Macam Macam Settingan HP Kaum Jomblo

Pernah nggak sih ngelihat handphone seseorang bergetar sepanjang hari? Pernah melihat handphone yang bersuara (juga) sepanjang hari? Atau ada yang sepanjang waktu asyik dengan handphone-nya? Nah, jangan salah, diantara manusia-manusia yang sedang asyik dengan benda mini itu, sejatinya banyak juga yang jomblo.

Dannn… hal itu bisa juga diketahui dari setting yang dibuat di HP-nya.

Loud Pake Banget

Settingan ini berlaku untuk jomblo yang saking lamanya tidak melakukan pendekatan atau didekati sama orang lain. Saking lamanya, kadang-kadang lupa kalau punya HP. Nah, dalam rangka agar tidak lupa kalau punya HP, maka dibuatlah setting yang Loud maksimal. Model begini juga ditujukan agar orang sekitar tahu kalau dia menggunakan HP-nya, selain sebagai ganjalan pintu atau untuk melempar anjing galak.

Settingan ini ternyata juga berguna agar tampak heroik di depan khalayak. Semisal nih, untuk sebuah SMS, dibuat ringtone lagu “Jatuh Cinta” full utuh. Jadi, meskipun itu cuma SMS dari operator atau sekadar nawarin kartu kredit, tetap berasa ada yang nelpon *soalnya ringtone-nya lamaaaaa dan gedeeeeee*

Getar Kagak, Bunyi Apalagi

Ini berlaku untuk jomblo-jomblo yang baru putus, atau yang jadi korban PHP, atau yang mulai pasrah pada kejombloannya. Kalau yang baru putus tentunya karena biasanya itu HP nggak pernah berhenti bergetar, eh tahu-tahu sepi. Guna menghilangkan kesan itu, maka mode getar-nya juga di off sekalian. Sunyi banget mengandalkan backlight jadinya. Mode ini sangat irit sama batere. Tapi jadi nggak irit karena meskipun sudah diset tanpa getar dan bunyi, pasti itu tangan dikit-dikit langsung pegang HP dan sekadar mengecek apakah ada BBM atau Whatsapp atau SMS atau–yang paling diharap–panggilan telepon dari mantan pacar/mantan PHP/mantan gebetan.

HP Off Dengan Sendirinya

Ini karena benar-benar jomblo, nggak ada gebetan, nggak ada yang didekatin, nggak ada yang di-sepik, nggak perlu HP-lah pokoknya. Jadi itu HP akan mati ketika batere-nya habis. Maklum, nggak pernah diapa-apain, jadi nggak rajin juga yang nge-charge. Nanti giliran ada yang nyari, mau ngajak arisan misalnya, baru deh sadar kalau “lu kok ga bisa dihubungin?”. Sesudahnya, ya bakal sama lagi.

Homescreen Foto

Rerata jomblo ngenes akan menggunakan teknik pemujaan jenis ini. Jomblo biasa tidak sampai ke level ini sih, karena memang spesial untuk jomblo ngenes. Jomblo ngenes adalah kolektor foto yang handal dari FB dan Twitter dan kemudian memilih salah satu foto dan lantas dijadikan homescreen. Ini juga berlaku untuk jomblo yang kangen/masih sayang sama mantannya. Jadi deh itu foto mantan dijadikan homescreen. Hmmm, jadi bisa dengan mudah melihat masa lalu yang ‘kelam’ itu.

Akses Cepat Untuk BBM/Whastapp

Kan ada nih, kalau di Android memindahkan beberapa menu ke homescreen. Jadi deh, aplikasi BBM dan Whatsapp itu ditaruh di depan, jadi kalau pengen lihat kapan terakhir kali gebetan/mantan buka BB atau WA, bisa segera menuju aplikasi itu. Dannn, biasanya lagi gebetan/mantan ada di list paling atas. Dan paling ngenes adalah rerata pesan BBM atau Whatsapp itu dikirim, diterima, dibaca, dan TIDAK dibalas.

Yah, demikian macam-macam settingan HP kaum jomblo. Tulisan ini hanya hiburan semata *kalau dianggap menghibur*

Cemungudhh Kk…

Pilihan Hati

“Lu putus bro?”

Panji hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata menerawang ke langit ke tujuh.

“Ngapain lu pake acara putus segala?”

Berondongan pertanyaan masih nggak berhenti keluar dari mulut Bara yang semakin tajam melotot ke muka Panji. Padahal Panji-nya matanya ke langit. Ini semacam pandangan tak berguna.

“Udah nggak cocok bro!”

“Jiah, gue sebagai yang merekomendasikan lu sama Cindy, merasa terhina nih. Dari nama aja udah cocok tuh. Pan dan Ji, Cin dan Dy. Mukanya dia juga bukannya pasaran, cakep abis.”

“Gue yang putus kenapa lu yang rempong, Bar?”

“Lha, abisnya, gue kan ikut andil, tanggung jawab nih.”

“Udahlah, bro. Udah putus, selesai, titik.”

“Nggak ngerti gue,” ujar Bara sambil berdiri dan meninggalkan Panji sendirian dengan tatapan mata yang masih ke langit, entah mencari apa ia disana.

Panji terdiam, tangan kanannya memegang tepat di depan heparnya.

Sementara Bara, masih bergumam sepanjang jalan, “Kurang capek apa coba, kurang baik apa pula, bodoh banget tu bocah.”

* * *

“Dapat salam tuh, dari Chika,” ujar Bara sambil melihat telepon genggamnya, “Salam balik nggak?”

“Nggak usah,” jawab Panji, singkat-dalam-tenang.

“Songong banget jadi laki boz!”

“Biarinlah.”

Dan Bara hanya garuk-garuk kepala, tak habis pikir.

* * *

“Ini pada ngomong apa sih? Gue yang jomblo aja biasa wae,” kata Panji sambil menyeruak dari balik kerumunan lelaki-lelaki yang bersuat-suit pada rombongan gadis-gadis manis yang baru lewat.

“Ya iyalah, lu jomblo songong,” timpal Bara.

“Apa coba?”

“Nah, yang mau banyak, nggak mau. Punya pacar oke, diputusin. Labil ah.”

“Ah, itu perasaan Om Bara saja.”

“Huuuu….”

Panji, Bara, dan yang lainnya menikmati saat-saat pemandangan bagus ciptaan Tuhan itu lewat. Semuanya tampak biasa saja sampai kemudian lewatlah Atha.

Panji tetap berupaya mengimbangi teman-teman lainnya, tapiiii… tatapan matanya tidak bisa menipu kalau ia lebih dari sekadar mengamati seorang gadis yang sedang lewat. Tatapan ini punya kandungan nilai yang jauh lebih dalam.

“Cieeee, yang mantannya lewat,” teriak Bara sambil menyenggol Panji.

Yang disenggol hanya terdiam.

* * *

“Daripada perkara hati kita berkelanjutan, lebih baik kita sudahi saja ya Mas.”

Kalimat miris itu terucap dari bibir manis Atha, diselingi suara hujan, dan hawa panas kopi yang baru saja mampir di meja.

“Bener juga sih, Tha.”

“Ya, gimana Mas. Aku sayang sama kamu, banget. Tapi faktanya kan kita nggak bisa bersatu. Daripada kita memupuk cinta ini sampai besar, nanti akhirnya dipotong juga. Berbahaya jika diteruskan.”

Panji terdiam selagi aroma kopi menembus hidungnya, menuju alveoli di paru-parunya dan memberikan makna lain terhadap pehamaman sebuah perkataan.

“Semoga demikian, Tha. Semoga perkara hati ini bisa kita atasi. Kadang dia nggak bisa dibohongi soalnya,” ujar Panji sambil tersenyum.

“Yah, semoga ya Mas.”

Keduanya tersenyum, perbedaan ini memang tidak bisa disatukan. Kadang jadi lucu ketika perbedaan yang adalah ciptaan Tuhan justru menjadi hal yang tidak bisa mempersatukan sesama ciptaan Tuhan. Apa yang telah direncanakan Tuhan untuk dipersatukan, nyatanya bisa dipisahkan oleh perbedaan yang mendasar.

* * *

“Kalau mau jujur, aku nggak bisa melupakanmu, Tha.”

Panji menarikan jemarinya di atas keyboard, menuliskan sebuah pesan pribadi di Direct Message Twitter

Jari-jarinya menari lagi di kolom Tweet, baris-baris kata kembali terbentuk, “Ada banyak hal yang mudah, tapi hati memilih yang sulit.”

Tweet!

Dan kalimat ini muncul di timeline.

Sebuah notifikasi masuk ke Twitter Panji, dan sebuah balasan DM.

“Aku juga, Mas. Mungkin hati kita memang sudah memilih yang sulit.”

Panji tersenyum membaca balasan itu. Sederhana, punya makna dalam di hati, tapi nyatanya tak akan memiliki makna di realita. Kadang hati memang seperti itu. Dan kebetulan, kini Panji yang mengalami perkara bernama “pilihan hati”.

* * *

Kontraktor

Sesungguhnya saya punya masa kecil yang maha asyik. Kenapa? Karena saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah, sejak lahir hingga kelas 3 SD. Ah, cuma 8 tahun kan ya? Well, 8 tahun mungkin sebuah rentang waktu yang singkat, dan saya bersyukur itu bisa berhenti di angka 8. Tapi dalam 8 tahun tumbuh kembang saya, kemudian muncul berbagai cerita.

Kenapa saya punya banyak kenangan dengan banyak rumah? Ya, semata-mata karena orang tua saya memilih untuk mengontrak rumah sebagai pemenuhan kebutuhan primer keluarga. Sesederhana itu kok.

Nah, kemarin waktu mudik sejenak, saya mencoba menapaktilasi beberapa kenangan yang saya punya dalam rentang waktu hidup 8 tahun itu.

Rumah pertama keluarga kami ada di Inkorba, saya pernah sekali ditunjukkan rumah itu tapi tidak bisa mengingat letak rumah itu sebenarnya karena ya memang saya terlalu kecil untuk ingat. Jadilah saya tidak pergi ke rumah itu, karena memang tidak tahu.

Rumah kedua yang dikontrak oleh orang tua saya terletak di dekat kantor walikota Bukittinggi. Saya aslinya ya nggak ingat, tapi ketika Bapak bilang bahwa rumah di Belakang Balok ini nggak jauh dari kantor walikota, saya pun segera ke tempat itu, dan ada lah sedikit memori yang masih nyangkut. Setahu saya, periode tinggal disini sekitar 1988-1989. Well, umur yang belum bisa mengingat apapun. Hehehe.. Dan karena itu saya juga nggak tahu pasti rumahnya yang mana, saya coba ambil foto salah satu rumah saja, karena lainnya mirip kok.

image
dokumentasi pribadi

Kemudian keluarga kami pindah ke sebuah rumah di jalan Guru Hamzah. Fotonya ada di bawah ya nanti. Rumah ini terdiri atas 2 bagian, depan dan belakang. Pada sesi 1, sekitar 1990-an, kami tinggal di rumah bagian depan (lihat fotonya di bawah nanti). Tidak cukup lama juga sih.

Rumah berikutnya tidak jauh dari rumah lama, letaknya tak jauh dari Simpang Tarok. Di rumah ini saya mulai merekam berbagai memori. Bagian terburuk dari semuanya adalah, dari sederet rumah yang ada, hanya ada 1 tempat buang air besar. Sungguh saya harus bilang WOW kalau sekarang, tapi kalau dulu ya biasa aja. Tempatnya bahkan teramat mungil hingga berdiri pun tidak bisa. Di rumah ini pula keluarga kami berbagi sumur dengan tetangga. Pernah pula ada kasus pintu tidak bisa dibuka, dan yang terjadi kemudian adik saya masuk ke rumah melalui sumur tetangga. HEBAT! Oya, di rumah ini pula saya terserang vertigo untuk pertama kalinya 😦

image
dokumentasi pribadi

Nah, rumah di bawah ini adalah rumah yang dikontrak (berikutnya). Kalau dulu di bagian depan, ya yang ada seng hijau itu. Itu rumah depan. Pada sesi dua disini keluarga kami mengontrak di bagian belakang dengan kondisi yang *ehm* mungkin bisa dibilang parah. Hal yang paling saya ingat adalah ketika malam hari, mati lampu, dan ember berserak dimana-mana karena atap pada bocor.

image
dokumentasi pribadi

Rumah kontrakan terakhir keluarga kami ada di Kompleks Kehutanan Bukittinggi. Saya berputar-putar dulu sebelum akhirnya sampai ke tempat ini kemarin. Tentunya karena kondisinya sudah sama sekali lain. Jalan masuk kompleks yang dulu luas semakin menyempit oleh pembangunan pasar. Nggak ada lagi akses langsung ke ‘tabek’ tempat warungnya nenek si Sari. Setahu saya, kami tinggal disini sekitar 1994 karena ingat bener bahwa mulai nonton Piala Dunia disini, dan saya menyaksikan Roberto Baggio menendang ke atas gawang (gagal masuk). Itu kan final Piala Dunia 1994?

Rumah ini mungkin paling ironis, atau mungkin menjadi ironis karena usia saya sudah semakin besar untuk bisa mengingat sesuatu. Ya, di rumah ini saya kenalan sama lipan karena seringnya hewan ini masuk rumah. Di rumah ini juga saya kembali bertemu dengan kondisi WC bersama untuk buang air besar. Bahkan sering kejadian WC bersama itu mampet. Dan, terjadilah, harus cari akses lain untuk sekadar buang air besar. Hufftttt… Di rumah ini juga saya punya 1 ruangan yang saya takuti, letaknya antara kamar dan dapur, dan digunakan untuk meletakkan rak sepatu. Entah kenapa, saya ngeri setiap kali memasuki ruangan itu.

Tapi, di kompleks inilah saya menemukan makna berteman. Satu-satunya pergaulan publik yang terjadi selama tinggal di rumah, ya di kompleks ini. Saya ingat dulu tetangga depan rumah punya warung, saya suka beli godok atau permen yang bungkusnya mirip rokok.. Hehe.. Tapi yang paling diingat tentu saja tetangga sebelah rumah, namanya Ade, yang cantik jelita pada usia itu. Hahahahaha..

Saya sempat pangling dengan suasana rumah sebelum kemudian saya melihat ke bagian belakang rumah. Dan benar, saya ingat benar, pernah tinggal di tempat ini setelah melihat bentuk di bawah ini.

image
dokumentasi pribadi

Tahun 1995, keluarga kami pindah ke sebuah rumah kecil, yang syukurlah, milik sendiri. Cicilannya belasan tahun, dan sepertinya sih belum 2-3 tahun ini lunasnya. Hehe..

Saya mencoba menapaktilasi semuanya, karena ini adalah milestones diri saya dan keluarga. Saya berada dalam posisi membangun semuanya, seperti yang dialami oleh orang tua saya dulu. Saya ingat bagian-bagian perjuangan orang tua saya mempertahankan kehidupan anak-anaknya, dengan gaji yang (waktu itu) nggak seberapa.

Well, ketika kemudian orang-orang selalu menuntut gaji jauh lebih besar, saya lantas teringat proses saya bisa menjadi sarjana, lalu apoteker, lalu seperti sekarang ini. Semuanya proses yang tidak mudah, tapi nyatanya bisa. Lalu saya bertanya, apakah kita harus selalu menuntut tanpa kemudian memilih berusaha terlebih dahulu?

Kontraktor adalah kisah masa kecil saya, dan saya ingat ketika adik saya pernah bilang, “Mak, ini terakhir kali kita pindah kan?”

Ah! Sebuah masa lalu memang untuk DIKENANG, bukan untuk DIULANG.

🙂