Pengalaman Pertama

Ada banyak penyesalan dalam pilihan hidup. Kenapa menyesal? Karena seharusnya ada pilihan yang lebih baik.

Dan salah satu penyesalan terbesar saya dalam hidup adalah melewatkan kesempatan bergerilya dengan musik, tepatnya menyanyi.

Dulu saya juara 2 loh, lomba nyanyi di SD Fransiskus, kalah sama Abe alias Abrar Zaki. Dan itulah kali terakhir saya bernyanyi di depan umum dalam kompetisi. Berikutnya, bahkan untuk menyanyi di depan kelas pun saya malas. Kalau adik-adik saya di level SMP sudah mazmur di gereja, saya memilih untuk tidak. Bagian terburuknya adalah kala tugas nyanyi di SMP, dengan suara puber, saya gagal membawakan bagian “kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapaaaaa…” dengan baik. Haduh. Tapi vokal grup saya di SMP sempat menang loh. Kelas 2 dan kelas 3. Itulah bekal terakhir.

Adapun di pelajaran musik, saya sama sekali abai dengan 1 2 3 4 5 6 7 itu. Nggak suka, entah kenapa.

Ujungnya, di SMA ketika ada tawaran ikut paduan suara, saya memilih nggak ikut, dengan mantap.

Sebatas itu, sampai kemudian saya mengenal Paduan Suara Fakultas Farmasi yang bernama Veronica. Semata-mata teriming-imingi makan dan snack gratis, saya ikutan nyoba menyanyi, tanpa paham banget kalau 1 itu bunyinya do yang seperti ini. Saya buta benar-benar. Saking butanya, saya nyemplung di tenor. Sebuah opsi gaib yang kadang bikin saya geleng-geleng.

Di bawah asuhan Mbak Ina yang keren banget, saya belajar soal not sampai akhirnya bisa menyanyikan lagu dari notasi angka-angka. Saya baru menyadari indahnya angka-angka itu di semester 1 saya kuliah, di usia 17 tahun. SEBUAH AWAL YANG SANGAT TERLAMBAT!

Tapi bagi saya, lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Maka saya mencoba serius di PSF ini dengan mengikuti semua kegiatannya. Saya hanya luput 1 waktu perpisahan Romo Andalas, karena harus makrab Dampok Insadha 2005. Jadi dari seluruh tugas di periode 2004/2005, saya hanya bolos sekali. Dan saya semakin menyukai hal ini.

Dan sebuah godaan besar muncul ketika saya membawa anak kelompok 24 Insadha 2005 ke stand PSM Cantus Firmus. Well, melihat teman-teman macam Rinto, Shinta, Finza, hingga Daru membuat saya pengen ikutan. Jadi kalau rata-rata orang mendaftar PSM CF itu di semester 1, saya di semester 3. Telat lagi.

Modalnya nekat bener, nggak bisa apa-apa. Saya dites not sama Mas Dede dan Mbak Citra dan mereka tampak geleng-geleng. Dari sisi intelegensi, saya mungkin NOL BESAR. Tapi entahlah, nyatanya saya masuk.

Di CF inilah saya ditegaskan sebagai pemilik suara BASS MURNI. See? Bahkan saya ngawur masuk tenor. Ibarat kata, melanggar kodrat. Di CF juga saya semakin memperdalam soal not, soal akord, soal bagaimana berlatih, soal bunyi do re mi dan seterusnya, hingga kemudian tampil dan tampil lagi.

Pelan-pelan angka-angka itu menjadi kesukaan. Misal nih, untuk bagian Sing Haleluya Clap Your Hands itu bunyinya la do la do re mi re do la. Lalu ada beberapa lain yang saya pelan-pelan hafal. Di PSM CF inilah saya dilatih sama pelatih paling berkarakter yang saya tahu dari karier singkat paduan suara saya, Mas Mbong. Di PSM CF sendiri ada Cik Lani dan Mbak Prima sampai Bu Jin yang bergantian memimpin latihan.

Paralel, saya juga masih kukuh di PSF karena saya nggak pengen meninggalkan tempat saya belajar baca not itu. Waktu itu dibawah asuhan Ulit alias Fitri hehehe…

Dari pelatih-pelatih itulah saya mencoba belajar dan terus belajar, utamanya mengatasi ketertinggalan saya bertahun-tahun karena baru ngeh soal musik ini di usia 17 tahun sementara yang lain mungkin sebelum belasan sudah pakar.

Ketika lulus, saya satu kerinduan saya kemudian adalah bernyanyi. Sempat sih di Palembang beberapa kali, tapi ya jujur, saya sendiri kurang total keluarnya. Saya jadi sadar kalau saya itu orang gandulan. Maksudnya, dulu di PSF ada Rudi, di PSM ada Oon dan Brondang. Ketika mereka nyanyi besar, saya bisa tampil besar. Ketika di Palembang, tidak ada yang besar, saya ikutan nggak besar. Padahal jelasnya di CV saya tampil tuh Golden Voice dan KPS Unpar yang menandakan saya seharusnya bisa jadi gandulan. Nyatanya? Tidak.

Dan di Cikarang ini, ketika saya kehilangan paduan suara sama sekali, eh saya malah dapat macam-macam kesempatan. Mulai dari ikut pegang mike dan dapat part sendiri waktu di Titan (fals pulak.. huhuhu..) sampai yang terbaru dan lumayan bikin bingung ini.

Jadi suatu ketika saya pergi menemui teman lama yang datang ke Cikarang, lalu pulang-pulang dapat kabar kalau saya dan Agung diminta melatih koor karena pelatih lawas pindah rumah. BUSET! Saya sepanjang hidup itu cuma jadi anggota, solis saja tidak pernah, paling mentok nyanyi mazmur “Ya Tuhan aku datang melakukan kehendakMu”. Udah. Mau disuruh ngelatih koor?

Waduh.

Dan, barusan ini, saya berdiri di depan podium dan belagak menjadi pelatih. Astaga. Menjadi pelatih itu ternyata tidak sesederhana yang mungkin saya duga. Saya dulu paham kalau jadi pelatih itu sulit, tapi kok sepertinya nggak sesulit ini. Tapi nyatanya ya sulit. Saya ini hanya melatihkan lagu unisono loh. Belum yang 2, 3, apalagi 8 suara. Di lagu pertama sudah cukup bikin keringat dingin. Grogi sumpah. Memang rasanya belum mengalahkan tampil pom-pom, tapi serupa dengan tampil di lomba. Fiuhhh…

Untunglah, menurut saya, debut hari ini lancar. Ah, semoga berikutnya juga demikian.

Terima kasih untuk para inspirator saya, Mbak Ina, Ulit, Mas Mbong, Mbak Prima, Cik Lani, Bu Jin, lalu juga yang sempat ngelatih saya macam Romo (dulu Frater) Ardi, Mas Selsi, sampai Santo. Kalian semua hebat! 😀

Kisah Lama Yang Terulang Lagi

“Bangggggg….”

Ethan menjauhkan handphone pintarnya dari telinganya. Suara melengking dari ujung telepon itu cukup mengganggu telinganya.

“Apaan sih, Ra?”

“Aku galau.”

“Galau kan nama tengahmu?”

“Buset dah. Beneran ini Bang!”

“Ya tinggal cerita, seperti biasanya, Ra. Kenapa kenapa? Come to papah.”

Kara mulai bercerita, panjang lebar. Ethan mendengarkan dengan saksama. Bukan sekali sih sebenarnya Ethan harus mendengar suara galau Kara bercerita panjang lebar. Dan Ethan selalu menjadi tempat yang nyaman bagi Kara untuk bercerita. Tahu sendiri lah, kalau cerita sama teman sesama cewek, 50% kemungkinan cerita itu akan bocor kemana-mana. Tapi kalau Kara bercerita ke Ethan, semuanya aman diam.

Tentunya dalam diam yang lain.

* * *

“Tuh kan kejadian lagi.”

Sebuah baris whatsapp Ethan meluncur ke whatsapp atas nama Karaniya Adinda.

“Kejadian apa bang? :(”

“Kamu terluka lagi.. Sakit lagi..”

“Ya begitu bang.. What can I do now? Capek aku luka begini terus.”

“Kamu perlu nyari yang ngerti kamu bener, Ra. Kamu itu cewek unik, buatku sih.”

“Unik kenapa, Bang???”

“Eh, nggak ding. Cewek semua unik kok. Hehe. *yang tadi batal*.”

“Eleuh si abang.”

“Haha.”

Dan messanger berwarna hijau itu diam lagi. Tidak ada getaran, tidak ada indikator hijau. Ethan hanya melihat last seen pada profil Karaniya Adinda. Eh, bahkan nggak pernah last seen, selalu online.

Ethan melihat, melihat dan melihat. Tanpa mengetik satu karakter pun.

* * *

“Bang, kok kisahku gini terus ya?” tanya Kara sambil memegangi botol milk tea yang sudah separuh kosong.

“Kayaknya memang cintamu itu rumit, Ra.”

“Rumit gimana Bang?”

“Ya mungkin kamu belum mengerti sesuatu?”

“Heh?”

“Ya mungkin kamu belum sadar kalau cintamu itu bukan dia. Siapa tahu.”

“Hmmmm…”

“Mungkin.. Ini mungkin loh. Ada suara lain yang sudah memanggil-manggil hati kamu dari dulu. Tapi kamu nggak denger,” ujar Ethan sambil memutar tutup botol root beer. Ia lalu menenggak tegukan terakhir dan melemparkan botol minuman bersoda itu ke tempat sampah di sebelah kursi taman.

“Jadi, aku harus ngapain Bang?”

“Cobalah lebih mendengar, Ra.”

“Abstrak Bang.”

“Coba dengar saja. Mungkin ada suara lara dari mana gitu, yang menyentuh laramu sekarang ini.”

“Nggak ngerti.”

“Nanti kamu pasti ngerti, Ra.”

“Okelah, ayo Bang, kita lanjut nyari buku lagi kalau gitu.”

Cobalah lebih mendengar, Kara. Ada suara hati yang memanggil kamu. Suara itu disini. Tidak jauh dari kamu.

Kutipan batin itu tidak pernah terungkap.

* * *

“Bang, sombong ah. Nggak pernah balas whatsapp sekarang. Ditelepon nggak diangkat.”

Sebuah pesan singkat dari Karaniya Adinda.

Ethan menutup kembali handphone-nya dan melempar benda mahal itu ke sudut tempat tidurnya. Suasana masih gelap, padahal pesan itu bertanggal 10 Agustus 2012 jam 14.25.

“Km dimana bang? Aku punya cerita ini. Kayaknya aku sudah bertemu yang kamu bilang bang. Seseorang yang abang bilang kemarin-kemarin. Cinta aku yang sebenarnya. Hehe. Senangnya. Bales ya Bang.”

Pesan singkat lagi, Kara lagi. Kali ini 14.42

Ethan memandang pesan itu singkat. Matanya semakin sayu. Badannya diputar ke kanan, arah tembok. Dalam remangnya kamar itu, Ethan menggores tembok dengan spidolnya.

“Dan kamu belum mendengar lara itu, Kara.”

Ethan beranjak. Dinyalakannya lampu kamar. Dan tampaklah isi kamar itu. Foto Karaniya Adinda dalam berbagai pose tertempel di seluruh dinding. Dan sebuah tulisan besar di tembok kanan tempat tidur.

“Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku, dirimu.”

Ruangan itu masih berduka atas sebuah kabar gembira. Ini hanya kisah lama, karena bukan kali ini saja Kara demikian. Dan bukan kali ini Ethan merasakannya. Bahkan seluruh luka Kara, sudah menggores luka yang lebih dalam bagi Ethan.

Ethan hanya menunggu, sampai Kara sadar, bahwa separuh Ethan, adalah Kara.

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH yang berjudul Separuh Aku 🙂