Gara-gara habis install Google Chrome, mendadak main Angry Bird yang bisa offline. Wah, seperti game-game pada umumnya, bikin ketagihan, dan menyebabkan deadline menulis kandas. Astaga.
Dan berhubung page view blog sudah terus menurun, mungkin baik juga kiranya menulis tentang Angry Bird ini.
Pada awal 2009, staf di Rovio (pengembang game ini) mulai melakukan kajian game yang potensial. Salah satu proposal datang dari desainer senior Jaakko Iisalo yang membuat simulasi burung marah tanpa sayap dan kaki yang tampak. Bentuknya waktu itu cuma gambar saja, tapi sudah bikin naksir. Walhasil game-nya dibangun di sekitar karakter si burung marah itu. Layaknya game-game pada umumnya, tentunya perlu musuh. Nah, bertepatan dengan epidemi flu babi, ide babi sebagai musuh akhirnya mencuat.
Insiprasi game ini muncul dari game sejenis Crush The Castle. Biaya pengembangannya mencapai 100.000 Euro. Agak mahal juga, karena nggak mencakup updatenya. Game ini menjadi terkenal sejak nampang di Apple iOS version, dan kemudian muncul juga di Android, dan belakangan di Facebook.
Ada 4 karakter burung utama, yang pertama burung merah yang jadi ikon game ini. Kemampuannya standar. Lalu di level tertentu muncul burung biru kecil yang bisa membelah diri jadi 3 dan spesialisasinya memecahkan es. Lalu ada pula karakter burung segitiga kuning yang spesialis di pembelahan kayu dan bisa menambah kecepatan. Ada lagi burung bom yang bisa meledak. Dan terakhir kali burung bertelur yang bisa menjatuhkan telur.
Sepintas saya main Angry Bird ini mirip game online jaman dahulu kala, Gunbound. Sebenarnya kemiripannya cuma di kurva lengkung yang harus dibuat untuk menembak sih. Tapi entah kenapa malah jadi teringat. Hehehe..
Untuk main offline, pertama kali bisa install Chrome dulu. Lalu di tokonya bisa diunduh Angry Bird yang bisa dimainkan offline. Lumayan seru. Saya masih berkutat di 3-20. Dua level menuju selesai. Doakan saya!
Agak terharu membaca surat perpisahan ini. Samuel Eto’o, salah satu dari beberapa persona kunci pembuat perubahan di Inter sudah pergi ke Anzhi, sebuah tim di Rusia yang datang ke home-nya 2 minggu sekali.
Secara bisnis ini adalah keuntungan yang sangat besar bagi Inter. Bayangkan, Eto’o bisa dikatakan diperoleh dengan gratis. Ia adalah paket pembelian Zlatan Ibrahimovic oleh Barcelona. Sudah dapat uang, dapat Eto’o pula.
Dan apa yang terjadi? Treble Winner. Eto’o menjadi bagian dari perubahan signifikan bersama Wesley Sneijder dan Diego Milito. Mereka bertiga membungkam seorang bertato, berhidung panjang, dan merupakan brondong dengan sangat sukses.
Bagian yang terpenting adalah Eto’o pergi dengan perpisahan yang baik.
“I think it is right and fair to thank the people who have given me so much in these two fantastic years that I’ve spent at Inter. First of all, I would like to extend my heartfelt thanks and most cordial greetings to the president, Mr Massimo Moratti, and to his family for everything they have done and for the way they have helped me and those dearest to me. I will always feel a special bond with Mr Moratti for the respect and the affection that he has shown me in these marvellous years.
Then there are all my team-mates: I’m aware that without their encouragement and help on the pitch Inter wouldn’t have achieved so many important victories on a national and international level. A very special thank you, also, to all the Italian and foreign footballers who have enabled me to become a better player game after game.
A sincere thank you to the coaches who have been at Inter in these years and especially to Mr José Mourinho, who was so determined to have me at this club, for the opportunity he gave me by bringing me to Milan.
A fond farewell also to technical director Marco Branca, sporting director Piero Ausilio, team manager Andrea Butti and all the staff at F.C. Internazionale and at the Centro Sportivo Angelo Moratti in Appiano Gentile: doctors and physios, helpers, chefs and waiters, kit men and gardeners, and everyone who works at Inter Channel.
I will never forget the affection of the Inter fans (Mauro is the greatest of them all) who made me feel like one of them and who always supported and helped me. Nor will I forget all the journalists I’ve had the pleasure of meeting.
I also feel I should thank my Italian ‘mamma’, Ciacia Guzzetti, for her help and my fantastic manager, Claudio Vigorelli, for his commitment and professionalism.
Thanks to a man who is an Interista through and through, Marco Materazzi, for making me feel ‘Italian’. Thanks big bro.
In the hope that I haven’t forgotten anyone, thanks again to every one of you!”
Beberapa hari belakangan, saya berkomunikasi dengan seorang teman tentang topik ini. Sebenarnya sih sudah dari beberapa pekan silam, waktu saya sedang di Semanggi malam-malam deg-degan menanti bus ke Cikarang. Yah, ini soal siklus hidup. Siklus itu bercerita tentang kita: lahir tidak bisa apa-apa, sekolah mulai mengerti apa-apa, sekolah lanjutan sampai mengerti riak-riak dunia, bekerja sampai muak dan muntah, sampai akhirnya mati dan masuk surga (amin…)
“Ini soal betapa hidup cepat berlalu dan perpisahan adalah 1 siklus yang harus dilalui dan perasaan kehilangan adalah hal lain yang tidak bisa dihindari”
Buat saya, quote di atas sangat menarik.
dibuat oleh Lorentius Agung Prasetya
Saya bercerita dalam perspektif saya sebagai orang yang 7 tahun sekian bulan hidup di Jogja. Mungkin yang lain bisa menerjemahkannya di tempat-tempat lain yang memberi banyak makna dalam hidup masing-masing. Karena kalau buat saya, Jogja-lah yang memberi banyak influence pada saya.
Dalam teori saya, kita mendapat banyak hal-hal prinsip di waktu kecil dari orang tua dan pergaulan. Tapi kita mendapatkan sebuah perspektif, pola berpikir, dan sejenisnya, itu adalah di bangku sekolah menengah dan kuliah, atau seusia itu. Itulah mengapa Jogja memberi influence besar, pada saya. Saya sangat yakin ini terjadi juga pada kita semua. Sebuah tempat yang memberi nilai pada kehidupan kita, sebuah tempat yang memperkenalkan kita pada realita. Kalau saya, Jogja sungguh memperkenalkan saya pada kehidupan. Bahwa hidup itu keras, bahwa setiap kata itu bermakna, bahwa setiap tindakan itu berpengaruh, bahwa pencapaian elok itu tidak selalu tampak baik bagi orang lain, bahwa persaudaraanpun tidak sepenuhnya abadi, bahwa menjatuhkan dan menginjak-injak itu ternyata bisa membangkitkan, bahwa cengkrama dalam suasana yang pas itu bernilai tinggi, bahwa hidup itu harus dinikmati, dan bahwa-bahwa yang lain, banyak yang saya pelajari di Jogja sana. Saya hakulyakin, dalam perspektif yang paralel, terjadi pada yang lain.
Dan ketika tiba saatnya, siklus hidup memisahkan kita dengan tempat itu, memisahkan kita dengan seluruh kenangan dan pembelajaran yang melekat padanya? Bagi saya itu beratnya minta ampun. Sekadar melepas kertas jadwal kuliah dari styrofoam yang menempel di dinding. Sekadar melepas poster kiper-kiper di dinding kamar. Sekadar mengambil vandel dari tempatnya terpajang. Bahkan sekadar memandangi kertas-kertas hasil ujian. Selalu ada cerita dalam setiap upaya mengemasi masa kini. Setiap hal yang kita kemasi masa kini, ada masa lalunya. Tapi kata seorang teman, masa lalu itu tidak untuk dikonsumsi, hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Misalkan sebuah gelas dengan kriya bintang-bintang di kamar saya dulu. Itu ada latar belakangnya, itu ada sejarahnya, dan itu bernilai. Nilai itulah yang sedikit banyak memberi pengaruh pada tatanan besar perspektif hidup saya. Dan saya juga yakin, kita semua mengalami hal yang sama. Dan dalam kasus Jogja sebagai sebuah tempat, ia menjadi wahana seluruh peristiwa penuh nilai itu terjadi. Itulah yang membuat berat.
Well, ini bukan karena saya melankolis. Tapi sekadar merefleksikan saja mengenai beratnya meninggalkan sesuatu yang nyata-nyata memberi banyak nilai pada kita. Sejatinya nggak melulu Jogja, ketika saya memutuskan memulai sesuatu yang baru disini, saya juga berat meninggalkan yang lama. Kenapa? Karena disana saya punya banyak nilai sebagai input. Saya dulu bukan apa-apa, sekarang ada nilainya. Itulah, niscaya di setiap tempat kita akan demikian.
Nah, perpisahan itu terjadi, semata karena adanya keputusan. Ketika lulus, dan enggan meninggalkan Jogja, mudah saja, cari saja kerja di Jogja, beres. Tapi selalu ada keputusan, entah itu mencoba sesuatu di luar sana atau sejenisnya. Keputusan itulah yang menyebabkan perpisahan itu ada.
Keengganan meninggalkan sesuatu hanya ada saat perpisahan, tidak akan terulang lagi. Jadi, ketika ada perasaan itu, nikmati saja. Hanya itu cara melawan keengganan itu. Lagipula itu alamiah. Manusia yang normal pasti sama semua.
Kira-kira dapat nggak intinya? hehehe.. Sekadar refleksi sebelum kembali ke peraduan, mempersiapkan hari esok yang lebih gemilang.
Hufftt.. lama nggak masukin posting disini. Setelah di awal Juli membombardir dengan puluhan posting, saya sadar, bahwa kualitas itu tidak selalu paralel dengan kuantitas. Kadang kebanyakan kuantitas, orang jadi nggak merindukan lagi, disitulah maknanya kualitas. #sajakbijak
Ini cerita soal kelakuan si BG yang agak menarik.
Dua minggu lalu, saya pergi ke Lippo Cikarang. Nah, di jembatan tegalgede, ada cegatan minggu pagi (seperti biasa). Karena saya malas bertemu dengan polisi, meskipun sepenuhnya saya comply, saya memutar balik menyusur kalimalang. Lalu menuju Lippo Cikarang lewat jalur alternatif.
Jalan ini melalui sebuah jembatan tanpa pengaman, itu sudah bahaya. Hahaha.. Lalu masuk jalan kampung, melewati atas tol via jembatan mini yang lebarnya cuma 1 mobil. Lalu menyusur jalan berbatu yang belum diaspal karena kelihatannya ini proyek perumahan yang lagi proses. Lalu tembus ke tambal ban dekat Taman Beverli.
Bagian tersulit dari ini adalah goncangan di jalan berbatu yang menyebabkan klakson si BG mati total.
Nah, kemarin, dalam upaya menonton Harry Potter sesi terakhir, saya kembali melewati jalan yang sama. Terpaksa, daripada bertemu kemacetan di jalur Jababeka-Lippo. Dan terpaksa juga melewati jalan batu yang sama.
What next?
Klakson si BG menyala kembali, walaupun tidak sepenuhnya sempurna. Agaknya goncangan batu mengembalikan posisi kabel yang error ke tempat yang mendekati semula.
Apa yang saya dapat?
Kadang, ketika mendapati bahwa suatu jalan itu sulit, kita emoh melalui kembali jalan yang sama. Ketika jalan itu menimbulkan kesakitan, luka, dan sejenisnya, kita menolak untuk melaluinya lagi.
Tapi si BG tampil dengan cara yang berbeda. Ia saya paksa melalui kembali jalan yang sama, yang membuat klaksonnya rusak. Dan ternyata, meski tidak sempurna, bunyi klaksonnya kembali. Si BG berani melalui jalan batu itu dan sembuh.
Mungkin, kalau kita tersakiti, ada kalanya kita perlu meretas kembali jalan itu, semata-mata berharap, mungkin disitu kita dapat penyembuhan. Toh, bila penyembuhan tidak didapat, kita bisa beroleh kekuatan untuk bertahan. Tidak ada yang buruk dari keduanya.
Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.
Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.
Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.
Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.
Dan ini sulit.
Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.
Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..
Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..
Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.
Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.
Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.
Habis dapat SMS dari seorang gadis galau yang lagi mau ujian komprehensif Apoteker. Mendadak ingat masa silam. Hahahaha..
Saya nggak ngerti kenapa waktu ujian yang disingkat dengan kompre ini, saya malah sakit, sak pol’e. Apa terlalu grogi? Sebenarnya ya tidak juga. Mungkin memang jatahnya sakit saja.
Tapi itu pasti berpengaruh. Kejadian 2,5 tahun yang lalu, ketika saya malah minum obat OTC dan tidur, di saat saya seharusnya belajar, membuat semuanya berjalan bak kartu domino.
Yah, begitulah..
Kompre saya tidak bisa dikategorikan bagus.
Kenapa?
Karena saya tidak menguasai secara komprehensif. Jadi ingat pertanyaan terakhir yang sebenarnya saya bisa jawab cuma mungkin kata-katanya tidak bisa dimengerti oleh penguji.
“Kenapa air disirkulasi? Kok nggak dimatiin saja waktu pabrik tutup?”
Ketidaksanggupan saya memberikan informasi yang jelas ini selalu terngiang-ngiang. Walaupun kemudian saya dapat A juga sih. *congkaksedikit
Saya Apoteker, dan pastinya saya nggak akan menguasai secara komprehensif semua ilmu perapotekeran mulai dari formulasi, kromatografi, konsep pengobatan sendiri, mikrobiologi, manajemen farmasi, dispersi koloid, etika dan perundang-undangan, farmakognosi, farkamoterapi, dan sejenisnya.
Itu terlalu banyak (buat saya)
Tapi yang jelas menempel adalah gelar Apoteker. Dan orang tidak akan peduli bahwa saya adalah apoteker yang tidak mengerti bagian tertentu.
Isn’t right?
Yah, setidaknya saya berusaha menjalankan bagian yang relevan dari Star of Pharmacist: pembelajar sepanjang hayat. Semoga!
BRIDGEND, KOMPAS.com — Baru berusia 29 tahun, tetapi Shem Davies sudah menjadi kakek setelah putrinya yang berumur 14 tahun melahirkan. Davies juga menjadi ayah ketika umurnya baru 14 tahun.
The Sun Dari kiri, Kelly, Shem Davies, Tia Davies, dan Robyn Thomas. (The Sun)
Putri Davies, Tia, melahirkan bayi perempuan seminggu sebelum ulang tahunnya yang ke-15.
Kepada The Sun, Jumat (15/7/2011), Davies mengungkap “kebahagiaannya yang luar biasa” atas kelahiran cucunya itu.
Tia menamai bayinya Ava Grace yang dilahirkan 10 pekan lebih awal sehingga harus dirawat di dalam inkubator. Bobot bayi itu hanya sekitar 1 kilogram.
Bayi itu kini dirawat di unit perawatan khusus bayi di sebuah rumah sakit di Bridgen, South Wales.
Meskipun begitu, Davies mengaku kaget ketika Tia mengaku hamil dengan pacarnya, Jordan Williams, yang berumur 15 tahun.
Davies yang kini memiliki anak berusia sembilan bulan dari Robyn Thomas mengatakan, “Rasanya beberapa saat lalu Tia masih bayi, tiba-tiba dia sudah hamil.”
“Saya bisa saja memarahinya, tetapi apa gunanya. Saya menyadari situasi ini sulit bagi mereka karena saya dulu mengalaminya ketika seusia mereka,” ujar Davies yang kini pengangguran itu.
Davies mengaku tidak siap menjadi ayah di usia 14 tahun. “Saya tidak bisa menghadapinya dan saya kabur,” akunya.
Dia berpisah dengan ibu Tia, Kelly, tiga bulan setelah Tia lahir. “Mimpi terburuk saya selama ini adalah Tia mengulangi kesalahan yang saya lakukan dulu, hamil di usia muda,” kata Kelly yang kini berusia 30 tahun.
“Padahal, saya sering menasihatinya tentang kontrasepsi,” katanya.
Ku rentangkan hati, ku balut luka lama saat kau pergi Ku tegarkan diri, walau bayangmu hadir di setiap mimpi
Oh haruskah, ku benamkan diri meratapi, tenggelam sesali yang terjadi, tersiksa bersama hampa hasrat
Oh, kini…. ku hanya ingin lupakan semua, mengenangmu menyesakkan jiwa, ‘kan ku hapus air mata, hingga ku dapat sembuhkan luka
Ku coba hadapi, walau pahit terasa di relung hati Harus ku lewati, seakan semua tiada pernah terjadi
Semoga kelak lupakan semua, mengenangmu menyesakkan jiwa, kan ku hapus air mata, hingga ku dapat sembuhkan luka
Sumber: v1dahermos4.wordpress.com
* * *
Ini lagu entah jaman kapan, tapi tetap asyik dan seru untuk didengarkan dan didendangkan. Dan saya sedang asyik-asyiknya tiap malam menyanyikan lagu ini dengan iringan gitar teman kost.
Dan yang lebih penting, lagunya bercerita soal hal yang positif.
Ku hanya ingin lupakan semua, Kan kuhapus air mata, Ku dapat sembuhkan luka..
Luka akan menutup sendirinya dengan berjalannya waktu, tapi manusia bisa menutup luka itu lebih cepat, tanpa perlu menunggu waktu.
Sudah beberapa hari ga posting, ternyata sulit juga untuk posting setiap hari. Bukan masalah ide sebenarnya, tapi lebih kepada niat. Haha..
Kali ini postingnya berjudul Life Your Life, sebenarnya nggak tahu juga ini benar sebagai bahasa Inggris atau tidak. Dan ini juga sebenarnya agak mencontek slogan tempat saya bernaung saat ini. Dan posting ini mungkin akan menimbulkan persepsi macam-macam, tapi percayalah, semuanya hanya sekadar refleksi belaka. Tidak ada pengaruh signifikan pada apapun.
Well, ini memang memasuki perjalanan tahun ketiga saya bekerja. Maksudnya 2 tahun lebih sekian bulan, gitu. Dalam beberapa posting terdahulu, saya juga sedikit membahas soal ini, tapi ini perspektifnya lebih luas.
Dua tahun awal, saya bekerja di lokasi yang bukan kawasan industri, dan dua bulan ini saya masuk di sebuah tempat yang berada di kawasan industri yang menurut referensi ada 1 juta orang pekerja disini. Itu orang semua ya.. hehe.. Tapi yang bikin saya berefleksi adalah hasil gaul sama orang-orang di lingkungan waktu tadi ada acara olahraga di sekitar gereja.
Oke, saya dibesarkan di sebuah keluarga guru, Bapak-Mamak guru galur murni, alias guru semua. Apa yang saya tahu tentang pekerjaan orang tua saya? Ya, berangkat bersama-sama ke sekolah, pulang juga kadang-kadang malah duluan orang tua, soalnya saya main dulu sama teman-teman. Sarapan, makan siang, dan makan malam bersama bukan hal yang susah dilakoni. Kalau tidak sedang kasih les, orang tua saya bisa tidur siang. Kalau sekolah libur, orang tua saya ikut libur. Kadang-kadang saja masuk karena piket. Hal semacam ini saya lihat dari kecil sampai menjelang besar, dan tertanam jelas di batang otak.
Apa yang saya lihat disini?
Yang saya tahu dari obrolan tadi, ada yang hari minggu masuk kerja. Ada yang sedang cuti karena anaknya libur sekolah. Dan yang pasti, setidaknya tidak ada makan siang bersama anak-anak mereka. Dan apa profilnya? Profesional harus selalu bergerak dengan semangat tersebut. Lembur bisa disesali, dimaki, tapi harus dilakoni. Itu pasti. Dan soal apa yang didapat? Nggak perlu heran lihat mobil-mobil bagus disana. Hmmm..
Saya kadang membayangkan, bagaimana anak-anak dan orangtuanya berinteraksi? Dalam bayangan saya, yang ada hanya bayangan masa kecil saya. Ketika bapak pergi diklat gitu, 2-3 kali makan siang tanpa ada bapak, itu aneh. Lah, kalo anak-anak dengan orangtua yang bekerja di kawasan ini? Bagaimana? Sempatkah mereka bertemu? Saya yakin pasti ada caranya, cuma pikiran saya belum nyampe. Semuanya masih soal apa yang saya lihat di masa silam, masa kecil saya.
Dan disinilah saya sekarang, itu poinnya. Saya orang pertama di keluarga yang bekerja, dan mengambil jalur yang berbeda sekali dengan yang saya alami di masa kanak-kanak. Dan selama bertahun-tahun mencoba mencari link tentang apa yang saya dapat sewaktu kecil dengan apa yang saya lihat disini (lihat, karena saya belum merasakan).
Nah, ketika orang-orang itu, bekerja menghidupi diri dan keluarga mereka, apakah mereka menghidupi hidupnya sendiri? Apakah derap kegiatan sehari-hari itu punya isi, punya nyawa? Atau sekadar-sekadar?
Pertanyaan refleksinya, apakah saya dalam bekerja, menghidupi hidup saya sendiri? Apakah derap kegiatan saya sehari-hari itu punya isi, punya nyawa? Atau sekadar-sekadar?
Huh… Pertanyaan yang sulit untuk dibawa ke alam mimpi.
Gonna camp in my sleeping bag. I’m not gonna move, Got some words on cardboard got your picture in my hand, Saying if you see this girl can you tell her where I am, Some try to hand me money they don’t understand, I’m not… broke I’m just a broken hearted man, I know it makes no sense, but what else can I do, How can I move on when I’ve been in love with you…
Cos if one day you wake up and find that you’re missing me, And your heart starts to wonder where on this earth I can be, Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet, And you’d see me waiting for you on the corner of the street.
So I’m not moving… I’m not moving.
Policeman says son you can’t stay here, I said there’s someone I’m waiting for if it’s a day, a month, a year, Gotta stand my ground even if it rains or snows, If she changes her mind this is the first place she will go.
Cos if one day you wake up and find that you’re missing me, And your heart starts to wonder where on this earth I can be, Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet, And you’d see me waiting for you on the corner of the street.
So I’m not moving… I’m not moving.
I’m not moving… I’m not moving.
People talk about the guy Whos waiting on a girl… Oohoohwoo There are no holes in his shoes But a big hole in his world… Hmmmm
Maybe I’ll get famous as man who can’t be moved, And maybe you won’t mean to but you’ll see me on the news, And you’ll come running to the corner… Cos you’ll know it’s just for you
I’m the man who can’t be moved I’m the man who can’t be moved…
Cos if one day you wake up and find that you’re missing me, And your heart starts to wonder where on this earth I can be, Thinking maybe you’d come back here to the place that we’d meet, And you’d see me waiting for you on the corner of the street.
So I’m not moving… I’m not moving.
I’m not moving… I’m not moving.
Going back to the corner where I first saw you, Gonna camp in my sleeping bag not I’m not gonna move.