Opname: Sebuah Cerita

Hari itu hari KAMIS, saya dengan pede datang ke meja bos hendak minta cuti karena orang tua saya akan datang ke Jogja guna mengantar adik saya masuk SMA. Sebuah momen langka, kumpul keluarga, harus bisa dikejar. Maka saya lantas mengajukan cuti.

Di saat yang sama, load di kantor memang lagi tinggi. Sangat tinggi malah. Bukan load nya yang terutama, tapi sebuah tuntutan karena adanya perubahan menjadikan bos menganggap sebaiknya saya tetap di kantor.

Dan perpaduan dua paragraf di atas menghasilkan kesimpulan: saya nggak boleh cuti.

Saya lalu galau. Tapi hidup kan terus berjalan. Masalahnya, saya itu melankolis yang hobi galau. *halah*

Maka kemudian saya tetap ikut melihat anak kedua Pak Fiks yang baru lahir. Nggak ada masalah sesudah itu. Saya yang kelaparan juga lantas mengorder mie tek-tek yang kebetulan lewat di depan mess. Lagipula pikiran saya sudah di pertandingan sepakbola melawan Stripping, dimana dua pekan sebelumnya saya–untuk pertama kalinya–ada di bawah mistar dengan hasil clean sheet.

Tapi, ya itu, keluarga buat saya penting. Meski saya berusaha tenang, nyatanya itu masuk dalam pikiran. Dan entah dipadukan dengan mie tek-tek atau tidak, maka terjadilah rangkaian peristiwa absurd di JUMAT pagi.

Saya bangun. Semuanya beputar.

PUSING. PUSING sekali.

Saya lalu mencoba fokus pada 1 titik, dan gagal. Saya lalu memejamkan mata, dan semuanya masih terasa bergoyang. Semua berputar dan saya mulai tidak kuat. Saya mencoba seperti biasa, keluar, nonton tivi, mandi. Teman saya kebetulan lagi di mess, keluar kamar dan menyapa saya.

Saya diam, bukan sombong ya, tapi karena saya berusaha fokus pada televisi yang saya tonton. Dan percaya atau tidak, televisi itu lagi tampak berputar. Matek dah!

Dan akhirnya tubuh saya nggak kuat, sesuatu mendesak dari dalam perut, dan saya… muntah.

Om Markus yang melihat saya begitu akhirnya membawa informasi saya ke orang GA, dan tidak lama kemudian mobil GA sudah datang dan saya diantar ke Rumah Sakit Charitas. Believe or not, tidak ada GA yang seperhatian itu pada staf yang sedang sakit. Setahu saya, dibandingkan kantor-kantor lainnya.

Saya menahan muntah dalam perjalanan dan berhasil. Saya lalu akhirnya masuk ke UGD RS Charitas Palembang sebagai pasien, setelah sebelumnya hanya menemani teman yang bergantian menjadi pasien. Seorang dokter jaga menyuntikkan sesuatu yang saya duga sebagai anti-vomit karena rasa mual mau muntah saya hilang dengan segera.

Tapi, dunia ini masih berputar.

Sebuah keputusan dibuat, OPNAME. Dan saya akan opname, ditinggal seorang diri di UGD RS Charitas. MANTAPPP!!!

Saya akhirnya antri, dengan pemandangan yang nggak oke. Seorang bapak yang DM (terlihat dari kakinya) sedang menggigil, persis di ranjang sebelah saya. Ini saya sakit tapi saya yang kasihan loh. *apa coba*

Hingga kemudian, bos saya dan tim datang. Persis jam makan siang saya akhirnya mendapat kamar. Sebuah penantian yang tidak panjang. Untung saya sudah karyawan tetap sehingga punya kartu asuransi. Tapi yang level saya penuh, maka saya di-up dulu 1 sebelum menanti yang level saya kosong.

Saya cuma modal pakaian di badan dan sebuah HP kala itu. Dan masuk ruangan ya begitu. Dan seumur-umur, inilah opname pertama kali yang saya dapat ingat. Iya, dulu saya pernah opname, tapi jaman bayi. Mengingat saya adalah bayi labil dengan penyakit step. Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkan nyawa saya dulu itu.

Ketika terbangun, seorang adik kelas dan seorang kakaknya teman, kebetulan karyawan sana, sudah nangkring di dekat ranjang saya. Huffttt.. Kok bisa-bisanya tahu ya? Hahaha..

Tak lama, Mas Sigit dan Jack datang membawa perbekalan saya. Entah bagaimana mereka bisa menemukan semuanya itu di kamar saya yang jelas-jelas berantakan. Tapi setidaknya saya punya cawet untuk beberapa hari ke depan.

Sore harinya, mengingat itu hari Jumat, harinya anak mess menggila malam hari, datanglah anak-anak mess, bergantian. Waktu itu Om Markus datang sama, ehm, ada deh.. hahahaha..

Akhirnya saya menghabiskan malam sendirian di kamar Elisabeth (kalau nggak salah) 14 itu. Ya, sendirian. Tidak ada yang perlu menunggui saya karena toh saya sadar, cuma PUSING.

Dan satu hal penting, saya memang tidak memberi tahu orang tua saya karena belum lama adik saya sakit DBD dan dengan secepat kilat Mamak saya sudah ada di Jogja. Saya nggak mau aja, tiba-tiba Mamak nongol di Palembang dan saya bikin repot orang tua yang punya tanggungan pekerjaan disana. Kalau adik saya mungkin perlu karena urusannya duit opname. Kalau saya toh saya ada asuransi dan duit gaji. Jadi masih bisa. Lagipula, si Boni bisa opname dengan sukses tanpa ditunggui, masak saya nggak?

Dan lima hari saya ada disana, dengan kunjungan silih berganti dari teman-teman. Serta kebaikan hati sesama sebatang kara di Palembang. Really thanks a lot for  Mas Sigit, Jack, dan Boni. Tentunya juga really thanks to Pak Bos yang bahkan datang membawakan sate kambing. *opo ora edan ki?*

Saya pulang dengan mengurus administrasi sendiri, ya benar-benar sendiri. Saya hanya minta tolong Jack menjemput karena saya takut pusing kalau naik angkot. Saya naik sendiri ke ruang pembayaran dengan sekali tersandung di tangga terakhir. Maklum, masih pusing.

Sampai di mess, saya menulis cerita di FB Notes. Waktu itu blog ini belum bangkit. Dan sejurus kemudian, saya bilang ke Mamak kalau saya baru saja pulang opname. Hehehe..

Yah, demikianlah. Secuil cerita kehidupan saya di salah satu kota rantau. Selalu ada cerita dalam kehidupan rantau. Dan percaya atau tidak, entah ada hubungannya atau tidak, cuti saya di-approved.

Jadi sebenarnya saya pusing itu karena mie tektek, karena nggak boleh cuti, atau karena kerjaan yang berat? Bahkan sampai sekarang saya bingung. Dan mengingat itu kali kedua dalam hidup saya seperti itu, maka resmilah saya menjadi penderita VERTIGO.

Astaga!

Masa Lalu

“Sssttt, Egi sekarang pacaran sama Alena lho.”

Dan sesi gosip dimulai. Di kantor yang mayoritas isinya cewek, selalu ada ruang dan waktu untuk bergosip.

“Tahu dari mana lu?” selidik Dina.

Tia, yang mencetuskan kalimat pertama tadi, segera menyambung, “Kemarin gue kan ke mejanya Egi. Pas dia lagi whatsapp sama Alena.”

“Kalau whatsapp, sama gue juga tuh.”

“Yahhh, sama lu nggak pakai emo-emo love-love gitu kan? Pokoknya gue yakin bener deh, Egi sama Alena. Sayang bener ya, padahal si Alena itu kan nakal. Serigala berbulu domba!”

“Kok bisa?” tanya Dina. Mukanya mendekat, diikuti oleh teman-teman lain yang berada di Pantry itu.

Maka Tia mulai bercerita, panjang dan lebar hingga panjang kali lebar. Segala sesuatu yang ia ketahui tentang masa lalu Alena. Sesuatu yang mudah untuk diceritakan karena Alena adalah orang yang pernah merebut kekasih Tia, jauh di masa lalu. Bahwa semestalah yang mempertemukan keduanya kembali di satu kantor. Sebuah kehendak yang kadang menjadi sebuah retorika. Bukan karena sudah jelas jawabannya, tapi karena memang tidak perlu dijawab.

“Kasihan ya temen gue,”bisik Dina. Ya, sejak sama-sama masuk ke kantor ini dalam 1 batch penerimaan, Dina dan Egi menjadi teman yang sangat akrab. Terlebih ketika rekan-rekan di batch mereka satu per satu resign dan hinggap di perusahaan lain. Dan percaya atau tidak, memang tinggal Dina dan Egi yang tersisa dari 20 orang yang pernah masuk sebagai Trainee, 3 tahun silam.

* * *

“Ciee, yang punya pacar nggak bilang-bilang,” goda Dina sambil menepuk bahu Egi yang sedang asyik dengan kotak dan angka di layar laptop.

“Apaan?”

“Halah, pura-pura bodoh ah. Katanya lu udah punya pacar baru bro?”

“Siapa bilang?”

“Ya tahu aja.”

“Lu percaya?”

Dina diam saja sambil berjalan ke kubikelnya, tapi sejenak kemudian ia mengangguk perlahan.

“Hahahahaha.. Din.. Din.. Yang ngawur dipercaya,” ujar Egi sambil tetap asyik menatap laptopnya. Tak lama, handphone-nya bergetar dan sebuah whatsapp muncul. Alena Puspita.

Dina melirik Egi yang beralih asyik ke handphone, lalu berkata, “Tuh kan, pacaran.”

Egi tersenyum simpul saja. Tidak bertindak lain.

* * *

Kedai kopi di sudut foodcourt ini selalu jadi tempat curhat Dina dan Egi setidaknya seminggu sekali sepulang kantor. Suasana yang hectic di kantor nyatanya bisa diredakan dengan minum segelas kopi atau teh. Dan kini, di hari Jumat, keduanya asyik dengan gelas dan handphone-nya masing-masing.

“Susah ya punya bos kayak sekarang ini,” ujar Egi.

“Kurang ajar bener lu, Gi.”

“Iya dong. Ya gimana ceritanya gue minta review kerjaan gue bener apa kagak, yang dikoreksi cuma typo-typo-nya doang. Padahal yang lebih penting kan action plan yang gue kasih. Kagak dikomen sama sekali.”

“Udah, sabar aja,” kata Dina, “Trus ngomong-ngomong gimana Alena?”

Egi sedikit tersedak mendengar Dina menyebut nama Alena.

“Kenapa emang?”

“Udah bro, kita temenan juga udah lama. Jujur aja, lu pacaran sama Alena kan?”

“Hmm, kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Lagian kenapa bisa nama itu lu sebut sih. Perasaan dia kerjanya dimana, gue dimana, ketemu di kantor juga kagak.”

“Ya gue ngerti kalau Alena kerjanya di lantai 8, kita lantai 3. Ngerti banget gue mah. Tapi, gimana ya, gosip-gosip yang beredar sudah bilang begitu.”

“Buset, uda ada gosipnya juga?”

“Makanya sekali-sekali main ke pantry! Haha.. Kerja melulu sih.”

“Iya dong, pegawai teladan.”

Dina menunduk sedikit, perkataan Tia masih terngiang di benaknya dan sebagai teman yang baik, ia hendak menyelamatkan sahabatnya ini.

“Ehm, mungkin lu belum mau ngomong, Gi. Tapi andaikan iya nih, lu sama Alena Puspita itu. Gue dengar banyak hal yang nggak baik soal dia.”

“Maksud lu?”

“Ya, dari riwayat ngerebut pacar orang, terus suka pulang malam, dan yang sejenis-sejenis itu lah.”

“Hahahaha…”

“Ketawa lu, Gi?” tanya Dina dengan muka bengong.

“Dina.. Dina.. Lu tahu kan kalau gue manusia?”

“Kalau lu setan, gue nggak bakalan ngopi sama lu, dodol!”

“Nah itu dia,” ujar Egi sambil mengaduk kopi di hadapannya, “Gue, lu, bahkan Alena itu juga manusia.”

“Lalu?”

“Dan setiap manusia punya masa lalu, Din. Plus, nggak semua masa lalu itu baik. Lu tahu kalau di masa lalu gue ini perokok berat?” tanya Egi. Konsep yang satu ini ia lontarkan karena Egi tahu kalau Dina amat sangat tidak suka dengan pria perokok.

“Tahu, kan lu pernah cerita.”

“Terus, kenapa lu nggak memperlakukan gue kayak lu sebel banget sama si Herman? Jarak dua meter dari dia aja lu udah kabur?”

“Ya, kalau itu, kan lu tahu gue nggak suka cowok yang merokok.”

“Thats! Gue, dulu, dulu nih ya, lebih ganas dari Herman ngerokoknya, kenapa lu ama gue sahabatan?”

“Kan lu nggak ngerokok bro!”

“Ya itu dia. Gue punya masa lalu yang sebenarnya lu nggak suka kan? Terus kita akrab begini, artinya lu menerima masa lalu gue yang nggak oke itu.”

“Hubungannya dengan Alena?”

Ya, kalau lah, gue bener deket sama Alena. Gue kenal dia juga udah lima tahunan kali, Din. Udah cukup lama. Gue tahu beberapa masa lalunya dia juga. Jadi, kalau emang gue mau dan bisa dekat sama dia, pasti karena gue udah mengesampingkan masa lalu itu.”

Dina terdiam mendengarkan perkataan Egi.

“Lagian gue juga dulu kan bajingan. Ngedeketin cewek orang, ngajak ngedate cewek orang, sampai jadi pemberi harapan palsu juga pernah. Gue sih mikir aja, kalau gue mikir masa lalu orang yang mau gue deketin, itu bisa saja dilakukan orang terhadap masa lalu gue kan?”

“Iya juga sih.”

“Gue pernah baca status temen gue di FB. Bilang gini nih.. ‘Setiap orang punya masa lalu.. Kalo ingin pasangan dengan masa lalu yg 100% bersih, silahkan cari anak baru lahir dan awasi sampai gede baru jadiin pasangan..’,” kata Egi sambil melihat handphone-nya.

sumber: armstrongismlibrary.blogspot.com

“Ehm, iya ya. Tumben lu pinter, Gi?”

“Dari dulu gue pinter kali.”

“Jadi, lu beneran sama Alena?”

“Hahahaha, benar atau tidak. Belum saatnya gue bilang sesuatu soal hubungan pribadi gue, Din. Lu tahu kan sakitnya gue yang putus kemarin ini.”

“Hmmm, baiklah. Gue tunggu kabar bahagia dari lu deh.”

“Sip.”

Handphone Egi bergetar, sebuah pesan whatsapp dari Alena.

“Udah makan sayang?”

Bahwa setiap orang memiliki masa lalu

–o–