Saya baru menyelesaikan sebuah penggalangan dana kecil-kecilan, hasil pembahasan dengan beberapa teman. Dalam penggalangan ini, rekening saya jadi penampungnya. Artinya, ini kali kedua saya mengurusi penggalangan dana. Yang pertama bahkan cukup masif. Ketika itu seorang teman terkena kanker dan atas inisiatif pribadi, saya dan beberapa teman melakukan penggalangan dana. Meskipun begitu membesuk sang teman, kami malah dimarahi.
Ya, sang teman bukanlah orang yang susah-susah amat. Tapi ya tetap saja namanya teman gitu lho.
Belajar dari pengalaman itu, maka melalui tulisan ini saya mencoba membagikan beberapa hal penting agar bisa menjadi penampung dalam penggalangan dana yang baik dan benar.
Itu Uang Orang
Dalam penggalangan dana yang pertama itu posisi saya masih CPNS dan belum gajian 3 bulan. Gaji swasta saya sudah mau tamat pula. Terus kebayang dong uang puluhan juta masih ke rekening dalam waktu sepekan. Pengen digesek saja rasanya.
Untuk itu, pertama-tama yang harus kita ingat bahwa uang itu adalah uang orang lain yang justru dipercayakan kepada kita. Saya selalu percaya bahwa integritas itu mahal nilainya. Ketika kita jadi penampung dan kitanya ambyar, ya sampai mati boleh jadi kita nggak akan dipercaya.
Akuntabel
Dalam dua penggalangan dana itu, teman yang sama-sama menggalang sama sekali tidak mengecek datanya. Jadi, semua dipercayakan kepada saya. Untuk itu, secara berkala lakukanlah update, tanpa diminta! Tapi, sebaiknya ngupdatenya adalah nama saja, lalu kemudian nominalnya boleh tapi cukup total atau urutan bisa cuma diacak lagi sehingga nggak ketahuan yang punya nama itu nyumbang berapa. Biarlah itu menjadi data di kita saja, plus tidak perlu juga disebar-sebarkan lagi.
Untuk bisa akuntabel, tentu pencatatan harus lengkap. Jadi secara berkala saya buat di Google Sheet sehingga saya bisa melakukan update dimanapun, plus kalau ada teman sepenggalangan butuh datanya segera bisa di-share.
Kalau Bisa Rekening Kosong
Kebetulan sekali, saya itu dari dulu hobi punya rekening banyak walaupun uangnya nggak banyak. Bisa dicek di LHKPN uang saya berapa. Haha. Tapi, saya punya rekening pernah sampai 13 biji. Sekarang sih–karena ada wajib lapor LHKPN saya baru ngerasa ribetnya punya rekening banyak–jadi hanya tinggal beberapa saja.
Nah, kalau bisa untuk penggalangan dana ini pakailah rekening yang kosong alias nggak campur dengan uang pribadi kita. Kalau dulu kan pas CPNS jadi BCA saya buat gaji di swasta sudah idle, rekening itu yang saya pakai. Demikian pula sekarang BCA itu juga buat nampung orderan postingan yang seret sekali di musim pandemi, jadi saya pakai lagi. Sementara rekening pribadi saya di Mandiri, yang untuk mengelola gaji dan tunjangan, tidak digunakan untuk penggalangan dana.
Ada Internet Banking
Karena updatenya akan sangat cepat, maka kita butuh internet banking. Masalahnya, ada sebagian rekening lawas yang kadang sengaja nggak dibuat internet bankingnya dengan berbagai alasan. Kalau ada rekening seperti itu, walaupun kosong ya jangan dipakai. Internet Banking itu diperlukan untuk bisa akuntabel.
Kubu BCA, Kubu Mandiri
Jadi kalau dulu nih mazhabnya dua. BCA sama Mandiri. Karena memang kedua bank itu tahun 2014 kayaknya belum terhubung. Dulu saya bahkan punya BRI demi bisa menghubungkan kedua bank ini. Jadi, kalau bisa sih penggalangan dana juga relevan dengan kedua kubu ini. Sebisa mungkin lebih dari 1 rekening. Itu sebenarnya akan lebih meningkatkan potensi orang nyumbang.
Sekali lagi, jadi penampung dan pengelola itu ujian integritas. Karena ketika ada yang menyumbang sejuta dan nggak dicek, kita lapor ke teman-teman bahwa sumbangannya 800 ribu, sementara 200 ribu buat beli pulsa, misalnya, bisa-bisa saja. Tapi tentu saja, ora ilok, kata orang Klaten.
Ini ceritanya saya sedang ikutan course di edX yang berjudul Christianity Through Its Scriptures. Salah satu materinya adalah tentang rupa-rupa bentuk kekristenan. Bagi yang takut kristenisasi bisa meninggalkan posting ini dalam 3..2..1…
Gereja Ortodoks
Keluarga gereja-gereja Timur, yang sekarang disebut Gereja Ortodoks Oriental dan Gereja Ortodoks Timur, kembali ke periode awal Kekristenan. Selama empat abad pertama, Kekristenan telah menyebar tidak hanya ke Kekaisaran Romawi dan Bizantium, tetapi juga ke Timur Tengah saat ini, Afrika Utara, dan India. Setelah Konsili Khalsedon pada tahun 451, kontroversi kristologis yang dipimpin oleh Nestorius dan Cyril memberi pengaruh pada perpecahan besar pertama di gereja. Sekelompok komunitas yang akhirnya dikenal sebagai Gereja Ortodoks Oriental menolak dekrit bahwa sifat Kristus dipersatukan sebagai satu, alih-alih mempromosikan gagasan bahwa sifat-sifat manusiawi dan ilahi Kristus tetap berbeda. Orang-orang Kristen di Mesir, Etiopia, Suriah, Armenia, India, Irak, dan Iran secara formal mengikuti orang-orang ini ke dalam perpecahan atau diam-diam jatuh dari radar Yunani-Romawi karena jarak yang jauh dan medan yang sulit. Lebih jauh lagi, pada abad-abad berikutnya, kerenggangan yang tumbuh antara orang-orang Kristen Roma dan Yunani pada akhirnya menyebabkan perpecahan besar kedua tahun 1054, dengan memuncak dalam suatu krisis ketika Paus Roma dan Patriark Konstantinopel saling berkomunikasi satu sama lain. Lembaga-lembaga yang dipimpin oleh masing-masing dikenal masing-masing sebagai Gereja Katolik (Romawi) dan Gereja Ortodoks (Timur).
Sumber: Comintour.com
Teologi dan liturgi khas gereja-gereja Ortodoks terus berkembang menjadi abad kedua puluh satu. Salah satu sikap teologis yang khas dari peristiwa Kristus menurut perspektif Ortodoks adalah penekanan pada inkarnasi Kristus sebagai sarana untuk meningkatkan sifat manusia kepada Yang Ilahi. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Athanasius pada abad keempat, “Anak Allah menjadi manusia sehingga manusia bisa menjadi Allah.” Penekanan “menjadi ilahi” ini sangat kontras dengan penekanan besar pada keberdosaan manusia yang hadir dalam banyak teologi gereja-gereja Barat.
Sebagai bagian dari tradisi spiritual dan liturgis yang kaya, gereja-gereja Ortodoks juga mengembangkan penggunaan ikon bergambar Kristus, Perawan Maria, dan orang-orang kudus. Ikon-ikon ini dipahami sebagai jendela ke makna sakral dan kehadiran tokoh-tokoh ini, bukan sekadar representasi mereka. Konsili Nicea yang kedua pada tahun 787 menegaskan peran ikon dalam menghadapi kritik pedas dari orang-orang yang keberatan dengan citra visual dalam ibadat.
Selama abad ketujuh, agama Kristen menghadapi tantangan Islam, sebuah tradisi agama baru yang berkembang di Palestina, Suriah, dan Mesir, dan dari Anatolia ke Spanyol. Kuil besar Kubah Batu selesai dibangun di Yerusalem pada tahun 692. Delapan abad kemudian, Kekaisaran Bizantium, yang berpusat di Konstantinopel, jatuh ke tangan orang Turki Ottoman pada tahun 1453. Pusat-pusat besar Ortodoks, termasuk Konstantinopel, menjadi pusat pemerintahan Islam, dan gereja-gereja agungnya menjadi masjid. Selama ratusan tahun, perjumpaan dengan Islam sangat penting dan mendesak untuk gereja-gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Timur.
Saat ini, gereja-gereja Ortodoks Timur membentuk keluarga gereja terkait, termasuk gereja-gereja Yunani, Rusia, Bulgaria, Rumania, dan Suriah, masing-masing dengan sejarah yang kaya dan bentuk-bentuk liturgi yang khas. Gereja-gereja Ortodoks Oriental termasuk Gereja Apostolik Armenia, Gereja Koptik Mesir, Gereja Eritrea, Gereja St. Thomas di India, dan Gereja Antiokhia Syria di Jacobite.
Sumber: ABC Australia
Katolik Roma
Orang-orang Kristen awal berbicara tentang gerakan mereka sebagai “katolik”, sebuah kata yang berarti “universal.” Saat ini, gereja-gereja Kristen masih menegaskan “satu gereja suci, katolik, dan apostolik” tetapi istilah Katolik dengan huruf besar “K” juga berlaku dalam bahasa yang sama dengan Gereja-gereja di dalam Komuni Katolik, yang berpusat di Roma. Umat Kristen sudah dapat ditemukan di Roma pada abad pertama. Gereja Roma mengklaimnya didirikan oleh para rasul Petrus dan Paulus pada abad pertama. Ketika itu berkembang, penekanannya pada otoritas pusat dan keutamaan uskup Roma, Paus.
Sumber: Catholic Virginian
Menjelang abad kesebelas, Gereja Katolik memutuskan hubungan dengan Gereja Bizantium di Timur karena masalah otoritas dan doktrin, meskipun beberapa upaya telah dilakukan untuk memulihkan persatuan dan untuk menyembuhkan luka-luka perpecahan di antara Gereja-Gereja. Pada awal abad ke-15, misalnya, banyak orang di Gereja Roma menganggap invasi Turki terhadap Kekaisaran Bizantium sebagai “karya” untuk mengikat kekristenan yang terpecah menjadi satu. Sebagai tanggapan, Konsili Florence membayangkan persatuan dalam skala muluk tidak hanya dengan gereja-gereja Bizantium Yunani tetapi juga dengan orang-orang Koptik, Etiopia, Armenia, dan Nestoria. Meskipun ada hampir 700 perwakilan Timur dan 360 perwakilan Latin dan debat yang terjadi kemudian, reuni tidak tercapai.
Sementara itu, gereja yang didominasi Romawi terus mengembangkan tradisi monastik yang kuat yang dimulai dengan Benediktus (480-550) yang menulis “Aturan St. Benediktus” di mana ia menggambarkan prinsip-prinsip doa, pekerjaan, dan studi yang penting untuk kehidupan biara. Bahkan di awal abad ke-21, dokumen ini terus menjadi dasar bagi kehidupan komunitas Benediktin di seluruh dunia. Banyak misionaris gereja adalah para biarawan. Pada awal Abad Pertengahan, biara-biara Benediktin menjadi pemilik tanah besar dan kekuatan kuat dalam ekonomi lokal. Melalui kekacauan Abad Pertengahan, setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi, mereka memainkan peran penting dalam menjaga kehidupan spiritual, artistik, dan intelektual gereja.
Pada abad kedua belas, ordo-ordo lain berkembang yang menolak kehidupan biara yang tertutup dan terkadang kaya, dipisahkan dari masyarakat. Model komunitas Kristen yang lebih terlibat pada masyarakat lebih disukai. Fransiskus dari Assisi (1182-1226) dan ordo Fransiskan menekankan kemiskinan, kesederhanaan, dan pelayanan individual dan komunal. Poinnya tidak terpisah dari orang-orang, tetapi di antara mereka. Dominikus (1170-1221) dan ordo Dominikan menekankan pendidikan, khotbah, dan pengajaran. Para anggota ordo ini juga sering reformis, menyerukan pembaruan monastisisme dan gereja secara keseluruhan.
Pada abad ke-16, sebuah gerakan yang disebut Reformasi Protestan memicu “Kontra-Reformasi” Katolik. Konsili Trente (1545-1563) diikuti dengan reformasi praktik korupsi di dalam Gereja Katolik dan menegaskan kembali otoritas Gereja Katolik Roma yang terlihat, hierarkis, dan terstruktur. Periode pembaruan Katolik ini membangkitkan kembali semangat pendidikan dan misi dari gereja dengan pendirian Serikat Yesus, juga disebut Yesuit, yang didirikan oleh Ignatius Loyola (1491-1556).
JRS
Saat ini, Katolik berpusat di Vatikan di Roma, tetapi sinode-sinode, konsili para uskup, dan paroki-paroki setempat menjalankan kehidupan dan karya gereja di setiap benua. Sekitar setengah dari orang Kristen di dunia adalah Katolik. Konsili Vatikan II menganggap serius peran baru gereja di dunia modern. Di antara banyak keputusan Dewan adalah untuk meninggalkan massa yang didominasi Latin mendukung ibadah dalam bahasa dan dalam bentuk budaya masyarakat setempat. Fokus lain adalah pada keterbukaan baru terhadap tradisi agama lain sebagaimana diwakili dalam dokumen Nostra Aetate (In Our Time). Fokus ketiga adalah bagaimana gereja harus menekankan tidak hanya khotbah dan sakramen, tetapi misi yang kuat untuk orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
Kekristenan Ethiopia
Sumber: ancient-origins.net
Kekristenan datang ke Ethiopia pada abad-abad awal, dan indikasi dari sejarah yang luas ini dapat ditelusuri ke tulisan suci Kristen. Menurut tradisi Etiopia, Ratu Sheba yang mengunjungi Raja Salomo adalah orang Etiopia, yang dengannya ia memiliki seorang putra. Melalui dia, garis kekuasaan raja didirikan yang mengikat Etiopia dengan garis kerajaan Daud. Selain itu, tulisan suci memberi tahu seorang pejabat pengadilan dari Ethiopia mengunjungi Yerusalem dan dalam perjalanan pulang menemui rasul Filipus. Ia menerima pesan Filipus tentang Yesus, dibaptis, dan, menurut tradisi Ethiopia, menyebarkan iman ini ketika ia kembali ke rumah. Pada abad keempat, agama Kristen telah mapan, dan akhirnya, berbagai tulisan Kristen diterjemahkan ke dalam Ge’ez, bahasa klasik yang masih merupakan bahasa liturgi Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia. Orang-orang Kristen Ethiopia percaya bahwa kemanusiaan dan keilahian Yesus tercakup dalam satu sifat ilahi, dan posisi teologis ini tercermin dalam dimasukkannya gereja “tewahedo” dalam namanya, yang berarti “persatuan” di Ge’ez. Gereja Tewahedo Ortodoks Ethiopia memberi keunggulan lebih besar pada tradisi-tradisi Yahudi awal daripada lembaga-lembaga Kristen di Barat. Gereja ini terus berkembang di Ethiopia bahkan ketika para penganutnya sekarang hidup di banyak bagian dunia.
Tulisan ini tadinya dibuat sebelum kabinet Presiden Joko Widodo jilid II dibentuk dan begitu banyak wacana perihal menteri dari kalangan milenial. Sebagai orang yang mengklaim diri Bapak Millennial di judul blog, saya pikir bahwa boleh jadi saya bisa jadi pejabat milenial itu. Wkwkwk.
Pasca ditetapkannya Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih untuk periode 2019-2024, wacana selanjutnya kala itu adalah sebuah perkara tidak gampang tentang mengisi kabinet.
Komposisi menteri pada akhirnya menjadi perkara rumit sebab pertimbangannya lebih banyak daripada hendak berumah tangga. Ada pertimbangan dukungan politik, ada juga persoalan tentang kursi-kursi yang mau tidak mau harus diduduki oleh para profesional murni, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri. Masih ada pula penyesuaian komposisi jumlah menteri wanita hingga upaya mengakomodasi perwakilan Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.
Seolah keribetan itu tidak cukup, muncul pula ide untuk mengangkat menteri dari kalangan milenial.
Berdasarkan buku (((Profil Generasi Milenial Indonesia))) yang diluncurkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2018 maka yang dimaksud dengan milenial itu kurang lebih berada pada rentang kelahiran tahun 1980 hingga 2000. Kala itu ada nama-nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono dan Diaz Faisal Malik Hendropriyono beredar. Padahal keduanya kelahiran tahun 1978. Sudah kepala empat. Keliru besar.
Menjadikan anak muda sebagai menteri sesungguhnya adalah hal yang cukup langka di Indonesia. Salah satu yang pernah terjadi adalah ketika Maria Ulfah diangkat sebagai Menteri Sosial Kabinet Sjahrir II dalam usia 34 tahun 6 bulan dan 11 hari. Selain itu, biasanya menteri hanya akan dijabat oleh orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas.
Sumber: Good News From Indonesia
Dalam Kabinet Kerja dari periode pertama, beberapa menteri yang termasuk muda itu adalah Hanif Dhakiri, yang diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja pada usia 42 tahun. Ada juga Imam Nahrawi dan Puan Maharani, yang pada saat dilantik sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan sama-sama berusia 41 tahun.
Sumber: Kompas.com
Publik Indonesia mulai tertarik dengan menteri yang agak muda pasca Mahathir Mohamad mengangkat Syed Saddiq Syed Abdul Rahman sebagai Menteri Belia dan Sukan Malaysia pada usia 25 tahun. Nyaris seperempat usia sang Perdana Menteri.
Sementara itu, rekor dunia sendiri dipegang oleh Shamma Al Mazrui menjadi Menteri Urusan Kepemudaan Negara di Uni Emirat Arab. Saat dilantik pada 2016, usianya baru 22 tahun dan baru setahun lulus S2 Magister Kebijakan Publik di University of Oxford. Ini adalah universitas tempat Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar berkuliah S2 yang kedua.
Ya, ketika para pekerja newbie di Jakarta sedang galau bikin Instagram story bijak terus menerus karena keseringan dimarahi bos, maka dua orang itu malah mendapat gawean yang sangat prestisius: jadi menteri.
Menteri dari kalangan milenial dianggap menjadi salah satu solusi untuk kemajuan birokrasi di negeri yang proporsi terbesar penduduknya (33,75%) adalah kaum milenial. Presiden Jokowi sendiri menyebut bahwa saat ini dan ke depan, Indonesia perlu orang-orang dinamis, fleksibel, dan mampu mengikuti perubahan zaman yang sangat cepat. Hal itu, katanya, ada pada orang-orang muda.
Meski demikian, Presiden Jokowi juga memberi rambu-rambu bahwa mau muda sekalipun, orang-orang yang akan menjadi menteri tersebut harus mengerti manajerial serta mampu mengeksekusi program yang ada. Soalnya, banyak juga anak muda yang lebih sibuk dengan senja-kopi-senja-kopi-senja-kopi sampai kemudian maag.
Tata pemerintahan hampir di seluruh dunia itu memang unik. Pemimpin yang terpilih secara politik akan menunjuk para menteri sebagai pembantunya. Menteri itu akan duduk di kursi nomor 1 sebuah kementerian. Sementara itu, pada saat yang sama, telah terbentuk struktur yang kompleks dengan terdiri dari para Pegawai Negeri Sipil pada berbagai level.
Di Indonesia, klasiknya, jabatan karir tertinggi untuk seorang PNS yang merintis dari bawah itu adalah pejabat Eselon I seperti Sekretaris Jenderal atau Direktur Jenderal. Saat ini, dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara, pintu untuk orang di luar birokrasi memegang jabatan-jabatan di struktural Kementerian/Lembaga sudah dimungkinkan, meski belum cukup banyak terjadi.
Kalaulah ada PNS yang betul-betul dari bawah itu bisa kita dapati dalam sosok Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, yang pasca lulus dari UGM langsung masuk ke PU. Di departemen dan kemudian kementerian PU tersebut, Pak Menteri ini bekerja, sekolah, bekerja lagi, promosi-promosi-promosi, hingga kemudian menjadi Inspektur Jenderal dan Direktur Jenderal. Berangkat dari jabatan terakhir, beliau diangkat menjadi menteri.
Sekali lagi, yang semacam itu ada, tapi jarang sekali. Sisanya, menteri itu adalah orang luar yang nemplok langsung di pucuk pimpinan sebuah kementerian mengepalai orang-orang yang sudah berpuluh-puluh tahun ada di tempat tersebut.
Menempatkan orang di pucuk pimpinan sebuah Kementerian adalah perkara yang tidak sepele karena selain harus bisa menerjemahkan kemauan Presiden, menteri juga harus bisa mengelola gerbongnya agar mau dibawa ke arah yang tepat. Jadilah, ada banyak paket yang harus dibawa sesuai syarat dari Presiden Jokowi. Leadership dan kemampuan manajerial saja tidak cukup karena harus didukung oleh dukungan politik, plus tentu saja kecerdasan.
Bukan apa-apa, sebagaimana yang sering disebut oleh Susi Pudjiastuti yang notabene berijazah SMP pada awal kepemimpinannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa di birokrasi level atas itu jumlah S2 dan S3-nya nggak sedikit. Bu Susi sendiri cenderung lebih mudah masuk ke dalam organisasi, antara lain karena umur yang kurang lebih sama dengan para pejabat di KKP. Selain tentu saja karena pengetahuannya tentang laut yang cukup mumpuni.
KKP sendiri, bersama dengan Kementerian Keuangan, dikenal sebagai sedikit kementerian yang dikenal sudah matang birokrasinya sehingga sering menjadi tujuan benchmark kementerian dan lembaga lainnya.
Dengan jenjang karir yang ada, usia para pejabat Eselon I dan Eselon II di seluruh kementerian dan lembaga kurang lebih adalah sama di sekitar 53 sampai 60 tahun. Artinya, jika tiba-tiba ada menteri dari kalangan milenial yang muncul, itu berarti kurang lebih sama dengan usia anak para pejabat itu.
Syed Saddiq, misalnya, dibantu oleh Doktor Waitchalla R. R. V. Suppiah sebagai Ketua Setiausaha, yang kira-kira setara Eselon I di Indonesia. Ibu ini punya gelar S2 dari George Washington University dan S3 dari University Putra Malaysia, serta bergabung dengan birokrasi di Malaysia saja tahun 1989. Pada tahun itu, Pak Menterinya yang sekarang bahkan belum lahir.
Di dalam KRL, saya sering mendengar curhat sesama PNS agak senior tentang kelakuan para PNS muda dari kalangan milenial. Persoalan attitude menjadi faktor utama yang sering dikeluhkan. Ah, jangankan mereka. Saya saja yang sama-sama milenial juga punya keluhan yang serupa tentang attitude sebagian PNS muda, sampai sering berpikir, “Waktu saya PNS baru, apakah saya seburuk ini attitude-nya?”
Apalagi birokrasi ini tidaklah seperti pabrik. Saat saya bekerja di pabrik, ada pembatasan struktur yang jelas antara operator dan staf. Para operator yang notabene lulusan sekolah menengah itu dari awal sudah tahu, bahwa kalau ingin melompat ke level staf ya harus meng-upgrade diri jadi sarjana. Sehingga, mereka sudah sangat paham melihat para supervisornya berganti-ganti dengan usia yang makin lama makin muda dari para operator tersebut.
Pada pekerjaan pertama saya sebagai fresh graduate, orang-orang yang jadi bawahan saya sudah bekerja lebih dari 10 tahun di pabrik tersebut. Akan tetapi, tidak ada resistensi dari mereka, bahkan kepada supervisor lulusan baru yang tidak tahu apa-apa sama sekali—seperti saya.
Saya juga kemudian bekerja di laboratorium riset yang isinya anak muda semua dari asisten peneliti hingga kepala penelitinya. Kala itu, ritme kerjanya memang kencang dan fleksibelnya minta ampun karena ekosistem kerjanya memang penuh kebebasan. Namanya juga riset.
Hasilnya juga nyata berupa jurnal hingga produk. Sistematika kerja itu kurang lebih setara dengan yang diterapkan di startup, hingga kemudian banyak orang-orang usia 30-an yang naik panggung jadi CEO.
Sayangnya, sistematika di birokrasi tidaklah semudah dan sefleksibel itu. Saya bersua banyak PNS baru yang dulunya sudah supervisor bahkan manajer di perusahaan swasta, namun begitu masuk birokrasi ya harus kembali ke nol lagi. Di kantor lama dihormati oleh para operator, di kantor baru harus rela antar surat, antar snack, hingga beli galon sekalipun.
Sekarang, mari bayangkan ada orang yang seumuran dengan anak-anak para Eselon I dan II alias juga seumuran dengan CPNS atau PNS level fungsional pertama yang tiba-tiba duduk langsung di kursi tertinggi sebuah institusi. Apakah hal itu akan cukup mudah diterima? Apakah sudah ada kajian keberterimaan elemen birokrasi untuk konteks ini?
Terlebih data BKN menyebut bahwa 67,1 persen PNS berada pada rentang usia 41 hingga 60 tahun, alias proporsi terbanyak. Belum lagi kalau mau mengungkit data yang sempat beredar pas sidang MK bahwa sebagian besar PNS justru tidak mendukung presiden terpilih ketika Pemilu.
Lagipula, di dunia ini baru saja ada contoh bahwa asal muda saja tidak menjadi solusi. Ada nama Sebastian Kurz yang sempat kondang. Tahun 2013, dalam usia 26 tahun, dia jadi Menteri Urusan Luar Negeri. Empat tahun kemudian, Kurz bahkan menjadi Kanselir Austria hingga kemudian sebuah skandal yang terkait dengan korupsi mengemuka dan membuat Kurz harus lengser bulan Mei 2019.
Pengganti pria 31 tahun itu siapa? Kepala Pengadilan Tinggi Austria, Brigitte Bierlein. Usianya? Bahkan lebih dari usia Kurz dikali dua.
Sebelumnya ada nama Aida Hadzialic, Menteri Menengah Sekolah Atas, Pendidikan Dewasa, dan Pelatihan di Swedia yang diangkat jadi menteri pada tahun 2014. Dua tahun pasca menjabat, Aida mundur karena diketahui menyetir dalam keadaan mabuk. Namanya juga anak muda.
Ide menteri dari kalangan milenial sejatinya adalah hal menarik dan menantang, sehingga butuh sosok personal yang betul-betul muda, matang, dan mumpuni untuk terjun ke dalam birokrasi dengan peran sebagai seorang pemimpin. Ketika justru ada resistensi, tujuan adanya milenial di posisi menteri bisa tidak tercapai.
Pada akhirnya hanya ada satu menteri dari milenial, namanya Nadiem Makarim. Paling muda tapi anggarannya paling besar. Di sisi lain, nama-nama muda justru muncul di Wakil Menteri, seperti di Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Serta tentu saja yang kemudian sama-sama kita ketahui keramaiannya: Staf Khusus Milenial~
Hampir tiap akhir pekan saya ke Giant atau Super Indo. Hanya itu hiburan saya ketika harus menjalankan aktivitas dari rumah sudah hampir 2 bulan. Sisanya, saya tentu saja menjaga anak di rumah, sementara mamaknya kerja di Rumah Sakit.
Setiap kali masuk ke dua toko itu, saya melihat arena bermain anak yang memang ada di tempat itu. Yha, ditutup. Di Giant dekat rumah bahkan jadi gudang tambahan. Begitu banyak mie instan ditumpuk di sela-sela mainan yang ada. Hal ini tentu berbeda sekali dengan 1-2 bulan sebelumnya.
Corona memang telah mengubah begitu banyak gaya hidup manusia. Dan salah satu yang tampaknya akan terdampak paling besar adalah arena permainan anak ini. Dulu saja, banyak orang tua enggan mengajak anaknya bermain di tempat seperti itu karena rawan ketularan pilek. Sekarang? Pilek itu bisa saja berarti kena Covid-19.
Padahal, tempat-tempat bermain seperti itu baik mahal maupun murah sebenarnya juga ada agenda bersih-bersih. Di Ace Hardware itu sehari bahkan beberapa kali. Hanya saja, dengan model begini, membawa anak bermain ke suatu tempat untuk lantas berinteraksi dengan banyak anak lain dalam keramaian tampaknya akan menjadi hal yang dihindari oleh sebagian orang tua.
Ketika yang secuil di supermarket saja drop, kebayang dong itu yang di Lotte Avenue, misalnya? Yang sekali masuk bisa ratusan ribu? Bagaimana nggak bangkrut itu? Belum lagi ada sebagian tempat yang saya tahu sendiri bahwa mereka baru kelar renovasi. Baru kelar mengeluarkan modal untuk mengharapkan adanya experience baru dari pengguna dan kemudian mereka dihantam Corona.
Bukan apa-apa juga, selain faktor takut adanya penularan, sekarang kebutuhan manusia mendadak kembali ke dasar: sandang, pangan, dan papan. Dengan pendapatan yang mulai terbatas akibat Corona, hiburan juga menjadi hal nomor kesekian. Dan tempat-tempat itu, yang biasanya juga didatangi sebulan sekali pasca gajian, bisa jadi semakin dihindari.
Tempat-tempat seperti KidCity yang notabene menggabungkan lokasi permainan dengan tempat belanja (Transmart) juga bisa jadi goyah. Belanja sekarang nggak bawa anak. Kalaupun bawa anak, kembali ke awal tulisan ini, tampaknya orang tua masih enggan membiarkan anaknya memegang benda-benda yang entahlah habis dipegang orang kena Corona atau nggak.
Yha, perubahannya sedrastis itu. Bahkan untuk tempat yang gratis seperti di McD, saya pribadi juga sama dengan orang tua lain. Sampai batas yang entah kapan mungkin masih akan menghindarinya. Sebuah pilihan hidup yang sesungguhnya tidak pernah diduga. Ketika orang inovasi bicara disrupsi bla-bla-bla, Corona menghantamnya jauh lebih kuat.
Bulan Maret lalu, dalam kegalauan, saya pernah beli hand satanizer, eh, sanitizer yang Dettol biasa digantung-gantung di tas itu sampai 65 ribu sebiji. Asem sekali. Saya juga beli Antis spray dengan harga 33 ribu sebiji. Kalau yang spray ini untuk cuci-cuci handphone.
Ya, saya beli di toko online. Soalnya, di lapak-lapak sekitar memang sudah tidak ada. Mau bagaimana lagi?
Saya sendiri menggunakan hand sanitizer itu untuk kalau ambil paket ke satpam–soalnya kompleks perumahannya lagi lockdown mandiri. Selain itu, paling buat istri. Akan tetapi, karena istri di Rumah Sakit, sebenarnya dia sudah dapat jatah sendiri dari kantornya.
Terus ya saya mikir-mikir lagi, buat apaan juga saya beli~
Pada akhirnya saya berhenti di Dettol 65 ribu itu. Kalau terus-terusan, saya bakal memperkaya spekulan. Kepada para pedagang dengan harga tinggi itu tidak pernah saya berikan komentar. Lagian, repeat order juga tidak bisa karena mereka kan stoknya juga secuplik doang. Beberapa bahkan tokonya sudah amblas sekarang. Mungkin kena banned dari marketplace-nya.
Saya berhenti karena berhasil mendapatkan Nuvo dengan harga normal, 3.700, ketika belanja di Hero. Dengan pembatasan tentu saja. Di lapak online, Nuvo itu dihargainya sampai 15 ribu padahal. Dengan 2 botol kecil hand sanitizer Nuvo itu kemudian saya lebih menikmati kehidupan sembari melihat perkembangan pasar.
Sesungguhnya saya termasuk yang tidak sepakat dengan mekanisme pasar. Saya inginnya pemerintah turun tangan melakukan pembatasan, terutama untuk masker. Sisi negatifnya, mekanisme pasar telah membuat banyak orang menjual hand sanitizer palsu yang asal campur dan labelnya dicetak sembarangan. Ada kan itu thread-nya sempat viral.
Di sisi lain, karena sebenarnya biaya pokok hand sanitizer ini terbilang murah sekali, pasti banyak orang yang minat. Terutama ketika cukai alkohol juga ada keringanannya dari pemerintah. Dan boleh dibilang, hal itulah yang menyebabkan hand sanitizer hari ini kembali baik-baik saja.
Sebagai gambaran, sampai dengan Desember 2019, hanya ada 359 jenis antiseptika/hand sanitizer bernomor izin edar PKD yang beredar di Indonesia. Itu tidak hanya hand sanitizer, yha. Termasuk tisu MamyPoko juga ada. Pokoknya semua antiseptik.
Dan kalian tahu berapa jumlah nomor izin edar baru untuk antiseptika/hand sanitizer yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan HANYA PADA BULAN MARET 2020? 202 produk dan pada umumnya adalah hand sanitizer baik berupa gel maupun spray~
Kenapa saya tahu? Karena saya melakukan riset untuk Ujian Tengah Semester. Dan mumpung kuliah, saya memang hendak eksplorasi sana-sini demi kebaikan bersama.
Masker sendiri tidak terlalu saya dalami, tapi konteksnya agak berbeda. Masker medis tadinya dilarang WHO sampai dibilang (((masker untuk yang sakit))) itu niatnya agar masker medis untuk tenaga medis. Sayangnya, manusia tidak bisa dikontrol dengan cara itu. Makanya masker kemudian kenaikan harganya paling aduhai, selain pembuatannya tidak semudah hand sanitizer.
Masker baru mulai normal ketika masker kain mulai digalakkan, ditunjang riset yang lumayan. Baru deh mulai baik-baik saja. Meski sebenarnya belum terlalu balik ke harga normal.
Ini sudah hari ke dua puluhan dia dikarantina padahal nggak salah apa-apa. Aslinya saya kasihan, tapi ya gimana. Demi kebaikan dia juga. Jadilah tadi saya belikan cat air, dipadukan dengan stok batu taman miliknya. Lumayan buat pelipur lara.
Kemudian dia akting masak dengan gelas McD itu, sambil bilang, “Hmmm, sudah matang…”
Terus ya saya terusin, dong. Wong dia pakai sendok begitu. Saya bilang, “am..am…” kayak habis makan.
Lah dia bilang, “Ini batu. Bukan dimamam. Di main aja.”
Menjadi orang yang terlibat dalam kebijakan publik, bahkan mendalami kebijakan publik di level S2 sesungguhnya tidak berarti membuat saya suka pada pelayanan publik di Indonesia.Yes, saya itu begitu mau mengurus aneka rupa dokumen kependudukan itu malasnya minta ampun, sebenarnya. Bayangan tentang bakal sulit dan bolak-baliknya proses pelayanan bikin saya keder duluan.
Pada akhirnya, kemalasan itu kepentok ketika saya gagal memperpanjang paspor karena katanya data di KTP elektronik saya gagal dibaca oleh sistemnya Imigrasi.
Jeng-jeng-jeng.
Jadi, ya sudah, mau tidak mau saya harus ke Dinas Catatan Sipil Kabupaten Bandung Barat, tempat Kartu Keluarga dari keluarga kecil saya terdaftar. Saya sudah berpikir yang tidak-tidak hingga kemudian saya berangkat pagi buta tanpa mandi ke Gedung C, tempat Dinas Dukcapil berada.
Benar saja, pada hari Jumat 28 Februari itu, jam 6 pagi saja sudah ada lebih dari 20 orang menunggu. Wagela, jam 6 pagi. Ini masyarakat berangkat dari rumah jam berapa coba?
Nah, ternyata oh ternyata, pelayanan di Dinas Dukcapil tidaklah buruk. Malah terbilang lumayan. Dan kalaulah ada yang kurang, itu menurut saya masih cukup wajar. Mengingat ekspektasi untuk pelayanan publik pada level Dinas Catatan Sipil sudah rendah pada awalnya.
SIPEPEN OC
Jadi, Dinas Dukcapil KBB ini punya inovasi yang bernama SIPEPEN OC untuk pelayanan kependudukan. Submitnya bisa lewat wesbitenya dan nanti akan mengarah ke nomor WhatsApp admin SIPEPEN OC. Jadi, kelihatan kesederhanaan yang tentu membutuhkan banyak perbaikan.
Bagaimanapun, WhatsApp itu kan terbatas. Kalau lagi diserbu, bisa tenggelam. Dan adminnya harus satu-satu mengurutkan dari awal. Bagusnya tentu pakai aplikasi sehingga jelas log-lognya. Akan tetapi, saya mengapresiasi adanya sistem ini, dibandingkan beberapa kota lain di dekat Jakarta yang juga memajang nomor WA, tapi sampai sekarang saya coba chat masih centang satu. Wkwk.
Jadi, modelnya adalah request via SIPEPEN OC, nanti kita diminta NIK atau kadang juga Kartu Keluarga. Tergantung kebutuhan. Sesudah itu, tinggal tunggu 2-3 hari akan dapat notifikasi pengambilan. Kalau sudah begitu, berarti KTP memang hanya tinggal diambil di loket 8.
See? Sangat mudah dan sederhana. Makanya saya kemudian bisa mengurus hal lain, seperti…
KARTU IDENTITAS ANAK
Perbandingan pengurusan KTP dengan KIA di KBB itu jomplang. Pada saat KTP sudah 30, KIA paling 2. Jadi posisinya sangat enak untuk mengurus KIA di KBB ini. Syaratnya juga mudah, cukup fotokopi KK dan Akte Kelahiran.
Sesudah mengambil nomor antrean, kita akan dipanggil ke loket, lantas mengisi formulir sejenak, maka dalam waktu tidak sampai 5 menit, KIA sudah bisa sampai di tangan. Tinggal tanda tangan buku tanda terima saja, deh.
Terakhir, karena kebutuhan harus mengurus dokumen untuk persiapan pensiun, maka saya harus mengejar ketinggalan untuk membuat KARTU ISTRI dan hal itu membutuhkan legalisasi dokumen pernikahan.
Nikah sudah berapa tahun, kok ya baru dilegalisasi. Betul-betul tidak sesuai dengan RUU Ketahanan Keluarga yang serampangan itu. Heuheu.
LEGALISASI DOKUMEN PERNIKAHAN
Untuk melakukan legalisasi dokumen pernikahan dan semacamnya, lokasinya di Loket 6. Tinggal membawa dokumen asli dan sejumlah dokumen yang sudah difotokopi untuk dilegalisasi kemudian serahkan kepada petugas.
Hal yang bikin senang adalah karena saya memasukkan dokumen pada jam 12 kurang lima. Saya sudah hopeless bahwa dokumen paling akan selesai jam setengah 2 karena kan jam 12 istirahat dan di banyak instansi baru balik jam 1, siap-siap lain-lain mulai lagi setengah 2.
Eh, ternyata Bapak Kepala Seksinya tetap menyelesaikan tanggungan legalisasinya sehingga saya kemudian mendapati berkas itu kembali pada pukul 12.18. Sebuah catatan menarik. Bahwa regulasi Kementerian PAN dan RB tentang Pelayanan Publik sebenarnya mengarah pada jam istirahat bergilir alias layanan terus berlangsung pada jam istirahat. Akan tetapi, pada praktiknya, hal itu masih sulit. Maka ketika Bapak Kepala Seksi tetap bekerja pada jam istirahat, itu menjadi hal menarik dan keren buat saya.
Padahal, ya, di kantor sendiri, rapat jam 12 lewat atau bahkan baru keluar makan jam setengah 2 karena dokumen belum kelar juga banyak, sih. HAHAHA. Tapi ekspektasi pada Pemerintah Daerah kadung rendah, jadi ketika dikasih tinggi jadinya kagum.
Satu hal yang pasti, saya tidak keluar uang apapun selama proses layanan, kecuali untuk ongkos ojek online dari dan ke Kantor Dinas Dukcapil KBB. Tentu ini sebuah langkah maju dan harus dilanjutkan serta ditiru oleh Pemerintah Daerah lainnya. Selain tentu tetap mengevaluasi kelemahan pada sistem yang ada.
Buat anak beasiswa seperti saya, tanggal belasan Februari adalah tanggal yang sangat tua. Bukan apa-apa, soalnya kiriman dari penyedia beasiswa baru akan ada lagi Maret karena pengirimannya per termin. Sementara, termin yang lalu tentu saja sudah habis duluan karena bulan Desember banyak kepentingan.
Padahal lagi, sebagai mahasiswa kan saya juga banyak pikiran. Apalagi mahasiswa yang bapak-bapak, eh, bapak-bapak yang mahasiswa, sebagaimana Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga yang lagi hits itu saya harus bertanggung jawab pada rumah tangga.
Saya jadi ingat Arsenal yang tampil begitu gamang di Liga Inggris, sekalinya dibawa piknik ke gurun balik-balik langsung menang 4-0 dari Newcastle. Bahwasanya piknik itu penting, tetapi karena saya lagi nggak punya uang dan kuliah juga nggak bisa ditinggal, maka opsinya hanyalah ngopi.
Pada intinya, saya butuh ngopi. Apalagi pada deraan tugas yang begitu deras seperti saat ini.
Karena sudah tidak tertahankan, maka dalam perjalanan ke kampus saya stop dulu di daerah Kebon Sirih. Jadi, demi pengiritan dan karena suasana jalur Bogor belum kondusif, dari Stasiun Tanah Abang ke kampus saya naik Metro Trans alih-alih ojek online.
Namanya juga lagi miskin.
Kalau pas dapat yang Gondangdia, saya suka berhenti di Halte DPRD DKI Jakarta. Sambil menunggu bis yang Tanah Abang ke Kampung Melayu via Cikini, saya anteng dulu di halte DPRD tersebut. Karena hasrat ngopi tidak tertahankan, jadilah saya membuka aplikasi Traveloka yang ada di gawai jadul saya.
Di aplikasi Traveloka, saya meluncur ke Traveloka Eats. Sebagaimana pada kesempatan terdahulu saya pakai Traveloka Xperience demi penghematan mainnya Isto–anak saya, maka saya yakin bahwa melalui Traveloka Eats saya akan mendapat promo yang ciamik untuk sekadar ngopi. Ngopi dulu, daripada gila. Gitu katanya.
Nah, begitu masuk Traveloka Eats saya langsung meluncur ke fitur Treats by Traveloka Eats. Kebetulan, ada lapak ngopi yang cuma di seberang jalan dan ada hidden gems-nya! Yiha!
Jadilah saya menyeberang jalan menuju Yellow Truck Coffee yang ada di gedung Trio, kurang lebih di seberang Lemhanas. Lokasi tempat ngopinya ada di lobi gedung tersebut dan begitu masuk saya bisa langsung mendapati informasi bahwa di tempat ini ada Treats by Traveloka Eats.
Tentu saja pertama-tama saya harus konfirmasi perihal promo yang tersedia. Sesudah itu, saya pencet Get Deals dan kemudian Use Deals. Pada posisi ini kemudian muncul jumlah yang harus kita bayar.
Sesudah melakukan konfirmasi harga dengan kasir, kita tinggal input nominal yang dimaksud dan akan langsung menuju skema pembayaran Traveloka. Pembayaran bisa dilakukan melalui berbagai channel yang biasa juga kita pakai di Traveloka untuk beli tiket ataupun pesan hotel. Kalau biasa pakai Traveloka ya langsung secepat kilat bisa terbayar.
Nanti di gawainya toko, akan ada notifikasi bahwa pembayaran sudah masuk, sehingga kita bisa mendapat struk. Tidak lama kemudian, saya segera mendapatkan kopi yang dibutuhkan oleh otak demi kelangsungan studi yang lama-lama ternyata berat juga.
Ngomong-ngomong, kalau nanti kiriman dari penyedia beasiswa tiba, saya tentu ingin menggunakan Treats by Traveloka Eats lain yang persentasenya lebih gede, tentunya sambil bawa anak dan istri. Sebab, dalam perspektif saya, #PengalamanMengenyangkan akan lebih cuan kalau digunakan ketika makan beramai-ramai karena promo yang diberikan jadi lebih yahud dan terasa di kantong.
Oya, kalau bingung lagi ada offers apa yang tersedia di sekitar, maka bisa eksplorasi di Traveloka Eats karena banyak informasi yang tersedia di sana untuk jadi bahan memilih-milih Treats paling ciamik sebagai hidden gems yang disediakan oleh Traveloka Eats.
Demikian saja pengalaman ciamik saya bersama Treats by Traveloka Eats, sehingga saya pada akhirnya bisa ngopi dengan sedikit tenang karena bagaimanapun ngopi dengan harga promo itu lebih menenangkan dibandingkan ngopi pakai harga biasa. Ya, namanya juga sobat misqueen~
Oli motor terbaik masa kini dan masa depan dari Pertamina – Oli motor terbaik merupakan kebutuhan kita semua. Sebagai commuter miskin, setiap hari saya mengendarai sepeda motor sejauh 10 kilometer dari rumah ke stasiun. Dari situ, saya naik KRL, dan tentu saja untuk menuju kantor saya kudu naik ojek online. Ojol sebagai salah satu gaya hidup masa kini tentu saja harus pakai oli motor terbaik.
Sebagaimana tertulis di buku saya yang nggak laku dan berjudul Oom Alfa itu, saya punya banyak pengalaman absurd dengan sepeda motor karena problem awal yang sangat sepele: oli motor. Maka sejak miskin ketika itu sampai sekarang tetap miskin, saya selalu memberikan yang terbaik untuk motor. Bagaimanapun, oli itu sangat penting. Selain itu bikin kinerja mesin lebih optimal, oli motor, termasuk oli motor matic, juga berperan dalam mengendalikan kotoran pada mesin, mengurangi gesekan, plus juga menjadi pendingin. Tidak heran kalau oli motor harus diganti secara rutin demi menjaga kualitas plus bikin umur mesin lebih panjang.
Pentingnya mengetahui bahan penyusun oli motor
Dari penelusuran literatur diketahui bahwa berdasarkan penyusunnya, oli dapat dibedakan atas oli mineral, oli sintetis, serta oli semi-sintetis. Oli mineral dibuat dari penyulingan mineral terhadap minyak bumi sehingga cenderung lebih tahan pada penguapan. Akan tetapi, viskositas alias kekentalannya sebagai oli motor layaknya hubungan pacaran anak muda: muda berubah. Hal itu terjadi karena bahan ini tidak tahan cuaca ekstrim atau juga suhu tinggi.
Oli sintetis sejatinya dibuat dari minyak bumi juga, namun dengan pengolahan lanjutan untuk mendapatkan viskositas atau kekentalan oli yang stabil. Sifatnya bahannya kayak mahasiswa uzur, mudah menguap. Akan tetapi, pada saat yang sama, oli jenis ini lebih tahan cuaca ekstrim.
Sedangkan oli semi-sintetis adalah campuran kedua jenis oli sebelumnya. Oli motor model begini cenderung digunakan dalam motor yang performanya tinggi atau motor sport sekalian.
Jutaan orang tidak menyadari bahwa memilih oli motor itu tidak sekadar datang ke bengkel dan bilang untuk ‘ganti oli, bang…’ karena abang di bengkel pasti nanya, “mau oli motor apa, Pak?”
Melalui tulisan ini, saya mau berbagi beberapa aspek kunci dalam memilih oli motor.
Pilih sesuai beban hidup
Tidak semua motor punya beban yang sama. Saya misalnya lebih sering naik motor sendiri karena istri dan anak naik taksi online. Kalau begini, bebannya paling hanya 80 kilogram. Sementara kalau ojek online, dengan rata-rata berat badan 60 kilogram plus 60 kilogram saja, sudah satu kuintal lebih sekali jalan. Beda beban, beda perlakuan dong.
Dalam memilih oli motor terbaik dan berkaitan dengan beban maka kita kudu melihat nilai API, suatu kode keras perihal spesifikasi oli versi American Petroleum Institute.
Nilai API yang nama lengkapnya adalah the API EOLCS (Engine Oil Licensing and Ceritification System) dikembangkan bersama oleh API dan pabrik mesin yang diwakili oleh Automobile Manufacturers Association (AAMA), the Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), dan the Engine Manufacturers Association (EMA).
Untuk penggunaan sehari-hari, kita bisa pakai oli motor dengan kode API SA sampai dengan SE. Semakin tinggi huruf adalah pilihan yang semakin cocok dengan semakin beratnya beban. Per 1998 saja, kode oli motor ini sudah sampai SJ. Semakin tinggi, maka semakin bisa menggantikan, tapi tidak sebaliknya. Jadi, motor sehari-hari pakai SH atau SJ ya juga boleh. Setidaknya menurut David J. Margaroni.
Pilih Keenceran Yang Tepat
Kalau tadi API, maka sekarang adalah SAE alias the Society of Automotive Engineering (SAE). Ini bukan berarti sa ae lu, yha. Beda. Asli, beda.
Dengan kode SAE 15W-50, tingkat keenceran oli motor berarti berada pada angka 50 dan dapat digunakan hingga suhu minus 15 derajat Celcius. Bukan Kelvin, apalagi Kelvin Sanjaya. Halah.
Oli motor untuk kendaraan yang lebih banyak dipakai di dataran tinggi bersuhu dingin adalah oli dengan keenceran tinggi seperti SAE 10W-30 atau SAE 15W-50. Sebaliknya, jika di daerah hot seperti Kelapa Gading–karena ada kantornya Hotman Paris–oli yang dipakai adalah SAE 15W-40 hingga SAE 20W-40.
Selain tempat, usia juga menyesuaikan. Motor dengan usia lanjut alias lebih dari 100 ribu kilometer lebih cocok pakai oli motor terbaik yang encer.
Tepat Motor dan Tepat Kopling
Setidaknya ada tiga tipe motor yang populer sekarang yakni motor bebek, skuter matik, dan motor sport. Iya, tiga jenis ini butuh oli yang berbeda-beda. Bagaimanapun keperluan dapur besar di motor sport dengan dapur standar di bebek pasti beda dong, demikian pula dengan matic. Tidak salah jika oli motor matic juga berbeda dengan dua tipe motor lain.
Dari sisi kopling, ada tipe basah dan kering. Kalau basah, berarti koplingnya terendam oli sehingga tidak cepat aus, namun berpotensi bikin selip. Untuk tipe ini, oli motor terbaik jelas diperlukan. Jenis basah ini ada dalam diri motor sport dan motor bebek. Sedangkan, kopling kering ada di jenis motor matic.
Parameter yang dipakai di sini adalah JASO alias Japanese Automotive Standard Organization. Untuk kopling basah disarankan pakai JASO MA, sedangkan JASO MB diperuntukkan bagi motor dengan kopling kering alias matic itu tadi.
Kapan mengganti oli motor?
Tentu saja pada waktu yang tepat dan rutin. Sekali lagi, faktor beban kerja sangat penting. Ingat, ini motor bukan PNS. Kalau PNS baru lah beban kerja berlebih tapi dikata-katain saja cukup, untuk motor jangan. Langsung ganti oli pada jarak kurang lebih 2 ribu kilometer. Buat driver ojol, 2 ribu kilometer tentu bukan angka yang besar.
Terus apa dong pilihan oli motor terbaik dari Pertamina?
Enduro 4T Sport SAE 5W-30 merupakan oli sintetis yang diformulasi untuk memberikan akselerasi maksimum pada kinerja tinggi dari motor, tentu saja disertai proteksi yang prima. Termasuk API SL dan JASO MA2 sehingga cocok untuk kecepatan tinggi.
Enduro 4T Racing SAE 10W-40 juga berbasis oli sintetis dengan tambahan API SL yang selektif. Perlindungannya prima untuk melindungi piston bekerja keras di dapur mesin termasuk oksidasi yang baik dan stabilitas degradasi pada temperatur tinggi. Termasuk API SL/SJ dan JASO MA2 juga. Direkomendasikan untuk mesin 4-tak Honda, Suzuki, Kawasaki, maupun Yamaha, serta mesin-mesin lainnya yang dibuat di Tiongkok dan Korea.
Enduro 4T SAE 20W-50 berbasis mineral berkualitas tinggi disertai bahan tambahan selektif dan didesain untuk motor 4-tak. Level performanya pada API SJ dan JASO MA. Oli motor ini dapat menjaga mesin tetap bersih.
Enduro Matic SAE 10W-30 merupakan oli dengan viskositas rendah sehingga mudah tersirkulasi dan ujungnya adalah penggunaan bahan bakar yang lebih ekonomis. Enduro Matic SAE 10W-30 berada pada API SL dan JASO MB, serta memiliki keunggulan untuk menjaga mesin tetap bersih bahkan dari korosi.
Enduro Matic G SAE 20W-40 merupakan oli yang didesain menggunakan basis sintetis dengan tujuan pengendara di kota yang penuh dengan kepadatan sebagaimana kota-kota besar di Indonesia. Kekentalannya lebih tinggi sehingga dapat menjaga suhu mesin pada kondisi panas dalam kemacetan. Performa levelnya JASO MB dan API-nya SL.
Untuk mesin 2-tak, ada varian Enviro 2T SAE 20 berupa oli semi-sintetis kombinasi basis mineral dan poliisobutilena sintetis berikut bahaan tambah penunjang kinerja. Enviro 2T SAE 20 ini bebas asap sehingga berbeda dengan citra 2-tak zaman dulu. Saya bekas pengguna 2-tak soalnya.
Demikianlah pilihan oli terbaik masa kini dan masa depan dari Pertamina. Semoga kita kalau lagi di jalanan bisa aman sentosa dengan ikhtiar terbaik kepada mesin melalui oli motor terbaik yang bisa kita gunakan. Hati-hati di jalan, yha, teman-teman.
Sebagaimana saya tulis sebelumnya bahwa saya memang tengah kuliah lagi. Sudah jalan 1 semester dan sedihnya IP-nya biasa-biasa saja. Meskipun saya kuliah per September 2019, tapi sesungguhnya ketika saya akhirnya masuk kuliah itu adalah akumulasi dari urusan yang sudah dimulai sejak awal 2018! Nah, melalui postingan ini saya hendak berkisah tentang keribetan yang dihadapi dalam 1,5 tahun tersebut, dan memang hanya dihadapi oleh PNS yang ingin kuliah lagi dengan LPDP seperti saya.
Judul tulisan ini adalah kelindan tiga urusan, karena memang ketika saya hendak kuliah lagi maka ada 3 faktor yang harus beres yaitu urusan dengan kantor, urusan dengan LPDP, serta urusan dengan kampus.
Seperti diketahui bahwa untuk PNS yang kuliah itu ada status Tugas Belajar. Dalam posisi sebagaimana saya alami sekarang, PNS itu ya tetap PNS, tetap dapat gaji meski tidak sebesar kalau aktif kerja, karena dia memang penugasannya adalah belajar. Nah, untuk mengurus Tugas Belajar itu beda-beda tiap instansi.
Kalau urusan dengan LPDP tentu saja soal proses seleksi yang sudah banyak dibahas. Sedangkan urusan dengan kampus tentu saja tes masuk. Segala keribetan mengurus Tubel dan LPDP akan nihil kalau kagak lolos seleksi masuk kampusnya. Heuheu. Nah, pertanyaan mendasarnya adalah mana yang sebaiknya diurus duluan?
Akan ada banyak pertimbangan, sebenarnya. Cara saya mungkin tidak akan sesuai dengan kondisi instansi atau kantor lain, tapi mungkin bisa dijadikan landasan berpikir. Urutan yang saya pilih adalah seleksi LPDP dulu, kemudian mengurus Tugas Belajar paralel proses seleksi maksuk kampus.
Kok Nggak Tugas Belajar Duluan?
Di kantor saya, demi menjaga ekosistem kepegawaian ada skema kesepakatan sekian persen pegawai yang boleh Tubel. Kebetulan sih di tempat saya memang lagi kosong antreannya, jadi secara prinsip ya tidak masalah. Akan tetapi, saya hanya berpikir jika saya sudah mengajukan Tubel duluan terus kemudian saya nggak lolos LPDP-nya, berarti nama saya sudah ada di dalam perhitungan persentase itu dan berarti juga menghambat kalau ada orang lain yang ingin kuliah.
Sederhananya, zalim. Saya biasa dizalimi, jadi enggan zalim. Heuheu.
Walhasil, sebagaimana dipersyaratkan, karena kala itu saya masuk LPDP-nya jalur reguler dan bukan jalur PNS, maka saya menggunakan surat pernyataan dari atasan dan kebetulan atasannya juga mendukung dan sampai saya akhirnya masuk, atasannya nggak ganti. Ini faktor yang juga akan berbeda dengan teman-teman pada kasus lain.
Singkat kisah, saya diterima LPDP pada tahun 2018 untuk kemudian ikut Persiapan Keberangkatan (PK) pada tahun yang sama. Jadi ya cuma PK saja, daftar kampus belum, apalagi minta Tubel. Jadi, ketika sesudah PK, saya masih selow dulu sembari menggarap dokumen-dokumen untuk pengajuan Tubel.
Kebetulan sekali tenggat pengajuan Tubel di kantor itu sejalan dengan waktunya ujian masuk kampus. Jadi, saya tidak bisa tes di kampus dulu dan menggunakan hasilnya untuk pengajuan Tubel. Prosesnya terpaksa paralel.
Nah, untuk kepentingan pengajuan Tubel, saya lantas menggunakan fakta bahwa saya telah diterima LPDP. Secara umum hal ini akan cenderung mempermudah kelolosan proses persetujuan Tubel, karena setidak-tidaknya beban anggarannya tidak di kantor. Anggaran yang ada bisa dikasih ke pengaju lain.
Begitu pengajuan Tubel saya lakukan, saya kemudian belajar untuk ujian masuk se-edan-edannya. Lha, gimana, yang mau bayarin kuliah sudah ada, Tubel sedang diajukan, kalau kemudian kuliahnya nggak keterima ya bubar usaha yang dibangun setahun itu.
Sesudah lulus ujian masuk
Untunglah kemudian saya diterima di kampus yang sesuai dengan pengajuan awal saya di LPDP. Kalau tidak, tentu saja harus mengurus hal lain, pindah kampus, misalnya. Dan itu tentu saja saya kurang yakin punya cukup energi untuk urusan tersebut, termasuk juga mengubah lagi pengajuan Tubel yang sudah dibuat.
Sesudah diterima, maka saya bisa menyerahkan ke pengelola SDM di kantor sebagai pendukung bahwa saya minta Tubel itu posisinya sudah diterima kok. Letter of Acceptance (LoA) dari kampus juga saya bawa ke LPDP. Tapi…
…belum bisa minta duit.
Lho? Kok?
Untuk bisa dapat pendanaan LPDP, sebelum kuliah dimulai harus dipastikan bahwa yang sedang bekerja harus off. Yang swasta ya resign, yang PNS ya harus ada SK Tubel. Jadi, saya kudu submit SK Tubel ke LPDP kalau ingin dapat pencairan dan bisa kuliah.
Tapi…
Untuk bisa dapat SK Tubel itu, kantor saya juga butuh bukti bahwa LPDP tidak sekadar menerima saya tapi bersedia mendanai saya. Bagi yang pernah seleksi LPDP tentu tahu bahwa bukti lulus itu ya di website, bukan berupa piagam. Untuk keperluan urus-urus ini perlu ada yang namanya Letter of Guarantee (LoG) yang pada waktu tersebut juga harus saya kasih ke kampus sebagai jaminan pembiayaan dalam proses daftar ulang.
Ribet? Ya, lumayan.
Sederhananya adalah kampus butuh LoG. Saya belum bisa minta LoG ke LPDP karena belum ada SK Tubel. SK Tubel saya nggak bisa keluar karena harus ada LoG. Haiyaaaaaa….
Pada akhirnya, saya memakai mekanisme lawas, Letter of Sponsorship (LoS), untuk ke kantor. Sedangkan untuk ke kampusnya menggunakan pendaftaran kolektif yang dikoordinir teman satu PK yang sekarang jadi Lurah di kampus saya. Ibarat kata, ngasih tahu ke kampus bahwa nama-nama dalam lampiran ini sudah pasti dibayarin LPDP, kok, jadi nggak usah khawatir. Makanya kemudian saya bisa dapat Kartu Mahasiswa ketika proses registrasi ulang.
Kemudian perihal LoG dan SK Tubel bagaimana?
Itu tadi, ke kantor saya pakai LoS dan sembari menunggu SK yang pastinya lama karena yang tanda tangan adalah Eselon I, maka saya menggunakan pengumuman penerimaan Tubel yang merupakan hasil rapat dan ditandatangani Eselon I, sebelum kemudian SK Tubel-nya saya susulkan ke LPDP demi tertib administrasi.
Ngomong-ngomong, sebenarnya ada 1 keribetan lagi tapi tidak perlu saya uraikan. Hal itu adalah karena saya mengambil jurusan yang hanya ada kelas Khusus, sementara kebijakan umum LPDP tidak memperkenankan pembiayaan untuk kelas Khusus ini. Tapi ya karena memang dari awal jurusan itu ada di list dan kelas yang dibuka hanya Khusus, jadinya bisa dibiayai. Meski memang harus ada yang diurus. Bukan perkara umum, jadi tidak usah dijelaskan, yha.
Percayalah bahwa selain butuh kesabaran, butuh pula energi, dan butuh mindset yang baik dalam menghadapi kelindan urusan yang sebenarnya nggak jelas mana yang duluan dan mana yang belakangan ini. Syukurlah, pada akhirnya September kemarin saya akhirnya beneran bisa kuliah. Dan mohon doanya supaya saya bisa lulus tepat waktu karena kalau nggak tepat maka uang saya nggak cukup untuk bayar sendiri. Heuheu.