All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

[Interv123] The Scientist

YEAH! Akhirnya saya dapat 1 korban untuk di-Interv123. *senyum licik ala David Luiz*

Pernah sakit? Pasti pernah, minimal ya sakit hati ditinggal kawin mantan gebetan. Kalau sakit minum apa? Ya minum obat, tentunya bukan obat nyamuk. Kalau sakit minum obat, terus sembuh, senang nggak?

Kalau situ menjawab senang, maka situ sama dengan murid-murid SD waktu saya Kelas Inspirasi dulu.

Nah, dibalik obat yang bikin sembuh itu, ada orang-orang yang kerjanya mengolah, berpikir, menggalau, berantem, putus cinta, dan lain sebagainya untuk bisa menghasilkan sebuah obat yang tentunya berkhasiat kepada pasien. Orang-orang itu adalah para peneliti, orang-orang yang mewujudkan sesuatu dari sebuah ide menjadi sebuah benda yang tampak. Jangan pikir bahwa semuanya itu mudah. Sekarang bagaimana kira-kira mengubah seonggok daun menjadi sesuatu yang berguna bagi kesehatan? Kalau nggak pakai mikir, ya jelas kagak bisa.

L4n7uT k4K@k…

[Interv123] Introduction

HALO SEMUA! *eh caps lock*

Dalam rangka ikut serta menegakkan perdamaian dunia, saya mau menghadirkan sesuatu yang baru di ariesadhar.com, blog yang random habis, serandom muka yang punya ini.

Kali ini saya mau memperkenalkan sesuatu yang bernama:

INTERV123

Apa itu?

Saya terinspirasi dari wawancaur-nya Roy Saputra. Dipikir-pikir keren juga menambahkan blog dengan konten yang mendidik macam itu. Dan berhubung seiring dengan usia yang semakin menua (dan jodoh yang tak kunjung tiba), saya semakin kenal banyak orang. Dan umumnya orang-orang yang keren-keren, dengan latar belakang masing-masing.

Jadi kenapa saya nggak mewartakan kabar gembira itu di blog saya yang hitam ini?

Nah, kenapa namanya Interv123?

Pertama, karena ini kan ceritanya wawancara, yang mana daripada kalau di dalam bahasa Inggris sama dengan Interview.

Kedua, karena saya suka sama Inter Milan dan bukan Juventus, jadi saya harus menggunakan Inter. Soalnya, nggak mungkin kan jadi Juveview. Nggak cocok.

Ketiga, dulu banget saya suka cerita kenapa saya suka angka 123. Tiga angka itu adalah deret yang buat saya ajaib karena berbagai alasan. Kalau mau tahu alasannya, silakan cari sendiri diantara 500-an posting di blog ini. Saya mau nyari link-nya aja malas.

Interview, dipotong sedikit jadi Interv, lalu ditambahkan 123, maka jadilah…

INTERV123!

Lalu apa hubungannya dengan 123?

Karena saya nggak mungkin mengajukan 123 pertanyaan karena dipastikan para narasumbernya akan mentah-mentah menolak kehadiran saya, jadi terpaksa putar otak, putar pusar, dan putar pinggang.

Maka 123 itu akan diterjemahkan menjadi 12 dan 3. Nantinya total akan ada 12 plus 3 alias 15 pertanyaan kepada narasumber. Dan berhubung saya mencoba menerapkan kaidah ilmiah jurnalistik (tsahhh…), maka 12 pertanyaan itu akan mengacu pada LIMAWESATUHA.

Tolong jangan disamakan dengan BEHA. Ini beda.

Iya. Kaidah 5W plus 1H itu kan totalnya 6, kalau dikali dua jadi pas 12. HOREEE!!!

Dan supaya beda 3 pertanyaan terakhir akan berformat 123 juga. *maniak*

Pertanyaan pertama akan ada 1 jawaban, pertanyaan berikutnya 2 jawaban, dan yang terakhir 3 jawaban.

Jadilah, Interv123!

Oke. Sebagai pembuka dan perkenalan, saya akan melakukan wawancara pada diri saya sendiri. Ya, baiklah, ini ngawur. Tapi nggak apa-apa buat contoh. Meskipun ada banyak hal yang nggak perlu dicontohkan terlebih dahulu, termasuk malam pertama.

Siap?

Ini dia, Interv123 bersama ariesadhar.

Apa makanan kesukaan kamu?

Sate padang! Makanan paling enak sedunia! Apalagi kuahnya! *nggak santai*

Kapan terakhir kali kamu minum tuak?

Desember 2011, pas malam tahun baru, beli bareng Bapak. Kapan lagi bisa minum miras dengan bantuan orang tua?

Siapa orang yang suka kamu stalking TL-nya?

Ini perlu dikasih tahu? Nanti heboh dunia.

Dimana kamu dilahirkan?

Di Bukittinggi, di sebuah tempat bidan yang unknown. Sampai sekarangpun saya nggak tahu di Bukittinggi sebelah mana saya lahir.

Kenapa kamu bikin blog?

Panjang ceritanya. Yang jelas karena saya pengen nulis, pengen aktualisasi diri gitu. #cieee

Bagaimana pendapat kamu tentang Vicky?

Vicky Vette? Vicky Burky? Vicky Peppermint?

Apa cita-cita kamu sewaktu kecil?

Pernah jadi arsitek, pernah jadi pemain bola, pernah jadi orang gila. Nggak jelas sih.

Kapan terakhir kali kamu menangis?

Kalau nggak salah waktu Mbah Kakung meninggal.

Siapa nama wakil presiden yang kamu ingat?

Ahok! Eh, itu bukan ya? Baiklah, Try Soetrisno.

Dimana kamu pernah jatuh sampai luka-luka?

Di SMP, pas lompat jauh pakai matras. Luka parah sebadan.

Kenapa kamu jarang pulang ke Bukittinggi?

MAHAL.

Bagaimana perasaan kamu kalau ditinggal kawin mantan gebetan?

#wisbiyasa

Sebutkan 1 judul lagu yang paling kamu ingat!

Tercipta Untukku – Ungu. Untuk sebuah alasan yang dirahasiakan. Uhuk.

Sebutkan 2 nama klub sepakbola yang pernah kamu sukai!

Valencia sama Leeds United.

Sebutkan 3 nama penulis yang kamu idolakan!

Dewi Lestari, Arswendo Atmowiloto, sama Ika Natassa.

Iyah, sudah segitu saja. Lumayan singkat, padat dan tentu saja tidak jelas. Saya sudah punya list pertanyaan untuk masing-masing calon korban. Jadi, nantikan saja email sayah pemirsah. 😀

Talkshow Perdana: Dari Blog Jadi Buku

Sambil menyaksikan kecerdasan Evan Dimas di lapangan hijau, saya mau posting dulu tentang talkshow perdana saya sebagai pembicara. Di usia yang sudah segini saya sih nggak asing dengan talkshow. Saya sempat jadi tukang pegang kabel, tukang bawain buku hadiah, hingga kemudian sempat menjadi MC.  Yang MC ini waktu pembahasan buku “Ekonomi Farmasi” karya Romo Spillane, dan itu sudah bertahun-tahun silam. Patokannya adalah beberapa peserta waktu talkshow itu sekarang sudah punya anak, malah sudah ada yang anaknya dua.

Suelengkuapnyuaaa

Balada Anak Kantoran

Dulu banget, saya pengen jadi anak kantoran. Soalnya tampak keren dengan baju rapi, kadang berdasi, bawa tas koper, lalu kerja di depan komputer. Itu dulu. Soalnya waktu saya bercita-cita semacam itu, Indonesia sedang melakoni PELITA 1, masih dalam PJPT 1, jadi harap dimaklumi.

Sekarang?

Adek saya–si Dani–suka menghina saya yang kerjaannya cuma duduk seharian penuh di depan komputer, klak-klik-klak-klik-kluk, lalu sore/malam pulang dengan muka berbentuk kotak dan angka. Sudahlah cuma duduk-duduk, digaji pula.

*lempar kayu manis*

Yah, duduk di depan komputer adalah keseharian sebagian besar anak kantoran. Ada yang mengerjakan report, ada yang browsing, ada yang cari OL Shop, ada yang main Onet, dan segala macamnya. Di balik aktivitas hari-hari itu, tentu saja ada beberapa peristiwa yang membuat tangan ini harus ditahan untuk tidak meninju, membanting, atau membakar komputer yang ada di depan mata.

Tentu saja karena kalau itu kita lakukan, pilihannya ya cuma besok nggak usah masuk lagi sampai seterusnya, atau mengganti dengan potong gaji.

Jadi apa saja peristiwa itu?

Ini dia!

Teknik Mencontek yang Aman

Semoga murid-murid orang tua saya nggak baca posting ini dah. Bisa-bisa saya nggak dianggap anak karena sudah menyebarkan kesesatan.

Sebagai produk pendidikan kampret, mau nggak mau saya harus berhadapan pada kebutuhan harus mencontek. Iya dong. Pendidikan–apalagi waktu saya SD-SMP–itu bertepatan dengan sidang konstituante, jadi belum modern, jadi masih tipe dan model menghafal sampai mati. Saya baru mendapati pendidikan yang agak beda ya waktu SMA, di De Britto, ketika ada saja ulangan yang menjelma menjadi pertanggungjawaban karya tulis atau paper. Itu keren.

Nah, dikarenakan saya sudah pernah mencontek dan rekor saya luar biasa: tidak pernah ketahuan, maka ada baiknya saya membagi tips mencontek.

Disini ya

Orang yang Lebih Bersyukur

Pernah punya mimpi? Saya yakin sih pernah, setidaknya yang cowok pasti pernah mimpi basah. Maksudnya, mimpi kehujanan.

Pernah merasakan sebuah mimpi menjadi kenyataan? Dalam hal kecil, pasti pernah. Misalnya mimpi ingin makan cimol, tahu-tahu di depan rumah ada tukang cimol lewat, dan kita beli. Atau hal level alay tapi krusial untuk seorang fans, seperti waktu saya berhasil nonton Inter Milan langsung di depan mata. Atau sampai hal besar kayak saya dulu bermimpi untuk bisa menulis di surat kabar, dan akhirnya terwujud juga pada 6 Januari 2006. Selengkapnya baca di buku saya yang judulnya Oom Alfa. *tetep promosi*

Selanjutnya

Bagaimana Cara Curhat yang Aman di Blog

Satu hal yang menjadi ketololan masa muda saya adalah menumpahkan segala sesuatu yang saya lakukan di blog. Berhubung saya lahir pada masa kuda gigit besi, dan tetap eksis sampai zaman kuda makan teman, maka saya menumpahkannya di blog yang ada di Friendster.

OKE. NAMA FRIENDSTER ITU SUDAH MEMPERLIHATKAN BETAPA TUANYA SAYA.

Santai.

Nah, tololnya dimana? Apa sih salahnya ngeblog?

Apa???

Alasan Harus Ikut Kelas Inspirasi

Kowe kudu melu… Aku wae nyesel lagi melu saiki…

Bagi yang nggak paham, pernyataan bahasa Javanese barusan kira-kira bermakna:

“Lo harus ikut… Gue aja nyesel baru ikutan sekarang…”

Masak sih?

2 Hari Yang Aneh: Jadi Juri Lomba Twitpic

Hidup itu kadang aneh-aneh saja. Jadi ceritanya saya yang menahbiskan diri sebagai apoteker, blogger, dan penulis ini kejatahan menjadi juri lomba twitpic selama 2 hari, berturut-turut pula. Padahal kemampuan saya dalam fotografi juga nggak bagus-bagus bener, karena saya sendiri baru sekali jadi fotografer beneran, pas Kelas Inspirasi Bekasi.

Kalau lomba twitpic yang pertama sih memang kudu saya, karena merupakan konteks twitpic-nya Oom Alfa. Masak si Oom Alfa yang disuruh menilai? Apa ceritanya nanti seonggok sepeda motor dari abad pertengahan harus ngetwit memberi tahu soal pemenang lomba twitpic? Ya sudah, saya saja.

LANJUT GAN!

PPIC Itu Ngapain Aja Sih?

PPIC Ngapain Aja

Tidak terasa sudah empat tahun saya berkecimpung kemplang kemplung di dunia per-PPIC-an. Oke, ini dusta. Sebenarnya ya terasa sekali, terutama karena saya itu sama sekali nggak bisa memaksa orang untuk berbuat sesuai kehendak saya. Kalau saya bisa, mending juga saya ikut MLM yang itu tuh, dalam 4 tahun katanya sih sudah dapat kapal pesiar atau liburan ke Paris.

Melalui posting ini saya hanya hendak membagi pengalaman yang saya punya, utamanya untuk anak-anak muda yang hidupnya sedang labil karena sudah lulus dan belum bekerja dan lihat lowongan PPIC di koran.

Sebenarnya PPIC itu apa sih?

Lebih lanjut disini