Happy Reborn

Suatu hari di bulan Januari 2011–sepertinya di komputer mess–saya mengetik posting ini.

Kalau malas klik link-nya, saya tulis kembali disini:

Terima kasih kepada Mbah Google yang membawaku kembali ke dunia yang sangat kucintai ini. Berawal dari sekadar mengetik sebuah keyword, aku menemukan kembali sebuah blog yang penuh dengan kisah-kisah dan refleksi menarik. Sesuatu yang sudah bertahun-tahun hilang dari diriku.

Jadi, mari kita restart.

Ibarat komputer, ketika dia hang, maka langkah tercepat adalah melakukan restart. Dan segera ia akan kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

So, mulai hari ini, aku akan kembali!!

Semangat!!!

18 Januari 2011, dan sekarang 18 Januari 2013. Sudah 2 tahun pas kebangkitan kembali blog ariesadhar.wordpress.com, yang tiga hari silam saya migrasikan ke ariesadhar.com

2 tahun yang memberi makna bahwa saya bisa menulis tanpa henti (dengan record archive yang tidak ada bulan bolong). Semoga hal itu tetap bisa dipertahankan.

Dan semoga ada banyak hal yang bisa saya perbuat melalui dunia yang sangat saya cintai ini. 🙂

 

Banjir Dan Saya

Bahwa menurut saya pemberitaan banjir sekarang sudah sangat lebay sekali, mari kita abaikan dulu. Iya, lebay. Kenapa? Berita ini seolah-olah bikin yang menderita itu cuma ibukota, padahal yang banjir di tempat lain juga banyak. Apakah kita melihat breaking news untuk banjir di Bandung (yang dekat aja deh) misalnya? Nggak. Jadi, ya begitulah.

Saya dan banjir. Banjir dan saya. Emang kenapa?

Pertama-tama, saya besar di sebuah kota dataran tinggi. Jadi, hampir bisa dipastikan nggak banjir. Karena sejauh ini, air masih turun ke bawah. Sampai sekarang sih begitu.

Lalu ke Jogja, sekolah. Seperti obrolan dengan adik kelas kemarin, kalau Jogja ya banjir-banjir nggenang dikit, lalu udah. Ntar juga surut. Meski Jogja kalau hujan itu nggak kira-kira wujudnya, tapi nggak banjir-banjir amat. Sejauh ini saya baru sekali mati mesin (dengan Alfa) di daerah genangan dekat Mino. Itu semata-mata karena saya yang nekat.

Nah, banjir yang sebenarnya baru saya kenal di Palembang. Kota dengan drainase yang menurut saya nggak oke. Pertama kali saya lewat Jalan Mayor Ruslan dan melihat warna air di selokan dan udah tahu kalau bakalan banjir. Dan benar saja, daerah Mayor Ruslan, via IBA sampai depan SMK itu kalau hujan gede dikit aja. Nggenangnya, wew…

Ada suatu masa ketika saya hendak bergerak dari tempat karier, dan melakukan interview. Saat berangkat interview dan pas sedang banjir besar (ini di Jakarta) saya langsung ilfil. Meski saya lantas melewatkan dengan baik semua interview dan DITERIMA, tapi saya nggak jadi ambil itu kesempatan. Kadang menyesal, tapi giliran udah banjir begini, bersyukur juga sih.

Yang paling seru ya waktu di mess dulu. Hujan besar kadang bikin mess kebanjiran. Dan syukurlah, kamar saya termasuk yang AMAN dari cengkraman banjir. Hehehe..

Kadang ingin bergerak ke tempat lain yang bebas banjir. Tapi di era betonisasi masa kini, dan di era industrialisasi (dimana uang itu adanya ya di Jakarta dan kawasan lain di sekitarnya), saya mau kemana?

*mendadak galau*

Ya sudah, begitu saja..