Corona yang Mengembalikan Fungsi Orang Tua

Sekolah-sekolah di banyak tempat ditiadakan. Bukan libur, melainkan belajar dari rumah. Berhubung ini era modern, maka belajarnya juga menggunakan yang online-online. Dalam 2 hari awal saja, KPAI langsung turun tangan sebagai orang-orang tua yang merasa mewakili anak-anak. Katanya, banyak siswa stres selama program belajar di (atau dari?) rumah. Sementara belum lama ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kaget bahwa di Indonesia banyak yang belum punya listrik apalagi televisi.

Nadiem Makarim Investigasi Ambruknya Bangunan Sekolah di Pasuruan ...
Sumber: NET Z

KPAI kayaknya belum tahu, bahwa orang tua justru lebih stres. Sebagian teman-teman saya yang mamak-mamak, menuju hipertensi hanya dalam sepekan. Sebagian lainnya mulai merasa bahwa program belajar dari rumah ini bisa bikin renggang hubungan dengan anak. Soalnya sepanjang waktu si orangtua bertensi tinggi terus sama anaknya.

Seorang teman, PNS yang sedang kuliah alias tugas belajar, punya 2 anak yang masih SD dan dua-duanya terkena program belajar dari rumah. Jadwalnya, astaganaga, padat betul. Aslinya mirip dengan sekolah, hanya saja gurunya ada nun jauh di sana, dilengkapi dengan tugas-tugas yang bikin stress itu tadi.

Nah, ini juga musim Ujian Tengah Semester (UTS). Saya lalu bertanya kepada teman tersebut, “tugas kuliahmu bagaimana, Mbak?”

Jawabannya tentu saja: TIDAK TERPEGANG.

Stressed GIF by SpongeBob SquarePants - Find & Share on GIPHY

Yha, selama ini kesehariannya adalah mengantar anak ke sekolah, lantas menuju kampus untuk kuliah atau sesekali mlipir ke kafe untuk mengerjakan tugas. Si anak ada di sekolah, bersama gurunya, jadi dia bisa fokus kuliah dan garap paper.

Sekarang? Selain masak dan mengurus rumah, dirinya harus mengelola dua anak SD dalam pembelajaran jarak jauh, sementara dirinya sendiri juga harus kuliah jarak jauh. Belum termasuk tugas paper yang mendekati tenggatnya.

Saya sih belum mengalami kondisi seperti itu. Anak saya baru 2 tahun lebih banyak. Hanya saja, paralel dengan sekolah, daycare anak saya juga ikutan tutup. Sementara istri saya adalah pekerja rumah sakit. Musim COVID-19 ini justru adalah medan perang baginya. Walhasil, saya yang sedang kuliah ini juga harus mengasuh bayi sembari mengerjakan tugas dan tentu saja harus nongol di kamera dalam perkuliahan jarak jauh.

OK COMPUTER SOLUTION: MASALAH KEYBOARD TAK BOLEH TEKAN | REPAIR ...

Kadang-kadang saya membatin, alangkah kuatnya para aunty pengasuh anak saya di daycare. Dengan 12 anak, aunty hanya berempat. Saya anak satu, anak sendiri pula, kadang naik darah dengan kelakuannya, bagaimana dengan para aunty?

Hal yang sama juga terjadi pada hubungan orangtua dan guru. Dengan anak belajar di rumah, orangtua jadi tahu bagaimana keseharian anak sebenarnya ketika belajar dan mendapati tugas-tugas. Biasanya kan selama berjam-jam anak dilepas bersama guru. Beberapa guru senior bahkan bilang, “Lha, baru 3 hari sudah naik darah? Kami lho 3 tahun bersama mereka.”

Problematika serupa tentu juga dirasakan para pelaku Work from Home (WFH). Bekerja di rumah itu jelas auranya beda. Sudahlah auranya mager—namanya juga di rumah—eh ada anak juga yang harus ditongkrongi belajarnya, pekerjaan sendiri juga harus diselesaikan. WFH kalau dijodohkan sama School from Home (SFH) kayaknya jadinya adalah WTF.

Belum lagi paket data yang harus disediakan. Dalam kasus saya, paket data itu harus dikali dua karena harus standby YouTube BabyBus, Pinkfong, maupun Tayo untuk sang buah hati.

Tayo Gif GIF | Gfycat

Dilema juga dirasakan para guru dan dosen. Sebagian guru tetap disuruh masuk ketika muridnya libur dan mereka menggelar pembelajaran jarak jauh dari kantor. Para guru itu kemudian bikin soal pilihan ganda yang cukup viral perihal alasan guru tetap disuruh masuk ketika pandemi Covid-19 dengan pilihan antara lain: guru adalah virus Corona itu sendiri, guru adalah profesi yang kebal virus Corona, serta guru termasuk umbi-umbian.

Bagi para guru dan dosen yang bisa bekerja di rumah, perkaranya juga tidak mudah. Kalau dosen S2 okelah, rata-rata kan beasiswa atau orang-orang bekerja yang kuliah lagi. Sederhannya, punya duit. Beda kasus dengan dosen anak D3 dan S1 yang notabene sebagian mahasiswanya adalah anak kosan yang paket internetnya harian dan biasanya sepanjang waktu juga mengadalkan WiFi Kampus. Kalau harus pembelajaran dari rumah, repotnya setengah mati karena nggak semua mahasiswa cukup mampu untuk menyediakan paket data yang memadai untuk konsep kuliah tatap layar.

Kalau KPAI bilang banyak anak stres, percayalah bahwa kalau ada Komisi Perlindungan Orangtua Indonesia, maka ada banyak orangtua yang juga stres, ya karena faktor pekerjaan, faktor anak-anak juga. Jadi, ya sama saja.

Akan tetapi, kita pada akhirnya kembali pada fitrah. Bukankah seharusnya belajar anak itu adalah tanggung jawab orangtua? Dalam konteks saya yang anaknya masih batita, bukankah memang mengasuh anak sehari-hari juga adalah tugas orangtua?

Kala anak saya nongol di layar ketika kuliah sedang berlangsung, saya kemudian menyadari bahwa ya beginilah konsekuensi menjadi pekerja atau mahasiswa sekaligus menjadi orangtua. Jika selama ini saya lebih banyak menyerahkan tumbuh kembang anak ke aunty sementara saya santai garap tugas di kafe, kini sayalah yang sepanjang waktu bertanggung jawab pada perkembangan buah hati sendiri. Sulit? Pasti.

Tapi bukankah dalam kondisi sekarang, hanya ini yang bisa dilakukan?

Semoga sesudah semuanya ini berakhir, nggak ada lagi orangtua yang ngamuk-ngamuk ke guru kalau mendengar kabar anaknya didisiplinkan, karena sudah tahu benar bahwa dirinya sudah naik darah duluan dengan kelakuan anaknya ketika belajar.