Tamu Istimewa dari Nigeria

November 2018, saya sebenarnya diset untuk ikut cerdas cermat kepemiluan di KPU. Tiba-tiba, saya malah dapat penugasan agak absurd. Jadi ceritanya, kantor saya menghelat sebuah konferensi internasional dengan mengundang banyak tamu dari negara-negara Islam di dunia. Eh kok ya, tiba-tiba nama saya ada di daftar Liaison Officer~

Ini perhelatan besar yang membawa nama baik kantor dan negara. Terus saya disuruh memegang satu delegasi dari negara-negara Islam. Pertanyaan pertama saya tentu saja: emang saya bisa? Tapi ya namanya juga PNS, apapun kudu siap. Termasuk tugas yang lumayan menantang ini.

Semakin takjub ketika H-1 penugasan, saya mengetahui bahwa saya akan memegang tamu dari Nigeria. Persoalannya adalah Nigeria merupakan salah satu delegasi terbesar (4 orang). Artinya, saya sendiri harus meng-handle 4 orang Nigeria. Semakin nggak kepikiran.

Dari daftar yang ada saya mendapati bahwa 1 dari 4 nama delegasi adalah orang kedutaan besar. Maka, dengan naik ojol, saya berangkat dari kantor ke Kedubes Nigeria di Kuningan sana. Sebuah pengalaman menarik bahwa saya bisa masuk ke dalam kedutaan bahkan sampai ke ruangan salah seorang petinggi. Kalau tidak salah, orang di bawah Dubes langsung.

Hal pertama yang saya tahu adalah mereka berempat itu tidak berkoordinasi satu sama lain. Ini mulai repot. Lebih repot lagi karena kemudian yang 3 sisanya juga dibagi 2. Pertama, Mr. Umar Musa seorang direktur di NAFDAC. Kedua, Ade dan Umar, saya lupa keduanya dari instansi mana.

Saya sendiri terlambat untuk mengenali Mr. Umar karena tidak terinformasi. Posisinya adalah saya mengetahui belakangan bahwa tamu saya itu sudah di kamar. Dengan nekat dan tentu saja boso enggres pas-pasan ala saya, menelepon langsung ke kamar menjadi alternatif tunggal agar koordinasinya mudah. Bukan apa-apa, bapak ini juga pembicara dalam konferensi. Jadi, saya nggak bisa ngasal mengurusinya.

Dua lainnya, beda urusan pula. Ade dan Umar datang tanpa booking hotel terlebih dahulu. Jadi, saya pertama-tama mengakses hotel yang sudah rekanan dengan panitia terlebih dahulu. Apalagi, mereka datangnya nyaris tengah malam. Itu ya saya tungguin sampai mereka masuk. Bahkan, saya duluin bayarnya, sebab mereka nggak pegang rupiah.

Lha wong baru datang.

Jadi, sepanjang konferensi saya berurusan dengan 4 orang dan 3 sumber kedatangan. Repot sih jelas sekali. Tapi lumayan, gara-gara mengurusi Mr. Umar, saya dapat jatah makan di hotel berbintang dan biasanya jadi langganan penginanan atlet-atlet badminton Denmark kalau main di Indonesia.

Secara umum, kalau menurut testimoni sih mereka puas dengan servis saya. Khusus Ade dan Umar sempat saya antar ke Sarinah untuk cari oleh-oleh, tapi kemudian saya lepas sendiri. Ada begitu banyak obrolan karena dari Senayan ke Sarinah pada sore hari itu macet sekali. Nanti kapan-kapan saya share kalau nggak lupa. Salah satunya sih Ade yang takjub melihat mamang nasi goreng.

Adapun Mr. Umar sang pejabat saya bawa ke Thamrin City untuk belanja-belanja dan habisnya lumayan. Terakhir, saya bawa ke salah satu lapak jamu kondang di dekat kantor dan dia membawa beberapa untuk oleh-oleh.

Pengalaman ini merupakan hal yang luar biasa sepanjang umur saya. Bisa mengakses orang yang langsung berbahasa Inggris, dari negara yang 11-12 dengan Indonesia, para pejabatnya pula. Dan secara umum merekanya juga puas dengan pelayanan saya.

Yha, lumayan~