Dan Aku Pulang: Dinding

“Kok masih foto wisudaku?” tanyaku setengah gemas begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah.

“Itu ada yang baru,” ujar Mamak.

“Ya, maksudku, yang baru itu yang digedein. Punyaku diturunin aja. Jelek.”

Apa pantas aku kecewa ketika foto wisudaku terpajang besar-besar di dinding ruang tamu? Aku bukan kecewa, mungkin sedikit malu saja. Foto itu dibuat dengan fotografer seharga 30 ribu untuk 2 foto. Apalah yang bisa diharapkan?

Dan aku berharap, foto wisuda adikku, foto keluarga di sebuah studio foto yang tarifnya lumayan mantap, bisa dipajang menggantikan fotoku nan buruk rupa itu.

Sebelum aku lanjut kecewa, aku melempar pandang ke sekeliling. Yah, dinding ruang tamu itu hampir penuh.

* * *

“Nah, yang pojok atas itu si abang,” tunjuk Mamak pada sebuah foto bayi yang berpose menembak. Itu fotoku.

Petunjuk berikutnya diarahkan ke foto yang terletak 45 derajat di bawah fotoku. Foto adikku, hampir full face. Lalu lanjut ke wajah putih bulat berbalut penutup kepala pink milik adikku yang cewek. Plus diakhiri sosok kecil keriting berdiri, dan ia tampan, ini foto si bungsu.

Empat foto itu adalah penguasa ruang tamu. Ketika dinding itu masih basah oleh cat. Yang mengecat siapa? Ya, bukan tukang, tapi Bapak. 🙂

Hanya empat foto itu, ditambah sebuah jam dinding, dan beberapa foto pernikahan orang tua, yang tertempel di dinding ruangan yang besar. Hmm, kosong, foto-foto itu hanya nuansa dari putihnya dinding yang luas.

* * *

Aku tertidur di sofa bagus. Kalau ini terjadi 11 tahun silam, aku pasti sudah dimarahi sama Mamak, berani-beraninya mengangkat kaki ke atas sofa bagusnya. Entah, kalau sekarang boleh tuh.

Pandanganku beredar ke sekeliling.

Tidak ada lagi empat foto bayi itu. Benda itu sudah pindah ke kamar. Sebuah pigura besar foto keluarga dengan aku mengenakan toga tertempel besar di sana. Di sisi-sisinya, foto latar putih dengan adikku yang mengenakan toga. Oh, ada pula fotoku ketika mengenakan jas, waktu pengambilan sumpah profesi.

Dinding itu tidak lagi sepi. Dinding itu perlahan menjadi saksi sebuah pencapaian. Dinding yang sama, yang dibentuk dengan bata dan semen yang dulu juga ikut diaduk oleh orang-orang yang fotonya tergantung disana.

Dinding yang sama, yang melihat sosok-sosok mungil berbaju seragam sekolah. Dinding yang sama, yang perlahan kehilangan sosok-sosok mungil itu.

Dinding yang itu pula, yang menjadi tempat tertempelnya sebuah rekaman pencapaian. Satu per satu. Dinding yang menyediakan dirinya sebagai tempat sebuah kebanggaan bisa dirayakan.

Ah, aku mengantuk. Melihat tampangku tanpa sentuhan Adobe Photoshop, bertoga, dan kurus kering, bikin mata ini ingin menutup saja. Hmm, setidaknya aku melakukannya dengan senyum.

Sebuah lekukan bibir yang terbentuk ketika mengenang perubahan dinding polos itu menjadi dinding penuh foto, penuh gambar, penuh kebanggaan.

Dan aku terlelap, terpejam, di dalam nyamannya sebuah tempat yang aku sebut RUMAH.

🙂

Dan Aku Pulang: Pagar

“Ini gimana nutupnya?” tanyaku ke Bapak, bingung mekanisme menutup pintu garasi.

“Yang ini yang dikunci,” kata Bapak sambil menjelaskan prosedur penguncian garasi. Perlindungan berlapis adalah khas rumahku. Itu sudah ada dari jaman dulu, waktu bahkan tidak banyak benda yang bisa disebut berharga mahal di dalamnya.

Dan ketika aku memegang besi bagus penutup garasi itu, aku lantas teringat sesuatu.

* * *

“Pak, ngapain?”

“Nebang bambu.”

“Buat?”

“Pagar.”

Sejak pindah ke rumah ini, Bapak memang mendadak hobi bergaul dengan golok andalannya dan serumpun bambu di belakang rumah, hanya 2 meter dari jemuran. Satu persatu batang bambu ditebangnya, sampai kemudian terkumpul beberapa batang.

Rumah, apalagi namanya Perumnas, memang hanya menyediakan tanah dan sebuah unit rumah yang mungil. Sisanya? Tak ada. Jadilah rumah ini tidak berbatas apapun kecuali selokan yang membatasinya dengan jalan kompleks.

Pada hari libur, bilah-bilah bambu itu mulai disusun perlahan. Masih gemuk-gemuk. Bambu itu hanya dibelah dua, digergaji, dan dipaku pada kayu kasau sisa membangun rumah dulu.

Itulah yang kami namakan PAGAR.

Itulah benda yang membatasi rumah kami dengan dunia luar. Ehm, setidaknya anjing kompleks yang ramai berkeliaran itu tidak bisa serta merta masuk ke dalam pekarangan rumah.

Begitulah, setiap kali pulang, maka pagar bambu bikinan sendiri itu yang menjadi penanda pertama untuk sebuah kata: pulang.

Sampai kemudian, karena bambu-bambunya mulai membusuk dan sebab lainnya, Bapak memutuskan untuk mengganti pagar. Kali ini dengan bambu yang diiris lebih kecil dan dipaku dengan jarak tertentu antar bilah.

Menjadi lebih rapi memang.

Kalau dulu, pintu itu pasti terseret dengan tanah, kini tidak. Pintu bikinan sendiri itu bisa dibuka dan ditutup tanpa perlu diseret lagi.

Tapi tetap saja, bambu.

Pagar bambu itulah yang menjadi pelindung rumah ini. Pagar yang memang sama bambu, tapi dengan bentuk yang lebih masuk akal untuk dipandang. Semuanya bikinan sendiri, Bapak mengerahkan dua bocah lelakinya untuk sekadar mengiris satu selongsong bambu menjadi beberapa bilah kecil. Sebuah karya yang dibangun atas dasar kebersamaan. Sebuah karya penuh warna yang selalu tampak di mata.

Sampai kemudian, rejeki yang ditumpuk perlahan, ditambah fakta bahwa pagar bambu sudah semakin langka di kompleks ini, membuat keputusan dibuat.

Buat pagar permanen.

Tukang yang sama dengan yang membangun rumah ini dipanggil. Tapi, baru saja ia selesai membuat pondasi, ia tidak datang-datang lagi.

Sampai kemudian datanglah tukang becak yang menjelma menjadi tukang. Fiuhh..

Orang inilah yang kemudian bertanggungjawab membentuk pagar yang jadinya aneh ini. Pagar berharga mahal karena dibuat dari besi kualitas baik, pembatasan berbentuk bebek yang bagus, plus semen berkualitas itu bentuknya absurd. Pagar besinya tidak bisa terdorong sempurna, hampir pasti nyangkut.

Ah!

* * *

Duduk di teras rumah dengan marmer merah ini selalu jadi hal yang menarik. Pagar bebek itu hanya 3 meter dari mata. Sebuah rumpun bambu tinggi tampak di kejauhan. Dan sebuah kaleidoskop terhampar.

Ketika di tempat pagar itu berdiri, belum ada apa-apa. Ketika di tempat pagar itu berdiri baru ada pagar bambu buluk. Ketika di tempat yang sama pula dibut pagar bambu baru. Saat aku ikut memegang bebek palsu itu waktu dipasang. Kala aku ikut mengulaskan cat putih disana, karena mengecat di rumah ini adalah pekerjaan sendiri. Meng-hire orang untuk proses cat adalah ongkos.

Semuanya memutar memori bernama perjuangan. Pagar ini tidak membatasi. Pagar ini justru menjadi saksi bagaimana aku bertumbuh lantas kemudian lepas darinya dan lalu datang kembali, untuk sebuah kata: PULANG.

🙂