Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

Cerita Liburan: A330

Dimulai dari hidup yang semakin galau, tiba-tiba saya menjadi sangat intuitif dan kurang berpikir. Tapi entah kenapa, kadang intuitif itu ada gunanya. Dan tanggal 8 Agustus saya memilih untuk MUDIK karena baru ngeh kalau liburannya lumayan lama. Dasar nekat, di tanggal segitu penerbangan sudah pada habis. Jadilah, saya ambil flight tanggal 17 Agustus 2012 yang tersisa: Batavia Air Jam 10.20 dari Jakarta ke Padang. Harganya? Sejujurnya ini one flight termahal yang pernah saya lakoni karena saya harus membayar sekitar 1.420.000, sekadar perbandingan, rekor saya Palembang-Jogja PP adalah Rp. 1.100.000 untuk 4 kali naik pesawat. Tapi daripada saya mati gila di sepinya Cikarang, mending saya pulang, menikmati rumah yang pastinya akan indah.

Dan berangkatlah saya.

Dimulai dari Damri Cikarang-Bandara, saya turun di terminal 1C. Sepanjang jalan saya menyaksikan betapa Jalan Tol Jakarta-Cikampek arah Cikampek menjelma menjadi tempat parkir. Sementara arah Jakarta, menjadi jalan tol yang beneran bebas hambatan. Hanya 1 jam lebih sedikit, sudah sampai ke bandara. Waw!

Saya jarang main-main ke terminal 1C. Rasanya sih baru 1 kali terbang dari sana, ketika balik dari minta tanda tangan Pak Harimat, naik Adam Air. Jadi ketika saya masuk, berasa heran, karena beda dengan 1A dan 1B yang jelas MERAH-nya. Hehehe..

Nah, duduklah saya di ruang tunggu. Persis seperti dugaan, tidak se-kampung terminal 1A dan 1B yang jelas-jelas penumpang pesawat putih merah yang BANYAK SEKALI. Ya, ramlan lah, ramai lancar.

Saya mulai heran ketika melihat isi ruang tunggu ini cukup banyak, namun 1 tujuan. Semakin heran ketika dipanggil suruh boarding, kok BANYAK banget orang di belakang saya. Makin heran lagi karena harus naik bus dulu sebelum menuju pesawat. Dan tambah heran ketika bus itu JAUH banget, memutar sampai ke terminal 1A karena saya lihat pesawat putih merah disana.

Dan saya baru NGEH dengan boarding pass saya: 20K. Saya jelas-jelas minta jendela, yang notabene kalau nggak A ya F, ini kok dapat K? Jangan-jangan ada hubungannya?

Benar saja, saya lantas sampai di terminal CARGO dengan dua buah pesawat Airbus A330 berdiri kokoh disana. Ini pesawat yang biasa dipakai oleh Batavia untuk penerbangan luar negeri, dan dari majalah saya tahu kalau Batavia hanya punya 2.

Saya lalu masuk. Dan sususan kursi yang biasanya 3-3, kini menjelma menjadi 2-4-2. Ya, ini pesawat GEDE BANGET. Akhirnya kesampaian juga merasakan pesawat besar. Makin excited ketika disebutkan ketinggian jelajahnya 40 ribu kali. Biasanya kan 27 ribu sampai 32 ribu kaki.

Well, sejujurnya, saya merasa beruntung. Pantas saja ketika maskapai lain sudah full booked, Batavia masih buka, lha jelas pesawatnya segede gaban begini. Dan mulai nggak menyesal mengeluarkan sejumlah uang yang gede itu untuk satu penerbangan menuju RUMAH dengan pesawat BESAR pertama kali. Sebanyak 60-an kali saya terbang, baru ini pakai pesawat besar. Hore sekali rasanya.

See? Intuitif tidak serta merta keliru kan?

*nantikan cerita liburan saya lainnya di saluran ini.. hehehehe..*

23 Tips “Mengubah” Jalan Cerita

Coba ngutip dari sini, dan agak menerjemahkan biar rada ngerti.

Kadang–dan saya lagi mengalami–fiksi yang dibuat itu rasanya kering. Entah apa lah masalahnya. Dan perlahan, saya menyerah atas outline-outline yang sebenarnya oke sih. *pede jaya dot com*

Nah, ada kisah-kisah yang bisa diselamatkan dengan mengubahnya. Caranya? Katanya writingforward.com sih begini:

Beri karakter TUJUAN YANG LAIN. Sebenarnya kan inti cerita itu adalah tujuan dari si karakter. Ada yang pengen pulang, mencari cinta, sampai menyelamatkan dunia. Nah, tambahkan rahasia, penyesalan, memori buruk atau motif lain yang memungkinkan tokoh melakukan sesuatu itu dengan lebih tajam.

PERDALAM PLOT. Banyak plot sebenarnya sederhana namun bisa dibuat menarik dengan membuat subplot atau plot lebih kaya dengan membuatnya kompleks seperti: tujuan tokoh adalah menyelamatkan seorang gadis, tapi apakah ia akan dapat sesuatu yang lain yang oke, kalau tidak menyelamatkan gadis itu.

Menambahkan KEHIDUPAN DALAM SETTING. Kadang nih, setting cerita itu semacam jadi latar saja. Misal, tempat apa gitu, dimana. Namun dengan memberikan setting tempat perhatian tersendiri, pasti ada kepribadian khusus dari tempat yang bisa dipakai.

MEMBUAT KONEKSI KARAKTER YANG BARU. Hubungan tentu menentukan plot dan konflik. Apa yang terjadi ketika dua karakter yang nyaris tidak kenal satu sama lain, lantas berbagi teman/musuh? Buat hubungan yang menarik antara seluruh karakter dalam cerita.

Buat TWIST. Beberapa plot kadang bisa ditebak dengan mudah. Nah, coba buat pembelokan dari yang normal itu.

REKA ULANG DESKRIPSI. Jangan ceritakan karakter kayak nulis di dinding. Perlihatkan dengan model misalnya, retakan, semut, atau apapun.

PERDALAM DIALOG. Apakah semua karakter berbicara dengan suara yang sama? Beri ekspresi yang berbeda. Ada yang mungkin mengatakan satu kata berulang-ulang di setiap percakapan atau sejenisnya.

DORONG KONFLIK. Terdapat alasan ketika tokoh tidak menjinakkan bom sampai 1 detik sebelum detonasi. Ya kira-kira seperti itu, dorong terus sampai dalam, sampai tampak tidak ada jalan keluar.

PERKUAT TEMA. Identifikasi lalu perkuat tema itu. Misal, jika mau mengisi tema PERJUANGAN, buat kadang tokohnya meneriakkan PERJUANGAN.

Ada karakter yang SIMPEL seperti POLA DASAR. Perkenalkan yang seperti ini, entah di karakter utama atau pendukung.

PIKIRKAN BAHWA KEJADIAN BLOCK itu juga terjadi di cerita lain, dan block itu bisa diatasi.

BERI CERITA MAKNA LEBIH DENGAN SIMBOL. Buat simbolisasi, seperti Mockingjay di Hunger Games. Dan cari objek yang penting yang bisa menjadi simbol seperti pena atau gambar lain.

KISAH DIBALIK KARAKTER. Tokoh pasti punya masa lalu sebelum cerita dimulai. Kalau buntu, ambil cerita dari situ dan buat hubungannya.

TAMBAH TENSI DAN INTRIK. Misal 1 tokoh pengen sesuatu yang dimiliki tokoh lain dan berupaya untuk mendapatkannya. Ya semacam inilah.

PERULANGAN UNTUK MEMPERKUAT. Perulangan sangat kuat untuk simbolisasi.

BUAT KOMPLIKASI KARAKTER. Ya buat karakter yang dalam dan penuh misteri.

MATIKAN KARAKTER PENTING. Sejujurnya saya nggak suka, tapi caranya Dee dalam mematikan Firas di Partikel juga boleh kok ditiru.

Buat PENGALIH PERHATIAN. Ini akan membingungkan pembaca dengan cara yang oke. Terutama di kisah MISTERI.

BIARKAN KARAKTER TERPENGARUH OLEH KEJADIAN YANG TERUNGKAP. Terungkapnya ya satu-satu perlahan-perlahan dan signifikan.

HUBUNGKAN PEMBACA DENGAN IRONI. Misal nih, kantor pemadam kebakaran, mengalami kebakaran. Ya semacam itulah.

MAINKAN  BAHASA dengan diksi yang menawan 🙂

ORANG BAIK -> BERBUAT JAHAT, ORANG JAHAT -> BERBUAT BAIK. Inilah dunia ketika tokoh jadi nyata. Pastilah kejadian.

BUAT VIEW YANG LEBIH LUAS. Jika ada cerita pembunuhan, bisa jadi karakter utama punya ketertarikan pada cinta. Beri pemandangan lain dari cerita, jika buat kisah cinta, kasih juga misteri gitu.
Jadi kira-kira begitu, semoga membantu (saya). Hehehehe…

Cowok Capricorn dan Cewek Virgo

pablo (2)

Yah, namanya program memuaskan orang tua, yang selalu bertanya calon menantu. Bukan kabarnya, tapi ada atau nggak. Hedeh dot com.

Ini sih buat suka-suka saja. Dikutip dari sini.

Capri dan Virgo punya hubungan yang baik dengan banyak berbagi dan memuji diantara mereka. Pasangan ini santai dan stabil. Keduanya menaruh perhatian pada akar hubungan yang kuat. Cowok Capri sangat ambisius dan keras kepala, dalam hal meraih mimpinya. Ia adalah pekerja keras dengan tekad keras dan kesabaran tinggi. Hal itu sangat penting bagi cowok Capri dalam rangka menggapai level lebih tinggi secara sosial dan finansial. Ia sering menaruh perhatian pada apa yang dipikirkan orang tentang dia. Cowok Capri juga sangat protektif pada orang-orang tersayang dan tentunya loyal. Gadisnya cowok Capri akan mendapatkan semua cinta dan perhatian jika ia mendedikasikan diri untuk si cowok dan keluarganya.

Cewek Virgo itu feminin dan intelek. Pada semua aspek, dia butuh struktur yang jelas dan efisiensi. Cewek Virgo adalah ibu dan istri yang baik. Jika ia mencintai pria, maka itu dilakukan dengan loyal dan memberikan cinta sepenuhnya.

Cowok Capri meyakini bahwa cewek Virgo dapat masuk ke keluarganya degan baik.  Cewek Virgo akan membantu sekali dengan support dan nasehat-nasehatnya.  Cowok Capri sangat stabil dan membuat cewek Virgo nyaman dengan hubungan yang ada. Ia adalah penantang dunia yang akan membuat gadisnya bangga. Cowok Capri sangat kritis pada diri sendiri dan disiplin kalau tahu dia salah, dan ini butuh apresiasi dan feedback. Inilah yang didapatkan dari cewek Virgo. Mereka punya pemenuha yang sama untuk cinta. Ya kadang-kadang muncul sikap egois, tapi selalu dimaafkan. *baik bener yak…*

Terdapat pengertian yang tidak terucapkan antara keduanya sejak awal. Kejujuran Virgo membawa Capri masuk ke dalam harmoni yang asyik. Dengan kesamaan itu, Capri melindungi gadisnya dengan emosional mendalam. Cintanya tanpa harapan tinggi.

They don’t love to be loved; they love to love.

* * *

Yah ini cuma mengutip. Sambil ngiler. Hedeh.

Menghemat Pengeluaran Skripsi

Percayalah bahwa pengeluaran skripsi itu paling mendasar dalam pengeluaran kelulusan. Berikut sedikit tips yang saya terapkan dalam rangka cost reduction di skripsi.

1. Pembimbing pasti bolak balik minta naskah. Nah, diskusikan dulu. Ada pembimbing yang bisa softcopy, itu kan sangat membantu dalam proses mengirit. Atau kalau memang harus hardcopy, diskusikan juga, mau nggak pembimbing menerima print di kertas bekas. Nah, dalam hal kertas bekas, selalu coret halaman yang tidak terpakai, dan print dalam posisi terbalik agar tidak sulit dan membingungkan.

2. Setiap revisi, usahakan tidak mengubah susunan halaman. Pasti bisa, kecuali revisinya mendasar. Jadi kalaupun disuruh revisi, yang dicetak ulang hanya halaman yang direvisi saja, tidak semua.

3. Untuk perbanyakan, JANGAN PRINT SENDIRI SEMUA. Ini sungguh boros. Boros tinta printer pasti, boros kertas iya, boros tenaga nungguin juga. Kalau mau, pilih fotokopian berkualitas print. Harganya biasanya dua kali lipat fotokopi biasa, tapi hasilnya oke. Dan kita hanya perlu nunggu barang 30 menit, alih-alih nge-print, tinta habis, beli dulu, nge-print lagi, kertas habis, beli dulu, dan seterusnya. Kalaupun hanya dicetak, ya yang berwarna saja to.

4. Teliti itu pangkal hemat. Banyak kasus, salah print membuat harus print ulang, padahal hanya perkara typo. Sebisa mungkin telitilah sebelum mencetak.

5. Kerjakan sendiri skripsi itu! Bahwa skripsi adalah satu-satunya mahakarya seoang mahasiswa, kalau dikerjakan sendiri. Kalau kita paham skripsi kita sendiri, niscaya kesalahan akan lebih minim. Banyak kasus copy paste membuat kita bingung sendiri dan akhirnya revisi. Ini juga cost loh.

6. Korbankan diri sendiri! Hmmm.. gini, waktu berangkat ujian, saya membawa sebuah copy skripsi saya sendiri dalam wujud cetakan di kertas bekas, two page per sheet. Tipe cetak? Fast draft. Hehehe.. Ini juga bagian pengiritan, toh ini skripsi kita sendiri, jadi tenang saja, harusnya kita paham.

Konsep go green mungkin belum berlaku di jaman saya skripsi, tapi dengan semakin berkurangnya hutan tentu go green semakin digalakkan. Berhematlah kertas dalam skripsi 🙂

Membalas Email

E-mail, electronic mail, alias surat elektronik alias surel adalah bentuk kekinian teknologi. Sekarang bos-bos yang saya lihat di beberapa kesempatan di bandara, kerjanya ya hanya membalas email. Hehehe..

Tapi gini, email dibalas kan tentu ada isinya, itulah kerjanya. Jadi? Email adalah bentuk komunikasi (seharusnya) dua arah dalam bentuk resmi dan tertulis.

Untuk menulis email tentu melihat level, kalau mau kirim ke level top management, tentu mengetiknya harus pakai keringat dingin dulu. Kalau selevel superior, juga kudu hati-hati. Jarang yang salah soal ini meski saya juga pernah dapat email berisi dua kata singkat padat jelas, “SANGAT MENGENASKAN!” Hehehe..

Jadi begini, yang jadi problem adalah ketika kita menulis email untuk orang yang selevel. Saya selalu berprinsip sama, kecuali sama bawahan ya. Sebisa mungkin pakai format baku. Kalau saya:

Dear Penerima,

Bla Bla Bla Bla Bla

Terima kasih

Best Regards,
Pengirim

NAH! Kalau email baik-baik begitu, layaknya dibalas dengan baik juga to ya? Bagaimana? Nggak usah seribet saja, tapi bisa disingkat:

Dear Penerima,

Bla Bla Bla Bla Bla,

Thanks,
Pengirim

atau

Rgds,
Pengirim

Simpel kan?

Dear sebagai pembuka dan Regards/Thanks/sejenisnya sebagai penutup akan membuat email tampak lebih manis dan yang menerima juga lebih enak dan komunikasi pastinya lebih lancar.

Jadi, ini simpel banget kok. Silahkan diterapkan ya.. Hehehe..

34 Tips Menulis Baik

1. Perhatikan tanda baca!
2. Ikut di NaNoWriMo, dengan tantangan novel 50 ribu kata/bulan.
3. Jangan mengedit draft pertama sebelum semua kelar.
4. Menulis minimal 30 menit per hari.
5. Mempelajari aturan menulis baik dan pelajari cara membantahnya.
6. Membawa sebagian buku ke penulis favorit, meminta pendapat.
7. Jadilah pembaca yang baik terlebih dahulu.
8. Selalu baca dan ulas yang sudah tertulis.
9. Terima kritik.
10. Gunakan kata-kata baru.
11. Baca hasil tulisan sambil bersuara 🙂
12. Hindari bagian-bagian yang tidak perlu.
13. Bekerja seolah ada deadline.
14. Dapatkan ide baru kala menulis sesuatu, kembangkan di tulisan lain.
15. Menulis setiap hari.
16. Sebisa mungkin hilangkan kata kerja berlebihan.
17. Edit 1-2 hari setelah tulisan jadi.
18. Ekspresikan pandangan dengan diksi yang sesuai.
19. Baca karya penulis besar.
20. Jika satu kata bermakna sama dengan 3, ganti dengan 1.
21. Adaptasi penulis lain.
22. Alih-alih menambah keterangan pembicaraan, gunakan saja aksi atau kata percakapan untuk memuat keterangan itu.
23. Menulis sering untuk menyelesaikan jadwal yang realistis.
24. Fokus dan berpikir positif.
25. Gunakan kalimat penulis lain sebagai model dan sesuaikan.
26. Hindari kalimat panjang.
27. Pelajari perbedaan “Me, Myself, and I”
28. Jika proyek panjang, suruh editor diam, dan menulislah.
29. Hati-hati dengan ekspresi yang tidak perlu.
30. Cari kesalahan penulisan.
31. Baca tips, ikut grup penulisan, cari pelatih.
32. Tulis draft pertama spontan.
33. Buat plot.
34. Edit, edit, edit.

Dikutip dari dailywritingtips.com

50 Cara Sederhana Membangun Landasan Menulis

Disalin dengan tambahan dari xposisi.com

Di era teknologi modern seperti sekarang, seorang penulis diberi keleluasaan untuk mempromosikan bukunya sendiri.Tak hanya penulis self-published, penulis dari major publisher juga diharapkan mempromosikan bukunya melalui social media hanya dalam satu klik.

Menulis adalah seni, begitu juga dengan self-promotion. Dari pertama kali kamu menuliskan kata pertama, kamu juga boleh memikirkan bagaimana caranya men-share tulisanmu. Dan sekali kamu mulai berpikir menulis dan usaha mempromosikannya melibatkan seni, hal luar biasa mulai terjadi. Kamu akan menemukan pembaca.

Buku tidak ditulis dalam semalam. Tulisan terus berkembang dari hari ke hari, mengalami perubahan, penambahan, proses editing, dan lain sebagainya. Sama dengan landasan kita, yang mencakup segala cara agar tulisan kita bisa dibaca orang.

Ada beberapa cara  cepat untuk mengubah landasan menjadi action. Berpikirlah setiap langkah kecil sebagai lompatan besar dalam mendapatkan pembaca, juga kesempatan menyenangkan untuk menyebarluaskan hasil keja kerjamu.

Listen & Learn

1. Mencari Pembaca Setia. Perjelas jenis pembaca yang ingin kamu cari. Tulislah daftar jenis-jenis pembaca yang kamu miliki. Lalu, putuskan kelompok mana yang akan kamu jadikan sebagai pembaca setia tulisanmu.

>>> setidaknya ada 1 pembaca setia Aku dan Alfa 🙂

2. Memulai Penelitian. Google Alerts (google.com/alerts) dapat membantumu eksis di dunia maya. Set up alerts untuk memberitahu namamu, judul buku, artikel, Twitter handle, site URL dan topic lain pop up online. Kamu akan senang melihat alert yang muncul ketika orang lain mempromosikan bukumu.

>>> cuma dapat rating Alexa sama Edelman Level 🙂

3. Membuat Polling. Ketika sedang menulis, dan kamu bingung dengan berbagai pilihan nama tokoh, misalnya, buatlah polling di Facebook atau Twitter dan tanyakan kepada pembaca. Biasanya penulis mendapat jawaban dari hasil polling yang dibuatnya.

>>> lihat di kanan atas blog ini hehehe..

4. Hargai Orang Lain. Dalam social networks, follow dan berteman dengan orang-orang yang kamu kagumi. Jangan mempromosikan bukumu terus menerus, karena timeline akan menjadi seperti iklan mini. Kenali follower-mu dengan baik, dan promosikan bukumu perlahan tapi pasti.

>>> dan saya belum punya buku sendiri.. hehehe..

5. Study the Competition. Klik search engine lalu ketik keywords tetang tema tulisanmu. Lihat link yang muncul. Jangan takut bersaing. Pelajari kompetitormu. Apakah mereka lebih baik dari pada kamu? Tambahkan hal-hal yang kamu pelajari dalam to-do list.

>>> sakjane ngeri 🙂

Create Context

6. Perkenalkan diri. Tulislah data diri singkat agar pembaca tahu. Cantumkan alamat blog, status, judul buku yang sudah diterbitkan, dan kerjasama professional lainnya..

>>> lumayanlah di blog ini..

7. Show Yourself in Action. Kamu pasti banyak memiliki foto tapi banyak yang belum dipublikasikan. Carilah beberapa foto dengan resolusi tinggi. Foto dimana kamu menghadiri acara klub buku, tanda tangan buku dan segala sesuatu yang berhubungan dengan karyamu. Muat foto-foto tersebut di Facebook, Twitter dan blog.

>>> dan itu belum ada huaaaa…

8. Post Ads and Affiliate Links. Ingin mendapatkan uang secara online? Muatlah iklan atau link afiliasi di blogmu.

>>> dan berakhir dengan diblokirnya blog ini 😦

9. Buat Event. Buatlah kegiatan dengan jangka waktu tertentu dan melibatkan keikutsertaan penulis lain. Seperti NaNoWriMo, kamu bisa membuat event serupa, misalnya: November Menulis. Post hasilnya di blog, Facebook dan Twitter.

>>> pengennya sih..

10 Grade Yourself. HubSpot memiliki free graders (grader.com) yang bisa menilai tingkat keefektifan website, blog, Google Alerts, Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Setiap penilaian memakan waktu kurang dari lima menit.

>>> mbuh kie?

Contribute Content

11. Bagi-Bagi Tulisan. Buat pengumuman di social media tentang tulisan yang akan kamu bagikan gratis. Bisa berupa flash fiction, cerpen atau puisi. Cantumkan link-nya.

>>> selalu gratis kalau saya mah, ada yang baca wae syukur 🙂

12. Brainstorm 20 Ide. Kalau kamu tidak menanyakan dirimu sendiri tentang ide baru yang muncul, biasanya setengahnya akan hilang. Lalu, kamu membaca blog orang lain, majalah, atau surat kabar. Biasanya muncul ide untuk menulis. Biasakan menuliskan ide yang muncul di buku bank ide. Berpikirlah setidaknya lima menit untuk satu ide.

>>> setiap hari dibawa tapi tak ditulis heheheuu..

13. Put Your Best Forward. Pastikan follower-mu langsung membaca postinganmu. Beberapa blog memiliki widgets yang langsung menposting tulisan setelah selesai ditulis di blog.

>>> so pasti..

14. Recycle. Luangkan waktu beberapa menit untuk melihat tulisan lamamu di blog. Cari blog orang lain, forum atau website yang tertarik untuk mempublikasikan tulisanmu. Edit kembali tulisan lamamu agar lebih ‘cantik’.

>>> sering juga sih.. 🙂

15. Menulis Review. Pembaca atau follower-mu biasanya ingin tahu buku favoritmu dan alasannya. Buat review singkat tentang buku yang sudah kamu baca dan post di website seperti GoodReads, Amazon.com and Red Room. Untuk karma baik, tulislah review positif untuk penulis favoritmu.

>>> kadang kadang sekali..

Cultivate Community

16. Prompt a Response. Prompt adalah kata atau tema sugestif yang memicu respon interaktif dari orang lain. Bisa berupa foto, simbol atau kata, atau bisa juga beruba teka-teki.  Biasanya, penulis memberikan kuis buku gratis untuk pembaca. Jawaban benar diundi dan dicari pemenangnya. Coba saja, pembaca pasti suka.

>>> belum punya buku 😦

17. Lima Menit Interaksi. Reply komen yang masuk di blog. Beri ucapan terima kasih kepada pembaca setia blog kamu. Karena mereka menyukai karya kita, beri penghargaan kepada mereka dengan meluangkan sedikit waktu untuk berterima kasih.

>>> langsung secepat kilat..

18. Buat Tawaran Menarik. Kalau kamu sedang mengerjakan proyek buku dan membutuhkan bantuan penulis lain, editor atau first reader, beri kompensasi. Bisa dengan memberi diskon untuk buku, atau namanya tercantum di daftar terima kasih. Buat mereka yang bekereja denganmu bahagia.

>>> tunggu duit dulu..

19. Kerjasama Stategis. Siapa yang ingin kamu jadikan partner? Ramah dan ringan tangan tentu diperlukan dalam kerjasama, tetapi kerjasama yang baik menguntungkan kedua belah pihak. Buat perjanjian tertulis agar lebih jelas dan terlihat formal.

>>> 1 project saja susah.. 🙂

20. Create a Quickie Blogroll. Buat list penulis kesukaanmu. Cari di Google lalu buatlah blogroll. Posisikan blogmu sebagai sumber inspirasi dilihat dari segi kualitas, bukan kuantitas.

>>> maksude??

Be Authentic

21. Be Yourself. Saran yang mengatakan penulis harus bersikap sesuai dengan brand image membuat kita melupakan sikap sebagai orang biasa. Tapi, social media dibuat untuk manusia, bukan robot. Faktanya adalah kamu seorang penulis, orang tua, bankir, public relations, etc. Pembacamu ingin melihat kamu sebagai diri kamu sendiri. Luanghkan lima menit untuk menulis profil yang ‘kamu banget’.

>>> cek, about me 🙂

22. Put Passion Into Action. Misalnya kamu menulis cerita fiksi. Apakah sulit untuk membuat outline dan landasan? Tidak. Kerjakan sepenuh hati. Jangan beranggapan tidak ada yang peduli. Anggap saja jutaan orang sepertimu, dan ingin berhubungan denganmu. Tulis pendahuluan singkat tentang mengapa kamu sangat bersemangat menulis tentang topik tersebut. Baca kembali setiap kamu online. Itu akan membantumu untuk fokus.

>>> iki mboh kie..

23. Get Together. Biarkan orang tahu akan kegiatanmu. Misalnya: mengajar, mengikuti workshop menulis, dan lain-lain. Make yourself accessible.

>>> nggak enak sama kantor 🙂

24. Spark Conversations. Banyak orang di luar sana yang tertarik dengan topic yang sedang kamu tulis. Cek Google, Twitter atau forum dimana topikmu sedang ramai dibahas. Aktiflah dalam diskusi. Biasanya penulis mendapat ide tambahan dari interaksi tersebut.

>>> kadang kadang sajo..

25. Share the Journey. Kehidupan seseorang penuh warna dan disisipi dengan lika-liku. Biarkan pembacamu tahu tentang keadaanmu. Update status dengan cerita lucu yang baru kamu alami, atau peristiwa sedih tentang kematian hewan peliharaanmu. Curious fans love to be treated like insiders.

>>> noh, cek Aku dan Alfa 🙂

Synergize Connections

26. Friend and Follow Media Pros. Cari akun penerbit, penulis dan editor lalu follow mereka. Ramahlah pada mereka. Jika namamu mulai dikenal, jangan kaget mereka yang akan mencarimu.

>>> sudah! dan belum dikenal.. hehe..

27. Say Thanks. Dalam waktu lima menit, kamu bisa menuliskan kartu ucapan terima kasih, menempelkan di buku dan membungkusnya dengan rapi. Lakukan dengan rutin, sebagai ucapan terima kasih atau hadiah kuis pembaca.

>>> dibilangin belum punya buku sendiri.. heuheuheu..

28. Articulate Your Allies. Siapa yang mensupport hasil karyamu? Karya siapa yang kamu suka? Sesama penulis biasanya saling membaca dan mereview tulisan masing-masing. Bertemanlah dengan mereka yang suportif sehingga tujuanmu tercapai dengan baik.

>>> yah, sesama saya yang satu itu malah menjauh kie..

29. Sesi Tanya Jawab. Buat daftar pertanyaan tentang topik yang menurutmu menarik. Mintalah orang-orang untuk menjawabnya dalam berbagai format: video chat, email atau wawancara via smart phone.

>>> hemmmm…

30. Shake Things Up. Stop menjadi penganut yes, Sir. Ambil satu topic lalu adu argumentasi dengan teman.

>>> opo maneh ki?

Produce Yourself

31. Capture E-mail Addresses. Gunakan servis newsletter service atau RSS feed service di blogmu sehingga orang-orang bisa mendaftar dan berlangganan blogmu.

>>> sudah kok..

32. Go Multimedia. Munculkan kembali konten lama dengan fresh media. Habiskan lima menit latihan membaca tulisanmu dengan smartphone. Atau hafalkan chapter awal, lalu bacalah sambil direkam tanpa skrip.

>>> hehehehe…

33. Ask for Feedback. Untuk mengetahui karyamu baik atau tidak, kita harus tahu pendapat orang lain. Kirimkan feedback form kepada pembacamu.

>>> segera deh..

34. Outsource Something. Habiskan lima menit untuk memikirkan topi yang sedang dipakai: the creative, the closer, the perpetual student, the accountant, the publicist, etc. Cari kelemahan yang kamu miliki dan mintalah orang lain untuk membantumu mengatasi kelemahan tersebut.

>>> berharap…

35. Share More. Satu kesalahan umum yang sering kita lakukan adalah to make it perfect, yang akan membuat kita memiliki banyak pembaca. Tapi, seringkali malah sebaliknya. Kerja keras untuk memaksimalkan tulisanmu.

>>> berusaha…

Publicize Yourself

36. Hunt and Answer. Jangan lupakan media tradisional. Jawablah permintaan media di Help a Reporter Out (helpareporter.com). Dalam waktu lima menit, kamu akan mendapatkan respon dari setidaknya satu media. Setiap postingan membuat namamu dikenal.

>>> kalau saja ada.. hahaha..

37. Grow Your List. Kemanapun kamu pergi, apapun yang kamu lakukan, bawa kertas/buku dan minta alamat email dari orang yang kamu temui. Siapa tahu, mereka adalah calon pembaca setiamu.

>>> iya ya?

38. Think Ahead. What do you have coming up? Buat daftar event yang akan berlangsung dan publikasikan di blog, newsletter, social media dan e-mail signature. Seringlah membuat update.

>>> maunya sih, kalau sempat..

39. Compartmentalize. Buatlah list email pembaca, teman, rekan kerja, dll. Reorganize your e-mail groupings.

>>> hihihihi…

40. Master the 5-Minute Release. Fokuslah pada satu peristiwa penting dalam waktu dekat. Buat press release dalam lima menit dan kirimkan setidaknya sebulan sekali. Short is good.

>>> nggak ada..

Pay it Forward

41. Round Up Resources. Kumpulkan buku, website dan sumber lain yang berhubungan dengan topic yang sedang kamu tulis. Be helpful to others, and they’ll send people to you.

>>> lha ini contohnya.. hehe..

42. Boost Others. Bantulah rekan penulis atau penulis debut dalam mempromosikan bukunya. Tawarkan juga untuk menulis testimonial.

>>> kalau ada yang minta, dengan rela hati…

43. Offer Your Services. Menurut Gary Vaynerchuk, penulis Crush It!, pertanyaan terbaik yang bisa kamu tanyakan di social media adalah, “What can I do for you?” Ide yagng simple tapi brilian. Lakukan secara berkala.

>>> siapppp…

44. Be a Good Guest. Tanyakan dirimu sendiri pertanyaan sulit dan controversial yang orang lain tidak berani tanyakan (tapi penasaran ingin tahu). Bisa dipost di blog dan dishare kepada pembaca.

>>> apa eaaa…

45. Hit the Highlights. Kamu tidak harus menuliskan semua hal yang dibicarakan dalam event/workshop. Tuliskan intinya dan bagikan di blog.

>>> T_T

Strut your Stuff

46. Count Down to Every Launch. Punya buku yang mau dirilis? Bagikan kegembiraan di social media. Tulislah promo bukumu, misalnya: minggu depan buku A akan rilis. Berikan juga clue tentang isi bukumu agar pembaca penasaran dan tertarik ingin membaca.

>>> nggak punyaaaa…

47. Spiff Up What’s Old. Tawarkan promosi agar orang tertarik membaca karyamu. Misalnya: diskon selama pre-order buku.

>>> maunyyaaaa…

48. Make Merchandise. Dalam mempromosikan bukumu, biasanya ada kuis gratis berhadiah buku. Kerjasama dengan media seperti majalah atau radio. Kamu bisa sekalian mempromosikan karyamu.

>>> kalau adaaaaa…

49. Sustain Yourself. Online secara aktif memerlukan keseimbangan dan kesabaran. Pertegas bagaimana dan dimana kamu ingin mencurahkan energi. Sortir kembali dan buatlah skala prioritas, dimana kamu bisa menulis dengan tenang dan online secara berkala.

>>> hihihihi…

50. Break Out of Your Box. Tanya diri sendiri, “Apa yang akan aku buat jika aku membiarkan diriku menciptakan apapun yang kumau?” Lepaskan label yang melekat, seperti novelis, penulis puisi atau jurnalis. Dalam lima menit, tulislah apa saja sejujurnya, dari lubuk hati terdalam. Kemampuanmu untuk keluar dari kotak bisa menginspirasi orang lain.

>>> siipppp…

Disadur dari: The Writer’s Digest

Tips Menulis Fiksi Dari Penerbit Escaeva

Seluruh tulisan ini dikutip dari Web Penerbit Escaeva

MEMILIH SUDUT PANDANG

Sudut pandang atau point of view di dalam cerita fiksi pada prinsipnya adalah siapa yang menceritakan cerita tersebut. Sudut pandang itu seperti kita melihat sesuatu peristiwa melalui mata ‘seseorang’. Kejadian yang sama di mata anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda, sehingga sudut pandang sangat berpengaruh pada bagaimana cerita itu akan diceritakan. Bagaimana nuansa, gayanya, dan bahkan makna cerita itu bisa berbeda tergantung sudut pandang mana yang dipakai.

Misalkan saja kita memiliki sebuah cerita tentang pembunuhan serial. Kita memiliki beberapa tokoh, yaitu detektif yang bertugas menangani kasus itu, si pembunuh yang mengincar korbannya, dan seseorang yang mungkin menjadi korban berikutnya. Minimal, dari cerita itu kita memiliki ada 3 sudut pandang penceritaan yang berbeda. Apakah kita akan mengikuti gaya cerita cerdas si detektif, atau menyelami psikologi temperamental si pembunuh, atau bersama-sama korban harap-harap cemas menanti kejutan dari si pembunuh. Atau bisa juga Anda melihat dari sudut pandang seorang reporter yang melaporkan kejadian pembunuhan itu. Setidaknya dari cerita ini saja ada 4 variasi sudut pandang yang bisa Anda pakai.

Kalau mau lebih nyentrik lagi, bisa saja Anda menggunakan sudut pandang dari cermin yang ada di rumah korban, atau lebih ekstrim lagi sudut pandang lalat yang kebetulan menclok di tubuh korban. Banyak sekali kemungkinan sudut pandang yang dapat digunakan.

Ada dua sudut pandang yang biasa dipakai di dalam penulisan fiksi, antara lain:
1. First Person Point of View (Sudut Pandang Orang Pertama)
Di sini, narator berperan sebagai salah satu karakter. Karakter dipakai biasanya adalah karakter utama di cerita. Biasanya sudut pandang ini mudah dikenali, dengan ‘aku’ atau ‘saya’ sebagai karakter utama.

2. Third Person Point of View (Sudut Pandang Orang Ketiga)

Sudut pandang orang ketiga dipakai bila kita menggunakan narator yang tidak ikut menjadi salah satu karakter fiksi tersebut. Namun, narator tersebut mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh karakter-karakter tersebut. Mungkin bisa Anda analogikan sebagai reporter di cerita pembunuhan di atas.

Sudut pandang orang ketiga bisa dibedakan lagi menjadi Omniscient atau Limited. Kalau di Omniscient Point of View, orang ketiga tersebut mengetahui semuanya tentang seluruh karakter cerita, baik perasaannya atau pikirannya. Sedangkan yang Limited, orang ketiga itu hanya mengetahui tentang beberapa karakter saja.

Jadi manakah yang harus dipilih? Tidak ada jawaban untuk pertanyaan ini. Semua sudut pandang bisa menghasilkan cerita yang hebat, tergantung Anda sebagai penulis untuk mengolahnya.

Jadi, Anda dapat bermain-main dengan gaya cerita, nuansa cerita hanya dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Cobalah mengeksplorasi cerita Anda dengan mencoba sudut pandang yang lain, mungkin akan menghasilkan cerita yang lebih baik lagi.

Selamat Menulis

oleh Didik Wijaya
copyright Penerbit Escaeva

THE DEVIL IS IN THE DETAILS

Beberapa kelemahan yang sering ditunjukkan oleh para penulis pemula adalah sedikitnya detil yang digunakan untuk memperkuat cerita. Padahal walaupun sepele, detil berguna untuk menambah kekuatan karakter ataupun memperkaya setting.

Cerita Anda akan lebih nyata kalau dibantu dengan detil. Manusia memiliki berbagai macam indera. Gunakan indera tersebut untuk membuat cerita Anda nyata di mata pembaca, di telinga pembaca, di lidah pembaca, di hidung pembaca, atau di kulit pembaca.

Masih ingat dengan penggalan cerita di dalam artikel Show, Don’t Tell? Di bawah ini akan ditampilkan lagi penggalan cerita tersebut.

Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir sereal kesukaannya. Ia masih sempat mencomot sari buah kotak yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, masuk ke mobil, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput sari buah, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Perhatikan di dalam cerita itu terdapat beberapa detil, misalnya ada jam dinding bulat, sereal, sari buah yang ada di kulkas, dll. Penggalan cerita ini menggambarkan Susan yang terburu-buru untuk wawancara, menyukai sereal, memiliki mobil. Hanya itu. Siapa sebenarnya Susan kita tidak tahu.

Sekarang perhatikan penggalan cerita yang sama di atas diberi sedikit modifikasi:

Sepuluh menit lagi! Susan melirik swatch yang melingkar manis di pergelangan tangannya, sambil tangannya menyuapkan potongan terakhir pizza peperoni. Ia masih sempat mencomot sekaleng coke yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, mengunci pintu, dan segera masuk ke dalam jazz biru matik hadiah papanya, dan melaju ke jalanan. Sambil sesekali menyeruput coke-nya, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Sekarang kita bisa melihat, setidaknya kita bisa menduga, Susan berasal dari keluarga menengah atas, usianya masih muda, mandiri dan tinggal sendirian.

Sekarang perhatikan penggalan cerita yang sama di atas dengan sedikit modifikasi yang berbeda:

Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir nasi goreng yang dibuat mamanya. Ia masih sempat mencomot botol yang sudah diisi air putih yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, tidak lupa mencium tangan mamanya, dan melompat ke jok belakang motor ojek yang sudah menunggu dari tadi, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput air putih yang dibawanya tadi, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Sekarang Susan menjadi tinggal bersama orang tuanya, berasal dari keluarga menengah bawah, memiliki hubungan dengan orang tua yang baik, terlihat sebagai anak yang berbakti.

Di sini Anda tidak perlu menceritakan kalau Susan miskin, Susan kaya, Susan begini, atau Susan begitu, karena detil sudah menceritakan segalanya. Show them as details, don’t tell them literally! Jadi perhatikan detil, karena ia bisa menjadi teman atau musuh Anda. Sebagai teman, ia bisa membuat cerita Anda menyakinkan, menjadi lebih berkarakter, tetapi sebaliknya ia bisa membuat cerita Anda menjadi tidak masuk akal karena detil yang bertentangan, atau menjadi hambar miskin ekspresi juga karena detil yang sangat minim.

Apakah detil hanya berlaku bagi fiksi? Tidak. Naskah non fiksi pun harus memperhatikan detil. Apa yang Anda tulis memerlukan bukti, seperti kutipan, angka, statistik, dll. Bandingkan kalimat: “Kebanyakan anak sekarang menderita obesitas”, dengan “Setiap 55 dari 100 orang anak di bawah 12 tahun menderita obesitas”. Berbeda bukan? Ingat detil, detil, detil!

It’s true. The Devil is in the details.

oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva

SHOW, DON’T TELL

Sebuah kisah yang sesungguhnya menarik, di mata pembaca bisa menjadi kurang menarik atau bahkan menjadi hambar, hanya karena teknik penulisan. Demikian juga cerita yang biasa-biasa saja bisa menjadi sangat menarik, juga karena teknik penulisan.

Perhatikan penggalan cerita berikut:

Pertama
Susan keluar dari kantor atasannya dengan sedih. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya.
Reaksi pembaca:
Oh, Susan baru saja dipecat.
Kedua
Mata Susan mulai memerah. Bibirnya sedikit tergetar menahan tangis yang ingin melompat keluar dari kerongkongannya. Susan menutup pintu kantor atasannya dengan pelan dan menghela napas, mencari kekuatan bagi dirinya. Ia memandang berkeliling. Ia melihat rekan-rekannya. Ia tidak akan bertemu dengan mereka lagi.
Reaksi pembaca:
Apa yang terjadi dengan Susan? Kenapa ia sedih? Apakah ia dipecat?

Kedua penggalan cerita di atas memiliki inti yang sama. Susan sedih karena dipecat. Tetapi dua cerita di atas memiliki dampak yang berbeda pada pembaca. Pada teknik penulisan pertama, pembaca mungkin sambil terkantuk-kantuk menyadari kalau Susan dipecat. Tetapi pada teknik penulisan yang kedua, emosi pembaca terpancing, pembaca tergerak untuk mengetahui lebih jauh, apa yang akan terjadi pada Susan.

Judul artikel ini menjadi jawaban mengapa inti cerita yang sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda. Show, don’t tell. Penggalan cerita pertama memberitahukan (TELLING), seperti menonton berita malam di TV, sedangkan penggalan cerita berikutnya menunjukkan (SHOWING), menunjukkan kejadian yang terjadi, seperti apa perasaannya, dll.

Masih belum melihat perbedaannya? Perhatikan lagi dua penggalan cerita dengan inti cerita yang sama ini:

Pertama
Susan terburu-buru berangkat. Ia harus wawancara untuk pekerjaan barunya.

Kedua
Sepuluh menit lagi! Susan melirik jam bulat di dinding, sambil tangannya menyuapkan sesendok terakhir sereal kesukaannya. I masih sempat mencomot sari buah kotak yang ada di kulkas. Cepat-cepat ia berlari keluar rumah, masuk ke mobil, dan meluncur ke jalan. Sambil sesekali menyeruput sari buah, bibir Susan komat-kamit menghafal jawaban yang mungkin diajukan calon pewawancaranya nanti. Ia sudah menyiapkannya sejak tadi malam. Tekadnya bulat untuk mendapatkan pekerjaan itu.

Show, don’t Tell !

oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva

THE HERO WITH A THOUSAND FACES

Salah satu buku paling berpengaruh di dunia penulisan, dan juga di dunia film adalah THE HERO WITH A THOUSAND FACES karya Joseph Campbell yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1949. Salah satu pembuat film Holywood yang pertama kali mengakui pengaruh buku Joseph Campbell ini dalam filmnya adalah George Lucas. Ia mengatakan bahwa STAR WARS yang pertama kali tayang di tahun 1970an dibuat berdasarkan ide yang ada di dalam buku The Hero With A Thousand Faces.

Joseph Campbell adalah seorang profesor Amerika yang meneliti bidang mitologi. Ia menemukan bahwa setiap mitologi di seluruh dunia, semua cerita kepahlawanan, mitos, legenda, MEMILIKI DASAR CERITA YANG SAMA. Cerita yang sama tersebut diceritakan kembali dengan berbagai variasi yang berbeda. Ia menemukan bahwa setiap cerita, secara sadar atau tidak, mengikuti pola yang sama, atau disebut juga “HERO MYTH”.

Pola cerita seorang hero di dalam THE HERO WITH A THOUSAND FACES antara lain:

1. HERO HIDUP DI DUNIANYA SENDIRI
Hero berada di tengah-tengah kehidupannya yang biasa-biasa saja atau mapan. Kadang terasa membosankan. Di Star Wars, Luke Skywalker awalnya berada di daerah sepi sebelum melanglang buana di antariksa.
2. PANGGILAN UNTUK KELUAR BERPETUALANG
Sebuah masalah atau tantangan ditunjukkan kepada Hero. Mungkin saja untuk menyelamatkan dunia, mendapatkan pedang magis, atau lainnya. Di Star Wars, pesan holografis Princess Leia kepada Obi Wan Kenobi yang mengajak Luke untuk berpetualang.
3. AWALNYA HERO ENGGAN UNTUK MENINGGALKAN DUNIANYA YANG MAPAN
Kadang dalam fase ini, hero enggan untuk meninggalkan posisinya. Mungkin ia takut menghadapi ketakutan terbesarnya, hal yang tidak diketahui tentang dunia baru. Luke menolak ajakan Obi Wan, kemudian pulang hanya untuk mendapati bibi dan pamannya dibunuh oleh prajurit Emperor. Tiba-tiba Luke tidak enggan lagi dan termotivasi untuk melakukan perjalanan.
4. HERO DIBIMBING OLEH MENTOR
Pada saat ini, muncul karakter lain yang mendorong hero untuk berpetualang, yang akan menjadi mentornya. Di Star Wars, orang ini adalah Obi Wan Kenobi yang memberikan Luke sebuah light sabre yang dulu digunakan ayahnya.
5. HERO MELEWATI TANTANGAN PERTAMANYA
Hero akhirnya memasuki dunia baru, petualangannya. Saat inilah cerita sesungguhnya dimulai. Hero akan memulai perjalanannya dan tidak ada jalan untuk kembali.
6. HERO MELALUI BERBAGAI TES DAN MENDAPATKAN TEMAN.
Hero dipaksa untuk menemui berbagai teman dan musuh dan melalui berbagai tes dan halangan sebagai bagian dari latihan. Di Star Wars, Luke berteman dengan Hans Solo dan mulai mendapat halangan dari Jabba The Hut. Luke juga mendapatkan latihan dari Obi Wan mengenai The Force.
7. HERO MENCAPAI TEMPAT PALING BERBAHAYA
Hero sampai pada tempat paling berbahaya. Kadang hero akan masuk ke daerah musuh seperti di Star Wars saat menyelamatkan Princess Leia dari Death Star.
8. HERO MENGALAHKAN TANTANGAN TERBESARNYA
Inilah saat hero berada di posisi jatuh di tempat paling dasar. Ia mungkin berhadapan dengan kondisi hidup atau mati berhadapan dengan makhluk paling dahsyat. Inilah saat paling menentukan dan paling gelap. Di sini pembaca akan berhenti menarik napas, apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat hero seakan mati dan hidup kembali, dan berhasil mengatasi tantangan terbesarnya, saat itulah saat yang paling membangkitkan emosi pembaca.
9. HERO MENDAPATKAN APA YANG DICARI
Setelah menghadapi tantangan terbesarnya, hero akan mendapatkan harta karun yang ia cari-cari selama ini. Mungkin harta karun itu berwujud pedang magis paling sakti, atau mungkin hanya berwujud pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik. Hero mungkin menyelesaikan konfliknya dengan teman, ayah, atau kekasihnya. Di Star Wars, Luke mengetahui bahwa Darth Vader adalah ayahnya.
10. PERJALANAN KEMBALI
Cerita belum selesai. Hero masih dikejar oleh kekuatan pemilik harta karun yang ia curi. Kadang musuh yang semula dikalahkan ternyata masih hidup. Di Star Wars, pengejaran terjadi saat Luke dan teman-temannya berusaha meloloskan diri dari Death Star.
11. KELAHIRAN KEMBALI
Fase ini adalah pengulangan dari fase sebelumnya, dimana hero harus menghadapi tantangan terbesar yang lain. Sekali lagi hero akan mengalami hampir mati dan selamat. Setelah memenangkan hal ini, hero akan menjadi manusia baru.
12. KEMBALI KE DUNIA LAMA
Hero kembali ke dunianya yang lama, sambil membawa sesuatu dari petualangannya. Mungkin itu sebuah harta atau hanya sebuah pengalaman yang membuat ia memandang dunianya secara lain.

Singkatnya, cerita tentang hero ini dimulai dari dunia yang biasa saja, dimana ia mendapat panggilan. Ia pada awalnya enggan berpetualanag, tetapi kemudian ia didorong oleh mentor untuk mengatasi tantangan pertama dan mendapatkan teman. Ia jatuh ke bagian paling dasar dan mampu mengatasinya. Ia mendapatkan pedang atau harta dan dikejar sampai ke dunia asalnya. Akhirnya ia menang dan mendapatkan pengalaman baru saat kembali hidup di dunianya.

Dengan pola ini, Anda akan dapat membuat cerita yang sesuai dengan berbagai kondisi, cerita yang dramatis, menghibur dan secara psikologis benar. Cerita yang dibuat berdasar model THE HERO WITH A THOUSAND FACES memiliki daya tarik universal. Pembedanya adalah setiap pencerita menggunakan berbagai variasi untuk menceritakan hal yang sama. Itulah mengapa, THE HERO HAS A THOUSAND FACES.

Namun, mengikuti petunjuk ini dengan kaku akan membuat cerita yang kaku pula. Hero Myth ini adalah kerangka cerita yang seharusnya dibungkus oleh cerita individual dan detail. Fase di dalam hero myth ini dapat ditambahkan, dihilangkan atau diganti urutannya.

Inti dari hero myth ini adalah yang paling penting. Gambaran tentang seorang hero yang mencari pedang ajaib, melawan naga, dsb hanyalah simbol, dan dapat diubah sesuai dengan cerita yang diinginkan. Dengan demikian Hero Myth ini mudah ditranslasikan ke dalam cerita aksi, drama, komedi, roman atau lainnya. Mentor di dalam cerita ini bukan saja penyihir, orang tua perjenggot putih, peri yang baik hati tetapi bisa saja menjadi dokter, ayah, kakek, dst. Hero modern tidak akan masuk ke dalam gua, dsb tetapi bisa saja ke luar angkasa, masuk ke dalam pikiran atau kesibukan tempat kerja.

Hero Myth ini dapat digunakan untuk menceritakan cerita paling sederhana sampai drama yang rumit. Anda dapat menambahkan karakter, dan menambahkan detail sesuai keinginan Anda.

Salah satu cerita dari Disney yang dipercaya menggunakan pola The Hero With A Thousand FAces adalah Lion King (1994). Trilogi Matrix juga dikabarkan terinspirasi dari ini juga. Sebenarnya tidak hanya Lion King, tetapi kalau Anda perhatikan benar-benar, hampir semua film dari Disney menggunakan pola yang sama, tunjuk saja Monsters Inc, Mulan, sampai film animasi terbarunya Cars, dll. Memang benar, THE HERO HAS A THOUSAND FACES.

oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva

KARAKTER FIKSI YANG NYATA

Salah satu kunci dalam menulis fiksi yang baik adalah dengan menciptakan karakter yang menarik. Tidak cukup hanya dengan menarik, tetapi juga harus “believeable”.

Ketika Anda ingin membuat cerita fiksi, pertama kali yang perlu Anda pertimbangkan adalah karakter. Biasanya orang berkutat untuk mencari plot cerita. Kali ini tinggalkan plot cerita itu sebentar. Sekarang pikirkan karakter Anda. Karakter Anda yang akan menentukan ke arah mana cerita itu akan berjalan. Jika Anda memaksakan suatu karakter masuk ke dalam suatu plot cerita, justru Anda akan merusak keseluruhan karakter itu sendiri. Tetapi jika Anda membiarkan karakter “berlakon” dalam “dunia cerita”, karakter itulah yang akan menuliskan ceritanya untuk Anda. Bayangkan Anda memiliki karakter hidup yang bisa menentukan pilihannya sendiri, bukannya Anda memiliki boneka mati yang bisa Anda suruh melakukan yang Anda inginkan. Berikut ini akan ditunjukkan beberapa tips bagaimana membuat karakter yang “believeable” tersebut.

1. Karakter Anda harus memiliki sifat dan kepribadian tertentu
Setiap karakter memiliki sifat dan kepribadian masing-masing, seperti Anda juga memiliki kecenderungan kepribadian tertentu. Tidak ada seorangpun di dunia yang memiliki semua macam sifat, kecuali orang dengan “multiple personalities”. Pilihlah kepribadian karakter Anda. Anda juga bisa memilih satu, sampai beberapa macam kepribadian. Tentukan mana yang dominan. Seringkali kepribadian tersebut saling bertabrakan. Tidak masalah. Itu justru akan menambah hidupnya karakter.

2. Konsisten dengan kepribadian karakter
Anda harus konsisten dengan kepribadian karakter yang Anda pilih. Misalnya seorang yang pemalu cenderung untuk bersandar pada kelompok tertentu, atau mencari area ternyamannya sendiri. Anda juga tidak mungkin membuat seseorang yang serius tiba-tiba membanyol. Tanpa alasan yang kuat, Anda tidak bisa mengubah kepribadian seseorang menjadi berubah 180 derajat. Anda juga perlu membayangkan bagaimana seseorang dengan kepribadian tertentu bertindak. Jika Anda sudah memiliki ending atau cerita tertentu, tetapi Anda pikir karakter Anda tidak akan melakukan hal tersebut, Anda harus membuang ending tersebut. Anda harus membuat cerita Anda “make sense” sesuai dengan karakter Anda.

3. Tiada gading yang tak retak
Ada banyak penulis yang menggambarkan karakter yang ia buat dengan sangat sempurna. Karakter yang seperti ini akan menjadi karakter yang sangat membosankan. There’s always a dark side behind every man. Karakter yang manusiawi adalah karakter yang memiliki kelebihan dan juga kelemahan. Cerita Anda akan lebih hidup dengan memiliki karakter yang manusiawi.

4. Buatlah pembaca mencintai karakter Anda
Apabila Anda memiliki karakter utama, buatlah pembaca mencintai karakter Anda. Bahkan seorang karakter antagonis juga bisa menjadi karakter yang dicintai oleh pembaca. Formulanya adalah Anda harus menjelaskan siapa mereka, bagaimana mereka, apa yang mereka lakukan, alasan kuat mengapa yang melakukan hal tersebut, dan tambahkan rasa manusiawi pada mereka. Pembaca mestinya juga akan berpikir mereka juga akan berbuat yang sama pada situasi yang sama. Itu akan menumbuhkan empati pada karakter yang Anda buat.

oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva

Terima kasih kepada Penerbit Escaeva atas ulasannya 🙂

Kesalahan Umum Dalam Menulis Naskah Fiksi (Clara Ng)

Ini ada kumpulan twit-nya Mbak Clara Ng yang saya pantau tadi pagi hingga siang sambil teklak tekluk audit 🙂

Lagi membaca beberapa pekerjaan dan naskah, tiba2 aku tergelitik ingin berbagi ttg kelemahan penulis fiksi pemula. Tagarnya #8kesalahan.

Ada stdknya #8kesalahan yg sering aku temui di naskah fiksi yg ditulis penulis pemula. Fiksi ada kesalahan? Ya, artinya, rumusnya ga tepat.

Kl diibaratkan buat kue, #8kesalahan naskah fiksi ini membuat naskah fiksi bantut/rusak. Kayak kue yg gak bs mengembang/mekar.

Aku mau bagi #8kesalahan yg nomor satu: ketiadaan konflik. Bnyk sekali naskah fiksi gagal yg tidak pnya konflik di dalam ceritanya

Konflik itu apa? Konflik adalah perlawanan atas sesuatu yg diperjuangkan oleh si karakter. Konflik adalah arus balik. #8kesalahan

Fiksi brsandar pd konflik, bkn pd “konsep crita”. Konsep cerita sekeren apapun bkl hncur tnp adanya konflik. Konflik adlh nyawa. #8kesalahan

Spt tangga, konflik bertahap, dr tngga bwh ke atas. Konflik jg spt bayi, brtumbuh. Konflik yg stagnan n bgt2 sja bkn fiksi mati. #8kesalahan

Kesalahn no 2 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adlh: pembukaan yg lemah. Pembukaan lemah artinya pembukaan yg tdk mperlihatkan konflik.

Konflik seharusnya sdh membayang muncul di pembukaan (prolog). Pembukaan yg salah adlh pembukaan yg mengabaikan/menahan konflik. #8kesalahan

Krn konflik sdh mnghantui pmbukaan dr awal naskah, maka pnyelesaiannya pun hrs kuat. Inilah kesalahn no 3 dr #8kesalahan nskah fiksi pemula.

Kesalahan no 3 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula: penyelesaian konflik yg lemah. Lemah artinya konflik yg dibangun hanya selapis tipis.

Penyelesaian konflik yg lemah disebabkan o/ tokoh yg tdk berjuang, tp dpt pertolongan. Inilah kesalahan fiksi pemula no 4 dr #8kesalahan.

Tokoh hrs berjuang menyelesaikan mslhnya. “Mendpt pertolongan” artinya memasukkan tokoh/situasi lain yg lngsng mnyelamatkan dia. #8kesalahan

Tokoh utama blh “mendpt pertolongan” dlm situasi yg “indirect” alias tidak langsung, tp penyelamatannya BUKAN dgn “diserobot” #8kesalahan

Utk bhs awam, ini srng dsebut dgn aksi “kebetulan”. Kebetulan dlm fiksi bs sj terjd, tp kebetulan yg lebay adlh “aksi serobot”. #8kesalahan

Kesalahan no 5 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adlh: dialog yg garing. Kl garing, direbus saja smp lembek 😀 *nyante dikit* #8kesalahan

Dialog bertele2. Dialog haha-hihi-hehe. Dialog ke sana kemari. Semua dialog jenis itu membuat fiksi tidak bergerak ke mana-mana. #8kesalahan

Humor dlm dialog boleh, tp humor pun pny rumusnya. Ada pembukaan, ada tengah, ada kick-ass-nya. Tnp itu, humor mati dlm dialog. #8kesalahan

Lanjuuut, kesalahan no 6 pd #8kesalahan naskah fiksi pemula: kalimat2 yg tdk patuh pd aturan Bhs Indonesia. Ini bkn naskah pakai bhs Mars!

Sakiiiit hati kl ada yg berani bilang di dpnku, “Bahasa Indonesia itu gampang.” Helooow, bhs Indonesia itu susah, tauk! #8kesalahan

Dan kita smua hrs belajar bahasa Indonesia dimulai dr yg plng sederhana: SPOK atau KSPO. (Subyek, Predikat, Obyek, Keterangan). #8kesalahan

Krn bahasa Indonesia tdk mendpt perhatian, maka kesalahan no. 7 dr #8kesalahan naskah pemula adalah: tanda baca yg tdk pd tempatnya.

Kesewenang2an dlm tanda bc bs menjd bukti bhw kita adlh manusia ugal2n dlm menyetir. Knp? Hehe, krn tnd bc = rambu lalu lintas. #8kesalahan

Pnulis fiksi yg tak peduli dgn peletakkkan tnda kutip, koma, titik, titik tiga, titik koma dll akan mbuat naskah fiksi jd rusak. #8kesalahan

Dan terakhir, no 8 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adalah: jreng jreng jreng! Adalah… Setting yg terlupakan! Isi cerita hny dialog.

Apa itu setting? Setting adlh keadaan cerita, dr lingkungan smp suasana. Tnp kehadiran setting, cerita bkl gatot (gagal total). #8kesalahan

Nah, ada #8kesalahan umum yg srng aku temui saat bertugas memeriksa naskah2 fiksi. Don’t worry, kesalahan2 itu gk diancam hukuman neraka :))

Jadi, be happy, krn #8kesalahan naskah fiksi msh bs diperbaiki dan diimprovisasi. Bnyk2 baca buku & terus meningkatkan kualitas tulisan

Slmt melanjutkan menulis nskh & menyusuri di mana kesalahan2 itu. Aku sndr mau memeriksa naskah fiksi & mcari kesalahan2 lain :)))*bercanda*