Tag Archives: kira kira

Banjir Dan Saya

Bahwa menurut saya pemberitaan banjir sekarang sudah sangat lebay sekali, mari kita abaikan dulu. Iya, lebay. Kenapa? Berita ini seolah-olah bikin yang menderita itu cuma ibukota, padahal yang banjir di tempat lain juga banyak. Apakah kita melihat breaking news untuk banjir di Bandung (yang dekat aja deh) misalnya? Nggak. Jadi, ya begitulah.

Saya dan banjir. Banjir dan saya. Emang kenapa?

Pertama-tama, saya besar di sebuah kota dataran tinggi. Jadi, hampir bisa dipastikan nggak banjir. Karena sejauh ini, air masih turun ke bawah. Sampai sekarang sih begitu.

Lalu ke Jogja, sekolah. Seperti obrolan dengan adik kelas kemarin, kalau Jogja ya banjir-banjir nggenang dikit, lalu udah. Ntar juga surut. Meski Jogja kalau hujan itu nggak kira-kira wujudnya, tapi nggak banjir-banjir amat. Sejauh ini saya baru sekali mati mesin (dengan Alfa) di daerah genangan dekat Mino. Itu semata-mata karena saya yang nekat.

Nah, banjir yang sebenarnya baru saya kenal di Palembang. Kota dengan drainase yang menurut saya nggak oke. Pertama kali saya lewat Jalan Mayor Ruslan dan melihat warna air di selokan dan udah tahu kalau bakalan banjir. Dan benar saja, daerah Mayor Ruslan, via IBA sampai depan SMK itu kalau hujan gede dikit aja. Nggenangnya, wew…

Ada suatu masa ketika saya hendak bergerak dari tempat karier, dan melakukan interview. Saat berangkat interview dan pas sedang banjir besar (ini di Jakarta) saya langsung ilfil. Meski saya lantas melewatkan dengan baik semua interview dan DITERIMA, tapi saya nggak jadi ambil itu kesempatan. Kadang menyesal, tapi giliran udah banjir begini, bersyukur juga sih.

Yang paling seru ya waktu di mess dulu. Hujan besar kadang bikin mess kebanjiran. Dan syukurlah, kamar saya termasuk yang AMAN dari cengkraman banjir. Hehehe..

Kadang ingin bergerak ke tempat lain yang bebas banjir. Tapi di era betonisasi masa kini, dan di era industrialisasi (dimana uang itu adanya ya di Jakarta dan kawasan lain di sekitarnya), saya mau kemana?

*mendadak galau*

Ya sudah, begitu saja..

Aspal vs Beton: Mana yang Lebih Bagus?

Sejak kapan saya ngeh soal jalanan? Hmmm, sebenarnya sejak di Palembang, terutama waktu mau main ke kos Pandawa. Ada jalan aspal hancur dekat Akbid. Jadi kira-kira saya baru ngeh soal per-aspal-an itu di usia 22-an. *pekok*

Makin kesini, makin ngeh. Apalagi sejak lihat Cikarang yang punya dua jenis jalan, beton dan aspal. Beberapa bagian jalan di Cikarang ini memang pakai beton. Sekilas, lebih tahan terhadap mobil yang gede-nya gila-gilaan di sini. Tapi, untuk jalan naik motor–menurut saya–cengkramannya nggak cukup oke.

Terakhir, saya jatuh, ya di jalan beton sih.. *alibi*

Oke, mari sedikit membahas aspal versus beton lewat artikel yang saya ambil di SUMBER INI.

Beton dibuat dengan menggunakan agregat massa, bisa batu kerikil atau pasir yang dicampur dengan semen dan air. Semen ini berfungsi sebagai pengikat. Nah, campuran ini sebenarnya kaku dan padat, tapi rentan retak dan patah kalau permukaan bawahnya tidak mulus sempurna. Jadi balik ke struktur dasar.

Aspal-pun juga agregat, tapi dia berasal dari turunan minyak mentah. Jadi kalau pengaspalan ini–katanya–menggunakan aspal panas yang dituang ke agregat, lalu ditekan dengan mesin giling.. hehe.. Ya, itulah.. Hot Mix mungkin. Dalam hal ini aspal mampu diaplikasikan pada permukaan yang tidak mulus sempurna.

Aspal juga cenderung lebih mudah diperbaiki sehingga kalau ada renovasi tidak lama dan tidak mengganggu benar. Dulu pernah di depan Akbid itu dipasang beton, sekarang juga saya lihat di daerah Lippo, bahwa jalan beton itu harus dibongkar pada panjang kaki lebar tertentu, baru deh diisi dengan beton baru. Lah kalau aspal? Tinggal remukkan di bagian yang retan, timpa dengan yang baru, tekan dengan mesin giling (tsahhh…)

Cuma nih, aspal itu cenderung nggak tahan air. Makanya, ketika digenangi air macam sekarang, bolong-bolonglah itu jalanan. Apalagi kalau kontur tanahnya labil kayak di depan Akbid, jadi tiap kali diaspal mulus, tiap kali itu juga turun. Kalau beton kan nggak. Ini kalau strukturnya bagus loh. Kalau nggak, ya retak juga bakalan. Hehehe..

Jadi, yang mana?

Nggak peduli. Yang penting saya bayar pajak dan pengen jalan mulus.. Nggak kayak sekarang.. huhuhuhu…

Tipe-Tipe Perubahan Status Teman

Hari gini, umur udah mau 26, nggak punya pacar pulak. Let’s say ini ngenes. OKE!!!! *asemmm*

Nah, ternyata hal semacam ini banyak terjadi. Ya, pacaran luamaaaaaaa dan berujung bukan ke pernikahan tapi perpisahan. Ya, nikah sama putus itu beda lho. Termasuk ketika ditambahi imbuhan per-an. Dan biasanya, yang macam ini, nggak semudah itu sosialisasi kayak anak-anak labil masa kini. Modelnya? Begini kira-kira.

Perubahan Aktivitas

Biasanya jam 8 malam masuk kamar lalu asyik teleponan atau biasanya malam minggu keluar dengan pacar, eh sekarang jam 8 malam malah nyangkruk di depan tivi atau pas malam minggu juga ada di depan tivi. Lalu ketika ditanya, kok nggak keluar, dijawab sekenanya, “nggak aja”. Lalu juga biasanya asyik sama handphone, sekarang asyik dengan kalkulator. Lalu headset yang biasanya terkapar di dekat tempat tidur kini disimpan di kamar tetangga. Asli, ini tanda-tanda teman punya status baru: JOMBLO.

Misteri ini akan bertahan 2-3 minggu sebelum kemudian dibuka perlahan ke teman-teman.

Perubahan Raut Muka

Biasanya mukanya cerah ceria macam kos-kosan di Paingan *jalan kanigoro*, eh sekarang raut mukanya banyak diam merengut berlipat bak perut penuh lemak. Ya, semacam ini sudah pertanda yang sederhana. Sebagaimananyapun seseorang menyimpan masalah pasti ada pengaruh dengan penampakan di muka umum.

Perkecualian untuk yang mukanya sudah rata-rata bawah *kayak saya*

Status di FB Menghilang

Ada opsi untuk menyembunyikan status relationship di FB. Nah, kadang ada yang sudah membuat dengan MANTAP “engaged with ANU” di FB dan tentunya dikomen panjang lebar sama teman-teman FB. Begitu ada status baru bernama jomblo, itu status baru disembunyikan dulu. Sesudah beberapa lama disembunyikan baru deh status itu diganti ke single. Dalam posisi tersembunyi, mau diganti apapun yang tetap tidak mengundang komentar dari khalayak ramai.

Pengecualian untuk yang pengen jadi artis sejenak untuk menjawab pertanyaan seperti ini “Ciyus?” atau “KENAPA?? *tanda tanya banyak*” atau “Ah, paling ntar balik lagi”.

Mulai Sering Buka Social Media

Sesudah perubahan status ini, maka tahap berikutnya adalah MOVE ON! Untuk itu diperlukan sarana untuk move yaitu target berikutnya. Nah, salah satu cara modern masa kini adalah dengan buka-buka FB, lalu main add yang profpic-nya cakep-cakep, dan tiba-tiba temannya bertambah banyak. Untuk yang emang online rajin kayak saya tentu nggak masuk kategori ini. HAHAHAHAHAHA… *ngeles*

Yah begitulah…

*tulisan ini juga semata-mata gojek kere.. jangan dianggap serius.. hehehehe..

 

Teman Seperjalanan

Masih ingat lagunya Ratu, jaman dua emak-emak cakep itu masih akur?

Begini lagunya:
Aku punya teman (ah.. ah.. ah..)
Teman sepermainan (ah.. ah.. ah..)

Yang kalau direvisi menjadi:
Aku punya teman (uh.. uh.. uh..)
Teman seperjalanan (uh.. uh.. uh..)

Ya kira-kira begitu.

Soal teman seperjalanan ini memang paling mengundang ironi dalam hidup saya. KENAPA? Karena dari berbagai perjalanan yang saya lakoni, baik itu angkutan darat, air, dan udara, nyaris saya tidak pernah seperjalanan sama CEWEK CAKEP! Huhuhu, ini ratapan saya beneran loh.

Dimulai dari perjalanan dengan ALS tahun 1997, Bandung-Bukittinggi. Waktu itu, sekeluarga cuma pesan kursi 5, karena si Daniel masih mungil sehingga bisa masuk bagasi (lebayyy…). Nah, sebagai anak pertama, saya disuruh menduduki kursi ganjil itu. Jadi Bapak sama Mamak sama Dani. Si Beny sama si Cici. Dan saya? Dalam hati, di usia 10 tahun, saya sudah berharap akan bersebelahan dengan cewek cakep. Nyatanya? Emak-emak labil yang pergi seorang diri. Ampun dah.

Hmmm, berikutnya, lama kemudian saya baru berjalan-jalan sendirian lagi. Tahun 2004, ketika jadi orang unyu di bandara Soekarno Hatta karena baru pertama kali naik pesawat dalam keadaan sadar. Dulu pernah tahun 1989, tapi, apalah yang diingat bocah umur 2 tahun? Nggak ada.

Di Batavia Air Padang-Jakarta, lanjut Jakarta-Jogja, saya bersebelahan dengan keluarga yang curang. Lha jelas kursi saya di pinggir jendela, F. Eh, dia dudukin. Dan bodohnya, saya ikutin aja itu. Piye dong, namanya baru pertama kali.

Next, saya melakoni banyak perjalanan sendirian. Ada yang pakai Lodaya ke Bandung seorang diri, balik hari. Dan dua-duanya bersebelahan dengan MAS-MAS.

Dalam rangka pacaran Palembang-Jogja dulu, saya berkali-kali naik pesawat. Dan NGGAK PERNAH sebelahan sama CEWEK CAKEP sama sekali. Entah mungkin saya ini kurang doa atau bagaimana. Pernahnya, dengan MBAH-MBAH yang minta jatah kursi pinggir jendela. Yang bikin menderita kalau di pesawat adalah kalau di PINGGIR JENDELA dan bersebelahan dengan SEPASANG KEKASIH yang bermesraan dengan nikmat. Sumpah, mupeng tiada terkira itu.

Dan itu berlanjut, mulai saya naik Rosalia Indah, Lorena, Ramayana, Bejeu, sampai Muncul ya tetap aja sebelahan sama MAS-MAS. Saya naik Garuda, Lion, Mandala, Batavia, sampai (alm) Adam Air kalau nggak MAS-MAS, BAPAK-BAPAK, atau SEPASANG KEKASIH. Mau naik 121, AO, 122? Kadang malah banyak yang sebelahan *lha wong berdiri*

Jadi begitulah, Tuhan belum menghendaki saya sebelahan sama CEWEK CAKEP. Nggak apa-apa deh.

Dan satu-satunya pengalaman saya soal CEWEK CAKEP adalah waktu penerbangan Batavia dari Palembang ke Jakarta. Itu niatnya mau pacaran di Jogja, tapi dasar mata lelaki. DI SMB II uda liat-liatan sama cewek yang bawa boneka, saya bawa Candy. Sayang nggak sebelahan. Tapi waktu turun di Soekarno-Hatta, ngobrollah kita sedikit. Dannnn…. sayangnya dipisahkan di toilet oleh HIV si cewek tadi. Huffttt.. *lha ini kok malah nyesel ki piye*

Teman seperjalanan yang paling ribut itu pas naik Yoanda Prima, Palembang-Bukittinggi, seorang sales rokok bernama Febli. Sepanjang jalan cerito wae. Padahal kan saya ngantuk. Haduh. Jadi sampai rumah langsung tepar tiada terkira. Bayangkan saja 18 jam itu setengahnya dia cerita sementara saya hmmm.. hmmmm.. doang.

Semoga ke depannya bisa dikasih sekali-kali cewek cakep gitu. Hehehehe…

🙂

Cerita Lama

pablo (1)

“Hai! Udah gede anaknya?”

“Iya nih. Masak kecil terus?”

“Hahaha, iya juga ya.”

Aha! Aku melihatmu, dengan anakmu. Ya, kamu, yang bertahun silam adalah cerita lamaku.

* * *

“Hey kamu, yang gemetar waktu mau jatuh. Siapa namanya?” tanyaku pada seorang gadis yang barusan kutangkap, persis di bagian pantatnya. Siapapun tahu, ketika jatuh dalam keadaan terlentang, sejatinya titik tumpu beban itu ya ada di pantat. So, bayangkan beban yang harus kutanggung dari permainan “Trust Me” ini.

“Ngece ya.”

“Haha, nggak kok. Alan. Kamu?”

“Nanda.”

“Oh, dari SMA mana?”

Dan percakapan berjalan selayaknya dua mahasiswa baru pertama kali berkenalan.

* * *

Nandani, Call.

Bukan mau telepon beneran, ini hanya missed call. Pulsa mahasiswa tidaklah cukup untuk telepon, apalagi beda provider.

Aku sudah bilang ke Nanda kalau akan membuat missed call jika aku sudah sampai di depan rumahnya. Setidaknya itu penanda, dan aku tidak harus mengetuk pintu rumahnya. Menurut pengalamanku sebelumnya, mengetuk pintu rumahnya adalah salah satu dari 10 hal sia-sia di dunia selain menegakkan benang basah.

Pintu di lantai dua itu kemudian terbuka.

“Udah lama?”

“Ya kira-kira dari dua abad yang lalu.”

“Ngaco kamu. Ya udah, tungguin.”

Tak lama, Nanda yang barusan keramas itu membuka pintu. Pakaiannya simpel, pakaian rumah. Ia menyambutku seperti biasa. Dan, seperti biasa juga, kami mengobrol banyak di teras lantai 2 rumahnya.

* * *

“Hey, Lan!”

“Apa?”

“Nanda bukan pacarmu po?”

“Bukan, emang kenapa?”

“Pantes, kemarin aku liat dia gandengan sama Doni.”

“Iya, dia pacaran sama Doni kali.”

“Lha itu kamu suka main ke rumahnya.”

“Emang teman nggak boleh main ke rumah temannya? Ada-ada aja ah kamu ini.”

“Oh, okelah kalau begitu,” kata Jane, mengakhiri pembicaraan.

Jane pergi, dan jantungku mendadak sesak. Nanda pacaran dengan Doni?

* * *

Yah, kukatakan dengan indah, dengan terluka, hatiku hampa. Sepertinya luka menghampirinya.

Segala yang terjadi antara aku dan Nanda tampaknya kuanggap berbeda. Ada beda bermakna antara pikiran Nanda dan pikiranku sendiri.

“Kau beri rasa, yang berbeda. Mungkin ku salah mengartikannya, yang kurasa cinta!” gumamku perih sambil melajukan sepeda motorku melewati rumah Nanda, untuk ke delapan kalinya dalam waktu 30 menit. Aku memang hanya mondar-mandir disana dari tadi.

“Tetapi hatiku, selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu,” desahku lagi. Ah, kenapa pula aku jadi begini.

Kuhentikan sepeda motorku persis di depan rumah Nanda. Ia sepertinya nggak ada, lantai 2 itu sepi. Berkali-kali kesini, aku paham penanda Nanda ada di rumah atau tidak.

Tapi mendadak perasaanku nggak enak. Maka kulajukan sepeda motorku perlahan.

“Kau hancurkan hatiku,” gerutuku pelan sekali.

Sebuah mobil kemudian masuk dan parkir di depan rumah Nanda. Yak benar, Nanda keluar digandeng oleh seorang lelaki, mungkin ini yang bernama Doni.

“Kau hancurkan lagi. Kau hancurkan hatimu tuk melihatmu.”

* * *

“Lan, mau makan apa? Sini tak masakin.”

“Baek bener kamu, Nda. Uda nggak usah repot.”

“Apa sih yang nggak buat kamu, Lan? Hahaha.”

“Cewek kok gombal.”

* * *

“Kau terangi jiwaku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu.”

Semuanya pedih, semuanya luka, tapi semuanya kukatakan dengan indah.

Aku melanjutkan perjalananku, pulang. Mungkin ini hanya serpihan jalan bagi hatiku untuk melihat sebuah luka dengan indah.

* * *

#cerpenpeterpan
Kukatakan Dengan Indah
@ariesadhar

-*-

Pantai-Pantai Yang Pernah Saya Kunjungi

Mau absen dulu pantai-pantai yang penah saya kunjungi:

1. Pantai Air Manis, Padang
2. Pantai Padang, Padang
3. Pantai Pasir Jambak, Padang
4. Pantai Caroline, Padang
5. Pantai Parangtritis, Jogja
6. Pantai Depok, Jogja
7. Pantai Ngobaran, Jogja
8. Pantai Ngrenehan, Jogja
9. Pantai Ancol, Jakarta
10. Pantai Teluk Dalam, Nias Selatan
11. Pantai-Pantai Di Gunungsitoli (ada beberapa dan lupa namanya wkwkwkwk…), Nias
12. Pantai Kalangan, Sibolga
13. Pantai Samudera Baru, Karawang
14. Pantai Tanjung Pakis, Karawang
15. Pantai Pandansimo (kalo ga salah..), Jogja
16. Pantai di Merak dan Pantai di Bakauheni (wakakakaka…)
17. Pantai di Cirebon (di taman Ade Irma)
18. Pantai Musi (masuk nggak ya? 😀 )
19. Pantai Glagah, Jogja

Sebagai anak gunung, kira-kira begitu.. Ini masih mengingat-ingat apalagi.. Hehehe..

Jalan Alternatif Jababeka-Lippo Cikarang

Judul di atas adalah sebuah keyword yang masuk ke blog saya. Tampaknya ada yang pengen tahu, jadi saya kasih sedikit yang saya tahu.

Pada intinya, jalur utama Jababeka ke Lippo adalah via Jalan Cikarang-Cibarusah. Cuma kalau minggu pagi, suka ada cegatan selektif di jembatan Tegalgede. Kalau hari biasa, muacettttt e rek..

Nah, beberapa jalur yang bisa dilewati adalah via Kalimalang.

Jadi menyusur Kalimalang lewat exit Jababeka II, kita bisa menemukan beberapa jembatan yang melintasi Kalimalang. Ada yang sebelum pintu 11, dari pintu 10. Ada juga yang sesudah pintu 11. Nah, yang sebelum pintu 11 ini akan masuk jalan kampung dan nanti ketemu di Gemalapik, sebelah CTC kira-kira.

Demikian pula dengan belokan pertama sesudah pintu 11. Tembusnya sama.

Nah, ada lagi via jalan berikutnya yang akan tembus ke sekitar Cibiru, Lippo Cikarang. Tembusnya sih di bundaran depan Taman Beverli.

Jalannya?

Ya, namanya juga alternatif. Hehehehe.. Klaskon saya pernah mati gara-gara lewat jalan belum jadi. Penanda kalau kita benar sih gampang, asal sudah lewat jembatan kecil yang melintas di atas jalan tol, itu berarti kita sudah benar, karena sebenarnya Jababeka dan Lippo dibelah oleh Tol Cikampek.

Jalan yang di atas sudah ditutup euy. Jadi sekarang langsung aja lewat Delta Mas melalui jembatan Tegal Danas, lalu jangan ke kiri karena itu ke Delta Mas, tapi ke kanan, nanti akan masuk kawasan Delta Silicon yang baru. Disitu nanti ada pabrik besar macam Kumon dan yang paling kelihatan Hankook. Nanti akan tembus di dekat Elysium. Jalannya cukup enak, maklum baru dan kawasannya juga masih terhitung sepi.

Semoga membantu 🙂