Orang Yang Mencintai Kamu

Baru saja bongkar-bongkar kamar, sekalian pasang rak baru. Benda tiga level warna biru ini mengingatkan saya pada benda yang dulu pernah saya punya beberapa bulan di Palembang. Jadi, siapa tahu kejadiannya bakal sama. Hehehehe… Nah, pas bongkar-bongkar itu, ketemu selembar kertas print-print-an. Kalau melihat wujudnya, sepertinya dulu saya cetak waktu jamannya Friendster deh.

Bukan bermaksud nggak menuliskan karya cipta aslinya, tapi ya di print-print-annya memang nggak ada. Jadi saya ketik disini ya.

Ini dia:

1. Orang yang mencintai kamu tidak akan pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia tahu di matanya hanya ada kamu satu-satunya.

Cinta butuh alasan? Bisa jadi tidak.

2. Kalau kamu sudah memiliki pacar atau kekasi, ia tidak pedul, buat dia yang penting kamu bahagia dan kamu tetap impiannya.

Sakjane pekok sih.

3. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu apa adanya, di matanya kamu selalu yang tercantik walaupun mungkin kamu merasa berat badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan. Bahkan dalam keadaan kamu merasa sedang “jelek” ia akan selalu menganggap kamu yang paling cantik.

Cinta itu buta, sob!

4. Orang yang mencintai kamu selalu ingin tahu apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, ia ingin tahu kegiatan kamu.

Ini disebut…. stalker.. hehehe..

5. Orang yang mencintai kamu akan mengirimkan SMS seperti “Selamat pagi”, “Selamat hari Minggu”, “Selamat Tidur”, walaupun kamu tidak membalas pesannya.

Namanya juga tulisan jadul, jadi masih SMS. Harusnya hari gini pesan Whatsapp kali ya.

6. Kalau kamu berulang tahun dan kamu tidak mengundangnya, setidaknya ia akan menelepon untuk mengucapkan selamat atau mengirim pesan. Atau bahkan ia mempersiapkan hadiah istimewa buat kamu.

*No comment*

7. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat setiap kejadian yang ia lalui bersama kamu, bahkan mungkin kejadian yang kamu sendiri sudah lupa setiap detailnya, karena saat itu ialah sesuatu yang berharga untuknya.

Apalagi kalau orang melankolis ya.

8. Orang yang mencintai kamu akan selalu mengingat kata-kata yang kamu ucapkan bahkan mungkin kata-kata yang kamu sendiri lupa pernah mengatakannya.

*idem*

9. Orang yang mencintai kamu akan belajar menyukai lagu-lagu kesukaanmu, bahkan mungkin meminjam CD/kaset kamu, karena ingin tahu kesukaanmu, kesukaanmu kesukaannya juga.

Di masa kini disebut modus.

10. Kalau kamu bilang akan menghadapi ujian, ia akan menanyakan kapan ujian itu, dan saat harinya tiba ia akan mengirimkan sms “Good Luck” untuk menyemangati kamu.

Enggggg…

11. Kalau terakhir kali kalian bertemu, kamu sedang sakit flu, terkilir atau sakit gigi, beberapa hari kemudian ia akan mengirim SMS dan menanyakan keberadaanmu. Karena ia mengkhawatirkanmu.

Uhukkkkk…

12. Orang yang mencintai kamu akan memberikan suatu barang miliknya yang mungkin buat kamu itu adalah sesuatu yang biasa, tetapi itu ialah suatu barang yang istimewa buat dia.

Ada yang kayak gitu sih..

13. Orang yang mencintai kamu akan terdiam sesaat saat sedang berbicara di telepon dengan kamu, sehingga kamu menjadi bingung, saat itu dia merasa sangat gugup karena kamu telah mengguncah dunianya.

Sajak rodo lebay sih..

14. Orang yang mencintai kamu selalu ingin berada di dekatmu dan ingin menghabiskan hari-harinya denganmu.

Iki mah jelas.

15. Jika suatu saat kamu harus pindah ke kota lain untuk waktu yang lama, ia akan memberikan nasehat supaya kamu waspada dengan lingkungan yang bisa membawa pengaruh buruk bagimu.

Semacam perhatian.

16. Orang yang mencintai kamu bertindak lebih seperti saudara daripada seperti seorang kekasih.

Nah ini. Modus yang disebut “Abang…”

17. Orang yang mencintai kamu sering melakukan hal-hal konyol seperti meneleponmu 100 kali dalam seari, atau membangunkanmu di tengah malam, karena ia mengirim SMS atau meneleponmu, karena saat itu ia sedang memikirkan kamu.

Sedikit lebay, tapi bener...

18. Jika kamu memintanya untuk mengajarimu sesuatu, maka ia akan mengajarimu dengan sabar walaupun kamu mungkin orang yang terbodoh di dunia.

Namanya juga seneng..

19. Orang yang mencintai kamu kadang merindukanmu dan melakukan hal-hal yang membuat kamu jengkel atau gila, saat kamu bilang tindakannya membuatmu terganggu, ia akan minta maaf dan tak akan mengulanginya lagi.

Cinta gila

20. Kalau kamu melihat HP-nya, maka namamu akan menghiasi sebagian besar Inbox-nya. Ya, ia masih menyimpan pesan dari kamu walaupun pesan itu sudah kamu kirim sejak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun silam.

Iniiihhhh… *inhale.. exhale…*

21. Dan jika kamu menghindarinya, atau memberi reaksi penolakan, ia akan menyadarinya dan menghilang dari kehidupanmu, walaupun itu membunuh hatinya.

Mati wae le..

22. Jika suatu saat kamu merindukannya dan ingin memberinya kesempatan, ia akan ada di sana menunggumu karena ia tidak pernah mencari orang lain. Ya, ia selalu menunggumu.

Edan

Adakah ada yang memperlakukanmu dengan cara seperti di atas? Kalau ada, jangan pernah sia-siakan orang tersebut, kamu akan menyesal melakukannya.

😀

 

“Aku dan Cantus Firmus”

Pagi tadi, bangun tidur saya terus tidur lagi. Namanya juga buruh di hari Sabtu. Mumpung bisa bangun siang kenapa tidak? Nah, sesudah bangun yang kedua kalinya, saya lalu iseng buka Youtube dan tiba-tiba jari-jari mengarahkan ke video penampilan saya bersama Paduan Suara Mahasiswa Cantus Firmus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Itu adalah penampilan resmi terakhir saya bersama PSM CF (singkatannya), dengan status sebagai mahasiswa. Terjadi pada suatu hari di bulan Desember 2007.

Long time ago.

Mendadak saya mengingat-ingat, kok bisa saya bergabung dengan PSM CF ini. Sebenarnya kisahnya sih agak unik juga. Jadi–buat ngisi postingan aja–saya mau flashback perihal masuknya saya sebagai anggota PSM CF ini.

Sesudah menggalau karena nggak keterima UM UGM, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar (lagi) ke USD. Sebagai manusia dengan nama yang sama persis dengan nama universitas, saya setengah terpaksa mendaftar kesini. Tapi saya nggak kebayang saja kalau saya masuk universitas lain di Jogja dengan nama saya ini. Mau jadi apa saya ketika Ospek nanti?

Ya sudah, USD saja.

Saya lalu membuka-buka buku promosi USD yang saya dapat waktu di sekolah. Saya lalu memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang hendak saya masuki. Ada 3 yang saya tunjuk ketika itu, radio, penerbitan, dan paduan suara. Kalau radio, mungkin itu efek karena beberapa bulan sebelumnya saya sempat siaran di acara “High School Jam” Radio Swaragama. Untuk penerbitan, tentunya semacam retorika. Sebagai mantan anggota Cas Cis Cus di JB, saya memang identik dengan jurnalisme. Waktu itu belum kenal jurnalisme galau sih. Dan paduan suara? Entahlah. Saya pengen aja. Padahal di sekolah, saya juga nggak ikut paduan suara.

Sampai kemudian Expo di Insadha 2004 itu, saya “melewatkan” PSM CF yang adalah UKM paduan suara yang sempat hendak saya masuki. Saya justru fokus di UKM penerbitan, termasuk mendaftar dengan legal dan resmi. Adapun hal yang membuat saya keder masuk PSM CF adalah begitu mengetahui kalau tesnya pakai acara baca not segala.

Ya udah. Lewat.

Saya lantas join ke UKM majalah kampus. Tapi nggak lama. Sesudah satu pekan penuh pembekalan dan satu kali kunjungan ke sebuah kampus yang tidak jauh dari SMA saya, akhirnya saya memilih lari dari kenyataan. Ada kalanya keyakinan itu muncul belakangan, dan kala itu saya yakin kalau penerbitan kampus ini bukan jalannya saya.

*kemudian lari tunggang langgang*

Sampai kemudian saya tidak tergabung di UKM mana-mana. Saya resmi menjadi mahasiswa biasa yang tidak berniat aktif, sampai suatu saat sesudah praktikum, saya lewat di Lorong Cinta dan menemui latihan PSF. Ini adalah Paduan Suara di tingkat Fakultas. Fakultas Farmasi tentu saja. Saya ditarik untuk bergabung ketika itu, dan kok ya mau saja.

Lagu waktu itu adalah “For The Beauty of This Earth”. Dan saya kemudian terjebak dalam kengawuran hidup saya dalam 1 tahun penuh. Iya, asli ngawur, karena saya masuk ke suara TENOR. Enggg, waktu itu saya masih kurang paham soal bernyanyi sih. Jadi, mohon dimaklumi. Plis, sekali ini saja. Plis.

Nah gitu kan oke.

PSF ini kemudian yang membuka mata saya soal menyanyi. Di PSF inilah saya belajar soal bunyi Do Re Mi Fa Sol La Si Do, termasuk Do Di Re Ri Mi Fa Fi Sol Sel La Sa Si Do. Juga tentang modulasi dan nada dasar. Di bawah asuhan Mbak Ina yang teriakannya legendaris dari ujung lorong satu ke ujung lainnya, saya bertumbuh kembang sampai akhirnya ikut semua tugas PSF dalam periode 2004/2005, kecuali pada misa perpisahan Romo Andalas, yang waktu itu hendak studi ke luar negeri.

Di sela-sela itu, sekitar bulan Desember 2004, ada event bernama Golden Night. Sepertinya sih rangkaian dari 50 tahun USD. Saya sempat melihat beberapa teman saya berdandan rapi karena hendak tampil menyanyi disana. Iya, mereka adalah anggota PSM CF.

Dan entah kenapa, saya jadi pengen seperti mereka.

Anak muda emang kebanyakan keinginan.

Saya lalu join Insadha 2005 sebagai pendamping kelompok, kejatahan kelompok 24. Banyak dinamika yang saya alami di posisi ini, termasuk juga meninggalnya Mbah Kakung. Dan dinamika yang jelas justru ketika saya mengantarkan anak-anak kelompok 24 ke stand PSM CF waktu Expo UKM di Insadha 2005. Sambutan teman-teman saya sesama Farmasi, yang juga anggota PSF (oya, namanya PSF Veronica), membuat saya mengingat kembali keinginan menjadi seperti mereka.

Saya lalu mikir dan mikir, juga menimbang faktor perkuliahan yang tambah padat, dan IP saya semester 2 yang lumayan cakep dibandingkan semester 1. Hasil mikir dan mikir, saya kemudian memutuskan untuk mendaftar PSM.

Terlambat 1 tahun, itu pasti. Teman sekelas saya sudah 1 tahun bergabung disana. Saya juga akan bergabung dengan anak-anak yang menjadi dampingan saya selama Insadha. Dan terlambat 1 tahun sebenarnya bermakna semakin pendek waktu saya kalau nanti join PSM CF.

Ya udah, daftar aja dulu. Belum tentu juga diterima kan?

Saya mendaftar di hari terakhir. Juga tes di hari terakhir. Semua serba terakhir, karena pada saat yang sama lagi ada event Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (PIMFI) yang mana saya menjabat sebagai bendahara. Pertama kali dan terakhir kali saya jadi bendahara. Hehehe.

Tesnya ternyata dimulai dengan wawancara. Sebagai orang yang dalam 1 tahun sudah berkali-kali diwawancarai ketika mau gabung kepanitiaan, tentunya semua bisa saya lewati. Cuma wawancara ini, asal mbacot juga bisa.

Yang nggak bisa mbacot itu, tes berikutnya.

Namanya: Tes Intelegensi. Tes yang bikin saya keder untuk gabung PSM CF setahun silam.

Kalau tadi saya ketemu Mbak Lia dan Budi. Sekarang saya ketemu Mbak Citra dan Mas Dede. Di depan saya ada sekumpulan angka untuk dibaca. Iya kalau angkanya benar. Lha ini angkanya salah-salah. Maksudnya, notnya pakai acara coret sana sini, jadinya kan Di Ri Fi Sel Sa itu muncul semua.

Sontak saja saya keringat dingin.

Apalagi lanjutannya adalah tes ketukan. Mbohlah apa saja yang saya ketuk dengan bunyi Pam Pam Pam sebagai pengganti X yang tertulis di soal. Soal ketukan ini, saya sebagai Tenor penganut Gandulisme di PSF, tentu gandul tetangga sebelah. Lah kalau sendirian begini, saya gandul siapa?

Hingga tes terakhir, pemetaan suara. Saya disuruh baca not sampai ke bawah. Sampai kemudian Mbak Citra bilang, “Kamu itu bass asli.”

TERUS KENAPA SELAMA INI SAYA JADI TENOR? SALAH KOK SUWI BANGET?

Hampir jam 10 malam saya menyelesaikan tes masuk PSM CF itu. Sebagai manusia yang selalu ingin pulang malam–karena suatu hal yang bisa dicari tahu disini–maka jam 10 itu menjadi sangat biasa. Saya pulang dengan anggapan nggak akan lolos. Apalagi soal tes intelegensi tadi.

Saya pun menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai akhirnya Finza bertanya pada saya waktu praktikum.

“Kamu tuh niat nggak daftar PSM?”

“Kalau nggak niat ya saya nggak daftar.”

Tidak lama sesudah saya menjawab begitu ke Finza, saya mendapati pengumuman yang menyertakan nama saya di deretan anggota baru PSM CF yang diterima. Tentu saja dalam kategori suara Bass.

Ya. Saya jadi anggota PSM CF juga pada tahun 2005 itu.

Buat saya, ini kadang menjadi aneh. Tapi justru menjadi kebanggaan besar. Kalau waktu itu saya nggak mendaftar CF, maka nggak akan ada penampilan yang bisa dilihat di bar yang ada di atas, pada tab “My Performance”. Sebagian besar itu bersama CF lho. Kalau nggak ikut CF, mana ada kisahnya saya mewakili kampus untuk sebuah lomba.

Bahkan semuanya berlanjut hingga saya lulus, termasuk juga bisa tampil di Taman Budaya Yogyakarta dalam Konser Reuni PSM CF. Coba, kasih tahu saya PSM mana yang sudah membuat konser yang mengumpulkan alumninya?

Dan kalau nggak gabung CF juga, nggak mungkin saya “menelurkan” buku dengan judul yang sama dengan tulisan ini, bersama beberapa teman lain.

Serta berderet “kalau nggak” lainnya.

Ya, tentunya ada yang dikorbankan. Tapi menjadi mahasiswa S1 tanpa harus terbebani tanggungan hanya bisa dilakoni sekali seumur hidup. Maka, tidak pernah ada penyesalan dengan IP jongkok saya di S1, karena dibalik itu saya punya banyak pengalaman, yang sebagian diantara terjadi karena saya bisa bergabung dengan PSM CF.

Golden Voice Member
Golden Voice Member

Ini cerita saya. Hendak berbagi cerita yang lain? Silakan 🙂

030813 @ariesadhar

Intuisi: Apaan Sih?

Beberapa minggu yang lalu, saya ke McD Jababeka. Sekilas terlintas dalam pikiran, “pasti nanti bakal ketemu si X”. Dua puluh menit sesudah saya menikmati dada-nya ayam yang tidak empuk tapi panas itu, saya melihat si X duduk di salah satu kursi disana.

Juga soal nama anaknya Pangeran William. Ketika orang ramai mempertaruhkan soal nama George atau Charles, saya kok tiba-tiba kepikiran nama saya: Alexander. Dan tidak lama kemudian, namanya muncul George Alexander Louis.

Tidak sedikit aspek soal intuisi yang kemudian bikin saya bingung. Kok bisa? Hal paling simpel dan sering terjadi adalah kalau di adu penalti PES. Tanpa mengintip, ada kalanya saya bisa menebak tendangan dengan benar. Yang nggak benar sih lebih sering.

Nah, pernah nggak sih kalian mengalami bisikan semacam saya tadi? Pasti pernah. Informasi langsung yang muncul dari dalam hati untuk sesuatu yang kadang sepele. Sekarang, apa coba pasalnya saya bisa mengira si X itu ada di McD, sementara tidak ada alasan khusus saya “memegang” nama X itu.

Saya lalu mencoba mencari kesini, dan menemukan sedikit hal.

Satu hal yang utama, intuisi dan wawasan adalah napas kehidupan. Pada dasarnya tidak banyak orang yang percaya, tapi diam-diam mempraktekkannya.

Katanya Sun Tzu begini, “setiap pertempuran dimenangkan sebelum berjuang”.

Nah loh. Jadi sebenarnya semua sudah dibisikkan sama intuisi. Apapun itu, termasu kemungkinan kita kalah. itu makanya yang lebih benar adalah berlaku yang terbaik 🙂

Manusia hidup di aktivitas yang sebenarnya konstan. Dan keberhasilan dalam melakukan itu tidak hanya datang dari yang kita lakukan, namun kesiapan dan kemampuan kita mengumpulkan informasi yang diperlukan. Informasi itu yang menopang intuisi, dan sebagai kemampuan bawaan, intuisi layak digunakan semua orang.

Kadang kita bercakap-cakap sendiri dalam diri kita. Argumen sana sini bikin rempong. Makanya kita perlu pendekatan baru yakni dengan benar-benar mendengarkan hal yang benar-benar menjadi respon dari diri kita.

Detailnya sila dibaca sendiri di link tadi. Saya juga pernah baca buku soal ini. Sebenarnya intuisi itu adalah kekayaan pribadi semua orang. Masalahnya, kadang nggak banyak orang menggunakan itu.

Salah satu contoh yang buat saya tertarik adalah adu penalti Italia-Spanyol di Euro 2008. Saya merekam semua tendangan penalti dan Iker Cassilas melakukan hal yang cukup mengagumkan. Dia bergerak sepersekian detik lebih dulu daripada kaki eksekutor sampai ke bola, dan semuanya tepat. Faktor intuisi ketika bisikan dari dalam hati, bercampur dengan informasi yang ada, menjadi poin disini.

Kita semua punya, saya juga. Tinggal gimana melatihnya. Nanti coba cari bukunya deh. 😀

The Wolverine: Film Dengan Terlalu Banyak “Kenapa?”

Sudah lama sekali saya nggak nulis review film. Ya memang saya semakin jarang nonton film. Dan semakin jarang nulis soal film. Review saya sebelumnya itu Battleship (16 April 2012), The Avengers (4 Mei 2012), dan Soegija (7 Juni 2012). Memang sih saya juga sempat menonton film seperti 5 Cm, Cinta Dalam Kardus, dan juga Monster University. Cuma nggak tahu kenapa kok malas nulis review.

Jadi mumpung kemarin diajakin nonton The Wolverine, bolehlah kita nulis lagi 😀

Kita semua harusnya tahu tentang Wolverine, karakter yang bagi sebagian orang paling berkarakter dari segambreng tokoh di X-Men. Kalau saya sih, tetap lebih suka Cyclops. Hehehe.

Dalam The Wolverine ini, tokoh Wolverine diperankan oleh Hugh Jackman. Pecinta film tentu tahu soal aktor yang satu ini. Secara umum, Hugh Jackman memang “wolverine banget”.

Sumber: thetorchonline.com
Sumber: thetorchonline.com

Oya, saya bukan pembaca setia komik Marvel, jadinya saya memang tidak terlalu paham plot asli dari cerita yang diterjemahkan ke film ini. Itulah sebabnya saya kasih judul seperti di atas.

Film dimulai dengan adegan di Jepang. Awalnya biasa saja sebelum kemudian saya melihat adegan harakiri dari 3 perwira Jepang, dan adegan Wolverine mengintip dari sebuah tempat di bawah tanah.

Clue utamanya kemudian muncul, yakni sebuah benda yang jatuh dan ternyata adalah bom atom Nagasaki. Yah, saya baru tahu kalau di dalam sejarahnya bom Hiroshima dan Nagasaki ada superhero disana.

Singkat cerita seorang tentara bernama Yashida (Ken Yamamura) sudah mau harakiri tapi diselamatkan sama Wolverine, disuruh masuk ke lubangnya Wolverine alias Logan, dan dilindungi dari dampak bom atom.

Selesai disini.

*kunyang popcorn*

Adegan langsung lompat ke tokoh Jean. Penikmat X-Men dan The Wolverine sejati pasti tahu soal Jean ini. Orang yang dicintai sama Logan, tapi dibunuh sendiri sama dia. Buat saya ya lucu adegan yang ini, wong lagi bermesraan tapi kok kukunya sudah nancep aja di perut.

Ternyata itu hanya mimpi belaka. Jadi jangan heran dengan 2 adegan semula yang sebenarnya kurang korelatif. Kenapa juga harus begitu? Tampaknya sutradara pengen memberikan background cerita utama di adegan pertama, tapi juga hendak memberikan konteks kehilangan tujuan hidup di adegan kedua.

Hingga akhirnya sampai di adegan bangun tidur di tengah hutan. Nah, disinilah cerita sebenarnya dimulai. Tetap saja ada adegan lucu yang ditampilkan di film ini. Salah satu yang buat saya menarik adalah adegan beruang grizzly kencing dengan mengangkat kaki kanannya. Itu beruang beneran kalau pipis begitu ya?

Nah, si beruang kemudian sekarat gara-gara pemburu, lalu Logan menuntut balas. Pas sedang menuntut balas inilah muncul Yukio (Rila Fukushima). Ini juga menurut saya kurang smooth. Tapi ya mungkin memang cerita aslinya begitu sih. Kenapa juga si Jepang ini sampai menemukan Logan di posisi lagi berantem, kenapa nggak pas nangkring di hutan atau apalah.

Sumber: marvel-movies.wikia.com
Sumber: marvel-movies.wikia.com

Yukio kemudian mengakui kalau dia disuruh bosnya, Yashida, yang ingin berterima kasih kepada Logan. Ceritanya si Yashida sakit keras, tapi pengen mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Sesuatu yang kemudian membuat Logan sampai ke Jepang.

Iye. Jauh amat.

Dikisahkan kalau si Yashida itu jadi orang kaya raya banget sekali di Jepang. Jadi nyambung juga sih, gimana seorang prajurit waktu muda, kemudian bisa jadi kaya raya waktu tua. Ini kayak di sebuah negeri yang pernah dijajah sama Jepang selama 3,5 tahun. Ada gitu deh sebuah negara yang banyak prajurit menjelma jadi orang kaya di masa tuanya.

Bermunculanlah tokoh semacam Shingen Yashida (Hiroyuki Sanada), juga Kenuichio Harada (Will Yun Lee), dan dua penyegar utama dalam film ini atas nama Viper (Svetlana Khodchenkova) serta Mariko Yashida (Tao Okamoto).

Yashida tua ternyata hendak “mengambil” keabadian Logan untuknya. Disebutkan bahwa Logan yang mimpi buruk terus sepanjang malam itu sudah tidak punya tujuan hidup.

Iya. Ngapain hidup dan nggak mati-mati, tapi nggak punya tujuan hidup? Ini justru pelajaran yang saya petik disini.

Lewat sebuah ciuman, Viper yang menyamar jadi dokter Green berhasil membuat sisi penyembuhan sendiri dari Logan hilang. Dan bersamaan dengan itu, Yashida tua “mati”. Ketika pemakaman malah jadi heboh karena ternyata Yakuza berhasil menculik Mariko, si cucu-nya Yashida.

Sumber: Yahoo.com
Sumber: Yahoo.com

Namanya juga superhero, Logan berhasil juga menyelamatkan Mariko dari Yakuza itu. Mariko dengan bantuan mahasiswa-kedokteran-hewan berhasil mengoperasi Logan untuk mengambil peluru yang ada di tubuhnya. Kan imortal-nya hilang, jadi ada peluru ya sakit. Mariko lalu membawa Logan ke selatan, ke sebuah rumah yang disebutkan tersembunyi.

Disitu kemudian mereka berciuman dan kayaknya sih ML.

*khas film barat.. hehehe…*

Ada banyak kenapa di sini. Pertama, kenapa rumah yang rahasia itu tidak dikunci, atau ditunggui tapi tetap tampak rapi. Kedua, kenapa orang-orang suruhan ayahnya Mariko dan tunangan Mariko, Menteri Keadilan, Noburo Mori (Brian Tee), nggak bisa tahu dengan cepat tempat persembunyian yang sepertinya akrab dengan Mariko itu. Ketiga, kenapa akhirnya mereka ML? *tetep*, dan keempat, kenapa penculikan Mariko berhasil dilakukan padahal dia lagi tidur di samping Logan yang tidur saja nggak nyenyak.

Arah cerita juga membawa Logan dan (tahu-tahu nongol) Yukio ke tempatnya Noburo. Kalau mau yang lucu lagi dan bin garing, ya pas Noburo dipelesetkan nggak sengaja sama Logan jadi Nostramo. Emangnya Nostradamus? Hehe.

Kenapa berikutnya muncul ketika ada Menteri Keadilan yang main sama pelacur bule tanpa pengawalan sama sekali. Ya jelas saja Logan bisa masuk dengan mudah, sampai bisa melempar Noburo ke kolam yang jauh sekali di bawah.

Nah, kenapa berikutnya rada ruwet.

Jadi Shingen minta Mariko ditemukan. Sudah ketemu tuh. Nggak jadi dibunuh. Karena ternyata ninja yang bekerjasama dengan Viper dan Harada berhasil mengambil alih Mariko. Si cantik ini lalu dibawa ke sebuah tempat yang tinggi dan canggih.

Sumber: spinoff.comicbookresources.com
Sumber: spinoff.comicbookresources.com

Awalnya, Viper tampak ingin Mariko untuk memancing Logan datang. Pas dengan Harada yang ingin Mariko kembali padanya.

Tapi….

ini yang ruwet.

Begitu Logan berhasil ditangkap, ternyata ada robot adamantium yang bangun dan bertarung lalu pengen mematahkan kuku-nya Logan. Ini kenapa yang besar, karena ternyata isinya robot itu adalah orang yang kita kenal dari awal cerita. Lah kan saya bingung. Jadi sebenarnya dia mati nggak sih? Lalu sebenarnya si Viper itu tujuannya mau ngapain sama si Logan? Terus katanya Yashida mengkhawatirkan Mariko makanya nggak pengen mati, lah kok nggak kelihatan gelagatnya waktu ‘bertarung’ dengan Mariko.

Kalau Harada jelas kayaknya. Dibutakan cinta, malah bekerjasama dengan penjahat. Kasian deh lo.

Jadi kenapa sih Yashida tidak ingin mati? Kenapa kemudian ada Viper bisa disana? Kenapa adamantium yang sudah disedot dari Logan bisa balik lagi? Dan banyak kenapa lain yang bikin saya bertanya soal plot-nya.

Kalau menurut saya ceritanya kurang kuat. Waktu workshop novel saya selalu dibilang sama editor kalau plot sebab-akibat itu penting. Nah, di film ini saya tidak menemukannya dengan tegas.

Tapi sebuah box office begini pasti punya keunggulan. Aspek pertarungan di atas shinkansen tentu nggak bisa kita lewatkan. Itu keren. Juga soal pertanyaan “tujuan hidup” yang penting banget. Eksploitasi sisi Jepang juga andalan yang oke. Dan jangan lupa si cantik Mariko yang bikin film ini seger abis.

Sumber: www.theage.com.au
Sumber: http://www.theage.com.au

Perkara act saya nggak banyak komentar, karena sudah keren. Perkara visual, ya paling hanya kurangnya efek darah dari setiap cabikan kuku-nya Wolverine. Perkara cakep, Mariko sudah cakep banget. Kekurangpuasan saya pada film ini adalah sisi plot yang menimbulkan banyak tanya. Plot yang lebih runyam sebenarnya ada di The Avengers, tapi bisa disampaikan dengan baik tanpa harus melontarkan banyak “kenapa?”

Begitu saya ulasan dari saya. Secara umum tentu saja tetap layak dinikmati sebagai summer movie. Tapi dari sisi apapun, saya tetap lebih suka The Avengers daripada The Wolverine, tapi masih suka The Wolverine daripada Battleship.

*ngebandingin kok nggak apple to apple ki piye*

😀