. Itu dia makanya saya bahkan nggak pernah mengirim naskah yang sama ke penerbit lain. Saya bukan penulis yang butuh-duit-banget, karena toh saya punya pekerjaan yang lumayan. Saya adalah penulis yang menulis karena saya cinta menulis. Dan lagipula, ini naskah pertama saya. Masalah sejenis ini pastilah terjadi untuk setiap awalan. Bahkan saya termasuk beruntung, sampai umurnya yang hampir 10 bulan ini, naskah itu tidak ditolak.
Dan kemarin saya dapat SMS lagi dari penerbit, dengan note yang sama dengan telepon berbulan-bulan silam.
Saya tidak hendak berharap lebih, karena semakin hari saya semakin sadar bahwa berharap lebih sejatinya hanya akan berujung derita. Jadi saya hanya berharap, semoga kali ini nasib naskah itu lebih baik.
Oiya, naskah itu sebagian ada di blog ini, di tag ceritaalfa. Dan saya menamakan naskah itu dengan ‘alfa’, nama tokoh di naskah saya 🙂