Hal-Hal Yang Mungkin Kamu Tidak Tahu Tentang Kabinet Indonesia Maju

Data-data ini sebenarnya sudah saya kumpulkan sejak jam pertama Kabinet Indonesia Maju diumumkan. Sayang sekali, saya kepentok satu nama. Pada hari pengumuman itu, saya sama sekali tidak mendapati informasi perihal tangal lahir Menteri Perdagangan Agus Suparmanto di Google dengan keyword apapun.

Jadi kemudian datanya saya diamkan saja. Heuheu.

Kemarin saya buka lagi ketika ada pengumuman dari Gugus Tugas bahwa orang-orang yang berusia 45 tahun bakal diizinkan beraktivitas lagi. Ya, tanpa peduli bahwa di bawah umur 45 tahun tapi di rumah boleh jadi ada suami atau orangtua atau bahkan kakek nenek yang berusia jauh lebih tua yang bisa jadi berpotensi ketularan COVID-19.

Berangkat dari fakta itu, sama kemudian googling lagi tanggal lahir Mendag dan ketemu. Jadilah saya bisa mengolah datanya. Asik. Jadi, berikut beberapa hal yang mungkin kamu tidak tahu tentang anggota Kabinet Indonesia Maju, khusus dari faktor usia dan tanggal lahir.

Tidak Ada yang Ulang Tahun Barengan

Ini serius. Dari 38 nama penting itu semuanya memiliki tanggal lahir yang berbeda-beda. Ya 38 nama dari 365 hari, gitu lho. Wajar sekali. Tapi yang unik bahkan yang ulang tahunnya dekat-dekatan juga tidak banyak. Paling hanya Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah (16 Juli 1969) dengan Jaksa Agung ST. Burhanudin (17 Juli 1954) atau Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya 28 Juli 1956 dengan Menko PMK Muhadjir Effendy 29 Juli 2020. Sama satu lagi Agus Suparmanto 23 Desesember 1965 dengan Edhy Prabowo 24 Desember 1972.

Kebijakan Kontroversial Menteri Edhy Prabowo Halaman 1 ...
Sumber: Kompasiana

Rentang 30-an Sampai 70-an

Kabinet berisi orang-orang dari usia 30-an sampai 70-an. Adapun yang umurnya 30 sampai 40 tahun hanya satu, Nadiem Makarim. Sedangkan yang 40 sampai 50 tahun ada 5. Ini saya masih memasukkan Erick Thohir yang akhir Mei nanti HUT ke-50. Jadi sudah naik ke rentang 50-60 tahun. Posisi sekarang 15 orang ada di rentang 50-60 tahun dan 15 lagi antara 60 sampai 70 tahun.

Izinkan TKA China masuk, Luhut singgung pendidikan orang daerah ...
Sumber: hops.id

Rata-Rata Usia 58,5 Tahun

Per 13 Mei 2020, rata-rata usia komponen kabinet adalah 58,5 tahun. Itu kalau golongan bukan Fungsional Madya dan bukan Eselon II ke atas sudah pensiun.

Hanya Ada Satu yang Lahir Hari Kamis

Secara menakjubkan dari 7 hari dalam seminggu, anggota kabinet tersebar merata. Ada 8 menteri/pejabat setara yang lahir di hari Minggu dan Rabu, sebagaimana ada 7 yang lahir di hari Sabtu. Dan secara menakjubkan orang itu adalah menteri yang ketiadaan tanggal lahirnya di Google sempat membuat saya menunda bikin statistik ini. Ya, Mendag Agus Suparmanto.

Politikus PKB Agus Suparmanto Dipanggil ke Istana, Jadi Mendag ...
Sumber: Tirto

Ada 4 yang Lahir di Bulan Ramadhan

Saya menggunakan rumus, bukan tabel, jadi beberapa saya crosscheck tanggalnya agak selisih 1 ke depan atau belakang. Tapi bulannya sih nggakk berubah. Intinya sih ada nama Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, kemudian Menteri Agama, Fachrul Razi yang lahir di bulan Ramadhan. Sisanya ada 2 lagi nggak merayakan tapi kayak anak saya, lahirnya juga di bulan nan suci, yaitu Yasonna Laoly dan I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Setelah Orde Baru, Fahrul Razi Pensiunan Jenderal Pertama Jabat ...
Sumber: Merdeka.com

Hanya Ada Satu Orang Berzodiak Aquarius

Dari 38 nama, ada 6 berzodiak Cancer serta masing-masing 5 Leo dan Libra serta 4 Gemini dan Sagitarius. Nah, hanya ada 1 orang Aquarius yang tidak punya teman. Orang itu adalah Mensesneg, Pratikno.

Menteri Pratikno Paparkan Program Prioritasnya - Aktual.Com ...
Sumber: Aktual.co

Agama Tertua, Pendidikan Termuda

Betapa pentingnya agama dan pendidikan di Indonesia tergambar di sosok menterinya. Menteri Agama, Fachrul Razi yang lahir 26 Juli 1947 menjadi yang tertua sementara Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan KEbudayaan lahir pada 4 Juli 1984 dan menjadi satu-satunya milenial di dalam kabinet.

Paling Banyak Lahir 1962

Dari 38 nama, ada 6 orang yang lahir pada 1962 sekaligus menjadi tahun terbanyak. Orang-orang itu adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Pratikno (lagi), Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Desa dan PDTT Abdul Halim Iskandar, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali.

Ada 3 Agus Tapi Hanya 1 Yang Beneran Lahir Bulan Agustus

Yak, ada nama Agus Gumiwang Kartasasmita, tapi lahir 3 Januari 1969. Ada nama (lagi-lagi) Agus Suparmanto, lahir Desember. Satu-satunya Agus yang lahir pada bulan Agustus, tepatnya 5 Agustus 1964 adalah menteri yang tentu kita sama-sama rindukan pernyataannya yang (((menenangkan hati))): dokter Terawan Agus Putranto~

Kala Terawan Gagal Menenangkan Masyarakat soal COVID-19 - Tirto.ID
Sumber: Tirto

King Henry dan Monaco Yang Terlalu Sibuk Berbisnis

Marcus Lilian Thuram-Ulien berlari membelah lini pertahanan AS Monaco yang sepi. Sejurus kemudian, putra Prancis kelahiran Parma itu mendapat bola cantik dari Ludovic Blas yang mengelabuhi Giulian Biancone. Tidak ada Kamil Glik disana, pun Benoit Badiashile—sosok yang viral di video karena kena marah Thierry Henry akibat tidak membereskan kursi konferensi pers. Putra Lilian Thuram itupun kemudian memperdaya Diego Benaglio. Gol untuk En Avant de Guingamp.

Tujuh menit kemudian, dengan skema serangan balik yang serupa, Blas kembali mengirim bola cantik. Kali ini, Nolan Roux yang sukses membuat bola melewati Benaglio dan bersarang ke gawang. Dua untuk Guingamp, nol untuk AS Monaco yang merupakan tuan rumah dalam laga papan bawah tersebut. Guingamp, si juru kunci Ligue 1 yang sebelum ini hanya pernah menang sekali di kandang Angers SCO pada pekan ke-8, berhasil menghapus rekor buruk mereka.

Guingamp tetap di dasar klasemen, namun jarak dengan tim diatasnya tinggal sedikit. Ya, tim yang baru mereka taklukkan. Tim yang dua musim lalu adalah jawara Ligue 1. AS Monaco.

Kekalahan dari satu-satunya tim yang berkinerja lebih buruk dari mereka tersebut benar-benar menenggelamkan AS Monaco, tim yang gilang gemilang dalam urusan penjualan pemain di bursa transfer dua tahun belakangan. Kini, AS Monaco yang dua musim lalu adalah juara liga itu terjerembab di peringkat 2 dari bawah dengan 3 kemenangan, 4 imbang, dan 11 kekalahan. Mereka memang punya simpanan 1 laga tunda versus Nice—yang seharusnya bakal seru karena itu berarti Thierry Henry akan ketemu Patrick Vieira—tapi rasanya 1 laga tidaklah signifikan saat ini.

Sebagai gambaran, 11 kekalahan itu merupakan sudah lebih 1 dari total kekalahan yang mereka derita di Ligue 1 pada musim 2015/2016 dan 2016/2017 digabung. Bahkan, kalau merujuk ke era kejayaan rezim Leonardo Jardim, total kekalahan mereka di 2016/2017 dan 2017/2018 hanya 9 kali untuk dua musim sekaligus. Jadi kekalahan ke-11 hanya dari 18 pekan pertandingan itu sungguh betul-betul mengerikan.

Pada tahun 2010/2011 ketika terakhir kali AS Monaco terdegradasi, dalam semusim mereka juga hanya kalah 12 kali dalam semusim. Melihat buruknya performa AS Monaco kemarin, rasanya 1 kekalahan pasti akan diperoleh dalam waktu yang tidak lama. Mungkin akan langsung diperoleh kala melawat ke Marseille untuk membuka tahun 2019.

Terakhir kali AS Monaco tidak ada di 10 besar selepas akhir pekan ke-18 adalah pada tahun mereka terdegradasi. Ketika itu, bermodal 2 kemenangan dan 10 hasil imbang, AS Monaco nangkring di peringkat 18. Ya, masih 1 strip lebih baik dibandingkan AS Monaco musim ini.

Penampilan AS Monaco musim ini memang suram betul. Pasca meraih juara pada saat Paris Saint Germain nan kaya itu agak keteteran di musim perdana Unai Emery, AS Monaco tampak lebih seperti entitas bisnis alih-alih olahraga. Dalam dua musim terakhir, mereka mampu meraih lebih dari 400 juta Poundsterling hanya dari penjualan pemain! Tidak ada tim lain yang lebih untung daripada AS Monaco dalam 2 musim belakangan.

Penjualan Kylian Mbappe memang menyumbang porsi terbesar, kurang lebih sepertiga angka penjualan 2 musim terakhir. Namun dari daftar itu juga terselip Bernardo Silva, Tiemoue Bakayoko, Benjamin Mendy, hingga Fabinho yang dijual dengan harga sangat untung. Bahkan AS Monaco sempat-sempatnya menjual striker yang jarang benar dipakai, Guido Carillo, ke Southampton dan menjadi pembelian termahal sepanjang sejarah di tim semenjana itu.

Ketika pertama kali diambil alih oleh Dmitry Rybolovlev dan keluarganya, Monaco tampak akan menjadi tim serupa Chelsea-nya Roman Abramovich. Sesudah naik ke Ligue 1, Monaco mendatangkan nama besar seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, hingga Joao Moutinho dan Geoffrey Kondogbia. Uang besar ini memang mendatangkan prestasi. Masih diasuh Claudio Ranieri, mereka meraih peringkat kedua dalam status sebagai tim promosi.

Sesudah itu, kursi pelatih diambil alih Jardim yang memang tampak cocok dengan ide bisnis Rybolovlev tapi prestasi tetap jalan. Empat musim Jardim mengasuh AS Monaco, mereka selalu berada di 3 besar dengan 1 kali juara Ligue 1. Prestasi yang betul-betul istimewa.

Model berdagang memang tampak jelas ketika Jardim menjabat. James yang kinclong di Piala Dunia 2014 langsung dilepas ke Real Madrid. Falcao yang psikisnya goyah karena cedera dipinjamkan ke Manchester United dengan fee setara dengan harga beli Tiemoue Bakayoko dari Stade Rennais ditambah sedikit. Betul-betul pintar jualan!

Sosok Jardim harus diakui mampu memberikan kestabilan pada Monaco meskipun setiap musim berganti pemain kunci. Lihat saja, sejak 2014/2015, Monaco telah melepas James dan Falcao. Musim berikutnya, Martial, Kondogbia, Layvin Kurzawa, dan Yannick Carrasco yang pergi. Paling dahsyat adalah musim 2017/2018 pasca juara. Mereka melepas Benjamin Mendy, Silva, Bakayoko, dan terutama Mbappe.

Sepandai-pandainya Jardim mengelola tim, pada akhirnya dia jatuh juga. Betul bahwa sepakbola itu soal datang dan pergi. Masalahnya, Monaco belakangan ini kehilangan kemampuan transfernya. Rekrutan mereka dua musim belakangan nyaris semua flop. Walhasil, sesudah 9 pekan musim ini berjalan, Jardim dipecat untuk digantikan oleh Henry.

Pemain termahal musim lalu yang digadang bisa menggantikan Mbappe, Keita Balde, gagal bersinar. Bintang muda Belgia, Youri Tielemans yang diharapkan menghapus jejak Bernardo Silva juga biasa saja. Terence Kongolo yang diangkut dari Feyenoord saat lagi jaya-jayanya juga tidak memberikan nilai tambah.

Yang lucu, pemain-pemain rekrutan musim lalu itu kebanyakan malah dijual untung oleh Monaco. Jadi, mereka benar-benar tidak menciptakan fondasi baru untuk tim. Lihat saja, Keita Balde dilepas dengan pinjaman seharga 4,5 juta Pound. Rachid Ghezzal yang didatangkan gratis, dilepas ke Leicester City di atas 10 juta Pound. Kongolo? Dilepas ke Huddersfield Town di Liga Inggris bersama Adama Diakhaby. Monaco untuk sekitar 5 juta Pound dari dua pemain ini. Penjualan itu di luar lepasnya para bintang seperti Thomas Lemar (Atletico Madrid), Joao Moutinho (Wolverhampton Wanderers), dan terutama Fabinho (Liverpool).

Pada musim yang suram ini, Monaco melengkapi diri dengan bintang Rusia di Piala Dunia 2018, Aleksandr Golovin. Datang juga sosok muda dalam diri Benjamin Henrichs dan Willem Geubbels. Sosok senior sendiri didapat Monaco dalam diri Nacer Chadli yang diangkut dari West Brom. Seharusnya, musim ini tidak buruk-buruk benar bagi Monaco.

Apa daya, tim ini telah benar-benar kehilangan pondasinya. Ibarat amblasnya jalan di Gubeng, kekuatan Monaco tidak kuat kalau dikeruk terus menerus hingga akhirnya jebol. Rupanya, kehilangan sosok Fabinho jadi cukup krusial. Musim lalu, dengan lepasnya Silva hingga Mbappe, Monaco masih bisa tetap kokoh dan masih jadi runner up. Kini, Kamil Glik (dan Diego Benaglio) benar-benar harus berjuang sendirian bersama bocah-bocah dalam formasi King Henry yang tampak frustasi dengan pemain-pemain lama seperti Jemerson dan Andrea Raggi.

Dalam laga versus Guingamp, Monaco memainkan Glik bersama Badiashile (17 tahun) di tengah. Biancone yang kena tipu bola cantik Blas itu juga baru 18 tahun. Henrichs sendiri baru 21 tahun dan itu lebih tua 3 tahun dari Sofiane Diop yang main di depannya pada sisi kiri lapangan Monaco. Sosok lain di tengah adalah Romain Faivre (20 tahun), Tielemans (21 tahun), dan Youssef Ait Bennasser (22 tahun). Di depan, Falcao ditemani Moussa Sylla (19 tahun).

Buruknya tim ini semakin diperjelas dengan profil (sedikit) gol yang dibuat Monaco di bawah asuhan Henry, utamanya di Ligue 1. Hanya 7 gol dari 9 laga, tiga diantaranya dari titik putih dan satu dari tendangan bebas, plus satu set piece (Kamil Glik vs Dijon). Ya, hanya 2 gol saja yang dicetak dari betul-betul permainan terbuka. Sebuah catatan yang semakin mengenaskan bagi tim yang diasuh striker legendaris.

Henry—yang sebenarnya adalah legenda Arsenal itu—harus putar otak benar-benar untuk menyelamatkan timnya. Diharapkan jadi penyelamat, Henry bisa saja mengulangi nasib Alan Shearer, sesama legenda klub yang justru jadi pelatih yang membawa timnya degradasi. Sebuah beban yang sungguh berat, apalagi untuk seorang manajer newbie yang diminta mengasuh tim doyan jualan.

Pada akhirnya Henry tidak lama menjadi manajer AS Monaco. Dirinya kemudian digantikan lagi oleh Jardim dan kemudian menyelamatkan tim itu dan hingga kini AS Monaco belum lagi bisa kembali pada keajaibannya waktu itu.

Tamu Istimewa dari Nigeria

November 2018, saya sebenarnya diset untuk ikut cerdas cermat kepemiluan di KPU. Tiba-tiba, saya malah dapat penugasan agak absurd. Jadi ceritanya, kantor saya menghelat sebuah konferensi internasional dengan mengundang banyak tamu dari negara-negara Islam di dunia. Eh kok ya, tiba-tiba nama saya ada di daftar Liaison Officer~

Ini perhelatan besar yang membawa nama baik kantor dan negara. Terus saya disuruh memegang satu delegasi dari negara-negara Islam. Pertanyaan pertama saya tentu saja: emang saya bisa? Tapi ya namanya juga PNS, apapun kudu siap. Termasuk tugas yang lumayan menantang ini.

Semakin takjub ketika H-1 penugasan, saya mengetahui bahwa saya akan memegang tamu dari Nigeria. Persoalannya adalah Nigeria merupakan salah satu delegasi terbesar (4 orang). Artinya, saya sendiri harus meng-handle 4 orang Nigeria. Semakin nggak kepikiran.

Dari daftar yang ada saya mendapati bahwa 1 dari 4 nama delegasi adalah orang kedutaan besar. Maka, dengan naik ojol, saya berangkat dari kantor ke Kedubes Nigeria di Kuningan sana. Sebuah pengalaman menarik bahwa saya bisa masuk ke dalam kedutaan bahkan sampai ke ruangan salah seorang petinggi. Kalau tidak salah, orang di bawah Dubes langsung.

Hal pertama yang saya tahu adalah mereka berempat itu tidak berkoordinasi satu sama lain. Ini mulai repot. Lebih repot lagi karena kemudian yang 3 sisanya juga dibagi 2. Pertama, Mr. Umar Musa seorang direktur di NAFDAC. Kedua, Ade dan Umar, saya lupa keduanya dari instansi mana.

Saya sendiri terlambat untuk mengenali Mr. Umar karena tidak terinformasi. Posisinya adalah saya mengetahui belakangan bahwa tamu saya itu sudah di kamar. Dengan nekat dan tentu saja boso enggres pas-pasan ala saya, menelepon langsung ke kamar menjadi alternatif tunggal agar koordinasinya mudah. Bukan apa-apa, bapak ini juga pembicara dalam konferensi. Jadi, saya nggak bisa ngasal mengurusinya.

Dua lainnya, beda urusan pula. Ade dan Umar datang tanpa booking hotel terlebih dahulu. Jadi, saya pertama-tama mengakses hotel yang sudah rekanan dengan panitia terlebih dahulu. Apalagi, mereka datangnya nyaris tengah malam. Itu ya saya tungguin sampai mereka masuk. Bahkan, saya duluin bayarnya, sebab mereka nggak pegang rupiah.

Lha wong baru datang.

Jadi, sepanjang konferensi saya berurusan dengan 4 orang dan 3 sumber kedatangan. Repot sih jelas sekali. Tapi lumayan, gara-gara mengurusi Mr. Umar, saya dapat jatah makan di hotel berbintang dan biasanya jadi langganan penginanan atlet-atlet badminton Denmark kalau main di Indonesia.

Secara umum, kalau menurut testimoni sih mereka puas dengan servis saya. Khusus Ade dan Umar sempat saya antar ke Sarinah untuk cari oleh-oleh, tapi kemudian saya lepas sendiri. Ada begitu banyak obrolan karena dari Senayan ke Sarinah pada sore hari itu macet sekali. Nanti kapan-kapan saya share kalau nggak lupa. Salah satunya sih Ade yang takjub melihat mamang nasi goreng.

Adapun Mr. Umar sang pejabat saya bawa ke Thamrin City untuk belanja-belanja dan habisnya lumayan. Terakhir, saya bawa ke salah satu lapak jamu kondang di dekat kantor dan dia membawa beberapa untuk oleh-oleh.

Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa sepanjang umur saya. Bisa mengakses orang yang langsung berbahasa Inggris, dari negara yang 11-12 dengan Indonesia, para pejabatnya pula. Dan secara umum merekanya juga puas dengan pelayanan saya.

Yha, lumayan~

Tentang Bahan Sosialisasi Pak Sekda

Salah satu hal yang menarik dari persiapan Pilkada tentu saja materi sosialisasi dari para calon. Sebagai orang Tangerang Selatan, yang saya lihat sehari-hari tentu tidak jauh-jauh dari beberapa orang yang siap maju. Beberapa diantaranya adalah Azmi Abubakar, Tomi Patria, Ruhamaben, serta tiga orang yang digadang-gadang sebagai calon paling kuat yaitu Pak Wakil Walikota, Pak Sekda, serta anaknya Pak Wakil Presiden.

Nah, salah satu bahan sosialisasi yang menarik dan sempat beredar di dekat Stasiun Jurangmangu pada bulan Desember 2019 adalah punya Pak Sekda ini. Dalam soal ini, saya rasa tim yang memasang alat peraga ini perlu diberi brief yang lebih jelas.

Pertama, tentu saja karena desainnya yang sangat biasa untuk profil setinggi Pak Sekda. Lebih gawat lagi tentu saja font-nya~ Banyak tim media sosial masa kini menggunakan Canva dan pilihan font-nya tentu jauh lebih mendingan.

Belum lagi penulisan nama dan gelar Pak Sekda yang nyaris tanpa tanda baca. Bpk Drs H itu masing-masing harus diakhiri oleh titik. Demikian pula gelar Pak Sekda itu tidak sembarangan nulis M.si. Kuliah S2 itu susah, coy. Nggak sembarangan lah nulis gelar.

Perihal tagline di paling bawah tentu tidak diragukan lagi. Namanya Sekda tentu merupakan orang yang bukan hanya mengerti, tapi paling mengerti kota tempatnya bertugas. Namun, alat peraga ini justru menimbulkan sedikit pertanyaan di kepala saya.

Begini, jikalau memang Pak Sekda adalah orang yang mengerti kotanya, mestinya tahu bahwa di kotanya itu banyak sekali tempat printing poster dan banner, tidak sedikit pula yang 24 jam bukanya. Di masing-masing tempat itu ada jasa desain pula dan untuk profil setinggi Pak Sekda nggak mungkin juga ditolak walaupun buru-buruk, kan?

Alat peraga yang semacam ini malah kontradiktif sekali. Meskipun tentu saja nggak ngaruh banyak. Pak Sekda, misalnya sudah berhasil mendapatkan rekomendasi dari salah satu partai yang dikenal sebagai partai anak muda. Partai anak muda mendukung Sekda. Sungguh sangat Mata Najwa, bukan?

Sementara calon-calon lain dengan desain poster lebih wow justru kalah kondang. Ya memang, sih, ini kan Pilkada yak, bukan lomba desain alat peraga~ Tidak jauh dari lokasi alat peraga ini, Pak Wakil Walikota petahana punya alat peraga yang lebih besar serta lebih rapi desainnya. Kalau kemudian nanti jadi bersua di medan laga, semoga alat peraganya lebih ciamik lagi ya Bapak-Bapak…

Pilih Nilai atau Nias?

Saya mau cerita agak pribadi sedikit. Alkisah, belasan tahun lalu, saya lulus S1 dengan IP pas-pasan. Kalau saya nggak salah, IPK saya adalah yang paling rendah dari 20-an mahasiswa yang lulus 3,5 tahun. Iya, lulus tapi IP-nya ambyar. Saya kebanyakan sampingan sih ketika S1.

Untunglah saya masih diberi sarana lain untuk memperbaiki diri, yaitu karena ada jalur berikutnya Profesi Apoteker. Saya sangat niat ketika itu. Buktinya, dari seluruh mata kuliah di Semester 1 alias seluruh kuliah teori di program profesi itu, nilai saya hanya A dan B saja. B-nya juga cuma dua. Kalau saya nggak salah, nilai B itu adalah di Compounding and Dispensing serta Etika dan Perundang-undangan.

Sisanya A. Bahkan untuk kuliah CPOB juga A. Saya jadi ada peluang untuk tampil sebagai lulusan terbaik. Lha kan tinggal mengulang 2 ujian saja, kok.

Semuanya tampak baik-baik saja sampai kemudian 2 pekan sebelum ujian saya mendapat penawaran yang sangat menarik tapi penuh dilema. Ya, sebuah peluang untuk mendapatkan pengalaman baru sebagai asisten fasilitator bidang obat dan logistik medis di…

…NIAS!

Selain nilai uang yang sangat lumayan bagi uang saku saya ketika itu, bisa pergi ke Nias juga menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Apalagi, project itu adalah penutup kerja Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Aceh-Nias 2004.

Intinya, sih, kalau saya berangkat ke Nias maka saya melewatkan kesempatan mengikuti 2 ujian ulangan yang berarti akan meniadakan mimpi saya mendapat nilai sempurna untuk semua mata kuliah. Tapi kalau saya menolak kesempatan itu, entah kapan lagi saya akan bisa pergi ke Nias.

Gamang sekali saya ketika itu. Sebuah pilihan menarik hadir ketika saya hendak lulus sekaligus memberi gambaran berbagai pilihan yang ada di depan mata ketika dunia kerja menerjang. Pada akhirnya, di dunia kerja (kecuali PNS) kita kan berhadapan dengan berbagai pilihan. Pindah atau nggak pindah dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, daya tarik untuk ikutan di Nias mengalahkan ambisi saya untuk bisa lulus dengan IP 4. Ketika sedang kuliah lagi sekarang ini saya juga sempat berambisi untuk IP 4, tapi saya realistis saja mosok ya di UI orang seperti saya bisa IP 4. Wkwk. Jadi, saya targetnya yang penting lulus saja.

Yha, 2 bulan kemudian kelulusan, IP saya 3.88 alias memang hanya ada 2 nilai B. Nilai B yang terjadi karena saya tidak mengulang ujian. Sementara yang dipanggil maju adalah teman saya, Rissa, sebagai IP 4. Plus, beberapa teman lain sebagai IP 3.92 alias 1 nilai B. Kalau ada juara tiga ya saya pasti kepanggil, tapi kebetulan nggak ada. Heuheu.

Walau demikian, ambisi itu ditukar dengan berbagai pengalaman menarik dalam kurang lebih 2 pekan saya di Nias. Mulai dari brengseknya birokrasi, enaknya seafood di Nias, bisnis apotek yang sangat menggiurkan, hingga tentu saja sekali-kalinya saya bisa sampai di Teluk Dalam, Nias Selatan. Oh iya, satu lagi, dalam perjalanan Jogja-Nias ini pula saya seumur-umur bisa menikmati kelas Bisnis Garuda Indonesia. Sesuatu yang justru sekarang ketika saya bolak-balik naik Garuda, tidak pernah terjadi lagi. Ketika itu, saya bersebelahan dengan manajernya Eko Patrio. Di kelas yang sama, ada Eko dan Ivan Gunawan.

Hidup itu adalah pilihan dan dalam hal ini antara nilai dengan Nias, saya memilih Nias dan tentu saja saya tidak menyesalinya~

Mengenal Tokoh-Tokoh di Peppa Pig

Saya diperkenalkan tokoh Peppa Pig oleh Mama Isto. Baginya, Peppa Pig adalah pilihan terbaik untuk memperkenalkan Bahasa Inggris kepada anak karena selain ceritanya nggak ribet-ribet amat, yang paling penting adalah pelafalannya sangat british. Sebagai lulusan Inggris, hal itu cukup krusial buatnya.

Kebetulan seminggu ini anak saya lagi doyan-doyannya nonton Peppa. Mengulang kondisi setahun lalu ketika awal mula diperkenalkan.

Melalui posting ini, saya mau memperkenalkan tokoh-tokoh dalam Peppa Pig. Rasanya Peppa Pig nggak akan diadaptasi ke Indonesia, soalnya babi. Ngok.

Klaster Babi

Tokoh utama tentu saja Peppa Pig, babi muda berusia 4 tahun yang hidup dengan Daddy Pig, Mummy Pig, dan adiknya George. Peppa gemar bermain dengan sohibnya Suzy Sheep. Peppa dikenal suka lompat-lompat di lumpur. Ya, namanya juga babi.

George Pig sendiri berusia 18 bulan dan paling suka dengan mainan dinosaurus hijaunya dan dibawa kemanapun. Sedangkan Mummy Pig adalah ibu-ibu babi yang work from home dengan komputernya. Secara umum, Mummy Pig lebih bijak daripada Daddy Pig. Sebab, Daddy Pig adalah bapak-bapak babi selow dan ketawa-ketawa mulu kayak kebanyakan utang. Suka naik mobil dan takut ketinggian.

Keluarga babi-babian lain adalah Granny Pig yang sebagaimana eyang-eyang lainnya, eyang babi yang satu ini suka memasak untuk cucunya. Oh, juga memelihara ayam. Granny Pig hidup bersama Grandpa Pig, yang merupakan salah satu tokoh favorit saya di Peppa Pig. Rajin menanam sayur-sayuran serta suka berlayar walaupun ngawur.

Aunty Pig dan Uncle Pig adalah klaster lain dari babi-babian. Aunty Pig dan Uncle Pig adalah orangtua dari Chloe Pig dan Baby Alexander. Uncle Pig sendiri adalah adiknya Daddy Pig. Uncle Pig identik dengan brewoknya. Chloe sendiri agak lebih tua daripada Peppa karena umurnya 9 tahun.

Klaster Rabbit

Daddy Rabbit sering disebut juga Mr. Rabbit, identik dengan aksen Wales-nya. Daddy Rabbit adalah bapaknya Rebbeca Rabbit, Richard Rabbit, Rosie Rabbit, dan Robbie Rabbit. Sebagaimana kelinci di dunia nyata: anaknya banyak. Mr. Rabbit adalah konco kenthel-nya Daddy Pig.

Istrinya Mr. Rabbit adalah Mummy Rabbit yang merupakan ibu rumah tangga sejati. Mummy Rabbit adalah kembarannya Miss Rabbit. Miss Rabit ini pekerjaannya paling absurd. Nyupir iya, jadi kasir juga iya. Atau kalau rajin mengikuti Peppa Pig, maka kita akan melihat bahwa Miss Rabbit ini betul-betul bekerja serabutan! Nyupir bis iya, jaga es krim iya, jaga perpus iya, kasir tadi sudah dibilang iya, pemadam kebakaran juga, penerbang helikopter juga dilakoni, bisa juga nyupir kereta api. Miss Rabbit dan Mummy Rabbit adalah anak dari Grampy Rabbit.

Grampy Rabbit adalah rabbit petualang yang eksentrik dan muncul dalam beragam episode absurd di Peppa Pig. Sempat ditunjukkan bahwa dia hidup di mercusuar. Iye, nggak paham juga gimana kelinci bisa lebih suka hidup di laut.

Adapun sepantaran Peppa-nya adalah Rebecca Rabbit. Teman baiknya Peppa dan kakaknya Richard plus si kembar Rosie-Robbie. Tetanggaan lubang dengan Molly Mole dan ya namanya kelinci, suka wortel.

Richard Rabbit sendiri adalah kalangan kecil yang kurang lebih setara George Pig dan Edmond Elephant. Umurnya ya sama, 2 tahun. Kalau si kembar umurnya masih nol, jadi betul-betul bayi seutuhnya.

Klaster Dog

Strukturnya sama, dimulai dari Granddad Dog dan Granny Dog. Granddad Dog ini teman-teman gimana gitu sama Grandpa Pig. Nggak jelas sebenarnya dia bapaknya Daddy Dog atau Mummy Dog. Yang jelas, Danny Dog adalah cucunya.

Granny Dog sendiri nyaris embuh karena jarang sekali muncul. Sementara Daddy Dog alias Captain Dog adalah pelaut. Mummy Dog juga terbilang jarang muncul cuma kurang lebih ya seperti mamak-mamak yang lain, baik dan sopan.

Mungkin klaster Dog ini agak patriaki karena yang tampil yang cowok-cowok saja. Danny Dog sebagai cucu juga terbilang sering muncul. Anjing berusia 4 tahun ini sering membantu Granddad Dog di garasinya serta ingin menjadi pelaut seperti Captain Daddy Dog.

Klaster Zebra

Tentunya dimulai dari Daddy Zebra dan Mummy Zebra. Ada Zoe Zebra, anak tertua dan adiknya Zuzu-Zaza. Zuzu dan Zaza adalah anak kembar berumur 2 tahun. Daddy Zebra atau Mr. Zebra adalah seekor tukang pos. Zoe sendiri sering membantu bapaknya. Adapun Mummy Zebra sering samaan dengan Mrs. Cow~

Sekian dulu, klaster hewan lainnya akan disambung pada post berikutnya. Tabik!

3 Atlet Bulutangkis Yang Wajib Dibuatkan Film Sesudah Susi Susanti

Dari sekian banyak olahraga yang beredar di Indonesia, harus diakui bahwa bulutangkis adalah olahraga yang konsisten dengan prestasinya sejak dulu kala. Kalaulah ada yang menemani dari sisi penyediaan prestasi tingkat dunia, mungkin angkat besi saja yang bisa. Paling terkenang tentu saja di London tahun 2012 ketika Triyatno meraih perak dan Eko Yuli Irawan bawa pulang perunggu Olimpiade. Pada tahun itu, bulutangkis Indonesia gagal total tanpa medali sama sekali.

Maka tidak heran jika bulutangkis menjadi topik menarik untuk dibuatkan filmnya. Film yang cukup kondang dari ranah bulutangkis adalah ‘KING’ yang begitu diingat pada zaman sekarang karena menampilkan Jonatan Christie dan Kevin Sanjaya cilik.

Begitulah. Indonesia itu sangat bisa bersatu ketika olahraga, kala lawannya adalah negara lain dan bulutangkis adalah salah satu cabang yang bisa menjanjikan kemenangan. Terbukti ketika cebong dan kampret bersatu padu membela negeri di Asian Games 2018. Eh, sekarang cebong sama kampret apa kabar, ya?

Pada 24 Oktober 2019 lalu, giliran film ‘Susi Susanti’ yang tayang. Harus diakui, Susy Susanti—yang benar adalah pakai ‘y’—adalah salah satu nama yang nyaris selalu mewarnai prestasi Indonesia sejak akhir 1980-an. Susy belia memperpanjang nafas Indonesia di Piala Sudirman 1989 setelah menang 12-10 di game kedua atas Lee Young-suk, untuk kemudian menang dengan skor afrika 11-0 di game penentuan. Dua laga selanjutnya direbut Indonesia dan itu adalah pertama kali dan hingga kini satu-satunya momen Indonesia memenangi Piala Sudirman.

Gold Medal Indonesia GIF - Find & Share on GIPHY

Susy juga peraih medali emas perdana Indonesia di kancah Olimpiade sesudah mengalahkan Bang Soo-hyun di final. Alan Budikusuma—suaminya—juga adalah peraih medali emas, tapi rasanya agak berbeda karena yang dilawan di final adalah teman sendiri. Selain itu, Susy juga turut membawa pulang Piala Uber ke Indonesia pada 1994 dan 1996 setelah lama sekali piala itu tidak mampir dan sampai sekarang ya nggak mampir-mampir lagi.

Begitu sekarang jadi perpanjangan tangan Wiranto di lapangan sebagai Kabid Binpres, Susy juga menjadi orang Indonesia pertama yang memegang Piala Suhandinata, sebelum menyerahkannya ke Febriana Dwipuji Kusuma dan Leo Rolly Carnando. Yes, belum lama ini, Susy menjadi manajer tim Indonesia pada Kejuaraan Dunia Junior 2019 yang berlangsung di Kazan.

Dengan begitu harumnya nama Indonesia di kancah bulutangkis, sesungguhnya masih ada deretan atlet lain yang punya potensi untuk dibuatkan film dan punya potensi laris manis di pasaran.

Taufik Hidayat

Kalau Susy meraih medali emas di Olimpiade 1992, maka Taufik Hidayat adalah peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena. Sejak 1992 dan selain 2012, Indonesia memang selalu meraih satu medali emas dan selalu dari bulutangkis. Taufik remaja mulai dikenal publik sesudah turut serta dalam tim di Asian Games 1998 yang meraih medali emas beregu putra.

Taufik Hidayat Smash 2 GIF | Gfycat

Soal kontroversi untuk dijadikan film, tentu saja Taufik punya banyak kisah. Dengan sederet prestasinya, Taufik yang sangat dikenal dengan backhand mematikan tersebut sempat berada dalam suasana kisruh dengan PBSI antara lain terkait dengan sosok pelatihnya, Mulyo Handoyo. Sampai sekarang hampir berumur 40 tahun dan terjun ke politik, Taufik juga dikenal dengan komentar-komentar pedasnya terutama untuk sektor tunggal putra.

Sebagai sosok bergelimang gelar, tentu saja setiap kritik dari legenda akan jadi pembahasan. Salah satu yang paling dikenang adalah dalam waktu singkat sesudah dikritik Taufik, dua tunggal putra andalan Indonesia, Anthony Ginting dan Jojo langsung bikin all-Indonesian final di Australia.

Dengan segala kontroversi yang melekat tapi tampang yang sangat baik-baik, Iqbaal Ramadhan adalah tokoh yang cocok untuk memerankan Taufik Hidayat.

Hendra Setiawan

Dewa Hendra adalah idaman kita semua dengan seluruh gelar yang sudah diraih dalam dua periode keemasan dan tiga kali keluar Pelatnas Cipayung. Julukan ‘Dewa’ sendiri bahkan diberikan oleh netizen Tiongkok yang sudah terlalu pasrah jika andalan mereka ketemu Hendra di lapangan.

Juara Dunia, Ahsan/Hendra Masih Sulit Samai Catatan 2013
Sumber: CNN Indonesia

Hendra juga sekarang sedang jadi kesayangan netizen pasca dua gelar bergengsi, All England dan Kejuaraan Dunia, pada tahun 2019, berikut lima kali bikin all-Indonesian Final bareng Minions, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang bikin netizen Indonesia bisa selalu jumawa pada tiap kejuaraan.

Film tentang Hendra Setiawan juga dijamin laku seiring kemunculan akun ‘Hendra Setiawan’ di YouTube dengan subscriber sudah puluhan ribu. Belum setara Atta Halilintar, sih, tapi pertambahan subscriber-nya terbilang eksponensial untuk sebuah akun yang foto profilnya saja masih huruf H.

Nama Ernest Prakasa adalah tokoh yang cocok untuk menggarap film ini sekaligus jadi bintang utama. Alasan utamanya adalah Ernest selalu menggarap film dengan konsep berbeda dan biopik sejenis Susi Susanti yang dikerjakan oleh Daniel Mananta belum ada dalam daftar karyanya.

Fitriani

Sejak Susy pensiun dan kemudian disusul pindahnya Mia Audina ke Belanda. Indonesi nyaris tidak punya tunggal putri yang mumpuni. Secara kebetulan pula Fitriani muncul pada saat yang salah, di era netizen dengan komentar tanpa adab.

Fitriani ikut di Piala Uber 2016 dalam usia 18 tahun, langsung jadi tunggal kedua sesudah Maria Febe Kusumastuti. Pada tahun itu dan sebenarnya sampai sekarang, sektor putri Indonesia masih agak bermasalah. Karena adanya cuma Fitri, maka dalam periode sejak 2016 itu hingga munculnya Gregoria Mariska Tunjung, Fitri hampir selalu dikirim ke berbagai kejuaraan internasional dan hampir selalu kalah di putaran pertama atau kedua.

Fitri muncul bersamaan dengan ramainya akun bulutangkis di media sosial sekaligus kelahiran Minions. Jadi, satu rombongan Indonesia ke kejuaraan manapun akan selalu diperhatikan, termasuk ketika nyaris selalu hanya sisa Minions di hari Minggu dengan Fitriani yang selalu kalah di awal.

Kondisi itu bikin Fitriani selalu jadi korban perundungan kejamnya netizen—yang sebenarnya kalau dites bisa servis dengan baik atau tidak ya paling belum tentu bisa. Padahal, ya kondisinya Fitriani dikirim karena yang bisa dikirim memang cuma dia. Dan kalaupun kalah, ya namanya juga atlet muda. Nggak semua atlet muda bisa semoncer Susy Susanti atau An Se-young, atlet remaja Korea yang tahun ini lagi gila-gilanya.

Fitriani baru dapat teman sesama dirundung netizen pasca Jorji naik kelas ke senior. Jorji menjadi lebih seksi untuk dirundung karena dia naik dengan status juara dunia junior tunggal putri dan punya pacar artis. Jorji dalam setahun sukses menyalip Fitriani namun penampilannya cenderung menurun tahun 2019 ini. Sementara itu, Fitriani sempat menghentak netizen julid lewat gelar di Thailand Masters pada awal tahun 2019. Gelar pertama di sektor tunggal putri sesudah sekian purnama.

Resep Fitriani Juarai Thailand Masters 2019 - Ragam Bola.com

Sebelum dibikin film, sebenarnya sinetron azab lebih dahulu bisa dibuat untuk konteks Fitriani. Tentunya jalan ceritanya menyangkut para netizen kejam di komentar-komentar Instagram dan livechat streaming di YouTube. Beberapa usulan saya adalah “Sering Nanya Fitriani Kapan Main, Seorang Netizen Meledak Karena Ditanya Kapan Nikah” atau “Azab Menyuruh Fitriani Ngulek Bawang di Dapur, Seorang Netizen Pingsan Ketiban Ulekan”.

Seriusan, khusus Fitriani, perundungan di linimasa itu sangat kejam. Untungnya, Fitriani sendiri tidak punya media sosial dan sebagaimana testimoni Putri KW, Fitriani adalah atlet senior yang paling rajin saat latihan.

Kalau ada aktris yang bisa dicoba untuk memerankan Fitri, kemungkinan adalah Rina Nose. Pertama-tama tentu karena Rina adalah aktris yang tabah luar biasa dalam menjawab komentar-komentar tidak beradab di media sosialnya.

Segitu dulu. Jangan tanya soal Kevin atau Jojo, yha. Nanti kapan-kapan tentu ada pembahasannya.

Corona yang Mengembalikan Fungsi Orang Tua

Sekolah-sekolah di banyak tempat ditiadakan. Bukan libur, melainkan belajar dari rumah. Berhubung ini era modern, maka belajarnya juga menggunakan yang online-online. Dalam 2 hari awal saja, KPAI langsung turun tangan sebagai orang-orang tua yang merasa mewakili anak-anak. Katanya, banyak siswa stres selama program belajar di (atau dari?) rumah. Sementara belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kaget bahwa di Indonesia banyak yang belum punya listrik apalagi televisi.

Nadiem Makarim Investigasi Ambruknya Bangunan Sekolah di Pasuruan ...
Sumber: NET Z

KPAI kayaknya belum tahu, bahwa orang tua justru lebih stres. Sebagian teman-teman saya yang mamak-mamak, menuju hipertensi hanya dalam sepekan. Sebagian lainnya mulai merasa bahwa program belajar dari rumah ini bisa bikin renggang hubungan dengan anak. Soalnya sepanjang waktu si orangtua bertensi tinggi terus sama anaknya.

Seorang teman, PNS yang sedang kuliah alias tugas belajar, punya 2 anak yang masih SD dan dua-duanya terkena program belajar dari rumah. Jadwalnya, astaganaga, padat betul. Aslinya mirip dengan sekolah, hanya saja gurunya ada nun jauh di sana, dilengkapi dengan tugas-tugas yang bikin stress itu tadi.

Nah, ini juga musim Ujian Tengah Semester (UTS). Saya lalu bertanya kepada teman tersebut, “tugas kuliahmu bagaimana, Mbak?”

Jawabannya tentu saja: TIDAK TERPEGANG.

Stressed GIF by SpongeBob SquarePants - Find & Share on GIPHY

Yha, selama ini kesehariannya adalah mengantar anak ke sekolah, lantas menuju kampus untuk kuliah atau sesekali mlipir ke kafe untuk mengerjakan tugas. Si anak ada di sekolah, bersama gurunya, jadi dia bisa fokus kuliah dan garap paper.

Sekarang? Selain masak dan mengurus rumah, dirinya harus mengelola dua anak SD dalam pembelajaran jarak jauh, sementara dirinya sendiri juga harus kuliah jarak jauh. Belum termasuk tugas paper yang mendekati tenggatnya.

Saya sih belum mengalami kondisi seperti itu. Anak saya baru 2 tahun lebih banyak. Hanya saja, paralel dengan sekolah, daycare anak saya juga ikutan tutup. Sementara istri saya adalah pekerja rumah sakit. Musim COVID-19 ini justru adalah medan perang baginya. Walhasil, saya yang sedang kuliah ini juga harus mengasuh bayi sembari mengerjakan tugas dan tentu saja harus nongol di kamera dalam perkuliahan jarak jauh.

OK COMPUTER SOLUTION: MASALAH KEYBOARD TAK BOLEH TEKAN | REPAIR ...

Kadang-kadang saya membatin, alangkah kuatnya para aunty pengasuh anak saya di daycare. Dengan 12 anak, aunty hanya berempat. Saya anak satu, anak sendiri pula, kadang naik darah dengan kelakuannya, bagaimana dengan para aunty?

Hal yang sama juga terjadi pada hubungan orangtua dan guru. Dengan anak belajar di rumah, orangtua jadi tahu bagaimana keseharian anak sebenarnya ketika belajar dan mendapati tugas-tugas. Biasanya kan selama berjam-jam anak dilepas bersama guru. Beberapa guru senior bahkan bilang, “Lha, baru 3 hari sudah naik darah? Kami lho 3 tahun bersama mereka.”

Problematika serupa tentu juga dirasakan para pelaku Work from Home (WFH). Bekerja di rumah itu jelas auranya beda. Sudahlah auranya mager—namanya juga di rumah—eh ada anak juga yang harus ditongkrongi belajarnya, pekerjaan sendiri juga harus diselesaikan. WFH kalau dijodohkan sama School from Home (SFH) kayaknya jadinya adalah WTF.

Belum lagi paket data yang harus disediakan. Dalam kasus saya, paket data itu harus dikali dua karena harus standby YouTube BabyBus, Pinkfong, maupun Tayo untuk sang buah hati.

Tayo Gif GIF | Gfycat

Dilema juga dirasakan para guru dan dosen. Sebagian guru tetap disuruh masuk ketika muridnya libur dan mereka menggelar pembelajaran jarak jauh dari kantor. Para guru itu kemudian bikin soal pilihan ganda yang cukup viral perihal alasan guru tetap disuruh masuk ketika pandemi Covid-19 dengan pilihan antara lain: guru adalah virus Corona itu sendiri, guru adalah profesi yang kebal virus Corona, serta guru termasuk umbi-umbian.

Bagi para guru dan dosen yang bisa bekerja di rumah, perkaranya juga tidak mudah. Kalau dosen S2 okelah, rata-rata kan beasiswa atau orang-orang bekerja yang kuliah lagi. Sederhannya, punya duit. Beda kasus dengan dosen anak D3 dan S1 yang notabene sebagian mahasiswanya adalah anak kosan yang paket internetnya harian dan biasanya sepanjang waktu juga mengadalkan WiFi Kampus. Kalau harus pembelajaran dari rumah, repotnya setengah mati karena nggak semua mahasiswa cukup mampu untuk menyediakan paket data yang memadai untuk konsep kuliah tatap layar.

Kalau KPAI bilang banyak anak stres, percayalah bahwa kalau ada Komisi Perlindungan Orangtua Indonesia, maka ada banyak orangtua yang juga stres, ya karena faktor pekerjaan, faktor anak-anak juga. Jadi, ya sama saja.

Akan tetapi, kita pada akhirnya kembali pada fitrah. Bukankah seharusnya belajar anak itu adalah tanggung jawab orangtua? Dalam konteks saya yang anaknya masih batita, bukankah memang mengasuh anak sehari-hari juga adalah tugas orangtua?

Kala anak saya nongol di layar ketika kuliah sedang berlangsung, saya kemudian menyadari bahwa ya beginilah konsekuensi menjadi pekerja atau mahasiswa sekaligus menjadi orangtua. Jika selama ini saya lebih banyak menyerahkan tumbuh kembang anak ke aunty sementara saya santai garap tugas di kafe, kini sayalah yang sepanjang waktu bertanggung jawab pada perkembangan buah hati sendiri. Sulit? Pasti.

Tapi bukankah dalam kondisi sekarang, hanya ini yang bisa dilakukan?

Semoga sesudah semuanya ini berakhir, nggak ada lagi orangtua yang ngamuk-ngamuk ke guru kalau mendengar kabar anaknya didisiplinkan, karena sudah tahu benar bahwa dirinya sudah naik darah duluan dengan kelakuan anaknya ketika belajar.

5 Hal Krusial Jika Jadi Penampung Dalam Penggalangan Dana

Saya baru menyelesaikan sebuah penggalangan dana kecil-kecilan, hasil pembahasan dengan beberapa teman. Dalam penggalangan ini, rekening saya jadi penampungnya. Artinya, ini kali kedua saya mengurusi penggalangan dana. Yang pertama bahkan cukup masif. Ketika itu seorang teman terkena kanker dan atas inisiatif pribadi, saya dan beberapa teman melakukan penggalangan dana. Meskipun begitu membesuk sang teman, kami malah dimarahi.

Ya, sang teman bukanlah orang yang susah-susah amat. Tapi ya tetap saja namanya teman gitu lho.

Belajar dari pengalaman itu, maka melalui tulisan ini saya mencoba membagikan beberapa hal penting agar bisa menjadi penampung dalam penggalangan dana yang baik dan benar.

Itu Uang Orang

Dalam penggalangan dana yang pertama itu posisi saya masih CPNS dan belum gajian 3 bulan. Gaji swasta saya sudah mau tamat pula. Terus kebayang dong uang puluhan juta masih ke rekening dalam waktu sepekan. Pengen digesek saja rasanya.

Untuk itu, pertama-tama yang harus kita ingat bahwa uang itu adalah uang orang lain yang justru dipercayakan kepada kita. Saya selalu percaya bahwa integritas itu mahal nilainya. Ketika kita jadi penampung dan kitanya ambyar, ya sampai mati boleh jadi kita nggak akan dipercaya.

Akuntabel

Dalam dua penggalangan dana itu, teman yang sama-sama menggalang sama sekali tidak mengecek datanya. Jadi, semua dipercayakan kepada saya. Untuk itu, secara berkala lakukanlah update, tanpa diminta! Tapi, sebaiknya ngupdatenya adalah nama saja, lalu kemudian nominalnya boleh tapi cukup total atau urutan bisa cuma diacak lagi sehingga nggak ketahuan yang punya nama itu nyumbang berapa. Biarlah itu menjadi data di kita saja, plus tidak perlu juga disebar-sebarkan lagi.

Untuk bisa akuntabel, tentu pencatatan harus lengkap. Jadi secara berkala saya buat di Google Sheet sehingga saya bisa melakukan update dimanapun, plus kalau ada teman sepenggalangan butuh datanya segera bisa di-share.

Kalau Bisa Rekening Kosong

Kebetulan sekali, saya itu dari dulu hobi punya rekening banyak walaupun uangnya nggak banyak. Bisa dicek di LHKPN uang saya berapa. Haha. Tapi, saya punya rekening pernah sampai 13 biji. Sekarang sih–karena ada wajib lapor LHKPN saya baru ngerasa ribetnya punya rekening banyak–jadi hanya tinggal beberapa saja.

Nah, kalau bisa untuk penggalangan dana ini pakailah rekening yang kosong alias nggak campur dengan uang pribadi kita. Kalau dulu kan pas CPNS jadi BCA saya buat gaji di swasta sudah idle, rekening itu yang saya pakai. Demikian pula sekarang BCA itu juga buat nampung orderan postingan yang seret sekali di musim pandemi, jadi saya pakai lagi. Sementara rekening pribadi saya di Mandiri, yang untuk mengelola gaji dan tunjangan, tidak digunakan untuk penggalangan dana.

Ada Internet Banking

Karena updatenya akan sangat cepat, maka kita butuh internet banking. Masalahnya, ada sebagian rekening lawas yang kadang sengaja nggak dibuat internet bankingnya dengan berbagai alasan. Kalau ada rekening seperti itu, walaupun kosong ya jangan dipakai. Internet Banking itu diperlukan untuk bisa akuntabel.

Kubu BCA, Kubu Mandiri

Jadi kalau dulu nih mazhabnya dua. BCA sama Mandiri. Karena memang kedua bank itu tahun 2014 kayaknya belum terhubung. Dulu saya bahkan punya BRI demi bisa menghubungkan kedua bank ini. Jadi, kalau bisa sih penggalangan dana juga relevan dengan kedua kubu ini. Sebisa mungkin lebih dari 1 rekening. Itu sebenarnya akan lebih meningkatkan potensi orang nyumbang.

Sekali lagi, jadi penampung dan pengelola itu ujian integritas. Karena ketika ada yang menyumbang sejuta dan nggak dicek, kita lapor ke teman-teman bahwa sumbangannya 800 ribu, sementara 200 ribu buat beli pulsa, misalnya, bisa-bisa saja. Tapi tentu saja, ora ilok, kata orang Klaten.

Segitu dulu, yha. Bhay!

Beberapa Bentuk Kekristenan

Ini ceritanya saya sedang ikutan course di edX yang berjudul Christianity Through Its Scriptures. Salah satu materinya adalah tentang rupa-rupa bentuk kekristenan. Bagi yang takut kristenisasi bisa meninggalkan posting ini dalam 3..2..1…

Gereja Ortodoks

Keluarga gereja-gereja Timur, yang sekarang disebut Gereja Ortodoks Oriental dan Gereja Ortodoks Timur, kembali ke periode awal Kekristenan. Selama empat abad pertama, Kekristenan telah menyebar tidak hanya ke Kekaisaran Romawi dan Bizantium, tetapi juga ke Timur Tengah saat ini, Afrika Utara, dan India. Setelah Konsili Khalsedon pada tahun 451, kontroversi kristologis yang dipimpin oleh Nestorius dan Cyril memberi pengaruh pada perpecahan besar pertama di gereja. Sekelompok komunitas yang akhirnya dikenal sebagai Gereja Ortodoks Oriental menolak dekrit bahwa sifat Kristus dipersatukan sebagai satu, alih-alih mempromosikan gagasan bahwa sifat-sifat manusiawi dan ilahi Kristus tetap berbeda. Orang-orang Kristen di Mesir, Etiopia, Suriah, Armenia, India, Irak, dan Iran secara formal mengikuti orang-orang ini ke dalam perpecahan atau diam-diam jatuh dari radar Yunani-Romawi karena jarak yang jauh dan medan yang sulit. Lebih jauh lagi, pada abad-abad berikutnya, kerenggangan yang tumbuh antara orang-orang Kristen Roma dan Yunani pada akhirnya menyebabkan perpecahan besar kedua tahun 1054, dengan memuncak dalam suatu krisis ketika Paus Roma dan Patriark Konstantinopel saling berkomunikasi satu sama lain. Lembaga-lembaga yang dipimpin oleh masing-masing dikenal masing-masing sebagai Gereja Katolik (Romawi) dan Gereja Ortodoks (Timur).

Sumber: Comintour.com

Teologi dan liturgi khas gereja-gereja Ortodoks terus berkembang menjadi abad kedua puluh satu. Salah satu sikap teologis yang khas dari peristiwa Kristus menurut perspektif Ortodoks adalah penekanan pada inkarnasi Kristus sebagai sarana untuk meningkatkan sifat manusia kepada Yang Ilahi. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Athanasius pada abad keempat, “Anak Allah menjadi manusia sehingga manusia bisa menjadi Allah.” Penekanan “menjadi ilahi” ini sangat kontras dengan penekanan besar pada keberdosaan manusia yang hadir dalam banyak teologi gereja-gereja Barat.

Sebagai bagian dari tradisi spiritual dan liturgis yang kaya, gereja-gereja Ortodoks juga mengembangkan penggunaan ikon bergambar Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus. Ikon-ikon ini dipahami sebagai jendela ke makna sakral dan kehadiran tokoh-tokoh ini, bukan sekadar representasi mereka. Konsili Nicea yang kedua pada tahun 787 menegaskan peran ikon dalam menghadapi kritik pedas dari orang-orang yang keberatan dengan citra visual dalam ibadat.

Selama abad ketujuh, agama Kristen menghadapi tantangan Islam, sebuah tradisi agama baru yang berkembang di Palestina, Suriah, dan Mesir, dan dari Anatolia ke Spanyol. Kuil besar Kubah Batu selesai dibangun di Yerusalem pada tahun 692. Delapan abad kemudian, Kekaisaran Bizantium, yang berpusat di Konstantinopel, jatuh ke tangan orang Turki Ottoman pada tahun 1453. Pusat-pusat besar Ortodoks, termasuk Konstantinopel, menjadi pusat pemerintahan Islam, dan gereja-gereja agungnya menjadi masjid. Selama ratusan tahun, perjumpaan dengan Islam sangat penting dan mendesak untuk gereja-gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Timur.

Saat ini, gereja-gereja Ortodoks Timur membentuk keluarga gereja terkait, termasuk gereja-gereja Yunani, Rusia, Bulgaria, Rumania, dan Suriah, masing-masing dengan sejarah yang kaya dan bentuk-bentuk liturgi yang khas. Gereja-gereja Ortodoks Oriental termasuk Gereja Apostolik Armenia, Gereja Koptik Mesir, Gereja Eritrea, Gereja St. Thomas di India, dan Gereja Antiokhia Syria di Jacobite.

Sumber: ABC Australia

Katolik Roma

Orang-orang Kristen awal berbicara tentang gerakan mereka sebagai “katolik”, sebuah kata yang berarti “universal.” Saat ini, gereja-gereja Kristen masih menegaskan “satu gereja suci, katolik, dan apostolik” tetapi istilah Katolik dengan huruf besar “K” juga berlaku dalam bahasa yang sama dengan Gereja-gereja di dalam Komuni Katolik, yang berpusat di Roma. Umat ​​Kristen sudah dapat ditemukan di Roma pada abad pertama. Gereja Roma mengklaimnya didirikan oleh para rasul Petrus dan Paulus pada abad pertama. Ketika itu berkembang, penekanannya pada otoritas pusat dan keutamaan uskup Roma, Paus.

Sumber: Catholic Virginian

Menjelang abad kesebelas, Gereja Katolik memutuskan hubungan dengan Gereja Bizantium di Timur karena masalah otoritas dan doktrin, meskipun beberapa upaya telah dilakukan untuk memulihkan persatuan dan untuk menyembuhkan luka-luka perpecahan di antara Gereja-Gereja. Pada awal abad ke-15, misalnya, banyak orang di Gereja Roma menganggap invasi Turki terhadap Kekaisaran Bizantium sebagai “karya” untuk mengikat kekristenan yang terpecah menjadi satu. Sebagai tanggapan, Konsili Florence membayangkan persatuan dalam skala muluk tidak hanya dengan gereja-gereja Bizantium Yunani tetapi juga dengan orang-orang Koptik, Etiopia, Armenia, dan Nestoria. Meskipun ada hampir 700 perwakilan Timur dan 360 perwakilan Latin dan debat yang terjadi kemudian, reuni tidak tercapai.

Sementara itu, gereja yang didominasi Romawi terus mengembangkan tradisi monastik yang kuat yang dimulai dengan Benediktus (480-550) yang menulis “Aturan St. Benediktus” di mana ia menggambarkan prinsip-prinsip doa, pekerjaan, dan studi yang penting untuk kehidupan biara. Bahkan di awal abad ke-21, dokumen ini terus menjadi dasar bagi kehidupan komunitas Benediktin di seluruh dunia. Banyak misionaris gereja adalah para biarawan. Pada awal Abad Pertengahan, biara-biara Benediktin menjadi pemilik tanah besar dan kekuatan kuat dalam ekonomi lokal. Melalui kekacauan Abad Pertengahan, setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, mereka memainkan peran penting dalam menjaga kehidupan spiritual, artistik, dan intelektual gereja.

Pada abad kedua belas, ordo-ordo lain berkembang yang menolak kehidupan biara yang tertutup dan terkadang kaya, dipisahkan dari masyarakat. Model komunitas Kristen yang lebih terlibat pada masyarakat lebih disukai. Fransiskus dari Assisi (1182-1226) dan ordo Fransiskan menekankan kemiskinan, kesederhanaan, dan pelayanan individual dan komunal. Poinnya tidak terpisah dari orang-orang, tetapi di antara mereka. Dominikus (1170-1221) dan ordo Dominikan menekankan pendidikan, khotbah, dan pengajaran. Para anggota ordo ini juga sering reformis, menyerukan pembaruan monastisisme dan gereja secara keseluruhan.

Pada abad ke-16, sebuah gerakan yang disebut Reformasi Protestan memicu “Kontra-Reformasi” Katolik. Konsili Trente (1545-1563) diikuti dengan reformasi praktik korupsi di dalam Gereja Katolik dan menegaskan kembali otoritas Gereja Katolik Roma yang terlihat, hierarkis, dan terstruktur. Periode pembaruan Katolik ini membangkitkan kembali semangat pendidikan dan misi dari gereja dengan pendirian Serikat Yesus, juga disebut Yesuit, yang didirikan oleh Ignatius Loyola (1491-1556).

JRS

Saat ini, Katolik berpusat di Vatikan di Roma, tetapi sinode-sinode, konsili para uskup, dan paroki-paroki setempat menjalankan kehidupan dan karya gereja di setiap benua. Sekitar setengah dari orang Kristen di dunia adalah Katolik. Konsili Vatikan II menganggap serius peran baru gereja di dunia modern. Di antara banyak keputusan Dewan adalah untuk meninggalkan massa yang didominasi Latin mendukung ibadah dalam bahasa dan dalam bentuk budaya masyarakat setempat. Fokus lain adalah pada keterbukaan baru terhadap tradisi agama lain sebagaimana diwakili dalam dokumen Nostra Aetate (In Our Time). Fokus ketiga adalah bagaimana gereja harus menekankan tidak hanya khotbah dan sakramen, tetapi misi yang kuat untuk orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Kekristenan Ethiopia

Sumber: ancient-origins.net

Kekristenan datang ke Ethiopia pada abad-abad awal, dan indikasi dari sejarah yang luas ini dapat ditelusuri ke tulisan suci Kristen. Menurut tradisi Etiopia, Ratu Sheba yang mengunjungi Raja Salomo adalah orang Etiopia, yang dengannya ia memiliki seorang putra. Melalui dia, garis kekuasaan raja didirikan yang mengikat Etiopia dengan garis kerajaan Daud. Selain itu, tulisan suci memberi tahu seorang pejabat pengadilan dari Ethiopia mengunjungi Yerusalem dan dalam perjalanan pulang menemui rasul Filipus. Ia menerima pesan Filipus tentang Yesus, dibaptis, dan, menurut tradisi Ethiopia, menyebarkan iman ini ketika ia kembali ke rumah. Pada abad keempat, agama Kristen telah mapan, dan akhirnya, berbagai tulisan Kristen diterjemahkan ke dalam Ge’ez, bahasa klasik yang masih merupakan bahasa liturgi Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia. Orang-orang Kristen Ethiopia percaya bahwa kemanusiaan dan keilahian Yesus tercakup dalam satu sifat ilahi, dan posisi teologis ini tercermin dalam dimasukkannya gereja “tewahedo” dalam namanya, yang berarti “persatuan” di Ge’ez. Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia memberi keunggulan lebih besar pada tradisi-tradisi Yahudi awal daripada lembaga-lembaga Kristen di Barat. Gereja ini terus berkembang di Ethiopia bahkan ketika para penganutnya sekarang hidup di banyak bagian dunia.

Begitu dulu. Besok lagi, yha.