Nyamuk

Banyak nyamuk di rumahku, gara-gara aku, tidak bersih-bersih..

Itu lagu lama, siapa ya yang nyanyikan? Sepertinya itu nongol waktu aku masih SD. Ya sudahlah, tidak penting juga untuk dibahas 🙂

Sebuah noda merah di dinding putih, hanya dua meter dari keyboard menggelitikku untuk menulis sedikit tentang nyamuk. Bukan tentang parasitologi nyamuk tentunya, karena dalam petualangan kesarjanaanku, soal parasitologi hanya dapat Cukup.. hehe..

Seekor nyamuk gemuk barusan melintas. Tahu lagi dibahas kali ya..

Nyamuk. Siapa yang suka nyamuk? Atau mungkin pertanyaannya bisa diganti, apa yang anda lakukan kalau melihat nyamuk? 90% aku rasa akan menjawab: akan segera memburu dan menaploknya sampai tuntas. Mungkin hanya 1% yang menjawab akan memakannya, dan kebetulan yang menjawab itu adalah golongan cicak.. hehe..

Ada ada dengan nyamuk? Hewan ini memang punya nuansa khusus kebencian.  Ya itu tadi, kalau melihat nyamuk, bawaannya pengen naplok sampai modar.

Tapi sikap kita, pada umumnya, terhadap nyamuk, sebenarnya mencerminkan sisi manusiawi yang unik. Nyamuk datang, menghisap sebagian kecil darah kita. Ya, hanya sebagian kecil sekali, bahkan bisa dibilang tidak terasa. Tapi kita seolah benci sangat dengan hewan itu. Apa pasal? Salah satunya, karena nyamuk meninggalkan rasa gatal, yang merupakan salah satu hal yang dibenci oleh manusia.

Lalu apa yang akan kita lakukan?

1. kita mungkin bisa memberi obat nyamuk. Perkara penamaan obat nyamuk ada baiknya dibahas tersendiri, pada intinya yang dimaksud adalah obat untuk membunuh nyamuk. Kita tinggal menyemprot atau memasang piranti dimaksud, dan berharap nyamuk tidak ada. Sesekali kalau kita menyapu, yang terlihat adalah mayat-mayat nyamuk yang bergelimpangan. Artinya, kita berupaya mencari kenyamanan dengan cara yang praktis, namun seraya berharap si pengganggu tidak akan kembali selamanya. Well, kita pun sering mencari suasana yang nyaman bukan? Bahkan mulai sering mencari kenyamanan yang praktis, kalau perlu tidak perlu mengeluarkan effort alias nggak mau rugi 🙂

2. Kita membeli lotion anti nyamuk, mulai dari merk Soffel sampai MOSKY. Kita memakainya dengan mengoleskan lotion ke tubuh kita, sambil kemudian membiarkan nyamuk berkeliaran di sekitar kita tanpa bisa menggigit kita. Dalam hal ini, kita mencari kenyamanan, mengeluarkan effort, pun kita masih membiarkan si pengganggu tetap eksis. Dalam kasus ini, kita pun bisa win-win solution dengan nyamuk ^_^

3. Kita membeli seperangkat raket nyamuk. Ini model sadis. Ketika si nyamuk lewat, kita akan mengejarnya sampai dapat. Dengan sedikit sentuhan listrik, nyamuk akan lemas. Kalau yang model sadis tadi akan membiarkan nyamuk meledak lewat sengatan listrik (diakui atau tidak, aku termasuk pelakunya hehe…) Yah, kita sebagai manusia punya batas juga. Kita pun bisa jadi sadis. Kalau mau contoh ekstrim, orang-orang bermuka baik banyak yang muncul di televisi sebagai pelaku kriminal, termasuk perlukaan pada orang lain. Terkadang itu dilakukan sebagai bagian dari pembelaan diri. Manusia memang punya limit untuk bisa menjadi ‘bukan dirinya’.

4. Kita akan memburunya sampai ke ujung ruangan, menggapai-gapai, menangkap, sampai menaploknya dengan puas. Bahkan saat kita menemukan ada bercak merah disana, kita bergumam puas, salah satunya: “modar kowe”. Mau ditampik atau tidak, ada sisi dari kemanusiaan kita yang demikian. Kita sedemikian dendamnya dengan sesuatu yang mengambil bagian dari diri kita, mengejarnya sampai batas kemampuan, menemukannya, menuntut balas, bahkan tidak peduli bahwa darah yang sedikit itu tidak akan kembali. Lagi-lagi, itu sisi kemanusiaan kita, tidak melulu terhadap nyamuk. Kadang kita lakukan juga untuk sesama kita manusia.

Nyamuk yang kecil pun ternyata memberi sedikit perspektif untuk berpikir.

Oya, sebagai catatan, nyamuk yang dibahas disini adalah nyamuk kampung. Soal nyamuk-nyamuk dengan penyakit berat ada baiknya dibahas di sisi kefarmasian dan kedokteran saja. Ada banyak yang lebih bisa menjelaskannya, toh ini hanya sekadar tepian daya pikir 🙂

Semangat!!

Oalah, lewat lagi, tak tabok tenan kowe, muk….

Keluar Dari Rel

Tadi sore, bersama seorang teman, aku pulang ke kediaman. Yah, habis belanja-belanja sedikitlah. Seperti biasa, senin sampai jumat mencari uang, sabtu dan minggu menghabiskannya. Kata-kata yang sesuai untuk fresh graduate, namun terkadang masih aku anut sampai nyaris 2 tahun menjadi pekerja.

Tapi bukan itu intinya.

Ketika pulang, memasukkan sepeda motor, dan hendak menutup pagar, ada kendala. Pagar itu tidak bisa ditarik dengan mudah seperti biasanya. Cek punya cek, ternyata roda dari pagar itu keluar dari rel-nya. Segera pagar diangkat, ditaruh kembali diatas rel-nya, kemudian pagar pun bisa ditutup kembali dengan sempurna.

Simple sekali sih. Roda pagar yang keluar dari relnya. Tapi coba sesekali kita berpikir soal ini.

Dalam hidup, kita punya rel masing-masing. Ada jalan yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk kita. Kita dapat bergerak dengan bebas dan lancar dengan rel itu. Sesekali memang ada batu atau gumpalan daun sisa banjir yang teronggok di rel, namun dengan sedikit pemaksaan, halangan itu bisa dipindahkan.

Tapi sesekali, entah karena apa sebabnya, kita keluar dari rel yang sudah disediakan itu. Apa yang terjadi kemudian?

Kita tidak bisa bergerak dengan mudah. Kita tidak punya arah untuk berjalan. Kita menjadi sebuah pagar yang hanya bisa diangkat untuk bisa bergerak. Kita bukan lagi pagar yang bisa melindungi, bahkan kita menjadi pagar yang menyusahkan, karena tidak bisa ditutup, dan butuh perlakuan khusus.

Jadi, apa gunanya keluar jalur? Toh, tidak ada jalur lain yang dipersiapkan untuk kita? Seumur-umur, aku belum pernah melihat satu pagar dengan dua rel. Ya, hanya ada pagar dan relnya masing-masing.

Refleksiku, kalau memang Tuhan sudah memberikan rel sendiri-sendiri, ya silahkan dijalani. Hal yang sulit, karena terkadang ada rintangan di rel itu, namun ternyata tidak lebih sulit ketimbang kita keluar dari rel itu. Untunglah Sang Pemberi Hidup selalu memberikan kita kesempatan kembali, mengangkat kita, agar kembali ke rel-nya.

Berefleksi itu mudah, yang sulit: mengaplikasikannya.

Semangat!!

🙂

Tarik-Dorong

Dua hari yang lalu, saya masuk ke pusat kebugaran. Ketika berada di depan pintu dengan tulisan DORONG, saya berpapasan dengan seorang bapak dari arah dalam. Mengingat tulisannya adalah DORONG, jadi saya pede saja berjalan lurus. Tanpa diduga, pintu itu justru mengarah ke saya, alias si bapak tadi menDORONG pintu tersebut dari dalam. Nyaris saja terbentur pintu. Tanpa bermaksud menyalahkan bapak itu, ketika masuk, saya cek tulisan yang tertera di pintu itu: TARIK.

Yah, kebiasaan manusia. Saya tidak perlu menyebut ini kebiasaan Bangsa Indonesia, walaupun nyata-nyata meski tulisan PUSH-PULL di pintu jauh lebih kecil font-nya, tetap saja orang-orang luar negeri yang saya temui di beberapa kesempatan berurusan dengan pintu, sangat patuh pada kasus TARIK-DORONG dan PUSH-PULL ini.

Apa sih susahnya mengikuti perintah yang tertera di pintu tersebut? Apa sih susahnya patuh pada aturan? Itu mungkin misteri hidup manusia 🙂

Tapi itulah refleksi hidup kita. Kadangkala dalam menyikapi sesuatu, kita melakukan hal yang sama. Saat situasi emosi, misalnya, ketika kita seharusnya TARIK agar suasana adem, kita malah melakukan DORONG sehingga suasana tambah panas. Percaya atau tidak, kita pasti punya arahan yang datangnya entah darimana (saya yakin dari Tuhan). Ketika mencapai suasana emosional, arahan itu meletakkan petunjuk TARIK. Tapi bisa saja kita malah melakukan DORONG.

Kenapa?

Hmm.. secara fisik, melakukan aktivitas DORONG cenderung lebih mudah daripada TARIK. Ketika melakukan aktivitas TARIK, kita mengerahkan tenaga dan semuanya bertumpu ke diri kita. Kontrol ada pada diri kita. Bandingkan dengan saat melakukan aktivitas DORONG, kita menumpukan beban pada pintu. Pintu akan bergerak sesuai beban yang kita berikan.

So, wajar sekali kan? Kita lebih suka memberikan beban kepada yang lain, alih-alih menanggungnya sendiri. Meskipun ini demi kebaikan bersama.

Yah, namanya juga manusia.. 🙂