[Interv123] I’m Tough. I’m Struggler. I’m Happy.

Sekitar tahun 2000, saya mengalami sebuah kejadian sepele yang nyatanya sangat traumatis. Ketika sedang lewat di dekat SMP 1 Bukittinggi, berdirilah seorang pria brewok beralas kaki sepatu mirip safety shoes sedang ngoceh sendirian di tengah jalan. Ketika saya dan Sigit kala itu lewat, kaki kirinya melayang ke arah kepala saya yang waktu itu baru sepinggangnya. Nyaris, nyaris kena. Untung saja sempat memasang double cover yang dilanjutkan dengan langkah seribu. Sebuah strategi yang belasan tahun kemudian ditiru secara mutlak oleh Floyd Mayweather Jr di atas ring.

Ya, gila. Sederhana sekali ketika kita menyebut seseorang dengan stigma ‘gila’, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Pun sesudah tendangan maut itu saya lantas jadi takut pada segala jenis ‘orang gila’ bahkan meski dia adalah si Sore, penderita mental illness dekat rumah yang menurut kabar diperkosa secara semena-mena oleh lelaki hingga akhirnya melahirkan seorang anak. Ehm, saya nggak yakin si pemerkosa itu punya hati lelaki, mungkin dia hanya seonggok daging yang punya penis belaka.

Ketika saya kemudian menjadi mahasiswa farmasi, stigma ‘gila’ lantas menjadi hal yang tidak sederhana. Dalam PKPA, saya kejatahan pasien dengan mental illness. Jadilah saya memonitor penggunaan obat yang kerjanya menekan saraf-saraf pasien itu. Hasilnya? Setiap kali home care, saya hanya mendapati pasien saya sedang tidur. Kata keluarganya, kalau tidak tidur, dia ngamuk. Hanya dua itu hidupnya. Masyarakat sekitar dengan mudahnya memberi cap ‘gila’ tanpa melakukan apa-apa. Sebuah kegilaan di masyarakat kita yang terang benderang menjadi profil nyata. Pedih. Orang-orang itu pasti nggak pernah tahu bahwa Ry Kusumaningtyas dalam bukunya ‘Mereka Bilang Aku Gila’ dengan jelas menyatakan bahwa manusia semacam Abe Lincoln, Ludwig van Beethoven, hingga Frank Sinantra adalah juga penyandang bipolar disorder. Sebuah kondisi yang dengan mudah membuat orang dicap ‘gila’.

Nah, suatu kali saya ‘dipertemukan’ dengan tamu di Interv123 kali ini. Pakai apostrof karena kami sebenarnya juga nggak pernah benar-benar ketemu. Dia ini ketua PSM Cantus Firmus ketika menggelar Konser Poelang Kampoeng. Saya melihat dia, tapi tentu dia nggak akan ngeh juga siapa saya. Mungkin hanya seonggok alumni berbaju ungu yang sepanjang konser kebanyakan melakukan sinkronisasi bibir belaka. Atau se-ngeh-ngeh-nya adalah saya ini abangnya mbak MC konser itu. Sudah.

Selengkapnya!

Advertisements